Kika 12

Suara gemuruh tepuk tangan penonton menghiasi saat Irza memasuki lapangan. Handa menyambutnya dengan satu tepukkan punggung untuknya. Dan pertandingan yang tinggal 15 menit ini dimulai dengan satu tiupan peluit wasit.

Di pinggir lapangan tribun suporter Wiphone aku, Julia & Putri memberikan suport yang berbeda. Aku dalam hati berdoa semoga kami mendapatkan kemenangan, si Julia terus saja meneriakkan nama Irza + Handa dengan gaya bak fans berat ketemu artis favorit sedang konser & si Putri berlaku bak pemilik kekuatan telekinesis komat kamit mendoa agar gawang kami tidak kebobolan.

Dalam beberapa menit terakhir yang menentukan nasib perut banyak orang ini tak ada kata yang bisa mendeskripsikan performa Irza selain ASTAGA. Baru kusadari betapa koordinasi mata & reflek kaki Irza nol besar.

Beberapa kali umpan cantik Karna hanya menggelinding tanpa arti melewati kaki Irza yang berusaha menerima atau menendang ke arah gawang. Kemungkinan Irza merasa malu juga tapi ada keseriusan & rasa penasaran di matanya untuk ingin tetap berada di lapangan.

Julia yang awalnya bersorak untuk Irza lama-lama berubah emosi & mengomel tak jelas kepadanya. Aku & Putri ngakak seolah kekalahan kami nanti bukan urusan penting lagi. Pokoknya yang penting ketawa dulu.

Situasi komedi berkurang tatkala team kami merubah strategi, Irza diperintah untuk menjaga gawang menggantikan Yudi & dia melakukan tugasnya kali ini dengan lebih baik, lebih mendingan, daripada saat dia ditugaskan sebagai striker. Yudi yang melepaskan posisi kipernya bekerja sama dengan Nakul menyerang dari tengah lapangan. Handa tak berubah posisinya sebagai penyerang sayap kanan.

Sorakan penonton yang menyaksikan pertandingan bergemuruh diawal malam ini semakin memperbanyak penonton yang ikut tertarik setelah mereka selesai bekerja. Ditambah karena ada 2 eksekutif sebagai bintang tamu semakin memberi ekstra rasa pada pertandingan ini.

Bahkan ada pula beberapa eksekutif lain, Latifa & Badjabir, yang juga menyempatkan untuk ikut menonton karena penasaran. Dan seolah menyatu dengan kegempitaan mereka tak segan-segan ikut memberi suport pada para atlet di lapangan seperti yang lain.

Ketika peluit panjang wasit berbunyi seolah adalah akhir dari yang kami nantikan. Hasilnya tidak ada perubahan sejak Irza memasuki lapangan, masih tetap seri.

Panitia memutuskan untuk menjadikan para finalis sebagai double winner. Hadiah pun dibagi pada kedua belah pihak. Kurasa ini adalah win-win solution. Tak ada pihak yang dikecewakan meskipun tidak menikmati hadiah secara utuh. Masing-masing mendapat jatah makan di cafe 2 hari.

"Aku nggak tau Kak Irza bisa main bola!" aku mengomentari Irza yang sedang mengatur nafas dan mengelap keringat yang mengucur deras dari dahinya.

"Terutama tendangan tanpa bayangannya tadi... Seperti sedang menonton Kapten Shubasa!" aku tak kuasa menjaga tawa ngakakku.

Irza yang menyadari sindiran godaku terlihat malu. "Awas ya! Nanti waktu pertandingan badmintonmu bakal kuketawain sekeras-kerasnya!"

Dia memercikkan sedikit air minum yang dibawanya ke arahku.

"Oooh.. Tenang saja Pak Irza..." Putri ikut menimbrung.

"Permainan badminton kami gak akan lebih konyol daripada aksi bapak tadi kok."

Aku & Putri bersama-sama kompakan ngakak terang-terangan di depan Irza yang terlihat makin malu.

