Kondisi yang sepi membuat mobil melaju tanpa rintangan berarti. Apartement Handa yang baru 2 tahun berdiri ini kini berada dalam pandangan kami.
Handa, seperti sudah hafal, melalui jalan yang sudah disediakan menuju parkiran basement gedung apartement. Hanya beberapa saat setelah melalui pintu sekuriti parkiran otomatis kini mobil sudah mendapat tempat parkir.
Aku & Irza turun setelah Handa mematikan engine. Irza memapahku yang masih terbalut rasa shock & aku berterima kasih karenanya.
“Di bagian dalam dekat lobby ada toko swalayan 24 jam yang cukup lengkap. Kita bisa membeli beberapa keperluan di sana.” Handa memberi info.
Kami menurut saja dengan orang yang lebih tahu medan. Irza & aku mengikuti Handa naik lift menuju lobby lalu dilanjutkan ke swalayan yang tadi ia sebutkan.
Aku membeli beberapa helai pakaian. Pakaian yang tersedia yang bisa kugunakan di sini hanya plain T-shirt, plain panty & kaos singlet. Karena tak ada celana atau rok untuk perempuan aku mengambil sarung sebagai pengganti.
Tak lupa juga aku mengambil peralatan mandi yang mungkin tak bisa disediakan oleh tuan rumah nanti seperti sikat gigi beserta pasta giginya sekalian, sabun wajah wanita & panty liner.
Aku & Irza menyatukan belanjaan di kasir yang melayani kami dengan mata setengah terpejam namun tetap berusaha ramah. Handa sudah menunggu di luar dengan membawa satu keresek berisi minuman & makanan.
Kelihatannya dia sengaja membeli cepat karena tak ingin Irza atau aku yang membayarnya. Meskipun kami berniat begitu karena tak ingin merepotkan tuan rumah lebih banyak. Tapi mungkin bagi Handa direpotkan itu memang sesuatu yang justru harus dilakukan seorang tuan rumah.
Selesai berbelanja kami melanjutkan lagi memasuki lift menuju lokasi apartment Handa di lantai 7. Tak banyak yang kami bicarakan sepanjang menanti lantai yang kami incar. Rasa lelah karena jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari & serentetan kejadian yang terjadi membuat badan menjadi tidak fit.
Handa terus menjadi pemandu kami menjelajah gedung apartemennya. Aku & Irza mengikuti dengan patuh tanpa bertanya. Handa berhenti pada pintu bernomor 74 dengan segera membuka kunci pintu tersebut dengan selembar kartu ID. Ia mempersilakan kami masuk.
Apartement Handa yang memiliki 2 kamar tidur yang salah satunya memiliki kamar mandi dalam, cukup bersih untuk ukuran pria yang tinggal sendirian meskipun sedikit tidak rapi. Ruang tengah yang berisi sofa & televisi terlihat sedikit tak rapi karena banyak koran & buku bertebaran.
“Maaf agak berantakan..” Handa buru2 merapikan beberapa barang yang sekiranya bisa cepat disingkirkan.
“Tak perlu sungkan. Justru kami yang merasa merepotkanmu, Handa.” Irza memberi jawaban yang pantas.
Handa memandangku & Irza yang berdiri setengah sungkan. “Di sini kamarnya hanya ada 2. Yang satu dipakai untuk Kika saja. Irza tak apa-apa kan tidur di sofa ruang tengah?”
“Tapi kalau Kak Irza yang mau pakai kamar juga bisa. Aku nggak masalah tidur di ruang tengah.”
Aku memberi suatu pesan tak tersirat bahwa aku tak perlu diperlakukan lebih spesial dari Irza hanya karena perempuan.
Irza malah jadi memandangku sewot, “Nggak! Kamu tidur di kamar! TITIK!” perkataannya penuh tekanan & pasti tak terima sanggahan apa pun.
Handa tersenyum sedikit geli melihat kami.
“Baiklah, karena pembagian kamar sudah sepakat. Sebaiknya kita membersihkan diri & beristirahat.” Ia mengambil 2 handuk ukuran sedang dari dalam lemari dekat pintu kamar mandi luar & memberikannya padaku serta Irza.
“Kalau kalian haus atau lapar aku punya beberapa minuman & camilan di kulkas. Ada juga multi vitamin bila kalian memerlukannya.” Handa meletakkan belanjaannya tadi di atas kulkas. Mengeluarkan isinya dari kantong plastik.
