Kika 4

Memandang langit yang warna kemerahannya perlahan memudar dari kaca mobil membuatku sadar bahwa ini kepulangan kerjaku yang paling dini selama ini.

Biasanya saat aku menaiki mobil yang dikendarai SP sebagai driverku di jendela yang kupandang langitnya sudah berwarna hitam pekat berhiaskan lampu-lampu yang ramai di ibukota yang penuh dengan aktifitas orang bekerja.

Biasanya juga aku duduk di kursi belakang, tapi kali ini aku duduk di passenger seat depan dengan Johanh di sebelahku yang menyetir santai meskipun kondisi jalan padat merayap.

Rok ku terlalu pendek untuk duduk nyaman sehingga kuputuskan untuk menutupi bagian paha yang terbuka dengan tas tangan kerjamu. Mungkin untuk menghilangkan kebosanan Johanh memutar MP3 koleksinya yang mengalunkan lagu-lagu EDM populer saat ini.

“Jadi kita mau kemana?”

Aku membuka pembicaraan.

Johanh hanya mengajakku dinner sambil bertemu teman-temannya tanpa memberi tahu tujuan kami untuk melakukan pertemuan, makanya hal ini membuatku penasaran.

“Kak Johanh nggak bohong kan, mau kenalin aku ke temen-temenmu yang sesama bussinessman?”

Tak kupungkiri kalau ada perasaan curiga dia sengaja berbohong cuma agar aku mau makan malam bersamanya.

Johanh melirikku sambil tetap fokus mengemudi.

“Kita mau dinner ke restoran Italia. Kamu doyan kan, masakan Eropa?”

“Aku sih nggak masalah. Tapi bener kan ini temen-temenmu sesama bussinessman? Bukan sesama playboy?”

Kutekankan kata-kataku dengan pasti supaya dia ingat bahwa yang membuatku tergiur ajakannya bukan perkara makanannya atau pergaulannya.

Johanh tertawa & memberhentikan mobil tepat di depan lampu merah di perempatan jalan besar.

“Ya nggak mungkinlah!”

Dia menoleh dengan memutar badannya ke arahku, tangan kirinya memegang handbrake.

“Bakal lebih repot kalau temen-temen playboyku tertarik sama kamu. Bakal Ada persaingan sengit sampai jotos-jotosan”

Benar kata Johan. Bisa jadi ada aturan tak tertulis di buku catatan para playboy untuk tidak sering mengenalkan perempuan yang sedang diincar dengan para playboy saingan, karena besar kemungkinan akan saling menikung & memperbesar terjadinya kompetisi yang tidak perlu.

Ada sedikit rasa lega karena tidak perlu memasuki pergaulan baru yang nggak penting. Pergaulanku dengan para bussinesman, eksmud & pemimpin perusahaan saat ini jauh lebih penting daripada menambah rekan untuk hura-hura.

Mobil melaju lagi saat lampu menyala hijau sampai 30 menit kemudian Johanh memasuki area parkir di sebuah hotel bintang lima yang terkenal dengan masakan Italianya. Johanh memberikan kunci mobilnya pada petugas hotel & menyentuh punggungku untuk mengarahkan ke lokasi restoran tujuan kami.

“Jo!”

Sebuah panggilan yang menonjol di antara riuh rendah pengunjung hotel menyita perhatian Johanh & aku. Sumber dari suara itu adalah seorang wanita berkulit seperti porselen, berambut ikal coklat dengan bibir merah merona, persona yang merupakan definisi cantik asia timur.

“Long time no see!” sambil berujar bahasa inggris dia memeluk & memberi kecupan pipi pada Johanh. Yang pria juga santai saja menerima peluk & kecupan tersebut sambil dengan santainya merangkul pinggang si wanita porselen itu.

“Kenalin nih, dari Wismail Grup. Kika” Johanh langsung memperkenalkanku pada temannya yang masih dirangkulnya itu dengan bahasa Inggris. “Kika, ini Luna. Dia sudah 3 tahun ini jadi General Manager di The Winter basis Macau.”

Tangannya yang lentik menjabatku lembut namun tegas. Ada debaran rasa kagum di dada mendengar wanita secantik ini orang penting di merk sekaliber The Winter yang merupakan brand clothing line & cosmetics. Aku teringat kalau Mila punya lusinan barang merk itu yang meliputi parfum, dress & sepatu.

Aku meperkenalkan diri dengan bahasa Inggris yang sedikit bergetar karena sedikit tak pede dengan kemampuan speaking-ku, tapi yah terjang aja. Toh dalam pergaulan begini yang penting yang diajak ngomong ngerti.

Luna menyambut perkenalanku dengan senyuman yang aku yakin bisa membuat pria manapun meleleh minta disenyumin lagi.

“Luna Wei. Saya juga senang bertemu denganmu, Kika. Aku bisa bahasa Indonesia kok.”

Kata-kata perkenalannya yang ramah & memakai bahasa yang lebih kukuasai membuat keringat dinginku berkurang.

“Mana dia? Belum datang?”

Johanh bertanya pada Luna. Mungkin perkara teman mereka yang diajak janjian lainnya.

“Sudah datang kok. Tadi dia harus terima telephone dulu.”

