17: Gistara Dan Gumira

"Andai Linggar menikah dengan keturunan Jayantaka. Mungkin sekarang saya sudah menimang cucu," ujar Mama Gistara.

Shanum menatap Mama Gistara dari samping. Mengapa lagi-lagi beliau seperti ini? Haruskah ia diam saja? "Ma," ujarnya pelan memulai pembicaraan.

Mama Gistara tidak menatap atau menjawab.

"Shanum bakal terima bulan madu yang di tawarkan Om Tama dan Tante Cecilia, Ma," lanjut Shanum. Ia menatapi mertuanya dari samping. "Kalau Shanum ... sudah bisa ber-hubungan dengan Linggar."

Bibirnya keluh untuk melanjutkan ucapan. "Shanum boleh minta ... Mama jangan menuntut Shanum untuk memiliki anak?"

Mama Gistara menatapnya datar.

"Karena anak itu kehendak Allah, Ma. Kalau Shanum sudah berusaha, tapi Allah belum berkehendak. Apa Mama masih terus menuntut?" lanjut Shanum.

Mama Gistara membuang muka. "Kamu jangan asal bicara saja, Shanum. Buktikan ke Mama kalau kamu memang mau melayani anak Mama."

"Linggar itu laki-laki. Dia butuh kepuasan. Kalau kamu nggak mau dia pergi atau parahnya selingkuh ... kamu harus bisa memuaskan dia," lanjut Mama Gistara.

Shanum hanya diam menatap.

"Mama akan berhenti ikut campur urusan rumah tanggamu dengan Linggar. Jika kamu sudah melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri." Mama Gistara berkedip beberapa kali. "Soal anak? Mama janji nggak akan menuntut. Suatu hal penting bagi Mama adalah kebahagiaan Linggar."

"Buat apa dia menikah kamu, kalau cuma di jadikan patung? Kamu bilang mencintai Linggar. Tapi kamu memberi batasan antara dirimu dan dia. Kamu seakan-akan nggak mengizinkan anak Mama untuk menyentuh satu jengkal saja tubuhmu. Padahal kamu tahu, itu hak dia. Kamu sebagai istri pun nggak bisa menolak dan melarang," lanjut Mama Gistara.

Kali ini ... aku setuju dengan Mama, batin Shanum.

"Shanum!"

Suara itu milik Kak Faleesha. Mama Gistara langsung pergi saat Kak Faleesha datang tersenyum lebar menghampirinya.

"Iya, Kak."

Kak Faleesha mengandeng lengannya. "Di mana Linggar? Dia nggak dateng? Kok kamu berdua aja sama Mama tadi?"

"I-itu. Linggar masih ke toilet, Kak," jawab Shanum.

"Ooh." Kak Faleesha mengibas rambut sebahu miliknya kebelakang lalu menatap Shanum lagi. "Kamu makin cantik, ih. Duh, Linggar nggak salah pilih."

Shanum hanya tersenyum tipis.

"Udah makan camilan?"

"Belum sih, Kak."

Kak Faleesha menarik Shanum untuk mendekat pada meja-meja yang tersusun kue. "Ayo kita makan. Kali ini Kakak nggak mau diet-diet. Khusus malam ini mau makan sepuasnya."

Keluar dari toilet Linggar berencana ingin menghampiri Shanum langsung. Namun saat melihat istrinya bersama Kak Faleesha, ia menjadi lega. Dan terurung sudah niatnya pula saat melihat sang Ayah --- Gumira Adiwangsa, berada di meja kiri dekat pintu, telah usai berbincang dengan Om Irsyad.

"Pa!"

Gumira sadar langsung menghampiri anaknya juga.

"Linggar, gimana kabarmu, Nak?"

Linggar telah selesai mengecup singkat punggung tangan Ayahnya. "Baik, Pa."

"Sini menepi dulu. Papa mau bicara," ujar Gumira yang meminta anaknya menepi pada meja yang terhindar dari orang-orang. "Istrimu gimana, Nak?"

"Shanum?" Linggar melirik ke arah lain. "Baik. Dia alhamdulillah baik-baik aja, Pa."

"Pernikahan kalian?"

Linggar menatap Ayahnya, lagi. "Seperti yang Papa lihat. Pernikahan ini juga baik-baik aja."

Gumira terdiam menatap anaknya. Baik-baik saja yang Linggar katakan ini berbeda, ia tidak terlalu percaya. Dan lagi pula Linggar sulit membuka diri padanya. "Pernikahanmu ini sudah berapa bulan?"