Ia tak bisa menyembunyikan wajahnya yang reflek nyengir karena teringat betapa bodoh permainannya tadi.

"Setelah ini lapangan futsalnya bakal dijadikan lapangan badminton. Kita sebaiknya pemanasan sekarang." usul wanita berambut pony tail itu. Aku mengiyakan & mulai merenggangkan kaki serta tanganku.

"Ki.. Kikah!!!! Putrik!!!!"

Terdengar suara panggilan memekik berbisik aneh dari Julia.

Aku memandang ke arahnya yang ternganga. Penasaran dengan apa yang Julia lihat hingga ia bersikap begitu aku menoleh ke arah fokus pandangannya. Ternyata Julia tak sengaja melihat Handa yang melepaskan baju futsalnya untuk dikembalikan pada si empunya kaos, Dewa.

"Huwaaah... Dia punya six pack... Six pack lho!" komentarnya tanpa basa basi namun berusaha supaya yang bisa mendengarnya cuma aku & Putri.

Putri ikut terpana melihat shirtless Handa.

"Awalnya aku nggak sadar waktu awal dia ganti karena mau main. Tapi sekarang karena ada efek basah karena keringat jadi makin terpahat otot-ototnya..."

"Ternyata jaga badan juga ya orang itu.." sambungku reflek.

Dan diiyakan oleh kedua temanku ini. Kalau boleh kukatakan Handa memang mempunyai badan seperti model-model di majalah. Tubuh tinggi, memiliki berotot yang firm namun tidak berlebihan, wajahnya punya garis rahang yang tegas & kulitnya agak gelap tapi justru mungkin malah terkesan eksotik.

Tak heran banyak gosip beredar bahwa penggemar Handa di kalangan karyawan wanita jauh lebih banyak daripada Irza. Dengan fisik yang seperti itu cukup disayangkan juga dia harus berakhir sebagai seorang stalker.

Irza yang mengetahui fokus pandangan kami geleng-geleng kepala. Dia langsung mengusap mata kami bertiga bergantian.

"Hoi.. Hoi.. Anak perawan nggak boleh lihat badan cowok telanjang terlalu lama!" khusus mataku yang diusap terakhir Irza tutup lebih lama.

Interupsi Irza membuyarkan hipnotis body Handa pada kami.

"Pak Irza cemburu ya..." Putri menggoda.

"...karena nggak punya six pack kan?"

Wajah Irza yang awalnya bingung terlihat berusaha menenangkan diri.

"Logika dari mana itu?!" Irza menanggapi dengan heran. "Aku juga punya tauk!"

"Mana buktinya?" kini Julia seperti menemukan fokus baru yang dinantikan untuk dipandang sebagai pengganti perut six pack-nya Handa.

"Kan sudah kubilang anak perawan nggak boleh terlalu lama lihat badan telanjang cowok...!!" Irza kelihatan mulai kewalahan menghadapi tingkah sinting para karyawati sableng di depannya.

Seorang panitia mendatangi kami memberitahukan bahwa pertandingan engineering cup selanjutnya, badminton ganda perempuan akan dimulai 15 menit lagi. Julia pergi menjemput si Yani yang dari tadi tak kelihatan. Nampaknya yang bersangkutan masih berkutat dengan sedikit lembur di kantornya.

Putri pergi untuk mengambil handuk olah raganya di lokernya. Aku yang sudah siap bertanding berada di sisi lapangan bersama para lelaki yang penuh keringat namun bersemangat.

Irza tiba-tiba membuka percakapan, "Hubunganmu dengan bawahanmu akrab sekali ya." bisiknya.

Aku memiringkan kepalaku mencari kata yang tepat untuk menanggapinya.

"Masa sih? Mungkin karena umurku yang paling kecil dibandingkan mereka jadi nggak terlalu dianggap atasan.." balasku.

"Bukannya Kak Irza juga akrab dengan bawahan-bawahan lainnya?"

