Kika 19

Mendapati kenyataan bahwa pamannya Luna adalah orang yang berada di posisi abu-abu bagi Wismail Grup membuatku tak nyaman. Senyum yang tadi tersungging karena pujiannya memudar berganti wajah tanpa ekspresi. Jenis yang kupasang saat tak ingin isi hatiku terbaca dari garis wajahku.

"Saya baru tahu kalau Luna dari Tiger Grup." kataku untuk membuka obrolan. Kalau aku terdiam terlalu lama pasti akan terasa awkward.

"Aku bukan dari Tiger Grup kok. Paman Sun memang kakak dari ibuku, tapi aku lebih tergabung dengan Byakko Grup yang didirikan oleh ayahku di HongKong." Luna memberi penjelasan.

Meskipun Luna merendah bahwa ia bukan bagian dari Tiger Grup namun tak menghilangkan rasa tak nyamanku. Realita bahwa Tiger Grup adalah Grup saingan Wismail & ada beberapa keputusan bisnisnya berseberangan dengan kepentingan kami juga keterlibatan tak langsungnya dengan kepergian sebagian eksekutif Wismail menyisakan 'dendam' tak kasat mata.

Sebagai salah satu anggota Wismail Grup aku jadi memikirkan harus kuapakan pertemananku dengan Luna. Namun rasanya terlalu kekanakan juga kalau harus memotong tali yang telah terjalin dengan niat baik hanya karena latar belakang keluarga. Aku yang notabene hanya anggota tiri Wismail Grup harusnya yang paling memahami hal tersebut.

"Pak Sun, apakah anda sudah akan pulang?" seorang pria yang nampaknya berwajah tak asing bagiku menghampiri Sun.

Itu adalah Lubi, salah satu famili yang paling tak ingin kutemui untuk setidaknya setahun terakhir. Aku harus berjuang ekstra agar gelas soft drink di tanganku tidak tiba-tiba melayang ke keningnya yang keriput.

Mata kami bertemu & tanpa merubah ekspresi wajah ia menyapaku. "Hai Kika. Rupanya kamu juga datang.." sapaan singkat yang cuma basa basi semata bagiku. Bahkan ekspresi bersalah atau sungkan sama sekali tak tergurat dalam wajah & sikap tubuhnya.

Aku cuma tersenyum kecut menanggapinya. Berharap ia menangkap kemalasanku menghadapinya lebih jauh.

Lagipula kebetulan juga Sun menjawab pertanyaan Lubi, "Masih nanti 30 menit lagi. Ada apa?"

Lubi nampaknya terlihat lebih berminat pada Sun daripada aku, "Ada beberapa orang yang ingin kukenalkan pada anda. Mereka para eksmud yang berkecimpung di bidang yang sesuai dengan bussiness unit baru anda. Mari kita ke area sana." ia mengarahkan Sun ke tempat lain.

"Luna, Kika.. Paman Sun pamit dulu ya." ia melambai singkat pada kami & menghilang dari pandangan kami setelah menyelam ke dalam lapisan manusia.

Sekarang tinggal kami berdua para wanita muda. Sebelum aku memulai membahas sesuatu Luna menggandengku.

"Aku setelah ini pulang. Ayo temani aku ke sana!" ajaknya.

"Ke mana?" tanyaku tak mengerti sambil terus berjalan mengikuti arahan Luna mendekati panggung.

"Ke lantai dansa. Biasanya Masrur kalau datang ke acara yang ada lantai dansanya begini pasti langsung menyerbu ke area tersebut & berdansa bak aktor bolluwood kesurupan." Luna menjelaskan tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.

Tubuhnya yang ramping membuatnya mudah berkelok-kelok meghindari manusia-manusia yang meramaikan acara di ruangan ini.

Ketika area lantai dansa sudah berada di depan mata kami, barulah langkah kami berhenti. Kira-kira ada sekitar puluhan orang yang menari mengikuti irama lagu yang saat ini mengalun. Kebetulan penampil yang mengisi acara adalah boyband Smashing Blue yang sedang digandrungi para kawula muda dengan musik-musiknya yang enerjik.

Para penikmat di lantai dansa pun tak segan menunjukkan cara mereka menikmati acara dengan seluruh body language mereka. Beberapa ada yang minimalis gerakannya yang mungkin sedikit malu-malu. Serta ada pula yang bergerak maximal menggunakan seluruh tangan & kakinya dengan penuh percaya diri.

Mata Luna menyapu area tersebut dengan seksama mencari orang yang diincarnya.

"Nah, itu dia si Jo!" Luna menunjuk. Aku memandang ke arah jemari Luna mengarah & menemukan Johanh yang sedang berdansa shuffle yang lincah.

