Di mobil Linggar mencoba tersenyum dan menganggap bahwa semuanya baik-baik saja. Sungguh ia tidak ingin Shanum merasa bahwa Mama Gistara tidak memaafkannya. Ia ingin istrinya itu yakin bahwa Mama Gistara telah memberi maaf, dan kepulangan ini tidak memiliki kekecewaan sedikit pun.
Jika memang itu pinta dari sang Mama. Linggar akan memenuhi. Tugasnya bukan hanya menjadi suami yang bertanggung jawab, ia juga harus menjadi anak yang berbakti. Tetapi ia tidak ingin baktinya semakin mempersulit kehidupan Shanum. Ia akan menunggu sampai istrinya itu yakin, lalu kembali ke Mama Gistara dengan bakti yang seperti beliau minta.
Tin! Tin!
"Ling-gar," ujar Shanum dengan spontan menyentuh paha suaminya. "Itu ... udah lampu hijau."
"Ah, iya. Maaf, Sayang." Linggar melajukan mobilnya kembali dan ia berusaha menghilangkan lamunannya dengan kembali berujar, "Kamu laper, nggak?"
"Sedikit," cicit Shanum.
"Ke restoran. Mau?"
Shanum menggeleng. "Aku nggak suka makan di sana."
"Makan di rumah aja gimana?" Lampu merah lagi. Hingga Linggar dapat menengok, menatapi istrinya itu dari samping. "Kamu sekarang lagi mau apa? Mekdi? Atau apa?"
"Go food aja, a-aku takut kamu capek nyetirnya."
"Enggak, Sayang. Memang kamu mau apa?"
Shanum menunduk memainkan jari jemarinya. "A ... yam bakar. Tapi ... yang di Kedai Amanah."
"Nggak pa-pa, Sayang. Kebetulan pemiliknya itu menantu Om Tama." Linggar tersenyum tipis. "Ayo ke sana. Kamu pesan yang banyak, bungkus buat pelayan di rumah juga nggak pa-pa."
Sesampainya di sana. Shanum tiba-tiba ingin makan di tempat, tetapi di dalam mobil saja. Karena jika Linggar lihat-lihat istrinya itu masih takut bertemu banyak orang. Dan suatu kebetulan juga, kaca mobilnya memiliki kaca film, hingga orang-orang tidak akan bisa melihat Shanum dari luar.
"Linggar, kamu nggak makan?"
Linggar menggeleng, dan hanya menatapi sang istri saja. "Kamu aja."
"A-ku suapi ... mau?"
Netra Linggar membinar. Benarkah Shanum menawarkan diri untuk menyuapinya? Atau indra pendengarannya sedang tidak baik? "Kamu bilang apa, Sayang?"
"A-ku suapi."
"Mau," jawab Linggar secepatnya.
Tangan Shanum terangkat lalu mendekatkan pada bibir Linggar. "Buka mulut," ujar Shanum.
Linggar mengunyah makanannya. Sedangkan Shanum tersenyum tipis memandangi Linggar yang menatap lurus. "Linggar, kamu ... tadi bicara apa aja sama Mama?" tanya Shanum, lagi.
"Minta maaf, seperti yang kamu minta," jawab Linggar.
Shanum menunduk, berhenti menyuap makanan.
"Sayang?"
"Iya?" Shanum menengok.
"Aku udah bilang kan, Mama udah maafin aku. Jadi kamu nggak usah mikirin apa-apa." Tangan Linggar terangkat, dan perlahan-lahan turun menyentuh pucuk kepala sang istri. "Ngerti?"
"Iya."
Tidak lama dari arah luar jendela terdengar seseorang mengetuk kaca mobilnya. Ternyata itu pelayan Kedai yang mengantar minuman hangat yang di pesannya tadi.
"Terima kasih, Mas," ujar Linggar. Setelah pelayan laki-laki itu pergi, pandangan Linggar beralih pada Shanum. "Ini jeruk hangatnya. Kamu minum dulu."
"Kamu pesan apa itu?"
Linggar menatap sejenak pesannya. "Es jeruk. Kamu mau minta?"
"Bo-leh?"
"Boleh, Sayang." Linggar meminum sedikit es jeruknya. Lalu memberikan pada Shanum. "Ini." Saat Shanum sibuk meminum es jeruk Linggar mengecek gawainya yang beberapa kali bergetar.
