Tasyakuran yang megah akan di adakan di kediaman Jayantaka. Selama beberapa tahun menikah Linggar tidak pernah mengikuti kehidupan keluarga tiri dari Ayahnya, Gumira. Ternyata Tante Callista telah melahirkan. Memangnya kapan beliau hamil? batinnya.
Iris sudah pulang. Tentunya setelah acara pernikahan benar-benar berjalan baik, Linggar memilih pamit dengan menyerahkan tanggung jawab terakhir pada Bu Prita -- Bosnya dulu.
Sebelum menghidupkan mesin mobil. Linggar mengirimkan pesan singkat pada Shanum bahwa ia meminta istrinya untuk segera bersiap-siap. Sayang, pakai baju hitam aja. Kamu siap-siap, ya? Begitu pesan singkat yang di tulis olehnya.
Sekitar perjalanan empat puluh lima menit. Linggar sampai di rumah. Namun saat masuk ia tidak melihat Shanum sama sekali, selanjutnya, ia berjalan menuju kamar tidur pengantin dan ingin melihat apakah istrinya itu sudah siap?
"Assalamualaikum," gumam Linggar.
Tangan kanannya membuka pintu kamar perlahan. Namun sedetik kemudian ia membeku saat tatapan matanya bertemu dengan Shanum. Istrinya itu terkejut sampai terjatuh duduk di lantai.
"Sayang!" Linggar lari dan spontan berjongkok, menyentuh pinggang istrinya. "Kamu kenapa---"
"Kenapa ka ... mu nggak ketuk pintu, Ling-gar?" selah Shanum dengan terbata-bata.
Dia nggak pakai kerudung? Sial ... gimana bisa gue baru sadar? batin Linggar yang mencoba mundur, dan melepas tangannya dari pinggang Shanum. "Maaf, Sayang. Aku nggak niat nakutin kamu. Aku tadi ... udah ucap salam, kok. Aku nggak asal masuk," ujar Linggar.
Shanum tertunduk dengan mengambil dan menghela napas beberapa kali. Tangannya mencengkram kuat gamis yang di pakai.
"Ma-af, berarti ... aku yang nggak dengar," lirih Shanum.
Linggar bangkit dan berbalik. "Aku keluar."
Kak Fale
Sampe jam segini belum datang.
Lo ini di mana, Linggar?
Linggar berdecak. Ia sudah mengganti pakaian. Namun Shanum tidak kunjung keluar. Mungkin ia akan berakhir tidak jadi hadir, karena Shanum sepertinya benar-benar takut.
Saat tangan Linggar mengetik bagian kalimat pertama, terdengar langkah kaki menuruni tangga, dan tidak lama di susul suara.
"Aku udah siap," ujar Shanum dengan sedikit gemetar.
Linggar mendongak, menatapi Shanum sejenak. "Kamu yakin kita berangkat---"
"Yakin, Linggar. La-gi pula, kamu ..." Shanum memegangi tasnya kuat-kuat, dan menelan ludah beberapa kali. "Udah janji datang, kan?"
Linggar mengangguk pelan dan bangkit. Ia menunduk sejenak, menatapi tangan Shanum. Boleh gandeng nggak sih? batinnya. Namun seketika Linggar menggeleng. Tidak usah. Ia takut akan semakin memberi jarak pada sang istri.
"Ayo." Linggar berjalan lebih dulu.
Sedangkan Shanum membutut di belakang, dengan langkah kecil. Ia menunduk terus, perasaannya bercampur aduk, di bersamai malu dan juga takut. Padahal Linggar hanya melihatnya tidak menggunakan kerudung saja. Tetapi, entah mengapa ia merasa telah di te*lanjangi.
"Linggar," lirih Shanum.
Linggar yang baru saja membuka pintu mobil menatap ke samping dan berujar, "Apa?"
"Ka-mu udah ... beli hadiah?"
"Udah." Linggar menatap istrinya sejenak, dengan memegang pembuka pintu mobil. "Masuk. Kita berangkat."
"Iya."
"Nanti kalau kamu ngerasa nggak nyaman, bilang, ya?" ujar Linggar yang baru saja memarkirkan mobil dengan menatap istrinya dari samping.
"Iya."
"Ini acara besar. Semua keluarga Adiwangsa, Adyuta, sama Jayantaka bakalan ngumpul. Mungkin beberapa bakalan bicara sesuatu yang buruk. Jadi ..." Linggar menjeda, menatap lurus. "Kalau kamu denger mereka bicara buruk tentang kamu. Tolong kamu langsung bilang ke aku."