Di sekitarnya beberapa perempuan cantik yang turut mendendangkan tubuhnya sambil terus memandang pada Johanh nampak berharap jadi partnernya menari bagaikan magnet dikelilingi para logam yang otomatis tersedot dalam medannya.

Tak jauh dari lokasi tersebut sesosok pria tinggi sedang menari secara MEGA-maksimal. Tak hanya tangan & kaki, nampaknya ia menggunakan seluruh otot yang bekerja di tubuhnya untuk menikmati musik. Bahkan facial expressions nya patut diacungi skor sempurna.

"Nah itu Masrur.." kataku mengomentari si pria mesin joged super.

Luna terkikik melihat kombinasi Masrur & Johanh di lantai dansa, "Mereka berdua kalau udah di lantai dansa bareng pasti jadi pusat perhatian. Yang satu terlalu banyak feromon & yang satu kayak cacing kepanasan..."

Penjelasan yang sangat pas untuk menggambarkan situasi di lantai dansa. Membuatku tak bisa menahan ledakan tawa. "Ayo Kika, kita gabung juga!" ajak Luna tiba-tiba.

Aku langsung menggeleng kepalaku berulang-ulang, "Aku nggak bisa nari. Aku juga masi punya banyak urat malu dibandingkan si Masrur..!!"

Penolakanku nampaknya ampuh. Luna tidak memaksakan ajakannnya & langsung meluncur ke arah pusat keramaian di lantai dansa. Aku meskipun cuma menonton tapi bisa sangat menikmatinya. Lebih tepatnya bagaikan sedang menonton acara reality show komedi.

Nampaknya Luna benar-benar memanfaatkan acara hingga 20 menit ke depan. Ia mengajak Masrur berduet tari yang bahkan tak bisa kujelaskan gaya apa yang mereka lakukan. Yang pasti banyak adegan memutar seperti tarian tradisional Austria.

Johanh yang tak mau kalah akhirnya memaksakan bergabung dengan Masrur & Luna, menjadikan adegan triple dance yang kacau balau. Para penonton yang melihat semakin bersemangat dibuatnya. Nampaknya yang terjadi di lantai dansa saat ini lebih menarik daripada Smashing Blue di atas panggung.

"Anak itu memang suka sekali jadi pusat perhatian." seseorang yang bersuara rendah berkomentar tepat di sebelahku. Aku awalnya hanya menoleh sekilas untuk melihat jaraknya denganku. Namun karena mendapati bahwa matanya menatapku berarti saat ini kemungkinan orang tersebut sedang mengajakku bicara.

"I-iya? Maaf?" tanyaku memastikan. Memastikan bahwa dia tak salah orang untuk diajak bicara sekaligus mencari tahu fokus pembicaraannya.

"Si Johanh.." Pria yang nampak seumuran Djati itu menunjuk dengan gestur dagunya ke arah yang dimaksud. "Dari dulu dia emang terlalu menarik perhatian. Kurasa itu bakat yang diturunkan diriku. Hehe.. " Pria tersebut menghela nafas singkat yang dramatis.

Setelah kuingat-ingat akhirnya aku menyadari bahwa pria di sebelahku ini adalah ayah kandung Johanh sekaligus CEO VOA Grup saat ini. Aku beberapa kali melihatnya di acara seperti saat ini tapi ini pertama kalinya kami bertatap muka & mengobrol langsung.

"S-Selamat malam Pak Astin. Selamat ulang tahun untuk VOA Grup-nya." aku memberi salam kaku.

"Haha.. Panggil saja Om Hariss. Ini pertama kalinya kita mengobrol ya. Makanya aku juga agak canggung." katanya membaca caraku berinteraksi dengannya yang jauh dari santai.

"Tapi sudah sejak lama aku memperhatikanmu Kika Wismail. Terutama sejak Johanh menaruh perhatian khusus padamu."

Alisku sedikit terangkat. "Maksudnya? Apakah Om Hariss khawatir saya memberi pengaruh buruk padanya?" tanyaku menyamakan pemahaman.

"Wah.. Malah kebalik tuh. Aku yang kuatir Johanh bakal ngasih pengaruh buruk pada putri semata wayangnya Djati." cara bicara Harissandy Astin semakin non-formal. Nampaknya perlahan-lahan ia mulai terbiasa mengobrol denganku.

"Om cuma penasaran karena sepertinya Johanh memperlakukanmu khusus dibandingkan wanita-wanita di sekitarnya yang lain."

"Kayaknya nggak ada yang khusus deh. Kita, yah, berteman baik aja. Kita sudah saling kenal sejak aku masih sekolah menengah." kataku cepat-cepat.

