"Tadi bicara apa aja sama Kak Fale?" tanya Linggar.
Shanum menatap arah jalan. "Kakak kamu cerita. Katanya mau di lamar sama laki-laki. Tapi laki-laki ... religius gitu. Katanya Kakak ngerasa nggak pantas buat dia."
"Oh ya? Kakak cerita ke kamu?" Linggar menghentikan mobil saat terlihat lampu merah.
Shanum mengangguk. "Iya. Laki-laki itu anaknya ustad. Kayak menantunya Om Tama, punya pesantren juga."
"Terus dia insecure gitu?"
"Iya. Aku ... kalau jadi Kak Fale juga bakalan ngerasa nggak pantas," jawab Shanum. "Lagi pula, masih ada yang lebih baik, dan lebih pantas."
Linggar terkekeh pelan dan menggeleng. "Kadang-kadang aku nggak ngerti lho, Sayang."
"Nggak ngerti apa?"
"Sama pikiran perempuan." Linggar menatap lampu lagi, ternyata masih merah. Ia beralih mata pada sang istri. "Kayak aneh. Kalian memberi label pada diri sendiri dengan kata tidak pantas. Padahal Sayang ... cara pandang laki-laki yang sudah menjatuhkan hati pada wanita itu enggak peduli kasta, atau apapun."
Lampu hijau. Mobil BMW yang di tunganggi Linggar kembali berjalan. "Gitu?" tanya Shanum.
"Iya. Tapi ... nggak sepenuhnya. Ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan dulu, apalagi sampai ke jenjang pernikahan," jawab Linggar.
"Pertimbangan yang bagaimana?"
Linggar melirik Shanum. "Ya kita tinggal lihat aja. Cara bicara, cara mengeloh uang, cara menyelesaikan masalah dan lain-lainya. Kalau perempuan itu dalam kategori baik secara emosi, beberapa persen sudah lulus seleksi lah. Selanjutnya dalam berbicara, kalau perempuan itu bisa di ajak berkomunikasi dengan baik, dan benar. Atau kasarnya nggak lamban atau ... bodoh? Kita bisa langsung tertarik pada percakapan pertama."
"Semacam ... jatuh hati pada beautiful mind?"
Linggar mengangguk setuju.
"Banyak lho, Sayang. Laki-laki yang lebih mementingkan otak. Kayak gimana ya ... tubuh dan wajah bisa di rawat. Sedangkan pikiran? Isi otak? Ya aku tahu bisa di asa, bisa belajar, tapi kalau udah belajar masih nggak nyambung sama topik-topik yang ingin di bahas ya ... percuma," ujar Linggar yang menghentikan mobil lagi saat lampu merah menyala. "Kembali lagi ke tadi. Pantas nggak pantasnya perempuan untuk di jadikan istri yang bisa nilai yang diri kita sendiri sebagai laki-laki."
"Kayak semacam feeling langsung bilang, 'wah perempuan ini pantas jadi istri gue', 'pantas jadi ibu dari anak-anak gue'. Intinya gitu lah," lanjut Linggar.
Shanum mengangguk-angguk. "Tapi buat ngerasa insecure juga nggak salah, kan, Linggar?"
"Salah. Buat apa perempuan ngerasa insecure? Kalau memang ngerasa nggak pantas, ya semangat dong. Memantaskan diri. Ngapain capek-capek meratapi, dan ngerasa nggak percaya diri?" Linggar menjalankan mobilnya, dan membelok ke kiri yang telah memasuki wilayah perumahan.
"Kamu benar soal memantaskan diri. Tapi nggak ada salahnya perempuan merasa rendah." Shanum memandang ke arah jendela. "Bahkan aku yang jelas-jelas tahu kamu mencintaiku saja, aku masih ngerasa nggak pantas buat kamu, Linggar."
Linggar menengok sejenak.
"Semua manusia nggak akan pernah merasa pantas untuk manusia lainnya. Karena kalau kamu mau aku jujur, aku juga nggak merasa pantas untuk jadi suami kamu, Sayang. Aku juga merasa rendah, ada beberapa hal-hal unggul di keluarga kamu dan diri kamu yang buat aku merasa nggak pantas," jelas Linggar. "Begitu juga dengan Kak Faleesha. Begitu juga, lagi dengan laki-laki yang akan melamar Kak Faleesha. Pasti keduanya merasa ketidakpantasan entah karena perbedaan ilmu, kasta atau mungkin lingkungan."