Luna melihat jam tangan di pergelangan dalam kirinya, “Seharusnya sekarang dia sudah selesai.”

Johanh & Luna menoleh ke seluruh sudut ruangan mencari sosok yang mereka tunggu. Pandangan pencarian mereka berakhir pada seorang lelaki tinggi bongsor, bahkan lebih tinggi daripada Johanh yang bagiku sudah menjulang, mengenakan suit berwarna putih berjalan menuju ke arah kami.

“Hi Jo! Gimana kabarnya?!”

Pria itu menyapa, yang syukurlah, dalam bahasa Indonesia. Dengan bodinya yang mencolok di antara para pria lokal kebanyakan dia langsung mendatangi Johanh memberikan jabat tangan berdiri & pelukan bro-hug yang mantap.

“Aku baik aja bro. Gimana kabar Mister Ali?”

Johanh menepuk bahu pria berbaju putih dengan dasi coklat itu.

“Ayahku yah.. Masih gitu-gitu aja tuanya...”

Dan keduanya tertawa renyah mengungkapkan kesenangan pertemuan mereka. Luna hanya tersenyum simpul melihat keduanya. Aku diam saja sedikit merasa terasingkan.

“Oh ya!” Johanh merangkul bahuku. “Ini Kika yang kuceritakan waktu itu.”

Pria berbadan tegap itu memandangku dengan matanya yang khas timur tengah.

“Hai, Kika. Senang bertemu denganmu.” Pria besar itu mengambil pergelangan tangan kananku & menciumnya tanpa basa-basi.

Aku cuma bisa bereaksi mematung karena kaget tak menyangka kalau karakter orang tinggi besar bermuka arab ini mirip playboynya dengan Johanh.

“Saya Masrur. Pasti Johanh pernah cerita tentangku kan?”

Meskipun begidik, dengan adegan cium tangannya, aku berusaha senyum untuk menyembunyikannya yang kurasa bertransformasi menjadi seperti sebuah cengiran aneh. Aku cuma bisa menggeleng untuk menjawab pertanyaannya.

Baru beberapa menit yang lalu Johanh bilang kalau orang-orang yang akan kutemui bukan playboy. Lha trus raksasa di depanku ini apa? Tapi saat pandanganku melihat sebuah cincin berkilap melingkari jari manis di tangan kirinya aku baru mengerti kalau ternyata dia playboy yang sudah 'dijinakkan'. Dan itu cukup melegakan..

Masrur tertawa sambil tetap memegang tanganku & mengelusnya.

“Haha.. Seperti yang kamu ceritakan, dia memang pemalu.” celetuknya di arahkan pada Johanh.

Pewaris VOA grup itu ikut menertawakanku dengan bangga seenaknya. “Kita langsung duduk aja yuk. Biar ngobrolnya lebih enak.”

Johanh merangkul Luna & aku, membawaku menuju restoran yang menjadi tujuan kami makan malam.

Kami berempat duduk dekat jendela yang memamerkan gemerlap warna warni pemandangan lampu taman dengan air mancur. Sengaja dipilih tempat indoor karena di area outdoor banyak pengunjung yang merokok & Luna tidak menyukainya.

“Aku tak suka bau rokok. Baunya seperti abu mayat yang baru dikremasi.” bisiknya padaku.

Gara-gara itu Johanh yang setahuku lumayan addict merokok jadi menyimpan terus rokoknya. Lagipula aku juga tak suka dengan asap rokok. Mungkin Dia bakal menghadapi omelan 2 wanita di depannya kalau nekad merokok sekarang.

“Kak Luna sudah lama kenal dengan Kak Johanh & Pak Masrur?” tanyaku setelah kami memesan hidangan.

Masrur menunjukkan wajah tidak puas, “Kenapa cuma aku yang dapat panggilan tua?” protesnya disambut senyum geli Luna & tawa mengejek Johanh.

“Maaf, kebiasaanku kalau dengan orang yang sudah menikah selalu panggil Pak & Bu.” Aku melirik cincin emas tanpa berlian namun diganti ukiran indah yang artistik.

“Yah.. Harusnya cincinku kulepas aja tadi..” Masrur langsung melepas cincin di jari manis kirinya & memasukkannya ke saku.

Johanh memiringkan badannya padaku memberi gestur hendak membisikiku sesuatu. “Masrur sedang proses perceraian dengan istrinya yang sekarang.”

Bisikan singkat yang membuat mataku sedikit terbelalak. Berusaha kusembunyikan karena takut membuat Masrur tersinggung.

“Panggil kakak saja biar sama dengan yang lain.” Masrur mengetuk jarinya di meja mempertegas protesnya.

Merasa tak enak karena sedikit menyenggol masalah rumah tangga orang, aku pun mengabulkan keinginannya untuk disamaratakan dengan para bujangan.

“Kita kenalnya sudah sekitar 2 tahunan ini.” Luna menjawab pertanyaan yang tadi kuajukan.

“Kalau nggak salah waktu pesta di rumahnya Masrur di Qatar. Yap, itu pertama kalinya kita bertiga kenal.”

“Waktu itu pesta peresmian proyek VOA di Qatar, perusahaan ayahnya Masrur salah satu sponsor utamanya.” Johanh menambahkan lebih detail.

