Linggar tidak pernah bisa melihat Shanum menangis. Dan sialannya, ia pergi ke klub malam, lalu berakhir mabuk, tentu akan membuat istrinya itu bersedih. Bahkan jelasnya pula Shanum akan berpikir yang tidak-tidak.
Saat diberikan pertanyaan pun ia bingung beralasan. Haruskah ia mengatakan untuk menghilangkan stres akibat tuntutan sang Ibu pada pernikahan ini? Haruskah ia mengatakan untuk bersenang-senang saja? Atau ... apa? Linggar sungguh tidak mau setiap alasannya menyakiti Shanum.
"Maaf," jawab Linggar atas pertanyaan Shanum tadi.
Mobil kembali melaju saat lampu hijau menyala. Sekilas Linggar dapat melihat Shanum menyeka air mata. Ia tahu ini sangat salah. Jika Sambara tahu, mungkin ia akan di ceramahi tiada henti.
Setelah beberapa menit perjalanan. Mobil berhenti di pelataran tempat tinggal dirinya dan Shanum. Linggar merasa Shanum menyentuh pinggang dan bahunya. Semua terlihat samar-samar, tetapi ia yakin itu Shanum.
Lalu tidak lama, ia merasa bahwa ini telah memasuki kamar. Perlahan-lahan Shanum berusaha membawanya ke atas ranjang, namun karena kaki Shanum tersandung sesuatu istrinya itu hilang ke seimbang. Hingga Linggar terlepas ke ranjang dan Shanum menimpa dirinya.
Berat.
Ia yakin bahwa di atasnya sekarang adalah Shanum. Dan dengan perlahan matanya terbuka sedikit lebar, ia melihat Shanum jatuh tepat di perutnya.
"Akh," ringis Shanum.
"Sayang, kamu ... nggak pa-pa?" tanya Linggar dengan mencoba mengubah posisi, tetapi gagal.
Shanum berdiri sendiri. Lalu ia menunduk membenarkan kaki Linggar tidak lupa pun ia melepas kaos kaki beserta jas yang di pakai suaminya. Niat hati Shanum pun ingin mengganti pakaian suaminya. Namun terurung, saat tidak sengaja mata Shanum melihat ke bawah.
"Ah."
Suara itu terdengar dari Linggar. Shanum membeku sejenak, saat sadar salah satu tangannya di genggaman erat oleh suaminya. Sesuatu di balik celana panjang Linggar terlihat menonjol. Shanum tiba-tiba berkeringat, dan menelan ludah. Jujur saja ... ia takut.
"Sayang ..."
Pandangan Shanum langsung beralih pada Linggar.
"Sayang, kamu ... jauh-jauh dari aku." Mata Linggar terpejam dengan mengibas tangannya. "Ke kamar tamu aja. Tolong ... Sayang."
"Ta-pi ..." Shanum menatap pergelangan tangannya yang masih di genggaman Linggar. "Tangan aku. Kamu ... belum lepasin tangan aku."
Linggar spontan langsung melepas tangan Shanum.
"Pergi, Sayang," ulang Linggar, lagi.
Shanum langsung berbalik dan memilih menuruti Linggar untuk tidur di kamar tamu.
Aku nggak bisa tidur, batin Shanum yang melihat jam dinding memasuki pukul sepuluh malam. Pikirannya melayang pada keadaan Linggar.
Apa suaminya itu sudah sadar?
Jujur ia ingin melihat. Namun Linggar bilang ia harus jauh-jauh, karena ia tahu Linggar tadi sedang lepas pada kendali. Saat menatap jendela pun sudah benar-benar petang, ia juga yakin para pelayan sudah tertidur.
Lalu mengenai ... ucapan Mama Gistara tadi sore. Ia memang mencoba lupa. Namun di ingatannya masih jelas Mama Gistara memaksa.
"Nggak pa-pa, ah. Aku bisa ngintip aja," gumam Shanum yang perlahan-lahan berdiri membuka kamar.
Sesaat ia mencapai tangga, ia tidak mendengar apa-apa. Sunyi. Kemudian ia perlahan membuka pintu kamar sedikit, dan melihat Linggar tidak ada di sana. Di mana suaminya? Langkah kecil kedua kakinya masuk, dan terdengar gemericik air.
Linggar mandi? Malam-malam begini? batin Shanum.
Dan detik itu. Shanum telah memutuskan untuk menunggu Linggar di kamar saja. Namun hampir empat puluh menit berlalu, Linggar tidak kunjung keluar. Gemericik air masih terdengar. Apa mungkin Linggar berendam? Tetapi tidak mungkin. Air shower saja terdengar jatuh.
"Linggar, kamu di dalam?" ujar Shanum sedikit keras, saat sudah berada di depan pintu kamar mandi.
"Linggar, kamu di dalam?"
Mendengar suara lembut itu. Linggar berbalik sejenak menatap pintu. Sialan. Mengapa niat awalnya menjadi kacau seperti ini? Bahkan ia tiba-tiba tegang di dekat Shanum tadi.
Lalu sekarang? Suara itu saja bisa kembali membuatnya seperti ini? Linggar melihat ke bawah sejenak. Kemudian ia menghela napas beberapa kali. Segala pikiran mesum harus hilang dari otaknya, jika tidak, ia tidak akan bisa bertemu Shanum lagi. Bahkan siapa yang menjamin Sambara tidak melihat kelakuannya dari cctv?
"Linggar ... kamu baik-baik aja?"
