12 : Bekas Orang Lain.

"Enak nggak?" tanya Linggar yang baru selesai meletakkan piringnya di meja makan.

Shanum mengangguk. "Enak."

"Aku belajar masakan ini dari internet, Sayang." Linggar meletakkan gawainya ke arah Shanum. "Ayam asam manis, namanya."

"Aku nggak nyangka kamu bisa masak."

Linggar menatap Shanum sejenak. Bukannya aku sering masakin kamu kalau kita ketemuan di apartemen? Apa kamu lupa, Shanum? batin Linggar yang tersenyum kemudian. "Kalau kamu mau. Setiap hari bisa aku masakin, Sayang."

"Eh?" Shanum terkejut. "E-enggak usah. Lagi pula masak itu ... kewajiban istri.".

"Siapa yang bilang?"

"Orang-orang," jawab Shanum.

Linggar menggeleng. "Masak itu kewajiban bersama, Sayang." Linggar melahan makanannya perlahan. "Habisin, ya? Terus kita tidur."

"Iya."

Iris bilang ada janji pertemuan dengan Gautama Adiwangsa yang tidak lain adalah Paman Linggar. Mungkin beliau ingin membahas mengenai hotel atau yang lainnya? Ia tidak tahu. Tetapi bagian terpentingnya ia harus datang saja. Karena beliau tidak suka menunggu, beliau bahkan terlihat lebih sibuk dari Ayahnya, Gumira.

"Bapak Gautama sudah di ruangan saya?" tanya Linggar yang baru saja datang.

"Maaf, Tuan Muda. Bapak Gautama Adiwangsa memindah lokasi pertemuan di restoran. Beliau memesan private room," jawab Iris.

Linggar menatap Iris sejenak yang masih menunduk. "Ya sudah. Tolong kalau ada kepentingan lain kamu urus."

"Baik, Tuan Muda."

Linggar turun lift lagi untuk ke restoran yang Gautama maksud. Saat sampai ia di sapa oleh beberapa staf dan ditunjukkan langsung tempat di mana Pamannya menunggu.

"Pagi, Om," ujar Linggar yang perlahan mengambil duduk. "Maaf saya buat Om nunggu lama."

"Enggak, Linggar. Om juga barusan datang kok." Gautama menatap Linggar sejenak. Kemudian berujar, "Lancar kerjamu, Linggar?"

"Lancar, Om."

"Pernikahanmu gimana?"

Linggar menatap lantai. "Baik-baik aja, Om."

"Maafin Om yang kemarin nggak sempet datang. Bahkan baru lima bulan ini Om bisa bicara pribadi sama kamu." Gautama menjeda. "Sebenarnya, Om mau menawarkan kamu bulan madu. Ya walau pun pernikahan kalian rahasia. Tapi menikahnya sungguhan, kan, Linggar? Jadi Om nggak salah kalau menawarkan bulan madu untuk kamu dan istrimu, kan?"

"Om nggak perlu repot-repot saya tahu Om sibuk," jawab Linggar.

"Enggak. Enggak repot. Kamu mau bulan madu ke Sumba, nggak? Atau Bali?" tanya Gautama.

Linggar menatap Gautama dengan sungkan. "Maaf, Om. Saya nggak bisa jawab sekarang. Om juga nggak perlu repot-repot."

"Repot gimana? Orang buat keponakan Om nggak ada yang ngerepotin, belum lagi kamu bantu di Lazuardi Hotel. Om ngerasa kerja kamu ini bagus banget lho, Linggar. Hitung-hitung liburan itu bonus buat kamu dari Om," ujar Gautama.

Linggar tersenyum tipis dan mengangguk.

"Om harap pernikahan kamu benar-benar menjadi kebahagiaan untukmu, ya, Linggar? Nggak pa-pa kalau dalam waktu dekat ini kamu sama istrimu, belum mau publikasi pernikahan. Bagian terpentingnya kamu bahagia, dan menjadi suami yang bertanggung jawab untuk istrimu" sambung Gautama.

"Iya, Om. Terima kasih."

Tawaran Gautama tidak bisa Linggar tolak. Begitu pula dengan mengajak Shanum. Apakah istrinya itu akan bersedia pergi bersama dengan label bulan madu? Jujur ia takut otak Shanum akan langsung meyalur pada pikiran yang bukan-bukan. Padahal jika di ingat-ingat lagi memang dalam lima bulan pernikahan mereka belum pernah keluar jauh bersama.

Linggar rindu.

Ia ingin sekali bebas, tanpa menyembunyikan sesuatu yang telah wajar. Shanum adalah istrinya, tapi orang-orang tidak tahu. Ia sama sekali tidak mengeluh hanya saja ia ingin kebebasan untuk bersama dengan Shanum.

