Banyak perubahan yang terjadi setelah malam acara amal di Gedung Pancasila. Situasi teror yang terjadi ternyata tidak hanya kami dapati di malam itu saja. Bahkan korban teror tersebut makin meluas hingga ke beberapa eksekutif Wismail Grup.
Lubi bahkan mengadakan rapat dadakan untuk para eksekutif setiap dia mendapat teror seperti ban mobilnya dikempesi saat di parkir di pinggir jalan atau seluruh tong sampah di rumahnya tiba-tiba meledak karena diisi petasan Cina.
Handa tak ketinggalan kena teror. Baru-baru ini ia mendapatkan suatu paket tanpa identitas pengirim yang berisi bangkai tikus. Dan paket semacam itu datang lebih dari 2x ke kantor Wismail.
Yang lebih parah menimpa keluarga Yusuf, beberapa orang misterius melempari tembok rumahnya dengan darah yang tak jelas dari makhluk apa. Untuk sementara Yusuf mengungsikan anak & istrinya ke rumah orang tuanya di kota sebelah.
Pelakunya yang meskipun sempat dikejar satpam & warga mampu kabur tanpa jejak. Djati memutuskan untuk menyewa belasan bodyguard dari firma swasta terkenal untuk melindungi tiap eksekutif & bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk mengusut kasus ini.
Selain itu juga ada perubahan SOP. semua paket & surat yang datang harus disortir oleh team bodyguard yang sama. Pegawai & tamu yang memasuki area kerja Wismail diperiksa dengan metal detector yang sebelumnya tidak ada.
Untuk sementara rumah utama Wismail tidak ditempati oleh keluarga utamanya. Djati & Mila menempati salah satu rumah aset yang lokasinya dirahasiakan yang jaraknya 47 km dari kantor.
Aku & Irza, disarankan oleh Djati langsung, tetap tinggal di apartemen Handa. Bagi Djati yang sangat memahami kemampuan analisa situasi & bela diri Handa, ia merasa berada di dekatnya adalah salah satu opsi terbaik bagi kami.
Pembagian kamarnya: Irza & Handa menempati bersama kamar yang kosong. Aku secara tak terduga menempati kamar Handa. Bahkan si pemilik yang memberi usul demikian. Heh, sungguh suatu kehormatan.
Si empunya kamar dengan lihai beralasan di depan Irza & Djati hal itu wajar dilakukan sebab kamar tersebut memiliki kamar mandi dalam yang akan memudahkanku yang perempuan. Suatu keputusan yang berbeda dengan sebelum aku mendapati realita ‘isi kamarnya’.
Namun saat aku kembali ke kamar tersebut foto-foto itu sudah tidak ada. Entah disingkirkan kemana. Mungkinkah dibuang? Kurasa tidak.
Hingga sekarang pun Irza tidak tahu menahu tentang rahasia foto-foto di kamar Handa. Aku pun ada perasaan ragu apakah harus kulaporkan pada Irza atau Djati. Karena aku tak ingin situasi internal Wismail semakin rumit di tengah-tengah maraknya kasus terorisme yang menimpa kami.
Keputusan untuk tidak menguak ‘kelainan’ milik Handa semakin kuat terutamanya karena perlakuan Handa tidak banyak berubah terhadapku. Seolah-olah momen aku pertama kali memasuki kamarnya hanya sebuah hal yang tak perlu dianggap lain.
Situasi mencekam bagi Wismail Grup ini cukup memukul situasi perekonomian perusahaan kami. Para karyawan juga tak bisa bekerja dengan tenang. Apalagi sempat teror dilakukan di beberapa kantor cabang & kantor utama.
Pada awal permulaan paket-paket misterius berdatangan tanpa henti membuat kami kewalahan menyortir mana paket yang memang asli untuk kebutuhan bisnis & yang dari si *******. Paket 'zonk' ini sama seriusnya seperti kasus yang menimpa Lubi & Handa.
Setelah penjagaan ketat dilakukan teror sempat mereda. Beberapa pelaku sempat tertangkap. Yang ditengarai cuma preman sewaan yang tak tahu apa-apa. Tak ada informasi yang bisa kami perah selain mereka disuruh oleh pihak yang identitas nya tak diketahui.
