Pagi datang dengan cepat membuka hari yang baru seolah kejadian yang terjadi kemarin hanya sebuah mimpi yang membingungkan. Mungkin karena kejadian semalam aku tertidur tapi dengan seluruh indraku terkondisi waspada. Tak heran ketika ketukan pertama Lilia mengusik pintuku di awal subuh aku terbangun seolah sudah daritadi terjaga.
Lilia membawakanku tas kerjaku & memberi tahu bahwa pukul 06.30 Djati ingin kami semua sarapan bersama di meja makan keluarga. Bisa kupahami keinginan tersebut karena sudah lama sekali keluarga Wismail tidak selengkap ini.
Djati sudah berhari-hari dinas ke luar kota & Irza yang merantau ke luar negri pagi ini berada di rumah utama Wismail, tidak tahu apakah keesokan harinya mereka harus menjalani kerja dinas luar kota & mengulang berkumpulnya keluarga kecil ini. Meskipun enggan tapi aku mengiyakan karena tak ingin membuat Djati & Mila khawatir.
Aku langsung mempersiapkan diri ke kamar mandi. Baju yang kukenakan hari ini kucari yang paling conservative, seperti kemeja lengan 3/4 yang masih diampuni oleh Mila & rok coklat yang sedikit di atas lutut. Agar makin terlihat tertutup aku sengaja memakai stocking hitam yang tebal. Entah kenapa aku merasa busana yang kukenakan hari ini seperti khusus untuk menampik tuduhan Irza, bahwa 'aku pamer bodi' di kantor.
Tapi yang paling penting aku harus mempersiapkan mental & perasaanku untuk ‘pertempuran’ hari ini. Salah satunya menghadapi Irza.
Sengaja aku mengulur waktu dengan memperlama berdanan agar bisa dengan tepat pada jam yang ditentukan aku baru muncul di meja sarapan. Meskipun yang kulakukan cuma bersisir, memakai toned moisturizer, mineral powder, brown eyeliner & orange toned liptint yang bisa dilakukan total cuma butuh waktu 10 menit tapi aktifitas itu kulakukan se-slow mungkin untuk menghabiskan waktuku di kamar.
Baru ketika jam menunjukkan 06.25 aku keluar dari kamar menuju ruang makan yang dijanjikan.
Saat meja sarapan yang menjadi tujuanku terlihat, di sana sudah ada Djati beserta ibuku yang sudah duduk & mulai mengoles mentega di potongan roti pertama mereka. Irza yang sudah duduk di kursinya. Serta Handa yang sedang berjalan menuju kursi yang disiapkan untuknya.
Ketika memandangku Djati tersenyum lebar, seolah salah satu keinginannya yang sudah lama ia inginkan terkabul detik ini.
Aku menempati kursi sarapan yang selama 9 tahun ini memang jadi singgasana khusus milikku di ruang ini. Aku tersenyum menyeluruh global & mulai mengambil roti tawar di depanku.
“Handa, nggak perlu sungkan. Kamu sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Ayo, duduk juga!” Djati mengeluarkan suaranya ketika melihat Handa yang meskipun sudah mendekat dengan kursinya tapi belum duduk.
Handa memasang wajah campuran antara sungkan & dilema, ia memandang ke semua anggota sarapan bergantian. “Tapi sebelumnya, belum lama ini saya yang bertugas mengatur sarapan untuk keluarga ini. Saat ini juga saya masih bekerja di bawah anda, jadi status saya…”
“Halah.. Jangan mikirin status segitunya lah. Sebenarnya dulu waktu kamu masih jadi butler boleh juga kok makan satu meja di sini, tapi pasti nggak praktis karena harus bolak-balik ke dapur jadi nggak dilakukan. Apalagi sekarang kamu sudah nggak bekerja di rumah ini. Anggap saja dirimu seperti tamu kami.”
Djati memberi sedikit paksaan ke Handa yang sering merasa sungkan pada kami. Handa yang merasa tak punya kata untuk membantah omongan Djati langsung duduk di kursinya & mulai melakukan aktifitas seperti yang kami lakukan saat ini.
“Papa hari ini dinas ke luar lagi?”
Irza kini membuka suara, mengajak bicara Djati.
“Hari ini Papa masih pulang ke rumah, tapi mungkin larut banget. Baru ada jadwal dinas ke luar pulau besok lusa.”
