16 :

Tasyakuran yang megah akan di adakan di kediaman Jayantaka. Selama beberapa tahun menikah Linggar tidak pernah mengikuti kehidupan keluarga tiri dari Ayahnya, Gumira. Ternyata Tante Callista telah melahirkan. Memangnya kapan beliau hamil? batinnya.

Iris sudah pulang. Tentunya setelah acara pernikahan benar-benar berjalan baik, Linggar memilih pamit dengan menyerahkan tanggung jawab terakhir pada Bu Prita -- Bosnya dulu.

Sebelum menghidupkan mesin mobil. Linggar mengirimkan pesan singkat pada Shanum bahwa ia meminta istrinya untuk segera bersiap-siap. Sayang, pakai baju hitam aja. Kamu siap-siap, ya? Begitu pesan singkat yang di tulis olehnya.

Sekitar perjalanan empat puluh lima menit. Linggar sampai di rumah. Namun saat masuk ia tidak melihat Shanum sama sekali, selanjutnya, ia berjalan menuju kamar tidur pengantin dan ingin melihat apakah istrinya itu sudah siap?

"Assalamualaikum," gumam Linggar.

Tangan kanannya membuka pintu kamar perlahan. Namun sedetik kemudian ia membeku saat tatapan matanya bertemu dengan Shanum. Istrinya itu terkejut sampai terjatuh duduk di lantai.

"Sayang!" Linggar lari dan spontan berjongkok, menyentuh pinggang istrinya. "Kamu kenapa---"

"Kenapa ka ... mu nggak ketuk pintu, Ling-gar?" selah Shanum dengan terbata-bata.

Dia nggak pakai kerudung? Sial ... gimana bisa gue baru sadar? batin Linggar yang mencoba mundur, dan melepas tangannya dari pinggang Shanum. "Maaf, Sayang. Aku nggak niat nakutin kamu. Aku tadi ... udah ucap salam, kok. Aku nggak asal masuk," ujar Linggar.

Shanum tertunduk dengan mengambil dan menghela napas beberapa kali. Tangannya mencengkram kuat gamis yang di pakai.

"Ma-af, berarti ... aku yang nggak dengar," lirih Shanum.

Linggar bangkit dan berbalik. "Aku keluar."

Kak Fale

Sampe jam segini belum datang.

Lo ini di mana, Linggar?

Linggar berdecak. Ia sudah mengganti pakaian. Namun Shanum tidak kunjung keluar. Mungkin ia akan berakhir tidak jadi hadir, karena Shanum sepertinya benar-benar takut.

Saat tangan Linggar mengetik bagian kalimat pertama, terdengar langkah kaki menuruni tangga, dan tidak lama di susul suara.

"Aku udah siap," ujar Shanum dengan sedikit gemetar.

Linggar mendongak, menatapi Shanum sejenak. "Kamu yakin kita berangkat---"

"Yakin, Linggar. La-gi pula, kamu ..." Shanum memegangi tasnya kuat-kuat, dan menelan ludah beberapa kali. "Udah janji datang, kan?"

Linggar mengangguk pelan dan bangkit. Ia menunduk sejenak, menatapi tangan Shanum. Boleh gandeng nggak sih? batinnya. Namun seketika Linggar menggeleng. Tidak usah. Ia takut akan semakin memberi jarak pada sang istri.

"Ayo." Linggar berjalan lebih dulu.

Sedangkan Shanum membutut di belakang, dengan langkah kecil. Ia menunduk terus, perasaannya bercampur aduk, di bersamai malu dan juga takut. Padahal Linggar hanya melihatnya tidak menggunakan kerudung saja. Tetapi, entah mengapa ia merasa telah di te*lanjangi.

"Linggar," lirih Shanum.

Linggar yang baru saja membuka pintu mobil menatap ke samping dan berujar, "Apa?"

"Ka-mu udah ... beli hadiah?"

"Udah." Linggar menatap istrinya sejenak, dengan memegang pembuka pintu mobil. "Masuk. Kita berangkat."

"Iya."

"Nanti kalau kamu ngerasa nggak nyaman, bilang, ya?" ujar Linggar yang baru saja memarkirkan mobil dengan menatap istrinya dari samping.

"Iya."

"Ini acara besar. Semua keluarga Adiwangsa, Adyuta, sama Jayantaka bakalan ngumpul. Mungkin beberapa bakalan bicara sesuatu yang buruk. Jadi ..." Linggar menjeda, menatap lurus. "Kalau kamu denger mereka bicara buruk tentang kamu. Tolong kamu langsung bilang ke aku."

"Detik itu juga kita bakalan pulang," imbuh Linggar.

Shanum hanya mengangguk.

"Kamu denger, Sayang?" ulang Linggar.

"Iya," jawab Shanum.

