Akhirnya kedua orang yang berjalan dari gerbang luar sampai juga di pos pengamanan.
Seorang pria paruh baya yang terlihat masih kekar badannya langsung menghampiri keduanya.
"Lapor komandan, aku membawa pria aneh, dia mengaku sebagai orang kampung Cerita Hati?" Ucap Luo Chan melaporkan.
Komandan Xon Teng lalu memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki seorang pemuda di depannya.
"siapa namamu anak muda?" tanya komandan Xon Teng.
"namaku Tang Xie Jingga paman" jawab Jingga.
"Kembalikan tokennya, lepaskan dia" perintah komandan Xon Teng seketika.
Luo Chan heran sendiri kenapa pemuda yang dibawanya tidak dihukum, minimal diinterogasi, namun ia tidak berani menolaknya, lalu ia pun melepaskan ikatan di pergelangan tangan Jingga dan melemparkan token padanya.
"Terima kasih tuan tuan, aku permisi" ucap Jingga lalu meninggalkan keduanya.
"Maaf komandan, kenapa komandan melepaskan pemuda aneh itu?" Luo Chan bertanya setelah Jingga sudah jauh darinya.
"Dia tidak memiliki kultivasi, jadi bukan ancaman untuk kekaisaran, kau kembalilah" jawab komandan.
Jingga berjalan jalan di tengah keramaian kota, banyak bangunan megah di kiri kanan jalan yang ia lalui, tetapi setiap langkahnya menjadi bahan olok olokan setiap orang yang melihatnya.
"Permisi tuan, apakah tuan tahu dimana lokasi keberadaan sekte Naga Ungu?" Tanya Jingga kepada pedagang yang menjajakan penganan.
"Hei pemuda aneh, jangan terlalu dekat, kau lihat gunung itu, sekte yang kau maksud berada di kaki gunung, pergilah" jawab pedagang penganan tidak ingin berlama lama berada di dekat pemuda yang berbeda darinya.
"Terima kasih paman" balas Jingga lalu pergi ke arah gunung yang ditunjuk.
Berita tentang pemuda aneh menyebar dengan cepat di kota, bahkan kabarnya sampai di istana kekaisaran melalui mulut ke mulut prajurit istana.
****
Kediamanan Jenderal Lie Zhou istana kekaisaran Xiao, para prajurit yang sedang beristirahat makan di salah satu dapur khusus untuk para prajurit istana.
Beberapa orang prajurit sedang membicarakan pemuda aneh dengan bercanda.
"Kau tahu, pemuda itu mengaku sebagai orang kampung Cerita Hati, apakah itu tidak aneh menurut kalian?" Ucap salah seorang prajurit kepada rekan rekannya.
"Hahaha, itu benar benar konyol" timpal prajurit lainnya.
"Lalu kenapa komandan Xon Teng tidak mengurungnya?, bukankah dia berbahaya, bisa saja dia seorang mata mata kekaisaran lain" tanya seorang lagi.
"Itu karena yang aku dengar, dia bukan seorang kultivator, jadi komanda Xon Teng melepaskannya" jawab prajurit yang membuka obrolan tentang pemuda yang tak lain adalah Jingga.
"Apakah yang kalian bicarakan itu benar?" Tanya seorang pria paruh baya yang tidak sengaja menguping obrolan para prajurit.
Sontak semua prajurit langsung berdiri begitu melihat siapa yang datang.
"Hormat, Jenderal Lie Zhou" ucap semua prajurit serentak.
Jenderal Lie Zhou melambaikan tangan meminta semuanya kembali duduk.
"Jawablah pertanyaanku tadi, laporkan semuanya" imbuh Jenderal Lie Zhou.
Seorang prajurit berdiri lalu menceritakan semua yang diketahuinya tentang pemuda aneh.
"Apa kau tahu siapa nama pemuda itu?" Tanya Jenderal Lie Zhou.
"Maaf Jenderal, kalau tidak salah menyebut namanya adalah Tang Xie Jingga, sesuai dengan orangnya, namanya juga aneh" jawab prajurit sambil menahan tawa.
"Kau duduklah, terima kasih informasinya" timpal Jenderal Lie Zhou lalu pergi ke arah istana.
Dalam perjalanan ke istana, Jenderal Lie Zhou berpapasan dengan pangeran Xiao Mai.
"Pangeran" panggilnya,
"Ya, ada apa jenderal?" Tanya pangeran menghentikan jalannya.
"Ada yang ingin hamba sampaikan, cucu angkat mendiang jenderal Zhang masih hidup, menurut informasi yang hamba terima dari prajut, cucu jenderal Zhang berada di kota Lintang, mohon pangeran mengizinkan hamba untuk menemuinya" jawab jenderal Lie Zhou.