"Selamat pagi Tuan Muda, saya telah menyiapkan sarapan untuk anda," ujar Iris.

Linggar mengerutkan kening sejenak. Lalu ia sadar bahwa ia lupa mengingatkan Iris bahwa ia tidak perlu di beri sarapan lagi. Karena setiap paginya ia sudah makan bersama Shanum.

"Iris."

"Ya, Tuan Muda?"

"Mulai besok saya tidak sarapan di kantor. Makan siang saja tolong kamu siapkan," ujar Linggar.

Iris sedikit menunduk. "Baik, Tuan Muda."

Tidak lama setelah Iris keluar ada notifikasi masuk dari gawainya. Di sana terterah nama Vincent dari aplikasi kirim pesan.

Vincent

Aman lo pulang?

Mbak lo itu nggak lo apa-apain, kan?

Kening Linggar mengerut. Mbak? ... Ah, mungkin maksudnya Shanum. Dia pasti ngira kalau Shanum pembantu di rumah, batinnya dengan mulai mengetik.

^^^Aman.^^^

Vincent

Mau mampir lagi?

Sekalian seneng-seneng.

Ada banyak cewek dateng tadi malam, beberapa masih muda plus masih pw. Gue jamin bersih semua nggak ada penyakit, Gar.

Linggar terdiam sejenak. Ia tahu betul bahwa Vincent adalah pemilik klub malam dan tempat karaoke itu. Tetapi dalam hal-hal seperti ini tidak biasanya Vincent terlihat memaksa. Padahal lelaki itu tahu bahwa ia jarang bermain wanita. Tidak. Bukan hanya jarang bahkan tidak pernah sama sekali.

Vincent

Ada yang seusai kriteria lo juga.

Rambut panjang, bening, pa*yudara berisi, dan yang pasti wangi plus perawan. Sesuai, kan?

Yang lo bilang memang mirip Shanum semua. Lo bener juga, yang lo sebut sesuai sama kriteria gue. Tapi cewek itu bukan Shanum. Gue jadinya jijik. Gue nggak suka di sentuh-sentuh sama cewek asing, batin Linggar yang menatap pesan masuk.

Vincent

Gue kasih gratis buat lo. Khusus cewek itu.

Linggar memijat keningnya.

^^^Sorry, gue lagi nggak minat.^^^

Vincent

Kalau butuh lo kabari gue.

^^^Iya.^^^

Linggar menutup gawainya dan menatap lurus pada buku-buku yang tersusun.

"Perawan?" gumamnya. "Lo secara nggak langsung bilang kalau istri gue itu udah nggak perawan, Vin."

Linggar melambungkan tawanya. "Nyatanya lo aja nggak tahu kalau gue udah nikah."

Jika seperti ini, entah kenapa tiba-tiba saja pikiran Linggar menyalur pada percakapan semasa di Upasama High School bersama teman-temannya dulu.

"Kasus Shanum akhirnya di tutup juga. Pak Jo juga udah di penjara dan Upasama High School sekarang di pimpin sama Om Sadajiwa," ujar Lingga yang menyandarkan punggungnya di kursi. "Kalau gini gue jadi pengen kasih pertanyaan ke kalian semua."

Linggar dan Vincent hanya menatap Lingga. Sedangkan Abhimana menyahut, "Lo kira pelajaran? Heran gue, suka banget lo kasih pertanyaan ke kita kita."

"Enggak, Bro. Ini pertanyaan agak beda. Biasalah pembahasan cowok," bela Lingga untuk dirinya sendiri.

Aldo menyahut, "Pembahasan cowok? Emang pertanyaan lo apa?"

"Gini-gini gini. Merabat ke kasusnya Shanum." Lingga terlihat serius. "Menurut lo lo semua termasuk gue. Apa Shanum bakalan lo jadiin kandidat 'istri'? Maksud gue gini, terlepas dari cakep enggaknya dia terus juga terlepas dari kaya enggaknya dia. Lo bakalan tetep mau nggak punya istri ... yang kasarnya 'bekas orang lain'?"

Sialan. Mulut lo ini kayak nggak pernah sekolah aja, batin Linggar yang menatap tajam saudara kembarnya.

"Gue sih nggak mau," sahut Abhimana.

Vincent yang tadinya diam. Akhirnya menyahut, "Gue fine-fine aja. Lagian cewek jaman sekarang yang belum pernah hs juga susah ketebak, Ga. Bahkan kebanyakan udah nggak pw gara-gara hs, bukan karena kasus-kasus macam gini."

"Gue setuju sama lo, Vin. Tapi gue nggak mau dapat yang bekas orang. Lagian juga, gue masih perjaka. Lagian juga, gue nggak pernah ngerusak anak orang," sahut Aldo.