Irza memasuki kamar mandi luar sambil membawa beberapa barang yang tadi dibelinya di swalayan. Kelihatannya dia berniat mandi & mengganti pakaiannya.
Handa mengantarku masuk ke kamar kosong yang tersedia dekat dapur. Daripada kamar, lebih mirip ruang serba guna. Terdapat peralatan setrika & beberapa tumpukan pakaian yang masih kusut. Buru-buru Handa menyimpan seperangkat pakaian kusut, yang tak sengaja kulihat ada beberapa mens brief miliknya, ke dalam lemari.
Dan di lemari yang sama ini kelihatan tugas utamanya menyimpan cadangan perlengkapan tidur karena dari situ lah pria berkaca mata itu mengambil selimut, sprei baru & bantal. Dengan cekatan ia melapisi matras ukuran single untuk kugunakan. Mungkin karena mantan butler ia sefasih ini dalam melakukan urusan rumah tangga.
"Apakah Nona sudah merasa lebih baik?" tanyanya khawatir.
Kepalaku terangguk. Mau tak mau aku teringat kejadian di hotel tadi. Handa sempat berhadapan one on one dengan si penyerang.
"Apakah ada yang terluka? Orang tadi membawa pisau.." tanyaku cepat.
Handa tersenyum kecil, "Saya baik-baik saja. Untungnya orang tadi terlalu fokus pada hal lain. Dia tak sempat menyerang saya sama sekali." sesaat kami memperhatikan kondisi fisik Handa. Mencari luka yang memang tidak ada.
Pandangan Handa berpindah padaku & dia terkejut. "Nona, lututnya!"
Mendengarnya membahas lututku, aku memandang ke arah bagian kakiku. Kutemukan luka gores di kedua lututku. Pantas saja kurasakan nyeri Di sekitar kakiku.
Awalnya kukira gara-gara jatuh saat melawan orang berhelm bagian kakiku ada yang memar akibat benturan. Tak kusangka berupa lecet gores seperti ini. Darah segar mengintip dari celah-celah gores tersebut. Beberapa Ada yang berhasil keluar membuat garis memanjang tipis ke arah mata kaki.
"Ayo dibersihkan dulu!" Handa memberi ide.
"Tapi kamar mandinya sedang dipakai Irza." Dia memupuskan idenya sendiri. Seolah berbicara pada dirinya.
"Di apartement ini kamar mandinya cuma satu ya?" tanyaku. "Aku akan menunggu dulu. Mungkin sebentar lagi Kak Irza selesai."
Handa terlihat panik yang aneh. "Sudah daritadi Nona terluka. Saya khawatir akan menjadi infeksi."
Hal yang terjadi selanjutnya lebih membingungkanku. Handa melempar sebuah kain ke kepalaku, menutup pandanganku. Dari bau nya kelihatannya dia melempar salah satu cuciannya yang belum dia setrika. Kuharap bukan celana dalamnya. Tapi sebuah ****** tidak mungkin selebar ini.
"!!!!!!"
Aku sedikit terpekik karena tiba2 badanku terangkat.
"Maaf, tapi bisa kah begini dulu?"
"Saya akan bawa Nona ke Kamar mandi dalam kamar saya. Saat ini kamar Saya berantakan, saya malu terlihat oleh Nona."
Aku mencerna ucapan nya yang terdengar janggal sekaligus menggelikan. Yah memang wajar sih kalau orang memiliki sesuatu di kamarnya yang tidak ingin dilihat orang lain. Tapi seorang Handa yang lurus, kira-kira benda macam apa itu?
Lamunanku dibuyarkan dengan diturunkannya kakiku menyentuh ubin kamar mandi secara perlahan, "Sudah boleh kubuka?"
Handa sendiri yang menyingkirkan kain itu dari kepalaku. Syukurlah, kain itu ternyata cuma kemeja warna putih.
Handa mempersilakanku duduk di atas ****** yang tertutup. Selanjutnya ia mengambil shower lalu disemprotkan memutar perlahan di lututku satu per satu bergantian.
"Maaf, saya harus menutup kepala seperti itu."
Aku mendehem singkat. Bisa kulihat wajahnya terlihat bersemu & dahinya berkeringat. Membuatku jadi semakin penasaran rahasia apa yang ada di kamar sebelah itu.
"Nona bisa lanjutkan membersihkan lukanya. Kotak P3K ada di dapur. Aku akan segera kembali." ia berpamit.
