Sudah 3 tahun berlalu semenjak kepergian Irza ke New York. Hampir tidak pernah ada kabar apa pun dari ucapannya langsung sampai padaku baik surat, telepon, sms atau media sosial. Yang paling sering dihubungi oleh Irza cuma Papanya dan Handa yang mungkin berhubungan dengan urusan pekerjaan.
Seharusnya study Strata 2 nya sudah berakhir di tahun ke dua ia berada di Negri Paman Sam iti. Kemungkinan Irza menunda kepulangannya untuk memperlama internship di perusahaan cabang US. Atau bisa juga dia masih menghindariku kalau melihat betapa minimnya kontak komunikasi kami.
Djati, ayah kandung Irza sekaligus ayah tiriku, yang sudah berusia pertengahan kepala 5 mulai menunjukkan tanda-tanda penyakit tua. Kalau sudah sakit batuk, bisa berminggu-minggu sembuhnya. Hal yang paling mengkhawatirkan adalah Djati tidak sempat untuk punya jam istirahat yang cukup sekalipun beliau kondisi beliau sedang drop.
Sedangkan aku yang baru saja bulan lalu mengikuti wisuda Strata 1 ku di bidang Engineering di universitas yang sama dengan Irza sebagai alumni, sedang menimbang apakah harus mengikuti jejak Irza melanjutkan pendidikan di luar negri atau bekerja dulu untuk mencari pengalaman.
Tujuan akhirku adalah bekerja di perusahaan Teknologi Wismail Grup. Tapi Djati tidak terlalu memaksaku untuk segera bergabung. Beliau memberikanku kebebasan tentang study dan pekerjaanku.
Sebenarnya aku berharap bisa banyak membantu perusahaan Djati yang kepopuleran terbesarnya saat ini dari produk-produk modernnya. Smartphone andalan kami 'Wiphone' cukup bersaing di pasar internasional dan menjadi favorite di Tiongkok & kawasan Asia Tenggara.
Sebenarnya Mila, mamaku, kurang begitu setuju aku kuliah engineering yang rumit. Baginya setinggi-tingginya aku kuliah di bidang science pasti semua harus ditinggalkan setelah berumah tangga. Apalagi beliau berharap aku mendapatkan jodoh pria kaya sepertinya. Menurut pendapatnya juga, mayoritas pria-pria kaya lebih doyan cewek yang nggak terlalu pintar & terlalu mandiri.
Terlepas dari pendapat ibuku, aku cukup lebih keras kepala untuk tetap membulatkan tekadku untuk membantu Djati mengurus Wismail Grup. Setidaknya cuma itu yang bisa kulakukan untuk membalas budi pada beliau karena sudah menyayangiku layaknya anak sendiri.
Aku tidak mengenal siapa ayah kandungku & sepanjang yang kuingat Mila yang sering bergonta-ganti pacar, yang kesemuanya pria kaya. Semuanya hanya fokus pada mamaku. Tak ada yang membuatku mengenal figur seorang ayah selain Djati Wismail, pria yang dinikahi Mila ketika aku berusia 12 tahun.
Aku tak ingin kepercayaan Djati padaku hancur seperti yang terjadi pada Irza. Aku tak ingin kehilangan anggota keluarga, lagi.
“Ini pesananmu: Pistachio-Opera cake & Lemon Cheese cake”
Seorang wanita yang setahun lebih muda dariku meletakkan nampan berisi cake padaku. Bukannya langsung pergi, dia ikut duduk di kursi yang berhadapan dengaku.
“Kamu nggak takut endut makan cake sering-sering?” tanyanya sambil memandangku melahap salah satu cake yang dibawanya tanpa tendeng aling-aling.
Aku melambaikan tangan.
“Gak apa-apa.. Ni buat nutrisi otak kok. Jadi nggak sempat jadi lemak di perut.” Kataku enteng.
Melihat sekeliling sebentar, “Kelihatannya hari ini cafe nggak terlalu ramai yah?”
Wanita yang kukenal bernama Hanna ini mendengus.
“Ini gara-gara harga sembako naik, jadinya beberapa kue harus dimahalin. Kayaknya itu sebab cafe agak sepi.”
Hanna menyandar dan menghela nafas panjang.
Aku masih melahap cake dengan nikmat.
"Tenang aja, cake buatanmu enak kok. Tinggal tunggu waktu aja sampai masyarakat adaptasi dengan harga barumu.."
Hanna mengangguk meskipun di matanya cuma sedikit terlihat optimisme di dalamnya.
Kemudian dia mengganti topik yang sedikit membuat jantungku lebih terpacu.
