18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan

"Tadi bicara apa aja sama Kak Fale?" tanya Linggar.

Shanum menatap arah jalan. "Kakak kamu cerita. Katanya mau di lamar sama laki-laki. Tapi laki-laki ... religius gitu. Katanya Kakak ngerasa nggak pantas buat dia."

"Oh ya? Kakak cerita ke kamu?" Linggar menghentikan mobil saat terlihat lampu merah.

Shanum mengangguk. "Iya. Laki-laki itu anaknya ustad. Kayak menantunya Om Tama, punya pesantren juga."

"Terus dia insecure gitu?"

"Iya. Aku ... kalau jadi Kak Fale juga bakalan ngerasa nggak pantas," jawab Shanum. "Lagi pula, masih ada yang lebih baik, dan lebih pantas."

Linggar terkekeh pelan dan menggeleng. "Kadang-kadang aku nggak ngerti lho, Sayang."

"Nggak ngerti apa?"

"Sama pikiran perempuan." Linggar menatap lampu lagi, ternyata masih merah. Ia beralih mata pada sang istri. "Kayak aneh. Kalian memberi label pada diri sendiri dengan kata tidak pantas. Padahal Sayang ... cara pandang laki-laki yang sudah menjatuhkan hati pada wanita itu enggak peduli kasta, atau apapun."

Lampu hijau. Mobil BMW yang di tunganggi Linggar kembali berjalan. "Gitu?" tanya Shanum.

"Iya. Tapi ... nggak sepenuhnya. Ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan dulu, apalagi sampai ke jenjang pernikahan," jawab Linggar.

"Pertimbangan yang bagaimana?"

Linggar melirik Shanum. "Ya kita tinggal lihat aja. Cara bicara, cara mengeloh uang, cara menyelesaikan masalah dan lain-lainya. Kalau  perempuan itu dalam kategori baik secara emosi, beberapa persen sudah lulus seleksi lah. Selanjutnya dalam berbicara, kalau perempuan itu bisa di ajak berkomunikasi dengan baik, dan benar. Atau kasarnya nggak lamban atau ... bodoh? Kita bisa langsung tertarik pada percakapan pertama."

"Semacam ... jatuh hati pada beautiful mind?"

Linggar mengangguk setuju.

"Banyak lho, Sayang. Laki-laki yang lebih mementingkan otak. Kayak gimana ya ... tubuh dan wajah bisa di rawat. Sedangkan pikiran? Isi otak? Ya aku tahu bisa di asa, bisa belajar, tapi kalau udah belajar masih nggak nyambung sama topik-topik yang ingin di bahas ya ... percuma," ujar Linggar yang menghentikan mobil lagi saat lampu merah menyala. "Kembali lagi ke tadi. Pantas nggak pantasnya perempuan untuk di jadikan istri yang bisa nilai yang diri kita sendiri sebagai laki-laki."

"Kayak semacam feeling langsung bilang, 'wah perempuan ini pantas jadi istri gue', 'pantas jadi ibu dari anak-anak gue'. Intinya gitu lah," lanjut Linggar.

Shanum mengangguk-angguk. "Tapi buat ngerasa insecure juga nggak salah, kan, Linggar?"

"Salah. Buat apa perempuan ngerasa insecure? Kalau memang ngerasa nggak pantas, ya semangat dong. Memantaskan diri. Ngapain capek-capek meratapi, dan ngerasa nggak percaya diri?" Linggar menjalankan mobilnya, dan membelok ke kiri yang telah memasuki wilayah perumahan.

"Kamu benar soal memantaskan diri. Tapi nggak ada salahnya perempuan merasa rendah." Shanum memandang ke arah jendela. "Bahkan aku yang jelas-jelas tahu kamu mencintaiku saja, aku masih ngerasa nggak pantas buat kamu, Linggar."

Linggar menengok sejenak.

"Semua manusia nggak akan pernah merasa pantas untuk manusia lainnya. Karena kalau kamu mau aku jujur, aku juga nggak merasa pantas untuk jadi suami kamu, Sayang. Aku juga merasa rendah, ada beberapa hal-hal unggul di keluarga kamu dan diri kamu yang buat aku merasa nggak pantas," jelas Linggar. "Begitu juga dengan Kak Faleesha. Begitu juga, lagi dengan laki-laki yang akan melamar Kak Faleesha. Pasti keduanya merasa ketidakpantasan entah karena perbedaan ilmu, kasta atau mungkin lingkungan."

"Jadi wajar-wajar saja. Tinggal kita yang memantaskan diri semampu mungkin," sambung Linggar.