"Lalu.. Kamu pernah 'tidur' dengan Johanh?"

Pertanyaan Hariss yang 'menjurus' secara tiba-tiba ini membuat mataku terbelalak. Melihat reaksiku yang cuma diam kaget, kelihatannya Hariss menyimpulkan suatu jawaban 'tidak' yang mantap.

Sebelum aku meledakkan sesuatu dia sudah mendahului berkata. "Setahuku mayoritas 'teman baik'-nya Johanh yang berkelamin perempuan pernah tidur dengannya, minimal sekali. Tapi kamu, Kika, nampaknya lebih dia perlakukan dengan hati-hati."

Aku antara bingung harus menerima fakta yang baru kudengar tentang Johanh ini atau meragukannya dengan alasan Hariss kurang mengenal pergaulan anaknya yang sebenarnya.

"Mungkin dia takut cari masalah dengan papaku atau kakakku?" aku mencari alasan yang terlintas di kepalaku. Setidaknya agar aku bisa balas berbicara.

"Mungkin juga.." Hariss memberi pernyataan sepakat, "Mungkin memang cuma kamu yang bisa menghentikan sifat playboy nya Johanh."

"Om Hariss terlalu berlebihan menilai Saya. Kelihatannya aku sudah ada bayangan akan kemana arah pembicaraan ini.

"Mungkin sebaiknya kita cari tempat yang lebih tenang untuk mengobrol." Hariss mengajakku ke arah bagian area bersofa yang lumayan jauh dari sound system yang hingar bingar. Karena saat ini kami mengobrol tepat di area paling berisik di acara ulang tahun VOA Grup.

Aku menanggapi ajakan Hariss dengan enggan. Mungkin akan lebih baik baik kalau aku menolaknya terang-terangan saat ini juga namun ada rasa ragu yang membuatku mengurungkan niat tersebut.

Rasa ragu yang dipicu kalimat terakhir Hariss.

Kalimat yang ia utarakan secara gamblang karena melihat keenggananku atas ajakannya mengobrol lebih serius.

"Bisa jadi keputusanmu setelah mendengarkan pendapatku mampu memperbaiki kondisi Wismail Grup yang sedang di ujung garis merah."

Terpopuler

Comments

Die-din

Die-din

restu sang kakek.

