Hari pertama Jingga berada di kampung Xin Gushi Cun (cerita hati), banyak warga kampung yang datang ingin mendengar ceritanya atau pun yang sekedar ingin menyentuhnya secara langsung.
Meski merepotkan, Jingga selalu sabar menanggapi warga kampung yang memiliki rasa penasaran yang tinggi.
Apalagi ketika Jingga menceritakan pertemuannya dengan kakek angkatnya Jenderal Tang Xie Zhang hingga kematiannya yang membuat hampir semua warga menangis mendengarnya.
Jenderal Tang Xie Zhang menurut penuturan warga kampung merupakan sosok idola rakyat kekaisaran Xiao selain pangeran Xiao Mai yang terkenal baik hati.
Setelah warga kampung membubarkan diri karena hari berganti malam, Jingga masih bercengkrama dengan paman barunya Chen Lau, banyak hal yang menjadi perbincangan mereka terkait sosok sang jenderal yang merupakan sosok idola keluarga Chen.
"Sudah larut, sebaiknya nak Jingga lekas tidur, besok paman akan membawamu ke kebun milik paman" ajak paman Lau.
Jingga begitu senang mendengarnya lalu mengangguk dan kemudian memasuki kamar putra pamannya bernama Chen Tian.
"Boleh aku ikut tidur bersamamu kak Tian?" Ucap Jingga meminta izin.
"Tidak boleh, aku takut padamu" jawab Chen Tian dengan tegas.
Jingga tersenyum padanya, lalu berbalik keluar kamar.
Chen Lau yang masih duduk sambil mengesap teh menoleh kepadanya.
"Kemarilah, kau boleh tidur di sini, maaf kalau hanya dilapisi oleh dedaunan kering" tawar Chen Lau tidak enak hati.
"Terima kasih paman, bisa tinggal di sini saja aku sangat bersyukur, kalau begitu aku pamit tidur duluan" balas Jingga lalu berbaring menyamping di alas dedaunan.
Chen Lau memperhatikan punggung Jingga merasakan iba kepadanya.
"Semoga kau bisa menjadi anak yang hebat suatu hari nanti dan bisa membanggakan mendiang Jenderal Zhang" ucapnya mendoakan.
Hari pun berganti, Jingga pergi ke kebun bersama Chen Lau di pagi hari, biasanya ia masih tertidur dan selalu memarahi matahari, namun hari ini ia begitu berbeda.
"Paman, apakah masih jauh kebunnya?" Tanya Jingga tidak sabar.
"Sudah dekat nak, apa kau lelah?, Mari kita istirahat dulu" jawab Chen Lau menawarkannya.
"Tidak paman, aku hanya tidak sabar ingin melihat kebun" timpalnya.
Keduanya lalu melanjutkan perjalanan, sesampainya di kebun yang sangat luas, Jingga berlarian kesana kemari diantara sayuran dan buah buahan yang sangat menarik hatinya.
Setelah selesai Chen Lau memetik beberapa sayuran dan buah buahan, keduanya kembali pulang.
Di rumah, bibi Ning Rum langsung memasak sayuran dan lauk pauk lainnya.
Namun hal tak terduga kembali terjadi, Jingga selalu muntah ketika memasukan makanan ke mulutnya.
"Apa kau sakit nak Jingga?" Tanya Chen Lau mengkhawatirkannya.
"Tidak apa apa paman, aku sudah lama tidak makan, mungkin perutku harus menyesuaikan lagi" jawab Jingga yang dirinya sendiri pun merasa heran.
"Bibi Rum, boleh aku minta segelas susu?" Pinta Jingga yang mencoba lagi untuk memasukan sesuatu ke mulutnya.
Tanpa menjawab, bibi Rum langsung menuangkan segelas susu sapi lalu memberikannya kepada Jingga.
Dengan perasaan cemas, Jingga pelan pelan meminum susu.
Glek glek glek
"Ah enaknya, boleh nambah bi?" Pintanya lagi.
Bibi Rum langsung mengambilkan seteko susu kepadanya.
"Habiskan saja, itu bisa menggantikan makanan" ucap bibi Rum.
"Terima kasih bi" ucap Jingga langsung menuangkan susu ke gelas kayunya.
Tok tok tok
"Pak Lau" panggil seseorang di luar.
Chen Lau langsung menghampirinya,
"Eh pak kepala kampung, ada yang bisa saya bantu pak kepala?" Sambut Chen Lau ramah.
"Ada undangan seleksi dari sekte teratai langit untuk pemuda kampung kita, apa nak Chen Tian mau ikut mendaftar?" Tawar kepala kampung.
"Ayah aku mau ikut" teriak Chen Tian dari dalam kamarnya lalu bergegas keluar menemui kepala kampung.
