9 : Bukan Salah Linggar.

"Buburnya gimana?"

Shanum menatap Linggar sejenak. "E-enak. Kayak biasanya."

Linggar tersenyum tipis.

"Linggar, aku boleh tanya?" ujar Shanum.

"Boleh, Sayang."

Shanum meletakkan sendoknya. "Kamu pulang kerja itu ... selalu malam?"

"Enggak juga. Tergantung pekerjaan aku aja, Sayang," jawab Linggar. "Kenapa?"

"Nggak pa-pa."

Sekitar pukul tujuh sampai sembilan pagi. Linggar mengajak olahraga di rumah, Shanum hanya bisa menurut. Lagi pula ini hanya olahraga, tidak ada kontak fisik dan semacamnya. Setelah beberapa menit kemudian Shanum lelah, dan mengambil duduk di kursi taman.

"Aku capek," ujar Shanum.

Linggar mendekat. "Aku udah bilang, kan, Sayang? Pelan-pelan, jangan pakai tenaga banget kalau olahraga."

"Iya. Maaf."

"Permisi. Paket!"

Mata Shanum langsung membulat. Ia melihat ke arah gerbang, salah satu pelayan berlari mengambil paket. Sedangkan, Linggar menatap bingung.

"Perasaan aku nggak ada pesen paket." Linggar menatap Shanum. "Kamu pesan, Sayang?"

Shanum menggeleng. "E-enggak itu---"

"Nona Muda ini---"

"Bawa masuk aja!" sahut Shanum cepat.

Namun Linggar sudah berjalan dan mengambil alih paket itu. Sungguh Shanum kalah cepat. "Lingerie?" Mata Linggar beralih menatap istrinya. "Kamu beli ini?"

"I-iya. I-itu ..." Shanum menunduk. "Aku nggak sengaja ke klik ... pesan. Terus di tokonya ... nggak bisa di batalin."

Linggar mengambil duduk di samping Shanum yang menunduk. Tangannya menyobek bungkus plastik pada paket itu beberapa ada selotip. Selanjutnya, saat kardus mulai terlihat, Linggar menarik dan mengeluarkan lingerie itu.

"Linggar ... kok kamu buka, sih."

"Nggak pa-pa. Aku pingin lihat." Plastik terakhir yang menempel, Linggar tarik dan lihat. Ternyata lingerie itu berwarna hitam bahannya satin, dan yang paling penting harum. Terbayang ... bagaimana jika Shanum menggunakannya? Dia sungguh akan kelihatan semakin cantik, bukan? "Bagus."

Shanum memerah padam.

"Ini." Linggar meletakkan lingerie di pangkuan Shanum. "Simpan di lemari kamu, Sayang. Nggak usah malu. Lagian beli baju itu nggak salah kok. Kamu bisa pakai waktu aku nggak di rumah."

Shanum menatapi Linggar. Mengapa Linggar tidak berharap bahwa ia harus memakainya saat suaminya itu di rumah? Mengapa harus saat Linggar tidak di rumah? Sungguh ia tahu Linggar menghargainya. Tapi di hargai seperti ini ... mengapa terasa menyakitkan?

"Sayang?"

Shanum tersadar. "Iya?"

"Aku ada telepon dari Iris. Dia bilang, ada masalah mendadak. Aku berangkat sekarang, ya?"

"Iya nggak pa-pa. Aku siapin baju kamu."

Bakda magrib biasanya Linggar sudah sampai rumah. Tetapi suaminya itu belum juga terlihat, saat mendengar suara mobil Shanum senang. Ia kira Linggar datang, namun saat ia lihat-lihat mobil itu bukan milik Linggar. Melainkan Ibu mertuanya.

Mama Gistara ke sini lagi? Beliau ada ... perlu sama aku? batin Shanum.

Terdengar pintu kamarnya terketuk. Disusul suara dari pelayan. "Nona Muda, ada Nyonya Gistara yang ingin bertemu Nona."

Shanum mengambil dan membuang napas beberapa kali. Sebelum akhirnya turun menemui Ibu mertuanya di ruang tamu.

