Jingga yang terlihat senang seketika raut wajahnya berubah murung, hal itu membuat kakek Zhang mengerutkan alisnya.
"Baru saja wajahmu terlihat bahagia, sekarang malah terlihat murung, kenapa? ceritakanlah sama kakek" tanya kakek Zhang.
Jingga mendongakkan kepalanya menatap kakek Zhang dengan lekat, ia sendiri tidak memahami apa yang terjadi pada perubahan perasaannya.
Ia hanya menggelengkan kepalanya sambil memaksakan segaris senyuman di bibirnya yang mungil.
"Oya Kek, bagaimana kakek bisa tahu keberadaanku di sini?, padahal selama ini aku terus bersembunyi di antara banyak mayat" tanya Jingga ingin tahu.
Kakek Zhang tersenyum lembut menanggapinya lalu menjawab,
"Kakek bisa merasakan adanya kehidupan walaupun letaknya sangat jauh"
"Hem, tadinya kakek tidak akan menemuimu, namun kakek kagum di usiamu yang begitu muda bisa begitu tegar dengan kehidupan seperti ini" imbuhnya menjelaskan.
"Kakek berniat membawamu ke benua Matahari, apa kau mau ikut bersama kakek?, setidaknya kau bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik di sana" ajaknya.
"Apa aku tidak akan gosong Kek, tinggal di benua Matahari?, matahari di sini saja sudah membuatku kepanasan" jawabnya dengan polos mendengar kata matahari yang disampaikan kakek Zhang.
"Ha ha ha, kau ini ada-ada saja, benua Matahari hanyalah sebuah nama karena letaknya berada di timur matahari, sebentar lagi mentari akan terbit, apa kau tidak mengantuk cucuku?" jawab kakek Zhang lalu bertanya.
"Tidak Kek, aku harus mengubur jasad orangtuaku dulu juga jasad keluargaku yang lain, supaya mereka tenang di alam sana" jawabnya lugas.
"Mayat semua orang sudah begitu busuk bahkan sudah hampir habis dimakan belatung, tentunya tidak baik untuk kesehatanmu, bagaimana kalau kakek bakar saja semuanya" tawar kakek Zhang sebagaimana menjadi hal biasa di tempat asalnya.
"Tapi aku mohon untuk jasad kedua orangtuaku aku harus menguburnya, untuk yang lainnya terserah kakek saja" sahut Jingga memintanya lalu menarik jasad ibunya.
Kakek Zhang tersenyum melihat seorang anak kecil dengan susah payah menarik jasad ibunya yang bahkan tidak bergeser sedikitpun.
Dengan kemampuannya, kakek Zhang menjentikkan jari ke tanah bekas galian yang telah dibuat oleh Jingga.
"Gempa Kek, ada gempa!" teriak Jingga merasakan tanah pijakannya bergetar hebat.
Setelah lubang kubur dirasa cukup untuk menampung sekitar delapan orang, kakek Zhang memindahkan jasad ibunya Jingga ke liang lahat.
Jingga terbengong melihat jasad ibunya terbang lalu masuk ke dalam kubur, kakek Zhang memintanya menunjuk jasad keluarganya Jingga yang lain untuk dikuburkan di liang lahat yang sama.
Jingga terus berlarian menunjukkan jasad keluarganya dibantu oleh kakek Zhang yang kemudian memindahkannya ke dalam kubur satu persatu.
"Kakek, apakah kakek seorang penyihir? bagaimana caranya kakek bisa memindahkan jasad keluargaku tanpa menyentuhnya?" Jingga dengan terkagum menanyainya.
Kakek Zhang hanya tersenyum menjawabnya lalu memindahkan gundukkan tanah mengubur semua jasad keluarga Jingga.
"Ayo kita pergi sekarang" ajak kakek Zhang tanpa menunggu jawaban langsung menggendong Jingga lalu memindahkannya ke punggung kuda.
"Kakek bagaimana dengan mayat warga kampung? katanya kakek mau membakarnya" Tanya Jingga.
Kakek Zhang mengacuhkannya sambil terus memacu kudanya menjauhi kampung dan medan pertempuran yang dilaluinya.
Setelah cukup jauh berada di atas bukit, kakek Zhang berhenti lalu berbalik menatap medan perang termasuk keberadaan kampung-kampung di sekitarnya.
Dari telapak tangannya keluar bola api berwarna keemasan sebesar genggaman tangan lalu melemparkannya, bola api semakin membesar langsung membakar semua yang mengenainya, Jingga menutup matanya karena terpapar cahaya yang semakin menyilaukan.
Keduanya lalu melanjutkan perjalanan dengan begitu cepat kuda berlari terus menerus, di sepanjang perjalanan Jingga melihat banyak bangkai manusia yang tergeletak nyaris menyisakan tulang belulang, betapa peperangan begitu dahsyatnya merenggut nyawa setiap orang.
