Kika 7

Pekerjaanku di 4 bulan hari-hari selanjutnya berjalan sedikit monoton namun menguras konsentrasi. Hampir seluruh perhatianmu di kantor digunakan untuk mematangkan metode yang sudah mendapat persetujuan para eksekutif termasuk CEO. Dari membuat planning project sampai bertemu dengan firma hukum untuk membuat dokumen resmi kulakukan secara mandiri.

Di antara sekian banyak bisnis Wismail yang saat ini punya potensi terbesar adalah sektor smartphone & teknologi nya. Ketenaran hanya sesaat. Dan saat ini kepopuleran Wiphone sedang berada Di puncak. Persaingannya tahun ini bahkan bisa disetarakan dengan ponsel pintar Samsul & Pineapple yang lebih dulu menguasai pasar. Mungkin hal itu yang mendasari mengapa Djati menggenjot lebih keras sektor ini dibandingkan yang lain.

Ketika metode tersebut dirilis via email ke seluruh engineer sektor Wiphone. Efeknya tentu saja membuat kehehohan tersendiri. Tak pelak pula menimbulkan pro & kontra.

Yani & Yudi termasuk yang kontra karena mereka merasa load kerja mereka bertambah sehingga bagi mereka yang sudah menikah harus mengorbankan jam berkualitas untuk bersama keluarga.

Tapi ada juga yang sudah menikah tapi memilih pro seperti Bima, alasannya karena bisa jadi ladang uang tambahan mirip investasi. Pendapat yang disetujui oleh kawanan yang juga berpendapat sama dengannya.

Yusuf yang sudah datang dari kerja dinasnya yang panjang memberi pengertian pada para engineer sekaligus membimbingku untuk menjadi project leader mereka. Kedatangan Yusuf membuatku harus terdepak dari kantornya yang nyaman & harus rela duduk di salah satu kubikel yang satu ruangan dengan para engineer Wiphone, perubahan yang malah membuatku senang larena merasa punya roomate. Dari tempat dudukku yang baru ini aku bisa lebih merekatkan teamwork dengan para kolega engineer.

Biasanya setiap minggu setidaknya ada 2 pertemuan dengan klien di luar kantor. Aku menemani Handa yang melakukan mayoritas kegiatan transaksi bisnis sambil belajar dengan mengamati & merasakan suasananya. Sejauh ini klien yang kami datangi adalah klien yang 90% sudah pasti akan bekerjasama dengan salah satu sektor bisnis Wismail Grup.

Umumnya kami hanya memperjelas kontrak & bonding dengan klien, itupun mereka merupakan klien yang 'baik-baik' saja atau dari perusahaan kelas teri yang tidak terlalu mengintimidasiku. Nampaknya Djati cukup selektif memilih agar aku bisa belajar maksimal dengan milestone yang tepat.

Berbeda dengan yang ditangani Djati & Irza yang harus menghadapi klien yang cenderung 'susah' dituruti maunya. Bahkan pernah Djati & Irza harus melakukan diskusi alot sampai berhari-hari baru mendapatkan kata deal.

Kesibukan Djati yang intensitasnya tinggi dalam beberapa bulan terakhir bukan berarti tidak berefek samping. Beberapa kali aku memergoki beliau batuk dengan suara yang parah, membuat siapapun yang mendengarnya miris seolah sebuah batuk darinya sanggup mengeluarkan paru-parunya saking kerasnya.

Mila sangat mengkhawatirkan kondisi ini & sempat memaksakan pada suaminya untuk ikut berdinas ke luar kota agar bisa mengurusnya di hotel di malam harinya. Tapi saran istrinya itu sering ditolak Djati dengan alasan untuk dia menemaniku di rumah. Dia merasa ditemani Irza sudah cukup bila terjadi sesuatu.

Hubunganku dengan Irza masih terbilang belum damai, belum ada satupun kata untuk berbaikan atau yang mendekati itu. Dia lebih sering terlihat menghindariku baik di kantor maupun di rumah.

Kalau pun kami harus saling berbicara itu cuma untuk keperluan profesional yang kebutuhan waktunya tak lebih banyak dari memasak mi instan. Matanya saat berinteraksi kepadaku juga menyorot tanpa maksud apa pun seperti dengan rekan kerja biasa bukan pandangan yang menganggap sebagai adik atau yang lain.

Aku juga tak ingin buang tenaga memaksakan jika di tak mau diajak berbicara daripada nanti malah jadi berantem lagi. Takutnya malah berefek lebih buruk. Maka dari itu aku berusaha melupakan agar tidak mengganggu konsentrasiku dalam bekerja. Meski sebenarnya rasa marah masih membara di dalam.

Saat ini aku hanya ingin fokus pada jobdeskku yang memulai babak baru. Para engineer mulai menentukan project apa yang ingin diterapkan untuk produk baru di sektor teknologi.

