.
Aku di dalam mobil memandang keluar jendela. Terlihat gedung utama VOA Grup yang menjulang tinggi dihiasi warna-warni lampu membuatnya semakin eyecatching dibandingkan gedung lainnya.
Sudah 15 menit kami di dalam mobil terjebak keramaian hanya untuk memasuki gedung tersebut, sekedar mencari tempat parkir.
Handa yang mengemudi berusaha membunuh waktu dengan melihat sekeliling. Sesekali ia menengok kaca spion. Kadang kepergok juga dia yang sesekali mengintip spion belakang yang mana menangkap diriku, mata kami bertemu di sana.
Sedangkan Irza di sebelahnya terus memainkan smartphonenya. Seolah tak ingin kemacetan ini membuat suasana hatinya menjadi buruk.
Hari ini adalah anniversary VOA Grup, grupnya si Johanh. Tiap tahun keluarga Wismail yang punya hubungan cukup baik dengan CEO grup tersebut, & tentu saja pewarisnya, selalu hadir. Tak terkecuali tahun ini.
CEO Wismail masih opname jadi aku & Irza mewakili beliau untuk hadir. VOA Grup adalah grup yang saat ini mungkin bisa dianugrahi salah satu grup terkuat di negri ini.
Mayoritas bussiness unit VOA Grup meliputi dunia entertainment seperti channel televisi, management artist, promotor konser bahkan production house untuk membuat film. Selain itu mereka juga punya pabrik tembakau yang merupakan penyumbang kekayaan terbesar pundi-pundi harta mereka.
Wismail Grup tidak terlalu sering bekerja sama dengan VOA Grup. Namun Djati sudah kenal CEO dari VOA yang bernama Harrisandi, yang adalah ayah dari Johanh, cukup lama.
Setelah menunggu, dengan waktu yang tidak umum untuk sekedar cari parkir, kami bertiga mulai berjalan menuju lokasi pergelaran acara. Lokasinya mudah untuk dicari karena mayoritas arus manusia yang ada di gedung ini menuju arah yang sama.
Terutama jenis-jenis yang berpenampilan maksimal dandanannya. Para manusia dengan kaos atau kemeja dipadu celana jeans dengan wajah mengkilat berpeluh sudah pasti staf yang sedang bekerja.
Kami baru menemukan lokasi acara di tempat yang sangat luas dengan panggung yang berefek cahaya indah, mirip yang terlihat di televisi untuk menayangkan acara 'Countrys Idol'.
Di dalam ruangan banyak wajah-wajah rupawan yang sebagian besar adalah artis asuhan VOA Grup. Bussinessman yang wajahnya kerap menghiasi majalah & koran juga tak kalah jumlahnya melakukan kegiatannya sendiri-sendiri menikmati pesta.
Melihat begitu banyak manusia dalam satu ruangan besar seperti ini masih saja membuatku tak nyaman. Padahal sudah bertahun-tahun aku bergabung dengan Wismail Grup & sering menghadiri acara. Rasa pening akibat cahaya lampu yang terlalu terang & keramaian yang tidak perlu sering membuat perutku bagai diaduk.
"Kika?!" ada suara seorang wanita dengan intonasi antara memastikan identitasku sekaligus memanggil.
Aku menoleh ke arahnya & mendapati Luna Wei yang masih tetap menawan seperti yang kuingat. Terutama dengan mini backless dress putih, make up berlipstik ombre merah merona & tatanan rambut yang pasti buah seni sebuah salon ternama, membuatnya semakin menyilaukan.
"Sudah lama ya kita tak bertemu. Wah, kamu datang bersama 2 laki-laki keren." katanya tak malu-malu memuji sambil memandang Irza & Handa yang berdiri mengapitku.
Irza & Handa memberikan respon berupa senyuman yang bagiku mirip senyum bisnis. Aku sebenarnya senang bertemu dengan Luna setelah sekian lama. Tapi entah kenapa aku tak ingin kecantikannya membuatku jadi tak kasat mata begini.
"Ini kakakku Irza & sekertaris kami Handa." aku memperkenalkan bergantian. Luna menyalami satu per satu kawananku dengan senyum tercantiknya.