"Lima bulan lebih tujuh hari, Pa," jawab Linggar.

Gumira berdeham sejenak. "Sudah ... making love?"

Linggar terdiam.

"Kamu nggak mau jawab Papa? Karena malu membicarakan ini dengan Papa? Atau kenapa, Linggar?"

Linggar menggeleng pelan. "Papa sudah tahu jawabanku."

Gumira menghela napas, menatap ke kiri tepat di mana menantu dan anak gadisnya berdiri dan berbincang. "Bertahun-tahun telah berlalu, Linggar. Tapi trauma berat memang nggak semudah itu buat sembuh. Menurut pandangan Papa sebagai seorang Dokter, Shanum memang belum sembuh tapi dia sudah membaik. Kamu sendiri bisa menilai, hal-hal apa saja yang sedikit demi sedikit kembali pada diri Shanum yang dulu."

"Mungkin contoh kecilnya. Dia sudah bisa bergaul dengan Faleesha. Lihat, Nak." Gumira meminta anaknya mengikuti arah pandang pada kedua wanita muda itu. "Terakhir kali Papa bertemu dia. Papa melihat dia sulit membuka membicaraan baru dengan Kakakmu itu. Tapi sekarang coba kamu lihat ... dia bahkan tersenyum dan berbicara banyak dengan Faleesha."

Aku baru sadar ... dia memang senyum. Tapi ... bukan senyum tipis, dia senyum lebar seakan-akan dia nyaman bicara sama Kak Faleesha, batin Linggar.

"Dan contoh lain. Sepertinya hanya kamu yang tahu," lanjut Gumira.

Linggar mengangguk pelan. "Shanum memang membaik, Pa. Dia kadang-kadang ... nggak masalah kalau aku reflek sentuh dia."

"Sentuh?"

"Iya." Linggar menatap ke arah. "Tapi nggak sampai lebih, Pa."

"Papa paham." Gumira menyadarkan tubuhnya pada dinding. "Lalu kamu ... dalam lima bulan ini bagaimana? Bisa menahan?"

"Menurut Papa sebagai seorang Dokter gimana? Kalau aku jawab bisa. Papa nggak akan percaya, kan?" ujar Linggar.

Gumira mengangguk kecil. "Iya. Papa nggak akan percaya. Karena pasti ada saat-saatnya kamu merasa ingin, kan? Jangankan yang sudah menikah. Yang belum saja kadang butuh memuaskan syahwat."

"Pa, tapi kalau kasusku?" tanya Linggar.

"Kamu masih butuh penjelasan?" Gumira menatap. "Kalau kasusmu ... Papa cuma bisa menilai sebagai orang normal saja. Papa bukan ustad, Nak. Papa ini Dokter. Dan kalau kamu harus memuaskan diri sendiri dengan cara yang ... seperti itu. Bahkan menjadikan Shanum objek dari kepuasanmu ... Papa rasa itu wajar saja."

"Karena kembali lagi, Shanum itu istrimu, Nak. Segalanya tentang dia, semua yang berada di dia adalah hakmu. Itu sedikit pandangan Papa sebagai orang normal. Selebihnya, kalau kamu membutuhkan pandangan dari segi religi, kamu bisa ke pesantren Kiai Bashir," lanjut Gumira.

Linggar mengangguk. "Iya. Makasih, Pa."

Gumira menepuk punggung anaknya. "Kalau ada apa-apa kabari, ya, Nak?"

"Iya, Pa."

"Sudah sana ke Shanum. Acaranya juga udah mau selesai," ujar Gumira.

