"Kika.. Mungkin akan berat tapi ada sebagian pekerjaan Papa yang harus kamu tanggung supaya perusahaan tetap berjalan dengan baik."
Irza & aku berdiskusi tentang absennya Djati sebagai pemimpin utama Wismail Grup ke depannya sampai waktu yang tak bisa ditentukan.
"Mungkin kamu juga akan dapat banyak jadwal bussiness trip jadi siapkan staminamu. Jangan sampai kamu ikut sakit seperti papa."
Aku mengangguk atas strategi Irza. Kami mengadakan meeting non formal di rumah sakit sambil menunggu datangnya Mila di ruang tunggu UGD.
Kelihatannya jobdesk-ku akan semakin banyak tapi aku tahu tugas-tugas sulit milik Djati ditanggung sendiri oleh Irza & Handa. Menyisakan yang relatif mudah untukku. Jika karena ini saja aku mengeluh, bisa-bisa kredibilitasku dipertanyakan olehnya.
"Bagaimana dengan Handa? Apa dia masih mendampingiku sebagai support?"
Irza berpikir sejenak, menimbang yang terbaik. "Untuk sementara sampai kamu terbiasa dengan ritme barumu Handa akan menemanimu saat kamu bussiness trip. Hitung-hitung dia bisa double job sebagai bodyguardmu."
Aku berdehem kecil saat Irza bilang bahwa Handa bisa jadi bodyguardku. Dia berpikir begitu karena masih belum tahu kenyataannya bahwa Handa justru bisa masuk kategori dimana aku justru harus memperbanyak bodyguard saat ada Handa.
Namun rahasia tersebut tak ingin kubocorkan pada Irza mengingat situasi di Wismail Grup semakin rumit.
"Aku mengerti kak. Kalau kakak perlu bantuanku atau Handa jangan ragu untuk meminta. Ini demi papa juga." kataku menambahkan untuk menutup meeting strategi singkat kami.
Irza menepuk kepalaku dengan senyum simpul yang menenangkan. Seolah ingin berkata bahwa kami pasti bisa melaluinya bersama. Beberapa menit kemudia Mila datang setelah menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit.
Irza bersi keras untuk berada di rumah sakit sementara untuk menemani ayahnya. Karena setelahnya ia berencana kembali lagi ke kantor untuk memastikan jadwal Djati yang harus dia cover. Memaksanya untuk beristirahat di rumah, yang sebenarnya apartemen Handa, adalah hal yang pasti akan ditolaknya. Irza berkesimpulan bahwa tidur di sofa kantor pun sudah cukup.
Sedangkan Mila memutuskan kembali ke rumah sebentar untuk menyiapkan keperluannya & Djati selama di rumah sakit. Karena dia merasa dalam waktu dekat Djati akan dipindah ke ruang pasien & mengharuskannya menginap menemani suaminya di rawat inap.
Sempat berpikir untuk menemani Mila tapi Irza menyuruhku untuk tetap berada di apartemen Handa dengan alasan keamanan karena teror pada keluarga Wismail yang meskipun mereda tapi masih ditakutkan muncul lagi saat kami sedang lengah. Seperti itulah pertemuan keluarga utama Wismail, yang sudah lama tidak terjadi, ini disudahi.
.
.
.
Aku berada di mobil APV bersama Handa & bodyguard yang merangkap driver. Mobil yang sebelumnya saat ke rumah sakit mengikuti kami sudah tidak ada lagi karena akan digunakan Irza kembali ke kantor Wismail.
Ketika kami berdua sudah berada dalam apartemen aku mengajak Handa untuk berbicara serius mengenai pekerjaan di ruang tengah. Aku menjelaskan perencanaan yang sudah kusepakati dengan Irza, tentang pembagian workload sepeninggalan Djati, pada Handa. Handa mendengarkan penjelasanku dengan cermat & serius.
"...begitulah... Apakah ada yang ditanyakan?" aku memberi ruang bertanya pada Handa selesai kujelaskan garis besarnya.
Dari matanya bisa kulihat Handa sedang berpikir. "Tidak ada." jawabnya seperti yang telah kuduga.
"Namun sepertinya ada hal yang perlu aku beri tahu pada nona.."
Sekarang sepertinya Handa yang akan memberi sebuah berita penting padaku.
Handa menghela nafas agak panjang lalu melanjutkan, "Ini sebenarnya rahasia. Baru Pak Djati, Irza & saya saja yang tahu."
Pembukaan Handa ini membuatku penasaran sekaligus merinding membayangkan bahwa ada rahasia di antara mereka bertiga, para karakter penting di Wismail Grup. Bahkan tak ada eksekutif lain yang tahu. Dan rahasia itu akan segera dibocorkan padaku.