"Saya sudah dengar tentang anda dari Kika. Tapi dia tak pernah bilang bahwa anda secantik ini." Handa tiba-tiba meluncurkan kalimat maut dengan wajah tersenyum seolah kata-katanya barusan adalah hal yang lumrah dikatakan. Selumrah berkata bahwa matahari terbit dari ufuk timur.
Aku memandangnya dengan tatapan tak tergambarkan karena seingatku baru kali ini aku menyaksikan cara Handa mendekati wanita.
Luna tersipu mendengarnya, "Terima kasih banyak.." ia menanggapi seolah sudah biasa seseorang memuji penampilannya.
"Kika kita berpencar juga tak apa-apa. Kamu nikmati acara dengan temanmu saja. Biar aku & Handa mencari beberapa klien yang sudah kami ajak janjian di sini." Irza mengambil keputusan.
"Maaf ya Nona Luna. Kami permisi dulu." Irza berpamitan pada Luna & bersama Handa langsung menghilang di keramaian.
Ketika sudah tinggal kami berdua saja, Luna membawaku ke meja minuman yang terletak berjajar bersama menu-menu lezat di pinggir ruangan. Kemudian kami mencari tempat duduk yang nyaman untuk menikmati penampilan penyanyi-penyanyi asuhan VOA.
Kursi & sofa yang nyaman disediakan di beberapa tempat strategis yang lebih tinggi dari lantai acara utama, sehingga meskipun sedang duduk bisa menikmati hiburan panggung.
"Kak Luna.. Tahu dimana Kak Johanh?" Aku bertanya pada wanita yang nampaknya sudah berada beberapa menit lebih lama menikmati pesta dibandingkan aku.
Luna menoleh kiri & kanan bergantian, "Tadi 15 menit lalu aku melihat dia di area sini tapi kelihatannya dia sudah pindah tempat deh. Maklum, yang punya acara kan harus keliling-keliling juga."
Luna menikmati white wine di tangan kanannya & menikmati canape udang di genggaman kirinya. Setelahnya ia menghela nafas yang panjang. Ia memandang panggung yang ramai dengan tatapan setengah bosan.
"Kak Luna datang sendirian?"
"Enggak kok." Luna tersenyum kecil padaku. Nampaknya ia sedikit sungkan wajah bosannya terlihat olehku.
"Aku datang bersama pamanku & kita berpencar karena dia mau bicara dengan beberapa rekan bisnisnya. Heran deh, padahal ini kan di pesta. Tapi masih aja ngobrolin pekerjaan. Nggak pamanku, nggak kakakmu.." Kini ucapan Luna mirip orang curhat.
Aku memberinya senyum yang terasa agak maksa karena tak tahu harus mengomentari apa, meskipun aku paham maksud ucapannya. Kemudian sesuatu terlintas dipikiranku.
"Kak Masrur juga datang ke sini?"
Luna meneguk minumannya sebelum menjawab, "Kata dia sih bakal datang." jawabnya singkat lalu disambung dengan menghabiskan seluruh tetes dalam gelas kacanya.
"Kamu nggak minum alkohol? "
Kepalaku menggeleng kecil dengan tangan sedikit terangkat tegak di dada.
"Aku nggak kuat alkohol. Pernah aku makan bourbon chocolate yang dibawa papaku dari Netherlands. Hasilnya kepalaku berputar & jalan zig zag sempoyongan menuju toilet sebelum kumuntahkan." ceritaku membuat Luna tergelak.
Aku & Luna sejenak tak mengobrol dengan mata terpaku ke arah panggung. Seorang penyanyi yang usianya seumuran Mila menyanyikan lagu jazz dengan syahdunya.
Di sudut mataku aku melihat Luna nampak terhanyut dengan lirik & nada lagu tersebut. Kelihatannya mood Luna sedang dalam kondisi yang agak down saat datang kemari.
Apakah karena ada masalah keluarga?
Atau pekerjaannya?
Apakah mungkin karena Masrur?
"Luna, rupanya kamu di sini.." suara seorang bapak-bapak yang mendekati kami memasuki area pembicaraanku & Luna.