Terpopuler

Comments

Laksmi Amik

Laksmi Amik

untung bapaknya bijak banget

2024-01-13

0

Santidew

Santidew

yaampun papa Gumira bijak bgt yaampun

2022-09-06

3

lihat semua
Episodes
1 Satu : Pernikahan Tersembunyi
2 Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3 3 : Anak Dan Suami.
4 4 : Hak Dan Kewajiban
5 5 : Ucapan Sambara.
6 6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7 7 : Setara
8 8 : Ingatan Linggar.
9 9 : Bukan Salah Linggar.
10 10 : Kesengajaan.
11 11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12 12 : Bekas Orang Lain.
13 13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14 14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15 15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16 16 :
17 17: Gistara Dan Gumira
18 18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19 19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20 20 : Cassia Upasama.
21 21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22 21 (2) : Pengakuan Shanum.
23 22 :
24 23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25 24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26 25 : Pujian Linggar.
27 26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28 27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29 28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30 29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31 30 : Linggar Murka Pada Lingga
32 31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33 32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34 33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35 34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36 35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37 36 : Sentuhan.
38 37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39 Garis Keturunan Adiwangsa
40 38 : Bersiap Untuk Berangkat
41 39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42 40 : Ibu Kandung Shanum.
43 41 : Ulah Shanum.
44 42 : Tegang.
45 43 : I Would Love You
46 44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47 45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48 46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49 47 : Bulan Madu (1)
50 48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51 49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52 50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53 51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54 52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55 53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56 54 : Keluarga Citaprasada.
57 55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58 56 : Di Kamar Hotel Saja.
59 57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60 58 : Salahku Bukan Salahmu.
61 59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62 60 : Tiba-tiba Pulang.
63 61 : Tiba Di Surabaya.
64 62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65 63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66 64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67 65 : -
68 66 :
69 67 : Surat Dari (M)
70 68 : Jatuh Berdua Lagi.
71 69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72 70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73 71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74 72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75 73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76 74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77 75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78 76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79 76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80 77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81 78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82 79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83 80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84 81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85 82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86 83 : -
87 Sedikit Pemberitahuan.
88 84 : Ke Klinik.
89 85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90 86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91 87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92 88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93 89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94 90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95 91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96 92 : Pengakuan Mesya.
97 93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98 94 : Ketidakjelasan Shanum.
99 95
100 96
101 97
102 98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103 99
104 100 [Pergi]
105 101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106 102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107 103 [Beban Orang-orang]
108 104
109 105
110 106
111 107 [Mengandung?]
112 108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113 108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114 109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115 109 (2)
116 110 (1)
117 110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118 111 (1)
119 111 (2)
120 112 (1)
121 112 (2) Hidden Twin.
122 113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123 113 (2) : POV Shanum.
124 114 (1)
125 114 (2)
126 Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Satu : Pernikahan Tersembunyi
2
Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3
3 : Anak Dan Suami.
4
4 : Hak Dan Kewajiban
5
5 : Ucapan Sambara.
6
6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7
7 : Setara
8
8 : Ingatan Linggar.
9
9 : Bukan Salah Linggar.
10
10 : Kesengajaan.
11
11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12
12 : Bekas Orang Lain.
13
13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14
14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15
15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16
16 :
17
17: Gistara Dan Gumira
18
18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19
19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20
20 : Cassia Upasama.
21
21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22
21 (2) : Pengakuan Shanum.
23
22 :
24
23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25
24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26
25 : Pujian Linggar.
27
26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28
27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29
28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30
29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31
30 : Linggar Murka Pada Lingga
32
31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33
32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34
33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35
34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36
35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37
36 : Sentuhan.
38
37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39
Garis Keturunan Adiwangsa
40
38 : Bersiap Untuk Berangkat
41
39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42
40 : Ibu Kandung Shanum.
43
41 : Ulah Shanum.
44
42 : Tegang.
45
43 : I Would Love You
46
44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47
45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48
46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49
47 : Bulan Madu (1)
50
48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51
49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52
50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53
51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54
52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55
53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56
54 : Keluarga Citaprasada.
57
55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58
56 : Di Kamar Hotel Saja.
59
57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60
58 : Salahku Bukan Salahmu.
61
59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62
60 : Tiba-tiba Pulang.
63
61 : Tiba Di Surabaya.
64
62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65
63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66
64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67
65 : -
68
66 :
69
67 : Surat Dari (M)
70
68 : Jatuh Berdua Lagi.
71
69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72
70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73
71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74
72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75
73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76
74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77
75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78
76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79
76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80
77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81
78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82
79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83
80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84
81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85
82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86
83 : -
87
Sedikit Pemberitahuan.
88
84 : Ke Klinik.
89
85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90
86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91
87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92
88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93
89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94
90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95
91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96
92 : Pengakuan Mesya.
97
93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98
94 : Ketidakjelasan Shanum.
99
95
100
96
101
97
102
98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103
99
104
100 [Pergi]
105
101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106
102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107
103 [Beban Orang-orang]
108
104
109
105
110
106
111
107 [Mengandung?]
112
108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113
108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114
109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115
109 (2)
116
110 (1)
117
110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118
111 (1)
119
111 (2)
120
112 (1)
121
112 (2) Hidden Twin.
122
113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123
113 (2) : POV Shanum.
124
114 (1)
125
114 (2)
126
Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!