"Detik itu juga kita bakalan pulang," imbuh Linggar.
Shanum hanya mengangguk.
"Kamu denger, Sayang?" ulang Linggar.
"Iya," jawab Shanum.
Keduanya turun dari mobil. Saat masuk beberapa penerimaan tamu telah mengenali Linggar. Dan dengan berdiri tegak, Linggar menggandeng tangan Shanum memasuki aula kediaman utama keluarga Jayantaka. Saat mata Shanum menatap ke arah depan ia langsung bertemu mata dengan mertunya, Gistara. Di samping beliau ada Nyonya Cecilia --- Ibu si kembar Abhi dan Rajendra.
"Itu ada Mama." Linggar lebih mendekatkan bibirnya pada telinga Shanum. "Kita ke sana dulu."
"Iya."
Langkah Shanum jujur terasa berat. Bukan karena membenci dan enggan bertemu mertuanya. Namun karena Mama Gistara selalu memaksanya ini dan itu. Beliau seakan-akan menganggap dirinya adalah istri yang tidak pantas untuk Linggar.
Tangan kanannya yang di genggaman Linggar mulai dingin dan berkeringat.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Linggar tiba-tiba.
Shanum mendongak. "A-aku nggak pa-pa."
"Tangan kamu dingin, berkeringat juga."
Shanum menggeleng pelan. "Nggak pa-pa. Aku udah biasa kayaknya gini."
Nyonya Cecilia tersenyum lebih dahulu dan menyapa Linggar. Sedangkan Mama Gistara memasang wajah biasa saja. Apa beliau masih marah dengan Linggar? Atau dengan dirinya? Shanum bingung. Ia hanya mampu tersenyum tipis dan bergantian menciumi punggung tangan Mama Gistara dan Nyonya Cecilia.
"Linggar, Shanum. Gimana penawaran yang di kasih sama Om Tama? Suami Tante udah bilang, kan, Linggar?" ucap Nyonya Cecilia.
Shanum menatap Linggar penuh tanya. Memang apa yang di tawarin Om Tama? batin Shanum.
Linggar tersenyum tipis. "Oh iya, Tante. Om Tama udah bilang, kok. Cuma saya sama Shanum belum mutusin mau bulan madu ke mana. Tapi sesegera mungkin saya bakal kasih kabar ke Om Tama."
Nyonya Cecilia mengangguk kecil.
"Harusnya Om Tama nggak usah repot-repot, Tante," lanjut Linggar.
Nyonya Cecilia menggeleng. "Enggak-enggak. Enggak repot. Itu hadiah, Linggar. Buat kamu, keponakan Tante."
Jadi, Om Tama ngasih hadiah bulan madu? Dan Linggar belum bicara ke aku? Kenapa? Apa ... dia ngerasa topik pembicaraan bulan madu ini ... menganggu aku? batin Shanum.
"Makasih, Tante," ujar Linggar.
"Iya."
Terlihat Nyonya Cecilia pamit menghampiri Tante Callista. Sedangkan Mama Gistara berdiri mengacuhkan dirinya dan Linggar. Sungguh Shanum tiada pilihan selain ikut terdiam juga.
"Ma," ujar Linggar.
Mama Gistara hanya menatap.
"Papa masih di rumah sakit?"
"Kamu tahu sendiri Papa pemimpin rumah sakit. Jelas Papamu nggak semudah itu buat izin pulang, tanggung jawab dia banyak," jawab Mama Gistara.
Linggar hanya bisa mengangguk.
"Kak Faleesha, di mana?" tanya Linggar, lagi.
Mama Gistara menjawab ketus. "Cari aja sendiri. Mama bukan satpam yang bisa kamu tanya-tanya."
Linggar hanya bisa menghela napas. Kemudian ia menatap Shanum. "Sayang, aku mau ke toilet. Kamu tunggu di sini nggak pa-pa?"
Sama Mama? batin Shanum seolah-olah tidak setuju. "A-aku ikut, nggak boleh?"
Linggar menggeleng pelan. "Toiletnya pisah, Sayang. Lagi pula nggak baik, entar orang-orang mikir yang bukan-bukan."
"Ya udah. Aku tunggu di sini."
Linggar telah pergi. Shanum benar-benar merasa canggung berdiri berdua dengan sang mertua. Sebab Gistara tidak berekspresi. Bahkan cenderung terlihat tidak suka jika ia berada di jangkauan beliau.
"Andai Linggar menikah dengan keturunan Jayantaka. Mungkin sekarang saya sudah menimang cucu," ujar Mama Gistara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Santidew
yaampun mama Gistara jahad
2022-09-05
1