"Buburnya gimana?"
Shanum menatap Linggar sejenak. "E-enak. Kayak biasanya."
Linggar tersenyum tipis.
"Linggar, aku boleh tanya?" ujar Shanum.
"Boleh, Sayang."
Shanum meletakkan sendoknya. "Kamu pulang kerja itu ... selalu malam?"
"Enggak juga. Tergantung pekerjaan aku aja, Sayang," jawab Linggar. "Kenapa?"
"Nggak pa-pa."
Sekitar pukul tujuh sampai sembilan pagi. Linggar mengajak olahraga di rumah, Shanum hanya bisa menurut. Lagi pula ini hanya olahraga, tidak ada kontak fisik dan semacamnya. Setelah beberapa menit kemudian Shanum lelah, dan mengambil duduk di kursi taman.
"Aku capek," ujar Shanum.
Linggar mendekat. "Aku udah bilang, kan, Sayang? Pelan-pelan, jangan pakai tenaga banget kalau olahraga."
"Iya. Maaf."
"Permisi. Paket!"
Mata Shanum langsung membulat. Ia melihat ke arah gerbang, salah satu pelayan berlari mengambil paket. Sedangkan, Linggar menatap bingung.
"Perasaan aku nggak ada pesen paket." Linggar menatap Shanum. "Kamu pesan, Sayang?"
Shanum menggeleng. "E-enggak itu---"
"Nona Muda ini---"
"Bawa masuk aja!" sahut Shanum cepat.
Namun Linggar sudah berjalan dan mengambil alih paket itu. Sungguh Shanum kalah cepat. "Lingerie?" Mata Linggar beralih menatap istrinya. "Kamu beli ini?"
"I-iya. I-itu ..." Shanum menunduk. "Aku nggak sengaja ke klik ... pesan. Terus di tokonya ... nggak bisa di batalin."
Linggar mengambil duduk di samping Shanum yang menunduk. Tangannya menyobek bungkus plastik pada paket itu beberapa ada selotip. Selanjutnya, saat kardus mulai terlihat, Linggar menarik dan mengeluarkan lingerie itu.
"Linggar ... kok kamu buka, sih."
"Nggak pa-pa. Aku pingin lihat." Plastik terakhir yang menempel, Linggar tarik dan lihat. Ternyata lingerie itu berwarna hitam bahannya satin, dan yang paling penting harum. Terbayang ... bagaimana jika Shanum menggunakannya? Dia sungguh akan kelihatan semakin cantik, bukan? "Bagus."
Shanum memerah padam.
"Ini." Linggar meletakkan lingerie di pangkuan Shanum. "Simpan di lemari kamu, Sayang. Nggak usah malu. Lagian beli baju itu nggak salah kok. Kamu bisa pakai waktu aku nggak di rumah."
Shanum menatapi Linggar. Mengapa Linggar tidak berharap bahwa ia harus memakainya saat suaminya itu di rumah? Mengapa harus saat Linggar tidak di rumah? Sungguh ia tahu Linggar menghargainya. Tapi di hargai seperti ini ... mengapa terasa menyakitkan?
"Sayang?"
Shanum tersadar. "Iya?"
"Aku ada telepon dari Iris. Dia bilang, ada masalah mendadak. Aku berangkat sekarang, ya?"
"Iya nggak pa-pa. Aku siapin baju kamu."
Bakda magrib biasanya Linggar sudah sampai rumah. Tetapi suaminya itu belum juga terlihat, saat mendengar suara mobil Shanum senang. Ia kira Linggar datang, namun saat ia lihat-lihat mobil itu bukan milik Linggar. Melainkan Ibu mertuanya.
Mama Gistara ke sini lagi? Beliau ada ... perlu sama aku? batin Shanum.
Terdengar pintu kamarnya terketuk. Disusul suara dari pelayan. "Nona Muda, ada Nyonya Gistara yang ingin bertemu Nona."
Shanum mengambil dan membuang napas beberapa kali. Sebelum akhirnya turun menemui Ibu mertuanya di ruang tamu.
"Sore, Ma," ujar Shanum yang mengecup singkat punggung tangan Gistara.
"Hm. Sore." Gistara mengambil duduk dan menatap sekeliling. "Linggar belum pulang?"
"Belum, Ma. Berangkatnya tadi agak siang," jawab Shanum dengan masih berdiri. "Mama mau minum apa? Biar Shanum siap---".
"Nggak usah. Duduk kamu," pinta Gistara.
Shanum duduk.
"Gimana keadaan kamu?"
"Sha-num? Shanum baik, Ma."
Gistara menatapnya datar. "Kamu tahu maksud pertanyaan Mama, kan, Shanum? Mama tanya gimana keadaan kamu? Diri kamu sekarang ... pasca kejadian itu?"
Shanum terdiam.
"Mama setuju Linggar menikah sama kamu, karena Mama percaya selama tiga tahun ini, kamu sudah benar-benar sembuh dari trauma itu." Gistara menjeda. "Tapi nyatanya apa? Bahkan lima bulan pernikahan ini berjalan kamu masih belum menjalankan kewajiban kamu sebagai istri, kan?"
Gistara bangkit. "Ini yang kamu pakai apa sih? Hijab, kan? Kamu perempuan dewasa, kan? Kamu di ajarkan Jaiz untuk tahu apa yang benar dan salah, kan?"
Shanum mengangguk.
"Lalu dengan kamu menunda untuk melayani Linggar itu salah atau benar?" lanjut Gistara.
"Sa-lah, Ma," cicit Shanum.
