Berat kuakui, namun dengan berkurangnya beberapa bussiness unit di Wismail Grup beban kerja yang dilimpahkan padaku & Irza tak sebanyak sebelumnya.
Aku jadi lebih bisa fokus pada project-project yang sudah memiliki target yang jelas & aplikasi metode hak paten rancanganku ke bussiness unit yang sekiranya mirip dengan prototype-nya.
Irza lebih fokus mengembangkan proyek yang melibatkan kerja sama dengan grup lain supaya posisi Wismail Grup lebih banyak 'backing'.
Selain itu teror yang terjadi beberapa minggu lalu mulai tak ada kabarnya lagi. Ini mulai membuktikan kebenaran hipotesa Handa, bahwa teror yang terjadi belakangan ini bertujuan agar si pengkhianat memiliki alasan untuk memisahkan diri dari kami.
.
.
.
Aku mengetuk pintu yang kokoh terbuat dari kayu mahogany berkualitas. Pintu yang memisahkanku dengan ruangan CEO Wismail Grup, yang saat ini diisi oleh putranya, Irza Wismail.
Tanpa menunggu jawaban aku langsung nyelonong masuk & menemukan seorang pemuda yang mungkin hanya setahun lebih tua dariku yang tak kukenal. Memandangku ia terlihat terkejut lalu mengucapkan salam setengah gugup.
"S-Selamat Pagi Buk KiKa!!" katanya penuh semangat dengan logat penuh penekanan khas pedesaan.
Dipanggil dengan sebutan 'Buk' oleh orang yang bahkan tak kukenali membuatku sedikit bingung. "Asistennya Kak Irza yang baru?"
"Betul Buk. Saya asistennya Pak Irza..!" keformalannya seperti seorang prajurit kroco menjawab pertanyaan militer dari seorang sergeant.
"Nggak usah panggil pakai Ibuk, kan aku lebih muda dari anda. Panggil Kika aja. Biasa aja nggak usah pakai embel-embel." mendengar permintaan pertamaku pria tersebut manggut-manggut sedikit malu.
Kelakuannya sebenarnya membuatku geli tapi di satu sisi tak ingin diperlakukan seformal itu. "Namamu?"
"Maaf belum memperkenalkan diri. Saya Galang Yogantara, biasanya dipanggil Gala." masih dengan sikap sempurna ia memperkenalkan dirinya padaku.
Aku yang masih belum terbiasa dengan kegugupannya cuma bisa tersentum simpul mengetahui namanya yang mudah diingat itu. Ya sudahlah, kelihatannya masih butuh waktu agak lama untuk si Gala menghilangkan kegugupannya kalau berhadapan denganku.
"Atasanmu belum selesai meetingnya?" kini aku membahas keperluanku untuk datang ke ruangan ini, mencari keberadaan Irza.
"Itu.. Pak Irza sedang ke toilet.. Buk Kika di suruh menunggu dulu di sini. Bilangnya.."
Aku masih menangkap embel-embel 'Buk' disematkan di sekitar namaku. "Nggak usah pake buk dong Pak Gala. Aku jadi merasa tua. Nikah juga belum..." aku sedikit mengomel.
"Oiya.. Maaf Buk.. Eh Mbak Kika.. Saya lupa..." ungkapnya jujur dengan wajah salah tingkah.
Hilang 'Buk' berganti 'Mbak'.
Ya sudahlah.. Mungkin sudah mendarah daging baginya untuk memberi gelar pada orang-orang tertentu sebagai bagian dari rasa hormat.
"Pesawatnya nanti jam berapa? Tahu jadwalnya nggak?"
Si Gala terkesiap lalu membuka notebook yang dari tadi ia pegang di tangan kanannya.
"Iya mbak..! Pesawatnya jam 12.00 dengan Condor Airlines. Kelihatannya tak ada delay. Kita masih ada waktu 3 jam lagi."
Setelah kejadian resign-nya para eksekutif, aku & Irza berusaha menyempatkan diri untuk melakukan kunjungan ke pabrik-pabrik yang tersisa yang masih kami miliki.
Selepas siang ini kami akan memgunjungi pabrik assembly Wiphone di luar kota. Biasanya Irza yang visiting untuk bussiness unit yang lain. Namun karena pabrik assembly ini ada kaitannya denganku sekaligus ujung tombak grup kami jadi mungkin akan membawa lebih banyak mood booster jika aku & Irza yang datang.
