📍 Kediaman Gumira Adiwangsa.
Saat datang bersama Shanum. Linggar tidak melihat batang hidung sang Mama sama sekali. Mungkin hanya ada beberapa pelayan, dan Lingga serta Kak Faleesha. Sedangkan Ayahnya, sepertinya belum pulang dari Adiwangsa Hospital.
"Shanum! Sini sama aku," ujar Kak Faleesha.
Ekor mata Linggar tidak menangkap sama sekali pergerakan sang istri. Hingga mau tidak mau Linggar menengok dengan tersenyum tipis ia berujar, "Kamu mau duduk sama Kak Faleesha? Kalau kamu nggak mau, aku bakal kasih alasan ke Kakak."
"A-aku malu."
"Malu kenapa?"
"Aku takut nggak bisa nyambung di ajak bicara sama ... Kak Fale," jawab Shanum jujur.
Linggar beralih menatap sang Kakak. "Kak!"
"Apa?"
"Mau tutorial kerudung baru nggak yang dipakai sama Shanum gini? Kakak kan mau kondangan."
Shanum jujur terkejut. Sedangkan Netra Kak Faleesha berbinar-binar. "Mau-mau! Ayo ke kamar Kakak, yuk Shanum!" Kak Faleesha sudah berdiri dan mendekat. "Gila sih. Kakak kan ada temen keturunan arab gitu mau nikah. Lah sedangkan ... Kakak ini nggak bisa pakai kerudung yang bener-bener pas nempel ke rambut gitu. Katanya Kakak di suruh beli apa itu ... liliput, ya?"
"Bu-kan, Kak. Ciput."
Senyum Faleesha kian lebar, membuat Shanum merasa nyaman. "Ya itu maksudnya! Kakak pinjem punyamu boleh nggak?"
"Boleh, Kak," cicit Shanum.
Linggar tiba-tiba menyahut, "Aku tinggal dulu ke Mama, ya?"
"Iya."
Linggar membiarkan Shanum bersama Faleesha. Segala kepercayaan sudah ia berikan penuh pada Kakaknya, bahwa Kakaknya tidak akan pernah menyakiti Shanum dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan Mamanya.
Seperti permintaan Shanum juga. Ia menaiki anak tangga satu persatu untuk menghampiri dapur khusus di mana Mama Gistara membuang stress. Linggar telah siap menghadapi sang Mama. Ia ke mari untuk meminta maaf, bukan untuk mengajak berdebat lagi.
"Mama," ucap Linggar saat melihat Mama Gistara duduk dengan memegangi dahinya.
"Mau apa kamu ke rumah Mama?" Mama Gistara mengibas tangannya. "Pulang sana."
Linggar mendekat, dan perlahan-lahan ia merendahkan diri, duduk bersimpuh di samping Mamanya. "Ma ..."
Mama Gistara terdiam.
"Mama inget nggak pernah bilang ke aku gini?" Linggar menjeda dengan menatapi paras Mamanya. "Mama bakal izinin siapapun masuk ke kehidupan aku, Lingga, dan Kak Faleesha. Selama orang itu memberi pengaruh baik untuk anak-anak Mama sekarang dan nantinya."
"Mama setuju aku memperistri Shanum. Mama bahkan setuju bahwa Shanum punya pengaruh baik di kehidupan aku." Linggar menunduk. "Tapi ... kenapa Mama tiba-tiba kayak gini?"
Mama Gistara hendak membuka mulut. Namun tertahan saat Linggar berbicara lagi.
"Tolong berhenti berpikir kalau aku belain Shanum, Ma. Bukannya Mama sendiri yang bilang, kalau aku harus jadi suami yang bertanggung jawab?" Linggar menghela napas pelan. "Aku minta maaf udah bentak, Mama. Aku yang salah. Jadi tolong Mama berhenti berpikir kalau seakan-akan aku dikendaliin sama Shanum."
"Mama itu Ibu aku. Orang yang paling ngerti aku siapa kalau bukan Mama? Tapi sekarang anak Mama ini udah jadi suami. Aku punya tanggung jawab penuh ke istri aku, Ma. Aku menikahi Shanum itu bukan atas dasar cinta aja, aku yakin Shanum juga bisa jadi Ibu yang baik untuk mendidik cucu-cucu Mama dan Papa nantinya," lanjut Linggar.
Mama Gistara menatap tanpa ekspresi. "Kamu bicara seakan-akan kamu yakin bahwa Shanum akan bersedia kamu sentuh, Linggar."
"Aku bisa menunggu, Ma."
Mama Gistara menggeleng tidak habis pikir. "Menunggu yang bagaimana lagi, Linggar? Sudah lima bulan. Kamu mau menunggu sampai satu tahun? Kamu menafkahi dia dengan bekerja keras, dan kamu nggak dapat imbalan apa-apa itu percuma, Linggar!"
Linggar terdiam.
"Padahal melayani suami itu adalah kewajiban seorang istri." Mama Gistara sedikit tersulut emosi. "Buat apa dia berhijab? Kalau dia nggak tahu apa hak dan kewajiban seorang istri pada suaminya?"
"Ma ... tolong jangan---"
"Jangan apa, Linggar? Mama memang setuju dia jadi istri kamu. Tapi dalam kurun waktu lima bulan pun kamu dan dia belum berhubungan intim itu buat apa?! Harusnya kamu sadar, kalau dia nggak menganggap kamu itu suami. Setrauma apapun dia, dia nggak akan merasa segan untuk mencoba kalau itu sama suami dia sendiri!" jelas Mama Gistara.
Mama, bicara seolah-olah jadi Shanum itu gampang, batin Linggar yang mulai pasrah mendengar semua apa yang di bicarakan oleh Mamanya.
"Jangan pernah temuin Mama, sebelum dia benar-benar sudah melayani kamu dengan baik sebagai seorang istri." Mama Gistara mendorong pelan bahu sang anak. "Pulang, Linggar!"
Linggar bangkit. "Iya, Ma. Aku pulang."
Aku nggak ngerti sama Mama. Padahal Mama itu perempuan juga, tapi kenapa rasanya Mama nggak punya empati ke Shanum sama sekali? Mama nganggap seakan-akan Shanum itu cuma korban pelecehan biasa. Padahal apa yang di alami Shanum itu lebih dari yang Mama kira, batin Linggar yang hanya bisa pulang dengan segala rasa kecewa. Bahkan nantinya, ia harus berbicara apa pada Shanum? Haruskah ia mengatakan bahwa sang Mama memaafkannya? Dan, apakah Shanum akan percaya?
Entahlah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Hulapao
linggarrr 😭
2022-09-14
1
Santidew
bisa-bisanya Gistara
2022-09-02
1
Santidew
Linggar Linggar yaampunnnn
2022-09-02
1