Aku datang 15 menit agak terlambat menuju kantin karena ketika bel makan siang berbunyi aku masih larut chatting dengan Hanna via message. Suasana kantin yang selalu ramai hiruk pikuk manusia berjuang untuk makan, secara denotasi, di jam segini membawa suasana yang menentramkan.
Saat antri menunggu giliran mengambil makan, aku melacak keberadaan para engineer yang biasa satu meja denganku. Kira-kira agak belakang aku melihat sekumpulan orang-orang yang kucari meskipun cuma 4 perempuan, entah yang laki-laki semua sedang kemana.
Setelah mendapatkan menu makan siang, yaitu berupa paket nasi padang & segelas hot tea, aku segera menghampiri mereka.
“Hei, yang lain mana?”
Sapaku sambil meletakkan nampan di atas meja & menduduki kursi kosong di sebelah Dini.
Putri yang berada di depanku yang menjawab.
“Mereka makan siang di luar, katanya bosen sama katering di sini.”
Memang kadang-kadang 1 atau 2x seminggu beberapa dari kami pergi untuk makan siang di luar kantor. Alasannya sih biasanya untuk ganti suasana atau bosan dengan menu katering.
Aku pun menyibukkan diri dengan menu di depanku. Tapi ada yang aneh dengan situasinya. Selama 10 menit kami makan siang dalam kebisuan yang nggak biasa.
Julia yang biasanya ada saja yang digosipkan hari ini terlihat lebih konsentrasi terhadap nasi padangnya seolah nasi Padang itu adalah koran dengan berita penting. Bahkan cara makannya 11/12 dengan table manner.
Dini juga yang biasanya pembawa gosip sekunder terlihat 90% lebih diam dari biasanya. Biasanya tidak pernah mulutnya tak bersuara lebih dari 15 menit.
Yani bahkan tidak memandang ke arahku sama sekali. Kalau tidak makan, dia terus saja memandang hape nya. Entah apa yang dia lihat di situ.
Si Putri dia tadi menanggapiku tapi dasarnya dia tipikal orang yang dididik untuk diam saat makan, biasanya dia mulai berkicau saat makanannya habis.
Padahal saat aku mengantri tadi, kulihat mereka berempat sedang ngobrol seru. Apakah gara-gara aku situasi jadi canggung begini? Apakah mereka mulai sungkan padaku setelah mereka tahu identitasku?
Kebisuan yang tak kunjung berakhir ini membuat selera makanku turun drastis & aku pun merasa harus melakukan sesuatu daripada menundanya lebih lama lagi.
Aku berdehem agak keras lalu, “Hei Julia, Dini, Yani, Putri…” memanggil nama mereka satu-satu agar mereka tahu bahka kata-kataku selanjutnya memang ditujukan pada kesemuanya.
“Maaf ya kalau aku ada salah.. Mungkin aku yang nggak terus terang soal aku sebagai keluarga Wismail membuat kalian merasa dibohongi.”
Keempat wanita ini menatapku gugup lalu saling berpandangan satu sama lain dengan wajah tak enak.
Dini yang duluan menanggapi, “Aku sih nggak merasa dibohongi. Tapi jujur aku jadi harus merasa jaga sikap karena di depanku ada anaknya bos besar.”
Yani mengangguk-angguk tanda setuju dengan kata-kata Dini.
“Kalau aku sih karena udah tahu dari awal, ya biasa aja sih..” Putri kini yang berkomentar.
Benar juga, di antara mereka berempat yang perlakuannya tidak berubah padaku cuma si Putri.
Julia yang diam saja terlihat memandang isi piringnya entah apa fokusnya, kemudian dia memandangku.
“Mustinya kamu bilang terus terang dari awal donk!” aku bisa merasakan sedikit emosi di raut muka Julia.
“Habis.. Siapa pun ayah atau ibuku bukan masalah kan?”
Aku berusaha membela diri, “Aku memang ingin berbaur dengan semuanya sebagai rekan kerja, bukan sebagai atasan-bawahan."
"Aku ingin kalian mengenalku dulu sebagai pribadiku terlebih dulu."
"Andai aku buka kartu duluan pasti kalian udah sungkan padaku bahkan sebelum kalian tahu apa makanan favoritku kan?”
Aku menjelaskan panjang lebar memuntahkan isi hatiku.
“Iya sih..” Yani berkata lirih mendengarkan curhatanku.