Yusuf mendapukku menjadi penanggung jawab proyek pengembangan smartphone baru. Sementara mendelegasikan Karna membawahi proyek program Cleaning System di samping pengembangan antivirus yang sudah berjalan.

Dalam proyek pengembangan ponsel pintar generasi selanjutnya dari Wiphone Ji, ada beberapa usulan. Namun yang paling menarik minatku adalah ide dari Yudi. Karena perilisan Wiphone Ji2 sudah dipastikan tanggalnya jadi dia memberi saran untuk membuat produk turunan ponsel pintar namun dengan sasaran berbeda. Dengan begitu orang-orang yang ditargetkan pasar, meskipun sudah memiliki produk terbaru kami, juga tergiur untuk membeli lagi.

Yusuf pun terlihat tertarik dengan suggest tersebut. Mungkin karena belum ada banyak pasar yang melirik ide ini. Atau setidaknya dari beberapa perusahaan saingan terbesar. Kami menilai produk ini akan sangat booming saat rilis nantinya.

Proyek ini termasuk top secret & hanya beberapa orang tertentu yang tahu. Bahkan sebagian besar eksekutif tidak tahu. Yusuf sendiri yang menyarankan kerahasiaan ini. Dia meminta untuk tidak menyalahkan apapun pada pihak humas sebelum teaser produk muncul.

Berkat itu masa-masa overtime ku jadi meningkat. Jam pulang kerja yang mengarah di angka 18.00 jadi mundur ke 21.00. Melelahkan, tapi kalau melihat antusiasme yang membakar orang-orang yang terlibat membuat rasa lelah itu datang larut & pergi sebelum fajar.

.

.

.

Acara amal yang dihelat di Gedung Pancasila yang sudah kutunggu lama akhirnya perlahan mendekat.

Mungkin bagi orang luar ini cuma pesta para pengusaha, artis & politikus berkumpul untuk bersenang-senang. Tapi di balik itu sebenarnya itu acara yang menjadi ajang memamerkan gengsi & kekayaan.

Kudengar dari Handa bahwa tahun lalu sesudah acara pesta diadakan Wismail Grup membuat deal kerja sama berskala besar dengan sejumlah nama besar di dunia wirausaha & pejabat. Jadi bagi aku & Irza yang datang menggantikan Djati ini punya beban sangat besar.

Ini kesempatan emas yang tak bisa disia-siakan selain untuk menghimpun kerja sama tapi juga pembuktian bahwa Wismail Grup tetap sekokoh sebelum berita merosotnya nilai pasar saham kami yang menghebohkan beberapa bulan silam.

"Saya cari parkir agak ke dalam. Kalian turun saja duluan"

Handa yang memegang kemudi mobil berbicara pada Irza di sebelahnya & aku yang berada di passenger seat belakang. Kami berdua mengiyakan usul tersebut & bersamaan turun dari mobil.

Gedung Pancasila yang terletak di jantung ibukota memang sering dipakai untuk acara mewah terutama jika yang mengadakan adalah pejabat negara. Para undangan pun memakai busana & berdandan habis-habisan layaknya sebuah acara penghargaan. Beberapa reporter untuk tabloid gosip & majalah fashion membuat cahaya blitz kamera yang berkelap-kelip tanpa henti pada setiap orang yang berada di atas karpet merah hendak memasuki gedung. Mirisnya padahal sebenarnya ini acara amal.

Handa sudah mewanti-wanti kami jika nanti wartawan memotretku & atau Irza kami harus menampakkan wajah sumringah tebar pesona. Agak susah juga untukku yang tidak biasa di depan kamera harus tersenyum yang bagaimana, terutama yang memotret jumlahnya puluhan sekaligus.

Haruskah aku senyum lebar? Atau lebih baik senyum seperlunya nampak natural? Yang mana pun itu kalau aku tak merasa yakin dengan raut wajahku pasti nanti terlihat palsu. Bayangan wajahku dengan cengiran jijay dicetak di sebuah majalah yang diterbitkan besok membuatku keringat dingin & geli.

Irza mungkin lebih terbiasa, terlihat wajahnya yang kemarin-kemarin menampakkan khusus padaku wajah cemberut, kini dia memakai senyum sopan rendah hati seolah sedang berhadapan dengan nenek tua. Kuputuskan untuk memakai ide 'senyum' yang seperti itu untuk kupakai juga. Setidaknya setelah melihat contohnya secara langsung, bisa aku tiru semirip mungkin.

Kami berjalan beriringan sambil tebar pesona kesana kemari hingga memasuki ruang acara utama yang sudah ramai dipenuhi orang-orang penting. Aku melihat beberapa pejabat, CEO grup besar, artis terkenal bahkan konglomerat yang aku tak yakin kekayaannya berasal dari mana yang pasti sering muncul di majalah karena skandal tertentu.