"Jadi wajar-wajar saja. Tinggal kita yang memantaskan diri semampu mungkin," sambung Linggar.
Kak Fale
Shanum.
Kening Shanum mengerut saat membaca satu pesan masuk yang hanya bertuliskan namanya saja tidak ada tujuan yang jelas dari Kak Faleesha.
^^^Shanum^^^
^^^Iya. Ada apa, Kak?^^^
Kak Fale
(Kirim gambar)
Kakak cantik nggak sih pakai kerudung?
Shanum masih diam menatapi pesan masuk dengan foto Kak Faleesha menggunakan kerudung maroon pashmina. Namun tidak lama kemudian, panggilan masuk dari Kak Faleesha terdengar.
"Ha-eh assalamualaikum!"
Shanum tersenyum tipis. "Waalaikumussalam, Kak. Ada apa, Kak?"
"Kamu tanya ada apa? Kakak kirim pesan dari tadi nggak di balas-balas padahal online," ujar Kak Faleesha yang sepertinya kesal.
"Ini ... aku mau balas, Kak."
Kak Faleesha berujar, "Menurut kamu gimana?"
"Cantik. Tapi ... kalau a-aku boleh---"
"Boleh!" sanggah Kak Faleesha. "Apa?"
"Sebenarnya, Kak. Berjilbab itu ... semacam menutupi diri kita dari kecantikan yang kita punya." Shanum menjeda. "Kakak memang sudah cantik. Mau segimanapun juga penampilan Kakak nggak akan merubah apapun. Tapi ... tertutup ... memang lebih baik. Jadi ... baiknya Kakak nggak akan mengumbar sesuatu yang ada di diri Kakak."
Kak Faleesha berdeham di seberang. "Tapi, Shanum ... temen-temen Kakak bilang orang semacam ... laki-laki yang melamar Kakak itu cenderung suka mengatur. Contoh kecilnya, mungkin dia akan mengatur soal pakaian."
Shanum masih diam, memilih mendengar.
"Sebenarnya Kakak nggak akan keberatan soal pengaturan pakaian. Lagi pula sebelum ... laki-laki itu berniat melamar Kakak. Kakak sudah punya niat untuk berpakaian tertutup," lanjut Kak Faleesha.
Shanum berkata, "Lalu Kakak merasa ragu sama laki-laki itu?"
"Enggak." Kak Faleesha menjeda. "Mungkin yang merasa ragu itu, teman-teman Kakak dan ya ... apa mungkin juga hati kecil Kakak, ya? Karena lagi-lagi Kakak ngerasa nggak pantas. Belum lagi, bagaimana pikiran saudara-saudaranya? Dia punya adik perempuan juga, adik perempuan dia pasti mikir. Gimana bisa Masnya dapat istri semacam Kakak?"
Shanum menghela napas. "Kak ... coba aja Kakak ibaratkan sewaktu aku datang ke keluarga Kakak gimana sambutan Kakak, dan pikiran Kakak juga?"
Kak Faleesha tiba-tiba saja membisu.
Shanum bingung. Bahkan sampai lima belas detik berlalu Kak Faleesha tidak mengeluarkan sepatah kata pun lagi. Padahal saat Shanum lihat panggilan ini masih tersambung.
"Kak ..."
Tit. Panggilan berakhir.
"Kak ... coba aja Kakak ibaratkan sewaktu aku datang ke keluarga Kakak gimana sambutan Kakak, dan pikiran Kakak juga?"
Linggar mengurungkan niatnya memasuki kamar saat Shanum mengajukan pertanyaan itu untuk Kakaknya. Seketika saja sekelebat ingatannya dulu terulang, yang menjadi alasan Kak Faleesha terdiam. Bahkan tidak segan mengakhiri panggilan.
"Lo beneran mau nikah sama Adiknya Sambara?" tanya Kak Faleesha yang baru saja datang langsung memasuki kamar adiknya.
Linggar menjawab, "Iya."
"Linggar ... lo ... astaga lo beneran?"
"Menurut lo? Buat apa gue ajak Papa temui Kak Sambara kalau gue nggak beneran mau nikahi Shanum," jelas Linggar.