“Lha memang makanan favoritmu apa?” pertanyaan Putri yang patut dianulir membuat presentasiku yang sempurna menjadi tak berwibawa lagi.
“Intinya, aku minta maaf kalau ada salah & terserah kalian selanjutnya.” Aku meneguk teh manis yang awalnya cukup panas sekarang suhunya mulai jadi hangat-hangat kuku sampai habis.
Julia memandangku serius, “Jelas aku nggak suka kamu nggak terus terang dari awal, Kik. Andai aku tahu kamu anaknya Pak Djati Wismail, aku kan bisa minta dikenalin sama kakakmu yang ganteng itu dari awal..!!!!”
Entah pendengaranku yang salah atau gimana kelihatannya Julia mulai bawa-bawa Irza. "Apa lu bilang??" tak sadar aku pakai bahasa non formal.
“Aku sebel tauk sama kamu! Sebagai balasannya kamu musti ajak kakakmu, si Irza, makan siang bareng kita sekali-sekali!”
Julia memberi perintah dengan serius. Putri & Dini yang awalnya juga sama bengong langsung menyambutnya antusias dengan kata-kata dorongan yang diucapkan bertalu-talu. Yani cuma terkekeh saja mungkin melihat ekspresiku yang keheranan.
Aku menghela nafas.
“Jadi intinya kalian minta dikenalin dengan Kak Irza?”
Keempatnya manggut-manggut antusias. Mata Julia bahkan berbinar-binar seperti sedang melihat sesuatu yang ajaib.
“Emang kenapa kok pada pingin kenal dengan Kak Irza”
“YAEYALAH!” kata-kata penekanan si Dini menggelegar.
“Si Irza Wismail ni kan salah satu high quality jomblo papan atas saat ini!”
“Betul! Betul! Salah satu pria paling ingin dinikahi di negriku indonesia!”
Julia memfollow up kata-kata Dini.
“Udah ganteng, pinter, dari keluarga baik-baik, kaya raya jaya. Pokoknya sejauh ini nggak ada cacatnya deh!”
“Kalau kekurangannya Kak Irza kayaknya banyak kok. Salah satunya dia terlalu serius..” Aku memberi pengertian bahwa Irza juga manusia biasa.
“Justru yang serius itu yang dicari buat dijadiin suami!” Putri berkomentar berapi-api.
“Kalau yang flamboyant kayak si ganteng yang kemaren, Johanh, kayaknya butuh pacaran bertahun-tahun dulu baru dia merasa siap diajak serius. Tul gak Jul?”
“Yo'i Ma'men!”
Julia & Putri melakukan tos persekongkolan karena punya pendapat yang sama paketannya. Kekompakan dua sejoli bujangan yang mungkin kurang dipahami Yani & Dini yang sudah bersuami. Meskipun mereka juga bersemangat untuk bisa akrab dengan putra lelaki Wismail Grup.
Tingkah mereka membuatku geleng-geleng geli. Dan aku tak mau memperpanjang perdebatan lagi.
“Kalau ada kesempatan yah. Soalnya akhir-akhir ini kita komunikasinya juga jarang. Ke depannya malah dia bakal sibuk nemenin Papa dinas kemana-mana.” Kuceritakan tentang kesibukan Irza sebagai calon CEO.
“Nggak apa-apa. Pokoknya janji yah, kenalin kita ke dia. Yah? Yah? YAH??!” Dini menanggapi alasanku dengan tetap berapi-api.
Seolah Irza adalah selebriti yang diidolakan oleh keempat temanku. Meskipun si Yani nggak begitu antusias tapi dia ikutan bersemangat kena arus heboh ketiga temannya yang lain.
Makan siang berakhir tanpa kedatangan para laki-laki bergabung dengan obrolan girls talk kami. Aku cukup bersyukur karena permasalahan antar kami berlima bisa terselesaikan tanpa campur tangan orang-orang yang tidak bersangkutan.
Apalagi para 6 engineer pria itu tidak berubah perlakuannya padaku meskipun mereka tahu siapa identitasku. Yang perilakunya berubah justru si officeboy, Dodik, yang kesungkanannya semakin menjadi-jadi saat aku sesekali membutuhkan bantuannya.
.
.
.