Djati menjelaskan sambil menggigit roti yang dioles keju.
“Untuk ke depannya, Irza, kamu dampingi Papa dinas sekalian Papa kenalin kamu ke rekanan bisnis yang bakal Papa temui saat dinas.”
Irza menganggukan omongan Djati seolah sudah menduga akan diberi titah seperti itu. Djati melirik Handa & memberikan kode tangan yang langsung dipahami oleh sekertarisnya.
“Nanti di kantor akan saya kirim via emailnya Irza jadwal dinasnya Pak Djati untuk 6 bulan ke depan.”
Handa memberi kepastian. Entah Handa yang hebat atau memang teamwork keduanya yang sangat solid sehingga bisa membaca kode abstraknya Djati, kelihatannya itu hanya Tuhan yang tahu..
“Jadi papa didampingi Irza & Handa saat dinas?” Kini aku menyumbang suara. Aku tak ingin dikhawatirkan Mila & Djati kalau kalau berlama-lama tutup mulut.
Djati menggeleng kecil, “Papa berdua sama Irza saja. Handa nanti mendampingi kamu, Ka. Karena mulai bulan depan kamu harus ke departemen engineering sektor bisnis yang lainnya di luar Wiphone.”
Rasa degub di dadaku merambah naik kalau memikirkan tanggung jawabku perlahan-lahan semakin bertambah. Aku melirik Handa yang juga sedang memandangku dengan senyum sopan, ia memberi anggukan kecil.
“Irza kemarin datang jam berapa ke rumah? Kok Mama nggak tahu?”
Mila menegur Irza. Yang ditanyai diam saja.
“Irza?”
Mila memanggil sekali lagi, berpikir bahwa mungkin suaranya terlalu pelan jadi kurang didengar Irza.
Irza meletakkan garpunya ke meja setengah dipukulkan, membuat suara debum serta denting yang menonjol di tengah-tengah suara orang makan, membuat kami terkejut.
“Aku sudah dewasa. Sudah nggak jamannya apa-apa harus laporan.”
Setelah melakukan suatu kekerasan terhadap sebuah garpu, Irza meminum jus apel yang digenggamnya lalu berdiri dari kursinya & berlalu begitu saja sambil memberi alasan klasik mengambil sesuatu di kamarnya.
Insiden kecil ini membuat kami terdiam oleh mood yang awalnya berseri jadi muram. Aku melihat di sudut mataku Djati menggenggam tangan Mila untuk menenangkannya.
Sudah sejak lama Irza dengan terang-terangan menunjukkan bahwa dia kurang suka terhadap Mila baik sebagai ibu baru ataupun secara personal. Djati yang sudah berkali-kali menasehati Irza tak bisa berbuat apa-apa dengan kerasnya pendirian putranya itu.
Meski begitu saat aku baru menjadi adik baru bagi Irza, dia memperlakukanku dengan sebaik-baiknya. Irza di mataku saat aku berusia 12 tahun adalah kakak laki-laki yang bossy tapi protektif terhadap adiknya. Masa-masa yang berbeda jauh dengan kondisi sekarang.
Sarapan berakhir dengan kami berempat serentak bangkit dari kursi masing-masing. Rencananya aku, Handa, Djati & Irza akan berangkat ke kantor satu mobil APV. Aku & Handa memasuki mobil duluan untuk menunggu kedatangan Djati yang menyiapkan tas kerjanya di kamar & Irza.
Aku duduk di mobil di kursi belakang, sementara Handa di kursi tengah. Posisi Ini sengaja seperti ini untuk memudahkan komunikasi Handa dengan Djati yang akan duduk di sisi Handa. Sementara Irza akan duduk di sebelah driver.
Teringat sesuatu aku berbicara pada Handa, “Oh ya.. Handa terima kasih ya sudah menemukan tasku.” aku memajukan badanku ke arahnya.
“Tidak apa-apa. Cuma kebetulan saya memungut tas Nona yang jatuh saat bertabrakan dengan saya di lorong.” Handa tersenyum ramah.
Aku mengingat-ingat, “Di lorong? Kapan?”
“Kemarin malam kita bertabrakan tapi Nona langsung pergi ke kamar.”
Penjelasan Handa langsung membuatku teringat bahwa memang Ada orang yang kutabrak pasca kejadian dengan Irza. Aku langsung meminta maaf padanya.
