Kika 17

Mata yang daritadi tertutup itu perlahan membuka dengan hati-hati. Meski begitu tak terlalu lebar, ia mampu menjaganya untuk memandang sekitarnya.

Setelah beberapa kali kedipan tak pasti ia baru bisa benar-benar mengenali objek di dekatnya yang bisa dia ajak bertukar sapa.

"Kika.. Sudah dari tadi di sini?" ucap Djati yang kelihatannya membutuhkan tenaga ekstra hanya untuk mengenali & memanggil namaku.

Aku mendekatkan dudukku, yang awalnya di sofa, hingga ke samping dekat tempatnya merebahkan diri.

"Barusan aja Kika datang, Pa."

"Gimana kondisi Papa? Udah enakan?" pertanyaan klise kulontarkan.

Djati yang sudah 3 hari ini sadar dari kolapsnya nampak lemah & tak berdaya. Hatiku terasa sedih melihatnya.

"Papa ya gini ini.. Pegel di suruh tidur terus..." ucapnya sambil tersenyum yang sama lemahnya dengan caranya berbicara.

"Mamamu mana?"

Kini ia mencari istrinya yang selama ini tak jauh dari posisinya terbaring di ruang rawat pasien VVVIP.

"Mama lagi ke bagian laboratorium. Katanya ada penjelasan dari dokter mengenai hasil tes darah Papa."

Aku membenarkan posisi tempat tidur Djati dengan membuatnya agak tegak sesuai keinginannya.

Djati menghela nafas panjang dengan mata terpejam. "Irza masih di kantor ya?"

Aku mengangguk menjawab pertanyaan ayah tiriku.

"Seandainya Papa dibolehin bawa pekerjaan di sini pasti bebannya jadi lebih ringan."

"Ya nggak boleh dong, Pa. Papa kan jadi masuk rumah sakit gara-gara kebanyakan kerja. Sekarang sampai sehat, Papa harus istirahat total." perintahku dengan nada bossy yang lembut.

Djati tersenyum geli sesaat.

".. Papa ngerti. Tapi Irza & kamu belum Ada 2 tahun Kalian bekerja di kantor utama. Jadi beban kalian di kantor..."

Bahkan sebelum Djati menyelesaikan kalimatnya, aku langsung memotong.

"Meskipun begitu, Kak Irza sudah banyak pengalaman kerja di US kan?"

"Meskipun tahun-tahun pertamanya dia membagi waktunya dengan pendidikan magisternya. Tapi tetap tak bisa disepelekan."

"Kika juga sebelum wisuda sempat kerja praktek di 2 perusahaan level internasional, meskipun cuma 2 bulan tapi cukup untuk nggak membuatku kagok saat terjun di dunia kerja."

kujelaskan segala hal yang sekiranya bisa mengurangi kekhawatirannya.

"Papa tenang aja. Sejauh ini kita bisa handle kok."

"Yah ada untungnya Om Lubi & beberapa eksekutif pergi dari Wismail Grup. Jadinya yang kita urusi berkurang banyak."

Kelihatannya aku salah bicara. Mendengarku membahas perkara para eksekutif yang ia percayai hengkang dari kerajaannya membuatnya murung. Matanya menerawang memandang selimut yang membalut tubuhnya.

Aku & Irza sepakat untuk tidak merahasiakan perkara perginya sebagian eksekutif agar Djati memahami situasi Wismail Grup yang masih berada dalam kepemimpinannya. Tapi ternyata jadi senjata makan tuan. Djati semakin mengkhawatirkan Wismail Grup yang kini jauh dari jangkauannya sebagai pesakitan.

"PAPA." aku memanggilnya untuk membuyarkan lamunannya & mencari atensi padaku. Djati memandangku dengan tatapan sedih yang ditahannya.

"2 bulan lagi Wikid launching lho." aku mengubah jadi topik yang lebih menyenangkan.

"Kika & Kakak optimis bahwa gadget yang ini pasti lebih booming daripada Seri Wiphone reguler. Pasar di Tiongkok & Eropa bahkan sudah pre order 3 kali lipat lebih banyak dari seri lain setelah melihat teaser produknya di pameran teknologi kemarin."