Sebelum benar-benar menutup pintu. Ia mengintip sedikit dari baliknya, "Saya percaya Nona tidak akan mengintip ke dalam kamar saya.." katanya penuh ancaman sekaligus memelas meminta.
Geli dengan tingkahnya yang imut. Aku kesulitan menjaga sikapku. Setelah pintu tertutup sepenuhnya aku terkikik tanpa suara. Untuk sesaat aku melupakan kejadian menegangkan di depan hotel tadi.
Meskipun rasa penasaran mendorongku untuk mengintip isi kamar Handa tapi sisi rasionalku mendesakku untuk bersikap sopan. Bukankah wajar kalau tiap orang, apalagi lelaki, punya 1 atau 2 barang yang ingin dirahasiakan dari orang lain.
Saat ini dini hari. Handa cukup welas asih bersedia menampungku & Irza yang kebingungan karena tidak ada opsi yang terbaik untuk kami bermalam sementara. Ada rasa takut terusir, meskipun kutahu Handa tak akan setega itu pada kami yang sudah dikenalnya bertahun-tahun.
Apakah ada poster cewek sexy di kamarnya?
Apakah dia punya sesuatu yang dilarang negara terpajang di kamarnya?
Oh NO! Kenapa aku semakin memikirkannya...??
Kuputuskan untuk fokus membersihkan lukaku daripada menanggapi imajinasi liarku tentang rahasia Handa. Memastikan kebersihan dari tiap goresan yang ada di kakiku, yang ternyata sedikit lebih parah dari yang kubayangkan. Aku berjengit sesekali saat air menyentuh luka yang sensitif perih.
Terdengar ketukan di pintu, Handa sudah datang lagi. Selain kotak P3K dia juga membawa sebuah handuk kecil, yang mana ia gunakan untuk mengeringkan sisa-sisa pembersihan di sekitar lukaku. Dengan lembut ia memberikan obat antiseptik beserta perbannya.
Aku agak merasa janggal hanya berdua di kamar mandi dengan seorang laki-laki begini. Beberapa kali aku seruangan berdua dengan Handa di kantor namun saat itu kami berkonsentrasi pekerjaan sehingga aku tidak terlalu terpengaruh atau berpikir yang aneh-aneh. Tapi sekarang...
"Oh iya, aku tadi menemukan ponselmu"
Aku memecah keheningan. Merogoh kantong jas Irza di mana aku meletakkan benda tersebut & menyerahkannya pada pria berkacamata itu.
Proses serah terima diikuti ucapan terima kasih Handa. Aku ragu-ragu haruskah kutanyakan tentang wallpaper di ponselnya?
"Irza tadi keluar. Katanya perlu menelepon."
Handa memecah lamunanku.
"Selarut ini? Telepon siapa?"
"Kurang tahu. Mungkin temannya di New York. Karena saat menerima telepon dia memakai Bahasa Inggris."
Masuk akal sih. Di Indonesia memang sudah larut malam tapi di New York, masih 11 jam lebih lambat daripada di sini.
"Nah, Kurasa sudah selesai." tangan Handa menjauh dari kakiku & mulai membereskan perlengkapan P3K nya.
"Kurasa aku belum berterima kasih." ucapku tiba-tiba.
"Bukan cuma karena lukaku diobati, tapi juga karena sudah menyelamatkanku tadi."
Handa tersenyum sambil menghela pendek, "Jantung saya serasa jatuh saat melihat Nona bergelut dengan pria tadi. Karena pakaian Nona agak koyak, saya kira dia hendak merudapaksa anda."
"Bahasamu kok makin formal sih?" protesku.
"Aku capek diperlakukan beda seperti ini."
"Tadi saat di hotel juga bisa kan manggil namaku tanpa embel-embel Nona?"
Handa berdehem kecil. Pandangannya terarah ke kotak P3K yang sudah selesai dibereskan. "Itu karena spontan & kepepet. Anggap aja saya sedang silap."
"Di harapan Irza, pakai kata 'aku-kamu'. Sementara padaku pakai, 'saya-anda'. Kenapa harus dibedakan sampai segitunya?" aku berdiri menekan.
Handa terlihat mati kutu. Dia pun tahu bahwa dia terlalu berlebihan memperlakukanku.
Entah kenapa aku jadi seemosional ini.
Apa gara-gara ini malam yang panjang?
2 kejadian tak mengenakkan terjadi padaku. Kejadian dengan Pamungkas di pesta & kejadian penyerangan misterius di mobil.