Selanjutnya keesokannya aku menghabiskan jam kerja hingga sore dengan membuat planning projectku & membuat perencanaan untuk sosialisasi ke depannya nanti. Jadwal yang dikirimkan oleh Handa juga sudah masuk ke timeline-ku agar aku selalu ingat hari-hari tertentu yang terjadwalkan untuk visit ke berbagai klien.
Ketika jam menunjukkan pukul 18.00 aku merenggangkan otot karena sudah berjam-jam duduk tanpa berubah posisi. Telepon genggam yang kumode silent, supaya aku berkonsentrasi kerja, kuambil untuk mencari tahu apakah ada pesan baru dari Hanna.
Tapi yang ada cuma pesan dari Johanh, bahwa ia menungguku di ruang lobby bawah. Aku melirik informasi yang menunjukkan bahwa pesan singkat dari Johanh sudah masuk sejak satu jam yang lalu.
Meskipun enggan tapi aku merasa tidak ada gunanya menghindari Johanh, jika ada kesempatan untuk konfrontasi langsung akan lebih baik daripada kejar-kejaran yang bikin capek yang nggak perlu.
Aku mulai berjalan menuju lift yang membawaku menuju lobby di lantai Upper Ground.
“Kika? Udah mau pulang?”
Seorang engineer yang kulewati kubikelnya menyapaku yang adalah Bima.
Aku menggeleng,“Aku mau ke lobby sebentar.” jawabku sambil tetap melanjutkan langkah mendekati pintu lift. “Kenapa emang?”
Bima berpikir sejenak lalu berujar lagi.
“Tadi kamu dicari itu.. Si Johanh. Aku sempet papasan sama dia & kamu ditunggu di lobby. Sori, Aku baru inget pesennya.”
Aku mengangkat jempolku padanya, “Oke sip. Ni aku mau ke sana kok. Thanks ya!”
Di dalam lift yang isinya tidak terlalu penuh aku berdiri memojok sambil memikirkan dialogku barusan dengan Bima.
Mungkin sudah cukup lama Johanh menungguku di lobby. Mungkinkah dia sudah pulang karena aku nggak datang-datang? Aku melangkahkan kaki keluar dari lift setelah sampai di lantai yang kutuju.
Tidak beranjak jauh dari daerah lift aku menoleh ke seluruh penjuru lobby mencari sosok Johanh yang pasti penampilannya mirip-mirip dengan beberapa orang yang lain, memakai kemeja, berdasi & celana kain. Hanya saja Johanh punya aura khas, playboy karismatik.
Handphone yang kugenggam bergetar karena ada pesan masuk. Ketika pesan tersebut kubaca Johanh mengganti tempat kami bertemu menjadi di emergency stair lantai yang sama, dia menyertakan alasannya karena lobby menjadi terlalu ramai & ada keinginan untuk bicara lebih private.
Meskipun merasa bahwa request barusan agak menuntut tapi aku setuju bahwa lobby pada jam segini banyak karyawan yang lalu lalang karena menunggu pulang. Jika mereka menempuh perjalan pada jam segini akan terjebak macet yang panjang. Makanya kadang para karyawan menghabiskan waktu dengan mengobrol atau berolah raga di tempat yang disediakan kantor di dekat parkiran mobil.
Emergency stair memang tidak terkunci tapi ada tanda dilarang masuk. Lokasinya tidak terlalu tersembunyi karena dekat vending machine membuatku sedikit merasa aman. Jika Johanh berniat berbuat kurang ajar lagi aku bisa berteriak minta tolong & pasti bala bantuan datang dengan segera.
Toh ini Main office Wismail grup, yang artinya markas besarku. Sedikit saja kode dariku sekuriti tidak akan tanya macam-macam & sigap berada di pihakku. Sekalipun umpama aku Di posisi yang salah.
Aku membuka pintu emergency stair yang berwarna merah menyala itu & langsung menemukan Johanh yang tengah menghabiskan rokoknya yang entah sudah batang ke berapa sambil bersandar dekat jendela yang terbuka. Kelihatannya dia sempat mondar mandir antara emergency exit & lobby. Mungkin dia gelisah karena aku tak kunjung datang & juga tidak mereply pesannya.
“Kamu lama sekali..” komentarnya sambil mematikan batang rokok yang sedang dihisapnya & mengibas-ngibaskan sisa asap ke arah jendela.
“Langsung saja. Kau mau ngomong apa?”
Aku langsung menodongnya ke pokok permasalahan.
