Mendapati kenyataan bahwa pamannya Luna adalah orang yang berada di posisi abu-abu bagi Wismail Grup membuatku tak nyaman. Senyum yang tadi tersungging karena pujiannya memudar berganti wajah tanpa ekspresi. Jenis yang kupasang saat tak ingin isi hatiku terbaca dari garis wajahku.
"Saya baru tahu kalau Luna dari Tiger Grup." kataku untuk membuka obrolan. Kalau aku terdiam terlalu lama pasti akan terasa awkward.
"Aku bukan dari Tiger Grup kok. Paman Sun memang kakak dari ibuku, tapi aku lebih tergabung dengan Byakko Grup yang didirikan oleh ayahku di HongKong." Luna memberi penjelasan.
Meskipun Luna merendah bahwa ia bukan bagian dari Tiger Grup namun tak menghilangkan rasa tak nyamanku. Realita bahwa Tiger Grup adalah Grup saingan Wismail & ada beberapa keputusan bisnisnya berseberangan dengan kepentingan kami juga keterlibatan tak langsungnya dengan kepergian sebagian eksekutif Wismail menyisakan 'dendam' tak kasat mata.
Sebagai salah satu anggota Wismail Grup aku jadi memikirkan harus kuapakan pertemananku dengan Luna. Namun rasanya terlalu kekanakan juga kalau harus memotong tali yang telah terjalin dengan niat baik hanya karena latar belakang keluarga. Aku yang notabene hanya anggota tiri Wismail Grup harusnya yang paling memahami hal tersebut.
"Pak Sun, apakah anda sudah akan pulang?" seorang pria yang nampaknya berwajah tak asing bagiku menghampiri Sun.
Itu adalah Lubi, salah satu famili yang paling tak ingin kutemui untuk setidaknya setahun terakhir. Aku harus berjuang ekstra agar gelas soft drink di tanganku tidak tiba-tiba melayang ke keningnya yang keriput.
Mata kami bertemu & tanpa merubah ekspresi wajah ia menyapaku. "Hai Kika. Rupanya kamu juga datang.." sapaan singkat yang cuma basa basi semata bagiku. Bahkan ekspresi bersalah atau sungkan sama sekali tak tergurat dalam wajah & sikap tubuhnya.
Aku cuma tersenyum kecut menanggapinya. Berharap ia menangkap kemalasanku menghadapinya lebih jauh.
Lagipula kebetulan juga Sun menjawab pertanyaan Lubi, "Masih nanti 30 menit lagi. Ada apa?"
Lubi nampaknya terlihat lebih berminat pada Sun daripada aku, "Ada beberapa orang yang ingin kukenalkan pada anda. Mereka para eksmud yang berkecimpung di bidang yang sesuai dengan bussiness unit baru anda. Mari kita ke area sana." ia mengarahkan Sun ke tempat lain.
"Luna, Kika.. Paman Sun pamit dulu ya." ia melambai singkat pada kami & menghilang dari pandangan kami setelah menyelam ke dalam lapisan manusia.
Sekarang tinggal kami berdua para wanita muda. Sebelum aku memulai membahas sesuatu Luna menggandengku.
"Aku setelah ini pulang. Ayo temani aku ke sana!" ajaknya.
"Ke mana?" tanyaku tak mengerti sambil terus berjalan mengikuti arahan Luna mendekati panggung.
"Ke lantai dansa. Biasanya Masrur kalau datang ke acara yang ada lantai dansanya begini pasti langsung menyerbu ke area tersebut & berdansa bak aktor bolluwood kesurupan." Luna menjelaskan tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.
Tubuhnya yang ramping membuatnya mudah berkelok-kelok meghindari manusia-manusia yang meramaikan acara di ruangan ini.