Di tempat yang dekat dengan hiasan lampu di bagian tengah ruangan aku menemukan Johanh yang dikelilingi oleh banyak orang, mayoritas dari mereka kaum hawa. Aku membaca wajah pria tersebut seperti sedang terjebak karena wanita-wanita yang mengitarinya kebanyakan berusia di atas 50 tahun, kebanyakan sudah janda & kebanyakan sedang mencari perhatian Johanh serta tidak segan untuk menunjukkannya.

Entah insting atau memang terasa sedang dilihat, mata Johanh & aku bertemu seketika pria itu membuat ekspresi seolah berkata 'help me'. Aku tersenyum lalu menunduk & memberi bahasa bibir 'goodluck' padanya yang langsung merubah wajah pria itu jadi pasrah terhadap nasibnya.

"Kika.." Irza yang tiba-tiba memanggilku membuatku agak terbelalak kaget karena tanpa antisipasi.

Tak kusangka dia mengajakku bicara duluan saat ini, setelah adegan bisunya sepanjang perjalanan dari rumah kemari.

"Ayo kita ke kiri, ada Pak Pamungkas. Aku mau menyalaminya."

Aku mengiyakan & Irza langsung mendatangi seorang pria yang kelihatannya lebih tua dari Djati, kemungkinan sekitar akhir 50an. Ia menggandeng seorang wanita yang seumuran Mila dengan gaun merah scarlet dipadu lipstik yang sama membaranya. Sasakan rambut yang ala Marilyn Monroe berhiaskan jepit beraksen emas yang mewah.

"Nak Irza, sudah lama nggak ketemu."

Pamungkas menyalami Irza dengan kedua tangannya yang keriput.

"Iya Pak Pam.. Bapak masih ingat juga kan dengan adik saya, Kika." Irza menjabat tangan orang tersebut sambil memperkenalkanku dengan orang yang kutahu belakangan pemilik saham di berbagai perusahaan besar di dalam & luar negri.

Pamungkas memandangku seolah sedang menganalisa. "Saya sudah tua, jelas nggak terlalu ingat. Tapi saya usahakan ingat terus deh." beliau tertawa lepas sambil mencium punggung tanganku alih-alih bersalaman seperti Irza.

Kami berusaha menertawakan leluconnya. Diam-diam aku melap bagian punggung tangan yang Kena kecup di bagian samping dress ku.

"Oh iya.. Ini teman saya Donna."

Pamungkas memperkenalkan wanita yang berada di sampingnya. Wanita tersebut menyunggingkan senyum bibir merahnya padaku & Irza, khusus untuk Irza dia memberi senyumnya jauh lebih lebar.

Irza bersama Pamungkas mengobrol berbasa-basi membahas hal-hal seperti kondisi Djati & Mila sesekali juga tercampur dengan curhatan Pamungkas tentang keluarganya. Pembicaraan berlanjut menjadi serius saat mereka mulai merambah tentang bisnis.

Kelihatannya Pamungkas ini adalah salah satu klien Djati yang cukup alot untuk mencapai kata deal. Mungkin karena sudah banyak makan asam garam dunia bisnis jadi dia memiliki idealisme tersendiri dalam menjalankan perusahaannya.

"... Ayah saya rencananya minggu depan akan ke tempat bapak untuk membicarakan perihal kerja sama bapak dengan PT Walbe." Ucap Irza sambil mengetuk ringan gelas berisi minuman yang dipegangnya.

PT Walbe adalah salah satu perusahaan Wismail Grup yang sudah berdiri 6 tahun. Perusahaan yang beroperasi di bidang pangan & kesehatan. Aku baru tahu kalau Pamungkas ini punya andil besar untuk bisnis ini.

Pamungkas tidak langsung menjawab. Wajahnya nampak seperti sedang kesulitan untuk mencari kata-kata yang pas untuk menjadi jawaban yang sekiranya memuaskan.

"Gimana ya nak Irza. Kemungkinan proyek saya dengan Walbe harus ditunda dulu."

Kata-kata kalem Pamungkas membuat petir menyambar di dadaku karena kecewa, Irza pun pasti juga merasakan hal yang sama tapi sebisa mungkin kami memasang wajah poker face seolah itu hal yang lumrah untuk didengar.

"Nggak sayang pak? Prospeknya sedang bagus-bagusnya lho. Apalagi tahun depan pemerintah akan melegalisasi UU yang akan memudahkan pemasarannya ke luar negri." Irza menjawab kalem masih dengan senyum sopannya.

"3 tahun lagi baru bisa." Pamungkas seolah memberi kalimat finalnya.

"Tahun ini saya sudah ada rencana lain dengan teman saya Donna." Pamungkas yang menyebut nama temannya malam ini membuat pandanganku & Irza berpindah pada wanita berbaju merah tersebut.