wow jo benar2 lananging jagad. lbh badass. dr mondmond

2020-05-15

1

just.Ryn

just.Ryn

pelik

2020-05-13

1

lihat semua
Episodes
1 Prologue
2 Kika 1
3 Kika 2
4 Kika 3
5 Kika 4
6 Kika 5
7 Kika 6
8 Kika 7
9 Kika 8
10 Kika 9
11 Kika 10
12 Kika 11
13 Kika 12
14 Kika 13
15 Kika 14
16 Kika 15
17 Kika 16
18 Kika 17
19 Kika 18
20 Kika 19
21 Kika 20
22 Kika 21
23 Kika 22
24 Kika 23
25 Kika 24
26 Kika 25
27 Kika 26
28 Kika 27
29 Irza 1
30 Kika 28
31 Kika 29
32 Kika 30
33 Kika 31
34 Kika 32
35 Handa 1
36 Johanh 1
37 Kika 33
38 Kika 34
39 Handa 2
40 Handa 3
41 Handa 4
42 Handa 5
43 Handa 6
44 Johanh 2
45 Handa 7
46 Kika 35
47 Irza 2
48 Irza 3
49 Irza 4
50 Irza 5
51 Irza 6
52 Irza 7
53 Irza 8
54 Visual of Characters
55 Irza 9
56 Kika 36
57 Kika 37
58 Handa 8
59 Johanh 3
60 Johanh 4
61 Kika 38
62 Kika 39
63 Kika 40
64 Kika 41
65 Kika 42
66 Kika 43
67 Kika 44
68 Handa 9
69 Kika 45
70 Kika 46
71 Kika 47
72 Kika 48
73 Kika 49
74 Kika 50
75 Irza 10
76 Irza 11
77 Handa 10
78 Handa 11
79 Kika 51
80 Irza 12
81 Handa 12
82 Irza 13
83 Irza 14
84 Kika 52
85 Kika 53
86 Kika 54
87 Kika 55
88 Kika 56
89 Irza 15
90 Johanh 5
91 Johanh 6
92 Johanh 7
93 Johanh 8
94 Visual of Character 2
95 Kika 57
96 Kika 58
97 Irza 16
98 Irza 17
99 Irza 18
100 Johanh 9
101 Kika 59
102 Kika 60
103 Kika 61
104 Kika 62
105 Johanh 10
106 Johanh 11
107 Johanh 12
108 Kika 63
109 Kika 64
110 Kika 65
111 Kika 66
112 Johanh 13
113 Johanh 14
114 Kika 67
115 Irza 19
116 Irza 20
117 Irza 21
118 Irza 22
119 Irza 23
120 Johanh 15
121 Handa 13
122 Irza 24
123 Kika 68
124 Kika 69
125 Johanh 16
126 Kika 70
127 Johanh 17
128 Johanh 18
129 Johanh 19
130 Kika 71
131 Kika 72
132 Irza 25
133 Irza 26
134 Irza 27
135 Irza 28
136 Irza 29
137 Irza 30
138 Irza 31
139 Irza 32
140 Johanh 20
141 Kika 73
142 Kika 74
143 Kika 75
144 VISUAL TIME AGAIN
145 Handa 14
146 Handa 15
147 Episode Gabut
148 Irza 33
149 Julia 1
150 Julia 2
151 Julia 3
152 Irza 34
153 Irza 35
154 Irza 36
155 Julia 4
156 Julia 5
157 Julia 6
158 Julia 7
159 Pengumuman
160 Kika 76
161 Kika 77
162 Kika 78
163 Kika 79
164 Kika 80
165 Became a Lady
166 End of The End
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Prologue
2
Kika 1
3
Kika 2
4
Kika 3
5
Kika 4
6
Kika 5
7
Kika 6
8
Kika 7
9
Kika 8
10
Kika 9
11
Kika 10
12
Kika 11
13
Kika 12
14
Kika 13
15
Kika 14
16
Kika 15
17
Kika 16
18
Kika 17
19
Kika 18
20
Kika 19
21
Kika 20
22
Kika 21
23
Kika 22
24
Kika 23
25
Kika 24
26
Kika 25
27
Kika 26
28
Kika 27
29
Irza 1
30
Kika 28
31
Kika 29
32
Kika 30
33
Kika 31
34
Kika 32
35
Handa 1
36
Johanh 1
37
Kika 33
38
Kika 34
39
Handa 2
40
Handa 3
41
Handa 4
42
Handa 5
43
Handa 6
44
Johanh 2
45
Handa 7
46
Kika 35
47
Irza 2
48
Irza 3
49
Irza 4
50
Irza 5
51
Irza 6
52
Irza 7
53
Irza 8
54
Visual of Characters
55
Irza 9
56
Kika 36
57
Kika 37
58
Handa 8
59
Johanh 3
60
Johanh 4
61
Kika 38
62
Kika 39
63
Kika 40
64
Kika 41
65
Kika 42
66
Kika 43
67
Kika 44
68
Handa 9
69
Kika 45
70
Kika 46
71
Kika 47
72
Kika 48
73
Kika 49
74
Kika 50
75
Irza 10
76
Irza 11
77
Handa 10
78
Handa 11
79
Kika 51
80
Irza 12
81
Handa 12
82
Irza 13
83
Irza 14
84
Kika 52
85
Kika 53
86
Kika 54
87
Kika 55
88
Kika 56
89
Irza 15
90
Johanh 5
91
Johanh 6
92
Johanh 7
93
Johanh 8
94
Visual of Character 2
95
Kika 57
96
Kika 58
97
Irza 16
98
Irza 17
99
Irza 18
100
Johanh 9
101
Kika 59
102
Kika 60
103
Kika 61
104
Kika 62
105
Johanh 10
106
Johanh 11
107
Johanh 12
108
Kika 63
109
Kika 64
110
Kika 65
111
Kika 66
112
Johanh 13
113
Johanh 14
114
Kika 67
115
Irza 19
116
Irza 20
117
Irza 21
118
Irza 22
119
Irza 23
120
Johanh 15
121
Handa 13
122
Irza 24
123
Kika 68
124
Kika 69
125
Johanh 16
126
Kika 70
127
Johanh 17
128
Johanh 18
129
Johanh 19
130
Kika 71
131
Kika 72
132
Irza 25
133
Irza 26
134
Irza 27
135
Irza 28
136
Irza 29
137
Irza 30
138
Irza 31
139
Irza 32
140
Johanh 20
141
Kika 73
142
Kika 74
143
Kika 75
144
VISUAL TIME AGAIN
145
Handa 14
146
Handa 15
147
Episode Gabut
148
Irza 33
149
Julia 1
150
Julia 2
151
Julia 3
152
Irza 34
153
Irza 35
154
Irza 36
155
Julia 4
156
Julia 5
157
Julia 6
158
Julia 7
159
Pengumuman
160
Kika 76
161
Kika 77
162
Kika 78
163
Kika 79
164
Kika 80
165
Became a Lady
166
End of The End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!