"Enak nggak?" tanya Linggar yang baru selesai meletakkan piringnya di meja makan.
Shanum mengangguk. "Enak."
"Aku belajar masakan ini dari internet, Sayang." Linggar meletakkan gawainya ke arah Shanum. "Ayam asam manis, namanya."
"Aku nggak nyangka kamu bisa masak."
Linggar menatap Shanum sejenak. Bukannya aku sering masakin kamu kalau kita ketemuan di apartemen? Apa kamu lupa, Shanum? batin Linggar yang tersenyum kemudian. "Kalau kamu mau. Setiap hari bisa aku masakin, Sayang."
"Eh?" Shanum terkejut. "E-enggak usah. Lagi pula masak itu ... kewajiban istri.".
"Siapa yang bilang?"
"Orang-orang," jawab Shanum.
Linggar menggeleng. "Masak itu kewajiban bersama, Sayang." Linggar melahan makanannya perlahan. "Habisin, ya? Terus kita tidur."
"Iya."
Iris bilang ada janji pertemuan dengan Gautama Adiwangsa yang tidak lain adalah Paman Linggar. Mungkin beliau ingin membahas mengenai hotel atau yang lainnya? Ia tidak tahu. Tetapi bagian terpentingnya ia harus datang saja. Karena beliau tidak suka menunggu, beliau bahkan terlihat lebih sibuk dari Ayahnya, Gumira.
"Bapak Gautama sudah di ruangan saya?" tanya Linggar yang baru saja datang.
"Maaf, Tuan Muda. Bapak Gautama Adiwangsa memindah lokasi pertemuan di restoran. Beliau memesan private room," jawab Iris.
Linggar menatap Iris sejenak yang masih menunduk. "Ya sudah. Tolong kalau ada kepentingan lain kamu urus."
"Baik, Tuan Muda."
Linggar turun lift lagi untuk ke restoran yang Gautama maksud. Saat sampai ia di sapa oleh beberapa staf dan ditunjukkan langsung tempat di mana Pamannya menunggu.
"Pagi, Om," ujar Linggar yang perlahan mengambil duduk. "Maaf saya buat Om nunggu lama."
"Enggak, Linggar. Om juga barusan datang kok." Gautama menatap Linggar sejenak. Kemudian berujar, "Lancar kerjamu, Linggar?"
"Lancar, Om."
"Pernikahanmu gimana?"
Linggar menatap lantai. "Baik-baik aja, Om."
"Maafin Om yang kemarin nggak sempet datang. Bahkan baru lima bulan ini Om bisa bicara pribadi sama kamu." Gautama menjeda. "Sebenarnya, Om mau menawarkan kamu bulan madu. Ya walau pun pernikahan kalian rahasia. Tapi menikahnya sungguhan, kan, Linggar? Jadi Om nggak salah kalau menawarkan bulan madu untuk kamu dan istrimu, kan?"
"Om nggak perlu repot-repot saya tahu Om sibuk," jawab Linggar.
"Enggak. Enggak repot. Kamu mau bulan madu ke Sumba, nggak? Atau Bali?" tanya Gautama.
Linggar menatap Gautama dengan sungkan. "Maaf, Om. Saya nggak bisa jawab sekarang. Om juga nggak perlu repot-repot."
"Repot gimana? Orang buat keponakan Om nggak ada yang ngerepotin, belum lagi kamu bantu di Lazuardi Hotel. Om ngerasa kerja kamu ini bagus banget lho, Linggar. Hitung-hitung liburan itu bonus buat kamu dari Om," ujar Gautama.
Linggar tersenyum tipis dan mengangguk.
"Om harap pernikahan kamu benar-benar menjadi kebahagiaan untukmu, ya, Linggar? Nggak pa-pa kalau dalam waktu dekat ini kamu sama istrimu, belum mau publikasi pernikahan. Bagian terpentingnya kamu bahagia, dan menjadi suami yang bertanggung jawab untuk istrimu" sambung Gautama.
"Iya, Om. Terima kasih."
Tawaran Gautama tidak bisa Linggar tolak. Begitu pula dengan mengajak Shanum. Apakah istrinya itu akan bersedia pergi bersama dengan label bulan madu? Jujur ia takut otak Shanum akan langsung meyalur pada pikiran yang bukan-bukan. Padahal jika di ingat-ingat lagi memang dalam lima bulan pernikahan mereka belum pernah keluar jauh bersama.
Linggar rindu.
