8 : Ingatan Linggar.

Sengaja Linggar menawari salat zuhur berjamaah. Karena subuh ini ia salat di Masjid terdekat, dan tidak lupa setiap pulang ia membawa bubur ayam kesukaan istrinya. Suatu kebetulan juga tukang bubur itu adalah jamaah tetap di Masjid. Hingga ada sewaktu-waktu ia mengajak Shanum untuk sarapan bubur ayam bersama.

Saat memasuki rumah. Ia meminta pada pelayan, untuk menyiapkan tempat bubur. Supaya saat istrinya itu keluar kamar, sarapan sudah tersaji. Tebakan Linggar, mungkin Shanum baru saja selesai salat.

"Tuan Muda Linggar, ingin minum apa? Biar saya siapkan," ujar pelayan itu.

"Dua air putih saja."

Linggar melangkah ke kamar mereka berdua. Ia ingin memanggil istrinya itu untuk sarapan sesegera mungkin. Kakinya perlahan menaiki tangga, dan saat sampai di depan pintu. Linggar merasa pintu kamarnya bercelah, tidak tertutup rapat. Dan saat ia ingin membuka lebih lebar spontan matanya melebar saat melihat Shanum.

Dia ... belum pakai kerudung? batin Linggar.

Sejujurnya ia ingin menunduk. Bahkan ingin langsung berbalik, namun entah mengapa ia membeku. Matanya berubah membinar, saat perlahan Shanum menyisir rambut hitam panjang milik dia dengan memandang cermin.

Rambut kamu makin panjang, ya, Shanum? Kamu bahkan ... makin kelihatan cantik, batin Linggar.

Linggar langsung berbalik. Ia tidak ingin seperti ini. Ia mengatur napas dan detak jantungnya. Kemudian ia berbalik lagi dan berpura-pura mengetuk pintu.

"Sayang, kamu di dalam?"

Linggar mendengar beberapa barang jatuh. Mungkin istrinya itu panik. Bagaimana jika Shanum tahu bahwa ia telah melihat istrinya itu tanpa kerudung? Mungkinkah Shanum marah? Bagaimana juga dengan cctv Sambara? Apa Kakak iparnya akan berpikir bahwa ia kurang ajar?

"I-iya, Linggar! Tunggu, sebentar boleh?"

Linggar menjawab, "Aku nggak akan masuk kok. Aku tunggu di meja makan, ya? Aku beliin bubur ayam kesukaan kamu."

"Iya, Linggar! A-aku habis ini turun."

Jujur saja ia hanya bisa menghela napas. Setidaknya ia tidak ketahuan. Ya, walaupun sesuatu seperti ini tidak bisa di katakan mengintip kan? Karena Shanum pun adalah istrinya.

Jika di tanya sudah berapa tahun ia tidak melihat sehelai rambut Shanum. Tentunya, empat tahun dari kejadian itu. Karena pernikahannya baru terlaksana lima bulan ini, kepulangan Shanum dari Singapura, membuat istrinya itu mengambil keputusan untuk mengundur pernikahan beberapa tahun. Mungkin ... Shanum ingin melihat kesungguhan hatinya. Atau mungkin juga, Sambara berpikir bahwa ia akan melemah dan membatalkan pernikahan yang sudah ia rencanakan.

Semua orang salah.

Karena hatinya tidak ragu pada Shanum.

Gadis baik itu telah sekadar di kenalnya semenjak sekolah. Dan, Shanum adalah penyelamat nyawanya. Sekalipun ia terlahir sebagai keluarga kaya raya. Siapa yang menjamin hidupnya selamat? Jika tidak ada Shanum yang menolong?

Sekejap saja, ingatan-ingatan kecil itu menyelinap kembali pada otak Linggar.

Entah siapa yang berbuat. Entah siapa pula yang terkena sialnya. Hari itu rintik hujan mulai turun dengan tenang, tidak terlalu deras. Namun Linggar harus menghadapi situasi hidup dan mati. Karena Abhimana yang membuat masalah dengan salah satu geng motor. Anak itu memang tidak bisa diam saja menikmati hidup, ada saat-saat dia gila dan membuat Linggar terkena masalah. Hanya karena satu marga dan sekolah.