Ketika area lantai dansa sudah berada di depan mata kami, barulah langkah kami berhenti. Kira-kira ada sekitar puluhan orang yang menari mengikuti irama lagu yang saat ini mengalun. Kebetulan penampil yang mengisi acara adalah boyband Smashing Blue yang sedang digandrungi para kawula muda dengan musik-musiknya yang enerjik.
Para penikmat di lantai dansa pun tak segan menunjukkan cara mereka menikmati acara dengan seluruh body language mereka. Beberapa ada yang minimalis gerakannya yang mungkin sedikit malu-malu. Serta ada pula yang bergerak maximal menggunakan seluruh tangan & kakinya dengan penuh percaya diri.
Mata Luna menyapu area tersebut dengan seksama mencari orang yang diincarnya.
"Nah, itu dia si Jo!" Luna menunjuk. Aku memandang ke arah jemari Luna mengarah & menemukan Johanh yang sedang berdansa shuffle yang lincah.
Di sekitarnya beberapa perempuan cantik yang turut mendendangkan tubuhnya sambil terus memandang pada Johanh nampak berharap jadi partnernya menari bagaikan magnet dikelilingi para logam yang otomatis tersedot dalam medannya.
Tak jauh dari lokasi tersebut sesosok pria tinggi sedang menari secara MEGA-maksimal. Tak hanya tangan & kaki, nampaknya ia menggunakan seluruh otot yang bekerja di tubuhnya untuk menikmati musik. Bahkan facial expressions nya patut diacungi skor sempurna.
"Nah itu Masrur.." kataku mengomentari si pria mesin joged super.
Luna terkikik melihat kombinasi Masrur & Johanh di lantai dansa, "Mereka berdua kalau udah di lantai dansa bareng pasti jadi pusat perhatian. Yang satu terlalu banyak feromon & yang satu kayak cacing kepanasan..."
Penjelasan yang sangat pas untuk menggambarkan situasi di lantai dansa. Membuatku tak bisa menahan ledakan tawa. "Ayo Kika, kita gabung juga!" ajak Luna tiba-tiba.
Aku langsung menggeleng kepalaku berulang-ulang, "Aku nggak bisa nari. Aku juga masi punya banyak urat malu dibandingkan si Masrur..!!"
Penolakanku nampaknya ampuh. Luna tidak memaksakan ajakannnya & langsung meluncur ke arah pusat keramaian di lantai dansa. Aku meskipun cuma menonton tapi bisa sangat menikmatinya. Lebih tepatnya bagaikan sedang menonton acara reality show komedi.
Nampaknya Luna benar-benar memanfaatkan acara hingga 20 menit ke depan. Ia mengajak Masrur berduet tari yang bahkan tak bisa kujelaskan gaya apa yang mereka lakukan. Yang pasti banyak adegan memutar seperti tarian tradisional Austria.
Johanh yang tak mau kalah akhirnya memaksakan bergabung dengan Masrur & Luna, menjadikan adegan triple dance yang kacau balau. Para penonton yang melihat semakin bersemangat dibuatnya. Nampaknya yang terjadi di lantai dansa saat ini lebih menarik daripada Smashing Blue di atas panggung.
"Anak itu memang suka sekali jadi pusat perhatian." seseorang yang bersuara rendah berkomentar tepat di sebelahku. Aku awalnya hanya menoleh sekilas untuk melihat jaraknya denganku. Namun karena mendapati bahwa matanya menatapku berarti saat ini kemungkinan orang tersebut sedang mengajakku bicara.
"I-iya? Maaf?" tanyaku memastikan. Memastikan bahwa dia tak salah orang untuk diajak bicara sekaligus mencari tahu fokus pembicaraannya.
"Si Johanh.." Pria yang nampak seumuran Djati itu menunjuk dengan gestur dagunya ke arah yang dimaksud. "Dari dulu dia emang terlalu menarik perhatian. Kurasa itu bakat yang diturunkan diriku. Hehe.. " Pria tersebut menghela nafas singkat yang dramatis.
