Suara gemuruh tepuk tangan penonton menghiasi saat Irza memasuki lapangan. Handa menyambutnya dengan satu tepukkan punggung untuknya. Dan pertandingan yang tinggal 15 menit ini dimulai dengan satu tiupan peluit wasit.
Di pinggir lapangan tribun suporter Wiphone aku, Julia & Putri memberikan suport yang berbeda. Aku dalam hati berdoa semoga kami mendapatkan kemenangan, si Julia terus saja meneriakkan nama Irza + Handa dengan gaya bak fans berat ketemu artis favorit sedang konser & si Putri berlaku bak pemilik kekuatan telekinesis komat kamit mendoa agar gawang kami tidak kebobolan.
Dalam beberapa menit terakhir yang menentukan nasib perut banyak orang ini tak ada kata yang bisa mendeskripsikan performa Irza selain ASTAGA. Baru kusadari betapa koordinasi mata & reflek kaki Irza nol besar.
Beberapa kali umpan cantik Karna hanya menggelinding tanpa arti melewati kaki Irza yang berusaha menerima atau menendang ke arah gawang. Kemungkinan Irza merasa malu juga tapi ada keseriusan & rasa penasaran di matanya untuk ingin tetap berada di lapangan.
Julia yang awalnya bersorak untuk Irza lama-lama berubah emosi & mengomel tak jelas kepadanya. Aku & Putri ngakak seolah kekalahan kami nanti bukan urusan penting lagi. Pokoknya yang penting ketawa dulu.
Situasi komedi berkurang tatkala team kami merubah strategi, Irza diperintah untuk menjaga gawang menggantikan Yudi & dia melakukan tugasnya kali ini dengan lebih baik, lebih mendingan, daripada saat dia ditugaskan sebagai striker. Yudi yang melepaskan posisi kipernya bekerja sama dengan Nakul menyerang dari tengah lapangan. Handa tak berubah posisinya sebagai penyerang sayap kanan.
Sorakan penonton yang menyaksikan pertandingan bergemuruh diawal malam ini semakin memperbanyak penonton yang ikut tertarik setelah mereka selesai bekerja. Ditambah karena ada 2 eksekutif sebagai bintang tamu semakin memberi ekstra rasa pada pertandingan ini.
Bahkan ada pula beberapa eksekutif lain, Latifa & Badjabir, yang juga menyempatkan untuk ikut menonton karena penasaran. Dan seolah menyatu dengan kegempitaan mereka tak segan-segan ikut memberi suport pada para atlet di lapangan seperti yang lain.
Ketika peluit panjang wasit berbunyi seolah adalah akhir dari yang kami nantikan. Hasilnya tidak ada perubahan sejak Irza memasuki lapangan, masih tetap seri.
Panitia memutuskan untuk menjadikan para finalis sebagai double winner. Hadiah pun dibagi pada kedua belah pihak. Kurasa ini adalah win-win solution. Tak ada pihak yang dikecewakan meskipun tidak menikmati hadiah secara utuh. Masing-masing mendapat jatah makan di cafe 2 hari.
"Aku nggak tau Kak Irza bisa main bola!" aku mengomentari Irza yang sedang mengatur nafas dan mengelap keringat yang mengucur deras dari dahinya.
"Terutama tendangan tanpa bayangannya tadi... Seperti sedang menonton Kapten Shubasa!" aku tak kuasa menjaga tawa ngakakku.
Irza yang menyadari sindiran godaku terlihat malu. "Awas ya! Nanti waktu pertandingan badmintonmu bakal kuketawain sekeras-kerasnya!"
Dia memercikkan sedikit air minum yang dibawanya ke arahku.
"Oooh.. Tenang saja Pak Irza..." Putri ikut menimbrung.
"Permainan badminton kami gak akan lebih konyol daripada aksi bapak tadi kok."
Aku & Putri bersama-sama kompakan ngakak terang-terangan di depan Irza yang terlihat makin malu.
Ia tak bisa menyembunyikan wajahnya yang reflek nyengir karena teringat betapa bodoh permainannya tadi.
