"Nona Kika, pihak HRD sudah membuatkan anda email perusahaan. Sesampainya di rumah utama Wismail akan saya kirimkan garis besar perusahaan."
Handa mulai membahas tentang tutoring yang akan kami lakukan malam ini saat mobil yang membawa kami ke rumah utama Wismail memasuki jalan besar.
"Beberapa dokumen bersifat confidential jadi email ini hanya bisa diakses di rumah anda & di kantor saja. Ini salah satu protokol baru yang dibuat setelah rapat tadi."
"Pak Handa jangan panggil saya nona lagi. Sekarang saya sama seperti bapak, karyawan di Wismail."
Mendengar kalimatku barusan membuat Handa sesaat agak salah tingkah.
"Lagipula di antara para eksekutif selama ini cuma bapak yang memanggilku pakai embel-embel nona. Malu tau!" aku mendengus.
Handa tersenyum sambil membetulkan posisi kacamatanya.
"Saya sudah terbiasa memanggil seperti itu sejak Nona masih kecil. Sejak saya menjadi butler di rumah Pak Djati."
Benar juga, saat aku baru menjadi bagian dari keluarga Wismail Handa masih belum berstatus eksekutif kantor seperti sekarang.
Saat itu dia posisinya sebagai tangan kanan Djati yang mempercayakannya untuk melakukan manajemen rumah utama, semacam butler, yang sering dijadikan tempat kerja kedua bagi Djati, meeting mendadak dengan para manajer & menjamu rekan bisnis penting.
Sebelumnya juga Handa bertempat tinggal di rumah utama Wismail sehingga aku & Irza sering berinteraksi dengannya. Dari situlah Handa membiasakan dirinya memanggilku 'nona'.
Sekarang Handa sudah tidak tinggal bersama kami, kudengar ia membeli sebuah apartment 2 kamar dekat kantor. Setelah 4 tahun menjadi eksekutif, meski masih mengurusi ***** bengek perusahaan yang terjadi di rumah, dia memiliki jobdesk lain untuk mengurus sektor sekertariat di kantor utama serta mendampingi Djati saat bussiness trip.
"Kalau masih panggil aku nona, aku akan panggil kamu Tuan Handa." godaku.
"Rasanya aneh.." Handa menampakkan wajah tak enak tapi sejurus kemudian ekspresinya berubah jadi senyum sopan yang selalu dia pakai. "Tapi aku tidak keberatan dipanggil begitu."
Jawaban Handa yang sangat di luar skenarioku membuatku mati kutu. Aku menyadari bahwa perang psikologis dengan Handa dimulai tanpa aba-aba.
Bagiku sih wajar saja kan kalau ingin diperlakukan setara oleh rekan kerja? Kenapa dia begitu keukeuh mempertahankan antara butler & nona besar ini?
"Ehmm.. Baiklah Tuan Handa. I accept your chalenge!"
Aku memandang penuh percaya diri dengan senyum tertantang. Yang bersangkutan tetap stay cool aja, mungkin dia tahu aku setengah menyerah memaksakan mauku untuk menghentikannya memanggilku dengan sebutan 'nona'.
Aku mengecek hape yang sejak awal rapat kumatikan & saat kuhidupkan ada banyak sms + info telepon masuk. Message yang datang dari yang paling duluan masuk kubaca terlebih dulu. 5 pesan berturut-turut datangnya dari Johanh. Mayoritas berisikan kekagetannya perkara status baruku sebagai eksekutif Wismail Grup yang diumumkan siang tadi & minta untuk segera membalas pesannya.
Aku jadi ingat muka terbelalaknya sambil melihatku tak percaya. Senyumku sedikit terkembang dengan dada yang lapang saat melihat kalimat 'Goodluck' di smsnya yang terakhir.
Aku membalas dengan ucapan terima kasih singkat. Bisa dibilang berkat dia juga aku sempat bertemu Djati sebelum konferensi pers & membuatku bergabung di dunia engineering Wismail.
Message berikutnya dari Mila yang menanyakan keberadaanku & saat itu juga aku membalasnya dengan memberi tahu bahwa sekarang sedang on the way ke Wismail Manor bersama Handa.
Selain itu aku juga mengabarkan padanya bahwa aku menjadi salah satu eksekutif. Beliau pasti belum mendengar beritanya karena saat konferensi pers hanya kamera foto yang diijinkan mengambil gambar, jadi hasil konferensi baru bisa tersebar luas di koran besok.