Irza menghela nafas, "Tapi tak seakrab kalian. Bawahanku, meskipun banyak yang lebih tua dariku, tidak blak-blakan seperti ini. Mungkin mereka terlalu sungkan atau segan denganku.."

Apakah ini artinya Irza sedang curhat padaku? Tumben sekali.

"Mungkin tergantung orangnya. Kalau yang orangnya tipikal Julia, Putri & yang lain di sini memang dasarnya cuek & mudah berbaur."

"Bisa jadi.." komentarnya singkat. "..dan bisa jadi juga bahwa itu berkat karismamu yang mudah disukai." Mendapatkan pujian tiba-tiba dari orang yang jarang sekali memuji membuatku merasa seperti salah dengar.

Wajah bingungku semakin membuat Irza geli. Ia menepuk kepalaku lembut seolah anak kecil yang sudah berbuat suatu kebajikan di luar ekspektasi. Reflek aku pun nyengir antara senang & malu-malu. Aku cuma bisa merespon pujian tersebut dengan suara terkekeh kecil yang tak terdengar siapapun kecuali olehku.

"Pak Junet, udah mau balik?" Irza menangkap Junet yang ketangkap basah hendak pergi dari lokasi.

"Ini baju & sepatunya."

Dalam satu gerakan Irza membuka kaosnya cepat lalu menunduk untuk melepas sepatu futsal yang sejatinya milik Junet. Segera setelah ia memakai sepatu pantovel miliknya, is menyerahkan kaos bersimbah keringat ke tangan Junet seraya mengucap terima kasih.

Mau tak mau aku memandangi badan Irza yang tersaji di hadapanku. Badannya ternyata cukup berbentuk meskipun tidak sebeefy Handa. Kulitnya bersih & dengan undertone pink membuatnya bagaikan patung karya pemahat terkenal.

Hmm.. Julia, mana Julia?

"Irza.. Nona Kika..." suara berat panggilan tiba-tiba berada di dekat kami.

Rupanya Handa, dengan pakaian yang sudah menutupi tubuh penuh sensasinya, memasang wajah yang serius tak biasa yang membuatku & Irza merasa tak nyaman.

"Barusan ada telepon dari Bu Mila. Pak Djati kolaps & masuk rumah sakit."

Wajah Irza menegang mendengarnya seolah tersambar petir di siang bolong.

"Di mana rumah sakitnya?" berusaha tenang ia bertanya meskipun aku tahu dia pasti sangat panik sepertiku.

"Di RS Dr. Senapati sekitar agak jauh dari sini.." Handa setengah berbisik.

"Saya akan segera menyiapkan mobil. Kalian bersiaplah untuk ke rumah sakit." lanjutnya sigap & tanpa aba-aba meninggalkan kami yang berusaha menenangkan diri meskipun shock.

Irza kembali ke ruangannya untuk bersiap menuju RS tempat Djati dirawat. Aku menginformasikan pada Putri untuk abstain dari engineer cup lalu bersiap untuk berangkat ke tujuan yang sama dengan Irza.

Di dalam perjalanan di mobil, tak banyak yang kami obrolkan. Masing-masing seperti tenggelam dalam pikirannya. Mungkin untuk menenangkan perasaan khawatir yang memulaskan atau sekedar berdoa meminta dihindarkan dari kemungkinan terburuk.

Lagipula apa yang harus kita bicarakan? Toh tak ada di antara kami yang tahu lebih tentang kejadian ini.

Mobil APV kami melaju secepat yang kami bisa. Aku & Irza duduk berdampingan di kursi tengah sementara Handa di passanger seat depan. Seorang bodyguard bertubuh kekar menjadi sopir kami.

Selain itu ada seorang lagi bodyguard yang mengikuti kami dengan mobil sedan lain di belakang. Memang merepotkan memiliki bodyguard tapi ini adalah protokol yang saat ini kami butuhkan agar lebih merasa aman.