"Setelah ini lapangan futsalnya bakal dijadikan lapangan badminton. Kita sebaiknya pemanasan sekarang." usul wanita berambut pony tail itu. Aku mengiyakan & mulai merenggangkan kaki serta tanganku.
"Ki.. Kikah!!!! Putrik!!!!"
Terdengar suara panggilan memekik berbisik aneh dari Julia.
Aku memandang ke arahnya yang ternganga. Penasaran dengan apa yang Julia lihat hingga ia bersikap begitu aku menoleh ke arah fokus pandangannya. Ternyata Julia tak sengaja melihat Handa yang melepaskan baju futsalnya untuk dikembalikan pada si empunya kaos, Dewa.
"Huwaaah... Dia punya six pack... Six pack lho!" komentarnya tanpa basa basi namun berusaha supaya yang bisa mendengarnya cuma aku & Putri.
Putri ikut terpana melihat shirtless Handa.
"Awalnya aku nggak sadar waktu awal dia ganti karena mau main. Tapi sekarang karena ada efek basah karena keringat jadi makin terpahat otot-ototnya..."
"Ternyata jaga badan juga ya orang itu.." sambungku reflek.
Dan diiyakan oleh kedua temanku ini. Kalau boleh kukatakan Handa memang mempunyai badan seperti model-model di majalah. Tubuh tinggi, memiliki berotot yang firm namun tidak berlebihan, wajahnya punya garis rahang yang tegas & kulitnya agak gelap tapi justru mungkin malah terkesan eksotik.
Tak heran banyak gosip beredar bahwa penggemar Handa di kalangan karyawan wanita jauh lebih banyak daripada Irza. Dengan fisik yang seperti itu cukup disayangkan juga dia harus berakhir sebagai seorang stalker.
Irza yang mengetahui fokus pandangan kami geleng-geleng kepala. Dia langsung mengusap mata kami bertiga bergantian.
"Hoi.. Hoi.. Anak perawan nggak boleh lihat badan cowok telanjang terlalu lama!" khusus mataku yang diusap terakhir Irza tutup lebih lama.
Interupsi Irza membuyarkan hipnotis body Handa pada kami.
"Pak Irza cemburu ya..." Putri menggoda.
"...karena nggak punya six pack kan?"
Wajah Irza yang awalnya bingung terlihat berusaha menenangkan diri.
"Logika dari mana itu?!" Irza menanggapi dengan heran. "Aku juga punya tauk!"
"Mana buktinya?" kini Julia seperti menemukan fokus baru yang dinantikan untuk dipandang sebagai pengganti perut six pack-nya Handa.
"Kan sudah kubilang anak perawan nggak boleh terlalu lama lihat badan telanjang cowok...!!" Irza kelihatan mulai kewalahan menghadapi tingkah sinting para karyawati sableng di depannya.
Seorang panitia mendatangi kami memberitahukan bahwa pertandingan engineering cup selanjutnya, badminton ganda perempuan akan dimulai 15 menit lagi. Julia pergi menjemput si Yani yang dari tadi tak kelihatan. Nampaknya yang bersangkutan masih berkutat dengan sedikit lembur di kantornya.
Putri pergi untuk mengambil handuk olah raganya di lokernya. Aku yang sudah siap bertanding berada di sisi lapangan bersama para lelaki yang penuh keringat namun bersemangat.
Irza tiba-tiba membuka percakapan, "Hubunganmu dengan bawahanmu akrab sekali ya." bisiknya.
Aku memiringkan kepalaku mencari kata yang tepat untuk menanggapinya.
"Masa sih? Mungkin karena umurku yang paling kecil dibandingkan mereka jadi nggak terlalu dianggap atasan.." balasku.
"Bukannya Kak Irza juga akrab dengan bawahan-bawahan lainnya?"
Irza menghela nafas, "Tapi tak seakrab kalian. Bawahanku, meskipun banyak yang lebih tua dariku, tidak blak-blakan seperti ini. Mungkin mereka terlalu sungkan atau segan denganku.."
Apakah ini artinya Irza sedang curhat padaku? Tumben sekali.