Message yang terakhir membuatku sesaat membeku, karena pengirimnya adalah Irza. Info telepon masuk yang sebanyak 5 berturut-turut juga berasal dari nomor Irza. Hanya ada sepatah kalimat yang dia tulis
'Hubungi aku waktu kamu menerima pesan ini, segera!'
Tata bahasa yang berupa perintah ini membuatku membayangkan hal yang negatif utamanya tentang ketidaksukaan Irza perkara bergabungnya aku dalam jajaran eksekutif. Nantinya pasti yang dia lebih permasalahkan adalah aku tidak memiliki kompetensi baik skill maupun tahun pengabdian kerja pada Wismail Grup.
Aku memutuskan untuk menelepon Irza nanti sesampainya di rumah. Kalau sampai kita bertengkar di telepon, aku tak enak dengan Handa yang berada di sebelahku.
"Han- Tuan Handa apa sore tadi Kak Irza menghubungimu?" tanyaku tanpa menoleh ke arahnya.
Handa yang sedang dalam posisi tak siap dipanggil 'tuan' dariku sedikit bingung tapi langsung mengangguk sopan penuh ketenangan.
"Tuan Irza cuma menanyakan perihal konferensi pers tadi siang via Message." Aku memandang ke arah hapeku yang tertulis message Irza sedikit melamun.
Membayangkan apakah nanti ketika kutelpon bakal terjadi perang mulut yang sesengit pertemuan terakhir kami?
Haruskah aku bersikap pasif seperti malam terakhir kita berhadap muka & berakhir salah paham yang menggantung bertahun-tahun?
Tidak.
Situasi saat ini jauh lebih genting dari cuma sekedar nama baik & imageku, ini melibatkan perusahaan yang menanggung ratusan ribu hajat hidup orang banyak. Pertikaian internal keluarga tidak boleh semakin mengalihkan perhatianku untuk fokus.
Mobil yang mengangkut kami mulai mengurangi kecepatan & selanjutnya berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah utama Wismail yang dipenuhi beberapa wartawan yang beraksi saat melihat mobil milik Djati berusaha memasuki gerbang. Beberapa satpam harus mengamankan jalan & gerbang yang perlahan terbuka agar tak terjadi kejadian yang tidak perlu.
Mobil yang sudah memasuki gerbang melaju lagi dengan kecepatan yang stabil karena sudah lepas dari kerumunan manusia. Driver menghentikan mobil tepat berada di depan pintu masuk rumah yang terbuat dari kayu ebony.
Di jendela yang gordennya belum ditutup aku bisa melihat sebagian dalamnya rumah mewah keluarga Wismail, terutama ruang tamu. Di ruang tamu aku melihat Mila berjalan setengah cepat setelah beliau melihat mobil datang
"Kika. Mama sudah dengar dari Papa tentang kamu jadi eksekutif..." beliau langsung to the point padaku yang bahkan belum sepenuhnya keluar dari mobil.
"..dan Mama nggak setuju!" Mila melipat tangannya & memandangku penuh tanda protes.
Aku memandang Handa & memberi kode tangan meminta ijin untuk berbicara dulu pada ibu kandungku. Handa mengangguk paham & langsung berjalan memasuki rumah, pergi menuju ruang kerja Djati.
Kupandang wanita di depanku sambil mengajaknya duduk di salah satu sofa ruang tamu.
"Mama kenapa nggak setuju?"
Mata Mila memancarkan kecemasan & sedikit ketakutan.
"Bahaya, nak. Kamu nggak tahu. orang-orang yang mau njatuhin Papa kamu tuh sama berbahayanya dengan mafia."
Aku memberi senyum lembut & menggenggam kedua tangan Mila.
"Awalnya Papa juga bilang gitu, Ma. Tapi Papa setuju dengan syarat Kika bakal dikawal beberapa bodyguard profesional kok. Kika nggak akan kenapa-kenapa." kataku dengan setengah berdoa dalam hati juga.
Mila masih belum puas dengan jawabanku, "Trus? Kamu pikir musuhnya Papamu nggak mampu bayar profesional buat nyakitin kamu?!"
kata-kata yang menurutku ada benarnya ini dijadikan senjata utamanya.