"Kek, kenapa di dunia ini harus ada perang?" tanya Jingga merasa pilu mengingat bagaimana keluarganya terbunuh dalam perang.
"Pada dasarnya setiap kerajaan maupun kekaisaran memiliki ego untuk saling menguasai satu sama lain, itulah salah satu yang menyebabkan terjadinya peperangan" jawab kakek Zhang sesederhana mungkin.
Jingga yang mendengarnya tidak mengerti sama sekali, yang ia tahu perang hanya membuat orang orang mati, rumah hancur dan alam menjadi rusak.
Hari pun berganti malam, keduanya berada di tengah hutan rimba yang lebat.
"Sebaiknya kita istirahat dulu, bukankah kau sudah lapar sekarang?" tawar kakek Zhang lalu keduanya turun dari punggung kuda.
Jingga yang terbiasa tidak makan selama terjadinya perang tidak begitu merasakan lapar, namun ia merasakan lelah setelah hampir seharian menempuh perjalanan panjang.
"Tunggulah di sini, kakek akan memburu binatang untuk makan malam kita" pintanya menambahkan.
"Baik kek" sahut Jingga lalu duduk tak jauh dari kuda.
Dalam duduknya, Jingga kembali teringat akan keluarganya, terutama ibunya yang begitu menyayanginya.
"Ibu, suatu hari nanti aku akan berusaha menjadi orang yang berguna seperti yang Ibu inginkan" gumam batinnya mengingat mendiang Ibunya.
"Itu bagus, namun kau juga harus menjadi orang kuat dan hebat untuk bisa mendamaikan kaummu suatu hari nanti" ujar kakek Zhang menimpali.
Jingga bingung mendengarnya, bukan tidak memahaminya, namun bagaimana bisa kakek Zhang mendengar apa yang batinnya ucapkan.
Kakek Zhang hanya tersenyum lembut melihat tatapan heran dari Jingga.
"Sudah jangan menatap kakek seperti itu, sebaiknya kamu membantu kakek memanggang kambing ini" pinta kakek Zhang yang sedang menguliti kambing hasil buruannya.
Jingga bingung bagaimana membantu kakeknya, ia tidak mengerti sama sekali bagaimana membantunya. Dengan polosnya Jingga hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku bantu makannya saja ya kek, hehe" ucap Jingga begitu polos.
Setelah matang, keduanya begitu lahap menyantap kambing panggang sampai Jingga bersendawa saking kenyangnya, namun rasa kambing panggang yang lezat memaksa mulutnya terus mengunyah. Kakek Zhang sampai terpingkal dibuatnya.
"Sudah, sudah, sebaiknya kau bersiap tidur, besok pagi kita lanjutkan perjalanan" ujar kakek Zhang yang tidak berhenti dibuat tersenyum oleh tingkah laku Jingga cucunya.
Dengan perut yang terisi penuh oleh daging kambing membuat Jingga sulit bergerak, ia langsung berbaring tertidur lelap karenanya.
Kakek Zhang menyelimutinya lalu bermeditasi tak jauh dari cucunya.
Baru saja matanya terpejam dalam meditasi, pendengarannya yang tajam mendengar langkah kaki semakin mendekat ke arahnya.
Tak ingin cucunya sampai terbangun dari tidurnya, kakek Zhang membuat dinding formasi menutupi keberadaan mereka termasuk kudanya.
Sebelumnya ketika kakek Zhang sedang memanggang kambing hasil buruannya, kepulan asap membumbung tinggi ke udara.
Beberapa orang kampung Rimba yang mendiami hutan melihat adanya kepulan asap di arah selatan area hutan.
Khawatir akan terjadinya kebakaran hutan, kepala kampung langsung mengumpulkan warga kampung Rimba lalu memerintahkan kepada empat pemuda untuk meninjau langsung lokasi mencari sumber asap.
"Maman, Endang, Endin dan Uteng, kalian segera ke sana mencari sumber asap, beri tanda dengan panah apabila terjadi kebakaran lalu kembali melaporkan kepadaku" perintah kepala kampung dengan tegas.
"Baik pak kepala" jawab keempatnya serentak lalu pergi menuju ke selatan area hutan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 316 Episodes
Comments
Vision Utama
knp maman,endang dll anehh bhsanya spt main2 law sy jg main2 beri ratenya
2024-05-22
1
Quinnela Estesa
namanya Jingga kayak nama orang indonesia, tapi kakeknya namanya Zhang kayak orang china. budaya indo dan china udh bersatu ini.
2024-02-03
1
Yuki tanzeela
anak kecil Thor, bukan anak muda,,, prei
2023-07-04
3