Kak Fale

Shanum.

Kening Shanum mengerut saat membaca satu pesan masuk yang hanya bertuliskan namanya saja tidak ada tujuan yang jelas dari Kak Faleesha.

^^^Shanum^^^

^^^Iya. Ada apa, Kak?^^^

Kak Fale

(Kirim gambar)

Kakak cantik nggak sih pakai kerudung?

Shanum masih diam menatapi pesan masuk dengan foto Kak Faleesha menggunakan kerudung maroon pashmina. Namun tidak lama kemudian, panggilan masuk dari Kak Faleesha terdengar.

"Ha-eh assalamualaikum!"

Shanum tersenyum tipis. "Waalaikumussalam, Kak. Ada apa, Kak?"

"Kamu tanya ada apa? Kakak kirim pesan dari tadi nggak di balas-balas padahal online," ujar Kak Faleesha yang sepertinya kesal.

"Ini ... aku mau balas, Kak."

Kak Faleesha berujar, "Menurut kamu gimana?"

"Cantik. Tapi ... kalau a-aku boleh---"

"Boleh!" sanggah Kak Faleesha. "Apa?"

"Sebenarnya, Kak. Berjilbab itu ... semacam menutupi diri kita dari kecantikan yang kita punya." Shanum menjeda. "Kakak memang sudah cantik. Mau segimanapun juga penampilan Kakak nggak akan merubah apapun. Tapi ... tertutup ... memang lebih baik. Jadi ... baiknya Kakak nggak akan mengumbar sesuatu yang ada di diri Kakak."

Kak Faleesha berdeham di seberang. "Tapi, Shanum ... temen-temen Kakak bilang orang semacam ... laki-laki yang melamar Kakak itu cenderung suka mengatur. Contoh kecilnya, mungkin dia akan mengatur soal pakaian."

Shanum masih diam, memilih mendengar.

"Sebenarnya Kakak nggak akan keberatan soal pengaturan pakaian. Lagi pula sebelum ... laki-laki itu berniat melamar Kakak. Kakak sudah punya niat untuk berpakaian tertutup," lanjut Kak Faleesha.

Shanum berkata, "Lalu Kakak merasa ragu sama laki-laki itu?"

"Enggak." Kak Faleesha menjeda. "Mungkin yang merasa ragu itu, teman-teman Kakak dan ya ... apa mungkin juga hati kecil Kakak, ya? Karena lagi-lagi Kakak ngerasa nggak pantas. Belum lagi, bagaimana pikiran saudara-saudaranya? Dia punya adik perempuan juga, adik perempuan dia pasti mikir. Gimana bisa Masnya dapat istri semacam Kakak?"

Shanum menghela napas. "Kak ... coba aja Kakak ibaratkan sewaktu aku datang ke keluarga Kakak gimana sambutan Kakak, dan pikiran Kakak juga?"

Kak Faleesha tiba-tiba saja membisu.

Shanum bingung. Bahkan sampai lima belas detik berlalu Kak Faleesha tidak mengeluarkan sepatah kata pun lagi. Padahal saat Shanum lihat panggilan ini masih tersambung.

"Kak ..."

Tit. Panggilan berakhir.

"Kak ... coba aja Kakak ibaratkan sewaktu aku datang ke keluarga Kakak gimana sambutan Kakak, dan pikiran Kakak juga?"

Linggar mengurungkan niatnya memasuki kamar saat Shanum mengajukan pertanyaan itu untuk Kakaknya. Seketika saja sekelebat ingatannya dulu terulang, yang menjadi alasan Kak Faleesha terdiam. Bahkan tidak segan mengakhiri panggilan.

"Lo beneran mau nikah sama Adiknya Sambara?" tanya Kak Faleesha yang baru saja datang langsung memasuki kamar adiknya.

Linggar menjawab, "Iya."

"Linggar ... lo ... astaga lo beneran?"

"Menurut lo? Buat apa gue ajak Papa temui Kak Sambara kalau gue nggak beneran mau nikahi Shanum," jelas Linggar.

Kak Faleesha menggeleng tidak habis pikir. "Linggar, lo nggak lupa, kan? Dia korban dari kasus ruda paksa. Lo mau nikahi dia?"

"Apa masalahnya sama lo, Kak?"

"Lo mikir dong. Kalau orang-orang tahu lo nikahi dia, lo bakalan jadiin keluarga kita bahan berita baru dari wartawan." Kak Faleesha menyentak lengan Linggar supaya menghadapnya. "Linggar, denger nggak sih lo?! Kalau Kakek tahu pun beliau nggak bakalan izin lo nikah sama cewek kayak gitu!"

