Mata yang daritadi tertutup itu perlahan membuka dengan hati-hati. Meski begitu tak terlalu lebar, ia mampu menjaganya untuk memandang sekitarnya.
Setelah beberapa kali kedipan tak pasti ia baru bisa benar-benar mengenali objek di dekatnya yang bisa dia ajak bertukar sapa.
"Kika.. Sudah dari tadi di sini?" ucap Djati yang kelihatannya membutuhkan tenaga ekstra hanya untuk mengenali & memanggil namaku.
Aku mendekatkan dudukku, yang awalnya di sofa, hingga ke samping dekat tempatnya merebahkan diri.
"Barusan aja Kika datang, Pa."
"Gimana kondisi Papa? Udah enakan?" pertanyaan klise kulontarkan.
Djati yang sudah 3 hari ini sadar dari kolapsnya nampak lemah & tak berdaya. Hatiku terasa sedih melihatnya.
"Papa ya gini ini.. Pegel di suruh tidur terus..." ucapnya sambil tersenyum yang sama lemahnya dengan caranya berbicara.
"Mamamu mana?"
Kini ia mencari istrinya yang selama ini tak jauh dari posisinya terbaring di ruang rawat pasien VVVIP.
"Mama lagi ke bagian laboratorium. Katanya ada penjelasan dari dokter mengenai hasil tes darah Papa."
Aku membenarkan posisi tempat tidur Djati dengan membuatnya agak tegak sesuai keinginannya.
Djati menghela nafas panjang dengan mata terpejam. "Irza masih di kantor ya?"
Aku mengangguk menjawab pertanyaan ayah tiriku.
"Seandainya Papa dibolehin bawa pekerjaan di sini pasti bebannya jadi lebih ringan."
"Ya nggak boleh dong, Pa. Papa kan jadi masuk rumah sakit gara-gara kebanyakan kerja. Sekarang sampai sehat, Papa harus istirahat total." perintahku dengan nada bossy yang lembut.
Djati tersenyum geli sesaat.
".. Papa ngerti. Tapi Irza & kamu belum Ada 2 tahun Kalian bekerja di kantor utama. Jadi beban kalian di kantor..."
Bahkan sebelum Djati menyelesaikan kalimatnya, aku langsung memotong.
"Meskipun begitu, Kak Irza sudah banyak pengalaman kerja di US kan?"
"Meskipun tahun-tahun pertamanya dia membagi waktunya dengan pendidikan magisternya. Tapi tetap tak bisa disepelekan."
"Kika juga sebelum wisuda sempat kerja praktek di 2 perusahaan level internasional, meskipun cuma 2 bulan tapi cukup untuk nggak membuatku kagok saat terjun di dunia kerja."
kujelaskan segala hal yang sekiranya bisa mengurangi kekhawatirannya.
"Papa tenang aja. Sejauh ini kita bisa handle kok."
"Yah ada untungnya Om Lubi & beberapa eksekutif pergi dari Wismail Grup. Jadinya yang kita urusi berkurang banyak."
Kelihatannya aku salah bicara. Mendengarku membahas perkara para eksekutif yang ia percayai hengkang dari kerajaannya membuatnya murung. Matanya menerawang memandang selimut yang membalut tubuhnya.
Aku & Irza sepakat untuk tidak merahasiakan perkara perginya sebagian eksekutif agar Djati memahami situasi Wismail Grup yang masih berada dalam kepemimpinannya. Tapi ternyata jadi senjata makan tuan. Djati semakin mengkhawatirkan Wismail Grup yang kini jauh dari jangkauannya sebagai pesakitan.
"PAPA." aku memanggilnya untuk membuyarkan lamunannya & mencari atensi padaku. Djati memandangku dengan tatapan sedih yang ditahannya.
"2 bulan lagi Wikid launching lho." aku mengubah jadi topik yang lebih menyenangkan.
"Kika & Kakak optimis bahwa gadget yang ini pasti lebih booming daripada Seri Wiphone reguler. Pasar di Tiongkok & Eropa bahkan sudah pre order 3 kali lipat lebih banyak dari seri lain setelah melihat teaser produknya di pameran teknologi kemarin."
"Kika jamin setelahnya Wismail Grup pasti jadi lebih kuat. Jadi papa jangan khawatir & istirahat yang tenang." aku menyerocos memberikan Djati kabar-kabar menyenangkan agar ia bisa lebih tenang.
Untunglah ekspektasiku terkabul. Mata Djati kini berbinar & wajahnya jadi cerah mendengar berita tentang Wikid.
"Jadi papa jangan sampai sakit lagi kayak kemaren ya.." tanpa kuasa mataku berkaca-kaca.
"Waktu dengar Papa jatuh & masuk rumah sakit Kika takut sekali Pa..." suaraku terdengar serak & tercekat. Selanjutnya setetes air mata jatuh bebas dari masing-masing mataku.