Kak Faleesha menggeleng tidak habis pikir. "Linggar, lo nggak lupa, kan? Dia korban dari kasus ruda paksa. Lo mau nikahi dia?"
"Apa masalahnya sama lo, Kak?"
"Lo mikir dong. Kalau orang-orang tahu lo nikahi dia, lo bakalan jadiin keluarga kita bahan berita baru dari wartawan." Kak Faleesha menyentak lengan Linggar supaya menghadapnya. "Linggar, denger nggak sih lo?! Kalau Kakek tahu pun beliau nggak bakalan izin lo nikah sama cewek kayak gitu!"
Linggar menatap Kakaknya datar.
"Belum lagi dia anak Om Jaiz sama pe*lacur. Lo nggak paham-paham, hah? Citra keluarga kita bakalan rusak gara-gara lo nikahi cewek itu," lanjut Kak Faleesha.
"Lo ngomong seakan-akan lo luput dari dosa-dosa, Kak." Linggar melepas tangan Kakaknya yang berada di lengan perlahan. "Lo ngerasa pantes ngomong kayak gini, Kak? Lo ini cewek. Kuadrat lo sama Shanum itu sama. Lo bisa-bisanya nggak punya empati."
Kak Faleesha tercengang.
"Lagi pula yang nikah gue. Bukan lo, bukan Mama, bukan juga keluarga besar kita. Yang butuh bahagia seumur hidup itu gue, Kak." Linggar menatap dalam mata Kakaknya. "Lo nggak bisa nyimpulin seorang anak itu nggak bener cuma karena Ibunya pe*lacur. Lo juga nggak bisa nyimpulin seorang anak itu bener cuma karena Bapaknya ustadz."
"Lo sekolah tinggi-tinggi aja nggak bisa paham buat apa, Kak? Pemikiran lo ini ... gila ... lo nggak jauh beda sama orang yang bisanya---"
"Linggar!" sanggah Kak Faleesha.
"Apa?" Linggar menghela napas berat. Ia mengatur emosinya supaya tidak meledak-ledak. Kemudian menatap Kakaknya lembut. "Shanum itu hidup gue, Kak. Lo nggak akan pernah bisa lihat gue berdiri di sini lagi kalau bukan karena Shanum. Dan satu lagi, apa menurut lo, Shanum itu nggak baik? Lo belum coba kenal dia, Kak. Lo belum ngobrol banyak. Gue minta tolong ... berhenti berpikir seolah-olah gue milih Shanum sebagai ipar lo itu salah. Padahal dalam pandangan Papa pun, Shanum baik, Shanum lebih dari sekedar cukup melengkapi hidup gue, Kak."
"Linggar?"
Seketika Linggar tersadar saat suara lembut dari Shanum memasuki gendang telinganya. "Ya, Sayang?"
"Kamu ngapain berdiri di depan pintu?"
Linggar menggeleng. "Nggak pa-pa. Aku cuma nggak mau ganggu kamu ngobrol sama Kak Faleesha."
"Ooh. Aku selesai kok telepon sama Kak Fale." Shanum menelan ludahnya. "Ohiya. Aku ... mau tanya."
"Tanya apa?"
"Soal ..." Shanum melirik ke arah lain. "Bulan madu."
[.]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Santidew
LINGGAR HUWAAA
2022-09-06
1
Santidew
parah falesha
2022-09-06
1
Bintang kejora
Bnr bngt tuh Thor. Biasanya manusia hnya bs menilai org lain dr luarnya saja, apa yg diliat & didengarnya. Mrk lgsg menyimpulkan sendiri tnpa pnah berusaha tuk mengenal lbh dekat org tsb.
Pernikahan..., bebet bibit bobot. Biasanya itu yg mnjdi bahan pertimbangan tuk ortu menerima pasangan hidup anaknya, pdhal ketiga hal itu blm menjamin kebahagiaan dlm pernikahan.
Pernikahan bkn akhir dr perjalanan cinta, tp itulah awal dr perjalanan cinta itu sendiri tuk bs tumbuh & berkembang dg kedewasaan yg mana keduanya hrs trs mnrs belajar & belajar tuk bs meraih cinta yg sesungguhnya yaitu Cinta Lillahi Robbi semata² mencari keridhoanNya hingga ke Jannah.
Lanjuuuut Thor...
2022-06-14
4