Sekitar hampir satu jam kami baru sampai ke RS Senapati yang jadi lokasi perawatan Djati. Aku & Irza langsung menghambur keluar mobil menuju lobby rumah sakit. Sementara Handa & driver mencari parkiran & berkata untuk menyusul kami belakangan.

Irza bertanya pada bagian informasi mengenai kamar mana orang tua kami dirawat. Djati ternyata masuk ruang UGD yang membuat jantung kami berdegub tak karuan mempertanyakan dalam hati seberapa gawat kah kondisinya hingga harus masuk UGD & belum masuk kamar reguler.

Kami berjalan sangat cepat menuju area UGD yang terletak tak jauh dari lobby. Saat pandanganku menemukan area yang ditunjukkan karyawan informasi tadi sekaligus menemukan seseorang yang kukenal menyadari kedatanganku.

"Mama, gimana papa?" tanyaku tanpa pikir panjang.

Aku reflek mengajaknya duduk di kursi yang disediakan oleh rumah sakit. Memandang ke arah jendela UGD yang memperlihatkan isi ruangan dimana Djati yang terbujur lemah dipasangi banyak selang yang aku tak tahu fungsinya selain infus.

Mila menyambutku tanpa langsung menjawab. Ia menggenggam tanganku & kurasakan telapak tangannya dingin menggambarkan betapa khawatirnya pada situasi Djati.

"Papamu tadi pagi bilang kalau sedikit tak enak badan & agak pucat. Tapi tetap bersikeras pergi ke luar kota." kini Mila mulai bercerita, bermaksud menjawab pertanyaanku selengkap ia mampu.

"Karena khawatir, aku memaksa ikut meskipun tidak sampai ke ruang meetingnya. Lalu selepas siang tiba-tiba dia ambruk.." bibir Mila bergetar menceritakan kronologis yang terjadi.

Aku tahu ia mencoba tegar. Terasa dari caranya menata bahasa & suaranya supaya tak terdengar terisak.

"Dokter belum bilang apa-apa?" tanyaku setelah sekiranya cerita Mila selesai.

Mila menghela nafas, "Katanya papamu kelelahan berat sehingga tensinya naik drastis & kondisinya drop. Dokter menyarankannya untuk bedrest total."

Meskipun masih cemas tapi ada lega juga bahwa kondisi Djati tak seseram yang kubayangkan sepanjang perjalanan tadi.

"Berapa lama lagi harus di UGD? Kapan bisa dirawat di kamar pasien?"

"Belum tahu.. Dokter bilang tunggu sampai papamu sadar & kondisinya lebih baik." Mila bersandar mencoba menenangkan dirinya yang emosinya sempat membuncah.

"Irza.."

Perhatian Mila kini pindah pada Irza yang daritadi diam kungkin sengaja acuh tak acuh pada Mila.

"Apa?" jawab Irza dingin dengan raut muka yang sedatar mungkin.

Kelihatannya sengaja ia lakukan agar terasa kesinisannya. Nampaknya Irza masih menyimpan rasa tidak suka yang dalam pada Mila, ibu tirinya.

"Kamu handle semua kerjaannya papamu ya. Supaya beliau bisa konsentrasi untuk penyembuhannya."

Mila seolah tak menggubris sikap benci Irza. Wajahnya bahkan tak berubah menjadi tersinggung & menjawab Irza dengan biasa saja.

Irza menyadari bahwa kesinisannya ditepis jadi sedikit emosi.

"Itu sudah pasti. Tapi jangan kira aku melakukannya karena perintahmu." lanjutnya semakin tajam.

Aku yang berada di lokasi jadi merasa serba salah. Di satu sisi ada ibu kandungku. Tapi di sisi lain ada kakak yang juga kusayangi, meskipun situasi kami masih sedikit tak enak.

Sesaat ada kebisuan yang agak lama membuat suasana jadi sangat tak nyaman. Irza seolah tak sudi duduk berdekatan dengan Mila lebih memilih berdiri tak bergerak sambil memandang Djati lewat jendela.