Sekalipun Teror pada eksekutif berhenti namun diyakini jika ada celah lagi, teror mungkin berlanjut. Makanya Djati masih memperketat & memperpanjang menyewa bodyguard.
Meskipun banyak kejadian buruk menimpa Wismail grup, nyatanya produk Wiphone yang kini menjadi tanggung jawabku sepenuhnya sedang berada di kondisi terbaik. Terobosan aksesoris & antivirus yang dikeluarkan musim ini mendongkrak penjualan produk Wiphone generasi lanjutan yang memang sejak awal digadang-gadang oleh Djati akan booming.
Pasar nampak antusias ketika kami mengumumkan secara resmi proyek baru kami yaitu Wikid. Proyek yang digagas oleh Yudi untuk membuat teknologi turunan smartphone yang sudah ada, dengan pangsa pasar anak-anak. Atau setidaknya para orang tua yang memiliki anak, membeli produk ini untuk anak-anak mereka.
Yudi membaca peluang bahwa di zaman sekarang diperlukan suatu teknologi agar orang tua bisa mengetahui lokasi keberadaan anak mereka sekaligus meminimalisir paparan gadget berlebih untuk anak mereka yang masih terlalu muda untuk membawa ponsel canggih sendiri. Wikid ini adalah produk smart gadget untuk dipakai anak-anak berbentuk smartwatch.
Para eksekutif yang merasakan angin segar di sela kekacauan yang mereka hadapi menyambut dengan gempita. Banyak yang menyarankan agar sistem yang kuterapkan ikut diterapkan pada businness line Wismail grup yang lain, berharap situasinya bisa terangkat sama seperti situasi di Wiphone.
Djati serta merta mengangkatku menjadi salah satu eksekutif secara permanen yang membawahi Technical. Mayoritas eksekutif setuju dengan keputusan tersebut. Yusuf, yang kini menjadi eksekutif sales, sang mantan eksekutif technical malah gembira bukan kepalang. Dia berkata bahwa salah satu beban hidupnya bisa lepas dari pundaknya.
Meski begitu ada pula eksekutif yang masih menyangsikan kualitasku karena pengalaman & usiaku yang jauh lebih minim dari para eksekutif kebanyakan. Tak hanya aku, Irza pun juga menghadapi paradigma yang sama. Namun Djati tetap pada pendiriannya, bahkan tak sungkan menjadikan Handa sebagai salah satu contoh eksekutif handal yang memulai di usia muda.
Kondisi Wismail grup yang sempat kembali di situasi tak nyaman membuat keseharian kantor bertensi tinggi. Diputuskan juga untuk mengadakan engineer cup, yang sempat dijanjikan namun diundur, untuk menjadi ajang refreshing para karyawan.
Aku sempat mengusulkan untuk dikembangkan untuk para karyawan kantor keseluruhan tapi banyak yang kurang setuju karena terbatasnya waktu & dana. Kemungkinan usulku tersebut baru bisa dilaksanakan tahun depan.
"Kika..!"
Putri yang berjalan mengiringiku terlihat gugup. Tangannya sibuk memutar-mutarkan gagang raket.
"Aku udah bilang kan kalau skill badmintonku cetek? Jadi jangan terlalu menggantungkan harapan terlalu tinggi ya.." pintanya memelas.
Mungkin dia agak demam panggung karena penonton engineer cup, yang biasanya para engineer yang itu-itu saja, membludak hingga ke departemen lain.
"Tenang aja. Aku juga badmintonnya payah kok. Minimal kamu nggak malu sendirian."
Aku berusaha menyemangatinya tapi malah berefek membuatnya terbebani. Mungkin dia berimajinasi seolah permainan kami bakal jadi tontonan paling memalukan dunia perbulutangkisan.
Sesosok pria yang kukenali memanggilku.
"Pertandinganmu masih lama?" tanya Irza.
"Sehabis pertandingan futsal ini selesai baru pertandingan badmintonnya mulai." jawabku.
"Mau nonton?"
Irza merenggangkan dasinya dengan lelah karena baru datang dari kunjungan meeting dengan beberapa rekan bisnis di luar kantor.
"Yah.. Untuk sekedar hiburan. Aku masih capek kalau harus pulang sekarang menghadapi kemacetan."