Johanh berjalan perlahan ke arahku. Biasanya dia menunjukkan wajah cengengas-cengenges percaya diri ala badboy, tapi saat ini wajahnya nampak lebih serius menatapku lurus.
“Pertama-tama aku mau minta maaf soal beberapa malam lalu. Aku tak punya alasan yang bagus supaya kamu mengerti mengapa aku melakukannya. Tapi… Intinya aku yang salah sudah tidak sopan padamu.”
Keseriusan di matanya yang terpancar mau tak mau dalam hati ada secercah harapan pada Johanh. Harapan untuk dimaafkan.
Aku berdehem melegakan tenggorokanku.
“Maaf aku nggak mau langsung percaya & menerima maafmu...” Jawabanku yang sengaja kuberi jeda itu membuat raut muka pasrah yang tegar di wajah Johanh.
“...lebih tepatnya aku nggak percaya Kak Johanh nggak punya alasan bagus tentang perlakuan Kakak kemarin. Pendekatan dengan ancaman seperti itu nggak sesuai dengan imagemu sebagai lady killer yang biasanya.”
Sejauh yang aku tau Johanh memang playboy tapi bukan penjahat kelamin. Dia tidak pernah memaksakan keinginannya pada wanita yang diincarnya. Hubungan yang dia terapkan sebagai prinsip selalu suka sama suka. Hubungan penuh tanggung jawab & kesadaran penuh dari kedua belah pihak. Mungkin itu salah satu alasan mengapa pewaris VOA grup ini tak pernah ada skandal parah dimuat di koran meskipun sering berganti-ganti gandengan.
Nampaknya kata-kataku hit the spot, sesaat Johanh terlihat seperti orang yang tertangkap basah lalu ia tertawa kecil sambil memggaruk belakang telinganya.
“Aku tersanjung kamu bisa menilaiku sampai seperti itu.” ia tersenyum seolah merasa kalah.
Aku melipat lenganku sedikit tidak sabar.
“Jadi bisa aku dengar alasannya sekarang? Aku masih ada pekerjaan yang harus selesai hari ini.” kata-kataku yang menuntut ditanggapi kalem oleh Johanh yang memang sudah berniat lebih jujur padaku.
“Pasti sebelum aku sudah banyak yang memperingatkanmu bahwa berbahaya buatmu saat ini bekerja di Wismail Grup kan? Yang kulakukan kemarin cuma sekedar contoh kecil hadiah dariku. Aku yakin tak semua ‘penggemar’-mu sesopan aku.”
Johanh mengutarakan maksudnya.
“…dan pastinya nggak seganteng aku bila dibandingkan dengan para lansia seperti Pak Georg.” dia menambahkan dengan kenarsisan yang nggak perlu.
Aku tertawa kecil & mungkin terdengar seperti meremehkan nasehat Johanh.
“Baiklah, kalau itu yang mau kau katakan. Terima kasih atas peringatannya.”
Aku berbalik menuju pintu yang menghubungkan tangga darurat & lobby utama. Bahkan sebelum aku menyentuh knop pintu, tangan Johanh menahannya agar terus menutup memberi isyarat bahwa aku belum boleh pergi karena dia belum selesai bicara.
Punggungku merasakan garis bahunya. Johanh posisinya menghadap bagian belakangku setengah menyudutkanku antara pintu & tubuhnya. Saking dekatnya kami aku bisa mencium bau cologne aroma musk yang dipakainya.
Memang ada kekhawatiran dia akan berlaku kurang ajar seperti kemarin, tapi Johanh yang berusaha jujur saat ini pasti tidak akan berbuat serendah itu. Pria berkemeja biru ini berkata dengan suara yang lebih pelan namun semakin dalam.
“Kamu yakin nggak mau berpikir untuk mundur?” bagai berbisik ia mendekatkan bibirnya ke telingaku.
“Kondisi sekarang berbeda dengan dulu ketika Wismail berada di puncaknya. Sekarang grup saingan Wismail akan mencoba segala cara untuk menjatuhkan Papamu. Dan melalui anak perawannya yang lugu pasti akan jadi cara paling favorit.”
Tidak kupungkiri kata-kata Johanh membuatku merinding. Membayangkan hal-hal yang lebih parah, dari Johanh tadi malam ataupun yang dilakukan Georg Prime beberapa tahun lalu, bisa saja terjadi di kemudian hari.