Handa yang biasanya mendampingiku sebagai asisten saat dinas bertugas jaga kandang di kantor utama. Karena dia kemarin malam baru pulang dari visit ke propinsi lain.
Aku & Irza memang akan berangkat bersama-sama tapi pulangnya kami akan berpisah jalan. Irza yang masih ada visit bussines unit lain di kota yang sama dengan pabrik assembly baru akan kembali besok sore.
Sedangkan aku yang masih banyak pekerjaan di kantor pusat memutuskan memakai pesawat tengah malam untuk kembali.
Tak lama setelah aku menanyakan jadwal, Irza memasuki ruangannya.
"Kika, sebentar ya. Aku masih ada yang diurus sedikit." katanya sambil tetap berjalan menuju meja kerjanya & segera duduk di kursi singgasananya.
Di belakangnya terdapat 3 orang yang kemungkinan bawahan langsung Irza berjalan mengikuti lalu memposisikan berbaris di hadapan Irza dengan posisi badan yang rapi.
"Reportnya." Irza memberi perintah singkat.
Pria yang terlihat paling muda di antara ketiganya & agak gemuk yang memulai dari sisi kiri Irza. "Hari ini masih sama dengan sebelumnya. Polisi memeriksa dokumen keuangan di perpustakaan pusat. Kemungkinan baru akan selesai minggu depan."
"Baiklah, tolong awasi mereka saja. Jangan sampai penyelidikannya mengganggu aktifitas kerja karyawan & pandu mereka jika mereka mulai memeriksa dokumen yang sifatnya confidential."
"Juga.. Jangan lupa untuk re-check dokumen yang sudah mereka periksa untuk antisipasi agar tidak ada yang hilang. Dan catat juga bila mereka mengambil suatu dokumen ke luar kantor."
Irza mulai memberikan intruksi panjang lebar. Pria yang agak tambun itu mengangguk. Mengetahui urusannya dengan pria tersebut sudah selesai, Irza memberi gestur tatapan pada orang kedua untuk memulai.
Orang kedua adalah seorang wanita yang kelihatannya sudah cukup lama bekerja di Wismail Grup, "Saya sudah cek seminggu ke belakang untuk situasi keamanan di kantor Wismail & sudah tidak ada tanda-tanda lagi paket atau pun orang yang mencurigakan. Selain itu audit untuk penggunaan akses internet juga sedang berlangsung. Sejauh ini belum ada temuan berarti."
Irza manggut-manggut mendengar jawaban wanita yang kemungkinan perpanjangan tangan bagi Irza untuk mengurusi bagian keamanan semenjak posisi eksekutif sekuritas ditinggalkan oleh Indra yang pergi bersama Lubi.
"Saya minta bantuannya ya Bu Vivien. Saya sudah mintakan ke Pak Badjabir untuk segera merekrut beberapa anggota untuk memudahkan kerja anda. Mungkin memang akan berat karena anda harus banyak overtime tapi beberapa minggu ke depan setelahnya akan lebih enteng."
Wanita itu mengangguk antara pasrah & tegar mendengar titah atasannya yang pasti tak bisa dibantah jika tak sesuai dengan kemauannya.
Irza kini memandang orang ketiga & yang terakhir dibawanya. Orang yang paling kurus itu langsung memberikan sebuah dokumen di dalam map tipis. Dokumen diterima & langsung dibaca dengan cepat oleh Irza.
"Pak Arya, saya kok baru tahu kalau ada problem di bagian peminjaman bank untuk bussines unit sebelah sini?" Irza memperlihatkan salah satu halaman & menunjukkannya pada orang yang memberinya dokumen barusan.
Orang yang dipanggil Arya itu nampak sedikit panik, "Iya Pak. Saya juga baru menyadari kalau ada yang salah di bagian situ. Kemungkinan karena biasanya dokumennya diurus belakangan padahal pembayarannya tepat waktu oleh bagian admin."
"Ya jangan dibiarkan Pak. Kalau perlu bapak follow up tiap hari si adminnya biar dijadikan prioritas yang lebih dipentingkan. Telat kok tiap bulan begini. Ini tanggung jawab bapak, tolong selesaikan dengan tuntas. Kasi tau saya kalau memang sumber problem utamanya di luar wewenang Pak Arya. Saya mau bulan depan ini tak terjadi lagi!"