Kak Sambara? batin Linggar yang langsung mengubah posisi sedikit ke samping.
Kak Sambara
Lobi Lazuardi Hotel. Pukul 10 pagi.
Saya butuh berbicara denganmu.
^^^Iya, Kak.^^^
"Ada hal penting?" tanya Shanum tiba-tiba.
Linggar memasukkan gawai lagi dan menggeleng. "Enggak ada. Tadi Iris cuma ngabarin hal biasa."
"Oh." Shanum mendekatkan tangannya lagi pada bibir Linggar. "Ayo, buka mulut lagi."
Pagi harinya. Pukul sepuluh di Lazuardi Hotel. Iris memberikan kabar bahwa Sambara Citaprasada sudah datang. Jadi Linggar tergesa-gesa turun dari lantai 15 ke lobi hotel.
Saat baru keluar dari lift. Linggar langsung mengambil langkah besar dan matanya mengedar tanpa menghiraukan orang-orang yang berbicara padanya. Ia harus sesegera mungkin menemukan Kakak iparnya.
Jas biru. Itu Kak Sambara! batin Linggar yang langsung berlari dan berhenti tepat di hadapan Kakak iparnya. "Pagi, Kak Sam. Maaf saya sedikit terlambat," ujar Linggar.
"Okay. Silakan duduk." Sambara mempersilakan Linggar duduk, dengan menatap datar, lelaki yang sudah menjadi suami adiknya ini. "Shanum sehat?"
"Sehat, Kak."
"Pekerjaanmu?"
"Lancar, Kak."
Sambara mengangguk-angguk. "Cctv itu ... ternyata berguna juga, ya?" Mata elang Sambara menatap tepat di mata adik iparnya. "Saya bahkan bisa melihat pertengkaran Ibu dan anak."
"Maaf, Kak Sam. Saya ..." Linggar merasa lidahnya keluh untuk melanjutkan ucapan. "Saya menjamin pertengkaran itu tidak akan berpengaruh pada Shanum."
"Tidak akan berpengaruh?" ulang Sambara. "Dengar, Linggar. Shanum memang telah menjadi istrimu. Tapi dia tetaplah adik saya. Jadi jangan pernah kamu mengingkari perjanjian yang sudah kita sepakati dulu."
"Saya tidak akan ingkar, Kak."
"Saya tidak membutuhkan ucapanmu yang seperti ini." Mata elang Sambara menajam. "Yang saya butuh adalah kerja nyatamu. Saya tahu adik saya sudah berumah tangga. Tapi jika saya melihat Ibumu sampai berani mengangkat tangannya pada Shanum. Saya tidak akan segan membawa Shanum kembali."
"Saya menjamin itu tidak akan terjadi, Kak," sahut Linggar cepat.
Sambara terdiam beberapa detik. Hingga ia kembali mengajukan pertanyaan. "Bagaimana Shanum menurutmu dalam lima bulan ini?"
"Seperti biasa, Kak. Tidak ada yang berbeda dari Shanum yang saya kenal dulu di sekolah," jawab Linggar.
Sambara merendahkan tatapan matanya. "Kamu tahu maksud dari pertanyaan saya. Jawab, dan jangan berbelit."
"Shanum ..." Linggar menjeda, dengan menghela napas pelan. "Belum ada kemajuan. Saya dan Shanum belum ... making love."
"Lalu kamu kecewa? Menyesal?"
"Tidak. Saya sama sekali tidak kecewa dan menyesal, Kak."
Sambara menatap kancing pergelangan tangannya yang terbuka. "Kamu tahu itu adalah risiko menikahi adik saya, kan?"
"Saya tahu, Kak."
"Jadi, jika kamu tidak mampu menahan sesuatu yang telah menjadi hakmu pada Shanum, dengan mencari p*elacur di luar sana. Lebih baik segera pulang kan dia pada saya," tegas Linggar. "Kamu mengerti?"
"Saya mengerti, Kak."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Hulapao
wow sambara protective sama adeknya
2022-09-17
1
Santidew
Tegasx sambara
2022-07-18
2
Sari
Sambara nggak berubah kalau tanya gitu banget
2022-05-18
2