Kukira Masrur merupakan arab nyasar yang sukses di Indonesia. Kalau mendengar bahwa Masrur masih dekat dengan familinya di asia barat berarti darah timur tengahnya masih sangat kental.

“Selanjutnya kita jadi dekat karena usia kita nggak jauh & nasibnya mirip, yaitu baru terjun ke dunia kerja.” Masrur memberi sentuhan akhir dari penjelasan untuk pertanyaanku.

“Asyik sekali. Seperti punya teman seperjuangan ya.” Mataku berbinar antara kagum & iri dengan persahabatan dalam taraf profesionalisme & penuh kedewasaan ini. Berharap suatu saat bisa menjadi sukses seperti mereka bertiga.

“Jadi Kika sendiri..” kini Luna yang kelihatannya hendak menanyaiku. Aku memberikan atensi padanya dengan antusias, “…Sejak kapan mulai pacaran dengan Johanh?”

“Hah?!” ucapan itu meluncur secara reflek atas reaksi heran & kaget karena pertanyaan santai Luna. “Kita bukan pacar kok. Bahkan sebagai teman aja nggak akrab-akrab amat.”

Masrur tertawa terbahak-bahak seketika, “Aduuh sakit bro. Cuma friendzone ternyata. Howahahah!” katanya mengasihani sekaligus menggoda Johanh.

Johanh dengan lagak yang dibuak sok cool tersenyum penuh percaya diri, “Sekarang sih emang kita bukan siapa-siapa. Tapi yah kita lihat aja nanti.” dia memberi kedipan mesra padaku.

Oh my god… Baru kusadari bahwa makan malam ini ternyata salah satu modusnya si Johanh.

Dia tahu aku tak seperti wanita kenalannya yang umumnya mudah dia dapatkan dengan bermodal hadiah & pujian. Kini dia mencoba untuk membuat situasi seolah kami sepasang kekasih, atau mungkin calon kekasih. Aku memberinya tatapan & cengiran sinis pada Johanh yang justru sedang menahan tawa.

Kami mengobrol banyak hal sampai hidangan kami datang. Kebanyakan yang kami bicarakan bukan hal yang serius, masih berupa pengenalanku tentang Masrur & Luna .

Masrur ternyata anak ke-7 seorang raja minyak dari Qatar dengan istri yang ke-3 yang merupakan artis Indonesia jaman dulu, tak heran kalau Masrur menguasai bahasa Indonesia meskipun agak terbata-bata. Yang bersangkutan merendah dengan mengatakan bahwa banyak keluarga di timur tengah yang memiliki perusahaan oil & gas yang lebih besar.

Kedatangannya ke Indonesia berhubungan dengan proyek kerja sama di bidang bahan bakar tersebut dengan sejumlah perusahaan di sini.

Luna yang juga blasteran Hong kong & Indonesia, merupakan putri kedua dari Seasons Grup, Grup besar yang mulai berkembang namanya di asia timur. Orang tuanya sudah bercerai, sehingga beberapa bulan sekali dia menjenguk ibunya yang orang Indonesia.

Dari percakapan yang kami lakukan, bisa kuduga bahwa Luna memiliki rasa pada Masrur. Terlihat saat bagaimana Luna memandang mata Masrur, entah sadar atau tidak, terlihat seperti wanita yang sedang mengagumi sesuatu.

Kalau Masrurnya agak susah ditebak. Sesekali dia memberi kata-kata rayuan yang menggoda padaku & Luna bahkan Johanh sering ikut-ikutan memberi rayuan juga seolah tak mau kalah.

Pukul 21.30 kami menyudahi pertemuan dengan saling bertukar nomor handphone. Mengetahui bahwa Masrur memakai produk Wiphone adalah kejutan yang menyenangkan.

Kami berpisah dengan aku yang pulang diantar Johanh, Masrur memutuskan menginap di hotel tempat kami bersantap, sedangkan Luna yang tujuan pulangnya ke rumah ibunya naik taxi. Johanh sudah menawarkan jasa untuk mengantarnya tapi dia tolak beralasan karena hendak mampir di suatu tempat temannya dulu.

Kuakui aku cukup senang berkenalan dengan Masrur & Luna meskipun tidak begitu berbeda dengan pergaulanku saat berada di pesta-pesta sebelum ini dengan anak-anak para orang kaya.

Yang membuatnya berbeda Masrur & Luna mengenalku saat aku sebagai pribadi yang profesional juga. Aku sadar bahwa aku mungkin tidak bisa lagi berusaha menghindari pesta-pesta membosankan karena saat ini aku bukan lagi hanya sekedar Kika secara personal, tapi sebagai Kika yang merepresentasikan keluarga Wismail seutuhnya.

Ini adalah beban yang harus kutanggung sejak aku setuju untuk bergabung jadi bagian dari perusahaan, bukan sekedar jadi anggota keluarga yang tak tahu menahu situasi bisnis & company lagi. Bisa jadi ke depannya ada lebih banyak lagi pertemuan dengan orang-orang yang berguna untuk memulihkan Wismail Grup & bagaimana aku menjalin hubungan baik dengan mereka menentukan segalanya.

“Kika, kamu capek?” tanya Johanh yang sedang melemaskan bahu saat lampu merah menyala.

