Keempat pemuda langsung bergegas meninggalkan kampung Rimba setelah membawa perlengkapan.
Di kedalaman hutan, keempatnya semakin cepat melangkah menuju sumber asap, namun semakin lama mereka melangkah, tidak ditemukan tanda-tanda bekas pembakaran yang mereka cari.
"Ini aneh, tadi kita dengan jelas melihat kepulan asap dari kejauhan, namun kenapa semakin kesini kita tidak menemukan bekasnya sama sekali" ujar seorang pemuda berusia dua puluhan terlihat bingung.
"Betul katamu, harusnya kita sudah berada dekat dengan sumber api" timpal seorang pemuda gemuk di belakangnya.
"Apa sebaiknya kita kembali saja, aku merasa tidak nyaman berada di dalam hutan ini" ucap seorang pemuda kurus mulai ketakutan.
"Alah, kau ini benar benar penakut, aku tidak akan mundur sebelum menemukan sumber api yang kita cari, bagaimana menjelaskannya kepada kepala kampung kalau pencarian kita nihil tidak menemukan apa pun?" celetuk seorang lagi yang terus mengayunkan goloknya merintis jalan.
Keempat pemuda itu lalu memutuskan melanjutkan perjalanan mencari sumber api.
"Tunggu, apakah kalian mencium bau kambing di sekitar sini?" Tanya Maman pemuda berusia dua puluhan menghentikan langkah ketiganya.
Ketiganya berhenti lalu mencium bau di sekitarnya dengan mengenduskan penciumannya.
"Ya, aku menciumnya, baunya sangat lezat, sepertinya kita sudah dekat dengan sumber api tadi" sahut Endang yang berbadan gemuk.
"Kata nenekku, kalau mencium bau kambing di dalam hutan tandanya ada Genderuwo" celetuk Endin semakin ketakutan.
"Kau ini selalu saja membual, dasar penakut!" timpal Uteng sedikit geram dengan ucapan temannya.
"Tapi ada benernya juga ucapan si Endin, ibuku juga bilang begitu, aku mau kembali sekarang" ucap Maman membenarkan ucapan Endin lalu berjalan cepat meninggalkan ketiga kawannya.
"Man tunggu, aku ikut pulang" teriak Endin lalu menyusulnya.
Endang dan Uteng saling pandang, tak ingin ketinggalan, keduanya berlari pergi menyusul keduanya.
"Woi Man, Endin, tunggu!" teriak Endang yang kesulitan mengejar karena badannya yang gemuk.
Maman dan Endin langsung berhenti menunggu kedua temannya yang tertinggal jauh di belakang.
Sambil ngos-ngosan Endang dan Uteng berhasil menyusul kedua temannya.
"Tunggu dulu, apa yang akan kita laporkan kepada kepala kampung?" tanya Uteng sambil mengatur napasnya yang berat.
Maman dan Endin tidak langsung menjawabnya, keduanya mendongak ke atas memperhatikan langit malam yang tidak ditemukan lagi adanya kepulan asap.
"Lihatlah ke atas, tidak ada lagi kepulan asap, itu berarti tidak ada kebakaran yang terjadi, kita bisa menyimpulkan ada orang yang sedang membakar kambing lalu pergi entah kemana" jawab Maman santai.
ketiganya mengangguk membenarkan perkataan Maman lalu berjalan pulang ke kampung Rimba.
Hari pun berganti, Jingga terbangun dari tidurnya lalu memperhatikan kakek Zhang yang duduk dalam posisi bersila di dekatnya.
"Kau sudah bangun cucuku?" Tanya kakek Zhang masih memejamkan matanya dalam posisi meditasi.
"Sudah kek, apa kakek sudah bangun dari tadi?" Jawab Jingga balik bertanya.
"Ya, ayo kita lanjutkan perjalanan kita" jawab kakek Zhang membuka matanya lalu beranjak bangkit kemudian menggendong Jingga menaiki punggung kuda.
Perjalanan hari ini terasa berbeda dengan hari kemarin, tidak lagi terlihat kerusakan akibat perang atau pun mayat korban perang, kali ini keduanya menelusuri perkebunan luas di kaki bukit.
"Kek, banyak buah-buahan yang matang, bolehkah aku mengambilnya?" Pinta Jingga yang dari tadi meneteskan saliva melihatnya.
"Hahaha, baiklah, biar kakek saja yang mengambilnya" sahut kakek Zhang lalu menghentakkan jarinya menarik beberapa buah yang sudah matang.