Mila juga dalam diam duduk sambil memejamkan mata seperti orang beristirahat. Aku tak henti-hentinya memandang keduanya bergantian dalam diam karena tak tahu harus berkata apa.

Situasi itu berakhir ketika seorang suster mendatangi kami untuk meminta kelengkapan administrasi. Mila dengan suka rela beranjak & mengikuti suster tersebut. Kini hanya ada aku & Irza di depan jendela UGD ini.

"Kak.." aku mencoba memulai pembicaraan untuk memecah kebisuan yang disebabkan pertengkaran dingin antara Mila & Irza beberapa menit lalu.

"Kenapa kakak sebenci itu sama Mama? Padahal kakak begini baik padaku.."

Irza memandangku dengan sedikit tatapan tak enak. Sepertinya ia sadar bahwa kebenciannya terhadap orang yang selama ini membesarkanku membuatku terluka secara tak langsung.

"Karena aku tak bisa memaafkan perilakunya.." ia nampak berhati-hati memilih tata bahasa.

"Dia menikahi Papa demi uang lalu bermain-main dengan pria lain."

Aku tahu saat aku cuma hidup berdua dengan Mila. Beliau sering berganti-ganti pacar yang kesemuanya pria kaya.

Tapi setahuku setelah Mila menikah dengan Djati tak pernah lagi kutahu ada hubungan gelap dengan pria lain. Meskipun kadang ada gosip murahan tentang Mila yang terang-terangan tidak benar.

"Apa itu bukan salah paham? Seperti yang pernah kakak lakukan padaku.." kataku lirih merasa tak enak karena mengorek luka lama.

Irza menghela nafas emosi, "Aku melihatnya sendiri." katanya menekan. "Dia memasuki hotel dengan pria yang tak kukenal padahal statusnya sudah menjadi istri papa."

Laporan Irza membuatku merasa seperti tak percaya dengan pendengaranku. "Masa?!? Apa bukan salah liat??!"

"Mana kutahu." jawabnya emosi.

"Papa begitu sedih ketika ibu kandungku meninggal sehingga ia menduda bertahun-tahun...."

"Saat beliau menggandeng mamamu dengan wajah cerianya adalah satu-satunya hal yang membuatku merestui hubungan mereka.."

"Meskipun aku sudah sering mendengar gosip tak enak tentang mamamu tapi dalam hati kecilku aku berharap sikapnya menjadi lebih santun setelah menikahi papa."

Aku mendengarkan cerita Irza dengan seksama berusaha memahami perasaannya. Sengaja aku tak menginterupsinya agar aku bisa mendapatkan informasi darinya tanpa terjeda.

"Namun.. Beberapa tahun kemudian aku tak sengaja melihat mamamu turun dari taxi lalu memasuki hotel murahan sambil pinggangnya dirangkul oleh pria yang bahkan bukan suaminya." Wajah Irza semakin terlihat emosinya yang meluap saat melanjutkan ceritanya.

"Kamu tak bisa membayangkan betapa kecewanya aku. Betapa aku merasa hancur setiap melihat wajah papa yang tersenyum kepada wanita yang membodohinya di belakangnya."

Irza memandangku dengan mata yang seolah ingin meledak marah sekaligus meraung sedih.

Aku tak bisa berkata apa pun. Dalam hal ini aku memutuskan untuk tak memihak siapa pun meskipun kalau benar cerita Irza barusan, berarti Mila yang diposisi yang bersalah.

Aku beranjak dari tempatku duduk mendekati Irza.

"Mungkin ini bukan hal yang ingin kamu dengar saat ini. Tapi aku minta maaf mewakili mamaku." Kugengam tangannya erat.

".. Aku saat ini cuma berharap suatu saat nanti kita berempat berkumpul lagi dalam suka." mataku memandang sedih ke arah ayah tiriku yang masih terkulai tak bergerak di atas ranjang rumah sakit.