“Eh, eh, kamu dah tau belum produk Wiphone yang baru?”
Jarinya mengetuk meja mencari perhatianku yang fokus pada dessert di tangan.
Kulirik mata antusias Hanna sedikit sambil menyeruput Ice Tea untuk melegakan tenggorokanku yang haus. Aku menanggapinya setelah menelan tegukan terakhir dalam gelas.
“Memangnya kenapa? Kamu butuh smartphone baru?”
“Maunya sih gitu. Tapi Wiphone yang baru kemahalan gak sih? Meskipun banyak yang bilang kualitasnya bagus..”
Hanna memainkan rambutnya yang dikuncir kuda.
“.. Kalo menurutmu bagusan mana merk Wiphone ato Samson?”
Aku belagak sok berpikir.
“Hmmm.. kalo buatku sih tergantung kamu perlunya yang kayak gimana..” kataku berusaha diplomatis.
“Tapi meskipun mahal menurutku Wiphone lebih unggul sih. Soalnya menurutku easy to use ajah..” aku memuji-muji produk keluargaku kayaknya serasa narsis gimana gitu..
Hanna memandangku penasaran lalu matanya jatuh pada benda yang tergeletak di samping gelas minumku.
“Kamu punya Wiphone toh? Liat dong! Aku pingin tau kayak gimana spesifikasinya!”
Aku sedikit tersedak mendengar request tersebut. Tapi dengan mencoba tetap cool aku mengambil hapeku & mengubahnya ke mode 'Friends user' fitur baru milik Wiphone dimana 'pemakai pinjam' cuma bisa mengakses data-data yang diperbolehkan 'pemilik' hape. Mode lending-user ini kujelaskan juga pada Hanna setelah aku menyerahkan gadgetku padanya.
Selain itu aku juga menjelaskan beberapa keunggulan Wiphone terbaru ini layaknya seorang SPG. Hanna manggut-manggut mendengar penjelasanku.
"Ternyata kamu orang berada juga yah, ampe bisa punya Wiphone terbaru. Smartphone ini kan baru launching 2 minggu lalu, harganya masih di atas 8 jutaan."
Tangannya memutar-mutar smartphoneku melihat penampilannya yang streamline.
“Ah enggak juga..” Aku berdehem aneh.
“..Itu aku dikasi papaku. Kebetulan beliau dapet entah dari mana, tapi karena masih pengen pake hapenya yang lama jadi dikasihin ke aku gitu..”
Penjelasanku setengah bohong. Memang sih hapenya dikasih dari Djati yang sangat optimis dengan Wiphone Ji, yang merupakan smartphone generasi kedua produksi Wismail Grup, karena produk baru ini digadang-gadang bakal jadi yang paling hit.
Aku merahasiakan pada Hanna bahwa aku bagian dari Wismail Grup selaku produsen Wiphone. Bukan apa-apa, hanya saja aku suka suasana non formal yang santai bersama teman-temanku yang berasal dari kalangan orang biasa.
Bergaul dengan para kaum jetset menuntutku untuk selalu jaim kalau ingin membaur. Aku mulai akrab dengan Hanna yang cafenya dekat dengan kampusku karena aku & teman kuliahku sering belajar kelompok di sini.
Alasan yang sama juga kenapa smartphoneku kuubah mode lending-user karena aku menghindari kalau-kalau dia kepo dan mendapati beberapa foto selfieku saat di rumah utama Wismail atau foto Djati & Irza.
“Hari ini ke kampus?” Hanna mengubah lagi tema secara tiba-tiba. Dia bertanya santai sambil mengembalikan Wiphone milikku di dekat piring cake yang kosong. Aku menghela lega dengan keputusannya mengubah tema karena salah-salah identitasku sebagai keluarga Wismail terbongkar kalau dia tanya-tanya lebih jauh tentang asal usul smartphoneku.
“iya gitu deh... Minggu depan ada job fair, Aku mau lihat-lihat ada perusahaan apa aja yang sedang open recruitment.” aku menutupi smartphoneku dengan lenganku senatural mungkin.
Smartphone yang baru saja kututupi tiba-tiba bergetar tanda panggilan masuk. Aku mengangkatnya & mendapati seseorang yang tak kusangka menelepon.
“Kika apa yang terjadi?!”
Sudah beberapa bulan terakhir aku tidak berbicara dengan Johanh tiba-tiba dia meneleponku dan langsung mengajukan pertanyaan jelas membuatku lebih dari bingung.
“Halo..? Ini Johanh? Dari mana kamu tau nomerku?”
Cuma itu yang terpikir untuk mengawali membalas telepon darinya setengah sinis setengah masi bingung juga.