"Sialan, nggak di angkat lagi," gumam Linggar yang yang beberapa kali menghubungi Abhimata, Abhimana dan juga Lingga secara bergantian. "Ini orang pada mati apa gimana? Angkat telpon aja nggak bisa!"

"Woy! Gue tahu lo di sini!"

Linggar terkejut. Saat mengintip dari celah kecil jendela rumah kosong bekas kebakaran ini, ternyata anggota geng motor itu membawa senjata tajam; celurit.

Astaga, celurit. Mati gue kayak gini, batin Linggar. Ia berpikir untuk tidak perlu menghubungi Mama atau Papanya. Namun jika seperti ini, ia harus sesegera mungkin menelepon orang lain. Atau kalau tidak nyawanya akan teregut.

"Woy, bangsat! Cemen lo, hah? Sini lo keluar!"

Yang cemen lo bangsat! Pakai bawa senjata segala, batin Linggar kesal.

Gawainya tiba-tiba saja bergetar. Saat melihat ternyata ada panggilan, namun dari aplikasi Instagram. Siapa? El ... shanum? Citaprasada? Adiknya Bimasena? batin Linggar dengan mengerutkan kening. Sesaat kemudian, panggilan itu berakhir dan masuk lah beberapa pesan.

elshanumcitaprasada_

Kamu anak Upasama High School, kan?

Aku lihat kamu masuk ke rumah bekas kebakaran. Kamu di kejar-kejar orang?

Sialan masih tanya ini cewek! batin Linggar.

elshanumcitaprasada_

Tolong balas.

Aku cuma mau mastiin yang aku lihat kamu, bukan Lingga.

Linggar terdiam sejenak. Satu-satunya orang yang tahu adalah dia. Jadi mau tidak mau Linggar harus memohon bantuan juga pada perempuan ini.

^^^linggaradiwangsa_^^^

^^^Iya itu gue.^^^

Beberapa detik kemudian Shanum membalas.

elshanumcitaprasada_

Aku udah minta bantuan.

Nanti ada sirine polisi kedengaran, kamu bisa langsung keluar?

^^^linggaradiwangsa_^^^

^^^Bisa^^^

elshanumcitaprasada_

Nanti di ujung jalan kamu bakal lihat sedan merah.

Kamu bisa langsung masuk ke sana, itu mobil aku.

^^^linggaradiwangsa_^^^

^^^Oke^^^

"Woy!"

Akh, sialan! batin Linggar yang meringis kesakitan. Salah satu anggota geng motor itu melepas senjata tajam sembarangan. Hingga mengenai lengan tangannya. Tidak lama setelah itu, orang yang melempar hendak mendekat. Namun tertahan saat sirine polisi terdengar. Linggar merasa lega sejenak, kalau tidak orang itu akan menemukannya saat melihat darah di belati itu.

"Gue harus kabur! Cewek itu berhasil," gumam Linggar dengan menyentuh lengannya.

Saat ia lari keluar. Ia tidak melihat polisi sama sekali. Lalu bagaimana bisa sirine sekencang itu terdengar, bukan dari gawai, ia tahu betul.

Tin! Tin!

Linggar menoleh. "Itu mobil dia?"

Linggar berlari sekuat tenaga. Hingga masuk ke dalam mobil itu dengan meringis ia langsung bertemu tatapan dengan gadis itu.

"Kamu berdarah?" tanya Shanum.

Gila ... dia cantik, batin Linggar yang langsung tersadar dan memasang wajah datar. "Lo lihat sendiri, kan?"

"Aku cari tempat yang aman dulu. Kamu bisa tahan sebentar? Aku takut mereka datang lagi," ujar Shanum.

Linggar hanya berdeham. Dan mobil melaju, meninggalkan jalan sekitar rumah kosong. Shanum yang tadinya terdiam akhirnya bertanya, "Kamu kenapa bisa di kejar sama orang-orang yang bawa senjata gitu?"

"Gue nggak tahu."

Shanum terdiam. Anak-anak sekolah benar, bahwa Linggar adalah orang yang tidak bisa di ajak berbicara dengan baik, jika bukan dia yang memulainya.

"Aku kira tadi Lingga. Mukamu sama dia sekilas mirip, cuma bedanya Lingga sering senyum," lanjut Shanum lagi. "Maaf, sebelumnya. Kalau aku banyak bicara."