"Kika jamin setelahnya Wismail Grup pasti jadi lebih kuat. Jadi papa jangan khawatir & istirahat yang tenang." aku menyerocos memberikan Djati kabar-kabar menyenangkan agar ia bisa lebih tenang.

Untunglah ekspektasiku terkabul. Mata Djati kini berbinar & wajahnya jadi cerah mendengar berita tentang Wikid.

"Jadi papa jangan sampai sakit lagi kayak kemaren ya.." tanpa kuasa mataku berkaca-kaca.

"Waktu dengar Papa jatuh & masuk rumah sakit Kika takut sekali Pa..." suaraku terdengar serak & tercekat. Selanjutnya setetes air mata jatuh bebas dari masing-masing mataku.

Djati memandangku dengan tatapan penuh emosi yang sama namun aku yakin alasannya untuk kali ini berbeda dari sekian menit lalu. Ia mengulurkan kedua tangannya untuk menggenggam tanganku.

Aku membenamkan wajahku ke sepasang tangan yang saling bertaut penuh emosi & rasa syukur ini.

"Papa merasa beruntung sekali punya kamu & kakakmu."

Djati mengusap kepalaku dengan lembut.

"Ternyata keputusan Papa saat mengangkatmu di Wismail Grup waktu itu adalah keputusan krusial yang tepat. Ternyata insting Papa dalam menilai orang belum karatan." kini Djati tersenyum lebih ceria.

Aku yang sudah mengangkat kepalaku & mengusap air mataku jadi ikut tersenyum dibuatnya.

"Papa.." suara panggilan terdengar dari pintu yang menghubungkan kamar pasien dengan koridor rumah sakit. Suara itu membuat jantungku sedikit melompat dibuatnya.

Pemilik suara itu tak lain adalah Irza yang tampangnya lelah sepulang dari kantor pusat menyempatkan diri menjenguk Djati. Irza setengah berjalan cepat menghampiri Djati langsung menyalami ayahnya yang memandangnya antusias dengan kondisi lemahnya.

"Baru aja kita bicarakan. Kamu datang, Za." Djati memandang mata Irza dalam.

Irza memandang Djati & aku bergantian agak bingung serta curiga.

"Haha.. Bukan perkara yang aneh-aneh. Kami membicarakan tentang Wismail Grup yang kamu pegang kok." lanjut Djati cepat.

"Ah ya.. Perkara itu Papa nggak perlu khawatir. Irza sudah kendalikan semuanya kok. Papa terima beresnya aja." Irza meyakinkan ayahnya dengan nada mantap.

"Lagipula berkat Kika, pekerjaanku jadi tak seberat yang kuduga sebelumnya." Irza memberikan pandangannya padaku & tersenyum berterima kasih.

Aku cuma diam saja membalas dengan senyum segaris & menunduk supaya senyumku tak kelihatan aneh di matanya & Djati.

Kejadian di Hotel Twin Season seolah bagaikan mimpi di siang bolong. Irza bersikap biasa saja seakan lupa apa yang terjadi & tidak membahasnya. Jadi tak bisa diketahui apakah ia lupa beneran atau mendiamkannya.

Hanya saja aku yang tak bisa menyembunyikan kegalauanku perkara ini sering jadi pencetus kekakuan di antara kami. Hal yang menjadi sumber ketaknyamanan jika aku & Irza sedang berdua saja.

"Kalau kamu bilang gitu. Papa percaya saja deh.." Djati mengangguk & tersenyum lembut memandangi putra kandung satu-satunya tersebut.

"Teror juga sudah berhenti. Papa rasa situasi saat ini patut dijadikan selebrasi tersendiri." katanya dengan lebih ceria.

"Iya, pa. Apalagi kepolisian juga tak ada halangan berarti dalam melakukan penyelidikan di area Wismail. Meskipun selanjutnya mereka akan memulai penyelidikan di bussiness unit bekas Wismail yang dibawahi oleh Om Lubi Cs." Irza memberikan informasi pada ayahnya yang juga baru ini kuketahui.

