Jenderal Zhang langsung kembali ke kamarnya untuk melihat keadaan cucunya, dengan sangat pelan Jenderal Zhang membuka pintu lalu memasukinya secara perlahan.
"Jingga cucuku, di mana kamu Nak?" Ucapnya mencari keberadaan cucunya walaupun sebenarnya ia bisa mengetahui dengan kemampuannya.
Jingga yang sedang bersembunyi di balik ranjang kayu langsung merangkak keluar lalu berlari memeluk kakeknya.
Air matanya mengalir deras karena takut akan kehilangan orang yang begitu menyayanginya.
Kakek Zhang membalas pelukannya dengan mendekapnya begitu erat, membiarkan Jingga melampiaskan kesedihannya.
"Apa kau sudah agak tenang sekarang?" Tanya kakek Zhang sambil mengusap lembut punggung cucunya.
Jingga menganggukkan kepalanya lalu menatap kakek Zhang dengan ukiran senyum yang tulus.
"Apa kau mau makan?" Imbuh kakeknya bertanya.
Jingga menggelengkan kepalanya, bukannya tidak lapar, ia merasa ingin terus dalam dekapan kakeknya.
"Bisakah kakek menceritakan perjalanan hidup kakek selama ini, aku ingin mendengarnya" pinta Jingga yang penasaran akan kisah hidup kakeknya, walau pun sebenarnya ia ingin terus dalam dekapan kakeknya.
Kakek Zhang menatapnya serius hingga beberapa saat kemudian ia menghempaskan napasnya, seolah membuang semua beban di pundaknya.
"Tidak akan cukup menceritakan kisah kakek walau sepanjang hari kau mendengarnya, kakek hanya akan menceritakan kisah yang bisa kau jadikan pelajaran, namun keputusan akhir tentunya kau sendiri yang akan memilah dan memilihnya" ujar kakek Zhang mengawali ceritanya.
Selanjutnya kakek Zhang banyak menceritakan kisah yang bisa dijadikan bekal untuk masa depan cucunya.
Banyak poin penting yang disampaikan olehnya, Jingga yang begitu serius mendengarkan terus mengangguk, meskipun hampir semua hal tidak ia mengerti namun ia akan terus mengingatnya disepanjang perjalanan hidupnya kelak.
"Kek, dari cerita kakek yang paling tidak aku mengerti adalah soal kultivasi, apakah kekuatan yang pernah kakek tunjukkan itu berasal dari kultivasi? Lalu apakah aku bisa berkultivasi seperti kakek? Terus apakah ranah kultivasi itu?" Berondong pertanyaan ditanyakan langsung pada kakeknya.
Kalau bukan cucunya, kakek Zhang mungkin langsung pergi meninggalkannya, namun ia terus sabar menanggapinya.
"Kau ini, sekali bertanya langsung diborong semuanya" dengus kakek Zhang berpura-pura kesal kepadanya.
"Maaf" hanya itu kata yang keluar dari mulut cucunya.
"Baiklah, tapi ingat untuk sisanya nanti kau akan tahu sendiri di masa depan" timpal kakek Zhang mengingatkan.
Jingga menganggukan kepala menyetujuinya.
"Ya, apa yang kau lihat dari kakek adalah kekuatan seorang kultivator.
Sedangkan kultivasi adalah kekuatan spiritual yang bersumber dari energi alam, budidaya, inti kristal jiwa maupun alkimia.
Kau sendiri bisa menjadi seorang kultivator selama kau memiliki dentian sebagai penampung energi yang disalurkan melalui titik meridian-
dan yang terakhir soal ranah tingkatan kultivasi, pada dasarnya setiap kultivator berawal dari pengumpulan qi, pembentukan dan tahap penyempurnaan qi esential.
Untuk tingkatan ranah sendiri setiap benua berbeda dalam penyebutannya.
Ranah tertinggi yang kakek ketahui adalah superior emperor, itu ranah legenda yang hanya di miliki oleh raja dewa dan raja iblis, selama ini tidak ada satu pun manusia yang bisa mencapainya.
Apakah itu cukup jelas untukmu cucuku?" Setelah panjang lebar menjelaskan, kakek Zhang balik bertanya.
Jingga menggaruk kepalanya, mau bertanya lagi tapi takut tidak boleh karena tadi sudah diingatkan. Ia hanya bisa cengengesan mendengarnya.
Kakek Zhang tentu memahami apa yang ditunjukkan dari raut wajah cucunya, sambil mengelus janggutnya kakek Zhang menyampaikan hal terakhir pada cucunya.
"Ada sebuah legenda dari buku kuno yang turun temurun diceritakan menyebutkan bahwa tingkatan tertinggi dari kultivator adalah tidak memiliki kultivasi" ungkapnya memberitahu.