“Waktu itu aku nggak sempat minta maaf langsung. Soalnya… itu..”
Kata-kataku tercekat antara teringat alasanku menangis kemarin & hal tersebut tentu tak mungkin kuceritakan pada Handa, lalu haruskah aku membuat alasan bohong?
“Jangan khawatir..”
Handa bersuara lebih dulu sebelum aku melengkapi alasanku.
“Kadang-kadang di kantor memang ada hal-hal yang menyebalkan yang bikin kita senewen. Memang ada kalanya kalau sedang moody kita ingin menyendiri.”
Pemakluman Handa membuatku lega karena bisa mengakhiri permintaan maafku tanpa harus mengalami sesi curhat dadakan atau berbohong.
Sejak dulu bahkan ketika dia menjadi butler kami, Handa memang bisa diandalkan. Dia cerdas & pandai membaca situasi.
Ada kalanya ketika Djati & Mila kadang berselisih paham, namanya juga kehidupan suami & istri, Handa dengan sigap mengajakku & Irza ke tempat lain sehingga kami tak perlu menyaksikan atau terlibat pertengkaran mereka.
Setelah loading agak lama aku baru menyadari ada satu hal yang terlupa, “..dan maaf juga karena lupa memanggil pakai tambahan 'tuan', Tuan Handa..” aku tersenyum lebar. Handa pasti sengaja tak mengingatkan.
Wajah Handa mengkerut, “Saya kira Nona, sudah selesai bermain-main panggil Tuan-nya ke saya.” Dia membetulkan kacamatanya ke atas.
“Ini memang bukan main-main.”
Aku memberi ketegasan tanpa mengubah ekspresiku.
“Aku bukan lagi 'Nona'-mu. Aku bukan lagi Nona kecil yang dulu masih naif & harus diperlakukan dengan berbeda.”
Handa tak langsung menanggapinya lalu dia menahan tawa.
“Kelihatannya Nona salah paham. Saya memanggil anda ‘Nona’ bukan bermaksud seperti itu.” Dia memandangku hangat.
“Saya yang sudah mengabdi menjadi butler sangat tahu betapa Nona sudah tumbuh menjadi wanita yang mandiri & mengagumkan.”
Aku sedikit malu karena merasa dipuji tapi sengaja tidak kuperlihatkan di mukaku.
“Lalu? Kenapa masih panggil aku ‘Nona’? Padahal kalau panggil Kak Irza nggak pakai imbuhan ‘Tuan’? Ke Papa juga imbuhannya ‘Pak’ bukan ‘Tuan’?!”
Aku mengeluarkan kalimat andalan, yang daritadi kupendam sejak sarapan.
Merasa kena skakmat wajah Handa tak berekspresi, cara khasnya dia untuk menyembunyikan kebingungannya.
“Yah.. Karena sudah terlalu terbiasa saja.. ”
"Ibaratnya seperti ketika memelihara anak kucing Maine Coon yang baru lahir. Lalu memanggilnya dengan sebutan 'si mungil'. Meskipun bertahun-tahun berlalu & kucing tersebut tumbuh lebih dari 1 meter, akan tetap dipanggil 'si mungil' kan?"
Handa mencari perumpamaan.
"Jadi Aku disamakan dengan kucing?" Perumpamaan Handa membuka celah baru untukku protes.
Pria berkacamata itu agak panik, "Bukan begitu. Saya cuma menggambarkan situasi saja. Semoga Nona nggak salah menangkap maksud saya. "
Handa berusaha tersenyum formal untuk menyudahi pertikaian yang nggak jelas ujungnya ini.
“Yaaa.. Kalau begitu ya aku bakal tetap panggil Tuan buatmu.”
Aku membalas dengan senyuman yang kubuat semirip mungkin dengan Handa, bernuansa penuh misteri & percaya diri. Entah kenapa jadi ajang saling cangar-cengir antar kami.
Pertarungan psikologis via cengiran kami berakhir saat Djati & Irza memasuki mobil. Kami pun melaju menuju kantor pusat Wismail Grup bersama-sama.
Dari jendela mobil aku bisa melihat Mila yang berdiri di ambang pintu melambai dengan semangat, mungkin di sisi kecil perasaannya memang masih ada rasa tak nyaman dengan perlakuan Irza yang tak menyukainya tapi mengingat sifat dasar Mila yang optimis dia mengantar kepergian kami dengan senyum yang lembut. Aku melambai balik padanya.