Ia ingin sekali bebas, tanpa menyembunyikan sesuatu yang telah wajar. Shanum adalah istrinya, tapi orang-orang tidak tahu. Ia sama sekali tidak mengeluh hanya saja ia ingin kebebasan untuk bersama dengan Shanum.
"Selamat pagi Tuan Muda, saya telah menyiapkan sarapan untuk anda," ujar Iris.
Linggar mengerutkan kening sejenak. Lalu ia sadar bahwa ia lupa mengingatkan Iris bahwa ia tidak perlu di beri sarapan lagi. Karena setiap paginya ia sudah makan bersama Shanum.
"Iris."
"Ya, Tuan Muda?"
"Mulai besok saya tidak sarapan di kantor. Makan siang saja tolong kamu siapkan," ujar Linggar.
Iris sedikit menunduk. "Baik, Tuan Muda."
Tidak lama setelah Iris keluar ada notifikasi masuk dari gawainya. Di sana terterah nama Vincent dari aplikasi kirim pesan.
Vincent
Aman lo pulang?
Mbak lo itu nggak lo apa-apain, kan?
Kening Linggar mengerut. Mbak? ... Ah, mungkin maksudnya Shanum. Dia pasti ngira kalau Shanum pembantu di rumah, batinnya dengan mulai mengetik.
^^^Aman.^^^
Vincent
Mau mampir lagi?
Sekalian seneng-seneng.
Ada banyak cewek dateng tadi malam, beberapa masih muda plus masih pw. Gue jamin bersih semua nggak ada penyakit, Gar.
Linggar terdiam sejenak. Ia tahu betul bahwa Vincent adalah pemilik klub malam dan tempat karaoke itu. Tetapi dalam hal-hal seperti ini tidak biasanya Vincent terlihat memaksa. Padahal lelaki itu tahu bahwa ia jarang bermain wanita. Tidak. Bukan hanya jarang bahkan tidak pernah sama sekali.
Vincent
Ada yang seusai kriteria lo juga.
Rambut panjang, bening, pa*yudara berisi, dan yang pasti wangi plus perawan. Sesuai, kan?
Yang lo bilang memang mirip Shanum semua. Lo bener juga, yang lo sebut sesuai sama kriteria gue. Tapi cewek itu bukan Shanum. Gue jadinya jijik. Gue nggak suka di sentuh-sentuh sama cewek asing, batin Linggar yang menatap pesan masuk.
Vincent
Gue kasih gratis buat lo. Khusus cewek itu.
Linggar memijat keningnya.
^^^Sorry, gue lagi nggak minat.^^^
Vincent
Kalau butuh lo kabari gue.
^^^Iya.^^^
Linggar menutup gawainya dan menatap lurus pada buku-buku yang tersusun.
"Perawan?" gumamnya. "Lo secara nggak langsung bilang kalau istri gue itu udah nggak perawan, Vin."
Linggar melambungkan tawanya. "Nyatanya lo aja nggak tahu kalau gue udah nikah."
Jika seperti ini, entah kenapa tiba-tiba saja pikiran Linggar menyalur pada percakapan semasa di Upasama High School bersama teman-temannya dulu.
"Kasus Shanum akhirnya di tutup juga. Pak Jo juga udah di penjara dan Upasama High School sekarang di pimpin sama Om Sadajiwa," ujar Lingga yang menyandarkan punggungnya di kursi. "Kalau gini gue jadi pengen kasih pertanyaan ke kalian semua."
Linggar dan Vincent hanya menatap Lingga. Sedangkan Abhimana menyahut, "Lo kira pelajaran? Heran gue, suka banget lo kasih pertanyaan ke kita kita."
"Enggak, Bro. Ini pertanyaan agak beda. Biasalah pembahasan cowok," bela Lingga untuk dirinya sendiri.
Aldo menyahut, "Pembahasan cowok? Emang pertanyaan lo apa?"
"Gini-gini gini. Merabat ke kasusnya Shanum." Lingga terlihat serius. "Menurut lo lo semua termasuk gue. Apa Shanum bakalan lo jadiin kandidat 'istri'? Maksud gue gini, terlepas dari cakep enggaknya dia terus juga terlepas dari kaya enggaknya dia. Lo bakalan tetep mau nggak punya istri ... yang kasarnya 'bekas orang lain'?"
Sialan. Mulut lo ini kayak nggak pernah sekolah aja, batin Linggar yang menatap tajam saudara kembarnya.
"Gue sih nggak mau," sahut Abhimana.
Vincent yang tadinya diam. Akhirnya menyahut, "Gue fine-fine aja. Lagian cewek jaman sekarang yang belum pernah hs juga susah ketebak, Ga. Bahkan kebanyakan udah nggak pw gara-gara hs, bukan karena kasus-kasus macam gini."