Donna yang mengambil gelas sampanye keduanya dari pelayan yang lewat membawa baki mengiyakan dengan percaya diri.

"Betul sekali. Pamungkas & saya ada proyek untuk pemasaran produk spa di 5 kota besar seluruh Indonesia. Perencanaannya sudah dimatangkan 3 bulan terakhir."

Aku melihat api harapan di mata Irza meredup seolah ada hal penting terlewat di hadapannya.

"Produk spa yang seperti apa?"

Aku ikut nimbrung secara tiba-tiba membuat pandangan 3 orang yang kuajak bicara memberikan pandangannya padaku.

"Kulitku gampang sekali kusam kalau sepulang kerja jadi aku sering memakai produk spa merk The Body Care yang konon katanya sering dipakai artis Hollywood."

Donna terlihat sedikit antusias padaku karena membicarakan tentang bidang keunggulannya.

"Produk spa keluaran saya nanti bertema buah & rempah eksotis yang belum pernah ada di pasaran. Kamu harus coba ya, dijamin pasti cocok buat semua perempuan Indonesia." katanya penuh percaya diri.

Pamungkas yang mendengarkan kami tertawa sambil menyenggol Irza. "Dasar perempuan. Bahasannya penampilan terus."

Hati Irza memang sedang agak drop tapi mau tak mau ia melayani gurauan bapak tua di dekatnya Dan menyunggingkan senyum setuju.

"Kalau memang eksotis kenapa nggak langsung dipasarkan di luar negri saja? Pasti rasa penasaran orang luar lebih tinggi daripada di pasar lokal."

Donna menepukku, "Aduh say. Menembus pasar luar negri itu sulit. Maunya yang lokal aja dulu, ntar sambil jalan kita baru merangkul yang di luar."

"Ah nggak terlalu sulit kok. Sekarang lagi trend memasarkan barang lewat video klip artis penyanyi terkenal." Pendapatku membuat rasa penasaran Donna meningkat meskipun masih pesimis dengan ideku.

"Kalau nggak salah, Johanh dari VOA grup saat ini sedang gencar mempromosikan artis-artisnya ke pasar Global Asia sekalian saja saat video music mereka dibuat diselipkan produk spanya Kakak Donna."

Kini Donna mulai semakin tertarik dengan arah pembicaraanku. "Eh, bisa begitu ya? Aku belum pernah kepikiran yang ke arah sana sih."

Mengetahui umpanku termakan aku tersenyum dari lubuk hatiku, "Bisa kok. April Lavin & Jennie Loves pernah melakukannya di beberapa video klip mereka. Kalau mau saya bisa mengenalkan Kak Donna dengan Johanh, kami sudah kenal lama. Tuh, mumpung orangnya lagi santai-santai."

Aku memberinya pancingan terakhir. Memberi arahan pada Donna ke daerah meja katering yang mana Ada Johanh sedang menikmati hidangan.

"Mas Pam, aku mau ke sana sebentar yah." Donna tak bisa menyembunyikan antusiasmenya, ia meminta izin pada Pamungkas yang memberinya jawaban dengan agak kebingungan bahkan tak mampu berkata-kata dengan jelas saat memperbolehkan Donna.

Pamungkas & Irza yang menyimak pembicaraan kami jelas bisa membaca kalau Donna bisa bekerja sama dengan Johanh artinya masih ada peluang yang terbuka lebar untuk kerja sama antara Pamungkas dengan kami. Karena jika ada kesepakatan antara VOA dengan Donna, akan ada kelonggaran konsentrasi & dana di pihak Pamungkas.

Aku memberikan kode pada Irza agar dia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini sambil berlalu mengantarkan Donna pada Johanh. Donna terus kuangkat harapannya supaya ketertarikannya terhadap prospek kerjasama dengan VOA sebesar yang ia bisa bayangkan. Sesekali Aku memuji betapa penerus VOA adalah orang yang karismatik & menyenangkan untuk menjadi kolega berbisnis maupun yang lain.

Johanh yang mengetahui kedatanganku dari keramaian menyapa riang & langsung pudar setelah tahu bahwa kedatanganku untuk membawakan seorang lagi wanita yang langsung terpikat dengan penampilan Johanh yang malam ini terlihat lebih tampan dari biasanya dengan setelan jas abu-abunya. Aku saling mengenalkan Donna, serta membahas perihal line bisnis Donna pada Johanh.

Meskipun awalnya Johanh menyambut lesu tapi mendengar ide-ide yang diutaran Donna membuat Johanh memiliki sedikit ketertarikan untuk membahasnya lebih lanjut. Merasa bahwa kedua orang ini bisa mengobrol tanpaku aku berpamit dengan alasan memastikan kondisi Irza. Kepergianku dari mereka diiringi wajah tak rela yang geregetan milik Johanh & terpaksa pura-pura aku tak melihatnya.