Terdengar tidak sabar Johanh tak menggubris kata-kata sinisku.
“Kamu lagi di mana?"
“Di dekat kampus…” Jawabku ragu.
"Kenapa?"
“Berarti kamu juga belum tau?”
Johanh seolah-olah lebih memahami situasi yang terjadi padaku.
“Coba kamu setel TV di channel 4!”
Aku menanyakan remote TV yang ada di cafe pada Hanna & memintanya ke channel 4 seperti yang diberitahukan pembicara di telepon. Dari nada suaranya yang terdengar penting dan mendesak aku tak sempat meragukan sarannya.
Suara noise televisi yang khas muncul & channel 4 yang dimaksud Johanh sedang menyiarkan breaking news. Aku menyimak isi dari berita yang sedang dibawakan oleh news anchor.
“..belum ada keterangan resmi dari Bapak Djati Wismail, tapi yang pasti Wismail Grup sedang mengalami masa-masa berat terkait anjloknya nilai mereka di pasar saham.”
Aku lebih dari sekedar tersambar petir dengan berita yang baru saja kucerna. Rasanya tak percaya Wismail Grup yang begitu kokoh di bawah kepemimpinan Djati yang begitu karismatik berada di ambang kehancuran.
Aku mengambil 2 lembaran biru uang 50 ribu dan meletakkannya di meja dan bergegas untuk segera pergi dari cafe La Tansya yang sudah kuhabiskan nongkrong selama lebih dari setengah jam ini. Hanna terkesiap bingung segera menuju mesin kasir mencari kembalian. Tapi sebelum dia membuka mesin kasir aku memberi tahunya untuk kuambil nanti saja.
Yang terpikirkan saat ini hanya pergi secepat mungkin menuju Papaku berada yaitu kantor pusat Wismail Grup di jalan protokol ibukota.
“Halo? Halo? Kika? Kamu masih di situ??”
Baru kusadari teleponku masih menyambung dengan Johanh saat aku menunggu bus di halte.
"Iya! Iya! Thanks infonya yah.. Bye!"
Aku memberi reaksi sekenanya dan hendak memutuskan sambungan. Tapi suara ribut Johanh di seberang jalur menyuarakan penolakan penutupanku.
“Aku akan jemput ke tempatmu. Lebih cepat daripada naik bis kan? Sekitar 10 menit lagi aku sampai sana. Kirim shareloc mu ke aku. ”
Johanh langsung menutup teleponnya tanpa permisi.
Aku merasa sedikit dilema. Di satu sisi lokasiku yang cukup jauh dari tujuan memakan waktu 1 jam bila ditempuh dengan bus itu pun jika jalanan lancar.
Tapi di satu lain aku merasa kurang nyaman bila mengandalkan Johanh Astin si 'player' yang tak kutahu kabar beritanya beberapa tahun belakangan ini, karena aku memang sengaja vakum dari hingar bingar pesta jetset demi konsentrasi kuliah.
Dukungan Djati pada keputusanku di dunia pendidikan membuat Mila kehilangan pengaruhnya memaksaku datang ke acara mewah itu.
Aku pada akhirnya memutuskan untuk fokus bertemu Djati & menunggu kedatangan Johanh. Kukirim pesan di nomor yang barusan meneleponku untuk memberi tahu lokasiku menunggu berikut landmark untuk memudahkannya mencariku.
Tak sampai 20 menit aku menunggu sebuah mobil mewah merah menyala berhenti tepat di depan trotoar lokasiku menunggu tanpa mematikan mesinnya. Bahkan sebelum benar-benar berhenti kaca belakangnya turun menunjukkan siapa yang duduk di passenger back-seat.
“Kika, masuklah!”
Kepala Johanh yang muncul dengan sun glasses nya yang mampu membuat wanita manapun melting muncul di jendela mobil yang terbuka memberikan gestur mempersilakanku masuk.
Entah kenapa begitu melihat mukanya yang khas sok gantengnya membuatku malas duduk di sebelahnya. Kuputuskan duduk di kursi sebelah driver.
Johanh & drivernya sesaat bertukar pandang bingung melihatku duduk di tempat yang di luar dugaan mereka. Memecah muka heran mereka aku memberikan intruksi pasa driver untuk segera menuju kantor pusat Wismail.
Driver dengan sedikit sisa muka salah tingkah memasukkan kopling & mulai menjalankan tugasnya.
Suara tawa lepas terdengar dari kursi belakangku.
“Kamu kok nggak berubah sih. Selalu curigaan sama aku. Padahal aku sudah berbaik hati menyediakanmu transportasi.”
Aku melirik spion depan dan memandang mata Johanh yang memantul di dalamnya.
