Jingga yang terus berlari merasa heran melihat banyak orang berlarian dengan tergesa-gesa ke arah berlawanan dengannya.
"Adik kecil, akhirnya kau berhenti juga" ucap Lin Fang yang kecapekan mengejarnya.
"Paman, kenapa orang-orang berlarian seperti dikejar prajurit perang, apakah ada serangan yang terjadi, Paman?" sederet pertanyaan dilontarkan oleh Jingga.
Lin Fang mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan dari seorang anak kecil.
"Tidak ada perang di kapal ini, mereka semua berlari ke arah depan untuk menyambut Jenderal Zhang, ayo kita ikut bergabung dengan mereka" jawab Lin Fang mengajaknya kembali.
"Paman, gendong" rajuk Jingga meminta.
Lin Fang langsung berjongkok membelakanginya yang langsung dinaiki oleh Jingga di belakang punggungnya.
Nampak sekitar empat puluh orang berbaris mendengarkan ucapan kakek Zhang dengan seksama.
"Ha ha ha, sini cucuku" ucap kakek Zhang melambaikan tangan ketika melihat Lin Fang membawa Jingga di gendongannya.
Jingga langsung turun dari gendongan Lin Fang lalu berlari ke arah kakeknya yang disambut oleh kedua tangan memangkunya ke dalam dekapan.
"Semuanya, perkenalkan ini adalah cucuku Tang Xie Jingga" ucap kakek Zhang yang dibalas dengan senyuman semua orang.
"Halo semuanya, namaku Jingga" salam Jingga kepada semua orang.
"Selamat datang tuan muda Jingga" sapa semua orang membalasnya.
Jingga langsung menoleh ke arah wajah kakeknya, tatapannya menanyakan maksud ucapan semua orang.
"Sebaiknya kita masuk ke kamar untuk beristirahat atau kau ingin berjalan-jalan bersama Lin Fang" tawar kakek Zhang sambil mengusap kepala Jingga.
Jingga lalu turun dari pangkuan kakek Zhang, berlari ke arah Lin Fang.
"Baiklah semuanya, bentangkan layar, kita berangkat sekarang" perintah kakek Zhang dengan tegas.
"Baik jenderal" sahut beberapa orang lalu membubarkan diri.
"Paman, apa di sini ada makanan?" tanya Jingga yang sedari tadi merasakan lapar.
"Tentu ada tuan muda, mari paman antar ke dapur" balas Lin Fang lalu membawanya ke area dapur.
"Halo tuan muda" sapa koki kapal begitu melihat kedatangan Jingga.
"Halo juga paman dan bibi semuanya, bolehkah aku minta makan?" balasnya langsung meminta.
Seorang koki wanita langsung menghampirinya lalu berjongkok di depannya.
"Tuan muda mau makan apa?, nanti bibi antarkan ke kamar tuan muda" tanya koki wanita.
"Apakah aku punya kamar?, bagaimana bibi tahu di mana kamarku?, aku sendiri tidak tahu di mana kamarku" lagi-lagi Jingga bertanya dengan menampilkan wajahnya yang imut.
Hal itu membuat bibi koki merasa gemas lalu mengelus pipi Jingga hingga merah.
"Tentunya tuan muda punya kamar, nanti Komandan Lin Fang akan mengantarkan tuan muda ke kamar untuk beristirahat sambil menunggu bibi antarkan makanan yang paling enak untuk tuan muda" jawab bibi koki lalu kembali ke tempatnya memasak.
Teng teng teng!
Suara lonceng peringatan ditabuhkan, semua orang di dapur langsung menuju titik aman untuk bersiaga.
Lin Fang langsung memangku Jingga dan berlari ke titik aman seperti yang lainnya.
"Paman ada apa?" tanya Jingga tidak memahami.
"Pegang paman erat-erat, ada badai yang datang menerjang kapal" jawab Lin Fang sambil mendekap erat tubuh Jingga.
Buzzz!
Air laut dengan deras memasuki area dapur, menyebabkan alat-alat dan bahan makanan terbawa arus.
"Siap-siap semuanya, gelombang kedua akan datang" teriak Lin Fang mengingatkan bahaya yang akan menerjang semua orang.
"Tahan napasmu tuan muda" pinta Lin Fang kepada Jingga.
Jingga mengangguk lalu menghirup napas dan mengatupkan mulutnya menahan napas.
Jendral Tang Xie Zhang dengan cekatan memberi instruksi kepada Nakhoda dalam menghalau badai yang terus menghantam kapal.
Untungnya kapal yang dinakhodai adalah kapal perang yang tahan terhadap badai apa pun.
