Linggar tidak menyangka Shanum memasak. Lima bulan dari sekarang ia lihat-lihat Shanum mulai bisa menyesuaikan diri. Atau mungkin, semua ini karena ucapan Mamanya waktu itu?
Ah, tidak mungkin.
Linggar menggeleng pelan. Jika memang Shanum sedang berusaha, sebagai seorang suami ia harus menghargai. Lingga salah, ia tidak pernah mendukung Shanum untuk tidak sembuh. Justru dengan memenuhi permintaan Shanum ia mendukung untuk kesembuhan istrinya. Linggar selalu yakin, Shanum akan perlahan-lahan membaik. Istrinya itu tidak akan menderita lebih lama. Kehidupan pernikahannya pun akan segera normal, bukan tersembunyi seperti ini.
"Linggar, makanan buatanku nggak enak, ya?" tanya Shanum tiba-tiba.
Linggar tersenyum tipis dengan tangan yang siap mengangkat sendok lagi. "Enak, Sayang. Aku suka."
"Alhamdulillah." Shanum juga melahap makanannya. Sesekali ia melirik Linggar lagi. "Kerja kamu gimana?"
"Lancar, Sayang."
"Kamu nggak lupa sholat lima waktu, kan?"
Linggar meletakkan sendok, dan menatap istrinya. "Enggak. Aku selalu inget. Kenapa?"
"Nggak pa-pa." Shanum bingung. Ia harus berbicara mengenai apa lagi? Bagi Linggar pasti pernikahan ini sangat membosankan. Karena hanya bertemu, berbicara seperlunya, lalu tidur. Seperti itu saja, tidak ada yang lain. "Biasanya, kapan kamu libur?"
"Biasanya aku ambil tanggal libur dulu, Sayang. Nggak bisa libur seenaknya aja," jawab Linggar.
"Oh ... gitu." Shanum menjeda. "Berarti kamu udah ambil tanggal libur buat anterin aku lihat lahan sekolah, ya?"
"Iya."
"Itu tanggal berapa kalau aku boleh tahu?"
"Delapan belas." Linggar telah melahap habis makanannya. Kemudian ia meneguk segelas air dan bertanya, "Memangnya kenapa, Sayang?"
"Nggak pa-pa." Kenapa sih? Lagi-lagi kalau Linggar tanya alasannya aku selalu bilang nggak pa-pa nggak pa-pa terus? batin Shanum yang kesal terhadap dirinya sendiri.
Linggar berdiri. "Besok aku berangkat agak siang. Mungkin sekitar jam dua belas."
Shanum menatap Linggar.
"Kamu mau sholat zuhur berjamaah?"
Mata Shanum melebar. "Sama ... kamu?"
"Iya. Aku imamin. Tapi kalau kamu nggak mau nggak pa-pa, Sayang." Linggar berbalik berjalan ke wastafel. Kebiasaan suaminya sesudah makan adalah mencuci bersih piring dan gelas kotornya. "Nanti yang kotor bawa sini. Sekalian aku cuciin."
Aku mau. Tapi ... enggak, Shanum. Kenapa harus ada tapi sih?! Linggar itu suami kamu! batin Shanum yang meyakini diri. "Iya. Aku ... mau."
📍 Kediaman Citaprasada.
Sambara selalu mematikan cctv tersembunyi di kamar pengantin Shanum dan Linggar. Meskipun kesepakatan dulunya bersama Linggar adalah seluruh penjuru ruangan, dan terkecuali kamar mandi. Sambara tetap berpura-pura setuju. Karena sebagaimana pun ia tetap harus menghargai adiknya. Lalu, jika sewaktu-waktu Linggar datang dan mengakui telah menyentuh Shanum, Sambara akan berkata jujur.
Pernikahan ini adalah pilihan adiknya. Tetapi dirinya masih tidak sepenuhnya percaya bahwa Linggar adalah lelaki yang tepat. Sekalipun keturunan Adiwangsa itu telah bertahan hampir lima bulan dengan pernikahan ini, tanpa adanya hubungan intim. Tidak memungkiri pula lelaki itu bisa menyewa wanita penghibur di luar sana untuk memuaskan diri. Siapa yang bisa bertahan tanpa menyentuh wanita yang bahkan telah berstatus sebagai istrinya?
