"sepertinya kedua guruku akan terus berdebat, sebaiknya aku manfaatkannya untuk tidur di bale bambu" ucapnya yang mengurungkan niat menemui kedua gurunya.
Baru saja Jingga membaringkan badannya, kedua gurunya datang menghampiri.
"Jingga, ada yang mau guru berikan kepadamu" ucap Luo Xiang begitu sampai di bale bambu yang sengaja Jingga buat sendiri untuknya beristirahat, tepatnya untuk tidur.
"Ya guru silakan" sahut Jingga langsung kembali duduk.
Luo Xiang lalu mengeluarkan sebuah kitab dan sebilah pedang dari cincin spasialnya.
"Ini terimalah, guru merasa kitab ini berjodoh denganmu, lalu pedang ini guru beli di pengrajin pedang di kota Lintang, bisa kau gunakan untuk pelatihanmu" ucap Luo Xiang tulus memberikannya.
"Terima kasih guru, apakah aku boleh membacanya sekarang?" Tanya Jingga meminta izin.
"Bacalah, kalau ada yang ingin kau tanyakan, jangan ragu untuk menanyakannya" jawab Luo Xiang lalu pergi meninggalkannya.
Baru beberapa langkah Luo Xiang melangkah, Jingga memanggilnya.
"Guru" teriak Jingga di bale bambu lalu berlari ke arah gurunya.
"Iya ada apa?" Tanya Luo Xiang langsung berbalik.
"Ini maksudnya apa ya?" Tanya Jingga sambil menunjuk catatan yang ia tidak mengerti.
Luo Xiang langsung menjelaskannya.
Jingga kembali ke bale bambu sambil terus membaca, belum juga ia sampai di bale bambu, ia berlari kembali ke rumah.
"Guru maaf, yang ini maksudnya apa?" Tanya Jingga lagi.
Luo Xiang langsung menjawabnya.
Jingga kembali lagi ke bale bambu, tak lama kemudian Jingga balik lagi menanyakan apa yang ia tidak mengerti.
Berkali kali Jingga bolak balik menanyakan apa yang ia tidak mengerti membuat gurunya Zhen Lie menegur istrinya.
"Kau sebaiknya menemani Jingga sampai ia selesai membaca" ucap Zhen Lie dengan wajah tidak enak dipandang.
"Baiklah, kau tidak perlu cemberut seperti itu, sudah tua jadi tidak enak dilihatnya" sahut Luo Xiang lalu keluar rumah.
"Tapi kau masih cinta kan padaku?" Timpal Zhen Lie yang membuat wajah istrinya bersemu merah.
"Guru, kenapa kau terlihat seperti gadis yang sedang kasmaran?" Tanya Jingga yang dari tadi memperhatikannya.
Luo Xiang menjadi malu mendengarnya,
"Oh, itu karena aku masih muda haha" kilahnya mengelak.
"Dih! Tidak sadar umur" gumam Jingga pelan.
Jingga lupa gurunya seorang kultivator yang bisa mendengar suara sekecil apa pun, dengan raut wajah yang menyeramkan, Luo Xiang memelototinya.
"Coba ucapkan sekali lagi" pinta Luo Xiang sambil berdecak pinggang.
"Eh, anu guru, guru masih muda dan cantik" ungkap Jingga ketakutan melihat wajah Luo Xiang yang biasanya terlihat teduh keibuan sekarang berubah menjadi monster buas.
Mendengar ucapan muridnya, Luo Xiang kembali ke setelan pabrik.
"Syukurlah wajah galak guruku kembali seperti semula" gumam hatinya.
Seharian Jingga ditemani gurunya Luo Xiang dalam memahami semua catatan jurus tarian pedang asura.
Hari berikutnya Jingga mulai mempraktekkan semua teori yang dibacanya.
Gerakannya masih terlihat kaku, ia baru pertama kali menggunakan pedang, seperti apa yang pernah disebutkan gurunya Zhen Lie, Jingga adalah pemuda yang akan terus mengulang sampai ia menguasainya, tak peduli walaupun harus seribu kali ia mengulangnya, selama itu belum membuatnya berhasil, ia akan mengulanginya lagi.
Kedua gurunya terus mengamatinya dari bilik rumahnya.
"Xiang'er, sebaiknya kau mendampinginya, Jingga mungkin memahami teorinya, namun dalam praktiknya ia bisa saja salah" saran Zhen Lie yang merasa ada kesalahan dalam gerakan Jingga.
"Baiklah suamiku, tadinya aku ingin kau melihatnya sendiri, tapi ya sudahlah aku akan mendampinginya berlatih" ucap Luo Xiang yang langsung keluar dari rumahnya.
