Sengaja Linggar menawari salat zuhur berjamaah. Karena subuh ini ia salat di Masjid terdekat, dan tidak lupa setiap pulang ia membawa bubur ayam kesukaan istrinya. Suatu kebetulan juga tukang bubur itu adalah jamaah tetap di Masjid. Hingga ada sewaktu-waktu ia mengajak Shanum untuk sarapan bubur ayam bersama.
Saat memasuki rumah. Ia meminta pada pelayan, untuk menyiapkan tempat bubur. Supaya saat istrinya itu keluar kamar, sarapan sudah tersaji. Tebakan Linggar, mungkin Shanum baru saja selesai salat.
"Tuan Muda Linggar, ingin minum apa? Biar saya siapkan," ujar pelayan itu.
"Dua air putih saja."
Linggar melangkah ke kamar mereka berdua. Ia ingin memanggil istrinya itu untuk sarapan sesegera mungkin. Kakinya perlahan menaiki tangga, dan saat sampai di depan pintu. Linggar merasa pintu kamarnya bercelah, tidak tertutup rapat. Dan saat ia ingin membuka lebih lebar spontan matanya melebar saat melihat Shanum.
Dia ... belum pakai kerudung? batin Linggar.
Sejujurnya ia ingin menunduk. Bahkan ingin langsung berbalik, namun entah mengapa ia membeku. Matanya berubah membinar, saat perlahan Shanum menyisir rambut hitam panjang milik dia dengan memandang cermin.
Rambut kamu makin panjang, ya, Shanum? Kamu bahkan ... makin kelihatan cantik, batin Linggar.
Linggar langsung berbalik. Ia tidak ingin seperti ini. Ia mengatur napas dan detak jantungnya. Kemudian ia berbalik lagi dan berpura-pura mengetuk pintu.
"Sayang, kamu di dalam?"
Linggar mendengar beberapa barang jatuh. Mungkin istrinya itu panik. Bagaimana jika Shanum tahu bahwa ia telah melihat istrinya itu tanpa kerudung? Mungkinkah Shanum marah? Bagaimana juga dengan cctv Sambara? Apa Kakak iparnya akan berpikir bahwa ia kurang ajar?
"I-iya, Linggar! Tunggu, sebentar boleh?"
Linggar menjawab, "Aku nggak akan masuk kok. Aku tunggu di meja makan, ya? Aku beliin bubur ayam kesukaan kamu."
"Iya, Linggar! A-aku habis ini turun."
Jujur saja ia hanya bisa menghela napas. Setidaknya ia tidak ketahuan. Ya, walaupun sesuatu seperti ini tidak bisa di katakan mengintip kan? Karena Shanum pun adalah istrinya.
Jika di tanya sudah berapa tahun ia tidak melihat sehelai rambut Shanum. Tentunya, empat tahun dari kejadian itu. Karena pernikahannya baru terlaksana lima bulan ini, kepulangan Shanum dari Singapura, membuat istrinya itu mengambil keputusan untuk mengundur pernikahan beberapa tahun. Mungkin ... Shanum ingin melihat kesungguhan hatinya. Atau mungkin juga, Sambara berpikir bahwa ia akan melemah dan membatalkan pernikahan yang sudah ia rencanakan.
Semua orang salah.
Karena hatinya tidak ragu pada Shanum.
Gadis baik itu telah sekadar di kenalnya semenjak sekolah. Dan, Shanum adalah penyelamat nyawanya. Sekalipun ia terlahir sebagai keluarga kaya raya. Siapa yang menjamin hidupnya selamat? Jika tidak ada Shanum yang menolong?
Sekejap saja, ingatan-ingatan kecil itu menyelinap kembali pada otak Linggar.