"Kamu tahu salah. Tapi kenapa kamu nggak mau berusaha? Apa kamu pikir Linggar bisa menahan selama itu? Kamu pikir Linggar nggak normal?" Gistara menarik dagu menantunya. "Kamu pikir anak Mama itu nggak bisa cari perempuan lain? Kamu harus inget, Shanum. Yang kamu nikahi itu adalah Linggar Adiwangsa. Lagi pula pernikahan kamu dan dia ini rahasia, kan? Orang-orang tahu kalau Linggar itu belum menikah. Jadi jangan salahin perempuan-perempuan lain kalau mereka mendekati Linggar."
Ucapan Gistara benar-benar melukai hatinya. Beliau berbicara dengan jelas, beliau mengatakan semua kesalahannya. Jujur Shanum mengakui bahwa itu salahnya. Tetapi mengapa Gistara harus membawa-bawa hijab, Ayah dan juga perempuan-perempuan lain? Semua hal itu semakin membuatnya gundah.
Jika ia bisa setelah akad terlaksana pun ia akan langsung melayani Linggar sebagaimana kewajiban seorang istri. Namun rasanya sulit. Semua ingatan itu jelas masih melekat, meskipun ia telah mencoba lupa. Sungguh ia tidak menyamaratakan laki-laki. Linggar baik. Tetapi ia tidak bisa. Atau lebih tepatnya, ia belum bisa.
"Dengar kamu, Shanum?" lanjut Gistara.
Shanum hanya mengangguk.
"Jadi, ingat sekali lagi. Kalau Linggar mencari perempuan lain untuk memuaskan diri. Jangan pernah salahkan Linggar. Karena semua itu salahmu," ujar Gistara, lagi. "Mengerti kamu?"
"Iya, Ma," jawab Shanum.
Gistara langsung melenggang pergi. Hingga tidak lama terdengar mobil meninggalkan pelataran rumahnya dengan Linggar. Seorang pelayan yang biasa membantunya memasak menghampiri.
"Nona Muda ..."
Shanum tersadar. "Iya?"
"Tadi ada telepon rumah masuk. Katanya ... dari teman Tuan Muda Linggar."
"Terus?"
"Orangnya bilang ..." Pelayan itu ragu menatapnya. "Nona Muda di suruh jemput Tuan Muda Linggar ke ... klub malam."
Netra Shanum melebar. "Klub malam?"
"Iya, Nona. Klub malam yang beberapa meter dari Lazuardi Hotel," jelas pelayan itu.
Shanum mengangguk.
Kepala Linggar pening. Sore tadi bakda asar, ia ke karaoke yang memiliki satu tempat dengan klub malam. Niat hatinya ingin menghilangkan segala hal-hal yang mengganggu pikiran. Bahkan ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak meneguk satu gelas pun minuman keras. Jika pun iya, ia akan meneguk wine beberapa gelas saja.
Namun sialannya. Vincent memberi Linggar vodka.
Ia tidak ingin marah. Lagi pula ini sudah biasa. Sekarang ia butuh pulang, tetapi ia tidak bisa menyeimbangkan diri. Ia meminta Vincent untuk menghubungi telepon rumahnya. Dan kata Vincent, orang rumah akan segera menjemputnya.
"Gar, orang rumah lo udah datang!" ujar Vincent yang mulai menuntunnya. "Pembantu lo yang jemput?"
"Ya, mungkin," jawab Linggar.
Saat telah sampai di tempat parkir VIP, Vincent menyerahkan Linggar pada perempuan yang Vincent tahu adalah pembantu. Karena menggunakan masker.
"Saya tinggal, Mbak," ujar Vincent.
"Terima kasih."
Mendengar suara yang tidak asing. Serta wangi tubuh seseorang yang di kenalnya dalam dekapan ini. Linggar spontan melepas rangkulan, dan menatap perempuan di depannya dengan jelas.
"Sha ... num?"
Shanum menatap Linggar lurus.
"Kenapa---akh." Linggar hilang keseimbangan. Hingga mau tidak mau Shanum merangkul pinggang Linggar dan menuntun suaminya itu untuk masuk. "Sayang ... tunggu. Kenapa---"
"Diam, Linggar," pinta Shanum.
Linggar terdiam, menunggu Shanum yang memasang sabuk pengaman mobil untuknya. Setelah itu istrinya memasuki mobil dan menghidupkan mesin.
"Sayang ..." Linggar menatap Shanum dari samping. Masker itu telah di lepas. Bibir itu merah alami, dan mata itu sepertinya basah? "Sayang ... mata kamu ... kamu nangis?"
Lampu merah membuat Shanum menghentikan mobil. Mata Shanum masih menatap lurus enggan melihat Linggar. Bau ini benar-benar tidak ia sukai, aroma yang membuatnya mual. Minuman keras, bau wewangian dari berbagai orang yang entah siapa saja yang menyentuh Linggar. Lagi-lagi ia berpikir bahwa yang di ucap oleh Gistara benar.
"Sayang, aku ... nggak ngapain-ngapain," ujar Linggar. "Jadi jangan mikir yang enggak-enggak ya? Aku beneran nggak ngapa-ngapain."
Shanum masih diam.
"Sayang ..."
"Linggar ..." Shanum mencengkeram erat gamisnya. "Kalau gitu je-lasin. Kenapa kamu sampai ... bisa minum dan ... ada di tempat itu?"
[.]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Santidew
terus kenapah kamu minum Linggar?
2022-09-02
0
Yen Lamour
Gistara sesama wanita sharusny yg paling bs ngertiin trauma shanum dong 😔
2022-06-01
0