Aku menggeleng. Lalu lintas yang padat memang sering membuat pengguna jalan lelah secara psikologis karena merasa waktunya yang berharga terbuang percuma di jalan.

“Kak Johanh meeting tentang apa dengan Papa?”

Johanh menyandar dengan santai & memandangku. “Yah.. Intinya dalam waktu dekat VOA & Wismail Grup akan punya proyek bersama skala besar.”

Saat lampu hijau menyala lagi Johanh tetap sigap menyetir meskipun sambil mengobrol denganku. “Seandainya proyek ini terlaksana dengan baik, bukan tidak mungkin kondisi Wismail Grup akan lebih stabil lagi. Atau setidaknya mengembalikan kepercayaan publik terhadap grupmu.”

Kata-kata Johanh membuatku menoleh padanya dengan mata terbelalak terkejut sekaligus bersemangat dengan berita baik ini. Realita bahwa Wismail sedang on the way untuk memulihkan diri membuat harapanku melambung & secara tak langsung membuat raut senyum di wajahku.

Johanh melirikku & tersenyum melihat reaksiku yang berbunga-bunga ini.

Saat sudah memasuki gerbang rumah utama Wismail, Johanh menghentikan mobilnya agak jauh dari pintu masuk karena setelahnya ia langsung pulang. “Terima kasih Kak Johanh.”

“Terima kasih karena??” Johanh memasang wajah usil & memancingku untuk berterima kasih selengkap-lengkapnya.

Aku tertawa, “Banyak hal. Untuk makan malam tadi & kerja samamu dengan keluarga Wismail.” Saat aku melepas seatbelt Johanh tiba-tiba melepas miliknya juga & mencondongkan badannya padaku.

“Hei! Apaan sih?”

Aku menghalau badannya yang terus condong ke arahku setelah aku menyadari bahwa Johanh hendak menciumku. Namun dengan tepat Johanh menangkap tangan kananku dengan tangan kirinya, kini dia menatapku lebih serius dibandingkan saat pembicaraan sebelumnya. Senyumnya meskipun terlihat sama kini aku memandangnya jadi lebih menakutkan.

Rasa terkejutku memberi ketakutan tiba-tiba di dada & aku memandang mata Johanh, marah.

“Kak Johanh, nggak lucu tahu! Lepasin!”

Aku memberi ketegasan pada kata-kataku & berusaha mendapatkan kebebasan tanganku tapi Johanh tidak bereaksi sesuai kemauanku. Tas tanganku melorot terjatuh ke bawah dashboard akibat kejadian mendadak ini.

Johanh malah semakin mengeratkan genggamannya.

“Kika, asal kamu tahu proyek yang kusebutkan tadi nggak akan terlaksana kalau Wismail tidak bekerja sama dengan VOA. Jadi kamu yang cerdas pasti tahu kan kalau aku bisa saja menolak kerja sama ini?” Dia berujar dengan kata-kata yang halus di telinga seolah sedang memberi nasehat.

Aku memandang Johanh dengan amarah yang mulai membubung dalam kekecewaan terhadapnya.

“Kak Johanh mengancamku?” Suara yang keluar dari tenggorokanku terdengar agak tercekat namun aku berusaha tetap tajam penuh selidik.

Johanh masih memasang wajah penuh senyum karena merasa lebih superior dariku, ia menggeleng kecil.

“Tidak kok. Aku hanya memberi penawaran sederhana, bagaimana kalau putri kesayangan keluarga Wismail mulai belajar memakai semua potensi yang dimilikinya untuk menyenangkan rekan bisnisnya.” Johanh menaruh tangan kanannya yang bebas ke pahaku yang memakai mini pencil skirt hitam yang dari tadi tertutupi tas kerjaku kini terbebas karena benda itu jatuh.

Perlahan ia membelai & jarinya mulai berani masuk menuju bagian bawah rokku. Satu ruas jarinya yang sudah berada di balik garmenku merasakan sentuhan menggelitik yang terasa di tiap sel kakiku.

Rasa merinding karena takut & terhina menjalari sekujur badan. Memikirkan apa yang dimau oleh Johanh semakin membuat emosiku memuncak.

“Pak Johanh..” Aku memanggilnya dengan dingin.

Pria itu sedikit terkejut dengan sentakan dalam tanpa ekspresiku.

“Saya sebagai keluarga Wismail juga punya suara. Aku bisa memberikan pendapat siapa saja orang-orang yang layak diajak bekerja sama. Proyek ini pasti juga punya keuntungan yang amat besar bagi VOA jika terlaksana. Kalau anda tidak memperlakukanku dengan hormat, mungkin lebih baik kalau kami bekerja sama dengan pihak yang bersikap lebih profesional.”

Johanh memberi suara decak mengalah & menyingkirkan tangannya yang awalnya berada di pahaku.“Kita lihat saja nanti..”

Setelahnya ia melepaskan genggaman yang dari tadi meremas pergelangan tangan kiriku dengan enggan.

Melihat diriku sudah bebas sepenuhnya aku segera menyaut tas yang ada di bawah dashboard Mobil lalu keluar dari mobilnya dengan perasaan penuh amarah atas perlakukannya padaku.