"Sore, Ma," ujar Shanum yang mengecup singkat punggung tangan Gistara.

"Hm. Sore." Gistara mengambil duduk dan menatap sekeliling. "Linggar belum pulang?"

"Belum, Ma. Berangkatnya tadi agak siang," jawab Shanum dengan masih berdiri. "Mama mau minum apa? Biar Shanum siap---".

"Nggak usah. Duduk kamu," pinta Gistara.

Shanum duduk.

"Gimana keadaan kamu?"

"Sha-num? Shanum baik, Ma."

Gistara menatapnya datar. "Kamu tahu maksud pertanyaan Mama, kan, Shanum? Mama tanya gimana keadaan kamu? Diri kamu sekarang ... pasca kejadian itu?"

Shanum terdiam.

"Mama setuju Linggar menikah sama kamu, karena Mama percaya selama tiga tahun ini, kamu sudah benar-benar sembuh dari trauma itu." Gistara menjeda. "Tapi nyatanya apa? Bahkan lima bulan pernikahan ini berjalan kamu masih belum menjalankan kewajiban kamu sebagai istri, kan?"

Gistara bangkit. "Ini yang kamu pakai apa sih? Hijab, kan? Kamu perempuan dewasa, kan? Kamu di ajarkan Jaiz untuk tahu apa yang benar dan salah, kan?"

Shanum mengangguk.

"Lalu dengan kamu menunda untuk melayani Linggar itu salah atau benar?" lanjut Gistara.

"Sa-lah, Ma," cicit Shanum.

"Kamu tahu salah. Tapi kenapa kamu nggak mau berusaha? Apa kamu pikir Linggar bisa menahan selama itu? Kamu pikir Linggar nggak normal?" Gistara menarik dagu menantunya. "Kamu pikir anak Mama itu nggak bisa cari perempuan lain? Kamu harus inget, Shanum. Yang kamu nikahi itu adalah Linggar Adiwangsa. Lagi pula pernikahan kamu dan dia ini rahasia, kan? Orang-orang tahu kalau Linggar itu belum menikah. Jadi jangan salahin perempuan-perempuan lain kalau mereka mendekati Linggar."

Ucapan Gistara benar-benar melukai hatinya. Beliau berbicara dengan jelas, beliau mengatakan semua kesalahannya. Jujur Shanum mengakui bahwa itu salahnya. Tetapi mengapa Gistara harus membawa-bawa hijab, Ayah dan juga perempuan-perempuan lain? Semua hal itu semakin membuatnya gundah.

Jika ia bisa setelah akad terlaksana pun ia akan langsung melayani Linggar sebagaimana kewajiban seorang istri. Namun rasanya sulit. Semua ingatan itu jelas masih melekat, meskipun ia telah mencoba lupa. Sungguh ia tidak menyamaratakan laki-laki. Linggar baik. Tetapi ia tidak bisa. Atau lebih tepatnya, ia belum bisa.

"Dengar kamu, Shanum?" lanjut Gistara.

Shanum hanya mengangguk.

"Jadi, ingat sekali lagi. Kalau Linggar mencari perempuan lain untuk memuaskan diri. Jangan pernah salahkan Linggar. Karena semua itu salahmu," ujar Gistara, lagi. "Mengerti kamu?"

"Iya, Ma," jawab Shanum.

Gistara langsung melenggang pergi. Hingga tidak lama terdengar mobil meninggalkan pelataran rumahnya dengan Linggar. Seorang pelayan yang biasa membantunya memasak menghampiri.

"Nona Muda ..."

Shanum tersadar. "Iya?"

"Tadi ada telepon rumah masuk. Katanya ... dari teman Tuan Muda Linggar."

"Terus?"

"Orangnya bilang ..." Pelayan itu ragu menatapnya. "Nona Muda di suruh jemput Tuan Muda Linggar ke ... klub malam."

Netra Shanum melebar. "Klub malam?"

"Iya, Nona. Klub malam yang beberapa meter dari Lazuardi Hotel," jelas pelayan itu.

Shanum mengangguk.