Irza memberi kalimat finalnya pada Arya yang sudah berkeringat dingin merasa dimarahi. Mungkin dalam hatinya dia berdoa supaya nggak dipotong gajinya atau turun pangkat.
Si Arya cuma bisa bilang 'iya pak - iya pak' terus dengan pasrah. Gala yang cuma melihat juga ikut ketakutan padahal bukan dia yang kena. Sebenarnya Irza menegur anak buahnya tidak dengan kata-kata kasar atau nada yang terlalu tinggi. Tapi ekspresi dingin & suara tegasnya membuat efek menakutkan tersendiri di mata bawahannya.
Aku baru kali ini melihat Irza bekerja, ternyata cukup galak juga. Aku tahu Irza perfeksionis, sikap badannya pun terkesan tegas & dingin. Ternyata kombinasi tersebut menciptakan gambaran seorang bos yang pastinya disegani sekaligus ditakuti bawahannya.
Yah ditakuti dalam artian yang masih terbilang bagus sih. Kini aku sadar betapa berbedanya cara kami menjadi leader & memahami situasi kenapa tak ada anak buah Irza yang sikapnya seperti Julia dkk kepadaku.
Aku tak merasa cara Irza memimpin team tidak bagus sehingga membuat sedikit jarak tak kasat mata dengan anak buahnya. Bahkan cara kepemimpinan Irza justru yang paling efisien untuk mengatur Wismail Grup yang sedang kacau balau ini. Hanya saja mungkin butuh waktu agar anak buah Irza terbiasa dengan cara kerja & habit atasannya.
"Mas Gala..." aku memanggil. Gala yang awalnya konsen setengah tegang melihat orang diomeli sedikit berjengit saat kupanggil.
"Iya mbak?" jawabnya dengan suara yang seperti demam panggung.
"Pak Irza ini ditakuti bawahannya ya?" tanyaku terang-terangan. "Jawab jujur aja. Nggak akan kukasi tau ke orangnya kok." pancingku.
Gala menelan ludah sebelum menjawab lalu ia memulai, "Iya sih Mbak, Pak Irza orangnya tegas. Kalau marah mukanya kaku & pandangannya tajam itu yang bikin orang-orang takut." katanya sambil curi-curi lirikan pada Irza.
Seolah takut yang digosipin mendengar. "Tapi mayoritas karyawan di sini mengagumi Pak Irza yang karismatik terutama yang sudah sepuh."
"Mereka respek dengan Pak Irza yang masih muda tapi etos kerjanya tinggi. Apalagi yang karyawan perempuan, mbak. Kayaknya malah rebutan minta dimarahi Pak Irza supaya dipandang dengan tajam. Katanya tatapan tajam Pak Irza bikin hati meleleh, melebur & memuai."
Jawaban Gala membuatku susah menyembunyikan tawa & kami berdua berakhir terkikik seperti monyet yang sedang digelitik. Membuat pandangan curiga Irza terlempar ke arah kami sesaat. Aku & Gala buru-buru jaga sikap menjadi tenang. Padahal perut masih naik turun merasa geli.
Setelahnya ketiga orang itu bubar keluar dari ruangan selepas urusannya dengan Irza selesai. Irza segera mengeluarkan kopernya untuk dibawa dinas.
"Kika, kamu nggak pakai jaket? Di pesawat dingin lho." Irza mengeluarkan trench coat yang cocok dengan setelannya.
"Justru kakak apa nggak kepanasan pakai jas 2 lapis plus jaket panjang begitu?" tanyaku balik.
Irza memakai jaketnya & dikancingkan seluruhnya. "Ya sudah ayo berangkat.."
Irza seolah tak mendengar pertanyaan balikku & memberi intruksi untuk memulai perjalanan dinas kami berdua yang pertama kalinya.
Sepanjang perjalanan, tangan & mata Irza tak lepas dari laptop yang menghubungkannya dengan pekerjaan. Aku jadi merasa dicuekin sepanjang jalan.
Sebenarnya aku juga punya banyak tunggakan pekerjaan tapi tak kepikiran untuk dikerjakan saat perjalanan dinas. Jadinya waktu senggangku selama menunggu kupakai cuma untuk tidur. Toh sudah sebulan terakhir jam tidurku kurang genap.