"Udah dong Kika. Jangan ikut-ikut.. Kamu itu perempuan, sedikit aja luka silet di badanmu pengaruhnya jauh lebih besar daripada kalau yang kena laki-laki."
Aku menghilangkan senyumku sedikit terpengaruh kata-kata Mila. Aku sering sekali mendengar betapa perempuan terlalu dinilai dengan hal-hal seperti keindahan visual sehingga malah melupakan sifat manusia yang lebih penting.
Luka gores pada wajah laki-laki dinilai macho, tapi kalau terjadi pada perempuan hanya menyisakan iba dirasa tidak memiliki keindahan yang utuh.
"Mama.." aku memanggilnya pelan.
"Kika sudah memantapkan hati. Kika mohon doanya yang banyak dari Mama supaya Kika baik-baik saja. Kika juga sudah janji sama Papa, kalau ada sesuatu yang mencurigakan Kika akan langsung mundur."
Mila melayangkan lagi protes dengan alasan yang sudah ia utarakan tadi. Bedanya ini lebih menyerupai ceramah saking panjangnya. Semakin panjang lagi karena ditambahkan dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk, yang entah beneran bisa terjadi atau enggak, sejauh imajinasinya pergi.
Melihatku yang diam saja, tidak mengiyakan atau menolak, Mamaku langsung diam menutup mata penuh emosi. Itu karena beliau tahu bahwa kami sama-sama nggak mau mengalah saat ini.
"Pokoknya, Mama tetap nggak setuju!" Mila berdiri setelah memberikan statemen terakhirnya & berlalu pergi menuju lantai 2 arah kamar tidurnya.
Aku menghela nafas panjang. Kulihat di jam kuno yang diletakkan di ruang tamu sudah menunjukkan pukul 18.00. Aku mengingat-ingat hal apa saja yang harus kulakukan & Irza yang pertama kali muncul dalam benakku.
Prosesi mengambil hape dari sakuku terasa tak nyaman karena membayangkan akan ada pembicaraan yang jauh lebih alot dengan Irza dibandingkan dengan Mila tadi. Aku menarik nafas mengatur kegugupan agar apapun pembicaraan yang terjadi nanti aku bisa menyuarakan isi hatiku dengan baik.
Lalu aku menekan tombol hijau dengan nama Irza terpampang besar di layar hapeku.
Saat menerima nada tunggu ada sedikit harapan Irza tak mengangkatnya supaya debat kusir kami bisa tertunda setidaknya sampai besok pagi, meskipun aku tahu itu mustahil terutama karena Irza di New York yang beda hampir setengah hari dengan di sini.
"Halo! Kika?"
suara Irza terdengar dari seberang sambungan teleponku.
"Halo Kak Irza. Lama nggak ada kabar. Gimana New York?" tanyaku rada bingung harus memulai dari mana.
Irza mengeluarkan suara bedecak.
"Gak usah basa basi. Apa maksudnya kamu jadi eksekutif di Wismail?"
"Iya, aku mau bantu Papa di sektor engineering nya Wismail." kataku datar seolah itu hal yang sudah kuhafalkan.
Irza diam saja tapi aku bisa mendengar suara helaan nafasnya tanda nggak peduli dengan ucapanku.
"Aku nggak peduli kamu mampu atau nggak. Tapi kalau sekali saja aku memergokimu punya niat nggak baik..."
Kalimatnya yang penuh penekanan dia hentikan dengan suara tersekat penuh emosi,
"...Aku nggak akan memaafkanmu, kalau terjadi sesuatu pada keluargaku..."
"Kika mengerti, Kak.."
Aku mulai kesulitan mengendalikan emosiku, tapi aku berharap suara yang kugunakan tak terdengar aneh di telinga Irza.
"Kakak boleh saja nggak percaya pada Kika, lagipula apapun yang kubilang nggak akan kakak dengarkan. Tapi untuk sekarang Kakak percaya aja dengan keputusan Papa. Nanti, biar waktu & hasil yang menjawab keraguanmu."
Dalam hati aku memuji betapa diplomatisnya kata-kataku barusan.
Irza diam & ada jeda sunyi yang panjang kemudian ia memulai.
"Kita lihat saja nanti. Jangan sampai kamu menyusahkan Papa & rekan kerja Papa yang lain."