Entah siapa yang berbuat. Entah siapa pula yang terkena sialnya. Hari itu rintik hujan mulai turun dengan tenang, tidak terlalu deras. Namun Linggar harus menghadapi situasi hidup dan mati. Karena Abhimana yang membuat masalah dengan salah satu geng motor. Anak itu memang tidak bisa diam saja menikmati hidup, ada saat-saat dia gila dan membuat Linggar terkena masalah. Hanya karena satu marga dan sekolah.
"Sialan, nggak di angkat lagi," gumam Linggar yang yang beberapa kali menghubungi Abhimata, Abhimana dan juga Lingga secara bergantian. "Ini orang pada mati apa gimana? Angkat telpon aja nggak bisa!"
"Woy! Gue tahu lo di sini!"
Linggar terkejut. Saat mengintip dari celah kecil jendela rumah kosong bekas kebakaran ini, ternyata anggota geng motor itu membawa senjata tajam; celurit.
Astaga, celurit. Mati gue kayak gini, batin Linggar. Ia berpikir untuk tidak perlu menghubungi Mama atau Papanya. Namun jika seperti ini, ia harus sesegera mungkin menelepon orang lain. Atau kalau tidak nyawanya akan teregut.
"Woy, bangsat! Cemen lo, hah? Sini lo keluar!"
Yang cemen lo bangsat! Pakai bawa senjata segala, batin Linggar kesal.
Gawainya tiba-tiba saja bergetar. Saat melihat ternyata ada panggilan, namun dari aplikasi Instagram. Siapa? El ... shanum? Citaprasada? Adiknya Bimasena? batin Linggar dengan mengerutkan kening. Sesaat kemudian, panggilan itu berakhir dan masuk lah beberapa pesan.
elshanumcitaprasada_
Kamu anak Upasama High School, kan?
Aku lihat kamu masuk ke rumah bekas kebakaran. Kamu di kejar-kejar orang?
Sialan masih tanya ini cewek! batin Linggar.
elshanumcitaprasada_
Tolong balas.
Aku cuma mau mastiin yang aku lihat kamu, bukan Lingga.
Linggar terdiam sejenak. Satu-satunya orang yang tahu adalah dia. Jadi mau tidak mau Linggar harus memohon bantuan juga pada perempuan ini.
^^^linggaradiwangsa_^^^
^^^Iya itu gue.^^^
Beberapa detik kemudian Shanum membalas.
elshanumcitaprasada_
Aku udah minta bantuan.
Nanti ada sirine polisi kedengaran, kamu bisa langsung keluar?
^^^linggaradiwangsa_^^^
^^^Bisa^^^
elshanumcitaprasada_
Nanti di ujung jalan kamu bakal lihat sedan merah.
Kamu bisa langsung masuk ke sana, itu mobil aku.
^^^linggaradiwangsa_^^^
^^^Oke^^^
"Woy!"
Akh, sialan! batin Linggar yang meringis kesakitan. Salah satu anggota geng motor itu melepas senjata tajam sembarangan. Hingga mengenai lengan tangannya. Tidak lama setelah itu, orang yang melempar hendak mendekat. Namun tertahan saat sirine polisi terdengar. Linggar merasa lega sejenak, kalau tidak orang itu akan menemukannya saat melihat darah di belati itu.
"Gue harus kabur! Cewek itu berhasil," gumam Linggar dengan menyentuh lengannya.
Saat ia lari keluar. Ia tidak melihat polisi sama sekali. Lalu bagaimana bisa sirine sekencang itu terdengar, bukan dari gawai, ia tahu betul.
Tin! Tin!
Linggar menoleh. "Itu mobil dia?"
Linggar berlari sekuat tenaga. Hingga masuk ke dalam mobil itu dengan meringis ia langsung bertemu tatapan dengan gadis itu.
"Kamu berdarah?" tanya Shanum.
Gila ... dia cantik, batin Linggar yang langsung tersadar dan memasang wajah datar. "Lo lihat sendiri, kan?"
"Aku cari tempat yang aman dulu. Kamu bisa tahan sebentar? Aku takut mereka datang lagi," ujar Shanum.