"Tangkap Cu!" Serunya dengan cepat buah-buahan terbang ke arahnya lalu disambut oleh Jingga dengan menangkupkan kedua tangannya menangkap buah-buahan yang beterbangan ke arahnya.
"Hore! Terima kasih Kek" ucapnya gembira.
Keduanya begitu asyik memakan buah dengan suasana yang begitu damai.
Tak berselang lama, langit yang cerah berubah menjadi gelap gulita, keduanya mendongak ke atas melihat apa yang terjadi.
"Kakek aku takut" ucap Jingga merasakan kengerian melihat hujan panah beterbangan di atasnya menutupi sinar matahari.
Kakek Zhang lalu menghentikan laju kuda berbalik arah karena merasakan getaran tanah semakin keras.
"Perang lagi" gumam kakek Zhang lalu menghembuskan napas.
"Jangan takut Cu, ada kakek, kita tunggu sampai langit kembali cerah" ujarnya menenangkan Jingga yang terus memejamkan mata sambil menutup kedua telinganya.
Setelah celah langit kembali terbuka, kuda poni mengeluarkan sayapnya lalu terbang ke awan dengan kecepatan tinggi.
"Kakek kita terbang kek! Yuhuu" teriak Jingga merasakan pertama kali terbang.
Kakek Zhang hanya tersenyum simpul memperhatikan cucunya yang begitu senang berada di atas awan.
"Lihatlah ke bawah, perkebunan berubah menjadi arena pertempuran, harusnya ini musim panen petani mengais rezeki, sangat disayangkan" ucap kakek Zhang yang terus memperhatikan peperangan yang terjadi di bawahnya.
Gemuruh dari ribuan manusia yang saling menghantamkan logam dan teriakan yang terus bersahutan meninggalkan pilu pada kedua orang yang terus memperhatikan peperangan di bawahnya.
Kegembiraan yang dirasakan oleh Jingga berubah menjadi ratapan kesedihan, mengingatkannya pada waktu peperangan yang merenggut keluarganya.
"Apa kakek tidak bisa menghentikan perang di bawah sana?" Tanya Jingga yang masih fokus melihat ke bawah.
"Ha ha ha, perang akan terus terjadi walau kakek ikut mencampurinya, itu menjadi tugasmu nanti ketika dewasa, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan" jawab kakek Zhang.
Dengan menempuh udara, perjalanan keduanya jauh lebih cepat, tinggal beberapa tarikan napas lagi keduanya akan sampai di pelabuhan Dadali wilayah barat benua Majang.
Angin yang berhembus kencang di langit membuat Jingga merasakan kantuk yang pada akhirnya ia terlelap mendekap punggung kuda poni yang membawanya terbang.
"Bangun Cu, kita sudah sampai di pelabuhan" ucap kakek Zhang lalu memangku Jingga ke dalam dekapannya.
Seketika perisai pelindung yang menyembunyikan keberadaan kapal selama kepergian kakek Zhang terbuka.
Tampak beberapa orang begitu senang melihat kedatangan kakek Zhang yang tak lain adalah seorang Jenderal di kekaisaran.
"Jendral kembali" teriak seorang petugas mengabarkan.
Suara teriakan yang melengking akhirnya berhasil membangunkan anak kecil yang masih terlelap di pangkuan kakek Zhang.
Jingga membuka kedua matanya, ia menoleh ke arah suara, betapa terkejutnya ia melihat kapal besar di depannya.
"Besar sekali, ini apa kek?" Tanyanya yang langsung membesar kedua bola matanya menatap kapal yang begitu megah.
"Ini kapal milik kekaisaran Xiao yang akan membawa kita ke benua Matahari" jawab kakek Zhang.
"kakek Zhang, turunkan aku" pinta Jingga yang tidak sabar ingin memasuki kapal.
Dengan lembut kakek Zhang menurunkannya, Jingga berlarian di atas dek kapal ke sana kemari.
"Lin Fang, kau jaga cucuku, jangan biarkan ia terjatuh" perintah kakek Zhang kepada anak buahnya.
"Baik Jenderal, hamba akan menjaganya" sahut Lin Fang langsung mengejar Jingga yang berlarian di atas kapal.
Kakek Zhang kembali tersenyum melihat tingkah anak kecil yang dibawanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 316 Episodes
Comments
aa_kardi
iya ..
kata orang dulu gitu ..
gandaruwo ..
kolongwewe ...
2023-07-28
2
〈⎳ HIATUS
aku deg - dengan masa? 😁
2023-01-30
2
@Risa Virgo Always Beautiful
ceritanya menarik semangat
2023-01-30
2