"Mungkin tergantung orangnya. Kalau yang orangnya tipikal Julia, Putri & yang lain di sini memang dasarnya cuek & mudah berbaur."
"Bisa jadi.." komentarnya singkat. "..dan bisa jadi juga bahwa itu berkat karismamu yang mudah disukai." Mendapatkan pujian tiba-tiba dari orang yang jarang sekali memuji membuatku merasa seperti salah dengar.
Wajah bingungku semakin membuat Irza geli. Ia menepuk kepalaku lembut seolah anak kecil yang sudah berbuat suatu kebajikan di luar ekspektasi. Reflek aku pun nyengir antara senang & malu-malu. Aku cuma bisa merespon pujian tersebut dengan suara terkekeh kecil yang tak terdengar siapapun kecuali olehku.
"Pak Junet, udah mau balik?" Irza menangkap Junet yang ketangkap basah hendak pergi dari lokasi.
"Ini baju & sepatunya."
Dalam satu gerakan Irza membuka kaosnya cepat lalu menunduk untuk melepas sepatu futsal yang sejatinya milik Junet. Segera setelah ia memakai sepatu pantovel miliknya, is menyerahkan kaos bersimbah keringat ke tangan Junet seraya mengucap terima kasih.
Mau tak mau aku memandangi badan Irza yang tersaji di hadapanku. Badannya ternyata cukup berbentuk meskipun tidak sebeefy Handa. Kulitnya bersih & dengan undertone pink membuatnya bagaikan patung karya pemahat terkenal.
Hmm.. Julia, mana Julia?
"Irza.. Nona Kika..." suara berat panggilan tiba-tiba berada di dekat kami.
Rupanya Handa, dengan pakaian yang sudah menutupi tubuh penuh sensasinya, memasang wajah yang serius tak biasa yang membuatku & Irza merasa tak nyaman.
"Barusan ada telepon dari Bu Mila. Pak Djati kolaps & masuk rumah sakit."
Wajah Irza menegang mendengarnya seolah tersambar petir di siang bolong.
"Di mana rumah sakitnya?" berusaha tenang ia bertanya meskipun aku tahu dia pasti sangat panik sepertiku.
"Di RS Dr. Senapati sekitar agak jauh dari sini.." Handa setengah berbisik.
"Saya akan segera menyiapkan mobil. Kalian bersiaplah untuk ke rumah sakit." lanjutnya sigap & tanpa aba-aba meninggalkan kami yang berusaha menenangkan diri meskipun shock.
Irza kembali ke ruangannya untuk bersiap menuju RS tempat Djati dirawat. Aku menginformasikan pada Putri untuk abstain dari engineer cup lalu bersiap untuk berangkat ke tujuan yang sama dengan Irza.
Di dalam perjalanan di mobil, tak banyak yang kami obrolkan. Masing-masing seperti tenggelam dalam pikirannya. Mungkin untuk menenangkan perasaan khawatir yang memulaskan atau sekedar berdoa meminta dihindarkan dari kemungkinan terburuk.
Lagipula apa yang harus kita bicarakan? Toh tak ada di antara kami yang tahu lebih tentang kejadian ini.
Mobil APV kami melaju secepat yang kami bisa. Aku & Irza duduk berdampingan di kursi tengah sementara Handa di passanger seat depan. Seorang bodyguard bertubuh kekar menjadi sopir kami.
Selain itu ada seorang lagi bodyguard yang mengikuti kami dengan mobil sedan lain di belakang. Memang merepotkan memiliki bodyguard tapi ini adalah protokol yang saat ini kami butuhkan agar lebih merasa aman.
Sekitar hampir satu jam kami baru sampai ke RS Senapati yang jadi lokasi perawatan Djati. Aku & Irza langsung menghambur keluar mobil menuju lobby rumah sakit. Sementara Handa & driver mencari parkiran & berkata untuk menyusul kami belakangan.
Irza bertanya pada bagian informasi mengenai kamar mana orang tua kami dirawat. Djati ternyata masuk ruang UGD yang membuat jantung kami berdegub tak karuan mempertanyakan dalam hati seberapa gawat kah kondisinya hingga harus masuk UGD & belum masuk kamar reguler.