Irza mengalihkan pandangannya dariku ke arah Djati di balik jendela kaca. Pasti saat ini sangat sulit baginya berlama-lama memandangku, anak perempuan dari istri yang tak setia yang dinikahi ayahnya sekaligus adik yang disayanginya.

Tanpa jawaban atas permintaan maafku ia menghela nafas panjang yang berat. Meskipun dia tak berkata apa pun tapi aku tahu isi hatinya. Ia masih belum mau memaafkan Mila tapi tak tega untuk berterus terang di hadapanku.

Terpopuler

Comments

Ree.Pand

Ree.Pand

wuahhhh irza

2021-02-26

1

just.Ryn

just.Ryn

aku dukung handa!!!!

2020-05-13

1

Die-din

Die-din

wah karena g punya roti sobek ya adegan irza diskip td wkwkw

si handanya aww awww ahjushii dengan roti sobek kecelup air

2020-05-11

2

lihat semua
Episodes
1 Prologue
2 Kika 1
3 Kika 2
4 Kika 3
5 Kika 4
6 Kika 5
7 Kika 6
8 Kika 7
9 Kika 8
10 Kika 9
11 Kika 10
12 Kika 11
13 Kika 12
14 Kika 13
15 Kika 14
16 Kika 15
17 Kika 16
18 Kika 17
19 Kika 18
20 Kika 19
21 Kika 20
22 Kika 21
23 Kika 22
24 Kika 23
25 Kika 24
26 Kika 25
27 Kika 26
28 Kika 27
29 Irza 1
30 Kika 28
31 Kika 29
32 Kika 30
33 Kika 31
34 Kika 32
35 Handa 1
36 Johanh 1
37 Kika 33
38 Kika 34
39 Handa 2
40 Handa 3
41 Handa 4
42 Handa 5
43 Handa 6
44 Johanh 2
45 Handa 7
46 Kika 35
47 Irza 2
48 Irza 3
49 Irza 4
50 Irza 5
51 Irza 6
52 Irza 7
53 Irza 8
54 Visual of Characters
55 Irza 9
56 Kika 36
57 Kika 37
58 Handa 8
59 Johanh 3
60 Johanh 4
61 Kika 38
62 Kika 39
63 Kika 40
64 Kika 41
65 Kika 42
66 Kika 43
67 Kika 44
68 Handa 9
69 Kika 45
70 Kika 46
71 Kika 47
72 Kika 48
73 Kika 49
74 Kika 50
75 Irza 10
76 Irza 11
77 Handa 10
78 Handa 11
79 Kika 51
80 Irza 12
81 Handa 12
82 Irza 13
83 Irza 14
84 Kika 52
85 Kika 53
86 Kika 54
87 Kika 55
88 Kika 56
89 Irza 15
90 Johanh 5
91 Johanh 6
92 Johanh 7
93 Johanh 8
94 Visual of Character 2
95 Kika 57
96 Kika 58
97 Irza 16
98 Irza 17
99 Irza 18
100 Johanh 9
101 Kika 59
102 Kika 60
103 Kika 61
104 Kika 62
105 Johanh 10
106 Johanh 11
107 Johanh 12
108 Kika 63
109 Kika 64
110 Kika 65
111 Kika 66
112 Johanh 13
113 Johanh 14
114 Kika 67
115 Irza 19
116 Irza 20
117 Irza 21
118 Irza 22
119 Irza 23
120 Johanh 15
121 Handa 13
122 Irza 24
123 Kika 68
124 Kika 69
125 Johanh 16
126 Kika 70
127 Johanh 17
128 Johanh 18
129 Johanh 19
130 Kika 71
131 Kika 72
132 Irza 25
133 Irza 26
134 Irza 27
135 Irza 28
136 Irza 29
137 Irza 30
138 Irza 31
139 Irza 32
140 Johanh 20
141 Kika 73
142 Kika 74
