"Andai Linggar menikah dengan keturunan Jayantaka. Mungkin sekarang saya sudah menimang cucu," ujar Mama Gistara.
Shanum menatap Mama Gistara dari samping. Mengapa lagi-lagi beliau seperti ini? Haruskah ia diam saja? "Ma," ujarnya pelan memulai pembicaraan.
Mama Gistara tidak menatap atau menjawab.
"Shanum bakal terima bulan madu yang di tawarkan Om Tama dan Tante Cecilia, Ma," lanjut Shanum. Ia menatapi mertuanya dari samping. "Kalau Shanum ... sudah bisa ber-hubungan dengan Linggar."
Bibirnya keluh untuk melanjutkan ucapan. "Shanum boleh minta ... Mama jangan menuntut Shanum untuk memiliki anak?"
Mama Gistara menatapnya datar.
"Karena anak itu kehendak Allah, Ma. Kalau Shanum sudah berusaha, tapi Allah belum berkehendak. Apa Mama masih terus menuntut?" lanjut Shanum.
Mama Gistara membuang muka. "Kamu jangan asal bicara saja, Shanum. Buktikan ke Mama kalau kamu memang mau melayani anak Mama."
"Linggar itu laki-laki. Dia butuh kepuasan. Kalau kamu nggak mau dia pergi atau parahnya selingkuh ... kamu harus bisa memuaskan dia," lanjut Mama Gistara.
Shanum hanya diam menatap.
"Mama akan berhenti ikut campur urusan rumah tanggamu dengan Linggar. Jika kamu sudah melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri." Mama Gistara berkedip beberapa kali. "Soal anak? Mama janji nggak akan menuntut. Suatu hal penting bagi Mama adalah kebahagiaan Linggar."
"Buat apa dia menikah kamu, kalau cuma di jadikan patung? Kamu bilang mencintai Linggar. Tapi kamu memberi batasan antara dirimu dan dia. Kamu seakan-akan nggak mengizinkan anak Mama untuk menyentuh satu jengkal saja tubuhmu. Padahal kamu tahu, itu hak dia. Kamu sebagai istri pun nggak bisa menolak dan melarang," lanjut Mama Gistara.
Kali ini ... aku setuju dengan Mama, batin Shanum.
"Shanum!"
Suara itu milik Kak Faleesha. Mama Gistara langsung pergi saat Kak Faleesha datang tersenyum lebar menghampirinya.
"Iya, Kak."
Kak Faleesha mengandeng lengannya. "Di mana Linggar? Dia nggak dateng? Kok kamu berdua aja sama Mama tadi?"
"I-itu. Linggar masih ke toilet, Kak," jawab Shanum.
"Ooh." Kak Faleesha mengibas rambut sebahu miliknya kebelakang lalu menatap Shanum lagi. "Kamu makin cantik, ih. Duh, Linggar nggak salah pilih."
Shanum hanya tersenyum tipis.
"Udah makan camilan?"
"Belum sih, Kak."
Kak Faleesha menarik Shanum untuk mendekat pada meja-meja yang tersusun kue. "Ayo kita makan. Kali ini Kakak nggak mau diet-diet. Khusus malam ini mau makan sepuasnya."
Keluar dari toilet Linggar berencana ingin menghampiri Shanum langsung. Namun saat melihat istrinya bersama Kak Faleesha, ia menjadi lega. Dan terurung sudah niatnya pula saat melihat sang Ayah --- Gumira Adiwangsa, berada di meja kiri dekat pintu, telah usai berbincang dengan Om Irsyad.
"Pa!"
Gumira sadar langsung menghampiri anaknya juga.
"Linggar, gimana kabarmu, Nak?"
Linggar telah selesai mengecup singkat punggung tangan Ayahnya. "Baik, Pa."
"Sini menepi dulu. Papa mau bicara," ujar Gumira yang meminta anaknya menepi pada meja yang terhindar dari orang-orang. "Istrimu gimana, Nak?"
"Shanum?" Linggar melirik ke arah lain. "Baik. Dia alhamdulillah baik-baik aja, Pa."
"Pernikahan kalian?"