Rasa kecewa memenuhi dadaku karena sempat berpikir bahwa meskipun Wismail Grup saat ini berada di masa-masa sulit tapi Johanh yang merupakan kenalan lama berada di pihak kami. Namun kejadian tadi seolah menjelaskan bahwa dia tidak sepenuhnya memihak kami.

Kulangkahkan kaki secara cepat memasuki rumah menuju kamarku dengan kepala tertunduk. Maid & pelayan yang kulewati sengaja tak kugubris agar mereka tak mengetahui betapa perasaanku sedang kacau. Aku bahkan tidak menyadari kalau ada seseorang yang memperhatikanku sejak aku memasuki rumah.

“Sudah pulang?” suara itu terdengar saat aku baru setengah menaiki tangga.

Aku mendongakkan kepalaku ke arah sumber suara mendapati Irza berada di dekat lorong menuju kamarku.

“Kakak? Sudah pulang rupanya.” kataku datar & aku semampunya memberi senyum yang dengan perasaanku yang sekarang malah terlihat maksa. Seharusnya kedatangan Irza bisa membuatku gembira karena aku sudah lama tak berjumpa dengannya.

“Ini sudah pukul 22.30. Apa yang membuatmu pulang jam segini? Nggak mungkin kamu lembur kan?” Irza mencecarku dengan pertanyaan yang malah membuatku senewen.

“Aku tadi makan malam dengan beberapa teman.” Aku melangkah melewatinya & sebisa mungkin menghindari berselisih kata dengannya.

Irza memegang lengan atasku & membawaku secara impuls masuk ke salah satu ruangan di dekatnya. Ruangan itu seperti kamar yang khusus untuk ruang menyimpan cadangan sprei dan selimut. Namun ditata rapi jadi seperti etalase toko.

Aku terkejut karena dipaksa masuk seperti ini & langsung mengibaskan lenganku yang dipegangnya sampai lepas. Bagian lengan yang dipeganggnya sedikit membuat tulangku kelu.

“Kenapa nggak langsung terus terang kamu pergi sama Johanh?” Kata Irza ketus.

Memang sih aku sengaja ngomongnya sedikit rancu karena aku punya firasat kalau menyebut Johanh terang-terangan di depan Irza malah seperti menyiram api dengan minyak.

Meskipun pengakuan jebakanku terkuak tapi aku harus membuktikan bahwa tak ada yang salah dengan kata-kataku.

“Karena memang begitu kenyataannya. Aku makan malam dengan 2 orang lagi, Luna & Masrur, plus Johanh. Kebetulan aja Johanh mau mengantar pulang.”

Penjelasanku masih belum memuaskan ketidaksukaan Irza, “Sebenarnya kamu serius nggak sih, kerja? Atau cuma buat gaya-gayaan aja?”

“Kak Irza, jangan sekarang deh. Aku capek. Aku nggak pengen melayani tuduhan nggak masuk akalmu.” Aku berusaha berlalu pergi setelah memberi respon terhadap kata-kata sinisnya.

“Kika, aku belum selesai bicara!” Irza meninggikan suaranya.

Tangannya memojokkanku dengan memukulkan telapak tangannya ke tembok tepat di depanku & menghalangiku mencapai pintu. “Aku curiga kalau kamu selama ini cuma pura-pura kerja di kantor Papa.”

“Kenapa sih Kak Irza selalu nuduh aku yang bukan-bukan?!” Aku balik membentaknya. Terlanjur ikut terbawa emosi gara-gara insiden dengan Johanh & diperparah Irza yang seperti ini.

Irza yang mendapatiku melakukan pembelaan diri terlihat lebih tidak senang.

“Kamu.. Anak perempuan matre kayak kamu pasti di kantor bertingkah genit ke para eksekutif & rekanan di kantor Papa kan?” Kali ini Irza tidak membentak namun dia menajamkan kata-katanya.

“..Supaya nanti kalau Wismail Grup betulan bubar kamu masih bisa melanjutkan hidup mewahmu sebagai simpanan kan?”

Aku melotot marah pada pria di depanku tanpa berkedip, dadaku terasa sesak tak percaya menerima luapan kecurigaannya yang tanpa dasar.

“Kenapa kamu pikir aku bisa serendah itu? Aku juga serius memikirkan keluarga kita!”

Bibirku bergetar saking emosinya. Andai yang mengatakan sesuatu sekejam itu orang yang tak kukenal pasti hatiku tak sesakit ini.

Irza memasang wajah senyum sinis.

“Baju kerjamu itu.. Memangnya ada karyawati Papa yang pakai  rok sependek ini? Buat apa di kantor memakai kemeja dengan kerah yang serendah ini? Kamu mau kerja atau pamer bodi?” ia memandangku dari atas sampai bawah.

Dalam hati aku sedikit menyalahkan Mila yang membuatku berpakaian seperti ini hari ini. Tapi membela diri dengan menyalahkan Mila saat ini pasti cuma akan menambah runyam situasi.

“Aku mau pakai baju apa itu bukan urusanmu!” yang terpikir saat ini cuma bagaimana melawan kata-kata Irza & itu yang pertama meluncur saat dia mengomentari caraku berpakaian.

Aku menepis tangan Irza yang menghalangi jalanku & semakin terlihat berusaha menyudahi pertengkaran ini dengan menghindarinya. Tanganku yang kugunakan untuk berusaha membuka jalan dia genggam.

