Sejak pukul 09.00 aku menghadiri meeting mengenai proyek Wikid yang digagas oleh Yudi. Hampir semua engineer Wiphone nampak antusias. Selain engineer Wiphone ada pula Karna, Putri & 3 engineer sektor lain yang turut terlibat. Mungkin karena ini proyek perdana yang melibatkan hak paten mereka sehingga ada antisipasi yang besar dari wajah mereka.
Head project ini kudelegasikan pada Yudi yang sudah berpengalaman 8 tahun di dunia IT. Selama ini ia memiliki kinerja yang kerap mendapat pujian tinggi dari Yusuf sehingga aku mempercayakan hal penting ini padanya. Dan sejauh yang sudah berjalan dia melakukannya dengan luar biasa. Dia sudah tahu mau dibawa kemana proyek ini, elemen-elemen apa saja yang dibutuhkan, serta yang tidak, sehingga bisa dengan segera kita menentukan milestone & target. Dari situ kami membagi tugas-tugas & siapa yang bertanggung jawab nantinya.
Meeting yang sudah berlangsung 2 jam ini diinterupsi oleh suatu ketukan di pintu ruang meeting yang tertutup. Seorang office boy melongokkan kepalanya.
"Bu Kika, ada telepon dari Pak Handa." katanya sambil menundukkan kepala sebagai pengganti salam.
Meeting ini menurutku sangat penting jadi aku meninggalkan ponselku di office karena seharusnya tidak ada panggilan atau message penting yang kutunggu untuk segera kujawab. Karena merasa sebagai pemimpin meeting tak ingin keberadaanku absen sedetik pun.
"Bilang ke Pak Handa, saya lagi meeting." jawabku menego.
"Sudah Bu. Tapi beliau bilang ini penting sekali & gawat." Ia melanjutkan dengan nada polos & sedikit takut-takut.
Meskipun enggan aku memutuskan untuk menerima telepon tersebut, di samping tak ingin si office boy ini berada di posisi tak nyaman lebih lama. Aku mewakilkan kepemimpinan meeting pada Karna selaku wakil proyek siapa tahu harus menerima telepon dalam waktu yang relatif lama.
Telepon yang dimaksudkan si office boy ini langsung kuterima. "Ya? Halo?"
"Kika! Cepat ke ruang meeting eksekutif sekarang!"
Handa memerintah dengan suara yang sepertinya ini adalah masalah yang sangat mendesak.
"Ada meeting apa? Kalau cuma curhatan & omelan Om Lubi sehabis kena terorisme baru mending aku absen dulu." sahutku agak sewot.
Handa langsung melanjutkan tanpa memberi jeda untuk memikirkan sahutanku.
"Ini jauh lebih gawat, para eksekutif beramai-ramai melepaskan diri dari Wismail Grup."
Informasi dari Handa ini sangat mengejutkanku sampai sesaat aku lupa cara berkedip dengan benar. Tanpa membalas perkataan Handa aku langsung segera meluncur menuiu koordinat yang di intruksikan Handa, Ruang Meeting Eksekutif yang pernah digunakan oleh Djati mengangkatku pertama kali sebagai karyawan Wismail Grup.
Dengan langkah setengah berlari tak sampai 10 menit aku sudah berada di depan pintu meeting yang tertutup namun terdengar suara saling sahut menyahut bernada tinggi.
Ketika aku membuka pintu dengan tenaga penuh membuat suara gebrakan yang mengagetkan. Isi ruangan memandang ke arahku yang terengah-engah.
"Apa itu benar?" Aku mengatur nafasku & melangkah memasuki ruang meeting menuju tempatku biasa duduk, di antara Handa & Irza.
Namun saat ini Irza sedang berdiri. Nampaknya sesaat sebelum aku memasuki ruangan ia & Lubi sedang berselisih pendapat.
"Apa benar para eksekutif mau melepaskan diri dengan Wismail Grup?" aku bertanya lagi pada Lubi.
"Itu benar nak Kika." Lubi menjawab.
"Aku tidak mengizinkannya!" Irza menyahut cepat. "Kita seharusnya tetap bersama-sama jika ingin Wismail Grup cepat pulih seperti sedia kala. Bukankah itu yang kita semua sepakati bersama Pak Djati?!"