Djati memandangku dengan tatapan penuh emosi yang sama namun aku yakin alasannya untuk kali ini berbeda dari sekian menit lalu. Ia mengulurkan kedua tangannya untuk menggenggam tanganku.
Aku membenamkan wajahku ke sepasang tangan yang saling bertaut penuh emosi & rasa syukur ini.
"Papa merasa beruntung sekali punya kamu & kakakmu."
Djati mengusap kepalaku dengan lembut.
"Ternyata keputusan Papa saat mengangkatmu di Wismail Grup waktu itu adalah keputusan krusial yang tepat. Ternyata insting Papa dalam menilai orang belum karatan." kini Djati tersenyum lebih ceria.
Aku yang sudah mengangkat kepalaku & mengusap air mataku jadi ikut tersenyum dibuatnya.
"Papa.." suara panggilan terdengar dari pintu yang menghubungkan kamar pasien dengan koridor rumah sakit. Suara itu membuat jantungku sedikit melompat dibuatnya.
Pemilik suara itu tak lain adalah Irza yang tampangnya lelah sepulang dari kantor pusat menyempatkan diri menjenguk Djati. Irza setengah berjalan cepat menghampiri Djati langsung menyalami ayahnya yang memandangnya antusias dengan kondisi lemahnya.
"Baru aja kita bicarakan. Kamu datang, Za." Djati memandang mata Irza dalam.
Irza memandang Djati & aku bergantian agak bingung serta curiga.
"Haha.. Bukan perkara yang aneh-aneh. Kami membicarakan tentang Wismail Grup yang kamu pegang kok." lanjut Djati cepat.
"Ah ya.. Perkara itu Papa nggak perlu khawatir. Irza sudah kendalikan semuanya kok. Papa terima beresnya aja." Irza meyakinkan ayahnya dengan nada mantap.
"Lagipula berkat Kika, pekerjaanku jadi tak seberat yang kuduga sebelumnya." Irza memberikan pandangannya padaku & tersenyum berterima kasih.
Aku cuma diam saja membalas dengan senyum segaris & menunduk supaya senyumku tak kelihatan aneh di matanya & Djati.
Kejadian di Hotel Twin Season seolah bagaikan mimpi di siang bolong. Irza bersikap biasa saja seakan lupa apa yang terjadi & tidak membahasnya. Jadi tak bisa diketahui apakah ia lupa beneran atau mendiamkannya.
Hanya saja aku yang tak bisa menyembunyikan kegalauanku perkara ini sering jadi pencetus kekakuan di antara kami. Hal yang menjadi sumber ketaknyamanan jika aku & Irza sedang berdua saja.
"Kalau kamu bilang gitu. Papa percaya saja deh.." Djati mengangguk & tersenyum lembut memandangi putra kandung satu-satunya tersebut.
"Teror juga sudah berhenti. Papa rasa situasi saat ini patut dijadikan selebrasi tersendiri." katanya dengan lebih ceria.
"Iya, pa. Apalagi kepolisian juga tak ada halangan berarti dalam melakukan penyelidikan di area Wismail. Meskipun selanjutnya mereka akan memulai penyelidikan di bussiness unit bekas Wismail yang dibawahi oleh Om Lubi Cs." Irza memberikan informasi pada ayahnya yang juga baru ini kuketahui.
Djati mengangguk pelan dengan mata menerawang, "Sejujurnya Papa sedikit berharap bahwa kasus penyelundupan ini cuma kesalahan atau gosip biasa. Tapi kalau memang terjadi yah sudahlah..."
Pemimpin Wismail Grup ini nampak seperti ada kesan menyalahkan diri sendiri mengapa bisa terjadi hal seperti ini. Ketika Wismail Grup berada dalam pengawasannya. Baginya, kesalahan bawahan adalah kesalahan atasan juga.
"Semoga ke depannya tidak terjadi hal-hal buruk lagi. Papa cuma ingin hidup tenang terutama setelah Irza mengambil alih posisi CEO."
"Papa setelah sembuh ingin langsung pensiun?" tanya Irza.
Djati menaikkan bahunya sedikit, "Lihat dulu saja situasinya. Kalau memang Papa sedang dibutuhkan ya pensiunnya ditunda." Djati tersenyum menjawabnya.
"Yang pasti setelah pensiun, Papa ingin keliling dunia bersama Mamamu.." mata Djati mengedip padaku.
Irza terlihat agak sebal mendengar Djati membawa-bawa Mila dalam pembicaraan mereka. Ia hanya menghela nafas panjang yang pelan karena tak ingin ketidaksukaannya mengganggu suasana hati Djati yang sedang riang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Die-din
kok kayaknya singkat bgt ini babnya
2020-05-15
0