Aku kembali ke lokasi terakhir meninggalkan Irza & Pamungkas. Mereka masih saling bertukar kalimat. Melihat raut wajah Irza yang nampak lebih bersemangat, aku bisa menilai bahwa ia bisa menggunakan kesempatannya dengan baik. Aku berdiri di sebelah Irza dengan senyum kemenangan.

Irza yang menyadari kedatanganku memberikan senyum yang seakan sudah bertahun-tahun lamanya tidak ia tampakkan padaku.

"Jadi nanti kedatangan Papa saya minggu depan bisa dijadwalkan jam berapa, Pak?" Irza memastikan.

Pamungkas tertawa, "Tentu saja. Nampaknya adikmu yang cerdik ini sudah melepaskan ikanku ke kolam lain. Ya sudah, coba saya terima ikannya Wismail."

Perumpamaan tentang ikan ini memang nggak biasa tapi bisa dibaca dengan mudah olehku & Irza. Kami tersenyum dengan kondisi positif ini.

"Saya mau ngelihat si Donna dulu ya. Takut dia lupa kalau datangnya sama saya."

"Terima kasih atas kesempatannya Pak Pam." Irza memanggutkan kepala sopan pada Pamungkas yang hendak berpisah dari kami.

Pamungkas ikut memanggutkan kepalanya membalas anggukan Irza, "Wismail Grup tentu beruntung sekali punya putra pewaris yang pintar & bersemangat."

Kemudian ia berpindah memandangku dari dekat. "Juga memiliki putri yang tak cuma mempesona tapi juga witty. Saya suka sekali." sambil ia mengatakannya, tangannya menggapai bagian belakangku, meremasnya ringan lalu pergi menghilang dalam keramaian yang semakin penuh.

Kejadiannya begitu tiba-tiba, singkat, tersembunyi & tak terduga. Mungkin niatnya Pamungkas melakukan pelecehan barusan lolos dari pengawasan Irza. Tapi Irza menyadarinya, entah dia melihat secara jelas kelakuan Pamungkas atau membacanya dari raut wajahku yang semula tersenyum percaya diri menjadi kaku.

Wajah Irza mengeras dengan kepalan tangan yang tergenggam kuat, matanya tak beranjak dari Pamungkas yang baru saja berlalu dari kami. Bisa kudengar juga gemeretak gigi yang beradu di dalam bibirnya yang membentuk garis emosi yang nyata.

"Kalau kakak menghajar orang tua itu sekarang. Apa yang kita lakukan akan sia-sia. Begitu juga Beberapa visit yang dilakukan papa agar kerjasama PT Walbe berjalan." Suara yang kukeluarkan berada pada tone rendah. Agar cuma Irza yang mendengar.

Aku menghela nafas panjang lalu memberi senyum yang pasti terlihat dipaksakan, "Biarkan aja. Jangan dibikin urusan baru."

Irza hendak menyelaku tak setuju Tapi langsung kualihkan dengan kulanjutkan.

"Aku ingin cari angin dulu ya.."

Setelah mengatakannya aku langsung beranjak dari tempatku berdiri keluar dari ruang utama setengah berjalan cepat. Panggilan khawatir Irza yang tertutup riuhnya manusia tak kugubris.

Mengetahui Irza mengejar di belakangku sambil terus memanggilku, aku mempercepat langkahku. Mungkin karena tak tahu denah gedung dengan baik kelihatannya aku melangkah ke tempat yang semakin menjauhi area yang diperbolehkan dimasuki pengunjung.

Panggilan Irza yang kesekian ia lakukan sambil memegang tanganku yang berhasil ia raih. Berkat itu langkahku terhenti di suatu lokasi yang agak gelap & tersembunyi dari pengunjung maupun pelayan yang bertugas.

Meski tersembunyi tapi tidak pengap karena Ada ventilasi seperti jendela kecil tanpa kaca. Melalui ventilasi itu pula cahaya lampu outdoor menembus ke tempat kami.

Aku tak berani memandang terlalu lama ke arah Irza karena mataku yang mulai berair bisa tumpah kapan saja. Berusaha menahan air mata aku memandang ke langit di luar ventilasi sambil mengipasi wajahku dengan clutch yang kupegang di tanganku yang bebas.

"Kak.. Tanganku..."

Aku meminta untuk dilepaskan. Irza yang merasa sudah berhasil menghentikanku melepaskannya secara suka rela. Kakak tiriku itu memandangku dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Kika, kuatlah. Jangan menangis.."

Katanya seolah memberi nasehat sekaligus perintah. Mungkin Irza bingung harus berkata apa untuk menghiburku & cuma kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.