"Itu dulu nak Irza. Waktu itu kami semua berpikir bahwa dengan sedikit kerja keras kita bisa memulihkan situasi. Tapi lihat sekarang, situasi tak kunjung membaik. Bahkan makin parah dengan jatuh sakitnya Pak Djati."
Lubi menjelaskan dengan mendayu-dayu yang menurutku berlebihan. Tiap kata ia tekankan seolah dia adalah korban yang paling harus dikasihani.
Kini Kis yang rona wajahnya sedikit pucat berdiri untuk mengatakan sesuatu.
"Mohon mengerti, kami sudah capek menghadapi teror yang meresahkan & juga pekerjaan yang entah ada faedahnya untuk memulihkan Grup atau tidak. Aku tak mau kalau harus kolaps seperti ayah kalian." ia berkata tertuju untukku & Irza.
"Bu Kis, mungkin kita memang harus bersabar sebentar lagi. Toh kepolisian juga sedang berusaha mengusut kasus ini. Jika pelakunya ketahuan teror yang terjadi pasti berhenti dengan sendirinya." Latifa menyuarakan pendapatnya berusaha meyakinkan Kis membantu mempertahankan keutuhan Wismail Grup. Dalam hati aku sangat berterima kasih pada pilihannya yang Pro-Wismail.
Kini salah satu eksekutif yang lain, Darmanta meminta atensi. "Ini juga keputusan yang sulit bagi kami untuk meninggalkan Wismail Grup yang sudah kami anggap keluarga sendiri."
"Tapi aksi teror ini menyebabkan para karyawan kita terganggu. Overal rate pengunduran diri karyawan kita minggu ini sudah melebihi batas maksimum. Tanya saja sendiri pada Pak Badjabir selaku petinggi HRD."
Darmanta membawa-bawa seorang eksekutif yang dari tadi diam memperhatikan rekan-rekannya adu pendapat.
"Mau sampai kapan kita menunggu polisi? Sadarilah bahwa ada jalan yang lebih mudah & cepat untuk menyudahi penderitaan ratusan karyawan kita."
"Lalu dengan memisahkan diri dari Wismail Grup teror pada kalian akan berhenti? Apa itu bisa jadi jaminan? Atas dasar apa?"
Handa menyuarakan pendapatnya dengan tenang namun tajam. Beberapa eksekutif yang kontra-Wismail agak goyah ragu.
Darmanta bersuara lagi, "Memang tidak ada jaminannya. Tapi teror jelas-jelas ditujukan pada Wismail Grup, sudah sewajarnya kita menjauh dari sasaran utama jika tak ingin kena imbas juga."
Wajah Irza semakin terlihat emosi. Ia mengepalkan tangannya erat.
"Lalu, kalian mau lepas tangan? Kalian mau meninggalkan Djati Wismail di saat beliau sedang membutuhkan kalian?" suara Irza terlihat jelas sekali diusahakan olehnya semaksimal mungkin untuk tidak menjadi terdengar kasar.
"Nak Irza, jangan berkata seolah kami pihak yang jahat. Ini kami lakukan semata-mata demi kepentingan karyawan kita. Bukankah mereka juga berhak untuk hidup damai?" Lubi yang tiap penjelasannya membuat telingaku merah karena menahan marah bersuara lagi. "Maka dari itu aku, Darmanta, Kis, Indra & Joni membawa bussiness unit yang mayoritas sahamnya berada pada kepemilikan kami untuk lepas dari Wismail Grup."
"APA..?!"
bak adegan klimaks di film India. ayku, Irza, Handa & para eksekutif yang baru pertama kali mendengar rencana Lubi dkk reflek seolah latah karena tak percaya dengan yang kami dengar.
"Nggak bisa begitu dong!" Aku menghardik ke arah Lubi yang bersikap tenang seolah dia berada di atas angin. "Berarti hampir separuh bussiness unit harus lepas dari sini..!"
"Apa boleh buat Kika." kini Joni yang menanggapiku. "Lebih banyak karyawan yang kita hindarkan dari terorisme lebih baik kan?"