“Sudah berapa laki-laki yang kamu rayu? Sudah berapa yang kamu tiduri?!” tuduhan Irza yang makin menjadi makin membuatku ingin menangis.

“Hentikan..” Aku berusaha untuk pergi dari ruangan ini sebelum air mataku benar-benar tumpah di hadapannya tapi Irza tidak membiarkanku lolos.

Lengan kiriku tak bisa lepas dari genggamannya yang semakin kuat seiring dengan makin kejam kata-kata tuduhannya. Aku yang sudah sangat emosional pasti terlihat desperate seperti meronta minta dilepaskan dari penyiksaan verbalnya yang bahkan tak mau diluruskan sesuai kenyataan yang kuutarakan.

Irza berhenti sesaat sambil menatapku dingin & kemudian suaranya terdengar jauh lebih dingin lagi ia melanjutkan, “Nggak sekalian tidur denganku juga?”

Kalimat yang dilontarkan Irza reflek membuatku melayangkan tangan kananku menampar pipi kirinya. Suara pukulan kulit bersentuhan dengan kulit bergaung singkat di ruang penuh lemari berwarna pelitur coklat.

Irza yang posisi wajahnya sedikit miring karena tamparan terdiam sesaat tanpa mengalihkan pandangan dinginnya padaku. Namun sejurus kemudian tangan Irza yang bebas menggenggam leherku. Lalu mendorong dengan badannya sampai punggungku menyentuh dinding.

Kepalaku sedikit membentur tembok yang dilapisi wallpaper berwarna broken white. Aku yang terkejut karena menabrak dinding bahkan tak sempat menghindari hal yang dilakukan Irza selanjutnya.

Tangan Irza yang awalnya mencekik leherku kini terangkat hingga memegangi daguku untuk sedikit mendongakkan wajahku ke arah wajahnya. Bibir kami bertemu.

Putra pertama keluarga Wismail menciumku secara tiba-tiba membuatku kebingungan karena beberapa perilaku yang tak pernah kusangka. Kedua mata Irza yang tertutup saat memaksakan sebuah ciuman padaku bertolak belakang denganku yang terbelalak tak percaya atas apa yang sedang terjadi saat ini. Bibir Irza bergerak menlumat milikku.

Merasa bisa menguasai diriku lagi dari kebingungan, sekuat tenaga dengan kedua tanganku aku memecah lengannya dan mendorong Irza sampai ia mundur beberapa langkah.

Perasaanku sudah terlalu kalut untuk berkata apa pun pada orang yang selama belasan tahun kuanggap kakak laki-laki terbaik yang pernah kumiliki.

Aku memegang bibirku dengan punggung tangan kananku dipenuh rasa tak percaya di luar batas. Pandangan mataku yang tertuju pada Irza mengabur karena air mata yang sudah terlanjur jatuh tanpa sanggup kutahan.

Berusaha menguatkan badanku yang bergetar karena shock, aku berlari meninggalkan Irza sendirian di ruangan. Saat ini yang kuinginkan hanya secepat mungkin memasuki kamarku.

Aku berlari dengan kepala tertunduk, juga tangan kanan yang masih menempel erat di bibir, agar tak ada maid & pelayan yang kebetulan kulewati melihat kondisiku yang menangis.

Bahkan saat di belokan tak sengaja menabrak orang tapi aku tak berniat mengurangi kecepatan langkahku untuk minta maaf atau sekedar mencari tahu siapa orang apes yang kutabrak sehingga bajunya harus basah terkena tempelan air mataku itu.

Saat gagang pintu kamar berada dalam genggamanku, aku segera membuka & memasuki satu-satunya ruangan di mana aku bisa melepas segala emosi yang teraduk kacau.

Melemparkan wajahku ke bantal yang menghiasi kasurku & menangis sekuat tenaga. Dengan bantal yang kugunakan untuk menyumpal mulutku untuk meredam suara isakanku, kuharap tak ada siapa pun yang mengetahui aku menangis malam ini.

Banyak hal yang terjadi di hari ini yang ingin kutumpahkan dalam tangisanku. Kelelahanku karena berusaha berjuang di dunia kerja, kesalahanku menilai Johanh yang kukira dia salah satu orang yang bisa kuandalkan & perlakuan Irza yang bahkan membuatku tak bisa menganggapnya sebagai kakak lagi, semuanya.

Tangisanku mengalir begitu deras & baru merasa tenang setelah setengah jam berlalu. Meskipun air mata yang mengalir sudah berhenti tapi aku masih belum ingin beranjak dari tempatku.

Aku yang sudah tenang ini masih menimbang-nimbang haruskah aku keluar kamar, setelah mengingat bahwa masih ada materi yang harus kupelajari. Saat merogoh sakuku untuk mencari hape, baru kusadari bahwa tasku tak kubawa masuk ke kamar. Mungkin terjatuh di suatu tempat saat insinden dengan Irza.

Untungnya hapeku saat ini sedang berada dalam sakuku jadi aku tak merasa se-urgent itu untuk susah-susah keluar kamar untuk mencarinya. Jujur saja saat ini keluar kamar merupakan hal yang paling malas untuk kulakukan, lebih lagi kalau tak sengaja berpapasan dengan Irza. Nyaliku masih belum siap untuk berkonfrontasi lebih lanjut dengannya.