Kepala Linggar pening. Sore tadi bakda asar, ia ke karaoke yang memiliki satu tempat dengan klub malam. Niat hatinya ingin menghilangkan segala hal-hal yang mengganggu pikiran. Bahkan ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak meneguk satu gelas pun minuman keras. Jika pun iya, ia akan meneguk wine beberapa gelas saja.

Namun sialannya. Vincent memberi Linggar vodka.

Ia tidak ingin marah. Lagi pula ini sudah biasa. Sekarang ia butuh pulang, tetapi ia tidak bisa menyeimbangkan diri. Ia meminta Vincent untuk menghubungi telepon rumahnya. Dan kata Vincent, orang rumah akan segera menjemputnya.

"Gar, orang rumah lo udah datang!" ujar Vincent yang mulai menuntunnya. "Pembantu lo yang jemput?"

"Ya, mungkin," jawab Linggar.

Saat telah sampai di tempat parkir VIP, Vincent menyerahkan Linggar pada perempuan yang Vincent tahu adalah pembantu. Karena menggunakan masker.

"Saya tinggal, Mbak," ujar Vincent.

"Terima kasih."

Mendengar suara yang tidak asing. Serta wangi tubuh seseorang yang di kenalnya dalam dekapan ini. Linggar spontan melepas rangkulan, dan menatap perempuan di depannya dengan jelas.

"Sha ... num?"

Shanum menatap Linggar lurus.

"Kenapa---akh." Linggar hilang keseimbangan. Hingga mau tidak mau Shanum merangkul pinggang Linggar dan menuntun suaminya itu untuk masuk. "Sayang ... tunggu. Kenapa---"

"Diam, Linggar," pinta Shanum.

Linggar terdiam, menunggu Shanum yang memasang sabuk pengaman mobil untuknya. Setelah itu istrinya memasuki mobil dan menghidupkan mesin.

"Sayang ..." Linggar menatap Shanum dari samping. Masker itu telah di lepas. Bibir itu merah alami, dan mata itu sepertinya basah? "Sayang ... mata kamu ... kamu nangis?"

Lampu merah membuat Shanum menghentikan mobil. Mata Shanum masih menatap lurus enggan melihat Linggar. Bau ini benar-benar tidak ia sukai, aroma yang membuatnya mual. Minuman keras, bau wewangian dari berbagai orang yang entah siapa saja yang menyentuh Linggar. Lagi-lagi ia berpikir bahwa yang di ucap oleh Gistara benar.

"Sayang, aku ... nggak ngapain-ngapain," ujar Linggar. "Jadi jangan mikir yang enggak-enggak ya? Aku beneran nggak ngapa-ngapain."

Shanum masih diam.

"Sayang ..."

"Linggar ..." Shanum mencengkeram erat gamisnya. "Kalau gitu je-lasin. Kenapa kamu sampai ... bisa minum dan ... ada di tempat itu?"

[.]

Terpopuler

Comments

Santidew

Santidew

terus kenapah kamu minum Linggar?