Aku melotot pada Joni. "Tapi ini adalah hasil keringat Papa selama puluhan tahun. Kenapa kalian tidak memahami perasaan Papa?!" Biasanya aku menyebut Pak Djati untuk menunjukkan profesionalitas, tapi kali ini aku keceplosan memakai sebutan 'Papa'.
Kupandang tiap eksekutif yang disebutkan Lubi yang memiliki niat melepaskan diri dari Wismail Grup. Beberapa dari mereka tak berani memandangku balik.
Memandang raut wajah mereka yang sepertinya sudah memutuskan dengan bulat tanpa bisa disergah aku terduduk dengan pandangan putus asa.
Irza juga sikap tubuhnya sedikit banyak mirip denganku. Handa nampak lebih tenang namun terlihat raut kecemasan di wajahnya. Berkali-kali sudut mataku menangkap ia diam-diam memandang ke arahku & Irza bergantian.
"Pak Lubi.." kini Yusuf, yang dari tadi tak bersuara mulai angkat bicara.
"Rencananya setelah memisahkan diri dari kantor utama, bussiness unit yang kalian bawa ini tetap beroperasi di kantor ini kah?"
Indra yang sebelumnya diam saja mewakilkan menjawab. "Kami berencana untuk menempati Gedung Sunrise. Mungkin 2 minggu ini kami akan sibuk mengurus perpindahan."
Handa seperti mendengar sesuatu yang menarik baginya. "Gedung Sunrise? Maksudnya bangunan pencakar langit milik Tiger Grup?"
"Jadi kalian me-merger bussiness unit yang kalian tarik dari sini untuk bergabung dengan Tiger Grup?!" Irza menyebutkan suatu kesimpulan.
Lubi menyunggingkan senyum yang sangat ingin kulempar pakai kursi, "Secara dokumen sih tidak. Tapi secara ekonomis bisa dianggaplah seperti itu."
Melihat ekspresi haus darah terarah pada Lubi, Kis buru-buru menambahkan. "Kami rasa ini win-win solution yang bisa kami sediakan untuk para karyawan kita. Dengan menjalin hubungan baik dengan Tiger Grup tentu seperti mendapat backing yang bisa menjauhkan teror kan?"
Penjelasan Kis yang lebih halus tetap tak bisa menghapus fakta kejam bahwa Wismail Grup kini terpecah & mengecil. Tak mampu menghilangkan ketidaksetujuanku & Irza sebagai wakil Djati. Para eksekutif yang memutuskan untuk menetap di Wismail juga tak bisa berkata apa-apa lagi.
Lubi memberikan kata-kata untuk mengakhiri meeting ini. "Baiklah, karena maksud kami sudah diutarakan jadi pertemuan ini nampaknya bisa diakhiri."
Irza seperti hendak mengatakan sesuatu tapi disergah oleh isyarat tangan Handa. Setelahnya Handa berbisik pelan padanya & otomatis aku juga mendengar karena aku ada di antara mereka.
"Meeting ini disudahi saja. Setelahnya kamu, Kika & aku langsung ke ruangannya Pak Djati dulu."
Meski agak bingung dengan saran Handa tapi kami berdua menurutinya. Toh bersikukuh mengubah pendirian para eksekutif yang dipimpin oleh Lubi juga nampaknya sia-sia.
Meeting berakhir dengan kesimpulan bahwa sebagian bussiness unit Wismail harus lepas dari induknya. Untungnya saham Wiphone yang menjadi salah satu ujung tombak harapan Wismail Grup mayoritas dipegang oleh Djati seorang sehingga tidak nyangkut di kubu Lubi.
Aku, Irza & diikuti oleh Handa langsung meluncur ke kantor Djati yang selama ini dipakai oleh Irza bekerja. Kami bertiga memasuki ruangan & segera menutup pintunya mengisyaratkan bahwa hal yang akan kami bahas adalah hal yang harus dirahasiakan di antara kami saja.
Aku & Irza terlihat tak sabar menunggu Handa memulai, karena dia yang menginisiatifkan pertemuan 3 arah ini. Kami duduk di sofa yang disediakan membentuk lingkaran kecil.
