Dua hari berlalu. Tepatnya sekarang hari Kamis. Linggar telah berusaha keras menjaga jarak dari Shanum, tanpa membuat istrinya itu berpikir yang tidak-tidak. Namun sore ini tepat setelah Shanum pulang dari melihat lahan sekolah. Istrinya itu tiba-tiba saja datang ke Lazuardi Hotel, memintanya duduk bersama dan berbicara.
Linggar tentu tiada pilihan selain setuju.
"A-ku buat salah, ya? Kamu kelihatan menghindar dari aku akhir-akhir ini," ujar Shanum yang mencengkram gamis yang dipakainyanya erat.
"Enggak, Sayang. Aku biasa aja, kok. Aku nggak merasa menghindari kamu. Aku kan udah bilang akhir-akhir ini aku memang agak sibuk," elak Linggar mencoba menyakinkan Shanum.
Shanum terdiam.
"Aku cuma sibuk, Sayang," ulang Linggar, lagi.
"Sesibuk itu, ya, kamu?" Shanum menunduk. "Sampai berangkat pagi buta, pulang pun kamu dini hari. Aku bahkan nggak bisa ketemu kamu, atau bahkan sekedar lihat kamu."
Linggar mengaku ini salah. Tetapi ini adalah pilihan yang tepat, karena ia takut tidak bisa menahan hasratnya. "Aku memang sibuk. Akhir-akhir ini banyak yang wedding di Hotel, Sayang. Aku bantu-bantu staf aku."
Shanum hanya mengangguk.
"Iris ... sekertaris kamu itu ..." Shanum menatap Linggar ragu-ragu. "Jadwal berangkatnya sama kayak kamu?"
"Iya. Karena Iris sekertaris aku," jawab Linggar singkat yang berpura-pura sibuk dengan berkas-berkas entah apa ini. "Bahkan dia bisa berangkat lebih awal dari aku."
"Dia punya suami?"
Pertanyaan Shanum yang tiba-tiba membuat Linggar langsung menatap istrinya itu. "Dia belum menikah," jawabnya.
"Punya pacar?"
Linggar mengangkat bahu. Matanya kembali fokus berpura-pura pada berkas. "Aku Bosnya. Bukan Ayahnya. Mana aku tahu, Sayang."
"Dia ... cantik, Linggar."
Linggar memilih mengakhiri kepura-puraannya. Ia meletakkan berkas dan menatap Shanum lekat-lekat. "Dia perempuan jelas cantik, kan? Begitu juga dengan Tania, Bu Prita. Semua yang berjenis kelamin perempuan cantik."
Shanum mengangguk pelan.
"Tapi kamu ... maksudku ... kamu nggak tertarik sama Iris?" tanya Shanum terbata-bata.
Linggar menatapnya.
"A-aku nggak mau dengar berita dari luar, ti-tiba-tiba ada yang bilang kalau Linggar Adiwangsa punya hubungan---"
"Hubungan sama siapa, Shanum?" Linggar menjeda. "Iris? Enggak akan. Kamu lupa? Kalau buat jadi menantu keluarga Adiwangsa itu nggak sembarang orang. Iris itu memang cantik dan berprestasi. Tapi dia nggak termasuk kriteria menantu yang di mau sama Kakek."
Shanum diam. Entah mengapa ia jadi berpikir, apakah ia termasuk dalam kriteria menantu idaman Kakek Manggala? Hingga beliau menerima pernikahannya dengan Linggar. Padahal beliau tahu bahwa ia adalah korban dari kasus ruda paksa itu.
"Lagi pula, aku lebih suka bekerja sama dengan orang asing. Aku nggak suka melibatkan perasaan atau semacamnya dalam perkerjaan. Karena itu sangat mengganggu, Shanum," lanjut Linggar.
Shanum selalu paham jika Linggar sudah menyebut namanya, berarti lelaki itu sedang tegas dan serius. Tetapi hati siapa yang tahu? Sering bertemu dengan Iris bisa saja membuat Linggar memiliki perasaan lebih.
Lagi pulanya juga. Cantik kamu ke mana-mana, batin Linggar. "Udah, nggak usah bahas ini, Sayang. Kamu tadi gimana lihat lahan sekolahnya?"
"Bagus." Shanum melirik ke arah lain. "Aku boleh tanya?"
"Tanya apa?"