Mendengar itu kata pertama yang bisa dikeluarkannya aku malah tertawa miris sesaat dengan emosi yang lebih tersulut, "Seharusnya kakak nggak perlu khawatir.."

Kini aku memandang ke arah Irza lebih berani karena tahu ada yang ingin kukatakan.

"Kan di mata kakak aku udah tidur dengan banyak orang. Jadi sentuhan sedikit di bagian vitalku harusnya bukan masalah besar kan ya? " kugelontorkan segala keletihan perasaanku dengan intonasi sinis.

Merasa sudah salah memilih pembuka pembicaraan Irza menggeleng kecil salah tingkah.

"Bukan itu maksudku. Aku cuma ingin kamu terlihat tidak kalah di depan orang-orang yang ingin menyakitimu."

Irza berusaha menyampaikan maksud ucapannya. Tapi tetap saja tidak membuat perasaanku menjadi lebih baik.

"Tenang saja. Aku nggak akan menangis." aku mengeluarkan suara yang masih sama sinisnya seperti tadi.

"Aku juga nggak mau make up yang susah-susah kupakai jadi rusak. Mascara yang luntur lebih mengerikan dipandang dibandingkan kalau Kakak menghajar Pak Pamungkas di ruangan pesta." Aku berusaha melucu, sebuah dark joke lebih tepatnya.

Irza tidak menjadi lebih lega mendengarku bahkan melihat caraku mengungkapkannya dengan suara lebih tercekat ia nampak lebih khawatir. Ia terdiam sambil terus memandangku yang masih terus sibuk mengipasi wajahku yang kini matanya semakin berair tapi kutahan sekuat tenaga.

"Apalagi.. Kalau dibandingkan dengan yang Kakak lakukan waktu itu, ini nggak seberapa." Aku menambahkan dengan dingin semakin tak dapat mengendalikan emosiku yang terus merangkak naik.

Irza terlihat tak nyaman aku membahas tentang ciuman beberapa bulan lalu. Seolah itu adalah hal yang ingin dilupakannya.

"Kakak menyebutku perempuan matre kan? Tenang saja, sedikit sentuhan di bagian belakangku akan lebih berguna daripada kehilangan deal perusahaan & bisa-bisa aku hidup susah."

Muntahan emosi dalam kata-kataku semakin parah, bahkan dalam hati aku takut kalau nantinya akan mengatakan sesuatu yang akan kusesali di kemudian hari.

"Aku minta maaf.."

"Seharusnya aku tidak bersikap seperti itu. '

Irza memandangku penuh sesal.

"Aku yang salah."

Mata kami berpandangan dalam diam. Aku bisa melihat rasa bersalah yang murni di arahkan padaku. Mungkin mataku yang berkaca-kaca juga semakin memperbesar rasa penyesalan nya.

Beberapa saat berlalu untuk kami dalam posisi ini. Riuh rendah suara keramaian pesta terdengar sayup di telinga. Entah posisi kami sejauh apa dari aula utama.

"Kakak lihat sendiri tadi."

Aku memecah kediaman kami.

"Wanita bernama Donna bisa lebih unggul memenangkan tender Pak Pamungkas daripada Wismail Grup karena jadi gula-gulanya si Pamungkas."

"Jangan bilang kakak nggak merasakan situasi hubungan di antara mereka." Kulanjutkan masih dengan suara yang sekalem yang kubisa, mengeluarkan uneg-unegku secara tertata.

Mengingat lagi gestur-gestur tak tertulis yang diberikan Donna pada Pamungkas, terlalu naif kalau hanya sekedar teman biasa.

Irza untuk sesaat terdiam mencari kata-kata yang tepat untuk menanggapiku.

"Kurasa semuanya seperti itu." gumamnya.

Gumaman yang tak kupahami karena begitu singkat & perlu penjabaran lebih. Sebelum aku meminta penjelasan maksudnya Irza sudah membuka mulut duluan.

"Tidak cuma di dunia bisnis, di dunia entertainment, politik, bahkan pendidikan pasti ada saja orang-orang yang memakai cara yang tidak halal untuk mencapai tujuannya dengan gampang."

"Aku lah yang terlalu naif menilai hanya hitam & putih. Bahkan sempat menyamakanmu dengan orang-orang seperti itu. Padahal seharusnya aku salah satu yang paling tahu betapa lurusnya caramu hidup selama ini."

Wajah Irza yang terkena cahaya lampu luar memperdalam gurat emosinya.

"Waktu itu... Kenapa kakak menciumku?" Tanyaku dengan sedikit buang muka. Karena sedikit merasa malu membahasnya sehingga membuat wajahku terasa panas.

Irza yang masih tetap memandangku terus terang memberi jawaban.

"Malam itu dari jendela aku melihatmu turun dari mobil Johanh. Entah kenapa yang terpikirkan cuma hal-hal negatif."