"Benarkah?, Baiklah kau boleh meninggalkan istana untuk menemuinya, jangan lupa bawa dia ke istana" ucap pangeran Xiao Mai mengizinkannya.
****
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Jingga berhasil sampai di kaki gunung, ia mencari keberadaan sekte di sekitarnya, namun tidak ada tanda apa pun, hanya pepohonan saja yang ia jumpai.
"Apa pedagang itu membohongiku, atau aku harus memutari gunung besar ini?" Pikirnya merasa kecewa, setelah berpikir lama, ia memutuskan memutari kaki gunung.
Bukanlah hal mudah untuk bisa mengitarinya, berkali kali Jingga harus jatuh karena medannya yang sulit.
Langkah kakinya berhenti, Jingga melihat jurang yang begitu curam di depannya.
"Bagaimana aku bisa melewatinya?" Pikirnya lagi.
Jingga kemudian berbalik arah, hanya itu jalan satu satunya untuk bisa memutari gunung.
Baru saja beberapa langkah ia berjalan, terdengar suara pertarungan di belakangnya, ia langsung berbalik kembali melihat apa yang terjadi.
Dhuar
Jingga terlempar jauh membentur pohon,
"Ah, apa apaan ini" ucapnya lalu berdiri kembali.
Jingga berjalan kembali ke arah jurang, ia tidak bisa melihat dengan jelas pertarungan yang terjadi di bawahnya, hanya suara benturan dan siluet energi yang bisa ia lihat.
Berpegangan pada akar pohon yang menggantung, Jingga berusaha lebih dekat untuk melihat pertarungan.
Namun Jingga kurang berhati hati, seberkas energi memotong akar yang menjadi pegangannya.
"Aah" teriaknya.
Jingga terperosok ke dasar jurang yang begitu curam, tubuhnya berguling guling meluncur deras ke dasar jurang.
Bug bug bug
Jingga bergulingan sampai ke tengah pertarungan dari puluhan orang berpakaian merah melawan sepasang pendekar, sontak saja semua orang berhenti karena terkejut melihat seorang pemuda jatuh dari atas gunung, mereka semua mendongak ke atas jatuhnya pemuda.
Beruntung tubuh Jingga berbeda dengan manusia, Jingga tidak mengalami luka apa pun, hanya bajunya saja yang kotor dan sobek.
Ia kemudian berdiri, melihat puluhan orang yang memandanginya.
"Maaf tuan tuan semuanya, pertarungan kalian jadi terganggu, silakan dilanjutkan" ucapnya lalu menjauhi arena pertarungan.
Semua orang membelalakan matanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, seorang pemuda terlihat baik baik saja setelah terjatuh dari atas gunung yang tinggi.
Pertarungan pun kembali dilanjutkan, sekarang Jingga bisa menyaksikan pertarungan dengan jelas.
Duduk di batang pohon yang tumbang, Jingga begitu bersemangat melihat para pendekar bertarung dengan kesaktian yang tinggi.
"Ha ha ha, kalian payah, mengeroyok dua orang saja pukulan kalian tidak ada yang kena sekali pun" ucap Jingga mengomentari.
"Hei bocah diamlah, kau kira ini turnamen!" Tegur salah seorang pendekar berbaju merah tidak terima.
"Paman, bibi, pukul mereka dengan keras" teriak Jingga mendukung sepasang pendekar yang terlihat kompak dalam bertarung.
Sontak saja ucapan Jingga membuat konsentrasi para pendekar buyar.
"Kau, bunuh bocah sialan itu" perintah seorang pria kepada salah satu petarung.
"Ow ow" gumam Jingga yang mendengarnya lalu melarikan diri.
"Hei bocah, jangan lari" teriak seorang pendekar mengejarnya.
"Ha ha ha, kau kira aku hanya akan diam saja menyerahkan diri, preet" ledeknya yang terus berlari sekuatnya.
"Sialan kau bocah gendeng" timpal pria itu semakin naik pitam untuk membunuhnya.
Di arena pertarungan, sepasang pendekar yang dari tadi hanya mengimbangi, sekarang menjadi beringas, keduanya dengan mudah melancarkan serangan, jurus jurus pamungkas dikeluarkan keduanya.
Dua energi berwarna merah dan biru terus berbenturan dengan energi hitam lawannya, dengan tingkat kultivasi kedua pasangan pendekar berada dua tingkat di atas lawannya, memudahkan keduanya terus melancarkan jurus jurus andalannya.
Sehingga menyebabkan para pendekar yang menjadi lawannya terus mengalami luka dalam yang semakin lama semakin parah.
Tidak ingin mati sia sia ditangan sepasang pendekar, mereka semua melarikan diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 316 Episodes
Comments
Mom La - La
smpai dsni dlu, nti aku nyicil lgi.
2023-02-11
1
aBaDi
😉👍
2022-08-06
1