Dari hapeku aku mendapatkan sebuah new mesaage di dalam inboxku yang berasal dari Handa. Isinya mengatakan bahwa Handa menyarankanku untuk beristirahat saja malam ini alih-alih melakukan pembahasan materi bersamanya seperti yang sudah dijadwalkan beberapa hari lalu.

Dari pesan singkat yang sama dia juga mengatakan bahwa ia menitipkan tas kerjaku yang tak sengaja ia temukan di koridor pada Lilia. message yang baru saja kubaca ini merupakan pertolongan tak terduga tersendiri, yang semakin memperkuat keinginanku untuk mengurung diri di kamar & berusaha menata hati yang tak karuan.

Belum lagi mataku yang pasti terlihat sembab & hidung buntu memerah, wajah yang pasti akan mengundang pertanyaan yang tak ingin kujawab.

Dalam lamunan, aku memikirkan tentang apa yang barusan dilakukan Irza. Tak kuduga dia merasa sebenci itu padaku sampai tega mengatakan hal-hal yang menjatuhkan harga diriku sebagai wanita. Setelahnya aku teringat dengan ciuman yang dipaksakan tiba-tiba.

Sebegitu inginnya kah ia melukai perasaanku, mempermalukanku, sampai dia tega melakukannya? Setelah kuingat-ingat kelihatannya ini ciuman pertamaku dengan seorang lelaki. Tak kusangka ciuman pertamaku terjadi tanpa rasa cinta & kehangatan, melainkan kebencian bodoh yang tanpa dasar.

Aku berdiri dari tempat tidur langsung melangkah menuju kamar mandi & segera mencuci mukaku. Berkali-kali bagian yang disentuh bibir Irza kugosok seolah jejak apapun yang tertinggal harus terhapus seluruhnya.

Namun kala teringat bahwa tadi Johanh meraba pahaku, kuputuskan langsung mandi. Baju yang kupakai langsung kulepas di tempat & kulempar ke keranjang cucian kotor setengah bersungut bahwa baju itu merupakan bagian dari kemalanganku hari ini.

Dengan sabun aroma Strawberry Rose favorite aku menggosok tubuhku sekuat yang dimampu kulitku bertahan, seolah melampiaskan amarah yang masih terperangkap di dada. Aku tak habis pikir dengan para laki-laki di sekitarku. Mengapa mereka bisa seperti itu memperlakukan perempuan, seolah kaum kami hanya dilibatkan saat ada sangkut pautnya dengan seksualitas.

Air shower yang membilasku kuputar maksimal saat aku ingin menangis lagi. Berharap air tersebut menyembunyikan air mata dari siapa pun termasuk aku. Karena air mata yang menetes hari ini merupakan bukti betapa lemahnya aku. Betapa aku tak mampu melindungi diriku, menguatkan hati, dari kata-kata kasar Irza & kekurangajaran Johanh.

Memandang air yang mengalir memasuki drainase membuatku cukup lama berada di bawah guyuran air tanpa melakukan apa pun selain menenangkan perasaanku. Setidaknya aku berusaha untuk itu..

