5 : Ucapan Sambara.

Di mobil Linggar mencoba tersenyum dan menganggap bahwa semuanya baik-baik saja. Sungguh ia tidak ingin Shanum merasa bahwa Mama Gistara tidak memaafkannya. Ia ingin istrinya itu yakin bahwa Mama Gistara telah memberi maaf, dan kepulangan ini tidak memiliki kekecewaan sedikit pun.

Jika memang itu pinta dari sang Mama. Linggar akan memenuhi. Tugasnya bukan hanya menjadi suami yang bertanggung jawab, ia juga harus menjadi anak yang berbakti. Tetapi ia tidak ingin baktinya semakin mempersulit kehidupan Shanum. Ia akan menunggu sampai istrinya itu yakin, lalu kembali ke Mama Gistara dengan bakti yang seperti beliau minta.

Tin! Tin!

"Ling-gar," ujar Shanum dengan spontan menyentuh paha suaminya. "Itu ... udah lampu hijau."

"Ah, iya. Maaf, Sayang." Linggar melajukan mobilnya kembali dan ia berusaha menghilangkan lamunannya dengan kembali berujar, "Kamu laper, nggak?"

"Sedikit," cicit Shanum.

"Ke restoran. Mau?"

Shanum menggeleng. "Aku nggak suka makan di sana."

"Makan di rumah aja gimana?" Lampu merah lagi. Hingga Linggar dapat menengok, menatapi istrinya itu dari samping. "Kamu sekarang lagi mau apa? Mekdi? Atau apa?"

"Go food aja, a-aku takut kamu capek nyetirnya."

"Enggak, Sayang. Memang kamu mau apa?"

Shanum menunduk memainkan jari jemarinya. "A ... yam bakar. Tapi ... yang di Kedai Amanah."

"Nggak pa-pa, Sayang. Kebetulan pemiliknya itu menantu Om Tama." Linggar tersenyum tipis. "Ayo ke sana. Kamu pesan yang banyak, bungkus buat pelayan di rumah juga nggak pa-pa."

Sesampainya di sana. Shanum tiba-tiba ingin makan di tempat, tetapi di dalam mobil saja. Karena jika Linggar lihat-lihat istrinya itu masih takut bertemu banyak orang. Dan suatu kebetulan juga, kaca mobilnya memiliki kaca film, hingga orang-orang tidak akan bisa melihat Shanum dari luar.

"Linggar, kamu nggak makan?"

Linggar menggeleng, dan hanya menatapi sang istri saja. "Kamu aja."

"A-ku suapi ... mau?"

Netra Linggar membinar. Benarkah Shanum menawarkan diri untuk menyuapinya? Atau indra pendengarannya sedang tidak baik? "Kamu bilang apa, Sayang?"

"A-ku suapi."

"Mau," jawab Linggar secepatnya.

Tangan Shanum terangkat lalu mendekatkan pada bibir Linggar. "Buka mulut," ujar Shanum.

Linggar mengunyah makanannya. Sedangkan Shanum tersenyum tipis memandangi Linggar yang menatap lurus. "Linggar, kamu ... tadi bicara apa aja sama Mama?" tanya Shanum, lagi.

"Minta maaf, seperti yang kamu minta," jawab Linggar.

Shanum menunduk, berhenti menyuap makanan.

"Sayang?"

"Iya?" Shanum menengok.

"Aku udah bilang kan, Mama udah maafin aku. Jadi kamu nggak usah mikirin apa-apa." Tangan Linggar terangkat, dan perlahan-lahan turun menyentuh pucuk kepala sang istri. "Ngerti?"

"Iya."

Tidak lama dari arah luar jendela terdengar seseorang mengetuk kaca mobilnya. Ternyata itu pelayan Kedai yang mengantar minuman hangat yang di pesannya tadi.

"Terima kasih, Mas," ujar Linggar. Setelah pelayan laki-laki itu pergi, pandangan Linggar beralih pada Shanum. "Ini jeruk hangatnya. Kamu minum dulu."

"Kamu pesan apa itu?"

Linggar menatap sejenak pesannya. "Es jeruk. Kamu mau minta?"

"Bo-leh?"

"Boleh, Sayang." Linggar meminum sedikit es jeruknya. Lalu memberikan pada Shanum. "Ini." Saat Shanum sibuk meminum es jeruk Linggar mengecek gawainya yang beberapa kali bergetar.

Kak Sambara? batin Linggar yang langsung mengubah posisi sedikit ke samping.

Kak Sambara

Lobi Lazuardi Hotel. Pukul 10 pagi.