Hampir satu jam lamanya kapal menghalau gelombang badai dengan dikomandoi langsung oleh Jenderal Tang Xie Zhang yang akhirnya berhasil menghalau badai dengan sangat baik.
Lautan pun kembali tenang, jendral Tang Xie Zhang langsung keluar dari kabin kemudi mencari keberadaan Jingga cucunya.
"Di mana cucuku? apakah kalian melihatnya?" tanya Jendral Tang Xie Zhang kepada orang-orang yang berpapasan dengannya.
"Tadi kami melihat Komandan Lin Fang membawanya ke dapur" sahut seorang pria memberitahunya.
"Baik, terima kasih" balas Tang Xie Zhang lalu dengan cepat berlari ke area dapur.
"Hormat, Jenderal" sapa para koki yang sedang sibuk membersihkan area dapur.
"Kakek" ucap Jingga menghentikan kegiatannya yang sedang membantu orang-orang membersihkan dapur.
"Syukurlah kamu tidak apa apa" ujar kakek Zhang yang langsung memangku Jingga ke pangkuannya.
"Terima kasih, Lin Fang" ucap kakek Zhang bersyukur.
"Sudah jadi tugasku, Jenderal" sahut Lin Fang lalu mengikuti keduanya keluar dari area dapur.
Sesampainya di depan pintu kamar, kakek Zhang langsung menurunkan Jingga.
"Ayo masuk, kau bisa membilas badanmu di ruangan pojok sana, nanti kakek mintakan pakaian baru untukmu" ajak kakek Zhang langsung menutup pintu.
"Wah kakek, kamarnya luas sekali" kagum Jingga menatap sekelilingnya.
Kakek Zhang hanya mengarahkan telunjuknya ke arah pojok kamar agar Jingga bisa membersihkan badannya.
Jingga mengangguk mengikuti arah telunjuk kakeknya memasuki kamar kecil.
Setelah selesai membersihkan diri, Jingga keluar dengan tubuhnya tanpa ditutupi apa pun, ia mondar-mandir di dalam kamar menunggu kakeknya kembali membawakannya pakaian.
Matanya tertuju pada baju jirah kakeknya, namun tidak berselang kemudian ia melirik sebatang pedang tersandar di tempat khusus di sebelah baju jirah.
"Pedang yang bagus" gumamnya lalu mencoba menarik pegangan pedang yang berbentuk seperti bulan sabit.
"Aah!, berat sekali pedangnya, huh!" kesalnya setelah berulang kali mengerahkan tenaga sekuatnya.
"Ha ha ha" tawa kakek Zhang melihat kelakuan Jingga yang polos tidak memakai baju sedang menarik pedang.
"Kakek!" seru Jingga lalu menunduk menahan malu dilihat oleh kakeknya.
"Ini pakailah pakaianmu yang baru, tadi kakek menyuruh orang untuk membuatkanmu baju, di sini hanya kamu sendiri yang masih kecil, jadinya butuh waktu untuk membuatnya" ucap kakek Zhang lalu melempar pakaian yang langsung menutupi kepala cucunya Jingga.
"Pakaiannya bagus Kek, terima kasih" ucap Jingga setelah memakainya lalu memeluk kakeknya.
"Bersiaplah sebentar lagi kita makan bersama kru kapal" pinta kakek Zhang yang diangguki oleh Jingga.
Tak lama dari luar seorang pelayan mengetuk pintu,
"Yang Mulia, makanan sudah dihidangkan, semua orang sudah menunggu yang Mulia beserta tuan muda" ujar pelayan di balik pintu.
"Baik, terima kasih" sahut kakek Zhang dari dalam.
"Ayo Cu, kau bisa makan sepuasnya" goda kakek Zhang yang membuat raut wajah Jingga seperti orang yang menemukan harta karun.
"Kakek gendong" rajuknya dengan membusungkan pipinya yang chubby.
Tanpa menjawab kakek Zhang langsung berjongkok membelakangi cucunya.
Sesampainya di ruang makan, semua orang berdiri lalu membungkuk.
"Hormat kepada Jendral dan tuan muda" sapa semuanya.
Jendral Zhang lalu mendudukan Jingga di sampingnya, lalu semua orang mengikuti Jendral Zhang yang telah duduk terlebih dahulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 316 Episodes
Comments
aa_kardi
apakah semacam kapal induk ??
2023-07-28
1
վմղíα | HV💕
KK yunia mampir lagi
2023-05-14
0
𝐀⃝🥀Jinda🤎Team Ganjil❀∂я🧡
aku serasa ikut berlayar di atas kapal bersama mereka kak tapi saat badai aku hilang kecebur ke laut lagi. hehe 😁
2023-02-06
2