Djati mengangguk pelan dengan mata menerawang, "Sejujurnya Papa sedikit berharap bahwa kasus penyelundupan ini cuma kesalahan atau gosip biasa. Tapi kalau memang terjadi yah sudahlah..."

Pemimpin Wismail Grup ini nampak seperti ada kesan menyalahkan diri sendiri mengapa bisa terjadi hal seperti ini. Ketika Wismail Grup berada dalam pengawasannya. Baginya, kesalahan bawahan adalah kesalahan atasan juga.

"Semoga ke depannya tidak terjadi hal-hal buruk lagi. Papa cuma ingin hidup tenang terutama setelah Irza mengambil alih posisi CEO."

"Papa setelah sembuh ingin langsung pensiun?" tanya Irza.

Djati menaikkan bahunya sedikit, "Lihat dulu saja situasinya. Kalau memang Papa sedang dibutuhkan ya pensiunnya ditunda." Djati tersenyum menjawabnya.

"Yang pasti setelah pensiun, Papa ingin keliling dunia bersama Mamamu.." mata Djati mengedip padaku.

Irza terlihat agak sebal mendengar Djati membawa-bawa Mila dalam pembicaraan mereka. Ia hanya menghela nafas panjang yang pelan karena tak ingin ketidaksukaannya mengganggu suasana hati Djati yang sedang riang.