Terpopuler

Comments

Ida Matondang

Ida Matondang

Disini gak ada ardi ya thor? 🤭

2021-02-24

1

🐾Ocheng🐾

🐾Ocheng🐾

asep roko bau nya sperti bau mayat di kremasi emang iyah?😁

2020-10-23

0

Kim Nana

Kim Nana

nanti si Irza nya suka

2020-09-10

1

lihat semua
Episodes
1 Prologue
2 Kika 1
3 Kika 2
4 Kika 3
5 Kika 4
6 Kika 5
7 Kika 6
8 Kika 7
9 Kika 8
10 Kika 9
11 Kika 10
12 Kika 11
13 Kika 12
14 Kika 13
15 Kika 14
16 Kika 15
17 Kika 16
18 Kika 17
19 Kika 18
20 Kika 19
21 Kika 20
22 Kika 21
23 Kika 22
24 Kika 23
25 Kika 24
26 Kika 25
27 Kika 26
28 Kika 27
29 Irza 1
30 Kika 28
31 Kika 29
32 Kika 30
33 Kika 31
34 Kika 32
35 Handa 1
36 Johanh 1
37 Kika 33
38 Kika 34
39 Handa 2
40 Handa 3
41 Handa 4
42 Handa 5
43 Handa 6
44 Johanh 2
45 Handa 7
46 Kika 35
47 Irza 2
48 Irza 3
49 Irza 4
50 Irza 5
51 Irza 6
52 Irza 7
53 Irza 8
54 Visual of Characters
55 Irza 9
56 Kika 36
57 Kika 37
58 Handa 8
59 Johanh 3
60 Johanh 4
61 Kika 38
62 Kika 39
63 Kika 40
64 Kika 41
65 Kika 42
66 Kika 43
67 Kika 44
68 Handa 9
69 Kika 45
70 Kika 46
71 Kika 47
72 Kika 48
73 Kika 49
74 Kika 50
75 Irza 10
76 Irza 11
77 Handa 10
78 Handa 11
79 Kika 51
80 Irza 12
81 Handa 12
82 Irza 13
83 Irza 14
84 Kika 52
85 Kika 53
86 Kika 54
87 Kika 55
88 Kika 56
89 Irza 15
90 Johanh 5
91 Johanh 6
92 Johanh 7
93 Johanh 8
94 Visual of Character 2
95 Kika 57
96 Kika 58
97 Irza 16
98 Irza 17
99 Irza 18
100 Johanh 9
101 Kika 59
102 Kika 60
103 Kika 61
104 Kika 62
105 Johanh 10
106 Johanh 11
107 Johanh 12
108 Kika 63
109 Kika 64
110 Kika 65
111 Kika 66
112 Johanh 13
113 Johanh 14
114 Kika 67
115 Irza 19
116 Irza 20
117 Irza 21
118 Irza 22
119 Irza 23
120 Johanh 15
121 Handa 13
122 Irza 24
123 Kika 68
124 Kika 69
125 Johanh 16
126 Kika 70
127 Johanh 17
128 Johanh 18
129 Johanh 19
130 Kika 71
131 Kika 72
132 Irza 25
133 Irza 26
134 Irza 27
135 Irza 28
136 Irza 29
137 Irza 30
138 Irza 31
139 Irza 32
140 Johanh 20
141 Kika 73
142 Kika 74
143 Kika 75
144 VISUAL TIME AGAIN
145 Handa 14
146 Handa 15
147 Episode Gabut
148 Irza 33
149 Julia 1
150 Julia 2
151 Julia 3
152 Irza 34
153 Irza 35
154 Irza 36
155 Julia 4
156 Julia 5
157 Julia 6
158 Julia 7
159 Pengumuman
160 Kika 76
161 Kika 77
162 Kika 78
163 Kika 79
164 Kika 80
165 Became a Lady
166 End of The End
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Prologue
2
Kika 1
3
Kika 2
4
Kika 3
5
Kika 4
6
Kika 5
7
Kika 6
8
Kika 7
9
Kika 8
10
Kika 9
11
Kika 10
12
Kika 11
13
Kika 12
14
Kika 13
15
Kika 14
16
Kika 15
17
Kika 16
18
Kika 17
19
Kika 18
20
Kika 19
21
Kika 20
22
Kika 21
23
Kika 22
24
Kika 23
25
Kika 24
26
Kika 25
27
Kika 26
28
Kika 27
29
Irza 1
30
Kika 28
31
Kika 29
32
Kika 30
33
Kika 31
34
Kika 32
35
Handa 1
36
Johanh 1
37
Kika 33
38
Kika 34
39
Handa 2
40
Handa 3
41
Handa 4
42
Handa 5
43
Handa 6
44
Johanh 2
45
Handa 7
46
Kika 35
47
Irza 2
48
Irza 3
49
Irza 4
50
Irza 5
51
Irza 6
52
Irza 7
53
Irza 8
54
Visual of Characters
55
Irza 9
56
Kika 36
57
Kika 37
58
Handa 8
59
Johanh 3
60
Johanh 4
61
Kika 38
62
Kika 39
63
Kika 40
64
Kika 41
65
Kika 42
66
Kika 43
67
Kika 44
68
Handa 9
69
Kika 45
70
Kika 46
71
Kika 47
72
Kika 48
73
Kika 49
74
Kika 50
75
Irza 10
76
Irza 11
77
Handa 10
78
Handa 11
79
Kika 51
80
Irza 12
81
Handa 12
82
Irza 13
83
Irza 14
84
Kika 52
85
Kika 53
86
Kika 54
87
Kika 55
88
Kika 56
89
Irza 15
90
Johanh 5
91
Johanh 6
92
Johanh 7
93
Johanh 8
94
Visual of Character 2
95
Kika 57
96
Kika 58
97
Irza 16
98
Irza 17
99
Irza 18
100
Johanh 9
101
Kika 59
102
Kika 60
103
Kika 61
104
Kika 62
105
Johanh 10
106
Johanh 11
107
Johanh 12
108
Kika 63
109
Kika 64
110
Kika 65
111
Kika 66
112
Johanh 13
113
Johanh 14
114
Kika 67
115
Irza 19
116
Irza 20
117
Irza 21
118
Irza 22
119
Irza 23
120
Johanh 15
121
Handa 13
122
Irza 24
123
Kika 68
124
Kika 69
125
Johanh 16
126
Kika 70
127
Johanh 17
128
Johanh 18
129
Johanh 19
130
Kika 71
131
Kika 72
132
Irza 25
133
Irza 26
134
Irza 27
135
Irza 28
136
Irza 29
137
Irza 30
138
Irza 31
139
Irza 32
140
Johanh 20
141
Kika 73
142
Kika 74
143
Kika 75
144
VISUAL TIME AGAIN
145
Handa 14
146
Handa 15
147
Episode Gabut
148
Irza 33
149
Julia 1
150
Julia 2
151
Julia 3
152
Irza 34
153
Irza 35
154
Irza 36
155
Julia 4
156
Julia 5
157
Julia 6
158
Julia 7
159
Pengumuman
160
Kika 76
161
Kika 77
162
Kika 78
163
Kika 79
164
Kika 80
165
Became a Lady
166
End of The End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!