Aku hanya mengiyakan kata-katanya sepanjang sisa pembicaraan yang isinya nasehat, atau lebih tepatnya hal-hal yang Irza curigai bisa kukacaukan.
"Kapan Kakak pulang?" Aku membuka topik baru untuk dibahas.
Irza memulainya dengan suara mendengung berpikir.
"Masih belum tahu tanggal pastinya. Karena aku tak bisa tiba-tiba pergi dari proyek yang kukerjakan saat ini."
Benar juga, Irza yang bekerja magang di kantor US pasti sudah mempunyai tanggung jawab tertentu yang kalau seenaknya dilepas malah akan memperburuk citra Wismail Grup.
"Kika ngerti.. Kalau ke depannya sebelum kembali Kakak ada perlu bantuanku langsung saja bilang ya."
Kemudian ada jeda kebisuan yang panjang tanpa kata.
Mungkin karena kami sudah lama tak berkomunikasi, ditambah insiden di pesta perpisahan Irza yang membuat kondisi keakraban kami lepas, jadi seolah kembali bagai dua orang biasa yang bertegur sapa melalui telepon harus mancari topik tertentu yang cocok untuk dibahas. Beda dengan saat aku masih akrab dengan Irza, semua hal kelihatan bisa kubicarakan dengannya.
"Kika.."
Irza memulai & aku bersyukur dia melakukannya sebelum kesunyian ini semakin canggung.
"Mungkin aku orang kesekian yang mengatakannya, tapi kamu harus hati-hati.." Irza terdiam sesaat seolah berpikir, "Ini masih dugaan tapi aku curiga dengan situasi yang tidak biasa ini."
"Tidak biasa itu maksudnya ketika stock price Wismail jatuh secara kumulatif?"
Aku memastikan ucapannya.
Irza mengiyakan tapi juga menjelaskan lagi isi pikirannya.
"Bukan cuma itu saja.. Aku tak bisa berspekulasi tanpa bukti tapi ada yang aneh dengan kondisi ini. Kamu harus ekstra siap menghadapi apa pun."
"Iya kak.."
Aku menjawab dengan suara seserius mungkin agar Irza yang berada diseberang telepon memahami determinasiku & pemahamanku tentang pilihan yang sudah kuambil ini.
Entah kenapa aku bisa merasakan bahwa Irza tersenyum dari balik komunikasi. Meskipun tak ada bukti tapi feeling ini membuatku lega sekaligus senang.
Mengetahui bahwa kakak yang kukenali selalu memahamiku perlahan menjadi seperti dulu. Kelihatannya kemalangan yang menimpa Wismail Grup memiliki berkah tersendiri bagi kerekatan hubunganku dengan kakakku satu-satunya.
Telepon berakhir lebih cepat dari yang kukira. Pembicaraan kami juga tak sesengit yang kutakutkan. Mungkin sebenarnya Irza percaya sepenuhnya dengan penilaian Djati yang mempekerjakanku sehingga dia tidak mempermasalahkan kemampuanku.
Kini aku tahu langkah apa yang harus kuambil untuk mendapatkan kembali kepercayaan Irza. Bila Wismail Grup stabil kembali & kinerjaku bagus setidaknya Irza mulai memberikan kepercayaannya bahwa aku bukan musuh Wismail Grup bahkan menjadi salah satu aset penting.
Perkara dia masih menilaiku sebagai cewek matre mungkin masih blm bisa hilang sepenuhnya. Aku seperti mendapat motivasi yang lebih kuat untuk bisa lebih berkontribusi di Wismail Grup. Karena untukku pribadi Wismail Grup berarti keutuhan keluargaku saat ini.
Aku pergi menuju kamarku untuk mandi & istirahat mempersiapkan diri mendapatkan materi pertama yang harus kulahap. Aku memberi tahu Lilia, maid yang sering menjadi asisten keseharianku di rumah, untuk memberitahu Handa bahwa aku akan siap di ruang kerja Djati pukul 20.30.
Selain itu aku juga minta agar Handa ikut makan malam bersamaku & Mila. Tapi saat makan malam berlangsung hanya ada aku sendirian di meja makan.
Lilia berkata bahwa Handa dengan sopan menolak, mungkin ada sisa dirinya merasa akan sangat canggung mantan butler rumah ini makan bersama mantan nonanya. Padahal kan sekarang kita rekan kerja, mau sampai kapan dia merasa aku lebih superior darinya.