"Gue setuju sama lo, Vin. Tapi gue nggak mau dapat yang bekas orang. Lagian juga, gue masih perjaka. Lagian juga, gue nggak pernah ngerusak anak orang," sahut Aldo.
Lingga, Vincent, Abhimana dan Aldo menatap Linggar dan Abhimata secara bergantian. "Terus lo berdua? Ikhlas? Fine-fine aja gitu?" tanya Lingga.
"Terserah takdir. Lagian gue juga bakal di jodohin. Kebiasaan Adiwangsa," jawab Abhimata pasrah yang Linggar yakini otak sepupunya itu memikirkan nasib Cassia.
"Nggak gitu juga, Bro. Yang nikah kan elo, mana bisa lo nggak nentuin istri." Pandangan Lingga beralih pada Linggar. "Terus lo, Gar?"
"Sama. Tergantung takdir. Kalau gue dapat yang pw yang bersyukur, kalau enggak juga gue bakal terima. Tergantung dulu alasan dia hilang pw gara-gara apa. Kalau hs, kayaknya gue mikir-mikir dulu," jawab Linggar.
Abhimata menyahut lagi. "Tapi di istilah kedokteran keperawanan itu sebenarnya nggak ada lo, Ga. Kalau periksa pun biasanya hasil test nentuin cewek itu pernah se*ks atau enggak aja. Bukan pekara selaput darah."
Lingga mengangguk. "Emang. Bokap gue pernah kasih tahu kok."
"Terus kenapa lo kasih pertanyaan kayak gini, hah?" sahut Abhimana agak jengkel.
"Nggak pa-pa."
"Mungkin maksudnya biar otak lo waras, Abhimana," sahut Aldo dengan terkekeh.
Sekejap saja Linggar kembali lagi. Pikirannya sudah di dunia sekarang saat mendengar gawainya bergetar, karena notifikasi dari Lingga yang enggan ia baca.
Lagi pula jika di pikir-pikir lagi oleh Linggar, hal-hal seperti ini wajar jika sebagain berbeda pendapat. Bahkan Aldo menjawab dengan lantang untuk tidak ingin memiliki istri yang pernah berhubungan intim. Dan alasan Aldo pun sangat jelas.
"Tapi kalau pikiran lo gitu terus. Lo bakalan susah dapat istri, Do," gumam Linggar yang ia peruntukan untuk Aldo.
[.]
Note:
Di Beda Tiga Tahun saya pernah ceritakan kalau Vincent nggak punya kepercayaan. Jadi kalau dia punya klub malam, karaoke bahkan merangka menjadi tempat pe*lacuran jangan heran. Di dunia nyata pun juga gini.
Tapi kalau kalian tanya, "Apa nanti Vincent bakal dapat hidayah?"
Ya mungkin bisa. Karena di dunia nyata banyak psk yang bertaubat kok. Saya lihat sendiri.
.
Oh iya sejauh ini. Harshada akan menjadi tema cerita terberat saya. Karena harus memposisikan diri sebagai Shanum yang traumatik. Lalu sisi lainnya memposisikan diri sebagai Linggar yang notabenenya laki-laki normal. Kalian tahu lah maksud saya.
Jangan mikir cerita ini nggak ada romancenya. Ada kok, ada. Cuma masalahnya Shanum ini trauma nggak bisa dong langsung apa-apa mau di sentuh mau gini lah gini lah. Semua butuh proses.
.
Jadi sebelum lanjut ke episode selanjutnya. Buat Kak Kejora hikss ... saya terharu dapat komen gitu. Bahkan buat kalian semua yang kasih vote+hadiah saya senang. Tapi terkadang dapat komentar itu ... lebih membuat saya semangat karena jujur beberapa hari ini saya writer block sama sekali nggak nulis, tapi pas dapat komen dari pembaca rasa ingin menulis kembali lagi. Terima kasih untuk kalian semua🤍🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Laksmi Amik
bagus ceritanya tp bacanya hrs sedikit meyelami biar paham karakter masing" peran
2024-01-13
1
Yuyun ImroatulWahdah
semangat kak, novelnya bagus,, jujur bosen banget liat novel yg dari judul aja tuh udah vulgar, ya bukan gx suka romens, tapi kadang dari cerita yg udah bagus aja kadang2 "itu" cuma bumbu,, dan cerita Kaka ini aku banget sih
2022-07-23
3
rumi
semangat kak,baru Nemu novel wiyati bagus banget ceritanya
kayak real
2022-06-09
1