"Cassia. Anak Hermawan itu ... lo mau gue apain dia?"
Linggar masih tidak bicara.
"Bunuh? Siksa? Atau semacam ... balasan yang sama?" Gari menghela napas, menatap Linggar yang tanpa ekspresi. "Sekalipun bukan Hermawan yang perkosa cewek lo. Dia juga termasuk dalang. Nggak memungkiri dia pernah punya niat macam-macam ke cewek lo, kan?"
"Sialan," gumam Linggar.
"Linggar Adiwangsa ... perjanjian yang lo buat sama organisasi gue ini ngabisin uang. Gue tahu keluarga lo termasuk elite global juga. Tapi kenapa ... cuma buat ngurusin orang semacam Hermawan yang kastanya di bawah keluarga lo gini ... lo jauh-jauh datang ke tempat kotor kita?" sambung Gari.
Pandangan Linggar langsung ke mata Gari. "Menurut lo? Gunanya organisasi lo ada itu buat apa? Kalau nggak buat bantuin masalah yang nggak bisa di selesain secara hukum?"
"Hmm. Gue setuju." Gari tersenyum miring. "Kalau masalah gini. Kadang-kadang, hukum jadinya samar. Bahkan penjara pun kayaknya masih kurang jera buat pelaku. Gue paham perasaan lo."
Linggar mengusap wajahnya.
"Jadi, lo mau gue gimana? Sesuai kontrak. Lo punya kebebasan suruh-suruh, karena lo udah bayar mahal. Beberapa bawahan gue juga siap bantu," sambung Gari.
Mata Linggar mengkilap. Kemudian senyum miring terlihat. "Cassia Upasama. Anak Hermawan itu ... teror dia."
"Istri mudanya, juga?"
Linggar menatap datar. "Menurut lo istri muda dia penting? Dia jadiin cewek itu istri palingan cuma buat nges*ex aja."
Gari melongo sejenak. "Gue nggak nyangka. Gue pikir lo lemah pekara cewek."
"Lemah?"
"Iya. Semacam nggak tega?"
Linggar terkekeh. "Nggak juga. Salah dia sendiri harus jadi anaknya Hermawan." Gue nggak peduli kalau Abhimata tahu. Cewek itu bukan bagian dari Adiwangsa. Bukan istri Abhimata juga. Kalau sampai dia celaka, peduli apa gue? Abhimata cuma bisa ngejar-ngejar cewek nggak jelas itu, sambungnya dalam hati.
Vincent
Seminggu lebih nih. Lo nggak ada niatan ngumpul? Kebetulan nanti malam ada Abhimata, Abhimana sama Aldo. Ke sini lah kali-kali.
Linggar menatap datar pesan singkat itu. Jika harus berkumpul di klub malam Vincent, Linggar akan langsung menolak detik itu juga. Bukan karena Shanum, tetapi karena kesadaran diri saja. Bahkan niat hatinya ke karaoke pun berakhir mabuk hanya karena satu tempat dengan klub malam.
Betapa sialnya Linggar saat itu.
Vincent
Biasa di klub gue. Janji gue nggak bakal kasih lo buat mabuk. Kita cuma ngumpul aja. Nggak bakalan ada cewek juga. Gue tahu lo risih.
Linggar mengetik.
^^^Linggar^^^
^^^Gue sibuk. Minggu depan mungkin bisa.^^^
Vincent
Anjirlah. Selama jadi general manager lo sibuk banget. Yaudah lo janji minggu depan, awas aja lo nggak mampir.
[read]
"Linggar!"
Suara yang cukup nyaring itu dari Shanum. Entah mengapa terdengar bahagia dan ceria, istrinya itu memegang gawai dan mendekatinya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Linggar.
Shanum duduk tepat di sebelahnya, dengan gawai yang berada di pangkuan. "Sekolah aku kan ... udah mulai di bangun. Aku berencana i-tu ... ajak temenku jadi guru di sekolah lukis aku."
"Itu ide bagus, Sayang."
Shanum mengangkat gawainya, dan menunjukkan sesuatu pada Linggar. "Ini kandidatnya. Coba kamu lihat, kira-kira cocok nggak mereka?"
Ada tiga perempuan. Nama pertama Linggar tidak mengenal, mungkin teman istrinya di Singapura. Nama kedua pun juga. Namun nama ketiga membuat Linggar membeku, karena ia tahu nama dari perempuan ini.
"Kira-kira siapa, Linggar?" ulang Shanum.
Linggar tersadar dan menatap istrinya. "Sebentar, Sayang ... Ini ... Cassia? Cassia Upasama?"
Shanum mengangguk-angguk.
Ah iya. Sampai detik ini mungkin Shanum nggak pernah mau tahu tentang kasus pemerkosaan yang menimpah dia. Pasti dia pun juga nggak tahu kalau Hermawan terlibat, batin Linggar.
"Cassia itu ... temen aku." Shanum menatap polos. "Aku nggak pernah cerita ya ke kamu kalau aku temenan sama Cassia?"
Linggar menggeleng.
"Berarti aku lupa," sambung Shanum. "Dia baik. Aku kenal dia karena Om Sadajiwa sering bawa Cassia ke rumah waktu meeting sama Kak Sambara."
Ngapain juga bawa Cassia segala. Anak Om Sadajiwa kan Evita, batin Linggar kesal. "Oh. Terserah kamu, Sayang."
"Kok ... terserah? Kamu ..." Shanum menatap Linggar takut. "Nggak suka ya aku ajak---"
"Kapan aku bilang nggak suka, Sayang? Aku nggak salah bilang terserah kamu, kan? Lagi pula yang tahu terampil enggaknya mereka ya kamu, bukan aku," jelas Linggar.
"Iya juga ya," gumam Shanum. Kemudian ia tersenyum tipis. "Siapapun yang nanti aku pilih kamu bakalan setuju, kan?"
Linggar mengangguk.
"Sayang, aku boleh tanya?" ucap Linggar beberapa detik kemudian.
"Boleh."
"Sekarang kamu masih berhubungan sama Cassia?"
Shanum mengangguk. "Kadang-kadang, sih. Dulu waktu aku masih di Singapura dia sempat nge-DM."
"DM gimana?"
Shanum berpikir sejenak. "Seingatku dia minta maaf."
"Padahal aku nggak ngerasa dia buat salah apa-apa. Agak aneh, tapi yaudah aku balas aja aku maafin dia. Bahkan dia minta ketemu, tapi aku ... ya gitu, aku masih belum bisa ketemu sama temen-temen sekolah," sambung Shanum.
Andai kamu tahu alasan dia minta maaf. Apa kamu bakalan tetep berteman sama dia, Shanum? batin Linggar yang memandang lurus pada istrinya.
[.]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Santidew
sakit bgt loh klau sampai shanum tau maksud cassia minta maay
2022-09-06
1
Bintang kejora
Ternyata Shanum tdk tau mksd dari permintaan maaf Cassia. Andai dia tau keterlibatan ayahnya Shanum atas apa yg menimpa dirinya, msh bskah Shanum berteman baik dg Cassia??
2022-06-18
2