"Apa maksud ucapan istriku?, sebaiknya aku menanyakannya nanti" gumam pikirnya.
Luo Xiang duduk di bale bambu, kedua matanya tidak lepas memperhatikan gerakan yang diperagakan oleh Jingga.
Malamnya sekembali Luo Xiang ke bilik bambu, Zhen Lie langsung menanyainya.
"Xiang'er, bisakah kau jelaskan maksud ucapanmu tadi sore?"
Luo Xiang tersenyum simpul mendengar pertanyaan suaminya.
"Apa suamiku yang paling aku cintai tidak mau makan malam dulu bersamaku?" Jawab Luo Xiang menawarkan.
"Aku tidak lapar, tapi aku mau memakanmu" jawab Zhen Lie lalu menarik tangan istrinya memasuki kamar.
Setelah selesai menjalankan kebutuhannya, kedua insan paruh baya itu duduk di lawang pintu memperhatikan Jingga yang masih berlatih memainkan pedang.
"Xiang'er kapan kau akan menjawab pertanyaanku tadi?" Ujar Zhen Lie menagihnya.
"Ternyata suamiku masih mengingatnya, beberapa bulan lalu ketika aku mendampinginya berlatih jurus bayangan, Jingga adalah orang yang tidak mau terpaku pada pola yang aku buat, ia menciptakan polanya sendiri, kau tahu berapa banyak ia membuat pola?" Jawab Luo Xiang memberi tebakan kepada suaminya.
"Hmm, menurutku hanya dua puluh pola yang bisa ia variasikan" jawab Zhen Lie menebaknya.
"Ha ha ha, kau salah suamiku, Jingga berhasil membuat lima ratus pola dalam sebulan" timpal Luo Xiang yang membuat Zhen Lie terperangah tidak mempercayainya.
melihat wajah suaminya yang terperangah tidak mempercayai ucapannya membuat Luo Xiang tersenyum simpul sebelum melanjutkan.
"Itulah kenapa aku tidak mendampinginya, Jingga memang bukan seorang jenius, tapi dia bisa melebihi seorang jenius manapun, Jingga selalu menanyakan hal yang memang tidak dia mengerti, walau pun kita menganggapnya hanya pertanyaan remeh, menurutku itu adalah cara belajar terbaik untuk memahami sesuatu" imbuh Luo Xiang merasa beruntung memiliki murid seperti Jingga.
Zhen Lie hanya bisa menganggukan kepalanya mendengar istrinya bercerita.
"sebaiknya kita masuk ke dalam, biarkan Jingga fokus pada pelatihannya" ajak Zhen Lie kepada istrinya.
"apa mau nambah lagi makan malamnya?" goda Luo Xiang dengan senyum yang meluluhkan hati.
hampir dua bulan lamanya Jingga berlatih tarian pedang asura, gerakannya terlihat begitu sempurna.
Zhen Lie yang memperhatikannya begitu takjub dengan gerakan gerakan yang diperagakan muridnya.
"seumur hidupku aku tidak pernah melihat ada orang yang memainkan pedang seindah itu, Jingga lebih terlihat sedang menari daripada memainkan pedang" puji Zhen Lie lalu bertepuk tangan menghampiri Jingga bersama istrinya.
Jingga yang sedang memainkan pedang mendengar tepuk tangan dari gurunya lalu menghentikan kegiatannya.
"salam hormat guru" sambut Jingga kepada kedua gurunya.
"gerakanmu terlihat begitu sempurna, apa kau sudah mempelajari semuanya?" tanya Luo Xiang.
"sudah guru, hanya bagian penggunaan energi spiritual elemen angin yang tidak bisa aku praktekkan, namun aku mengakalinya dengan angin yang disediakan alam" jawab Jingga.
"betulkah itu?, bisakah kau tunjukkan kepada kami?" tanya Luo Xiang memintanya.
"sudah guru" jawab Jingga yang tak sampai membuat kedua gurunya sempat berkedip.
keduanya saling tatap mendengar jawaban muridnya, tak berselang lama, puluhan batang bambu terbelah menjadi beberapa bagian kecil.
"apa!" teriak Zhen Lie yang terkejut dengan kecepatan Jingga yang diluar akal sehatnya.
"ini terlalu mengerikan" imbuhnya dalam pikir.
Zhen Lie sampai menelan salivanya berkali kali masih menolak apa yang ditunjukkan oleh Jingga muridnya. Sedangkan Luo Xiang menampakkan wajah yang berbunga akan capaian muridnya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 316 Episodes
Comments
XiaoYan
lanjut😁
2022-10-13
1
Haryanto Sendtot
👍👍👍👍up thor
2022-09-30
0
aBaDi
🖒👍🖒👍🖒👍🖒👍🖒👍
2022-08-06
0