"Penyelidikan kepolisian mengenai alasan jatuhnya saham Wismail Grup mulai menemukan sekelumit petunjuk."
"Mereka meyakini penyebab internal itu akibat adanya penyelundupan ilegal atas nama Wismail Grup melalui sebuah firma yang didirikan di Luar Negri." Handa memulai dengan kalimat-kalimat yang bahkan tak terbayangkan olehku.
"Penyelundupan?! Kok bisa??" tanyaku meminta kelanjutan penjelasan.
"Siapa otak dibalik penyelundupan ini & apa hubungannya dengan Wismail Grup masih belum diketahui. Namun ada kemungkinan mulusnya praktik ini mendapat bantuan dari pihak luar yang juga memiliki kekuasaan."
Handa membenarkan posisi duduknya.
"Namun kecurigaanku di internal ada pada area eksekutif kita."
Tuduhan Handa yang bersifat hipotesa membuatku bergidik merasa tak aman. Bagiku para eksekutif sebagian besar adalah orang-orang kepercayaan Djati yang menjadi tulang punggung Wismail Grup.
Mengetahui bahwa pelakunya kemungkinan ada di antara mereka membuatku tak tahu harus mempercayai siapa lagi. "Memangnya apa yang diselundupkan?" aku bertanya ke area lain berusaha mencari tahu lebih dalam.
"Uranium." jawab Handa singkat.
Aku terpekik mendengar Handa yang jawabannya semakin lama semakin mengerikan bagi telingaku. Karena kusadar bahwa Uranium bukan cuma SDA yang jual belinya dibatasi oleh negara tapi juga ranah internasional.
"Memangnya Wismail Grup punya sektor di bidang pertambangan Uranium? Bagaimana penyelundupan itu membuat saham kita jatuh bebas?" tanyaku.
"Wismail Grup punya area ekspor-impor bahan tambang yang luas. Dugaannya di situlah mereka melakukan transaksi ilegal."
"Mereka membeli Uranium dari penambang illegal lokal. Lalu menjualnya ke pasar bebas melalui firma yang mengatasnamakan Wismail Grup."
"Tidak sembarang orang bisa membeli Uranium. Nampaknya customer penyelundup ini adalah orang yang sangat berkuasa."
"Apesnya, ada suatu hal yang membuat customer ini marah besar sehingga deal mereka batal. Saking marahnya, si customer melakukan sesuatu yang membuat firma ilegal itu bankrut sebankrut-bankrutnya hingga menyeret nilai Grup Wismail yang lain."
Handa menghela nafas panjang sekali lagi, seolah nafasnya habis untuk penjelasan super panjang tadi.
Mencerna cerita Handa membuatku panas dingin diliputi kecemasan. Aku terdiam & tak tahu harus berbuat apa untuk menguraikan permasalah Wismail Grup yang makin di luar kemampuanku.
Pantas saja Djati sampai jatuh sakit seperti itu. Mungkin ia sudah lelah fisik ditambah dengan psikologis yang terus disesakan oleh keraguan pada rekan sejawat yang selama ini dipercayainya. Dalam lamunanku yang tanpa arah ini aku memandang Handa.
"Handa... Kamu nggak akan mengkhianati kami kan?" Aku bertanya tanpa pikir panjang.
Pria itu nampak tak menyangka kutanyai seperti itu. Ia sedikit menerawang. "Saya mengenal Pak Djati bahkan sebelum beliau menikah dengan Nyonya Wismail yang sekarang."
"Keluarga Wismail sudah seperti keluargaku sendiri. Nona cukup percaya itu saja." senyumnya tersungging simpul.
"Apakah yang namanya keluarga itu memotret diam-diam, mencetaknya dalam ukuran tidak lumrah lalu dipasang di dinding kamar tidur juga?" aku menyentil. Gimana-gimana Handa harus tau bahwa habitnya itu tidak sehat.
Okelah kalau aku adalah anggota keluarga Wismail Favoritnya. Tapi berlebihan kalau harus memasang wajahku segitu banyaknya di sebelahnya tidur setiap malam.
Sinar mata Handa berubah. "Saya paham kalau Nona tidak nyaman. Kalau begitu mulai sekarang saya akan meminta izin dulu sebelum memotret."
"Mungkin terdengar seperti pembelaan, tapi saya tidak pernah memotret Nona dalam kondisi yang memalukan. Bahkan saat kita masih berada di rumah utama Wismail" sambungnya.
Apa?? Jadi dia memfoto-foto ku bahkan sejak dia masih menjadi Butler keluarga kami?? Seingatku dia sudah tidak menjabat sebagai Butler saat aku menginjak kelas 2 SMA.