Di mobil Handa & Djati menghabiskan waktu membicarakan pekerjaan karena setelah hari ini mereka akan berganti pasangan kerja. Sesekali Irza juga diikutkan dalam pembicaraan mereka karena melibatkan dia yang sedikit banyak menggantikan kerja Handa sebagai support CEO Wismail Grup.
Aku merasa sedikit terasingkan karena tak bisa membaur dengan dialog mereka & memainkan hape untuk membunuh waktu. Ada sebuah message masuk ketika aku menyalakan layarnya & mataku sedikit melebar saat melihat nama Johanh tertera sebagai pengirimnya. Tanpa pikir panjang aku langsung membaca isinya.
‘Hari ini aku ada meeting lagi di kantormu. Kalau bisa aku ingin bicara 4 mata sepulang kerja besok.’
Selesai membaca aku langsung menutupnya tanpa niatan untuk membalas pesan tersebut. Bisa jadi dikarenakan masih sakit hati dengan perlakuannya tadi malam atau memang sedang malas berurusan dengan orang lain sebelum presentasi besarku dalam rapat pagi ini.
Yap, pagi hari ini aku akan memberi presentasi di hadapan para eksekutif. Yusuf yang tidak bisa hadir di lokasi terpaksa mengikuti jalannya presentasi via teleconference.
Sesampainya di kantor aku tak membuang waktuku & segera mempersiapkan materi untuk presentasi di ruang rapat CEO. Aku perlu mengaktifkan koneksi internet yang perlu waktu untuk processing agar Yusuf tidak ketinggalan di bagian awal rapat.
File power point untuk presentasi yang kugunakan sebagai visual sudah kucek lagi kalau-kalau ada materi yang terlewatkan. Handout yang berisi materi presentasi kutaruh rapi sesuai jumlah peserta hari ini setelah kusiapkan sejak kemarin, bahkan kutambahkan 1 copy lagi karena ada peserta rapat baru yaitu Irza sebagai wakil CEO yang turut serta mengikuti Djati menghadiri presentasiku.
Rapat yang akan dimulai pukul 09.00 membuat perutku sedikit melilit saking gugupnya. Djati, Irza & Handa yang terlebih dulu memasuki ruang rapat.
Djati memberikan kata-kata penyemangat buatku yang malah membuat perutku makin mulas. Irza duduk diam sambil membolak-balik handout dariku membacanya serius. Perlahan-lahan jam mendekati waktu yang ditentukan untuk memulai presentasiku, semakin banyak pula para eksekutif yang menempati posisinya & mulai membuka handout yang telah kusiapkan bagi tiap anggota rapat.
Beberapa dari mereka ekspresinya berubah serius & mulai berdiskusi dengan rekan di sebelahnya. Yusuf yang on air cuma kelihatan kepala sampai bahunya juga sudah siap untuk memulai presentasiku.
Djati membuat sebuah kalinya pembuka yang sedikit dikeraskan dengan ritme agak lambat untuk meminta atensi para peserta di ruangan.
“Hari ini anda semua berkumpul untuk mendapatkan informasi penting yang melibatkan beberapa perubahan pada regulasi internal. Saya persilakan Kika untuk menjelaskannya.”
Pembukaan yang dilakukan Djati singkat & langsung to the point. Aku memposisikan diri sikap terbaikku setelah mendapatkan tatapan dari semua manusia di ruangan ini.
“Langsung saja, akan ada beberapa peraturan yang akan saya aplikasikan di departemen Engineering Wiphone. Saya membuat aturan baru untuk legalisasi menyertakan hak paten atas nama personal.”
Penjelasanku menimbulkan kegaduhan antar eksekutif yang raut wajahnya berubah merasa bimbang. Lubi yang pertama bertanya dengan nada yang tingginya di atas rata-rata.
“Nak Kika, memangnya kenapa dengan sistem yang lama?! Hak paten yang selama ini dipegang sepenuhnya oleh Wismail Grup tidak pernah ada masalah apa-apa kan?”
“Saya tahu Pak Lubi. Tapi saat ini perubahan seperti ini diperlukan jika Wismail Grup ingin secepatnya pulih.”
Aku berusaha menjawab keraguan Lubi yang nampaknya masih punya banyak kalimat untuk menghujamku.