"Katamu hari ini libur. Tanggal delapan belas, kamu bilang, udah ambil libur buat anterin aku lihat lahan sekolah." Shanum berdeham. "Tapi kenapa tiba-tiba batal? Sesibuk-sibuknya kamu jadi manajer ka-kalau udah ambil hari libur ... pasti libur, kan?"
Sial. Gue lupa. Gue janjiin Shanum, batin Linggar yang bingung untuk mengelak. "Maaf, Sayang. Aku lupa. Semua juga kayak yang kamu lihat, kan? Aku sibuk, Sayang."
Shanum hanya mengangguk. Kemudian ia bangkit. "Kalau gitu aku pulang. Maaf aku ganggu kamu kerja. Assalamualaikum."
"Aku antar aja---"
"Enggak usah. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
"Tuan Muda ingin makan malam apa?" tanya Iris.
Linggar meletakkan gawainya. Ia menatap Iris sejenak. "Saya sedang tidak ingin makan malam. Tapi jika chef membuat menu kebab malam ini ... bisa tolong kamu siapkan, Iris?"
"Baik, Tuan Muda."
Iris pamit.
Linggar langsung mematikan komputer dan mengangkat kepala. Lelah, rasanya. Belum lagi pikiran yang bertambah karena Shanum berpikir ia memiliki perasaan pada Iris yang jelas-jelas saja tidak mungkin. Lagi pula Iris satu-satunya orang yang tahu bahwa ia telah menikah. Karena lagi-lagi Iris adalah sekertarisnya, perempuan itu setidaknya harus tahu bahwa ia telah menikah.
Anggap saja kesadaran dini supaya Iris tidak berpikir untuk menjadi kekasihnya.
Drrrtt.
Gawainya yang berada di samping meja bergetar. Ada satu notifikasi masuk dari Kak Faleesha.
Kak Fale
Jangan lupa nanti malam datang ke syukuran anaknya Tante Callista.
Linggar menghela napas panjang. Begitu banyak hal yang ia lupa, pertama lupa memenuhi janji pada Shanum. Kedua ia lupa akan syukuran besar, yang diadakan oleh keluarga Adyuta dan Jayantaka. Belum lagi mengenai bulan madu yang di bahas oleh Om Tama.
Sialan. Semua saja ia lupakan.
"Permisi, Tuan Muda."
Pintu ruangannya kembali terbuka. Iris datang dengan kebab yang ia mau. Setidaknya ia berharap makanan ini bisa mengembalikan moodnya yang buruk.
^^^Absen nggak bisa, Kak?^^^
^^^Gue kirim hadiah aja deh.^^^
Kak Fale is calling ...
"Pakai telepon segala," gumam Linggar yang buru-buru mematikan panggilan.
Sedangkan Iris terlihat meletakkan kebab di mejanya. "Silakan, Tuan Muda," ujar Iris.
"Terima kasih."
Iris berdeham. "Tuan Muda ... maaf. Saya ingin izin pulang lebih awal dan saya ingin mengambil cuti besok. Apa boleh?"
"Mendadak." Linggar menatap Iris. "Ada apa memangnya?"
"Ibu saya sakit, Tuan Muda," jawab Iris.
Linggar terdiam sejenak. "Baik. Kamu boleh cuti. Untuk jadwal saya besok. Jangan lupa kamu kirim ke email saya."
"Terima kasih, Tuan Muda."
Iris pergi, pamit pulang. Linggar mengetik pesan untuk Kak Fale.
^^^Iya. Gue dateng, Kak.^^^
Setelahnya ia mencari-cari nomor Shanum dan langsung menghubungi dalam panggilan.
"Halo, Sayang?"
Shanum menjawab, "Assalamualaikum."
"Ah, iya. Waalaikumussalam." Linggar menjeda sejenak. "Sayang, kamu mau ke acara keluarga?"
Hening lima detik Shanum akhirnya berujar, "Acara keluarga kamu?"
"Iya. Syukuran anaknya Tante Callista sama Om Maheer."
Shanum terdiam.
"Sayang?" ulang Linggar.
"Ya-sudah. Mau. Aku tunggu kamu di rumah."
[.]
Maaf jarang update. Ibu saya lagi di RS. Dan saya yang jaga. Tapi Insya Allah tetap saya usahakan nulis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Laksmi Amik
semoga cpt sembuh ibunya y thor
2024-01-13
0
Bintang kejora
Smoga ibunya cpt sehat kembali ya Thor.
Ttp semangat 💪🏻💪🏻💪🏻 & jaga kesehatan 😷😷..
2022-06-14
3
rumi
semoga lekas sehat kak
2022-06-09
3