Linggar menatap Kakaknya datar.

"Belum lagi dia anak Om Jaiz sama pe*lacur. Lo nggak paham-paham, hah? Citra keluarga kita bakalan rusak gara-gara lo nikahi cewek itu," lanjut Kak Faleesha.

"Lo ngomong seakan-akan lo luput dari dosa-dosa, Kak." Linggar melepas tangan Kakaknya yang berada di lengan perlahan. "Lo ngerasa pantes ngomong kayak gini, Kak? Lo ini cewek. Kuadrat lo sama Shanum itu sama. Lo bisa-bisanya nggak punya empati."

Kak Faleesha tercengang.

"Lagi pula yang nikah gue. Bukan lo, bukan Mama, bukan juga keluarga besar kita. Yang butuh bahagia seumur hidup itu gue, Kak." Linggar menatap dalam mata Kakaknya. "Lo nggak bisa nyimpulin seorang anak itu nggak bener cuma karena Ibunya pe*lacur. Lo juga nggak bisa nyimpulin seorang anak itu bener cuma karena Bapaknya ustadz."

"Lo sekolah tinggi-tinggi aja nggak bisa paham buat apa, Kak? Pemikiran lo ini ... gila ... lo nggak jauh beda sama orang yang bisanya---"

"Linggar!" sanggah Kak Faleesha.

"Apa?" Linggar menghela napas berat. Ia mengatur emosinya supaya tidak meledak-ledak. Kemudian menatap Kakaknya lembut. "Shanum itu hidup gue, Kak. Lo nggak akan pernah bisa lihat gue berdiri di sini lagi kalau bukan karena Shanum. Dan satu lagi, apa menurut lo, Shanum itu nggak baik? Lo belum coba kenal dia, Kak. Lo belum ngobrol banyak. Gue minta tolong ... berhenti berpikir seolah-olah gue milih Shanum sebagai ipar lo itu salah. Padahal dalam pandangan Papa pun, Shanum baik, Shanum lebih dari sekedar cukup melengkapi hidup gue, Kak."

"Linggar?"

Seketika Linggar tersadar saat suara lembut dari Shanum memasuki gendang telinganya. "Ya, Sayang?"

"Kamu ngapain berdiri di depan pintu?"

Linggar menggeleng. "Nggak pa-pa. Aku cuma nggak mau ganggu kamu ngobrol sama Kak Faleesha."

"Ooh. Aku selesai kok telepon sama Kak Fale." Shanum menelan ludahnya. "Ohiya. Aku ... mau tanya."

"Tanya apa?"

"Soal ..." Shanum melirik ke arah lain. "Bulan madu."

[.]

Terpopuler

Comments

Santidew

Santidew

LINGGAR HUWAAA

2022-09-06

1

Santidew

Santidew

parah falesha

2022-09-06

1

Bintang kejora

Bintang kejora

Bnr bngt tuh Thor. Biasanya manusia hnya bs menilai org lain dr luarnya saja, apa yg diliat & didengarnya. Mrk lgsg menyimpulkan sendiri tnpa pnah berusaha tuk mengenal lbh dekat org tsb.
Pernikahan..., bebet bibit bobot. Biasanya itu yg mnjdi bahan pertimbangan tuk ortu menerima pasangan hidup anaknya, pdhal ketiga hal itu blm menjamin kebahagiaan dlm pernikahan.
Pernikahan bkn akhir dr perjalanan cinta, tp itulah awal dr perjalanan cinta itu sendiri tuk bs tumbuh & berkembang dg kedewasaan yg mana keduanya hrs trs mnrs belajar & belajar tuk bs meraih cinta yg sesungguhnya yaitu Cinta Lillahi Robbi semata² mencari keridhoanNya hingga ke Jannah.




Lanjuuuut Thor...