Setelah kuingat-ingat akhirnya aku menyadari bahwa pria di sebelahku ini adalah ayah kandung Johanh sekaligus CEO VOA Grup saat ini. Aku beberapa kali melihatnya di acara seperti saat ini tapi ini pertama kalinya kami bertatap muka & mengobrol langsung.
"S-Selamat malam Pak Astin. Selamat ulang tahun untuk VOA Grup-nya." aku memberi salam kaku.
"Haha.. Panggil saja Om Hariss. Ini pertama kalinya kita mengobrol ya. Makanya aku juga agak canggung." katanya membaca caraku berinteraksi dengannya yang jauh dari santai.
"Tapi sudah sejak lama aku memperhatikanmu Kika Wismail. Terutama sejak Johanh menaruh perhatian khusus padamu."
Alisku sedikit terangkat. "Maksudnya? Apakah Om Hariss khawatir saya memberi pengaruh buruk padanya?" tanyaku menyamakan pemahaman.
"Wah.. Malah kebalik tuh. Aku yang kuatir Johanh bakal ngasih pengaruh buruk pada putri semata wayangnya Djati." cara bicara Harissandy Astin semakin non-formal. Nampaknya perlahan-lahan ia mulai terbiasa mengobrol denganku.
"Om cuma penasaran karena sepertinya Johanh memperlakukanmu khusus dibandingkan wanita-wanita di sekitarnya yang lain."
"Kayaknya nggak ada yang khusus deh. Kita, yah, berteman baik aja. Kita sudah saling kenal sejak aku masih sekolah menengah." kataku cepat-cepat.
"Lalu.. Kamu pernah 'tidur' dengan Johanh?"
Pertanyaan Hariss yang 'menjurus' secara tiba-tiba ini membuat mataku terbelalak. Melihat reaksiku yang cuma diam kaget, kelihatannya Hariss menyimpulkan suatu jawaban 'tidak' yang mantap.
Sebelum aku meledakkan sesuatu dia sudah mendahului berkata. "Setahuku mayoritas 'teman baik'-nya Johanh yang berkelamin perempuan pernah tidur dengannya, minimal sekali. Tapi kamu, Kika, nampaknya lebih dia perlakukan dengan hati-hati."
Aku antara bingung harus menerima fakta yang baru kudengar tentang Johanh ini atau meragukannya dengan alasan Hariss kurang mengenal pergaulan anaknya yang sebenarnya.
"Mungkin dia takut cari masalah dengan papaku atau kakakku?" aku mencari alasan yang terlintas di kepalaku. Setidaknya agar aku bisa balas berbicara.
"Mungkin juga.." Hariss memberi pernyataan sepakat, "Mungkin memang cuma kamu yang bisa menghentikan sifat playboy nya Johanh."
"Om Hariss terlalu berlebihan menilai Saya. Kelihatannya aku sudah ada bayangan akan kemana arah pembicaraan ini.
"Mungkin sebaiknya kita cari tempat yang lebih tenang untuk mengobrol." Hariss mengajakku ke arah bagian area bersofa yang lumayan jauh dari sound system yang hingar bingar. Karena saat ini kami mengobrol tepat di area paling berisik di acara ulang tahun VOA Grup.
Aku menanggapi ajakan Hariss dengan enggan. Mungkin akan lebih baik baik kalau aku menolaknya terang-terangan saat ini juga namun ada rasa ragu yang membuatku mengurungkan niat tersebut.
Rasa ragu yang dipicu kalimat terakhir Hariss.
Kalimat yang ia utarakan secara gamblang karena melihat keenggananku atas ajakannya mengobrol lebih serius.
"Bisa jadi keputusanmu setelah mendengarkan pendapatku mampu memperbaiki kondisi Wismail Grup yang sedang di ujung garis merah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Die-din
restu sang kakek.
wow jo benar2 lananging jagad. lbh badass. dr mondmond
2020-05-15
1
just.Ryn
pelik
2020-05-13
1