Sambara ingin tahu. Linggar akan bertahan sejauh mana?
"Arista, apa menurutmu Shanum benar-benar mencintai Linggar?"
Arista yang duduk berhadap-hadapan dengan suaminya menjawab, "Kalau menurut kamu cinta dalam pernikahan hanya bisa di ukur dari bersedia tidaknya Shanum berhubungan intim. Mungkin kamu akan menyimpulkan bahwa Shanum sama sekali tidak mencintai Linggar. Tapi kalau menilai dari segi kehidupan bersama tanpa adanya keinginan lain, kamu bisa menyimpulkan bahwa Shanum mencintai Linggar."
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"
Arista menunduk sejenak dan tersenyum tipis. "Aku hanya berpikir, selayaknya wanita yang ingin dicintai saja, Sam."
Sambara terdiam.
"Shanum pasti juga berpikir seperti itu." Arista menjeda. "Karena tidak sedikit wanita merasa takut diperlakukan rendah hanya karena cinta yang dia miliki untuk suaminya."
"Justru menurutku, Arista. Cara menyimpulkan wanita itu mencintai dan ikhlas tidaknya menikah denganku adalah melakukan hubungan intim bersama." Sambara menatap istrinya. "Karena selain itu adalah kewajiban istri. Itu juga hakku sebagai suami."
"Bukankah ... wanita cenderung ikhlas melakukan sesuatu untuk orang yang dicintainya? Bahkan anak-anak remaja jaman sekarang yang belum berstatus menikah pun suka rela menyerahkan diri untuk kekasihnya," lanjut Sambara.
Arista terdiam, mencerna apa yang dikatakan suaminya.
"Lalu sekarang kamu memintaku menilai dari segi pernikahan? Yang jelas-jelas apapun yang dilakukan bersama berujung pada pahala?" Sambara melihat istrinya mengerut kening. "Kamu perlu tahu, Arsita. Bahwa keintiman dan cinta adalah sesuatu yang harus setara dalam pernikahan. Kedua hal itu harus seimbang untuk membangun keharmonisan rumah tangga. Karena bagi laki-laki kepuasan dirinya adalah yang utama."
"Apa yang aku bilang ini benar. Karena kami sebagai laki-laki memang kecenderungan egois. Bahkan sampai melupakan kepuasan diri seorang istri," lanjut Sambara.
Arista mengangguk-angguk. "Jadi begitu cara laki-laki berpikir?"
"Kebanyakan dari kami memang berpikir seperti ini, Arista," ujar Sambara.
"Lalu menurutmu Linggar juga laki-laki yang berpikir seperti itu?" tanya Arista.
"Iya." Sambara memutuskan kontak matanya dengan Arsita. "Aku akan menunggu sampai di mana dia bisa bertahan hidup dengan pernikahan yang seperti ini."
.
Note: Arsita guru seni di Upasama High School dulunya. Yang udah baca WIYATI pasti tahu. Cerita ini sama WIYATI itu fokus ke Shanum sama Linggar. Dan pastinya ada tokoh-tokoh penting. Kalau tiba-tiba Bu Arista nikah sama Sambara jangan kaget, ya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
KUNCORO'S Days
justru aku dulu pengin Sambara dan Arista menikah. Tapi kaget juga tau2 mereka udah nikah, kok ga kasih undangan...😀😀
2022-09-27
1
Yuyun ImroatulWahdah
cie Bua Arista jadi bininya Sam, setuju banget aku
2022-07-23
4
Bintang kejora
Sdh ku duga bhwa Bu Arista, guru Shanum bakal menikah dg kakaknya, Sambara.
Krn di keluarga Shanum tdk ada perempuan, maka mrk membutuhkan Bu Arista dlm proses pengobatan Shanum dr trauma.
2022-05-25
3