Aku memejamkan mata sebentar untuk menenangkan diri, “Aku tahu resikonya & kakiku pun masih gemetar kalau membayangkan hal-hal buruk seperti yang Kak Johanh, Mama & Papaku bayangkan benar-benar terjadi.”
Aku memutar kepalaku tanpa merubah posisi badanku menatap secara langsung lelaki yang ada di depanku dengan lirikan penuh. “Tapi akan lebih buruk kalau aku lepas tangan. Apa menurutmu sebaiknya aku hidup dengan bersembunyi dalam waktu yang tak bisa ditentukan?”
Johanh menatap balik ke arahku, “Aku cuma mau bilang kalau ada cara yang lebih mudah.”
Penasaran dengan apa yang akn disugestikan Johanh, aku meminta penjelasan lebih.
Johanh menelan ludah sedikit ragu hendak melanjutkan ucapannya, “Mungkin tidak seperti gayamu tapi.. Menikahi pria mapan yang bisa membantu Wismail Grup. Tidak harus kaya, punya pengaruh kuat akan lebih baik.”
“Contohnya pria sepertimu?” Aku bertanya dengan penekanan penuh dengan hembusan tawa kecil.
Johanh memiringkan kepalanya sambil melirik ke kanan sambik berpikir dengan agak salah tingkah mungkin takut disalahpahami. Ia menegakkan tivinya agak menjauh dari pintu emergency yang tadi ditahannya.
“Nggak harus sama aku sih… Tapi kalau nggak ada kandidat lain yaaah…” bahunya terangkat sok dibuat-buat.
“Kak Johanh ingin aku menghabiskan hidup dengan nikah muda & seumur hidup dipandang sebagai perempuan matre oleh orang banyak? Seperti mamaku?” Tanpa menggubris perkataan Johanh barusan aku melanjutkan kalimatku ke intinya.
Johanh yang mendengarnya tak berkata apa pun untuk membantahku cuma menghela nafas panjang. Mungkin sedikit banyak dia paham kalau aku sudah merasa muak dipandang tidak benar oleh orang lain & sekaranglah saatnya untuk merubah image menjadi lebih baik.
Kemudian dia menepuk kepalaku pelan. “Yah, pokoknya sudah aku beri peringatan lho.” Senyum kecut pasrah menghiasi wajahnya yang berusaha mengikhlaskan keputusanku.
Johanh langsung membuka pintu darurat yang berada di dekat kami. Ia mempersilakanku memasuki ke arah lobby lebih dulu baru kemudian dia mengikuti seperti seorang gentleman.
Sebelum akhirnya kami benar-benar berpisah Johanh seperti teringat sesuatu, “Oh iya, Kika. Kamu datang ke acara di gedung Pancasila sekitar 4 bulan dari sekarang nggak?”
Aku sedikit berpikir mengingat-ingat apakah acara yang dimaksud sempat kulihat di jadwal yang dikirimkan oleh Handa via email atau tidak, “Acara apa itu?”
“Itu semacam acara amal tahunan yang diadakan Menteri Perekonomian. Para pengusaha & beberapa pimpinan grup bakal berkumpul di sana. Kalau kamu datang, mungkin aku juga akan datang.”
Aku mengerutkan alis. “Memangnya kalau aku nggak datang, pewaris VOA Grup nggak merasa perlu datang?”
“Setidaknya kalau ada kamu bakal ada sedikit bau harum perawan & aku nggak akan merasa terlalu tercekik dengan aroma parfum nyonya-nyonya kaya yang membosankan.”
Johanh melemparkan gurauannya yang khas bergaya semi-sexual harrasment seperti biasanya. “Sekalian aku akan memperkenalkan kamu pada beberapa orang yang mungkin harus diwaspadai Wismail Grup.” Johanh menekankan kalimatnya yang terakhir menjadi lebih serius.
“Harus diwaspadai?” aku mengulang beberapa perkataan Johanh sedikit bingung namun ada sedikit ketakutan di dalamnya. "Contohnya siapa?"
Johan mengangkat bahunya lalu langsung berbalik untuk pergi menuju pintu keluar, “Untuk lebih jelasnya kujabarkan waktu di acaranya saja ya..!” ia melambaikan tangan singkat.