Sedangkan Mila, diberitahu juga oleh Lilia, mendadak pergi bersama Rosalyn maidnya. Sedikit aneh sih kenapa Mila tiba-tiba pergi bersama Rosalyn malam-malam hampir larut begini.
Meskipun begitu aku tak ingin terlalu menghiraukan kegiatan Mila yang nggak biasa ini, karena ada top priority yang harus kulakukan malam ini dengan penuh konsentrasi.
Aku berdiri di depan ruang kerja Djati yang bersebelahan dengan perpustakaan keluarga Wismail, bahkan ada connecting door pada kedua ruangan itu.
Aku mengetuk pelan & memasukinya setelah ada jawaban dari dalam.
Setelah membuka pintu, aku melihat Handa bersikap formal sempurna menyambutku. Aku melirik di atas meja kerja ayah tiriku buku-buku tebal & beberapa dalam keadaan terbuka, kelihatannya mayoritas situasi buku-buku tersebut hasil perbuatan Handa menyiapkan materi untukku.
"Ayo kita mulai Tuan Handa."
Aku memberi senyum kecil padanya & langsung duduk di meja kerja milik Djati yang posisinya seperti sudah disiapkan untukku oleh Handa.
Mendengar perkataanku Handa mengangguk sopan meskipun sesaat aku melihat alisnya sedikit turun ketika mendengar kata 'tuan' ke arahnya. Aku langsung melahap buku yang pertama kali Handa hidangkan padaku, yaitu tentang sejarah Wismail Grup & jaringan bisnisnya.
Handa mengatakan padaku bahwa pertama-tama aku harus memahami terlebih dulu posisi Wismail Grup secara garis besar dalam perekonomian nasional & internasional. Saat membacanya baru kusadari bahwa jaringan bisnis keluargaku sangat luas selain meliputi elektronik, kami juga punya sektor garmen, infrastructure dan distribusi ekspor impor sumber daya alam.
Setelahnya Handa memberi informasi tentang strata kepemimpinan di Wismail Grup. Secara ringkas pemimpin utama jelas Djati, ayahku, disusul dengan ke-12 eksekutif yang tadi siang kutemui.
Lalu para eksekutif memipin para kepala cabang & general manajer di tiap jaringan bisnis sesuai bidangnya. Jadi dalam hal ini Yusuf yang berada di sektor engineering tidak hanya bertanggung jawab terhadap engineering Wiphone product tapi juga pada bisnis-bisnis yang dikelola Wismail Grup yang memiliki departemen engineering serta R&Dnya.
Tanggung jawab yang Djati berikan padaku 'hanya' pada manajemen engineering Wiphone karena beliau menilai pangsa pasar Wiphone sedang di atas angin karena masyarakat menyukai 2 produk terakhir yang sudah diluncurkan & bila omzet produk ini meningkat Wismail Grup bisa lebih cepat mengalami kestabilan keuangan.
Di satu sisi aku mulai merasakan rasa berat tanggung jawab sebagai eksekutif, meskipun sebenarnya jobdesk yang kupunya saat ini masih jauh lebih ringan dibandingan jobdesk para eksekutif lainnya.
Aku menyadar pada kursi yang kududuki lalu merenggangkan kaki & tanganku yang kaku karena sedikit lelah setelah 3 jam mengenyam materi tentang Wismail dalam otakku secara kontinyu.
Handa yang melihatku ngulet langsung berkata, "Kalau nona sudah lelah sebaiknya disudahi saja".
Aku menggeleng, "Kalau masih ada materi yang perlu kubaca lebih baik kulihat dulu. Tuan Handa beristirahat saja dulu di kamar yang sudah disiapkan papa."
Sengaja aku memperbesar volume saat menyebut kata 'papa' kalau-kalau dia merasa sungkan menginap di rumah utama Wismail. Bisa jadi dia merasa lebih mendapat 'izin menginap' secara mandat dari atasannya dibandingkan dengan aku yang pasti dirasa cuma beramah tamah padanya.
Aku tak habis pikir dengan Handa yang bagiku terlalu terstruktur & formal. Mungkin dia memang begini adanya tapi beberapa orang merasa nggak nyaman dibuatnya, karena memaksa orang lain berlaku formal juga.
Handa menggeleng pelan mendengar jawabanku.