"Aku nampaknya terlalu sembrono membayangkan kamu akan pergi meninggalkan keluarga Wismail yang sedang masa sulit, bagai kacang lupa kulitnya."

"Bayangan bahwa kamu lebih memilih lelaki lain karena harta daripada aku & Papa yang menyayangimu belasan tahun terakhir ini, membuatku naik pitam & tak bisa berpikir jernih.."

Aku meresapi tiap kata & kalimat yang diucapkan Irza. Rupanya memang cuma kesalahpahaman. Situasi genting yang menimpa Wismail Grup memberi tekanan batin & pikiran tak hanya pada Djati tapi juga seluruh anggota keluarga.

Namun dalam hati sebenarnya aku masih belum merasa itu alasan yang tepat untuknya menciumku malam itu. Aku teringat pembicaraanku dengan Hanna yang via sms waktu itu.

Kalau memang saat itu ia benar-benar membenciku kemungkinan ia bisa mengusirku atau memukulku. Tapi kalau dipikir-pikir lagi sepertinya tidak mungkin juga. Karena yang kutahu tidak pernah Irza berbuat kasar seperti melukai fisik pada wanita sekalipun ia marah besar.

Logikaku menyimpulkan bahwa ciuman itu terjadi karena Irza sedang emosi & begitulah cara yang sempat dia pikirkan untuk melukaiku.

"Ya sudah.." Ucapan Irza membuyarkan lamunanku yang sedang melogika hal-hal yang terjadi di antara kami.

"Aku akan kembali ke ruang utama. Mungkin kamu ingin menyusul Handa? Sudah dari tadi kita berpisah dengannya & tak ada kabar via telepon sama sekali."

Aku mengangguk menyetujui sarannya.

"Aku akan kembali ke ruang utama memberi salam pada beberapa rekan kerja penting papa. Kamu coba cari Handa di depan.." Irza melambai padaku seolah mengucakan 'sampai nanti'.

Kami berpisah di lokasi yang sama. Irza mengikuti jalan yang tadi laluinya saat mengejarku. Aku masih berdiri diam meresume kejadian barusan.

Meskipun awal tadi aku merasa sedih karena perlakuan Pamungkas yang tidak pantas, tapi aku merasa kejadian itu justru yang membuat Irza lebih memahami situasi yang sering kuhadapi, sehingga tensi di antara kami jadi lebih mereda, meskipun rasa memaafkan di hatiku masih ikhlas seutuhnya.

Memang ya, kejadian buruk selalu ada berkah tersendiri.

Terpopuler

Comments

just.Ryn

just.Ryn

pamungkas jadi pambudi?
atau ini nama aliasnya?