”Bukan curiga sih.. Tapi aku nggak enak aja kalo ketahuan lagi duduk di sebelahmu nanti ada marah." Balasku dengan senyum basa basi.
Johanh menyandar dengan sok pasrah di bangkunya sambil tertawa renyah.
“Dingin banget, padahal udah lama kita nggak ketemu.. Padahal kepala keluarga Astin & Wismail kan dekat, harusnya kita juga dekat dong. ”
Mendengar Johanh menyinggung tentang Wismail Grup aku langsung mencecarnya dengan pertanyaan.
“Yang diberitakan di Channel 4 tadi itu, informasinya akurat nggak sih? Atau cuma gosip?”
Johanh melipat kakinya sambil memandang ke jendela.
“Kalau sampai disiarkan di Channel 4 kemungkinan besar sih fakta. Tapi berhubung belum ada keterangan resmi dari jubir Wismail Grup kelihatannya sekalipun beritanya salah, pasti ada sesuatu yang gawat sedang terjadi di tubuh perusahaan Papamu.”
Rasa khawatir yang tadi sempat hilang mulai menjalariku.
“Sesuatu yang gawat itu contohnya seperti apa?”
“Banyak hal bisa mempengaruhi nilai pasar saham. Bisa jadi akumulasi kerugian yang tak terbendung perusahaan.”
Johanh melihat ke arah smartphone di saku dalam jasnya. Kulihat di spion wajahnya berubah menjadi serius. Matanya yang semula tak tentu fokusnya balas memandangku lewat spion.
“Aku sangat menghormati Pak Djati karena dia salah satu pemimpin yang kuakui kemampuannya. Jadi bisa kan kamu sedikit percaya dengan niat baikku?”
Senyum bisnisnya terajut lagi di wajahnya. Meskipun begitu mendengar perkataannya yang tak lagi ada gurauan membuatku merasa ingin untuk mempercayainya. Bisa jadi saat ini aku ingin lebih banyak orang penting seperti Johanh berada di pihak Wismail Grup sehingga aku terpicu untuk menerima kata-kata manisnya.
Aku menoleh ke belakang memandang secara langsung mata Johanh yang sedikit melebar tak mendugaku berpaling padanya, “Terima kasih Johanh..”
Aku memberikan senyum rasa terima kasih yang di sambut anggukan diplomatis sedikit bangga yang cool di wajah Johanh.
Beberapa menit kemudian kami mulai melihat gedung Wismail Grup yang pintu gerbangnya dipadati oleh wartawan. Driver diarahkan oleh satpam, yang mengenaliku sebagai anggota keluarga Wismail, menuju pintu parkir belakang.
Aku & Johanh langsung menghambur memasuki lift yang tersedia di parkiran basement menuju lobby kantor. Lobby yang terlihat lebih ramai dari biasanya, beberapa wartawan yang diperbolehkan masuk untuk menunggu konferensi pers. Di sela-sela kegaduhan aku mendengar namaku dipanggil oleh seorang pria yang sangat kukenali.
Pria yang memanggil itu berjalan ke arahku sesegera mungkin.
“Kenapa Nona ada di sini?” tanyanya.
Saat ia memandang Johanh dia langsung bisa menyimpulkan bahwa kami datang bersama dan mengangguk sopan padanya.
“Handa, mana Papa? Aku mau ketemu..Pintaku sambil mengikuti arahannya untuk menjauh dari keributan di lobby.
Handa mengangguk sopan, “Saya bisa mempertemukan Nona pada Pak Djati. Tapi mohon maaf sayangnya Pak Johanh tidak bisa ikut.”
Kepala Handa sedikit menunduk sambil memandang Johanh menuntut pengertian dari pria yang berada di belakangku.
Johanh memberikan gestur pemakluman pada kami.
“Nanti kabar-kabari lagi saja. Aku akan menunggu di lobby.” dan dia melangkah menuju sofa lobby yang terdapat beberapa wartawan yang sibuk membenahi alat perekamnya.
Handa menyentuh punggungku mempersilakanku memasuki lift yang membawaku ke lantai teratas, ruang kerja Djati. Di dalam ruang kerja yang beberapa kali pernah kukunjungi itu aku melihat Djati yang nampak sekali guratan lelahnya.
Kepalanya yang sudah hampir dipenuhi uban seluruhnya bersandar di kursinya menengadah menatap langit-langit setengah melamun seolah mempersiapkan diri untuk sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya. Melihatku memasuki ruangan sorot matanya melunak.
“Kika.. Nak. Kamu sampai repot datang kemari..”