2022-09-02

0

Yen Lamour

Yen Lamour

Gistara sesama wanita sharusny yg paling bs ngertiin trauma shanum dong 😔

2022-06-01

0

lihat semua
Episodes
1 Satu : Pernikahan Tersembunyi
2 Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3 3 : Anak Dan Suami.
4 4 : Hak Dan Kewajiban
5 5 : Ucapan Sambara.
6 6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7 7 : Setara
8 8 : Ingatan Linggar.
9 9 : Bukan Salah Linggar.
10 10 : Kesengajaan.
11 11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12 12 : Bekas Orang Lain.
13 13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14 14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15 15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16 16 :
17 17: Gistara Dan Gumira
18 18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19 19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20 20 : Cassia Upasama.
21 21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22 21 (2) : Pengakuan Shanum.
23 22 :
24 23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25 24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26 25 : Pujian Linggar.
27 26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28 27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29 28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30 29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31 30 : Linggar Murka Pada Lingga
32 31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33 32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34 33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35 34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36 35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37 36 : Sentuhan.
38 37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39 Garis Keturunan Adiwangsa
40 38 : Bersiap Untuk Berangkat
41 39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42 40 : Ibu Kandung Shanum.
43 41 : Ulah Shanum.
44 42 : Tegang.
45 43 : I Would Love You
46 44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47 45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48 46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49 47 : Bulan Madu (1)
50 48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51 49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52 50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53 51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54 52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55 53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56 54 : Keluarga Citaprasada.
57 55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58 56 : Di Kamar Hotel Saja.
59 57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60 58 : Salahku Bukan Salahmu.
61 59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62 60 : Tiba-tiba Pulang.
63 61 : Tiba Di Surabaya.
64 62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65 63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66 64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67 65 : -
68 66 :
69 67 : Surat Dari (M)
70 68 : Jatuh Berdua Lagi.
71 69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72 70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73 71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74 72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75 73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76 74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77 75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78 76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79 76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80 77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81 78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82 79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83 80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84 81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85 82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86 83 : -
87 Sedikit Pemberitahuan.
88 84 : Ke Klinik.
89 85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90 86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91 87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92 88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93 89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94 90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95 91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96 92 : Pengakuan Mesya.
97 93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98 94 : Ketidakjelasan Shanum.
99 95
100 96
101 97
102 98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103 99
104 100 [Pergi]
105 101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106 102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107 103 [Beban Orang-orang]
108 104
109 105
110 106
111 107 [Mengandung?]
112 108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113 108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114 109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115 109 (2)
116 110 (1)
117 110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118 111 (1)
119 111 (2)
120 112 (1)
121 112 (2) Hidden Twin.
122 113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123 113 (2) : POV Shanum.
124 114 (1)
125 114 (2)
126 Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Satu : Pernikahan Tersembunyi
2
Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3
3 : Anak Dan Suami.
4
4 : Hak Dan Kewajiban
5
5 : Ucapan Sambara.
6
6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7
7 : Setara
8
8 : Ingatan Linggar.
9
9 : Bukan Salah Linggar.
10
10 : Kesengajaan.
11
11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12
12 : Bekas Orang Lain.
13
13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14
14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15
15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16
16 :
17
17: Gistara Dan Gumira
18
18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19
19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20
20 : Cassia Upasama.
21
21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22
21 (2) : Pengakuan Shanum.
23
22 :
24
23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25
24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26
25 : Pujian Linggar.
27
26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28
27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29
28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30
29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31
30 : Linggar Murka Pada Lingga
32
31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33
32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34
33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35
34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36
35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37
36 : Sentuhan.
38
37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39
Garis Keturunan Adiwangsa
40
38 : Bersiap Untuk Berangkat
41
39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42
40 : Ibu Kandung Shanum.
43
41 : Ulah Shanum.
44
42 : Tegang.
45
43 : I Would Love You
46
44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47
45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48
46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49
47 : Bulan Madu (1)
50
48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51
49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52
50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53
51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54
52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55
53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56
54 : Keluarga Citaprasada.
57
55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58
56 : Di Kamar Hotel Saja.
59
57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60
58 : Salahku Bukan Salahmu.
61
59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62
60 : Tiba-tiba Pulang.
63
61 : Tiba Di Surabaya.
64
62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65
63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66
64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67
65 : -
68
66 :
69
67 : Surat Dari (M)
70
68 : Jatuh Berdua Lagi.
71
69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72
70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73
71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74
72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75
73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76
74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77
75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78
76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79
76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80
77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81
78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82
79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83
80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84
81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85
82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86
83 : -
87
Sedikit Pemberitahuan.
88
84 : Ke Klinik.
89
85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90
86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91
87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92
88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93
89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94
90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95
91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96
92 : Pengakuan Mesya.
97
93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98
94 : Ketidakjelasan Shanum.
99
95
100
96
101
97
102
98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103
99
104
100 [Pergi]
105
101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106
102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107
103 [Beban Orang-orang]
108
104
109
105
110
106
111
107 [Mengandung?]
112
108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113
108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114
109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115
109 (2)
116
110 (1)
117
110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118
111 (1)
119
111 (2)
120
112 (1)
121
112 (2) Hidden Twin.
122
113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123
113 (2) : POV Shanum.
124
114 (1)
125
114 (2)
126
Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!