2020-05-13

1

lihat semua
Episodes
1 Prologue
2 Kika 1
3 Kika 2
4 Kika 3
5 Kika 4
6 Kika 5
7 Kika 6
8 Kika 7
9 Kika 8
10 Kika 9
11 Kika 10
12 Kika 11
13 Kika 12
14 Kika 13
15 Kika 14
16 Kika 15
17 Kika 16
18 Kika 17
19 Kika 18
20 Kika 19
21 Kika 20
22 Kika 21
23 Kika 22
24 Kika 23
25 Kika 24
26 Kika 25
27 Kika 26
28 Kika 27
29 Irza 1
30 Kika 28
31 Kika 29
32 Kika 30
33 Kika 31
34 Kika 32
35 Handa 1
36 Johanh 1
37 Kika 33
38 Kika 34
39 Handa 2
40 Handa 3
41 Handa 4
42 Handa 5
43 Handa 6
44 Johanh 2
45 Handa 7
46 Kika 35
47 Irza 2
48 Irza 3
49 Irza 4
50 Irza 5
51 Irza 6
52 Irza 7
53 Irza 8
54 Visual of Characters
55 Irza 9
56 Kika 36
57 Kika 37
58 Handa 8
59 Johanh 3
60 Johanh 4
61 Kika 38
62 Kika 39
63 Kika 40
64 Kika 41
65 Kika 42
66 Kika 43
67 Kika 44
68 Handa 9
69 Kika 45
70 Kika 46
71 Kika 47
72 Kika 48
73 Kika 49
74 Kika 50
75 Irza 10
76 Irza 11
77 Handa 10
78 Handa 11
79 Kika 51
80 Irza 12
81 Handa 12
82 Irza 13
83 Irza 14
84 Kika 52
85 Kika 53
86 Kika 54
87 Kika 55
88 Kika 56
89 Irza 15
90 Johanh 5
91 Johanh 6
92 Johanh 7
93 Johanh 8
94 Visual of Character 2
95 Kika 57
96 Kika 58
97 Irza 16
98 Irza 17
99 Irza 18
100 Johanh 9
101 Kika 59
102 Kika 60
103 Kika 61
104 Kika 62
105 Johanh 10
106 Johanh 11
107 Johanh 12
108 Kika 63
109 Kika 64
110 Kika 65
111 Kika 66
112 Johanh 13
113 Johanh 14
114 Kika 67
115 Irza 19
116 Irza 20
117 Irza 21
118 Irza 22
119 Irza 23
120 Johanh 15
121 Handa 13
122 Irza 24
123 Kika 68
124 Kika 69
125 Johanh 16
126 Kika 70
127 Johanh 17
128 Johanh 18
129 Johanh 19
130 Kika 71
131 Kika 72
132 Irza 25
133 Irza 26
134 Irza 27
135 Irza 28
136 Irza 29
137 Irza 30
138 Irza 31
139 Irza 32
140 Johanh 20
141 Kika 73
142 Kika 74
143 Kika 75
144 VISUAL TIME AGAIN
145 Handa 14
146 Handa 15
147 Episode Gabut
148 Irza 33
149 Julia 1
150 Julia 2
151 Julia 3
152 Irza 34
153 Irza 35
154 Irza 36
155 Julia 4
156 Julia 5
157 Julia 6
158 Julia 7
159 Pengumuman
160 Kika 76
161 Kika 77
162 Kika 78
163 Kika 79
164 Kika 80
165 Became a Lady
166 End of The End
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Prologue
2
Kika 1
3
Kika 2
4
Kika 3
5
Kika 4
6
Kika 5
7
Kika 6
8
Kika 7
9
Kika 8
10
Kika 9
11
Kika 10
12
Kika 11
13
Kika 12
14
Kika 13
15
Kika 14
16
Kika 15
17
Kika 16
18
Kika 17
19
Kika 18
20
Kika 19
21
Kika 20
22
Kika 21
23
Kika 22
24
Kika 23
25
Kika 24
26
Kika 25
27
Kika 26
28
Kika 27
29
Irza 1
30
Kika 28
31
Kika 29
32
Kika 30
33
Kika 31
34
Kika 32
35
Handa 1
36
Johanh 1
37
Kika 33
38
Kika 34
39
Handa 2
40
Handa 3
41
Handa 4
42
Handa 5
43
Handa 6
44
Johanh 2
45
Handa 7
46
Kika 35
47
Irza 2
48
Irza 3
49
Irza 4
50
Irza 5
51
Irza 6
52
Irza 7
53
Irza 8
54
Visual of Characters
55
Irza 9
56
Kika 36
57
Kika 37
58
Handa 8
59
Johanh 3
60
Johanh 4
61
Kika 38
62
Kika 39
63
Kika 40
64
Kika 41
65
Kika 42
66
Kika 43
67
Kika 44
68
Handa 9
69
Kika 45
70
Kika 46
71
Kika 47
72
Kika 48
73
Kika 49
74
Kika 50
75
Irza 10
76
Irza 11
77
Handa 10
78
Handa 11
79
Kika 51
80
Irza 12
81
Handa 12
82
Irza 13
83
Irza 14
84
Kika 52
85
Kika 53
86
Kika 54
87
Kika 55
88
Kika 56
89
Irza 15
90
Johanh 5
91
Johanh 6
92
Johanh 7
93
Johanh 8
94
Visual of Character 2
95
Kika 57
96
Kika 58
97
Irza 16
98
Irza 17
99
Irza 18
100
Johanh 9
101
Kika 59
102
Kika 60
103
Kika 61
104
Kika 62
105
Johanh 10
106
Johanh 11
107
Johanh 12
108
Kika 63
109
Kika 64
110
Kika 65
111
Kika 66
112
Johanh 13
113
Johanh 14
114
Kika 67
115
Irza 19
116
Irza 20
117
Irza 21
118
Irza 22
119
Irza 23
120
Johanh 15
121
Handa 13
122
Irza 24
123
Kika 68
124
Kika 69
125
Johanh 16
126
Kika 70
127
Johanh 17
128
Johanh 18
129
Johanh 19
130
Kika 71
131
Kika 72
132
Irza 25
133
Irza 26
134
Irza 27
135
Irza 28
136
Irza 29
137
Irza 30
138
Irza 31
139
Irza 32
140
Johanh 20
141
Kika 73
142
Kika 74
143
Kika 75
144
VISUAL TIME AGAIN
145
Handa 14
146
Handa 15
147
Episode Gabut
148
Irza 33
149
Julia 1
150
Julia 2
151
Julia 3
152
Irza 34
153
Irza 35
154
Irza 36
155
Julia 4
156
Julia 5
157
Julia 6
158
Julia 7
159
Pengumuman
160
Kika 76
161
Kika 77
162
Kika 78
163
Kika 79
164
Kika 80
165
Became a Lady
166
End of The End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!