"Pak Irza kalau capek tidur aja di ruangan bapak..."
Putri tiba-tiba memberi saran yang tanpa diminta. "Ngeliat pertandingan kita gak ada bagus-bagusnya. Cuma bikin iba.."
Kini aku paham maksudnya & Irza sedikit tersenyum geli ke arahnya.
"Udah lah Put.. Apalah bedanya ketambahan 1 orang ngetawain kita. Kalau nasib kita jadi sasaran lelucon yah biarlah itu terjadi. Itung-itung bikin orang seneng kan pahalanya besar."
Kutepuk bahu Putri & menggiringnya menuju lokasi engineer cup. Yang bersangkutan setuju pasrah sambil komat kamit baca doa. Irza mengikuti kami berusaha sekuatnya meredam tawanya agar tidak terlihat menghina atau membebani rekan mainku.
Melihat putra & putri tunggal Wismail memasuki area tak pelak membuat beberapa penonton menoleh ke arah kami seolah kami ini selebriti. Irza dengan sopan memberi senyum & sepertinya terbiasa dengan situasi ini. Ia menyapa ringan beberapa karyawan yang ia kenal.
Tapi tak lama perhatian mereka kembali ke jalannya pertandingan yang berlangsung makin seru. Kami berjalan menuju area suporter pemain engineer Wiphone. Seorang wanita yang kami kenali melambai ke arah kami yang baru memasuki area engineer cup. Putri segera memberi pertanyaan yang juga ingin kuajukan.
"Skornya berapa-berapa? Kita unggul kah?"
Julia menggeleng.
"Skornya imbang 2-2. Tapi pemain kita banyak yang cedera. Kita justru di ujung tanduk.." dia menunjuk ke arah yang dimaksudnya.
Kulihat di area para pemain engineer Wiphone, si Bima dengan bodi raksasa tambunnya terkapar ngos-ngosan penuh keringat yang pastinya dia nggak bisa main lagi karena super kecapekan daripada dibilang cedera. Dewa kelihatannya pergelangan kaki kanannya terkilir & berada pada penanganan anggota kesehatan yang sudah kami kenal, Dini.
Di lapangan aku melihat sosok Yudi sebagai kiper baru saja menyelamatkan gawang yang ditendang keras oleh pemain lawan. Karna yang berada di posisi tengah berkoordinasi dengan Junet & Nakul.
Pemain yang mengisi posisi ke-5 sebagai perwakilan pemain futsal engineer Wiphone membuat mataku terbelalak tak percaya.
"Handa?! Ngapain dia di situ?!" semprotku terang-terangan.
Julia menjelaskan, "Laki-laki di engineering Wiphone yang bisa berpartisi cuma ada 6. Yang lainnya lagi pada lembur. Gegara Bima kolaps & Dewa terkilir jadinya cuma tinggal 4 pemain. Untung saja Pak Handa sedang di lokasi & bersedia jadi pemain pengganti."
Mungkin berkat adanya Handa turun ke lapangan membuat penonton wanita di sini jadi lebih heboh daripada biasanya.
Aku masih menatap adanya Handa yang bermain futsal masih dengan celana kerjanya & baju olah raga yang kelihatannya pinjam milik Dewa. Jujur saja, kondisiku dengan Handa menjadi sangat canggung setelah aku mendapati statusnya sebagai stalkerku. Meskipun yang bersangkutan sama saja, masih berlagak memperlakukanku bak Nona besarnya.
Sebisa mungkin aku tak ingin cuma berdua dengannya dalam satu ruangan & sering mencari alasan menghindar di luar keperluar pekerjaan tentunya. Dan Handa pun kelihatannya kalem saja menghadapi penghindaranku yang terang-terangan ini. Seolah sikapku yang tidak natural ini memang sesuai dengan harapannya.
Sejauh ini tidak ada hal-hal yang kutakutkan yang sekiranya bakal dia lakukan padaku, tapi tetap saja aku merasa seperti mangsa dihadapannya.
Sebuah tendangan dari Juned berhasil ditangkap kiper lawan membuat jalannya pertandingan makin sukar ditebak. Riuh suara penonton menyayangkan membuatku tersadar dari lamunan.