Lingga, Vincent, Abhimana dan Aldo menatap Linggar dan Abhimata secara bergantian. "Terus lo berdua? Ikhlas? Fine-fine aja gitu?" tanya Lingga.

"Terserah takdir. Lagian gue juga bakal di jodohin. Kebiasaan Adiwangsa," jawab Abhimata pasrah yang Linggar yakini otak sepupunya itu memikirkan nasib Cassia.

"Nggak gitu juga, Bro. Yang nikah kan elo, mana bisa lo nggak nentuin istri." Pandangan Lingga beralih pada Linggar. "Terus lo, Gar?"

"Sama. Tergantung takdir. Kalau gue dapat yang pw yang bersyukur, kalau enggak juga gue bakal terima. Tergantung dulu alasan dia hilang pw gara-gara apa. Kalau hs, kayaknya gue mikir-mikir dulu," jawab Linggar.

Abhimata menyahut lagi. "Tapi di istilah kedokteran keperawanan itu sebenarnya nggak ada lo, Ga. Kalau periksa pun biasanya hasil test nentuin cewek itu pernah se*ks atau enggak aja. Bukan pekara selaput darah."

Lingga mengangguk. "Emang. Bokap gue pernah kasih tahu kok."

"Terus kenapa lo kasih pertanyaan kayak gini, hah?" sahut Abhimana agak jengkel.

"Nggak pa-pa."

"Mungkin maksudnya biar otak lo waras, Abhimana," sahut Aldo dengan terkekeh.

Sekejap saja Linggar kembali lagi. Pikirannya sudah di dunia sekarang saat mendengar gawainya bergetar, karena notifikasi dari Lingga yang enggan ia baca.

Lagi pula jika di pikir-pikir lagi oleh Linggar, hal-hal seperti ini wajar jika sebagain berbeda pendapat. Bahkan Aldo menjawab dengan lantang untuk tidak ingin memiliki istri yang pernah berhubungan intim. Dan alasan Aldo pun sangat jelas.

"Tapi kalau pikiran lo gitu terus. Lo bakalan susah dapat istri, Do," gumam Linggar yang ia peruntukan untuk Aldo.

[.]

Note:

Di Beda Tiga Tahun saya pernah ceritakan kalau Vincent nggak punya kepercayaan. Jadi kalau dia punya klub malam, karaoke bahkan merangka menjadi tempat pe*lacuran jangan heran. Di dunia nyata pun juga gini.

Tapi kalau kalian tanya, "Apa nanti Vincent bakal dapat hidayah?"

Ya mungkin bisa. Karena di dunia nyata banyak psk yang bertaubat kok. Saya lihat sendiri.

.

Oh iya sejauh ini. Harshada akan menjadi tema cerita terberat saya. Karena harus memposisikan diri sebagai Shanum yang traumatik. Lalu sisi lainnya memposisikan diri sebagai Linggar yang notabenenya laki-laki normal. Kalian tahu lah maksud saya.

Jangan mikir cerita ini nggak ada romancenya. Ada kok, ada. Cuma masalahnya Shanum ini trauma nggak bisa dong langsung apa-apa mau di sentuh mau gini lah gini lah. Semua butuh proses.

.

Jadi sebelum lanjut ke episode selanjutnya. Buat Kak Kejora hikss ... saya terharu dapat komen gitu. Bahkan buat kalian semua yang kasih vote+hadiah saya senang. Tapi terkadang dapat komentar itu ... lebih membuat saya semangat karena jujur beberapa hari ini saya writer block sama sekali nggak nulis, tapi pas dapat komen dari pembaca rasa ingin menulis kembali lagi. Terima kasih untuk kalian semua🤍🌹

Terpopuler

Comments

Laksmi Amik

Laksmi Amik

bagus ceritanya tp bacanya hrs sedikit meyelami biar paham karakter masing" peran

2024-01-13

1

Yuyun ImroatulWahdah

Yuyun ImroatulWahdah

semangat kak, novelnya bagus,, jujur bosen banget liat novel yg dari judul aja tuh udah vulgar, ya bukan gx suka romens, tapi kadang dari cerita yg udah bagus aja kadang2 "itu" cuma bumbu,, dan cerita Kaka ini aku banget sih

