Jingga menikmati hari barunya, berbeda ketika ia pergi meninggalkan dimensi raja iblis kuno, dimana waktu itu ia sangat ingin membalaskan dendam kematian kakeknya.
Sekarang yang menjadi tujuannya adalah menikmati hidupnya menemukan dan mencoba hal hal baru yang belum pernah ia rasakan.
Jingga sekarang berada di gerbang sekte Teratai Langit, awalnya ia ingin menemui kakaknya Chen Tian untuk berpamitan, namun ia urungkan niatnya karena takut mengganggu aktifitas kakaknya.
Dengan langkah pasti, ia terus berjalan ke arah ibukota kekaisaran Xiao.
Berjalan di area pesawahan, membuat dirinya begitu menikmati keindahan alam walau pun tersengat terik matahari, di depannya ada tiga orang pria berbadan besar sedang duduk sambil meminum arak.
Jingga lalu mencondongkan badannya ke depan,
"Permisi tuan tuan, aku mau lewat" ucapnya dengan sopan.
"Ha ha ha, hei sini sini" pinta salah satu pria bercodet melambaikan tangannya yang sedang memegang botol arak.
"Iya tuan ada apa?" Tanya Jingga dibarengi senyuman.
"Jangan sok bermuka manis kau" jawab pria itu lalu melemparkan botol arak mengenai kepala Jingga hingga pecah.
"Maaf tuan apakah saya ada salah?" Tanya Jingga masih tenang sambil mengeringkan keningnga yang basah terkena arak.
"Ha ha ha, kau tahu kesalahanmu apa?, Kau manusia aneh, aku tidak suka melihatnya ha ha ha" jawab pria tadi langsung melayangkan pukulan yang tepat mengenai wajah Jingga.
menyebabkan Jingga terhuyung ke belakang. Jingga yang masih bisa menahan amarahnya langsung pergi meninggalkan ketiga pria.
"Hei mau kemana kau bajingan?" Geram pria itu lalu memukuli Jingga dengan brutal.
"Hei apa kalian akan diam saja, ayolah mumpung ada karung pukul di sini" ajak pria bercodet kepada kedua temannya.
Lalu keduanya ikut memukuli dan menendangi Jingga yang hanya bisa menutupi kepala dengan kedua tangannya.
Setelah puas mengeroyok Jingga, ketiganya pergi dengan sempoyongan karena mabuk.
Jingga bangkit berdiri lalu melanjutkan perjalanannya.
Ketiga pria yang berjalan berlawanan arah, salah satunya menoleh ke belakang.
"Hei lihat, bocah itu masih bisa berjalan, ayo kita pukul lagi sampai dia tidak bisa bangun" ajak pria bercodet masih belum puas.
"Sudahlah biarkan saja, aku sudah capek memukulinya ha ha ha" timpal temannya yang tidak mau ambil bagian, sedangkan yang satunya hanya tahu minum saja.
Setelah berjalan jauh melewati area sawah, Jingga melihat ada satu rumah bambu berdiri kokoh di batas area sawah dan perkebunan.
"Wah, ada bale bambunya, lumayan buat tidur siang" gumamnya lalu menghampiri rumah.
"Permisi, bolehkah aku beristirahat di sini?" Ujar Jingga meminta izin namun tidak ada jawaban sama sekali, Jingga berdiri menunggu ada yang jawab atau pun yang keluar membuka pintu.
Setelah lama menunggu tidak ada jawaban, Jingga langsung membaringkan tubuhnya di bale bambu samping rumah.
Baru saja ia menutup mata, terdengar langkah kaki mendekat lalu membuka pintu.
Jingga yang terlanjur dalam posisi enak dalam pembaringan merasa terganggu.
"Pura pura tidur saja, kalau ditegur baru minta izin lagi hehe" kata batinnya.
Tak berapa lama berselang, terdengar suara aneh dari dalam rumah, semakin lama suara aneh itu semakin intens terdengar.
"Wanita itu kenapa bersuara aneh seperti itu ya, yang aku tahu kalau wanita sedang merasakan sakit, pasti menangis, bukan teriak naik turun seperti itu, apa dia sedang kesakitan?" Tanya batinnya.
Semakin di dengar, semakin tidak bisa tidur, akhirnya Jingga bangun, lalu menerobos masuk ingin tahu apa yang terjadi di dalam.
"Sial, kenapa kalian mirip kambing sedang kawin?" Bentak Jingga lalu berbalik kabur.