Lalu kondisi memalukan yang dimaksud itu apa? Apakah dia punya kesempatan melihat tapi tidak memotret? FBI & kak Seto harus tahu perkara ini. 😁
Kuulurkan tanganku, "Aku mau lihat gallery ponselmu. Biar aku yang tentukan foto mana yang boleh & mana yang tidak."
Handa dengan senyum yang tak bergerak membuka ponselnya, memasukkan PIN code lalu menyerahkannya padaku. Wallpaper yang sama seperti yang kulihat di malam itu muncul lagi. Kalau berdasarkan baju yang kupakai kelihatannya ini saat aku tahun kedua kuliah.
"Kenapa foto ini jadi wallpaper?" tanyaku penasaran.
Handa ikut melihat wallpaper sebentar lalu mulai menjelaskan. "Nona ingat di ulang tahun ke-20 anda? Saat itu saya memberi kado berupa lip tint."
"Di foto itu anda sedang memakai lip tint yang saya hadiahkan."
Aku memandang lebih lekat di fotoku yang terpampang sebagai wallpaper. Terlihat warna merah dengan tone orange mekar di bibirku bagaikan bunga. Selanjutnya jariku menjelajah isi gallery ponsel Handa, sesuai tujuan awal.
Gila! Bahkan fotoku dimasukkan folder tersendiri yang jumlahnya mencapai 14477 items. Aku memandang Handa sejenak dengan perasaan campur aduk.
Yang bersangkutan masih tetap tersenyum poker face. Terlihat menyebalkan di mataku.
Secara acak kulihat foto-foto yang berisi wajahku, karena tidak mungkin kulihat satu per satu. Yang terbaru adalah foto di malam acara amal Menteri Perekonomian. Foto itu diambil saat aku berada di teras Wismail Manor hendak menuju mobil. Posisiku yang setengah membelakangi kamera menunjukkan garis leher yang hampir tak pernah kulihat karena sulit untuk melihat bagian itu di cermin.
"Kau selalu terlihat sibuk dengan ponselmu. Kukira karena urusan kerja. Ternyata.." sindirku.
"Maafkan saya.. " ucapnya tanpa terlihat sebersit rasa bersalah.
"Kalau memang menyesal, hentikanlah kebiasan memotretku!" Aku memprotes.
"Maafkan saya.. " ucapnya bagai beo. Kali ini baru ada sedikit rasa sesal yang menyebalkan.
Folder yang memuat fotoku kuhapus tanpa ampun. Bahkan aku menjelajah hingga aplikasi dokumen & menghapus sisa-sisa recycle bin & cache yang berhubungan.
Bisa kurasakan nafas Handa setengah tertahan saat aku melakukannya. Ponsel yang kini memory nya longgar itu kukembalikan pada yang berhak.
"Nona ternyata bisa tega ya.." katanya masih dengan senyum yang sama. Tapi bisa terasa ada rasa kehilangan darinya. Ia memegang ponselnya yang seolah habis melalui rukyah dengan teramat hati-hati.
Aku mendengus. "Bersyukurlah aku masih mentoleransi foto wallpaper nya!"
"Aku akan jujur bahwa aku terganggu dengan perilaku foto candid & mukaku dipajang masal seperti itu. Tapi..." aku memberi jeda sebentar.
"Tapi aku tahu kau tidak akan melakukan sesuatu yang tidak baik. Kita juga sudah belasan tahun kenal & akrab. Bagiku Handa sudah menjadi bagian dari keluarga." mataku memandangnya tegas.
Handa membalas mataku sama seriusnya. Senyumnya ia lepaskan sebagai bentuk menghargaiku berbicara. "Terima kasih... " ucapnya pelan.
"Tapi tetap saja aku nggak suka fetish 'Nona Besar' mu terhadapku." Kukatakan dengan cepat. Menghilangkan momentum ucapan terima kasihnya.
"F-fetish??!! Ini bukan seperti itu." ucapnya malu. "Aku memanggil anda Nona bukan atas dasar kesenangan pribadi seperti itu."
"Saya sudah bilang sebelumnya. Itu karena sudah terbiasa. Saya cuma merasa aneh kalau tiba-tiba memanggil anda hanya dengan nama saja." kilahnya.
Kupandang pria bongsor itu dengan tatapan menyelidik. Mungkin dia pikir aku sebodoh & senaif apa hingga berharap aku mempercayai alasan tak jelas begitu.
Pasti ada sebab lain, tapi mendesaknya terus-terusan seperti ini akan sia-sia saja. Kali ini akan kubiarkan saja dulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Ree.Pand
itu fotocopy ya kak.. Muehehe
2021-02-26
1
just.Ryn
yang ini juga agak berubah?
2020-05-13
1
Die-din
huahaha 14477 ada apa dengan angk itu?
gila. maniak gila🤣
2020-05-11
1