Kami berjalan sangat cepat menuju area UGD yang terletak tak jauh dari lobby. Saat pandanganku menemukan area yang ditunjukkan karyawan informasi tadi sekaligus menemukan seseorang yang kukenal menyadari kedatanganku.
"Mama, gimana papa?" tanyaku tanpa pikir panjang.
Aku reflek mengajaknya duduk di kursi yang disediakan oleh rumah sakit. Memandang ke arah jendela UGD yang memperlihatkan isi ruangan dimana Djati yang terbujur lemah dipasangi banyak selang yang aku tak tahu fungsinya selain infus.
Mila menyambutku tanpa langsung menjawab. Ia menggenggam tanganku & kurasakan telapak tangannya dingin menggambarkan betapa khawatirnya pada situasi Djati.
"Papamu tadi pagi bilang kalau sedikit tak enak badan & agak pucat. Tapi tetap bersikeras pergi ke luar kota." kini Mila mulai bercerita, bermaksud menjawab pertanyaanku selengkap ia mampu.
"Karena khawatir, aku memaksa ikut meskipun tidak sampai ke ruang meetingnya. Lalu selepas siang tiba-tiba dia ambruk.." bibir Mila bergetar menceritakan kronologis yang terjadi.
Aku tahu ia mencoba tegar. Terasa dari caranya menata bahasa & suaranya supaya tak terdengar terisak.
"Dokter belum bilang apa-apa?" tanyaku setelah sekiranya cerita Mila selesai.
Mila menghela nafas, "Katanya papamu kelelahan berat sehingga tensinya naik drastis & kondisinya drop. Dokter menyarankannya untuk bedrest total."
Meskipun masih cemas tapi ada lega juga bahwa kondisi Djati tak seseram yang kubayangkan sepanjang perjalanan tadi.
"Berapa lama lagi harus di UGD? Kapan bisa dirawat di kamar pasien?"
"Belum tahu.. Dokter bilang tunggu sampai papamu sadar & kondisinya lebih baik." Mila bersandar mencoba menenangkan dirinya yang emosinya sempat membuncah.
"Irza.."
Perhatian Mila kini pindah pada Irza yang daritadi diam kungkin sengaja acuh tak acuh pada Mila.
"Apa?" jawab Irza dingin dengan raut muka yang sedatar mungkin.
Kelihatannya sengaja ia lakukan agar terasa kesinisannya. Nampaknya Irza masih menyimpan rasa tidak suka yang dalam pada Mila, ibu tirinya.
"Kamu handle semua kerjaannya papamu ya. Supaya beliau bisa konsentrasi untuk penyembuhannya."
Mila seolah tak menggubris sikap benci Irza. Wajahnya bahkan tak berubah menjadi tersinggung & menjawab Irza dengan biasa saja.
Irza menyadari bahwa kesinisannya ditepis jadi sedikit emosi.
"Itu sudah pasti. Tapi jangan kira aku melakukannya karena perintahmu." lanjutnya semakin tajam.
Aku yang berada di lokasi jadi merasa serba salah. Di satu sisi ada ibu kandungku. Tapi di sisi lain ada kakak yang juga kusayangi, meskipun situasi kami masih sedikit tak enak.
Sesaat ada kebisuan yang agak lama membuat suasana jadi sangat tak nyaman. Irza seolah tak sudi duduk berdekatan dengan Mila lebih memilih berdiri tak bergerak sambil memandang Djati lewat jendela.
Mila juga dalam diam duduk sambil memejamkan mata seperti orang beristirahat. Aku tak henti-hentinya memandang keduanya bergantian dalam diam karena tak tahu harus berkata apa.
Situasi itu berakhir ketika seorang suster mendatangi kami untuk meminta kelengkapan administrasi. Mila dengan suka rela beranjak & mengikuti suster tersebut. Kini hanya ada aku & Irza di depan jendela UGD ini.
"Kak.." aku mencoba memulai pembicaraan untuk memecah kebisuan yang disebabkan pertengkaran dingin antara Mila & Irza beberapa menit lalu.