Bola mata Jingga melebar mendengarnya, sulit untuk mempercayai apa yang diucapkan kakeknya itu.
"Ha ha ha, kau selalu seperti itu apabila terkejut akan sesuatu, awas matamu nanti keluar ha ha ha" respons kakek Zhang yang tidak tahan untuk tidak menertawainya.
Jingga langsung cemberut membusungkan pipi melihat kakeknya yang menertawainya.
"Lalu siapa yang orang yang berada di tingkatan tertinggi itu?" Tanya Jingga memberanikan diri.
"Haha akhirnya kau menanyakan juga, ia adalah sang penguasa semesta, namun keberadaannya dianggap mitos sampai saat ini" jawab kakek Zhang mengakhiri obrolan panjang bersama cucunya Jingga.
"Penguasa semesta ya, hmm" gumam batinnya begitu penasaran akan kebenaran tentangnya.
Tanpa ia sadar, kakek Zhang telah pergi meninggalkannya.
"Ayo Cu, kita makan malam" ajak kakeknya dari kejauhan.
Jingga langsung tersadar kakeknya sudah tidak ada di dekatnya.
"Kakek!" Gerutunya lalu pergi ke ruang makan menyusul kakeknya.
Acara makan malam pun sama seperti hari hari biasanya, setelah selesai makan kakek Zhang tidak langsung kembali ke kamarnya, ia berjalan ke arah luar kapal menikmati hembusan sepoi-sepoi angin malam dan bintang-bintang yang berkelipan di angkasa.
"Kakek" panggil Jingga yang mengikuti kakeknya di belakang.
Kakek Zhang menoleh kepadanya lalu menyuruhnya untuk kembali ke kamar dengan alasan ingin menyendiri dulu.
Jingga hanya mengangguk lalu kembali ke kamarnya sendirian.
"Tidak biasanya kakek seperti itu, aku harus tahu apa yang dipikirkan kakek, aku akan menunggunya" gumam Jingga sambil duduk bersila menunggu kakeknya.
Di luar kapal, para komandan mendatangi kakek Zhang, mereka merasa ada sesuatu yang mengganjal pada diri sang jenderal.
"Jenderal, apa yang menjadi bebanmu adalah beban kami juga" ujar Kapten Lin Fang yang diangguki oleh kapten lainnya yang datang untuk menemani Jenderal.
"Terima kasih atas perhatian kalian para kapten, seumur hidupku aku tidak pernah merasa lega dan gelisah di waktu yang bersamaan seperti sekarang ini.
Aku lega setelah menceritakan banyak kisahku sebagai bekal untuk cucuku, namun aku cemas seolah cerita itu adalah akhir dari kisah hidupku, itulah yang aku rasakan saat ini" ungkap Jendral Zhang menyampaikan keluh kesahnya.
Para komandan terdiam mendengar apa yang disampaikan oleh Jenderal Zhang, tidak ada satu pun yang bisa memberikan pendapat.
Suasana menjadi hening karenanya, Jenderal Zhang dan para komandan hanyut dalam deru ombak di lautan dan angin malam yang menerpa tiada henti.
Malam semakin larut, para komandan yang diselimuti rasa kantuk tidak berani untuk pergi meninggalkan jenderalnya.
Sang Jenderal menyadari yang dirasakan para komandannya lalu mengajak mereka kembali masuk ke dalam kapal untuk beristirahat.
Sesampainya di dalam kamar, kakek Zhang terkejut melihat cucunya masih duduk bersila menunggunya.
"Cucuku, kenapa kau tidak tidur?" Tegur kakek Zhang merasa bersalah.
"Aku sengaja menunggu kakek" jawabnya menimpali.
"Mari tidur" ajak kakek Zhang yang langsung duduk di samping Jingga.
Jingga lalu menyandarkan kepalanya di dada kakeknya.
Sambil mengusap kepala cucunya, kakek Zhang menceritakan apa yang terjadi kepadanya.
Jingga melepaskan dekapan kakeknya, menatap erat wajah keriput kakeknya dengan seksama.
"Kakek tidak boleh mengatakan itu, aku tidak mau ditinggalkan lagi oleh orang yang aku sayang" ucap Jingga sambil berderai air matanya tak kuasa menahan sedih.
"Kakek akan selalu ada untuk membesarkanmu cucuku, kau tidak perlu khawatir" balasnya sambil mengusap air mata Jingga dengan jarinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 316 Episodes
Comments
Mom La - La
for you.... ⚘
2023-02-05
2
〈⎳ HIATUS
ih kakak author nya kok gitu. Jingganya jangan ditinggal sendirian dong. kan kasihan
2023-02-02
3
Novriyanto Diaz Angga
masih mengikuti alur
2022-08-30
3