Kedua pasangan yang sedang memadu kasih hanya terdiam saling pandang.
Jingga terus berlari dengan cepat menghindari amukan sepasang kekasih yang sudah diganggunya.
Ia berlari karena mengingat masa kecilnya dikejar kejar kambing yang marah karena mengganggu kambing peliharaannya yang dalam posisi sama seperti yang barusan dia lihat.
Jingga menoleh ke belakang memastikan pasangan kekasih itu tidak mengejarnya.
"Syukurlah mereka tidak mengejarku" ucapnya merasa lega.
Tak terasa Jingga sudah berada jauh dari area perkebunan, tatapannya tertuju pada sebuah gerbang besar yang dijaga oleh dua pria yang berdiri seperti patung.
Jingga langsung memasukinya tanpa menghiraukan keberadaan kedua penjaga gerbang, tiba tiba dua tombak melintang menghalangi langkahnya.
"Tuan, kenapa aku dihadang?, Apakah aku pernah berbuat salah kepada tuan berdua?" Tanya Jingga meminta alasan.
Kedua pria penjaga merasa heran dengan sikap pemuda yang dihadangnya.
"Kau terlihat bukan berasal dari kekaisaran Xiao, tunjukkan identitasmu" pinta penjaga dengan tegas.
Jingga lalu menyerahkan token kampung Cerita Hati kepada penjaga.
Penjaga memperhatikan Jingga dari atas sampai bawah.
"Apa kau mencuri token ini?" Tanyanya menyelidik.
"Aku memang berasal dari sana, tuan tuan bisa menanyakan langsung kepada kepala kampung" timpal Jingga dengan jujur.
"Luo Chan, kau bawa pemuda ini ke pos pengamanan, biar komandan Xon Teng yang akan menginterogasinya" perintah penjaga yang terlihat lebih tua dari penjaga yang satunya.
"Siap, laksanakan" sahutnya.
Luo Chan lalu mengikat kedua tangan Jingga di belakang punggung dan membawanya ke pos pengamanan.
disepanjang jalan, orang orang yang sedang berlalu lalang dalam keramaian menghentikan kegiatannya sejenak.
mereka semua memperhatikan pemuda yang terikat tangannya dibawa oleh penjaga gerbang.
mereka merasa heran pemuda itu tidak sama dengan mereka.
"sepertinya pemuda itu bukan dari kekaisaran Xiao, dia terlihat berbeda dengan kita, lalu darimana ia berasal" celoteh seseorang kepada teman temannya.
Jingga yang sempat mendengarnya langsung menoleh ke arah orang orang yang membicarakan dirinya.
"aku orang kampung Cerita Hati" ucapnya menjawab perkiraan orang orang.
"diam kau" tegur penjaga yang membawanya.
semua orang yang mendengarnya lebih tidak percaya, kampung Cerita Hati merupakan bagian dari wilayah kekaisaran Xiao, mana mungkin ada orang seperti pemuda itu.
setiap orang saling menyimpulkan argumennya masing masing.
"tuan, berapa lama lagi sampai di pos pengamanan?" tanya Jingga yang mulai kesal selalu jadi bahan olok olokan orang orang yang dilaluinya.
"diamlah, nanti juga sampai" jawab petugas memintanya diam.
"tuan apakah di sana tempatnya?" tanya Jingga lagi.
"diam atau aku pukul kepalamu" gertak penjaga yang tidak suka ditanya tanya.
bug.
Jingga dan penjaga gerbang terkejut melihat orang jatuh dari lantai atas sebuah restoran tepat di depannya.
keduanya lalu mendongak ke atas, mencari sebab jatuhnya seorang pria tambun.
pria tambun yang jatuh itu kembali bangun, sambil cengengesan pria tambun itu masuk kembali ke dalam restoran.
Jingga dan penjaga gerbang kembali melanjutkan perjalanannya.
bug.
terdengar suara jatuh dari arah belakang keduanya, Jingga dan penjaga gerbang menoleh ke belakang.
Lagi lagi pria tambun itu terjatuh, keduanya menggelengkan kepala melihatnya.
"sudah, lanjutkan jalannya, sebentar lagi sampai" ucap penjaga gerbang memintanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 316 Episodes
Comments
forza 💫✨🎗️🪙👑
mcnya ga bisa bertarung ya..
2023-07-29
1
Sogol Shinko
nyimak
2023-07-08
1
tirta arya
bagus lih ni cerota ko sepi yah🤔🤔🤔
2023-03-15
0