Handa berdehem untuk memulai,
"Langsung saja ya. Saran saya sebaiknya para eksekutif yang mau melepas dari Wismail kita biarkan saja dulu."
Ia memandang Irza seolah meminta restunya yang pastinya sangat ditentang oleh putra tunggal atasannya itu.
Irza mencoba berkepala dingin. Ia tahu Handa pasti punya alasan kuat untuk menyugesti hal yang sangat ingin dihindarinya ini. "Apa kamu terpikirkan sesuatu?"
"Ini baru dugaan..." Handa mengaitkan tangannya ke depan tanda ia berpikir mencari kata untuk mengejewantahkan isi kepalanya.
"..tapi kelihatannya musuh dalam selimut sudah mulai melancarkan langkahnya."
"Maksudnya si eksekutif misterius yang terlibat penyelundupan uranium itu?" aku menyambungnya setengah memastikan berusaha agar maksud Handa tidak salah kucerna.
Irza memandangku dengan lirikan yang tajam, "Kamu tahu ya? Diberitahu Handa?"
Aku mengiyakan pertanyaan Irza dengan anggukan jujur.
"Saya masih belum tahu dengan pasti siapa orangnya tapi kemungkinan dia memecah Wismail Grup untuk menghilangkan jejak bussiness unit ilegalnya." Handa melanjutkan deduksinya.
"Jadi maksudmu salah satu pelaku ada di antara 5 eksekutif yang keluar dari Wismail Grup?" Aku memastikan lebih jelas.
"Bisa jadi pelakunya ada lebih dari satu orang. Tidak menutup kemungkinan ada rekannya yang sengaja disuruh menetap untuk mengawasi di internal Wismail Grup. Kita tak tahu pasti." Irza kini mengutarakan pendapatnya.
Handa tak kurang dari setuju dengan ucapan kakakku.
"Seandainya aku adalah pelaku, bussines unit yang bermasalah itu pasti ikut kupisahkan dari Wismail Grup untuk mengulur waktu penyelidikan kepolisian."
"Dengan waktu yang cukup bussines unit bisa 'dicuci' dengan menghilangkan berkas-berkas tertentu atau dilebur dengan bussiness unit yang lain agar nampak bersih."
Sekali lagi Handa mengutarakan pendapatnya. Aku & Irza manggut-manggut kagum dengan kemampuannya berpikir dalam.
"Kalau hipotesamu benar berarti teror yang terjadi selama ini untuk melemahkan Wismail Grup, artinya setelah kejadian ini teror akan berhenti?" aku menggumam keras.
Handa mengangguk padaku. Irza wajahnya seperti baru mendapat sebuah wahyu. Sepertinya ini adalah hipotesa yang paling melegakan meskipun cuma dugaan yang tak pasti.
Menghela nafas panjang setelah menjadi jauh lebih tenang Irza bertanya hal yang juga ingin kutanyakan selanjutnya.
"Jadi apa saranmu untuk langkah kita selanjutnya?"
Handa membenahi kacamatanya, "Saya rasa sebaiknya kita bermain aman dengan mengikuti apa maunya para eksekutif & tentunya melanjutkan kerja sama dengan kepolisian."
"Bussiness unit yang dibawa pergi Pak Lubi CS dari Wismail harus diprioritaskan untuk diselidiki terlebih dulu."
Saran Handa untuk bersikap defensif ini sangat kumengerti. Mengingat banyak hal yang tidak kami ketahui & jatuh sakitnya Pemimpin utama Wismail Grup, membuat kami cukup kewalahan untuk bertahan.
Irza mau tak mau harus menjadi tulang punggung besi mendadak bagi Grup yang mulai terpecah belah karena beberapa oknum yang tak bertanggung jawab. Aku harap Wismail Grup dibawah tanggung jawab Irza, aku & eksekutif yang tersisa bisa bertahan minimal hingga perekonomian kami stabil. Aku tidak akan berpikir muluk berharap Grup Wismail kami bisa kembali menjadi yang teratas seperti sebelumnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Ree.Pand
tegang
2021-02-26
1
Ran
suka sama alur nya...
konflik nya bkin tegang..
2020-09-07
1
Die-din
mulai semakin pelik konfliknya
2020-05-11
2