Aku tak beranjak sampai Johanh hilang dari area pandangku karena menghilang setelah melewati pintu utama. Langkah kujalankan menuju ruang kantor Yusuf sambil tenggelam dalam lamunan kata-kata Johanh tentang orang-orang yang harus kuwaspadai merasa ini terlalu serius untuk kuabaikan. Pada akhirnya kekhawatiran yang berlanjut pada overthinking itu malah membuatku kebingungan sendiri.
Tepat ketika aku hendak memasuki ruangan yang menjadi base kerjaku tiba-tiba aku melihat sesosok orang yang kukenali mendekatiku. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruangan Yusuf.
“Nona Kika, mau pulang jam berapa?” Handa mendekatiku sambil menenteng tas kerjanya yang nampak berat menampung laptop. “Pak Djati & Irza sudah pergi dari ke pertemuan di tempat lain jadi beliau memintaku menemanimu pulang.”
Aku mengangguk, “Tunggu sekitar 30 menit. Ada yang mau sekalian kurapikan dulu.”
Dari sudut mataku aku bisa melihat Julia & Putri memandang ke arah kami dengan tatapan penuh makna. Reflek aku pun menoleh ke arah mereka.
“I-itu teman-temanku..” kata-kataku jelas membuat Handa yang kuajak bicara mau tak mau memandang ke arah yang sama denganku. Tahu dipandang oleh eksekutif sektor sekertariat yang masih bujang tegap berkacamata sontak membuat seluruh manusia yang berada dalam pandangan Handa melambaikan tangan dengan senyum yang mirip nyengir kuda seperti tersihir.
Tak cuma Julia & Putri yang melambai, para engineer lelaki yang kebetulan lembur juga ikut melambai mesra bahkan membuat koor ‘halo’ yang kompak. Junet yang kebetulan sedang ngemil donat bahkan melambai sambil tetap mengunyah menghabiskan donatnya.
Handa berdehem menanggapi lambaian berjamaah tersebut sekaligus meminta perhatianku lagi, “Kalau begitu, saya tunggu di lobby.”
“Oh iya, kalau nggak salah akan ada acaranya Menteri Perekonomian di gedung Pancasila ya? Masih agak lama sih, sekitar 4 bulan lagi. Benar nggak? ” aku baru saja ingat tentang Johanh & bertanya lebih detail tentang acara tersebut pada Handa.
Handa mengiyakan, “Pada tanggal itu Pak Djati tidak bisa hadir karena ada janji yang tak bisa ditinggalkan. Irza sudah positif yang akan datang menggantikan & beliau berharap Nona Kika juga menemani. Nona sudah diberi tahu rupanya oleh Pak Djati?”
“Aku tahu dari Johanh.” kataku jujur.
“Tolong bilang pada Papa & Irza aku juga akan datang ke acara tersebut.” aku memberikan pesan lewat Handa.
Setelahnya Handa meninggalkanku, yang masuk ke ruangannya Yusuf, langsung berjalan menuju lift sambil mengeluarkan ponselnya, yang akan dia gunakan untuk menghubungi seseorang.
“Kika!”
Tak disangka Julia & Putri nyelonong masuk juga ke ruangan saat aku mengecek hal-hal Apa yang mungkin harus kubawa pulang & yang tidak.
“Kamu kok nggak bilang juga sih kalau akrab sama Pak Handa!!!?!” Julia yang berkicau duluan sambil mengetok-ngetok meja tempatku bekerja berkali-kali tanda protesnya yang menggebu diheboh-hebohkan.
Aku mengerenyitkan dahi, “Bukannya kamu fansnya Irza, Jul?” kedua mataku sontak memandang Julia dengan tatapan terpincingkan penuh selidik.
“Yah.. Tapi kalau ada high quality jomblo yang lain, apalagi yang sekaliber Pak Handa, aku ya masih tetep girang laaaah…” Julia mulai bereaksi lebay seperti khasnya.
“Eh tapi Pak Handa kok belum nikah ya? Umurnya berapa sih?” kini Putri membuka topik baru yang lebih rinci. “Pak Handa nggak homo kan?”
Pertanyaan Putri disusul oleh suara melengking Julia yang kecewa tak percaya oleh apa yang didengarnya.
Aku yang sedang menyeruput air minum jadi keselek sedikit mendengar kesimpulan Putri yang asal bunyi, “Dia umurnya tahun ini seharusnya 33 tahun.. Tapi kayaknya dia nggak homo deh. Mungkin belum ada yang cocok aja kali..”