2022-07-23

3

rumi

rumi

semangat kak,baru Nemu novel wiyati bagus banget ceritanya
kayak real

2022-06-09

1

lihat semua
Episodes
1 Satu : Pernikahan Tersembunyi
2 Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3 3 : Anak Dan Suami.
4 4 : Hak Dan Kewajiban
5 5 : Ucapan Sambara.
6 6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7 7 : Setara
8 8 : Ingatan Linggar.
9 9 : Bukan Salah Linggar.
10 10 : Kesengajaan.
11 11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12 12 : Bekas Orang Lain.
13 13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14 14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15 15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16 16 :
17 17: Gistara Dan Gumira
18 18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19 19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20 20 : Cassia Upasama.
21 21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22 21 (2) : Pengakuan Shanum.
23 22 :
24 23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25 24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26 25 : Pujian Linggar.
27 26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28 27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29 28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30 29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31 30 : Linggar Murka Pada Lingga
32 31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33 32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34 33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35 34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36 35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37 36 : Sentuhan.
38 37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39 Garis Keturunan Adiwangsa
40 38 : Bersiap Untuk Berangkat
41 39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42 40 : Ibu Kandung Shanum.
43 41 : Ulah Shanum.
44 42 : Tegang.
45 43 : I Would Love You
46 44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47 45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48 46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49 47 : Bulan Madu (1)
50 48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51 49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52 50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53 51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54 52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55 53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56 54 : Keluarga Citaprasada.
57 55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58 56 : Di Kamar Hotel Saja.
59 57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60 58 : Salahku Bukan Salahmu.
61 59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62 60 : Tiba-tiba Pulang.
63 61 : Tiba Di Surabaya.
64 62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65 63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66 64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67 65 : -
68 66 :
69 67 : Surat Dari (M)
70 68 : Jatuh Berdua Lagi.
71 69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72 70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73 71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74 72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75 73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76 74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77 75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78 76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79 76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80 77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81 78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82 79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83 80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84 81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85 82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86 83 : -
87 Sedikit Pemberitahuan.
88 84 : Ke Klinik.
89 85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90 86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91 87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92 88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93 89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94 90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95 91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96 92 : Pengakuan Mesya.
97 93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98 94 : Ketidakjelasan Shanum.
99 95
100 96
101 97
102 98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103 99
104 100 [Pergi]
105 101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106 102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107 103 [Beban Orang-orang]
108 104
109 105
110 106
111 107 [Mengandung?]
112 108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113 108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114 109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115 109 (2)
116 110 (1)
117 110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118 111 (1)
119 111 (2)
120 112 (1)
121 112 (2) Hidden Twin.
122 113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123 113 (2) : POV Shanum.
124 114 (1)
125 114 (2)
126 Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Satu : Pernikahan Tersembunyi
2
Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3
3 : Anak Dan Suami.
4
4 : Hak Dan Kewajiban
5
5 : Ucapan Sambara.
6
6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7
7 : Setara
8
8 : Ingatan Linggar.
9
9 : Bukan Salah Linggar.
10
10 : Kesengajaan.
11
11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12
12 : Bekas Orang Lain.
13
13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14
14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15
15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16
16 :
17
17: Gistara Dan Gumira
18
18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19
19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20
20 : Cassia Upasama.
21
21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22
21 (2) : Pengakuan Shanum.
23
22 :
24
23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25
24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26
25 : Pujian Linggar.
27
26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28
27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29
28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30
29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31
30 : Linggar Murka Pada Lingga
32
31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33
32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34
33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35
34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36
35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37
36 : Sentuhan.
38
37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39
Garis Keturunan Adiwangsa
40
38 : Bersiap Untuk Berangkat
41
39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42
40 : Ibu Kandung Shanum.
43
41 : Ulah Shanum.
44
42 : Tegang.
45
43 : I Would Love You
46
44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47
45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48
46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49
47 : Bulan Madu (1)
50
48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51
49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52
50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53
51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54
52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55
53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56
54 : Keluarga Citaprasada.
57
55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58
56 : Di Kamar Hotel Saja.
59
57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60
58 : Salahku Bukan Salahmu.
61
59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62
60 : Tiba-tiba Pulang.
63
61 : Tiba Di Surabaya.
64
62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65
63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66
64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67
65 : -
68
66 :
69
67 : Surat Dari (M)
70
68 : Jatuh Berdua Lagi.
71
69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72
70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73
71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74
72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75
73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76
74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77
75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78
76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79
76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80
77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81
78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82
79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83
80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84
81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85
82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86
83 : -
87
Sedikit Pemberitahuan.
88
84 : Ke Klinik.
89
85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90
86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91
87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92
88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93
89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94
90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95
91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96
92 : Pengakuan Mesya.
97
93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98
94 : Ketidakjelasan Shanum.
99
95
100
96
101
97
102
98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103
99
104
100 [Pergi]
105
101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106
102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107
103 [Beban Orang-orang]
108
104
109
105
110
106
111
107 [Mengandung?]
112
108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113
108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114
109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115
109 (2)
116
110 (1)
117
110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118
111 (1)
119
111 (2)
120
112 (1)
121
112 (2) Hidden Twin.
122
113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123
113 (2) : POV Shanum.
124
114 (1)
125
114 (2)
126
Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!