Linggar hanya berdeham. Dan mobil melaju, meninggalkan jalan sekitar rumah kosong. Shanum yang tadinya terdiam akhirnya bertanya, "Kamu kenapa bisa di kejar sama orang-orang yang bawa senjata gitu?"
"Gue nggak tahu."
Shanum terdiam. Anak-anak sekolah benar, bahwa Linggar adalah orang yang tidak bisa di ajak berbicara dengan baik, jika bukan dia yang memulainya.
"Aku kira tadi Lingga. Mukamu sama dia sekilas mirip, cuma bedanya Lingga sering senyum," lanjut Shanum lagi. "Maaf, sebelumnya. Kalau aku banyak bicara."
"Iya," jawab Linggar singkat.
Mobil tiba-tiba berhenti di warung jalan terdekat. Linggar pernah melewati ini.
"Sini tanganmu. Aku obati," ujar Shanum, yang ragu-ragu menarik tangan Linggar. "Kamu nggak mau deketan? Aku susah ngobatinnya. Atau kalau kamu nggak mau. Aku antar kamu ke klinik---"
"Nggak usah." Linggar mendekatkan diri pada Shanum. "Pelan-pelan. Tolong."
"Iya."
"Oh iya." Shanum memulai mengobati lengan Linggar perlahan-lahan untungnya luka ini hanya goreng panjang tidak terlalu dalam. "Namaku Shanum. Salam kenal. Aku seangkatan sama kamu, cuma kita beda kelas."
"Ya. Salam kenal."
"Kamu nggak di jemput?" Shanum menjeda. "Dulu waktu masih kelas sepuluh aku lihat kamu sama Lingga di antar jemput. Sekarang enggak?"
"Enggak."
"Ooh. Terus Lingga ke mana? Kenapa ninggalin kamu sendiri?"
Linggar menjawab, "Lo pengen tahu banget?"
"Aku cuma tanya." Shanum telah membuka perban dan mulai memutari lengan Linggar. "Aku kepikiran aja kalau tadi nggak ada aku, kamu bakal di tolong siapa?"
"Lo merasa pahlawan banget ya habis nolongin gue," sahut Linggar cepat.
Shanum menggeleng. "Enggak. Aku kan udah bilang, kalau aku kepikiran aja. Aku nolong kamu juga, karena aku kebetulan lihat kamu lari ke rumah kosong itu."
"Udah. Lukamu udah aku obatin." Shanum menatap lagi. "Kamu mau di anterin ke mana?"
"Jalan aja. Gue tunjukkin arahnya."
Bajunya terasa di tarik oleh seseorang. Hingga lamunannya buyar, terpecah ke mana-mana. Saat ia menengok, ternyata Shanum sedang menatapnya.
"Ada apa, Sayang?"
Shanum bertanya, "Kamu yang ada apa, Linggar? Kenapa diam aja aku panggil?"
"Hm?" Linggar menggeleng. "Aku nggak pa-pa."
"Terus kenapa kamu diam di tangga gini?"
"Nungguin kamu," elak Linggar.
Shanum menatap Linggar sejenak. "Ya udah. Ayo, turun. Aku udah di sini."
.
Note:
Face Shanum nih kayak Hinata Hyuga gitu aku bayanginnya. Intinya kalem, anggun gitu deh pokoknya. Rambut dia juga panjang gitu, bedanya Shanum warna hitam. Bentuk tubuhnya juga sama. Kalau Linggar? Masih tidak bisa menemukan visual yang terbayang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Yuyun ImroatulWahdah
Linggar Sasuke Thor🤭😂
Hinata cocok sih,,
2022-07-23
1
Yen Lamour
Kondisi shanum linggar yg skrg jd kebalik ya, linggar lbh byk ngmng drpd shanum 😊
2022-06-01
0
Rama Sakha Samosir
gk usah pake visual🤭🤭🤭
2022-05-17
1