Saya butuh berbicara denganmu.

^^^Iya, Kak.^^^

"Ada hal penting?" tanya Shanum tiba-tiba.

Linggar memasukkan gawai lagi dan menggeleng. "Enggak ada. Tadi Iris cuma ngabarin hal biasa."

"Oh." Shanum mendekatkan tangannya lagi pada bibir Linggar. "Ayo, buka mulut lagi."

Pagi harinya. Pukul sepuluh di Lazuardi Hotel. Iris memberikan kabar bahwa Sambara Citaprasada sudah datang. Jadi Linggar tergesa-gesa turun dari lantai 15 ke lobi hotel.

Saat baru keluar dari lift. Linggar langsung mengambil langkah besar dan matanya mengedar tanpa menghiraukan orang-orang yang berbicara padanya. Ia harus sesegera mungkin menemukan Kakak iparnya.

Jas biru. Itu Kak Sambara! batin Linggar yang langsung berlari dan berhenti tepat di hadapan Kakak iparnya. "Pagi, Kak Sam. Maaf saya sedikit terlambat," ujar Linggar.

"Okay. Silakan duduk." Sambara mempersilakan Linggar duduk, dengan menatap datar, lelaki yang sudah menjadi suami adiknya ini. "Shanum sehat?"

"Sehat, Kak."

"Pekerjaanmu?"

"Lancar, Kak."

Sambara mengangguk-angguk. "Cctv itu ... ternyata berguna juga, ya?" Mata elang Sambara menatap tepat di mata adik iparnya. "Saya bahkan bisa melihat pertengkaran Ibu dan anak."

"Maaf, Kak Sam. Saya ..." Linggar merasa lidahnya keluh untuk melanjutkan ucapan. "Saya menjamin pertengkaran itu tidak akan berpengaruh pada Shanum."

"Tidak akan berpengaruh?" ulang Sambara. "Dengar, Linggar. Shanum memang telah menjadi istrimu. Tapi dia tetaplah adik saya. Jadi jangan pernah kamu mengingkari perjanjian yang sudah kita sepakati dulu."

"Saya tidak akan ingkar, Kak."

"Saya tidak membutuhkan ucapanmu yang seperti ini." Mata elang Sambara menajam. "Yang saya butuh adalah kerja nyatamu. Saya tahu adik saya sudah berumah tangga. Tapi jika saya melihat Ibumu sampai berani mengangkat tangannya pada Shanum. Saya tidak akan segan membawa Shanum kembali."

"Saya menjamin itu tidak akan terjadi, Kak," sahut Linggar cepat.

Sambara terdiam beberapa detik. Hingga ia kembali mengajukan pertanyaan. "Bagaimana Shanum menurutmu dalam lima bulan ini?"

"Seperti biasa, Kak. Tidak ada yang berbeda dari Shanum yang saya kenal dulu di sekolah," jawab Linggar.

Sambara merendahkan tatapan matanya. "Kamu tahu maksud dari pertanyaan saya. Jawab, dan jangan berbelit."

"Shanum ..." Linggar menjeda, dengan menghela napas pelan. "Belum ada kemajuan. Saya dan Shanum belum ... making love."

"Lalu kamu kecewa? Menyesal?"

"Tidak. Saya sama sekali tidak kecewa dan menyesal, Kak."

Sambara menatap kancing pergelangan tangannya yang terbuka. "Kamu tahu itu adalah risiko menikahi adik saya, kan?"

"Saya tahu, Kak."

"Jadi, jika kamu tidak mampu menahan sesuatu yang telah menjadi hakmu pada Shanum, dengan mencari p*elacur di luar sana. Lebih baik segera pulang kan dia pada saya," tegas Linggar. "Kamu mengerti?"

"Saya mengerti, Kak."