"Kenapa kakak sebenci itu sama Mama? Padahal kakak begini baik padaku.."
Irza memandangku dengan sedikit tatapan tak enak. Sepertinya ia sadar bahwa kebenciannya terhadap orang yang selama ini membesarkanku membuatku terluka secara tak langsung.
"Karena aku tak bisa memaafkan perilakunya.." ia nampak berhati-hati memilih tata bahasa.
"Dia menikahi Papa demi uang lalu bermain-main dengan pria lain."
Aku tahu saat aku cuma hidup berdua dengan Mila. Beliau sering berganti-ganti pacar yang kesemuanya pria kaya.
Tapi setahuku setelah Mila menikah dengan Djati tak pernah lagi kutahu ada hubungan gelap dengan pria lain. Meskipun kadang ada gosip murahan tentang Mila yang terang-terangan tidak benar.
"Apa itu bukan salah paham? Seperti yang pernah kakak lakukan padaku.." kataku lirih merasa tak enak karena mengorek luka lama.
Irza menghela nafas emosi, "Aku melihatnya sendiri." katanya menekan. "Dia memasuki hotel dengan pria yang tak kukenal padahal statusnya sudah menjadi istri papa."
Laporan Irza membuatku merasa seperti tak percaya dengan pendengaranku. "Masa?!? Apa bukan salah liat??!"
"Mana kutahu." jawabnya emosi.
"Papa begitu sedih ketika ibu kandungku meninggal sehingga ia menduda bertahun-tahun...."
"Saat beliau menggandeng mamamu dengan wajah cerianya adalah satu-satunya hal yang membuatku merestui hubungan mereka.."
"Meskipun aku sudah sering mendengar gosip tak enak tentang mamamu tapi dalam hati kecilku aku berharap sikapnya menjadi lebih santun setelah menikahi papa."
Aku mendengarkan cerita Irza dengan seksama berusaha memahami perasaannya. Sengaja aku tak menginterupsinya agar aku bisa mendapatkan informasi darinya tanpa terjeda.
"Namun.. Beberapa tahun kemudian aku tak sengaja melihat mamamu turun dari taxi lalu memasuki hotel murahan sambil pinggangnya dirangkul oleh pria yang bahkan bukan suaminya." Wajah Irza semakin terlihat emosinya yang meluap saat melanjutkan ceritanya.
"Kamu tak bisa membayangkan betapa kecewanya aku. Betapa aku merasa hancur setiap melihat wajah papa yang tersenyum kepada wanita yang membodohinya di belakangnya."
Irza memandangku dengan mata yang seolah ingin meledak marah sekaligus meraung sedih.
Aku tak bisa berkata apa pun. Dalam hal ini aku memutuskan untuk tak memihak siapa pun meskipun kalau benar cerita Irza barusan, berarti Mila yang diposisi yang bersalah.
Aku beranjak dari tempatku duduk mendekati Irza.
"Mungkin ini bukan hal yang ingin kamu dengar saat ini. Tapi aku minta maaf mewakili mamaku." Kugengam tangannya erat.
".. Aku saat ini cuma berharap suatu saat nanti kita berempat berkumpul lagi dalam suka." mataku memandang sedih ke arah ayah tiriku yang masih terkulai tak bergerak di atas ranjang rumah sakit.
Irza mengalihkan pandangannya dariku ke arah Djati di balik jendela kaca. Pasti saat ini sangat sulit baginya berlama-lama memandangku, anak perempuan dari istri yang tak setia yang dinikahi ayahnya sekaligus adik yang disayanginya.
Tanpa jawaban atas permintaan maafku ia menghela nafas panjang yang berat. Meskipun dia tak berkata apa pun tapi aku tahu isi hatinya. Ia masih belum mau memaafkan Mila tapi tak tega untuk berterus terang di hadapanku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Ree.Pand
wuahhhh irza
2021-02-26
1
just.Ryn
aku dukung handa!!!!
2020-05-13
1
Die-din
wah karena g punya roti sobek ya adegan irza diskip td wkwkw
si handanya aww awww ahjushii dengan roti sobek kecelup air
2020-05-11
2