Junet dengan nafas yang tak beraturan berjalan gontai ke arah Dini yang sudah selesai memakaikan bandage pada kaki Dewa.
"Ganti.. Ganti.." ujarnya di sela nafas cepatnya. Kedua tangannya memutar memberi gestur ia sudah tidak kuat melanjutkan pertandingan. Aku tahu para engineer adalah golongan yang orang gerak tapi tak separah ini.
"Tapi udah nggak ada pemain lagi.." Julia mengeluh. "Kalau cuma nurunin 4 pemain kita bakal dianggap kalah gak sih..?"
"Bima! Kamu main lagi dong!" paksa Putri tanpa belas kasih terhadap pria jumbo yang bagai paus terdampar di pinggir pantai.
Yang bersangkutan bahkan tak punya tenaga untuk menjawab.
"Kamu tiduran aja di tengah gawang. Gak perlu lari. Gak perlu berdiri. Yang penting jadi pemain ke-5 biar kita nggak didiskualifikasi!" lanjutnya makin absurd. Irza setengah menyembur geli mendengarnya.
"Bener jugak!"
Putri mendapatkan kesepakatan dari Julia.
"Yaudah Put, ayo kita gelindingin si Bima ke sana!" entah kenapa ide-ide yang bermunculan semakin di luar logika. Julia berdiri bersama Putri mendekati bench pemain kami.
Permainan yang terhenti karena Junet keluar lapangan dimanfaatkan para pemain lain untuk mengatur nafas. Tak hanya Junet yang terlihat sangat kelelahan. Mayoritas pemain lawan duduk-duduk di tengah lapangan dengan tubuh mandi keringat & muka kucel.
Yudi & Karna terlihat berjamaah tiduran di lapangan mencoba semaksimal mungkin beristirahat. Nakul minum sembunyi-sembunyi di balik tiang gawang.
Handa yang awalnya duduk-duduk di sisi jauh lapangan menyusul Nakul untuk minum juga. Intinya kedua belah pihak nampak sudah di ujung stamina. Untuk Bima mungkin lebih tepat jika disebut di ujung nyawa saking lelahnya dia..
Mereka bersikeras untuk memenangkan pertandingan demi hadiah voucer makan siang gratis 4 hari kerja di Setarbak, cafe favorit kekinian yang berdiri sekitar 100m dari kantor. Hadiah makan di cafe nampaknya semenggiurkan itu kah?
"Baiklah aku yang main.." suara seorang sukarelawan memberi secercah harapan bagi team engineering Wiphone.
Irza mulai melepas dasinya sambil berjalan ke arah Juned yang terkapar menemani Bima.
"Nganu.. Pak Irza mau main juga?" tanya gagap Julia.
"Boleh kan? Toh si Handa dibolehin main.." dagu Irza menunjuk singkat ke arah Handa yang berdiskusi dengan Nakul. Ia mengatakannya sambil merenggangkan kancing di pergelangan tangannya.
"TENTU SAJA!!"
Entah darimana datangnya semangat Julia.
Apakah dari terhindarnya keharusan untuknya menyeret Bima ke area gawang futsal atau karena dapat kesempatan melihat 'top most wanted bachelor di Wismail Grup' beraksi di lapangan. Para penonton yang menyadari situasi bahwa atasan mereka hendak berpartisipasi dalam pertandingan juga makin antusias.
Si Putri, kelihatannya, berkat kejadian ini melupakan demam panggungnya. Kini dia dengan bengis melucuti baju futsal Junet yang tak sanggup mempertahankan kaosnya, untuk dipakai oleh Irza agar pertandingan segera dilanjutkan.
Irza mengganti kemeja lengan panjangnya memakai kaos futsal Juned yang 90% terbasahi oleh keringat sang pemilik. Selain itu juga memakai sepatu futsal dari pemilik yang sama yang pastinya tak perlu dijabarkan bagaimana aromanya. Irza agak merasa tak nyaman awalnya tapi berusaha membiasakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Mrb
hahaha
2021-12-04
0
Fitriana
wkwkekwk
gk takut gatel2 bang irza😂😂😂
2021-04-14
1
nrasyaaaa
mampir dungs ke cerita2 ak msh baru bgt ni👉👈
2020-09-07
1