"Saya tak mungkin beristirahat saat nona sedang bekerja keras seperti ini."
Handa menaruh sekitar 3 buku lagi ke atas meja, tanda babak baru untuk materiku selanjutnya. Kalau melihat dari judul-judul bukunya kelihatannya Handa akan mengajariku metode manajerial & leadership.
"Tapi Tuan Handa belum mandi & berganti pakaian dari tadi pagi kan?"
Aku belagak menutup hidung untuk menggodanya agar formalitas diantara kami lebih cair.
Kutahan tawaku dengan buku yang kupegang saat Handa terlihat salah tingkah & mengendus lengan dalam kemejanya. Kemeja yang sama seperti ia pakai saat aku menemuinya di kantor tadi siang itu pasti sudah dipakainya sejak pagi.
"Segar-segarin diri saja dulu. Setelahnya kita lanjutkan lagi. Sekalian aku mau mengulang baca beberapa materi yang sebelumnya."
Aku memberi saran enteng sambil membolak-balik halaman penuh tulisan tentang Wismail Bussiness Partnership.
Meskipun masih sedikit sungkan tapi Handa akhirnya memutuskan menerima saranku lalu pamit untuk pergi ke kamarnya. Aku berdiri dari kursi untuk sedikit senam merenggangkan pinggangku yang sudah berjam-jam berada di posisi yang sama sehingga agak terasa pegal.
Lalu aku melihat sekali lagi semua berkas yang sempat kubaca & membuatku terpana betapa besar jangkauan Wismail Grup di perekonomian dunia.
Pantas saja beberapa orang yang pernah kutemui di pesta-pesta umumnya sering bersikap ramahnya kebangetan, atau lebih parah lagi menjilat, saat Djati atau Irza memperkenalkan diri sebagai anggota keluarga utama Wismail.
Kadang aku & Mila juga mendapat pemandangan yang sama, bedanya yang menghampiri kami kaum sosialita yang mayoritas kerjaannya shopping, mempercantik diri & bergaul kesana kemari memperluas koneksi.
Setelah aku mengetahui betapa besar Wismail Grup, membuatku semakin merinding dengan situasi yang sedang kuhadapi. Masalah apa yang menimpa Grup ini sampai-sampai dalam minggu yang sama secara kumulatif nilai Wismali Grup jatuh.
Apakah sebegitu gawatnya masalah yang dihadapi?
Apakah dugaan korupsi sudah terjadi dalam tubuh sistem & sudah dalam taraf yang amat sangat parah? Apakah ada pihak dengan kekuatan lebih besar berada di belakangnya?
Lamunanku dihentikan oleh ketukan di pintu yang ternyata Handa yang sudah kembali dengan busana lebih santai berupa polo shirt & celana training warna gelap, itu memang bajunya dia yang sengaja ditinggalkan karena beberapa kesempatan sebelum ini Handa sering menginap terutama saat malam menjelang persiapan Djati meeting penting di luar kota.
Yang bikin heran, tak sampai 15 menit dia meninggalkan ruangan ini. Membuatku bertanya-tanya cara mandi seperti apa yang dia terapkan.
Tak ingin berlama-lama lagi supaya nggak semakin menyita waktu tidur aku & Handa melanjutkan lagi training malam ini.
Pelatihan kilatku ini baru benar-benar berakhir pukul 01.30 dini hari. Kondisi rumah sudah amat sangat sepi karena para maid & footman sudah beristirahat di ruangan masing-masing.
Aku mengintip keluar ruang kerja melalui jendela yang membuatku bisa melihat lokasi parkir mobil & melihat mobil yang dipakai Mila serta Djati sudah berjejer rapi dengan mobil-mobil mewah lainnya, pertanda mereka sudah pulang.
Handa pamit diri bersiap untuk esok hari karena sebelum makan siang dia & Djati harus keluar kota, tepatnya ke lokasi perusahaan Wismail di kota sebelah untuk memantau beberapa hal.
Aku bergegas kembali ke kamarku melalui koridor yang disinari temaram lampu malam & sinar lampu taman di luar.
Saat di kamar aku agak terbingung-bingung melihat tumpukan shopping bag dengan merk-merk yang cukup terkenal. Di atas tempat tidurku terdapat secarik kertas yang saat kubaca aku mengenali tulisannya.