“Tapi dengan sistem yang kamu ajukan, profitnya buat perusahaan akan berkurang drastis & akan sangat merepotkan kalau di belakangnya kita akan terbelit permasalahan hak paten dengan para engineer."
Yah, pendapatnya memang concern yang utama. Aku bersyukur meskipun Lubi adalah seseorang yang sok & resek tapi pendapatnya kali ini ada besarnya.
"Gimana kalau engineer yang bersangkutan resign memangnya buat apa kita bayar orang yang kerja di perusahaan saingan? Gimana kalu mereka menjual hak paten mereka ke saingan kita?”
Lubi melanjutkan masih dengan gayanya yang didramatisir, pake mukul-mukul handout yang dipegangnya.
“Hal itu sudah saya bicarakan dengan Pap- maksud saya, Pak Djati. Setelah melalui konsultasi dengan firma hukum kepercayaan perusahaan perkara itu bisa diatasi jika sudah ada perjanjian yang jelas di atas kertas.”
Aku melirik Djati yang senyam-senyum saja duduk di kursinya memperhatikanku.
“Di handout yang saya siapkan sudah saya lampirkan contoh isi kontrak yang saya maksud, anda sekalian bisa membaca dengan detil di sana.”
Memang perkara kepemilikan hak paten sering memicu perdebatan antara engineer sebagai peneliti & company karena sama-sama merasa yang punya andil paling besar dalam terciptanya suatu mahakarya.
Di satu sisi para engineer yang merasa memeras otak & keringat untuk men-discovery melalui percobaan tak terhitung, serta pengorbanan waktu & tenaga.
Di sisi lain company, yang mempekerjakan para engineer, juga merasa punya andil sama besar karena memberi investasi modal besar untuk segala kebutuhan percobaan, tenaga, material & ilmu yang sukar didapat. Company merasa bahwa berkatnya lah para engineer ini bisa berkumpul & menciptakan mahakarya dengan alat-alat canggih modern yang tinggal mereka pakai dengan leluasa.
“Ada dua alasan mengapa saya mengajukan aturan ini : Yang pertama adalah banyaknya engineer yang resign di Wismail Grup. Memang secara rata-rata persentase turnover karyawan kita masih aman untuk ukuran HRD. Tapi harus diingat bahwa engineering & buruh itu berbeda. Masa pelatihan engineer baru untuk bisa jadi sehandal engineer berpengalaman butuh waktu jauh lebih lama & tentunya lebih mahal. Jadi saya rasa tidak fair kalau turnover engineer & buruh disamakan. Ada perbedaan cost besar tak tercatat yang tak bisa diabaikan.”
Penjelasanku mulai menapaki inti dari meeting hari ini. Mayoritas eksekutif yang hadir roman wajahnya berubah menjadi paham & tidak mengalihkan tatapan seriusnya padaku.
“..Kemudian alasan yang kedua adalah karena tugas beberapa engineer terlalu monoton, itu-itu saja, mayoritas pekerjaan bersifat individualis. Tak heran mereka jenuh. Padahal saya lihat di lapangan, lebih tepatnya di Wiphone section, banyak engineer kita yang punya ide-ide cemerlang tanpa sarana untuk disalurkan. Saya harapkan dengan metode baru usulan saya ini bisa menjadikan mereka aset kita yang awet & dengan etos kerja yang lebih baik.”
aku memberi jeda sebentar untuk memandang tiap peserta meeting satu per satu.
Latifa mengangkat tangannya.
“Untuk metode baru ini apakah akan diberlakukan dalam jangka waktu tertentu atau selamanya?”
Dilihat dari pertanyaannya kelihatannya Latifa ada sisi positif terhadap usulanku, beda dengan Lubi di awal tadi yang langsung sewot, meski masih terlihat tak puas.
Yusuf yang melalui koneksi internet yang membantuku menjawab.
“Hal itu tergantung situasi, Bu Latifa. Setelah metode ini diberlakukan akan kita measure apakah sisi kelebihannya jauh lebih baik daripada kekurangannya. Untuk awalan saya terapkan di engineeringnya Wiphone dulu, dengan jangka waktu 3 tahun. Nanti kalau sudah ada hasilnya. Akan ada pertimbangan untuk diaplikasikan ke engineering sektor lainnya yang sekiranya membutuhkan perubahan ini. Tapi kalau memang kurang bagus ya akan dihentikan.”