Linggar mencengkram penghidupan shower kuat-kuat. Kemudian memutar perlahan untuk mematikan. Setelahnya, ia menjawab, "Iya, Sayang. Aku baik-baik aja di dalam."
"Kamu nggak selesai-selesai mandinya."
Lagi-lagi ia menghela napas dan berjalan menuju lemari handuk. Lalu melilitkan handuk pada bagian bawah tubuhnya. Setelah itu ia berjalan menuju pintu, dan membukanya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Linggar yang mencoba santai.
Shanum nampak terkejut. "Hah? A-anu e-enggak pa-pa. Kamu ... udah sadar?"
Linggar hanya mengangguk.
Setelah melihat jawaban Linggar. Shanum berbalik dan berujar, "Aku tunggu di---"
"Sayang ..." Linggar menahan pinggang Shanum. Entah spontanitas yang bagaimana hingga ia bisa langsung menyentuh pinggang sang istri. Bahkan detik berikutnya, ia merasakan ketegangan tubuh Shanum. Istrinya itu pasti terkejut. "Kamu tunggu di sini aja. Aku gantinya di kamar mandi."
"E-enggak us---"
"Sayang," sanggah Linggar, lagi.
Shanum mengalah dan berbalik lagi. Lantas Linggar menuntunnya duduk di tepi ranjang dan kembali berujar, "Aku ganti baju sebentar. Kamu di sini aja. Aku mau bicara, Sayang."
Shanum mengangguk pelan.
"Maafin aku," ujar Linggar.
Shanum yang duduk berjarak centimeter hanya terdiam. Ia menanti pengakuan Linggar lainnya.
"Aku ... memang sengaja ke sana," lanjut Linggar.
"Sengaja?"
"Iya." Linggar menatap paras istrinya dari samping. "Aku cuma ... ngerasa butuh refreshing."
"Karena masalah aku, ya?"
Mendengar ucapan yang keluar dari bibir Shanum. Linggar spontan menggeleng. Bukan. Bukan, karena istrinya. Ini semua karena orang-orang yang mulai ikut campur, dari dulu Linggar sudah tahu konsekuensi menikahi Shanum. Tapi mengapa orang-orang kian memojokkannya?
"Enggak, Sayang," jawab Linggar.
Shanum menengok. "Terus ... karena apa?" Lima detik kemudian ia menatap lurus lagi. "Refreshing macam apa, Linggar? Yang mengharuskan kamu datang ke tempat seperti itu?"
Linggar terdiam.
"Aku nggak akan bilang, yang kamu lakuin ini dosa. Karena aku yakin kamu tahu konsekuensinya." Shanum mencengkram gamisnya dan menunduk. "Linggar ... bilang ke aku, kalau kamu kecewa, kan? Karena pernikahan ini nggak seperti yang kamu harapkan?"
Linggar masih memilih menutup mulut.
"Aku nggak bisa ..." Mata Shanum berkaca-kaca. "Buat sembuh semudah itu."
"Entah nantinya ... pernikahan ini berjalan sampai satu tahun. Aku nggak bisa menjamin, kalau aku bakalan sembuh. Aku nggak bisa menjamin, bisa melayani kamu layaknya seorang istri," lanjut Shanum dengan sekuat rasa berucap.
"Bahkan aku minta pernikahan ini sebagai pernikahan rahasia. Karena aku sengaja, Linggar ..." Air mata yang sedari tadi Shanum tahan akhirnya jatuh. "Supaya kamu nggak malu. Supaya kalau sewaktu-waktu kita terpaksa pisah, kamu nggak bakal di cap ... sebagai laki-laki yang gagal membimbing perempuan seperti aku."
Mata Linggar memanas. Siapa yang akan berani memberinya sebutan seperti itu? Siapa juga yang akan berpisah dari istrinya? Linggar tidak pernah berpikir seperti itu. Sama sekali, tidak.
"Sayang ..."
"Linggar ..." Shanum menatap Linggar lagi, dengan mata sendunya. "Aku ini sama sekali nggak berharga. Apa yang bakal aku kasih buat kamu?"
"Aku ini cuma beban." Shanum menunduk dengan satu tangan yang menutup mata. "Bahkan mahar kamu buat menikahi aku itu terlalu banyak. Kamu ... kamu seakan-akan lupa. Ka-kalau aku ini bekas orang---"
"Enggak, Shanum!" Suara keras dari Linggar membuat Shanum terdiam seketika. Linggar menatap istrinya itu dengan menggeleng. "Enggak, Sayang. Enggak. Berhenti bicara kayak gitu. Aku nggak suka, Sayang. Aku bener-bener nggak suka."
"Kenyataanya memang begitu," lirih Shanum. Tangannya perlahan turun mengusap-usap pipi kirinya dan menatap Linggar lagi. "Kamu nggak jijik? Kamu nggak jijik kalau aku berhasil sembuh ... dan kita ... ngelakuin itu. Apa kamu nggak ngerasa tubuh ini kotor? Apa kamu ..."
"Linggar ..." Shanum mencengkram kerudung yang di pakainya, ia menunduk lagi. "Aku aja jijik sama diri aku sendiri. Gimana bisa ... gimana bisa kamu mau sama aku?!"
[.]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Bundy Icha
😭😭😭😭
2023-05-23
1
Santidew
😭😭😭😭😭😭
2022-08-13
1
Yen Lamour
😭😭😭😭😭
2022-06-01
2