Handa diam saja. Matanya masih tak mau melihat ke arahku. Aku tahu tak seharusnya mendesak Handa seperti ini & mulai merasa protesku sudah di luar Kendali.
"Kelihatannya pikiran & badanku sudah terlalu letih. Aku akan kembali ke kamar." Aku memberi alasan klasik.
Mungkin karena malu marah-marah seperti tadi aku ingin secepatnya keluar dari ruangan berbau karbol ini. Langkah kakiku berjalan menuju pintu dengan cepat. Tanganku membuka pintu kamar mandi disertai dengan suara panik Handa yang tak kumengerti.
Oh iya, Handa kan tidak mau aku melihat isi kamarnya. Namun terlambat. Aku lupa dengan aturan rumahnya gara-gara panik. Aku udah terlanjur beberapa langkah di luar kamar mandi tanpa menutup mata. Apa yang terlihat membuatku terkejut terheran-heran.
Ada fotoku terpajang di dinding kamarnya.
Hanya ada wajahku.
Tanpa ada wajah anggota keluarga Wismail lain.
Yang lebih mengagetkan: ukurannya sebesar A1.
Lebih mengejutkan lagi: ada lebih dari 5 foto berukuran tersebut.
Mau yang lebih lagi?
Itu belum termasuk foto kecil-kecil yang ditempel menyebar di sekitar foto yang lebih cocok disebut poster eksklusif tersebut.
Kuamati beberapa foto bahkan ditangkap secara candid.
Aku menganga melihatnya. Lupa berkedip, lupa juga kalau yang punya kamar berada di belakangku.
"Inilah alasan aku tak mau kamarku dilihat siapa-siapa." suara Handa menjadi rendah uangnya biasa.
Sedikit merinding, tapi kuberanikan menoleh memandangnya. "I-ini maksudnya apa?"
Handa menutup pintu kamar mandi sambil membelakanginya. "Bukan apa-apa." ia tersenyum seolah tidak ada hal aneh.
"Kenapa ada banyak fotoku di sini?" tanyaku berusaha tenang.
Handa berjalan ke arah dinding yang bertabur mukaku. Seolah ingin menghalangi pandanganku seutuhnya ke arah foto-foto tersebut.
"Saat SMA di kamar Nona ada poster grup boyband Eastlife. Nona juga punya album foto khusus untuk mengkliping artikel mereka dari majalah & koran."
"Alasannya kira-kira sama seperti itu." masih dengan wajah tenang yang sama ia menjelaskan.
Konyol sekali logikanya. Apa otaknya terlalu miring beberapa derajat dari yang seharusnya?
"Itu kan beda!" Aku membela atas nama kewarasan. "Mereka kan selebriti. Lagu-lagunya sering jadi nomor satu di tangga lagu international. Mereka idola banyak orang..!"
"Saya bukan orang kebanyakan."
"Dan untuk saya, Nona adalah idola saya." Handa setengah menyelaku.
"Tidak perlu menjadi selebriti atau berprestasi apapun. Nona sudah menjadi nomor satu untuk saya." Kata-katanya membuatku terdiam.
Wajahku memanas seolah ada heater terpasang di pipiku. "Aku Tidak Mau Punya Fans!" teriakku malu tapi juga bingung.
Lalu menghambur keluar kamar.
Di ruang tengah aku tidak melihat keberadaan Irza. Mungkin masih belum selesai menelepon.
"Nona." Handa memanggil dari balik pintu kamarnya yang setengah tertutup.
"Saat tidur, jangan lupa kunci pintu kamarnya."
Handa tersenyum seperti biasa. Tapi di mataku terlihat berbeda. Rasa dingin menerpa bahuku yang masih memakai jas Irza. Instingku mengatakan ada sesuatu yang harus kuhindari dari Handa yang sudah kukenal sama lamanya dengan mengenal keluarga Wismail.
Aku melangkah cepat menuju kamar yang disediakan untukku & mengunci pintu. Kulakukan 2x saking paniknya. Meski begitu rasa takut yang kurasakan berbeda dengan kejadian di hotel. Mungkin masih ada rasa denial dengan perilaku Handa yang seperti barusan. Membuat otakku & instingku berkelahi.
Tapi setidaknya, terjawab sudah mengapa wallpaper ponsel Handa bergambar wajahku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
just.Ryn
aku terbelah, antara lebih suka versi lama atau yg baru ini..
2020-05-13
1
Die-din
whaaat??? si ahjushi maniak jg wkwkwkw
2020-05-09
1