"Iya," jawab Linggar singkat.

Mobil tiba-tiba berhenti di warung jalan terdekat. Linggar pernah melewati ini.

"Sini tanganmu. Aku obati," ujar Shanum, yang ragu-ragu menarik tangan Linggar. "Kamu nggak mau deketan? Aku susah ngobatinnya. Atau kalau kamu nggak mau. Aku antar kamu ke klinik---"

"Nggak usah." Linggar mendekatkan diri pada Shanum. "Pelan-pelan. Tolong."

"Iya."

"Oh iya." Shanum memulai mengobati lengan Linggar perlahan-lahan untungnya luka ini hanya goreng panjang tidak terlalu dalam. "Namaku Shanum. Salam kenal. Aku seangkatan sama kamu, cuma kita beda kelas."

"Ya. Salam kenal."

"Kamu nggak di jemput?" Shanum menjeda. "Dulu waktu masih kelas sepuluh aku lihat kamu sama Lingga di antar jemput. Sekarang enggak?"

"Enggak."

"Ooh. Terus Lingga ke mana? Kenapa ninggalin kamu sendiri?"

Linggar menjawab, "Lo pengen tahu banget?"

"Aku cuma tanya." Shanum telah membuka perban dan mulai memutari lengan Linggar. "Aku kepikiran aja kalau tadi nggak ada aku, kamu bakal di tolong siapa?"

"Lo merasa pahlawan banget ya habis nolongin gue," sahut Linggar cepat.

Shanum menggeleng. "Enggak. Aku kan udah bilang, kalau aku kepikiran aja. Aku nolong kamu juga, karena aku kebetulan lihat kamu lari ke rumah kosong itu."

"Udah. Lukamu udah aku obatin." Shanum menatap lagi. "Kamu mau di anterin ke mana?"

"Jalan aja. Gue tunjukkin arahnya."

Bajunya terasa di tarik oleh seseorang. Hingga lamunannya buyar, terpecah ke mana-mana. Saat ia menengok, ternyata Shanum sedang menatapnya.

"Ada apa, Sayang?"

Shanum bertanya, "Kamu yang ada apa, Linggar? Kenapa diam aja aku panggil?"

"Hm?" Linggar menggeleng. "Aku nggak pa-pa."

"Terus kenapa kamu diam di tangga gini?"

"Nungguin kamu," elak Linggar.

Shanum menatap Linggar sejenak. "Ya udah. Ayo, turun. Aku udah di sini."

.

Note:

Face Shanum nih kayak Hinata Hyuga gitu aku bayanginnya. Intinya kalem, anggun gitu deh pokoknya. Rambut dia juga panjang gitu, bedanya Shanum warna hitam. Bentuk tubuhnya juga sama. Kalau Linggar? Masih tidak bisa menemukan visual yang terbayang.

Terpopuler

Comments

Yuyun ImroatulWahdah

Yuyun ImroatulWahdah

Linggar Sasuke Thor🤭😂
Hinata cocok sih,,

2022-07-23

1

Yen Lamour

Yen Lamour

Kondisi shanum linggar yg skrg jd kebalik ya, linggar lbh byk ngmng drpd shanum 😊