Kata-kata sambutannya terdengar lembut seperti biasanya. Senyumnya yang direkahkan tetap tak bisa menghilangkan kesan stres di wajahnya.
Dia berdiri dan mengajakku duduk di sofa yang biasanya digunakan untuk mengobrol dengan tamu di ruangannya. Dasi merah maroonnya yang serasi dengan suit dark-grey miliknya ia renggangkan lalu memposisikan duduk membungkuk dengan siku dia sandarkan di pahanya.
“Sebenarnya ada apa Pa?”
Tanyaku lembut memulai.
Menghela nafas panjang Djati memandangku.
“Yah.. Grup kita lagi ada sedikit ujian aja kok. Jangan khawatir, nggak akan berpengaruh pada biaya kuliahmu. Bahkan sekalipun kamu mau sampai kuliah S3 di Luar Negri.”
Djati membelai rambutku berusaha untuk melembutkan ekspresi kekhawatiran yang terlihat gamblang di wajahku.
Aku semakin tak tega melihat Djati yang biasanya terlihat berwibawa penuh percaya diri kini nampak seperti orang yang sudah mengecewakan harapan banyak orang.
“Apa ada yang bisa Kika bantu Pa? Kika susah-susah kuliah juga buat ngebantu Papa di Wismail Grup. Nggak ada gunanya Kika punya gelar sampai Professor kalo papa nggak bahagia.”
Mata Djati yang tetap menatap lembut memancarkan kilau sedikit keharuan, seulas senyum tergambar seolah beban berat yang sedari tadi ia pikul berkurang.
“Nggak apa-apa kok, Kika. Meskipun situasinya sedikit gawat tapi sudah ada beberapa solusi penanganannya. Salah satunya Irza, kakakmu, akan segera pulang membantu Papa di sektor internal Dan eksternal.”
Aku sedikit goyah mendengar kabar kepulangannya. Penasaran apakah kesalah pahaman malam itu masih mempengaruhi cara dia memperlakukanku.
Melihat reaksiku yang kaku Djati menambahkan.
“Papa nggak tahu kalian berantem lama begini karena apa. Tapi Papa harap kalian bisa saling menguatkan terutama di saat-saat sulit begini.”
Selama 4 tahun terakhir Djati & Mila, mamaku, tidak tahu hal yang menjadi alasan jarak antara aku & Irza. Di antara kami tak ada yang berniat untuk menjadi orang pertama yang memulai menceritakannya pada siapa pun, seolah ini rahasia antara kita berdua.
“Pak Djati.” Handa yang sedari tadi diam menghormati pembicaraanku & Djati tiba-tiba memanggil penuh hormat.
“Saya punya saran yang mungkin bisa jadi pertimbangan. Bagaimana jika Nona Kika dijadikan eksekutif Grup ini?”
Suatu ide mengejutkan memberi perbedaan cara memandang Handa bagiku & Djati pada Handa yang tetap tenang.
Tapi sebelum Djati menginterupsi Handa melanjutkan, “Saya menilai Nona Kika mampu. Selama 4 tahun saya memantau pendidikan Nona di kampus, nilai serta kecakapan Nona memimpin saat kegiatan Himpunan mengagumkan. Saya yakin dengan kemampuan Nona yang sekarang sudah bisa diaplikasikan di dunia nyata.”
Mendengar namaku dipuji dihadapan orang yang kuhormati mau tak mau aku nyengir malu yang berusaha kutahan. Tapi cengiranku berakhir saat Djati menggeleng keras sambil mengakat tangan kanannya sebahu.
“Jangan. Terlalu berbahaya.” Djati kini menatapku dalam.
“Kika, banyak pihak yang menginginkan jatuhnya Wismail Grup & tak segan melakukan segala macam cara. Aku tak mau melibatkan anak perempuanku satu-satunya”
Jawaban Djati membuat semangatku yang tadi membubung mendadak terjun bebas.
“Tapi Pa, Kika juga bagian dari Wismail Grup. Kika ingin berjuan bersama Papa & yang lainnya mempertahankan keutuhan Wismail Grup.”
Aku setengah ngotot setelah melihat celah yang tak bisa kusia-siakan berkat rekomendasi tak terduga dari Handa, sekertaris pribadi kepercayaan Djati.
“Kalau memang Papa mengkhawatirkan keselamatanku, kita bisa sewa bodyguard atau semacamnya kan?”
Kata-kataku nampaknya kurang untuk menghilangkan kekhawatiran Djati. Dia tetap bersi kukuh menggeleng.
“Papa” aku memanggil lembut seraya memegang kedua tangan Djati. “Biarkan Kika mencoba dulu. Kalau ada tanda-tanda bahaya yang mengancam, Kika akan mundur teratur. Janji deh..”