Keduanya turun dari mobil. Saat masuk beberapa penerimaan tamu telah mengenali Linggar. Dan dengan berdiri tegak, Linggar menggandeng tangan Shanum memasuki aula kediaman utama keluarga Jayantaka. Saat mata Shanum menatap ke arah depan ia langsung bertemu mata dengan mertunya, Gistara. Di samping beliau ada Nyonya Cecilia --- Ibu si kembar Abhi dan Rajendra.

"Itu ada Mama." Linggar lebih mendekatkan bibirnya pada telinga Shanum. "Kita ke sana dulu."

"Iya."

Langkah Shanum jujur terasa berat. Bukan karena membenci dan enggan bertemu mertuanya. Namun karena Mama Gistara selalu memaksanya ini dan itu. Beliau seakan-akan menganggap dirinya adalah istri yang tidak pantas untuk Linggar.

Tangan kanannya yang di genggaman Linggar mulai dingin dan berkeringat.

"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Linggar tiba-tiba.

Shanum mendongak. "A-aku nggak pa-pa."

"Tangan kamu dingin, berkeringat juga."

Shanum menggeleng pelan. "Nggak pa-pa. Aku udah biasa kayaknya gini."

Nyonya Cecilia tersenyum lebih dahulu dan menyapa Linggar. Sedangkan Mama Gistara memasang wajah biasa saja. Apa beliau masih marah dengan Linggar? Atau dengan dirinya? Shanum bingung. Ia hanya mampu tersenyum tipis dan bergantian menciumi punggung tangan Mama Gistara dan Nyonya Cecilia.

"Linggar, Shanum. Gimana penawaran yang di kasih sama Om Tama? Suami Tante udah bilang, kan, Linggar?" ucap Nyonya Cecilia.

Shanum menatap Linggar penuh tanya. Memang apa yang di tawarin Om Tama? batin Shanum.

Linggar tersenyum tipis. "Oh iya, Tante. Om Tama udah bilang, kok. Cuma saya sama Shanum belum mutusin mau bulan madu ke mana. Tapi sesegera mungkin saya bakal kasih kabar ke Om Tama."

Nyonya Cecilia mengangguk kecil.

"Harusnya Om Tama nggak usah repot-repot, Tante," lanjut Linggar.

Nyonya Cecilia menggeleng. "Enggak-enggak. Enggak repot. Itu hadiah, Linggar. Buat kamu, keponakan Tante."

Jadi, Om Tama ngasih hadiah bulan madu? Dan Linggar belum bicara ke aku? Kenapa? Apa ... dia ngerasa topik pembicaraan bulan madu ini ... menganggu aku? batin Shanum.

"Makasih, Tante," ujar Linggar.

"Iya."

Terlihat Nyonya Cecilia pamit menghampiri Tante Callista. Sedangkan Mama Gistara berdiri mengacuhkan dirinya dan Linggar. Sungguh Shanum tiada pilihan selain ikut terdiam juga.

"Ma," ujar Linggar.

Mama Gistara hanya menatap.

"Papa masih di rumah sakit?"

"Kamu tahu sendiri Papa pemimpin rumah sakit. Jelas Papamu nggak semudah itu buat izin pulang, tanggung jawab dia banyak," jawab Mama Gistara.

Linggar hanya bisa mengangguk.

"Kak Faleesha, di mana?" tanya Linggar, lagi.

Mama Gistara menjawab ketus. "Cari aja sendiri. Mama bukan satpam yang bisa kamu tanya-tanya."

Linggar hanya bisa menghela napas. Kemudian ia menatap Shanum. "Sayang, aku mau ke toilet. Kamu tunggu di sini nggak pa-pa?"

Sama Mama? batin Shanum seolah-olah tidak setuju. "A-aku ikut, nggak boleh?"

Linggar menggeleng pelan. "Toiletnya pisah, Sayang. Lagi pula nggak baik, entar orang-orang mikir yang bukan-bukan."

"Ya udah. Aku tunggu di sini."

Linggar telah pergi. Shanum benar-benar merasa canggung berdiri berdua dengan sang mertua. Sebab Gistara tidak berekspresi. Bahkan cenderung terlihat tidak suka jika ia berada di jangkauan beliau.

"Andai Linggar menikah dengan keturunan Jayantaka. Mungkin sekarang saya sudah menimang cucu," ujar Mama Gistara.