Kujawab sambil sedikit mengingat-ingat & berpikir. Meskipun dalam hati aku juga bertanya-tanya mengapa lelaki sesempurna Handa masih belum berpasangan.
Jangankan istri, pacaran saja kayaknya belum pernah ada kabarnya. Jauh beda dengan Johanh yang pacarnya ganti tiap weekdays. Atau mungkin Handa amat sangat pandai merahasiakan kehidupan pribadinya? Baru kusadari bahwa Handa merupakan salah satu manusia paling misterius yang kukenal.
“Ah tapi malah sesuai dengan seleraku kok. Aku kan sukanya sama pria-pria matang nan ranum. Andai beneran dia homo, akan kukembalikan dia ke jalan yang lurus.” kata Putri tanpa ekspresi yang membuatnya terlihat tak jelas apakah kata-katanya itu serius atau cuma asal saja.
“Memangnya kamu mau serius mendekati Handa?” tanyaku penuh selidik kini pada si Putri.
“Nggak juga sih..” jawab Putri simpel. “Aku lebih suka dikejar-kejar & dibucinin. Kalau Pak Handa yang ngejar aku sih mau. Tapi kalau aku yang disuruh ngejar kayaknya nggak deh. Mending teriakin aja dari jauh kayak begini bareng Julia..” sungguh jawaban yang membingungkan, serumit hati seorang wanita.
Julia yang di sebelahnya manggut-manggut seolah memahami isi dari ceramah teman seperjuangannya itu.
“oooh.. Gitu ya?” hanya itu yang bisa kukatakan untuk menanggapinya agar nampak pura-pura mengerti.
“Oh iya, Kika. Kamu ikut pertandingan enginer cup nggak?” Putri sekali lagi dengan smoothnya membelokkan topik pembicaraan, kali ini lebih tajam beloknya.
“Engineer cup itu apa?” tanyaku meminta lebih penjelasan.
Julia yang duluan memberi jawaban atas pertanyaanku, “Itu cuma kompetisi seneng-senengan buat para engineer di Wismail Grup. Yang cewe main bulutangkis ganda & yang cowo futsal. Hadiahnya paling cuma makan gratis di restoring deket-deket sini 1x buat tiap orang.”
Wanita yang di sebelahnya langsung berbunyi tanpa peringatan, “Kika pasangan sama Julia aja, soalnya aku udah pasangan sama Yani. Kalo ada kamu team engineer Wiphone bisa nurunin 2 kandidat.” Putri memintaku bersemangat.
Aku tertawa kecil sambil membereskan meja, “Tapi aku nggak pinter olah raga…”
“Halah.. Aku juga payah main badmintonnya. Ini buat seneng-senengan aja sekalian biar sehat. Mensanaincoporesano gitu deh…” Omongan Putri mulai merambah ke alam yang penuh ketidakjelasan membuatku mengatakan iya untuk mempersingkat waktu.
Merasa mendapat jawaban yang memuaskan, 2 wanita pembawa badai dadakan yang mendekam di kantor Yusuf ini beranjak pergi untuk melanjutkan lembur mereka yang tertunda.
Melihat para engineer Wiphone yang bersemangat membuatku teringat dengan presentasiku kemarin. Aku berharap metode baru yang kucanangkan memberi angin baru yang memudahkan mereka bekerja dengan semangat yang sama seperti hari ini.
Pemikiran itulah yang membuatku ikut bersemangat bekerja sebagai leader yang baik bagi mereka. Usiaku boleh saja lebih muda tapi aku ingin mereka respek terhadapku bukan karena aku dari keluarga Wismail tapi karena kemampuanku.
Memandang jam dinding aku sadar bahwa 30 menit janjiku dengan Handa sudah hampir habis. Dengan setengah buru-buru aku mensave file-file yang seharian tadi kukerjakan & mematikan segala perangkat elektronik.
Berkas yang akan kubawa pulang sudah kumasukkan ke dalam tas kerjaku & bersiap turun ke lobby di mana Handa sedang menungguku untuk pulang satu kendaraan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
just.Ryn
aku bakal ikut gabung tim teriak2 dr pinggir aja deh kl ada handa..
2020-05-13
1
Die-din
handa sheby 33 th...hmmm ahjushi ganteng donk
2020-05-08
1