Aku mengulurkan jari kelingking kananku ke hadapan Djati yang wajahnya terlihat mulai menimbang-nimbang dengan tak pasti. Jari yang kuulurkan sudah kumantapkan tak akan kuturunkan sampai pria di depanku menyambutnya dengan kelingking & melingkarkannya meskipun dengan berat hati.
“Kika. Apapun yang terjadi, prioritaskan keselamatanmu ya nak.”
Tangan Djati menggenggam erat tanganku & menatap penuh permohonan. Aku mengangguk pelan & memberi senyum untuk sekedar menenangkan kekhawatiran yang tersisa. Djati memindahkan pandangannya kepada pria di sebelah kami.
“Handa, saya mungkin akan merepotkanmu untuk memberi sedikit guidance pada Kika sampai dia bisa mandiri sebagai eksekutif.”
Handa menganggukkan kepala. “Saya mengerti, Pak. Nanti akan saya sisihkan jadwal kosong untuk membantu Nona Kika semampu saya.” Dia menatapku tenang & memberi senyum ucapan selamat penuh hormat.
Perasaan bersemangat sekaligus gugup mendapat tanggung jawab penting yang selama ini kuidam-idamkan bergiliran memenuhi otak & memacu adrenalinku. Ada sedikit pesimistis yang terlintas tentang bisa tidaknya aku memenuhi tugasku & nggak sekedar gaya-gayaan doang dengan titel eksekutifku, tapi saat teringat yang tadi Handa infokan pada Djati tentang kapabilitasku membuat optimismeku tumbuh lebih subur.
Beberapa menit kemudian Djati & Handa merapikan penampilan karena harus melakukan konferensi pers di lobby yang sudah diisi banyak wartawan serta beberapa orang penting perusahaan lain yang ingin tahu secara langsung pernyataan dari petinggi Wismail.
Djati dengan secarik kertas kecil di tangannya memberikan beberapa informasi yang membenarkan perihal posisi Wismail Grup yang dalam siaga satu. Pengangkatanku sebagai eksekutif Wismail Grup juga menjadi salah satu pengumuman pada konferensi pers di lobby.
Aku bisa melihat ekspresi menganga tak percaya milik Johanh & beberapa eksekutif baik dari Wismail Grup maupun non-Wismail yang pernah bertemu denganku.
Konferensi pers ini tidak menyediakan sesi tanya jawab. Jadi setelah Djati selesai mengatakan intinya, beliau langsung menuju kantor kerjanya lagi tak menghiraukan kicauan berebut para wartawan & blits kamera. Kedamaian pun belum muncul saat Djati berjalan memasuki kantor kerjanya, para eksekutif yang bekerja di bawahnya mencecar pertanyaan seputar pengangkatanku sebagai eksekutif yang baru.
Beberapa juga berusaha menanyaiku dengan ekspresi tak mengerti. Handa dengan sigap memasang badan untuk memberi jarak antara aku & orang-orang yang mengerumuniku. Memahami adanya kekacauan ini Djati memgumumkan dengan suaranya yang lantang untuk segera menggelar rapat mendadak untuk para eksekutif.
Handa membantuku untuk melangkah secara sigap agar selalu berada dekat dengan Djati sepanjang perjalanan kami menuju ruang rapat.
Di ruang rapat utama Wismail Grup terdapat meja panjang dengan 12 kursi mengelilinginya, meja panjang itulah yang digunakan Djati, Handa & 10 eksekutif utama melakukan rapat.
Selain meja panjang, terdapat juga beberapa meja pendek yang disambung menjadi jalur panjang berada di belakangnya, meja pendek itu tempat untuk para sekertaris atau asisten para eksekutif utama.
Djati menyuruhku untuk duduk di sebelahnya setelah seorang office boy membawakan kursi tambahan & menyuruhku untuk tetap tenang selama beliau meyakinkan para eksekutif. Handa yang duduk di posisi kanan yang terdekat dengan Djati juga menyetujui saran atasannya.
Aku yang berada di antara dua orang terkuat Wismail Grup memandang nervous berhadapan dengan 10 pasang mata tidak puas.
Djati berdehem & memulai dengan kata-kata singkat yang to the point.
“Jadi seperti yang sudah saya umumkan tadi di lobby, Kika saya angkat sebagai eksekutif. Kemampuannya di bidang engineering pasti akan banyak memberi kontribusi di sektor research & development.”
Seorang eksekutif yang seorang pria yang kukenali bernama, Yusuf, mengangkat tangan yang dipersilakan oleh Djati.