'Mama support kamu, tapi bukan berarti mama setuju dengan keputusanmu'
Isinya singkat tapi cukup melegakanku.
Ternyata Mila pergi mendadak membelikanku baju kerja, plus sepatu pantovel resmi, yang jujur saja selama ini aku tak punya karena belum pernah ada situasi yang mengharuskanku memakai baju kerja formal.
Tiap kantong belanjaan yang kubuka mengingatkanku bahwa Mila akan selalu berada di pihakku sekalipun kami sedang berbeda pendapat. Rasa senang berbungah di dadaku & langsung padam ketika kuketahui fakta bahwa mayoritas baju kerja yang Mila belikan berupa rok sepan mini dengan belahan, yang lokasinya kalau nggak di samping ya di belakang.
.
.
.
Aku bangun di pagi hari dengan kondisi masih agak lemas, mungkin karena darah rendahku atau mungkin juga karena semalam aku tidur agak larut.
Semalam sesampainya di kamar aku tidak langsung tidur melainkan memilah-milah baju hasil shoppingnya Mila karena di beberapa pakaian ada yang aku merasa kurang sreg. Utamanya seperti bahan yang terlalu see through, super mini skirt, dan yang sekiranya kurang conservative atau nggak sesuai dengan seleraku.
Aku berangkat menuju base produksi untuk software Wiphone yang lokasinya berada satu gedung dengan kantor utama Wismail. Sedangkan untuk produksi piranti kerasnya dilakukan di china yang kemudian dirakit di Thailand karena biayanya jauh lebih murah dengan jalur yang seperti itu.
Handa yang semobil denganku diperintah oleh Djati untuk menemaniku di hari pertama kerjaku, padahal aku tidak merasa perlu lagipula aku nanti akan dibimbing oleh Yusuf.
Djati berangkat dengan kendaraan terpisah karena berbeda tujuan. Beliau pergi ke beberapa main office bussines partnert Wismail Grup yang meliputi distributor, broker & pemimpin grup besar yang bekerja sama dengan kami.
Sesampainya di main office bagian engineering, Yusuf sudah berada di ruangannya. Aku jadi merasa tidak enak karena membuatnya menungguku, meskipun aku sudah datang sebelum jam pertemuan yang sudah disepakati.
Yusuf mempersilakanku, juga Handa, duduk di hadapannya & mengintruksikanku untuk membuka emailku. Beliau juga sempat mengintruksikan pada office boy yang kebetulan sedang meletakkan minuman dimejanya untuk membuatkan untukku & Handa minuman.
Pria yang usianya berada di akhir 30 tahun itu berkata bahwa beberapa data penting mengenai engineering, utamanya pada produk Wiphone, sudah dia kirimkan ke email resmi atas nama Wismail Grup.
Tidak banyak penjelasan yang Yusuf kemukakan padaku karena mayoritas sudah cukup jelas dari data-data yang kudapat dari email.
Setelah 2 jam pertemuan kami, Yusuf pamit pada kami karena sudah ada janji meeting dengan relasi bisnis di kota lain & harus mengejar pesawat di bandara.
Tak lama Handa pun harus meninggalkanku juga karena mendapat panggilan mendadak dari Djati yang membutuhkan beberapa data & menyusulnya ke tempatnya sebelum makan siang.
Semua memang sedang berjalan terburu-buru mengingat gentingnya situasi Wismail Grup. Mau tak mau aku harus mempercepat adaptasi & mempercepat proses belajarku juga.
Namun apa daya, aku bukan jenius seperti Irza. Jujur, materi yang kuterima dari Handa kemarin & yang kudapat hari ini cuma masuk seadanya, cuma yang vital saja yang bisa kuingat dengan baik.
***** bengek seperti detil nama perusahaan yang dikelola Wismail Grup, nama general manajernya, nama partner bisnis, bahkan beberapa cabang bisnis yang sekiranya tidak berhubungan dengan IT & engineering tidak ingin kuhafal supaya aku bisa lebih mengingat materi lain yang sekiranya lebih berhubungan untuk jobdesku nanti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Indraqilasyamil
semngat kika kamu pasyi bisa buktikannke irza
2021-02-26
2
🐾Ocheng🐾
kok ada tulisan di sensor sih lanjut 😊
2020-10-22
0
just.Ryn
ada yg kena sensor...
pdhal maksudnya bukan yg aneh2...
2020-05-12
1