143 Kika 75
144 VISUAL TIME AGAIN
145 Handa 14
146 Handa 15
147 Episode Gabut
148 Irza 33
149 Julia 1
150 Julia 2
151 Julia 3
152 Irza 34
153 Irza 35
154 Irza 36
155 Julia 4
156 Julia 5
157 Julia 6
158 Julia 7
159 Pengumuman
160 Kika 76
161 Kika 77
162 Kika 78
163 Kika 79
164 Kika 80
165 Became a Lady
166 End of The End
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Prologue
2
Kika 1
3
Kika 2
4
Kika 3
5
Kika 4
6
Kika 5
7
Kika 6
8
Kika 7
9
Kika 8
10
Kika 9
11
Kika 10
12
Kika 11
13
Kika 12
14
Kika 13
15
Kika 14
16
Kika 15
17
Kika 16
18
Kika 17
19
Kika 18
20
Kika 19
21
Kika 20
22
Kika 21
23
Kika 22
24
Kika 23
25
Kika 24
26
Kika 25
27
Kika 26
28
Kika 27
29
Irza 1
30
Kika 28
31
Kika 29
32
Kika 30
33
Kika 31
34
Kika 32
35
Handa 1
36
Johanh 1
37
Kika 33
38
Kika 34
39
Handa 2
40
Handa 3
41
Handa 4
42
Handa 5
43
Handa 6
44
Johanh 2
45
Handa 7
46
Kika 35
47
Irza 2
48
Irza 3
49
Irza 4
50
Irza 5
51
Irza 6
52
Irza 7
53
Irza 8
54
Visual of Characters
55
Irza 9
56
Kika 36
57
Kika 37
58
Handa 8
59
Johanh 3
60
Johanh 4
61
Kika 38
62
Kika 39
63
Kika 40
64
Kika 41
65
Kika 42
66
Kika 43
67
Kika 44
68
Handa 9
69
Kika 45
70
Kika 46
71
Kika 47
72
Kika 48
73
Kika 49
74
Kika 50
75
Irza 10
76
Irza 11
77
Handa 10
78
Handa 11
79
Kika 51
80
Irza 12
81
Handa 12
82
Irza 13
83
Irza 14
84
Kika 52
85
Kika 53
86
Kika 54
87
Kika 55
88
Kika 56
89
Irza 15
90
Johanh 5
91
Johanh 6
92
Johanh 7
93
Johanh 8
94
Visual of Character 2
95
Kika 57
96
Kika 58
97
Irza 16
98
Irza 17
99
Irza 18
100
Johanh 9
101
Kika 59
102
Kika 60
103
Kika 61
104
Kika 62
105
Johanh 10
106
Johanh 11
107
Johanh 12
108
Kika 63
109
Kika 64
110
Kika 65
111
Kika 66
112
Johanh 13
113
Johanh 14
114
Kika 67
115
Irza 19
116
Irza 20
117
Irza 21
118
Irza 22
119
Irza 23
120
Johanh 15
121
Handa 13
122
Irza 24
123
Kika 68
124
Kika 69
125
Johanh 16
126
Kika 70
127
Johanh 17
128
Johanh 18
129
Johanh 19
130
Kika 71
131
Kika 72
132
Irza 25
133
Irza 26
134
Irza 27
135
Irza 28
136
Irza 29
137
Irza 30
138
Irza 31
139
Irza 32
140
Johanh 20
141
Kika 73
142
Kika 74
143
Kika 75
144
VISUAL TIME AGAIN
145
Handa 14
146
Handa 15
147
Episode Gabut
148
Irza 33
149
Julia 1
150
Julia 2
151
Julia 3
152
Irza 34
153
Irza 35
154
Irza 36
155
Julia 4
156
Julia 5
157
Julia 6
158
Julia 7
159
Pengumuman
160
Kika 76
161
Kika 77
162
Kika 78
163
Kika 79
164
Kika 80
165
Became a Lady
166
End of The End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!