Jawaban lugas & meyakinkan dari eksekutif departemen engineering memuaskan Latifah. Wanita tersebut mengangguk padaku tanda pemahaman sekaligus persetujuan.
Aku melirik ke segala arah, “Ada lagi yang mau ditanyakan?”
“Kika..” Irza memanggil.
“Metodemu ini apakah hanya diaplikasikan pada engineer tertentu, seperti R&D yang memang tugasnya berinovasi, atau gimana ?”
“Semuanya. Lebih tepatnya karena di sektor Wiphone jenis engineer cuma terbagi 2, R&D & general, jadi bisa dikatakan semua engineer akan mendapatkan kesempatan yang sama.”
Aku sedikit terkejut Irza menanyaiku, tapi ini kesempatan bagus untuk menunjukkan keseriusanku di Wismail Grup.
“General engineer masih akan punya jobdesknya yang lama, tapi mereka akan punya project bersama tiap 6 bulan untuk 1 periode. Nanti dari situ akan dipertimbangan lagi apakah periodenya akan diperlama jadi annualy atau memungkinkan untuk diperpendek.”
Kini Badjabir yang berada di sektor HRD mengacungkan tangan & langsung bertanya.
“Berarti akan ada kemungkinan overtime dalam jumlah besar di general engineering Wiphone?”
“Itu pasti pak. Kami menentukan periodenya berdasarkan studi time table yang saya lakukan dengan beberapa general engineer sebagai sample, kemungkinan per minggu akan ada overtime tiap orangnya 10 jam. Saya rasa baik dari segi budget & kondisi engineer masih dalam taraf wajar.” jelasku.
“Baiklah.. Saya cuma nanya aja.” Badjabir berkomentar.
“Supaya nanti saya nggak kaget waktu lihat di laporan overtimenya engineer Wiphone meningkat pesat.”
Beliau tertawa renyah & menimbulkan ulas senyum pada beberapa peserta yang lain.
Sahab selaku eksekutif produksi kini mengajukan pertanyaannya.
“Kapan metode ini akan disosialisasikan ke bawah?” Yang dimaksud ‘bawah’ ini tentunya para karyawan.
Yusuf yang menjawab pertanyaan tersebut, “Estimasinya 3-4 minggu lagi, Pak. Nunggu saya pulang dulu biar enak ngomongnya ke anak-anak.” Yusuf biasa memanggil para engineer yang dia tangani dengan sebutan ‘anak-anak’.
“Sekalian supaya Kika, yang akan jadi penanggung jawab project, punya waktu lebih untuk mematangkan planningnya juga. Yah, supaya alur pembimbinganya lebih lancar gitu. Ini kan metode baru pasti banyak yang perlu dibenahi biar lebih efektif.”
Banyak kulihat kepala yang manggut-manggut paham. Bahkan Lubi yang tadi seperti menentang keras terlihat tidak berniat bertanya lebih lanjut.
“Oke! Masih ada yang mau tanya-tanya? Nggak ada kan? ” Djati bangkit dari kursinya & menuju ke arahku.
Tak ada suara siapa pun menanggapi Djati, karena memang tak ada yang mau tanya sekaligus paham bahwa Djati hendak mengatakan kalimat penutupan.
“Yah kalau ada pertanyaan yang ketinggalan tinggal tanya aja ke Kika. Meeting pagi ini kita anggap selesai. Terima kasih atas kedatangannya.”
Penutupan Djati langsung disambut suara orang bangun dari duduknya seperti bioskop saat filmnya selesai. Yusuf yang tersambung di internet langsung menon-aktifkan koneksinya, meninggalkan layar laptop hitam legam. Irza keluar ruangan mengikuti para eksekutif yang lainnya. Handa tidak segera meninggalkan ruangan, dia tetap duduk untuk menunggu Djati yang ingin mengatakan sesuatu padaku.
Djati yang berada di sampingku menepuk bahuku dengan senyum mengembang tanpa henti. “Gimana rasanya presentasi pertamamu?”
Aku menghela nafas panjang lega sepenuh jiwa, setelah memahami presentasiku berakhir cukup memuaskan, “Rasanya mules terus, Pa. Untuk aja ditemenin Papa & Pak Yusuf.”
Djati tertawa dalam satu nafas sambil menepuk-nepuk punggungku. "Ini baru permulaan lho. Tanggung jawab kamu masih akan bertumbuh sebanyak kemampuanmu."