Luna menoleh ke arah suara tersebut & mendapati orang yang kelihatannya adalah Paman yang tadi ia ceritakan datang bersamanya ke acara ini.
"Ada apa Paman?" Luna mendekati orang yang kelihatannya masih saudaranya tersebut.
Aku yang merasa obrolan mereka tak ada hubungannya denganku mencoba menyibukkan diri dengan menikmati acara & hidangan yang kubawa.
"Tolong hubungi driver, kita pulang setengah jam lagi." kata si paman.
"Kok cepat sekali?" Luna memprotes. Berlawanan dengan curhatan bosannya tadi.
"Besok paman masih ada meeting. Kamu juga ada perlu sama ibumu kan?" Si paman memberikan alasan untuk meredam protes keponakannya itu.
"Yaah.. Padahal aku sudah nemu partner pesta niih.." Sungutnya.
Kelihatannya yang dimaksud Luna partner pesta adalah aku. Terbukti dengan dirangkulnya bahuku dengan kedua tangan putih mulusnya yang tak terbungkus lengan baju.
"Oh iya, aku belum kenalin ya? Ini Kika temanku." Luna kini memperkenalkanku pada pamannya.
Merasa bahwa aku mulai diajak berbincang 3 arah, mau tak mau aku harus menanggapinya meskipun gugup.
"Selamat malam. Saya Kika temannya Kak Luna." kuharap salamku terlihat normal & tak menunjukkan kegugupanku. Kelihatannya aku gugup karena takut mendapat penilaian tidak bagus di mata keluarga Luna yang cukup kuhormati sebagai wanita karir yang lebih senior.
Tidak langsung membalas salamku, pamannya Luna nampak seperti mengingat sesuatu sambil memandangku. "Kika? Kamu Kika Wismail kan?" katanya setengah memastikan.
"Eh.. Iya.. Itu saya.." aku melirik Luna & bergantian ke arah pamannya agak bingung.
Pamannya Luna tertawa khas bapak-bapak paruh baya yang nge-bass & berwibawa.
"Paman baru tahu kalau kamu berteman dengan Kika, Lun. Tahu gitu, paman minta dikenalin dari kemarin-kemarin."
"Engg... Paman tahu saya??" aku bertanya yang kelihatannya merupakan pertanyaan nggak berbobot. Namun aku perlu tahu kenapa dengan reaksi berlebihan pamannya si Luna ini.
"Ya jelas tahu dong. Semua penyuka gadget canggih di negara ini pasti tahu nama Kika Wismail, orang di belakang layar di balik kesuksesan Wiphone. Yang digadang-gadang sebagai versi perempuannya 'Steve Jobs'."
Pamannya Luna menjelaskan dengan semangat. Luna yang baru mengetahui fakta-fakta yang diucapkan pamannya nampak terkejut sekaligus kagum. Bibirnya membentuk gestur 'wow' sambil memandangku tak percaya.
Mendapat pujian dadakan begitu membuatku melambung. Namun karena tak tahu harus berkomentar apa agar tak terlihat bagai orang sombong aku cuma tertawa kecil sambil sedikit membungkuk nerterima kasih.
"Syukurlah kalau saya dinilai baik di mata pamannya Luna..."
"Saya Victor Sun, panggil saja Paman Sun!" Pamannya Luna kelihatannya baru ingat kalau belum memperkenalkan diri. Ia membuka dompetnya & mengeluarkan semacam kartu nama yang kemudian diserahkannya padaku.
"Saya dari Tiger Grup. Semoga suatu saat kita bisa bekerja sama."
Paman Sun & Tiger Grup... Butuh waktu agak lama bagi otakku memproses bahwa kedua nama itu cukup berkaitan dengan liku-liku kejadian Wismail Grup.
Hingga kusadari bahwa Pamannya Luna ini adalah salah satu orang yang diwanti-wanti oleh Johanh ketika di acara amal di Gedung Pancasila. Sekaligus pemilik gedung tempat bernanung para mantan eksekutif Wismail Grup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Die-din
handa kok gayanya gentleman bgt 😚
2020-05-15
1