“Sektor engineering serta R&D adalah tanggung jawab saya, apakah itu artinya saya harus bekerja sama secara langsung dengan Kika?” Nada bicaranya yang kalem menyiratkan bahwa ia berpikir dengan kepala dingin daripada memilih sewot berapi-api mengahadapi keputusan mendadak ini.
Djati memandang Yusuf bijak.
“Saat ini dengan pengalamanmu akan lebih dibutuhkan sebagai Sales/Marketing Engineer yang kepentingannya untuk mempertahankan kerja sama dengan perusahaan rekanan. Karena jatuhnya saham kita berpotensi membuat mereka mundur teratur. Gara-gara itu 80% dari waktumu bakal tersita untuk berada di luar kantor bahkan ke luar negri, karena itu Kika akan mengambil alih tugasmu di kantor pusat."
Yusuf terlihat menyimak sambil manggut-manggut menerima penjelasan Djati. Bukan hanya Yusuf, sebagian besar eksekutif utama nampak mulai memahami gambaran utama atasannya.
"Seminggu pertama ini kalian berdua transfer materi & informasi mengenai sektor engineering.”
Djati menoleh padaku sebentar lalu memandang Yusuf lagi.
Yusuf menanggapi, “Saya mengerti, Pak.” lalu ia memandangku serius, “Kika, besok pagi saya tunggu di ruangan saya di lantai 7. Nantinya ruangan itu akan jadi ruang kerjamu menggantikanku saat dinas.”
“Baik Pak Yusuf! ”
Sedikit terhenyak karena tiba-tiba diajak bicara suara yang kukeluarkan mengeluarkan nada yang agak nggak seperti suaraku yang biasanya namun aku menjawabnya dengan lugas.
"Pak Djati, kalau memang perlu pengganti untuk Pak Yusuf kenapa harus Kika?" Seorang eksekutif tiba-tiba angkat suara.
Pria yang kukenali sebagai sepupu Djati itu melanjutkan kata-katanya, “Saya tahu Kika memang pintar, tapi kan masih banyak engineer-engineer IT yang kaya pengalaman di perusahaan ini.” Pria itu kini memandangku memberi senyum menyindir.
Aku berusaha memasang wajah poker face agar emosiku tidak tersulut.
“Jangan khawatir, Pak Lubi. Saya akan banyak belajar dan berusaha mengejar ketertinggalan.”
Djati turut menimpali.
“Wajah Kika banyak dikenal oleh para pebisnis besar di negara ini. Itu senjata terkuatnya. Dan Justru otak-otak optimis & fresh yang seperti Kika mungkin yang kita butuhkan untuk membalikkan situasi. Kita sedang dikejar waktu, kalau terlalu pilih-pilih ditakutkan malah jadi terlambat penanganannya.”
Jawaban Djati kurang lebih memupuskan posisi berdiri Lubi menjadi duduk kembali karena tak memiliki kalimat interupsi lagi.
Seorang wanita berambut cepak berkaca mata mengangkat tangan kanannya. Ia menyuarakan pendapatnya setelah Djati mempersilakan.
“Saya tidak ada masalah dengan Kika. Yang lebih saya khawatirkan perihal antisipasi untuk mengangkat nama Wismail di pasar saham. Apakah anda sudah punya rencana di luar urusan untuk Pak Yusuf?”
Wanita yang kukenali bernama Latifa ini salah satu eksekutif yang cukup disegani di kalangan rekan kerja Djati termasuk aku.
Djati manggut-manggut, “Sejauh ini yang saya prioritaskan adalah jangan sampai rekanan kerja kita pergi. Selanjutnya kita selesaikan masalah internal yang jadi penyebab damage di perusahaan namun sambil tetap mempertahankan kualitas pelayanan jasa & produk.”
Penjelasan Djati membuat sebagian eksekutif mulai mencorat-coret notes yang mereka bawa, beberapa mencatatnya di Wiphone keluaran baru.
“Sebagai tambahan, karena ada kecurigaan praktik korupsi jadi pasti akan ada pihak kepolisian yang menghubungi kita. Saya hanya bisa meminta semua pihak bersikap kooperatif.”
Suara Djati yang semula terlihat jelas leadershipnya berubah warna menjadi lebih dalam & menekan. Para peserta rapat semua memandang Djati terpaku dalam kejutan yang membuat bulu kuduk berdiri seolah kata korupsi itu tabu untuk dikatakan, meskipun tidak ada pihak yang tertuduh secara langsung.
“Pak Djati..” seorang eksekutif yang lain memanggil, mendapat tatapan memberi perhatian Djati ia pun melanjutkan “Sejauh mana informasi yang kita punya tentang korupsi ini? Di departemen mana? Apakah sudah valid atau baru dugaan?”