Terpopuler

Comments

Santidew

Santidew

yaampun mama Gistara jahad

2022-09-05

1

lihat semua
Episodes
1 Satu : Pernikahan Tersembunyi
2 Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3 3 : Anak Dan Suami.
4 4 : Hak Dan Kewajiban
5 5 : Ucapan Sambara.
6 6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7 7 : Setara
8 8 : Ingatan Linggar.
9 9 : Bukan Salah Linggar.
10 10 : Kesengajaan.
11 11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12 12 : Bekas Orang Lain.
13 13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14 14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15 15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16 16 :
17 17: Gistara Dan Gumira
18 18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19 19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20 20 : Cassia Upasama.
21 21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22 21 (2) : Pengakuan Shanum.
23 22 :
24 23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25 24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26 25 : Pujian Linggar.
27 26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28 27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29 28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30 29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31 30 : Linggar Murka Pada Lingga
32 31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33 32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34 33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35 34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36 35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37 36 : Sentuhan.
38 37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39 Garis Keturunan Adiwangsa
40 38 : Bersiap Untuk Berangkat
41 39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42 40 : Ibu Kandung Shanum.
43 41 : Ulah Shanum.
44 42 : Tegang.
45 43 : I Would Love You
46 44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47 45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48 46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49 47 : Bulan Madu (1)
50 48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51 49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52 50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53 51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54 52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55 53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56 54 : Keluarga Citaprasada.
57 55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58 56 : Di Kamar Hotel Saja.
59 57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60 58 : Salahku Bukan Salahmu.
61 59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62 60 : Tiba-tiba Pulang.
63 61 : Tiba Di Surabaya.
64 62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65 63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66 64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67 65 : -
68 66 :
69 67 : Surat Dari (M)
70 68 : Jatuh Berdua Lagi.
71 69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72 70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73 71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74 72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75 73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76 74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77 75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78 76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79 76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80 77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81 78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82 79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83 80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84 81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85 82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86 83 : -
87 Sedikit Pemberitahuan.
88 84 : Ke Klinik.
89 85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90 86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91 87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92 88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93 89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94 90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95 91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96 92 : Pengakuan Mesya.
97 93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98 94 : Ketidakjelasan Shanum.
99 95
100 96
101 97
102 98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103 99
104 100 [Pergi]
105 101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106 102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107 103 [Beban Orang-orang]
108 104
109 105
110 106
111 107 [Mengandung?]
112 108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113 108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114 109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115 109 (2)
116 110 (1)
117 110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118 111 (1)
119 111 (2)
120 112 (1)
121 112 (2) Hidden Twin.
122 113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123 113 (2) : POV Shanum.
124 114 (1)
125 114 (2)
126 Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Satu : Pernikahan Tersembunyi
2
Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3
3 : Anak Dan Suami.
4
4 : Hak Dan Kewajiban
5
5 : Ucapan Sambara.
6
6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7
7 : Setara
8
8 : Ingatan Linggar.
9
9 : Bukan Salah Linggar.
10
10 : Kesengajaan.
11
11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12
12 : Bekas Orang Lain.
13
13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14
14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15
15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16
16 :
17
17: Gistara Dan Gumira
18
18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19
19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20
20 : Cassia Upasama.
21
21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22
21 (2) : Pengakuan Shanum.
23
22 :
24
23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25
24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26
25 : Pujian Linggar.
27
26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28
27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29
28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30
29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31
30 : Linggar Murka Pada Lingga
32
31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33
32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34
33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35
34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36
35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37
36 : Sentuhan.
38
37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39
Garis Keturunan Adiwangsa
40
38 : Bersiap Untuk Berangkat
41
39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42
40 : Ibu Kandung Shanum.
43
41 : Ulah Shanum.
44
42 : Tegang.
45
43 : I Would Love You
46
44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47
45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48
46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49
47 : Bulan Madu (1)
50
48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51
49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52
50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53
51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54
52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55
53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56
54 : Keluarga Citaprasada.
57
55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58
56 : Di Kamar Hotel Saja.
59
57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60
58 : Salahku Bukan Salahmu.
61
59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62
60 : Tiba-tiba Pulang.
63
61 : Tiba Di Surabaya.
64
62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65
63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66
64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67
65 : -
68
66 :
69
67 : Surat Dari (M)
70
68 : Jatuh Berdua Lagi.
71
69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72
70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73
71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74
72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75
73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76
74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77
75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78
76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79
76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80
77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81
78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82
79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83
80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84
81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85
82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86
83 : -
87
Sedikit Pemberitahuan.
88
84 : Ke Klinik.
89
85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90
86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91
87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92
88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93
89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94
90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95
91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96
92 : Pengakuan Mesya.
97
93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98
94 : Ketidakjelasan Shanum.
99
95
100
96
101
97
102
98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103
99
104
100 [Pergi]
105
101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106
102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107
103 [Beban Orang-orang]
108
104
109
105
110
106
111
107 [Mengandung?]
112
108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113
108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114
109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115
109 (2)
116
110 (1)
117
110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118
111 (1)
119
111 (2)
120
112 (1)
121
112 (2) Hidden Twin.
122
113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123
113 (2) : POV Shanum.
124
114 (1)
125
114 (2)
126
Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!