Terpopuler

Comments

Die-din

Die-din

kok kayaknya singkat bgt ini babnya

2020-05-15

0

lihat semua
Episodes
1 Prologue
2 Kika 1
3 Kika 2
4 Kika 3
5 Kika 4
6 Kika 5
7 Kika 6
8 Kika 7
9 Kika 8
10 Kika 9
11 Kika 10
12 Kika 11
13 Kika 12
14 Kika 13
15 Kika 14
16 Kika 15
17 Kika 16
18 Kika 17
19 Kika 18
20 Kika 19
21 Kika 20
22 Kika 21
23 Kika 22
24 Kika 23
25 Kika 24
26 Kika 25
27 Kika 26
28 Kika 27
29 Irza 1
30 Kika 28
31 Kika 29
32 Kika 30
33 Kika 31
34 Kika 32
35 Handa 1
36 Johanh 1
37 Kika 33
38 Kika 34
39 Handa 2
40 Handa 3
41 Handa 4
42 Handa 5
43 Handa 6
44 Johanh 2
45 Handa 7
46 Kika 35
47 Irza 2
48 Irza 3
49 Irza 4
50 Irza 5
51 Irza 6
52 Irza 7
53 Irza 8
54 Visual of Characters
55 Irza 9
56 Kika 36
57 Kika 37
58 Handa 8
59 Johanh 3
60 Johanh 4
61 Kika 38
62 Kika 39
63 Kika 40
64 Kika 41
65 Kika 42
66 Kika 43
67 Kika 44
68 Handa 9
69 Kika 45
70 Kika 46
71 Kika 47
72 Kika 48
73 Kika 49
74 Kika 50
75 Irza 10
76 Irza 11
77 Handa 10
78 Handa 11
79 Kika 51
80 Irza 12
81 Handa 12
82 Irza 13
83 Irza 14
84 Kika 52
85 Kika 53
86 Kika 54
87 Kika 55
88 Kika 56
89 Irza 15
90 Johanh 5
91 Johanh 6
92 Johanh 7
93 Johanh 8
94 Visual of Character 2
95 Kika 57
96 Kika 58
97 Irza 16
98 Irza 17
99 Irza 18
100 Johanh 9
101 Kika 59
102 Kika 60
103 Kika 61
104 Kika 62
105 Johanh 10
106 Johanh 11
107 Johanh 12
108 Kika 63
109 Kika 64
110 Kika 65
111 Kika 66
112 Johanh 13
113 Johanh 14
114 Kika 67
115 Irza 19
116 Irza 20
117 Irza 21
118 Irza 22
119 Irza 23
120 Johanh 15
121 Handa 13
122 Irza 24
123 Kika 68
124 Kika 69
125 Johanh 16
126 Kika 70
127 Johanh 17
128 Johanh 18
129 Johanh 19
130 Kika 71
131 Kika 72
132 Irza 25
133 Irza 26
134 Irza 27
135 Irza 28
136 Irza 29
137 Irza 30
138 Irza 31
139 Irza 32
140 Johanh 20
141 Kika 73
142 Kika 74
143 Kika 75
144 VISUAL TIME AGAIN
145 Handa 14
146 Handa 15
147 Episode Gabut
148 Irza 33
149 Julia 1
150 Julia 2
151 Julia 3
152 Irza 34
153 Irza 35
154 Irza 36
155 Julia 4
156 Julia 5
157 Julia 6
158 Julia 7
159 Pengumuman
160 Kika 76
161 Kika 77
162 Kika 78
163 Kika 79
164 Kika 80
165 Became a Lady
166 End of The End
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Prologue
2
Kika 1
3
Kika 2
4
Kika 3
5
Kika 4
6
Kika 5
7
Kika 6
8
Kika 7
9
Kika 8
10
Kika 9
11
Kika 10
12
Kika 11
13
Kika 12
14
Kika 13
15
Kika 14
16
Kika 15
17
Kika 16
18
Kika 17
19
Kika 18
20
Kika 19
21
Kika 20
22
Kika 21
23
Kika 22
24
Kika 23
25
Kika 24
26
Kika 25
27
Kika 26
28
Kika 27
29
Irza 1
30
Kika 28
31
Kika 29
32
Kika 30
33
Kika 31
34
Kika 32
35
Handa 1
36
Johanh 1
37
Kika 33
38
Kika 34
39
Handa 2
40
Handa 3
41
Handa 4
42
Handa 5
43
Handa 6
44
Johanh 2
45
Handa 7
46
Kika 35
47
Irza 2
48
Irza 3
49
Irza 4
50
Irza 5
51
Irza 6
52
Irza 7
53
Irza 8
54
Visual of Characters
55
Irza 9
56
Kika 36
57
Kika 37
58
Handa 8
59
Johanh 3
60
Johanh 4
61
Kika 38
62
Kika 39
63
Kika 40
64
Kika 41
65
Kika 42
66
Kika 43
67
Kika 44
68
Handa 9
69
Kika 45
70
Kika 46
71
Kika 47
72
Kika 48
73
Kika 49
74
Kika 50
75
Irza 10
76
Irza 11
77
Handa 10
78
Handa 11
79
Kika 51
80
Irza 12
81
Handa 12
82
Irza 13
83
Irza 14
84
Kika 52
85
Kika 53
86
Kika 54
87
Kika 55
88
Kika 56
89
Irza 15
90
Johanh 5
91
Johanh 6
92
Johanh 7
93
Johanh 8
94
Visual of Character 2
95
Kika 57
96
Kika 58
97
Irza 16
98
Irza 17
99
Irza 18
100
Johanh 9
101
Kika 59
102
Kika 60
103
Kika 61
104
Kika 62
105
Johanh 10
106
Johanh 11
107
Johanh 12
108
Kika 63
109
Kika 64
110
Kika 65
111
Kika 66
112
Johanh 13
113
Johanh 14
114
Kika 67
115
Irza 19
116
Irza 20
117
Irza 21
118
Irza 22
119
Irza 23
120
Johanh 15
121
Handa 13
122
Irza 24
123
Kika 68
124
Kika 69
125
Johanh 16
126
Kika 70
127
Johanh 17
128
Johanh 18
129
Johanh 19
130
Kika 71
131
Kika 72
132
Irza 25
133
Irza 26
134
Irza 27
135
Irza 28
136
Irza 29
137
Irza 30
138
Irza 31
139
Irza 32
140
Johanh 20
141
Kika 73
142
Kika 74
143
Kika 75
144
VISUAL TIME AGAIN
145
Handa 14
146
Handa 15
147
Episode Gabut
148
Irza 33
149
Julia 1
150
Julia 2
151
Julia 3
152
Irza 34
153
Irza 35
154
Irza 36
155
Julia 4
156
Julia 5
157
Julia 6
158
Julia 7
159
Pengumuman
160
Kika 76
161
Kika 77
162
Kika 78
163
Kika 79
164
Kika 80
165
Became a Lady
166
End of The End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!