"Tunggu dulu, kau ajak Jingga bersamamu" potong Chen Lau.
Chen Tian lalu menoleh ke arah Jingga yang sedang duduk memperhatikannya.
"Beneran aku boleh ikut kakak?" Tanya Jingga memastikan.
Chen Tian menoleh ke kepala kampung meminta pendapat.
"Berapa usiamu sekarang nak Jingga?" Tanya kepala kampung ingin memastikan boleh tidaknya.
Jingga lalu mengingat usianya, terakhir yang ia tahu ketika bersama raja iblis kuno adalah tujuh tahun, ditambah dengan perjalanannya sampai hari ini berarti delapan tahun.
"Usiaku sepuluh tahun paman" jawab Jingga yang menambahkan sendiri usianya supaya bisa ikut seleksi.
Kepala kampung langsung memperhatikan Jingga dari wajah dan tingginya yang sedikit lebih pendek dari Chen Tian yang berusia tiga belas tahun.
Kepala kampung mengangguk setuju, lalu keduanya pergi ke halaman depan rumah kepala kampung, berkumpul dengan pemuda dan pemudi lainnya.
Lebih dari dua puluh pemuda dan pemudi kampung yang akan mengikuti seleksi, dimana laki-laki berjumlah empat belas orang dan perempuan berjumpah sebelas orang.
Setelah selesai kepala kampung mendata semuanya, para pemuda kembali ke rumahnya masing masing.
Di malam hari, Chen Tian sibuk mengemas bawaannya, sedangkan Jingga hanya memperhatikannya.
Esoknya, Chen Tian dan Jingga berpamitan kepada Chen Lau dan Ning Rum.
"Nak Jingga" panggil bibi Rum.
"Iya bi" sahut Jingga menoleh kepadanya.
"Ini bekal untukmu" ucap bibi Rum sambil menyerahkan perbekalan kepada Jingga.
"Terima kasih bibi dan juga paman" balas Jingga lalu menyusul Chen Tian.
Setelah tiba di rumah kepala kampung, tak lama kemudian perwakilan dari sekte teratai langit tiba dengan kudanya.
Dua puluh lima pemuda dan pemudi kampung berjalan beriringan mengikuti perwakilan sekte.
Para warga berbaris rapi di sepanjang jalan kampung melepas kepergian putra dan putrinya, termasuk paman Chen Lau dan Bibi Ning Rum yang ikut berbaris bersama warga lainnya.
Hampir tiga jam lamanya para pemuda berjalan kaki menuju sekte teratai langit, selama itu para pemuda begitu antusias untuk jadi murid sekte teratai langit, tidak ada satu pun yang menunjukkan rasa lelah.
Sampai akhirnya mereka semua melihat gerbang sekte teratai langit di depannya yang mana lokasi sekte berada di lembah teratai.
Di dalam sekte terlihat banyak pemuda yang datang dari berbagai kampung, desa dan bahkan ada juga yang datang dari ibukota kekaisaran.
Tidak hanya yang di dalam, bahkan masih banyak yang baru sampai di gerbang sekte.
Beberapa murid sekte mengelompokkan pemuda ke dalam barisan yang setiap barisnya berjumlah lima puluh sampai enam puluh orang, tergantung dari banyaknya pemuda dalam satu wilayah.
Dua puluh lima pemuda kampung cerita hati digabung dengan pemuda dari kampung kenanga yang berjumlah tiga puluh orang, total semuanya menjadi lima puluh lima pemuda yang dinamai sebagai kelompok kenanga, karena berjumlah lebih banyak dari pemuda cerita hati.
"hei lihat, kenapa anak itu berbeda, apakah dia dari galaksi lain?" ucap salah seorang pemuda dari kampung kenanga.
Seketika semua orang yang mendengarnya menoleh ke arah Jingga yang masih tenang berbaris dengan pemuda cerita hati.
Kegaduhan pun terjadi, semua orang mencoba mendekati Jingga, mereka semua penasaran dengan sosok aneh yang berbeda dari mereka semua.
Tarik ulur diantara pemuda yang saling berebut untuk melihat secara dekat dengan sosok Jingga memperbesar keributan.
Murid murid sekte bahkan kewalahan menertibkan para pemuda, hingga mereka menggunakan cara kasar untuk menertibkan kembali para pemuda.
Cara kasar terbukti berhasil membuat para pemuda kembali ke barisannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 316 Episodes
Comments
Mom La - La
hadirr thorrr
kumembawakan paket untukmu,
⚘⚘⚘⚘⚘
semangat...
2023-02-10
3
Kangee
🥀
2022-12-01
1
Zuhrie Angkara
lanjut
2022-11-07
2