Kunjungan ke pabrik assembly berlangsung dengan lancar. Manajer yang menangani pabrik usianya tak lebih tua dari Yusuf & optimis dengan proyek generasi lanjutan Ji3 dan Wikid.
Sebenarnya kunjungan kami hanya formalitas saja dengan jadwal temu manajer, workshop trip & memberi sepatah dua patah kata pada karyawan. Sehingga acara ini hanya memakan waktu cuma 2 jam di lokasi.
Dari pabrik kami langsung memakai mobil dinas pabrik menuju bandara untukku mengejar pesawat. Kali ini sepanjang perjalanan Irza tidak menyentuh pekerjaannya sama sekali. Aku merasa ini kesempatan untuk mengobrol.
"Kak Irza, besok visitnya cuma ke pabrik tekstil aja?" aku menunggu jawaban namun tak kunjung ada balasan membuatku bertanya-tanya apakah orang yang duduk di sebelahku ini sedang melamun atau memang tak mendengar suaraku.
Aku mencolek bahunya, tapi tetap tak ada jawaban. Merasa sedikit sebal aku mengguncang lengan atasnya. Tak disangka kepala orang yang kusebali ini meluncur ke arahku & terjatuh tepat di bahuku. Aku melonjak terkejut menyadari bahwa Irza ternyata sedang tidur.
Namun beberapa jenak kemudian aku merasa ada yang aneh dengan tidurnya Irza. Benar saja, saat aku menyentuk leher & dahinya terasa sangat panas sekali.
Nafas Irza terdengar memburu seperti kedinginan menandakan bahwa kemungkinan demamnya cukup tinggi. Kini aku dilanda kebingungan mendapati kondisi Irza yang tiba-tiba jatuh sakit.
Aku melinguk ke jendela mobil yang melaju kiri kanan mencari ilham untuk segera memutuskan apa yang harus kulakukan. Lalu aku segera mengambil smartphone-ku untuk menelepon.
"Halo Handa?" aku memulai percakapan.
"Ya Nona Kika? Sudah di bandara untuk pulang? Saya akan segera mengirim mobil untuk menjemput.
"Handa memberi info seolah telah mempersiapkan segalanya dengan rapi.
"Aku nggak jadi pulang sekarang. Kak Irza sakit." aku sedikit menyela Handa.
"Bisa cari tahu malam ini Kak Irza sudah reservasi di hotel mana?"
"Setahu saya, kalau di kota itu Tuan Djati & Irza sering menginap di Hotel Twin Season." jawab Handa di seberang. Suaranya terdengar khawatir.
"Sakitnya parah? Sudah ke rumah sakit?"
"Belum. Ini mungkin akan kumampirkan ke rumah sakit. Kalau diperbolehkan rawat jalan kami akan segera ke Hotel Twin Season." aku menjelaskan rencanaku.
Setelah mengetahui kemana lokasi penginapan kami malam ini aku menutup telepon. "Pak Driver, tolong ke rumah sakit umum ya."
"Nggak usah.." suara lemah Irza menginterupsiku berbicara dengan driver. "Nggak perlu ke rumah sakit. Aku cuma perlu tidur sebentar..."
"Ke rumah sakit saja biar diperiksa dokter dulu"
"Nggak mau.." kini Irza merajuk bagai anak kecil.
"Ke rumah sakit sebentar saja kok.."
Irza menggeleng sambil membenamkan kepalanya ke pahaku & membuatku terkejut. "Pokoknya nggak mau ke rumah sakit." lalu ia tak sadarkan diri. Tertidur dengan wajah menempel erat di atas pahaku.
Dengan posisi seperti ini aku jadi salah tingkah antara geli di pahaku yang tertekan dagunya sekaligus malu karena baru kali ini memberikan bantal paha pada laki-laki.
Kuberi intruksi pada driver yang sempat memarkirkan mobil ke bahu jalan karena belum ada keputusan tujuan. Akhirnya aku memutuskan untuk menuruti kemauan si orang sakit.
Namun sebelum kami sampai ke Hotel Twin Season, aku meminta Tolong pada driver untuk mampir ke apotek yang sejalan. Agar aku bisa membelikan obat demam, termometer, bantal kompres balsam aroma therapy & semua perlengkapan yang sekiranya diperlukan untuk merawat orang demam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Die-din
demam pingsan kaya di komik2 cantik 😆
2020-05-14
1
Die-din
waoaw crazy up semangat thor
2020-05-12
1