Beliau mengajakku ke ruangannya, karena ada hal yang mau dirundingkan denganku, Handa & Irza. Setelah membereskan beberapa peralatan yang kugunakan untuk presentasi tadi, aku mengikuti langkah Djati & diiringi oleh Handa menuju ruang kerja CEO.
Ketika kami memasuki ruang tersebut, Irza yang sudah berada di dalamnya nampak sedang berkomunikasi via telephone. Tak lama setelah Djati meletakkan beberapa barang yang di bawanya ke meja kerjanya yang terbuat dari kayu Jati ia menutup telephone langsung berbicara pada Djati,
“Pa, tadi sekertaris VOA menghubungi. Katanya meeting dengan Johanh agak mundur jadi jam 14.00.”
Djati mengangguk lalu beliau mengajak kami untuk duduk di sofa tamu. “Saya kumpulkan kalian kemari untuk membicarakan perihal yang kita bahas waktu sarapan tadi.”
Aku yang duduk mengapit Djati bersama Irza menyimak hal yang akan diintruksikan oleh atasanku.
“Kan mulai besok Papa & Irza akan lebih sibuk di luar kantor. Nanti Kika ditemani sama Handa. Karena nanti Kika akan ada jadwal dinas luar juga menemui beberapa klien.”
Aku merasakan ada beban tambahan untuk jadi tanggung jawabku membuat perutku yang mulesnya sempat hilang jadi mulai muncul.
“Tapi aku kayaknya lebih percaya diri kerja di kantor deh, Pa… Kika belum pede untuk hal meyakinkan orang atau sebangsanya..” Kutumpahkan sedikit kekhawatiranku.
Djati memahami kecemasanku dengan bijak.
“Papa paham, makanya itu Kika ditemani Handa. Nantinya yang benar-benar negosiasi Handa. Kika cuma memperhatikan aja dulu. Nanti kalau udah ngerti flow & suasananya baru terjun sendiri. Gimana? Dicoba dulu ya?”
Djati menodongku & dengan sisa rasa mules yang berangsur reda aku mengagguk.
“Tenang aja, klien-klien yang sulit yang tangani Papa & Irza. Klien yang akan kamu temui sebagian besar orang-orang yang pernah ketemu kamu di acara-acara yang pernah kamu datangi.”
“Dicoba saja dulu.” Irza mengajakku bicara.
“Dengan membagi waktu dinas begini, beban kerja Papa juga bisa berkurang banyak. Nanti kalau aku yang sudah lepas dari bimbingan Papa akan take over mayoritasnya.”
Dia menatapku lurus menunjukkan keprofesionalannya. Aku yang meskipun masih kepikiran soal tadi malam, mau tak mau harus menanggapi dengan keprofesionalan yang setara. Sedari tadi aku berusaha melupakan emosiku padanya & selalu berusaha konsentrasi penuh agar tidak teralihkan dengan ingatan semalam.
“Baik Pa.. Kika akan berusaha.” Aku memberi jawaban final memandang ayah yang kuhormati.
Djati kini menghadap Handa yang duduk sendirian di sofa yang menghadap kami bertiga.
“Handa bimbing Kika ya. Beri tahu dia jadwal-jadwal pertemuan untuk 2 bulan ke depan dengan klien yang sudah saya tentukan via email tadi.”
Handa memberi jawaban kesiapan pada Djati. Seperti itulah meeting kecil kami berjalan singkat & berakhir dengan kalimat penutupan Djati yang singkat.
“Saya ke ruangan saya duluan untuk menyiapkan data jadwal yang akan saya kirim ke email.”
Handa meminta ijinku seolah aku ‘Djati’ barunya. Handa segera menghilang dari pandanganku dengan berjalan lebih cepat menuju ruangan yang masih satu lantai dengan Djati.
Aku berjalan menuju lift untuk menuju ruangan Yusuf yang beberapa lantai di bawah. Lift yang kosong saat terbuka langsung kumasuki.
Tiba-tiba sosok Irza muncul mengikutiku memasuki ruang lift. Aku mematung dibuatnya. Berduaan dalam ruang lift membangkitkan kenangan tadi malam menjadi semakin intens, apalagi suasana formal yang tadi mengalihkan konsentrasiku tidak ada untuk membantuku.