2022-06-01

0

Rama Sakha Samosir

Rama Sakha Samosir

gk usah pake visual🤭🤭🤭

2022-05-17

1

lihat semua
Episodes
1 Satu : Pernikahan Tersembunyi
2 Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3 3 : Anak Dan Suami.
4 4 : Hak Dan Kewajiban
5 5 : Ucapan Sambara.
6 6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7 7 : Setara
8 8 : Ingatan Linggar.
9 9 : Bukan Salah Linggar.
10 10 : Kesengajaan.
11 11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12 12 : Bekas Orang Lain.
13 13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14 14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15 15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16 16 :
17 17: Gistara Dan Gumira
18 18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19 19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20 20 : Cassia Upasama.
21 21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22 21 (2) : Pengakuan Shanum.
23 22 :
24 23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25 24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26 25 : Pujian Linggar.
27 26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28 27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29 28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30 29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31 30 : Linggar Murka Pada Lingga
32 31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33 32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34 33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35 34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36 35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37 36 : Sentuhan.
38 37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39 Garis Keturunan Adiwangsa
40 38 : Bersiap Untuk Berangkat
41 39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42 40 : Ibu Kandung Shanum.
43 41 : Ulah Shanum.
44 42 : Tegang.
45 43 : I Would Love You
46 44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47 45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48 46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49 47 : Bulan Madu (1)
50 48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51 49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52 50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53 51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54 52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55 53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56 54 : Keluarga Citaprasada.
57 55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58 56 : Di Kamar Hotel Saja.
59 57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60 58 : Salahku Bukan Salahmu.
61 59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62 60 : Tiba-tiba Pulang.
63 61 : Tiba Di Surabaya.
64 62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65 63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66 64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67 65 : -
68 66 :
69 67 : Surat Dari (M)
70 68 : Jatuh Berdua Lagi.
71 69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72 70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73 71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74 72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75 73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76 74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77 75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78 76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79 76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80 77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81 78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82 79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83 80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84 81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85 82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86 83 : -
87 Sedikit Pemberitahuan.
88 84 : Ke Klinik.
89 85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90 86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91 87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92 88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93 89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94 90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95 91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96 92 : Pengakuan Mesya.
97 93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98 94 : Ketidakjelasan Shanum.
99 95
100 96
101 97
102 98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103 99
104 100 [Pergi]
105 101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106 102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107 103 [Beban Orang-orang]
108 104
109 105
110 106
111 107 [Mengandung?]
112 108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113 108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114 109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115 109 (2)
116 110 (1)
117 110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118 111 (1)
119 111 (2)
120 112 (1)
121 112 (2) Hidden Twin.
122 113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123 113 (2) : POV Shanum.
124 114 (1)
125 114 (2)
126 Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Satu : Pernikahan Tersembunyi
2
Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3
3 : Anak Dan Suami.
4
4 : Hak Dan Kewajiban
5
5 : Ucapan Sambara.
6
6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7
7 : Setara
8
8 : Ingatan Linggar.
9
9 : Bukan Salah Linggar.
10
10 : Kesengajaan.
11
11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12
12 : Bekas Orang Lain.
13
13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14
14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15
15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16
16 :
17
17: Gistara Dan Gumira
18
18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19
19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20
20 : Cassia Upasama.
21
21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22
21 (2) : Pengakuan Shanum.
23
22 :
24
23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25
24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26
25 : Pujian Linggar.
27
26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28
27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29
28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30
29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31
30 : Linggar Murka Pada Lingga
32
31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33
32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34
33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35
34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36
35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37
36 : Sentuhan.
38
37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39
Garis Keturunan Adiwangsa
40
38 : Bersiap Untuk Berangkat
41
39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42
40 : Ibu Kandung Shanum.
43
41 : Ulah Shanum.
44
42 : Tegang.
45
43 : I Would Love You
46
44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47
45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48
46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49
47 : Bulan Madu (1)
50
48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51
49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52
50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53
51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54
52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55
53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56
54 : Keluarga Citaprasada.
57
55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58
56 : Di Kamar Hotel Saja.
59
57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60
58 : Salahku Bukan Salahmu.
61
59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62
60 : Tiba-tiba Pulang.
63
61 : Tiba Di Surabaya.
64
62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65
63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66
64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67
65 : -
68
66 :
69
67 : Surat Dari (M)
70
68 : Jatuh Berdua Lagi.
71
69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72
70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73
71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74
72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75
73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76
74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77
75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78
76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79
76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80
77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81
78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82
79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83
80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84
81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85
82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86
83 : -
87
Sedikit Pemberitahuan.
88
84 : Ke Klinik.
89
85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90
86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91
87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92
88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93
89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94
90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95
91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96
92 : Pengakuan Mesya.
97
93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98
94 : Ketidakjelasan Shanum.
99
95
100
96
101
97
102
98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103
99
104
100 [Pergi]
105
101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106
102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107
103 [Beban Orang-orang]
108
104
109
105
110
106
111
107 [Mengandung?]
112
108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113
108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114
109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115
109 (2)
116
110 (1)
117
110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118
111 (1)
119
111 (2)
120
112 (1)
121
112 (2) Hidden Twin.
122
113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123
113 (2) : POV Shanum.
124
114 (1)
125
114 (2)
126
Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!