Terpopuler

Comments

Hulapao

Hulapao

wow sambara protective sama adeknya

2022-09-17

1

Santidew

Santidew

Tegasx sambara

2022-07-18

2

Sari

Sari

Sambara nggak berubah kalau tanya gitu banget

2022-05-18

2

lihat semua
Episodes
1 Satu : Pernikahan Tersembunyi
2 Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3 3 : Anak Dan Suami.
4 4 : Hak Dan Kewajiban
5 5 : Ucapan Sambara.
6 6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7 7 : Setara
8 8 : Ingatan Linggar.
9 9 : Bukan Salah Linggar.
10 10 : Kesengajaan.
11 11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12 12 : Bekas Orang Lain.
13 13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14 14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15 15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16 16 :
17 17: Gistara Dan Gumira
18 18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19 19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20 20 : Cassia Upasama.
21 21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22 21 (2) : Pengakuan Shanum.
23 22 :
24 23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25 24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26 25 : Pujian Linggar.
27 26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28 27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29 28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30 29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31 30 : Linggar Murka Pada Lingga
32 31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33 32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34 33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35 34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36 35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37 36 : Sentuhan.
38 37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39 Garis Keturunan Adiwangsa
40 38 : Bersiap Untuk Berangkat
41 39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42 40 : Ibu Kandung Shanum.
43 41 : Ulah Shanum.
44 42 : Tegang.
45 43 : I Would Love You
46 44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47 45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48 46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49 47 : Bulan Madu (1)
50 48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51 49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52 50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53 51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54 52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55 53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56 54 : Keluarga Citaprasada.
57 55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58 56 : Di Kamar Hotel Saja.
59 57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60 58 : Salahku Bukan Salahmu.
61 59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62 60 : Tiba-tiba Pulang.
63 61 : Tiba Di Surabaya.
64 62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65 63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66 64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67 65 : -
68 66 :
69 67 : Surat Dari (M)
70 68 : Jatuh Berdua Lagi.
71 69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72 70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73 71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74 72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75 73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76 74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77 75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78 76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79 76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80 77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81 78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82 79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83 80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84 81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85 82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86 83 : -
87 Sedikit Pemberitahuan.
88 84 : Ke Klinik.
89 85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90 86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91 87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92 88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93 89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94 90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95 91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96 92 : Pengakuan Mesya.
97 93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98 94 : Ketidakjelasan Shanum.
99 95
100 96
101 97
102 98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103 99
104 100 [Pergi]
105 101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106 102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107 103 [Beban Orang-orang]
108 104
109 105
110 106
111 107 [Mengandung?]
112 108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113 108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114 109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115 109 (2)
116 110 (1)
117 110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118 111 (1)
119 111 (2)
120 112 (1)
121 112 (2) Hidden Twin.
122 113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123 113 (2) : POV Shanum.
124 114 (1)
125 114 (2)
126 Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Satu : Pernikahan Tersembunyi
2
Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3
3 : Anak Dan Suami.
4
4 : Hak Dan Kewajiban
5
5 : Ucapan Sambara.
6
6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7
7 : Setara
8
8 : Ingatan Linggar.
9
9 : Bukan Salah Linggar.
10
10 : Kesengajaan.
11
11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12
12 : Bekas Orang Lain.
13
13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14
14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15
15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16
16 :
17
17: Gistara Dan Gumira
18
18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19
19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20
20 : Cassia Upasama.
21
21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22
21 (2) : Pengakuan Shanum.
23
22 :
24
23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25
24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26
25 : Pujian Linggar.
27
26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28
27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29
28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30
29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31
30 : Linggar Murka Pada Lingga
32
31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33
32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34
33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35
34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36
35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37
36 : Sentuhan.
38
37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39
Garis Keturunan Adiwangsa
40
38 : Bersiap Untuk Berangkat
41
39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42
40 : Ibu Kandung Shanum.
43
41 : Ulah Shanum.
44
42 : Tegang.
45
43 : I Would Love You
46
44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47
45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48
46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49
47 : Bulan Madu (1)
50
48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51
49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52
50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53
51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54
52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55
53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56
54 : Keluarga Citaprasada.
57
55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58
56 : Di Kamar Hotel Saja.
59
57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60
58 : Salahku Bukan Salahmu.
61
59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62
60 : Tiba-tiba Pulang.
63
61 : Tiba Di Surabaya.
64
62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65
63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66
64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67
65 : -
68
66 :
69
67 : Surat Dari (M)
70
68 : Jatuh Berdua Lagi.
71
69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72
70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73
71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74
72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75
73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76
74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77
75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78
76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79
76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80
77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81
78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82
79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83
80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84
81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85
82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86
83 : -
87
Sedikit Pemberitahuan.
88
84 : Ke Klinik.
89
85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90
86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91
87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92
88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93
89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94
90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95
91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96
92 : Pengakuan Mesya.
97
93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98
94 : Ketidakjelasan Shanum.
99
95
100
96
101
97
102
98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103
99
104
100 [Pergi]
105
101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106
102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107
103 [Beban Orang-orang]
108
104
109
105
110
106
111
107 [Mengandung?]
112
108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113
108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114
109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115
109 (2)
116
110 (1)
117
110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118
111 (1)
119
111 (2)
120
112 (1)
121
112 (2) Hidden Twin.
122
113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123
113 (2) : POV Shanum.
124
114 (1)
125
114 (2)
126
Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!