2022-06-14

4

lihat semua
Episodes
1 Satu : Pernikahan Tersembunyi
2 Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3 3 : Anak Dan Suami.
4 4 : Hak Dan Kewajiban
5 5 : Ucapan Sambara.
6 6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7 7 : Setara
8 8 : Ingatan Linggar.
9 9 : Bukan Salah Linggar.
10 10 : Kesengajaan.
11 11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12 12 : Bekas Orang Lain.
13 13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14 14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15 15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16 16 :
17 17: Gistara Dan Gumira
18 18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19 19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20 20 : Cassia Upasama.
21 21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22 21 (2) : Pengakuan Shanum.
23 22 :
24 23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25 24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26 25 : Pujian Linggar.
27 26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28 27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29 28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30 29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31 30 : Linggar Murka Pada Lingga
32 31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33 32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34 33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35 34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36 35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37 36 : Sentuhan.
38 37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39 Garis Keturunan Adiwangsa
40 38 : Bersiap Untuk Berangkat
41 39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42 40 : Ibu Kandung Shanum.
43 41 : Ulah Shanum.
44 42 : Tegang.
45 43 : I Would Love You
46 44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47 45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48 46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49 47 : Bulan Madu (1)
50 48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51 49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52 50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53 51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54 52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55 53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56 54 : Keluarga Citaprasada.
57 55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58 56 : Di Kamar Hotel Saja.
59 57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60 58 : Salahku Bukan Salahmu.
61 59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62 60 : Tiba-tiba Pulang.
63 61 : Tiba Di Surabaya.
64 62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65 63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66 64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67 65 : -
68 66 :
69 67 : Surat Dari (M)
70 68 : Jatuh Berdua Lagi.
71 69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72 70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73 71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74 72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75 73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76 74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77 75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78 76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79 76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80 77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81 78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82 79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83 80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84 81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85 82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86 83 : -
87 Sedikit Pemberitahuan.
88 84 : Ke Klinik.
89 85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90 86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91 87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92 88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93 89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94 90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95 91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96 92 : Pengakuan Mesya.
97 93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98 94 : Ketidakjelasan Shanum.
99 95
100 96
101 97
102 98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103 99
104 100 [Pergi]
105 101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106 102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107 103 [Beban Orang-orang]
108 104
109 105
110 106
111 107 [Mengandung?]
112 108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113 108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114 109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115 109 (2)
116 110 (1)
117 110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118 111 (1)
119 111 (2)
120 112 (1)
121 112 (2) Hidden Twin.
122 113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123 113 (2) : POV Shanum.
124 114 (1)
125 114 (2)
126 Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Satu : Pernikahan Tersembunyi
2
Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3
3 : Anak Dan Suami.
4
4 : Hak Dan Kewajiban
5
5 : Ucapan Sambara.
6
6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7
7 : Setara
8
8 : Ingatan Linggar.
9
9 : Bukan Salah Linggar.
10
10 : Kesengajaan.
11
11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12
12 : Bekas Orang Lain.
13
13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14
14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15
15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16
16 :
17
17: Gistara Dan Gumira
18
18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19
19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20
20 : Cassia Upasama.
21
21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22
21 (2) : Pengakuan Shanum.
23
22 :
24
23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25
24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26
25 : Pujian Linggar.
27
26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28
27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29
28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30
29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31
30 : Linggar Murka Pada Lingga
32
31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33
32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34
33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35
34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36
35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37
36 : Sentuhan.
38
37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39
Garis Keturunan Adiwangsa
40
38 : Bersiap Untuk Berangkat
41
39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42
40 : Ibu Kandung Shanum.
43
41 : Ulah Shanum.
44
42 : Tegang.
45
43 : I Would Love You
46
44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47
45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48
46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49
47 : Bulan Madu (1)
50
48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51
49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52
50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53
51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54
52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55
53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56
54 : Keluarga Citaprasada.
57
55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58
56 : Di Kamar Hotel Saja.
59
57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60
58 : Salahku Bukan Salahmu.
61
59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62
60 : Tiba-tiba Pulang.
63
61 : Tiba Di Surabaya.
64
62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65
63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66
64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67
65 : -
68
66 :
69
67 : Surat Dari (M)
70
68 : Jatuh Berdua Lagi.
71
69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72
70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73
71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74
72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75
73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76
74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77
75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78
76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79
76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80
77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81
78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82
79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83
80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84
81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85
82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86
83 : -
87
Sedikit Pemberitahuan.
88
84 : Ke Klinik.
89
85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90
86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91
87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92
88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93
89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94
90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95
91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96
92 : Pengakuan Mesya.
97
93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98
94 : Ketidakjelasan Shanum.
99
95
100
96
101
97
102
98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103
99
104
100 [Pergi]
105
101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106
102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107
103 [Beban Orang-orang]
108
104
109
105
110
106
111
107 [Mengandung?]
112
108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113
108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114
109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115
109 (2)
116
110 (1)
117
110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118
111 (1)
119
111 (2)
120
112 (1)
121
112 (2) Hidden Twin.
122
113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123
113 (2) : POV Shanum.
124
114 (1)
125
114 (2)
126
Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!