Aku bediri di pojok belakang setelah menekan tombol lantai yang akan kusinggahi & Irza berdiri terus di depan tombol lift tanpa menolehkan pandangannya padaku. Kesunyian yang terciptakan membuat perjalanan lift ini lebih lama dari yang seharusnya kuingat.
Di sela-sela aku berdoa semoga dalam waktu dekat saat kami menuju ke bawah ada orang lain yang memasuki lift tapi mengingat bahwa sekarang masih tengah-tengah jam sibuk pasti para karyawan mayoritas berkutat di depan komputer masing-masing.
Kemudian pintu lift terbuka, aku melihat nomor lantai menunjukkan bahwa ini lantai tujuanku. Aku segera melangkahkan kaki keluar tanpa menoleh pada Irza & pria itu pun sampai aku hilang dari sisi pandangnya, bahkan sampai pintu lift menutup kembali tidak berbicara apa pun padaku. Di satu sisi aku merasa lega, tapi di sisi lain juga merasakan kesombongan gengsinya mengusik kesabaranku.
Ruangan Yusuf yang seolah kini jadi ruang pribadiku menjadi tempat yang tepat melepaskan perasaanku. Perasaan lega yang membuncah saat mengingat betapa presentasi tadi pagi, yang secara tak kasat mata sebagai ajang pembuktian keseriusanku, berakhir dengan sangat baik.
Para eksekutif kini seperti memandangku lain, mungkin juga cuma sugestiku tapi jelas ini meningkatkan kepercayaan diriku drastis. Aku mengulet merenggangkan otot akibat ketegangan demam panggung sambil membuka hapeku & menemukan 1 new message di inboxnya. Ternyata dari Hanna, teman penjual pastry dekat kampus yang sudah lama sekali tak kutemui.
‘Kika, aku baru dengar dari yang lain. Katanya kamu cuti kuliah ya? Pantesan kok lama nggak kelihatan. Kembalianmu gimana nih? Klo aku lupa kamu yg kudu ingetin lho!’
begitulah isi pesannya.
Aku tersenyum mendapatkan pesan yang berhubungan dengan hal-hal perkuliahan yang damai. Aku pun cepat membalas pesannya.
‘Iya, Han. Ni aku udah dapet kerja juga mendadak trus dpt tugas jg seabrek jadi nggak sempat ngabarin ato mampir tokomu...’
Sambil memikirkan hal apa yang hendak kuisikan untuk pesan balasan ini aku teringat sesuatu.
‘…btw, nanya semi curhat donk. Umpama kamu dicium sama sodara laki-laki yang akrab, kamu gimana?’
Segera kukirim pesan dengan isi begitu.
Kira-kira 15 menit aku mendapat balasannya, ‘Haaah?! Diciumnya di bibir? Sodara laki-laki ni bukan kakak kandung kan?! Astaga.. pergaulanmu kayak jaman kerajaan Cleopatra aja!!’
Aku agak terkikik geli membacanya sambil mengetik balasan selanjutnya.
‘Ya enggak lah! Gila aje kalo sodara kandung. Ini ada sodara sepupu jauhku curhat gitu, di tiba-tiba dicium ama sodara tirinya. Aku gak bisa bantu dia karena sama-sama nggak ngerti.’
Aku curhat semi-bohong.
Kali ini balasan datang lebih cepat.
‘Kecuali kalo si cowo habis mabok minum minuman beralkohol, berarti si sodara laki-laki ada rasa ke dia. Entah memang cinta ato cuma sekedar lagi napsu. Pokoknya intinya si cowo nganggep sepupumu itu bukan lagi sodara tapi lawan jenis..’
Aku terhenti mengutak-atik gadget & membaca kalimat terakhir dari pesan yang dikirimkan oleh Hanna. Perasaanku teraduk-aduk tak pasti dengan kata-kata di dalamnya membuatku memikirkan kerumitan yang sejak tadi malam ingin kulupakan. Irza tidak menganggapku sebagai adik? Sejak kapan? Apa gara-gara sudah beberapa tahun tidak pernah bertemu semenjak dia ke New York dia jadi berpikir lain tentangku?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Nurwahidah Bi
Kirain bab dua aja yang kepanjangan. Teenyata sampai sini pun panjang eheheh maklum hp kecil
2020-05-14
1
just.Ryn
agak kontradiksi nih, bab awal2 (kika 1) kn uda lulus ceritanya, knp jadi cuti kuliah ini?
2020-05-13
1