“Karena belum ada bukti pasti, mari kita anggap ini baru dugaan, Pak Tantra.” Djati mengucap tanggapan yang memberi sedikit ruang lega pada nafas anggota rapat.
“Praktek korupsi belum tentu melibatkan departemen keuangan yang jadi tanggung jawab Pak Joni. Bisa jadi kebocoran ada pada departemen lain yang melibatkan material berharga lainnya.” Djati melirik sebentar pada Joni, yang berkumis ala tokoh Pak Raden, yang dari tadi mendengarkan sambil menyandar tegak penuh wibawa.
“Kemudian..” Djati membaca notes yang ia pegang sambil mengingat-ingat hal yang ingin ia sampaikan selanjutnya,
“Ah ya! pak Darmanta siapkan strategi baru di bidang marketing agar penjualan kita lebih baik. Saya berharap prestasi omzet kita naik agar siklus finansial kita terus berputar. Nanti sore kita rapat terpisah bertiga sama Pak Yusuf.”
Eksekutif yang usianya sedikit lebih tua dari Handa mengangguk, begitu pula dengan Yusuf yang kelihatannya memperbarui jadwal di Wiphonenya.
Djati terus memberi intruksi tentang visinya untuk menyelamatkan Wismail Grup pada tiap eksekutifnya. Beliau memberi beberapa saran pada Sahab selaku penanggung jawab sektor produksi untuk selalu menjaga informasi dengan pihak engineering agar meminimalisir missed communication.
Ia juga memberi jobdesk baru untuk sektor Quality Assurance yang dipegang Kis, yang juga eksekutif wanita seperti Latifa, agar kepercayaan masyarakat pada produk kami tetap terjaga.
Begitu pula pada Indra yang membawahi sektor keamanan. Djati ingin keamanan kantor lebih diperketat baik secara fisik maupun dunia maya. Hal-hal yang semi-confidental tidak diperkenankan meninggalkan gedung kantor.
Selanjutnya Djati memberi arahan pada pihak HRD, Badjabir, untuk mengevaluasi lagi karyawan outsourcing. Badjabir, yang usianya sepantaran dengan Djati, cukup sering datang ke rumah utama Wismail meskipun cuma sekedar mengobrol santai. Bisa dibilang aku & Irza sudah menganggapnya sebagai paman yang baik hati.
Setelah Djati selesai memberi intruksi pada semua eksekutifnya & tidak ada lagi pertanyaan yang diajukan, kami menyudahi rapat sebelum jam 5 sore. Djati menyuruh Handa untuk menemaniku pulang sekaligus mulai memberikan beberapa materi garis besar perusahaan, agar aku siap saat transfer ilmu dari Yusuf keesokan harinya.
Djati belum bisa ikut pulang karena masih harus melakukan pertemuan tambahan dengan beberapa eksekutif.
Banyak hal terjadi hari ini & membuat isi gedung Wismail Grup sibuk berlipat-lipat, terutama para petingginya. Aku yang secara status, meskipun non-formal karena dataku sebagai karyawan eksekutif belum masuk ke data base HRD, sudah menjadi bagian dari eksekutif tentu kebagian banyak jobdesk yang harus kulakukan yang memaksaku harus memangkas drastis jam tidurku. Apalagi ada banyak ketertinggalan yang harus kukejar.
Manajemen waktu akan sangat krusial untuk 2 tahun ke depannya.
Seluruh aspek perusahaan sedang berpacu dengan waktu, layaknya mengejar bola yang terlanjur menggelinding menuju jurang di depan mata. Tanggung jawab memikul nasib 900.000 karyawan membuat para eksekutif lebih tertekan, namun melihat visi Djati yang opimis membuat mereka lebih percaya diri. Percaya bahwa ujian ini pasti bisa mereka lewati bersama.
Aku berharap Irza segera pulang. Meskipun aku cemas pada pertemuan kami setelah 3 tahun berselang akan seperti apa, tapi setidaknya keberadaannya memberi ketenangan pada ayah tiriku. Kemampuan Irza, serta ditunjang pengalaman kerja di New York, pasti akan banyak membantu Djati mengokohkan kembali Wismail Grup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Friasta
Waaah, Kika engineer keren sekali 😍 Btw, ini per-bab-nya memang panjang ya, Kak?
2022-12-07
0
Fitriana
brp lama kami ngetik thor...
puaaanjaaaang bgt ini 1 chapt
2021-04-13
1
Indraqilasyamil
seneng jawabn kika saat di tanya sepupunya djati
2021-02-26
1