Linggar menatap Ayahnya, lagi. "Seperti yang Papa lihat. Pernikahan ini juga baik-baik aja."
Gumira terdiam menatap anaknya. Baik-baik saja yang Linggar katakan ini berbeda, ia tidak terlalu percaya. Dan lagi pula Linggar sulit membuka diri padanya. "Pernikahanmu ini sudah berapa bulan?"
"Lima bulan lebih tujuh hari, Pa," jawab Linggar.
Gumira berdeham sejenak. "Sudah ... making love?"
Linggar terdiam.
"Kamu nggak mau jawab Papa? Karena malu membicarakan ini dengan Papa? Atau kenapa, Linggar?"
Linggar menggeleng pelan. "Papa sudah tahu jawabanku."
Gumira menghela napas, menatap ke kiri tepat di mana menantu dan anak gadisnya berdiri dan berbincang. "Bertahun-tahun telah berlalu, Linggar. Tapi trauma berat memang nggak semudah itu buat sembuh. Menurut pandangan Papa sebagai seorang Dokter, Shanum memang belum sembuh tapi dia sudah membaik. Kamu sendiri bisa menilai, hal-hal apa saja yang sedikit demi sedikit kembali pada diri Shanum yang dulu."
"Mungkin contoh kecilnya. Dia sudah bisa bergaul dengan Faleesha. Lihat, Nak." Gumira meminta anaknya mengikuti arah pandang pada kedua wanita muda itu. "Terakhir kali Papa bertemu dia. Papa melihat dia sulit membuka membicaraan baru dengan Kakakmu itu. Tapi sekarang coba kamu lihat ... dia bahkan tersenyum dan berbicara banyak dengan Faleesha."
Aku baru sadar ... dia memang senyum. Tapi ... bukan senyum tipis, dia senyum lebar seakan-akan dia nyaman bicara sama Kak Faleesha, batin Linggar.
"Dan contoh lain. Sepertinya hanya kamu yang tahu," lanjut Gumira.
Linggar mengangguk pelan. "Shanum memang membaik, Pa. Dia kadang-kadang ... nggak masalah kalau aku reflek sentuh dia."
"Sentuh?"
"Iya." Linggar menatap ke arah. "Tapi nggak sampai lebih, Pa."
"Papa paham." Gumira menyadarkan tubuhnya pada dinding. "Lalu kamu ... dalam lima bulan ini bagaimana? Bisa menahan?"
"Menurut Papa sebagai seorang Dokter gimana? Kalau aku jawab bisa. Papa nggak akan percaya, kan?" ujar Linggar.
Gumira mengangguk kecil. "Iya. Papa nggak akan percaya. Karena pasti ada saat-saatnya kamu merasa ingin, kan? Jangankan yang sudah menikah. Yang belum saja kadang butuh memuaskan syahwat."
"Pa, tapi kalau kasusku?" tanya Linggar.
"Kamu masih butuh penjelasan?" Gumira menatap. "Kalau kasusmu ... Papa cuma bisa menilai sebagai orang normal saja. Papa bukan ustad, Nak. Papa ini Dokter. Dan kalau kamu harus memuaskan diri sendiri dengan cara yang ... seperti itu. Bahkan menjadikan Shanum objek dari kepuasanmu ... Papa rasa itu wajar saja."
"Karena kembali lagi, Shanum itu istrimu, Nak. Segalanya tentang dia, semua yang berada di dia adalah hakmu. Itu sedikit pandangan Papa sebagai orang normal. Selebihnya, kalau kamu membutuhkan pandangan dari segi religi, kamu bisa ke pesantren Kiai Bashir," lanjut Gumira.
Linggar mengangguk. "Iya. Makasih, Pa."
Gumira menepuk punggung anaknya. "Kalau ada apa-apa kabari, ya, Nak?"
"Iya, Pa."
"Sudah sana ke Shanum. Acaranya juga udah mau selesai," ujar Gumira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Laksmi Amik
untung bapaknya bijak banget
2024-01-13
0
Santidew
yaampun papa Gumira bijak bgt yaampun
2022-09-06
3