"Memang aku pernah minta?" Linggar menunduk, menatapi Shanum yang mencengkram kuat gamis yang dipakainya. "Aku nggak pernah nuntut itu kan, Sayang? Sesuai perjanjian yang aku sepakati dengan Ayah, serta Kakakmu. Kalau aku nggak akan menuntut itu dari kamu, sebelum kamu sendiri sudah benar-benar ikhlas melakukannya nanti."
"Ta-pi lima bulan ini ... terlalu lama, Linggar. A-aku tahu kamu nggak selamanya ... bisa menunda, kan?" ujar Shanum.
Linggar menghela napas. "Aku udah bilang aku bisa, Shanum. Kenapa kamu nggak percaya---"
"Aku percaya!" Shanum terkejut karena nada bicaranya sendiri yang tinggi. Bahkan ia spontan menutup mulut dan menunduk lagi. "Tapi, Linggar. Laki-laki normal ... pasti ... membutuhkan itu."
"Aku tahu." Linggar menjeda. "Tapi sekarang aku lagi nggak membutuhkan itu."
Shanum terdiam.
Baginya itu semua hanya kebohongan. Linggar memang bisa menunda, tapi kebutuhan tetap akan menjadi kebutuhan. Linggar adalah laki-laki. Bahkan sudah memiliki istri. Ia berpikir laki-laki mana yang akan bisa menahan selama itu? Tiada jaminan yang pasti Linggar tidak melakukan itu di luar. Saat dirinya yang sebagai istri tidak bisa melayani suaminya dengan baik.
"Sayang ..."
Shanum tersadar. "Apa?"
"Aku minta kamu berhenti mikirin itu."
Nggak bisa, Linggar. Aku tahu keadaan aku ini benar-benar menyulitkan kamu, batin Shanum yang langsung mengangguk pelan. "Iya."
Linggar berjalan ke arah lemari kecil yang menjadi tempat barang-barang elektronik di tempatkan. Kemudian dirinya kembali lagi dengan membawa laptop. "Sayang, kebetulan aku udah ketemu lahan yang cocok buat kamu bangun sekolah lukis khusus wanita."
"Ini ... dekat pedesaan?"
"Iya. Deket sama Panti Asuhannya Kak Mahika. Anak Om Tama," jelas Linggar.
"Tapi ... apa nggak pa-pa?"
"Ya nggak pa-pa. Memangnya kenapa?" Linggar membuka laptop dan menunjuk detail semua lahan itu. "Nanti kalau libur aku antar kamu ke sana. Sekarang kamu coba pikirin mau desain sekolah yang seperti apa? Terus nanti aku kirim ke arsitek."
"Makasih, Linggar."
Linggar mengangguk-angguk.
Kamar tidurnya dengan Shanum tidak terpisah. Bahkan satu ranjang. Tetapi Linggar tetap berusaha membatasi diri dengan Shanum. Lagi-lagi karena trauma berat yang membuat Shanum merasa bahwa semua laki-laki di dunia ini tidak terpecaya. Semua karena Djoko sialan! Ingin rasanya Linggar memukul orang itu sampai sekarat. Namun ia teringat perkataan Gari bahwa mati adalah hukuman yang terlalu ringan untuk manusia biadab itu!
"Linggar Sayang!"
Linggar terkejut saat mendengar suara dari Mamanya, Gistara. "Mama ngapain ke sini?"
"Mama mau ketemu Shanum." Gistara hendak berjalan menuju kamar tidur. Namun sekejap saja lengannya di tahan oleh sang anak. "Kamu mau larang Mama buat ketemu menantu Mama sendiri?"
"Aku nggak maksud gitu, Ma. Tapi kenapa tadi siang Mama suruh Shanum keluar rumah?" tanya Linggar.
Gistara menatap Linggar. "Kenapa? Dia ngadu ke kamu? Padahal Mama cuma minta dia datang ke Lazuardi Hotel aja. Mama mau kenalin dia ke temen-temen Mama. Kenapa dia malah nggak dateng? Mama jadinya malu."
"Malu? Mama bilang?" Linggar menjeda. "Mama nggak lupa kan? Kalau pernikahan aku sama Shanum ini rahasia? Shanum nggak mau ada orang luar yang tahu, Ma. Tolong Mama hargai---"
"Linggar, Mama nggak habis pikir gimana bisa kamu jadi sepenurut ini sama perempuan itu! Kamu nggak lupa kan? Kalau di sini kamu itu kepala keluarga? Sudah jadi hakmu juga mau atur pernikahan ini, Nak. Jangan berpatok pada keinginan istrimu aja," tutur Gistara.
Dari balik dinding yang bertepatan dengan anak tangga Shanum dapat mendengar jelas yang di ucapkan oleh mertuanya. Sungguh Gistara baik. Tetapi ia mengerti, setiap Ibu tidak ingin masa depan anaknya terganggu. Dan mungkin ... menikah dengannya adalah hal yang berakhir buruk untuk Linggar kedepannya.
"Mama bahkan yakin. Kamu sama dia belum melakukan hubungan intim kan?"
"Mama!"
Linggar ... jangan bentak Mama, batin Shanum yang mencengkram kuat gamisnya. Netra yang semula baik-baik saja, kini telah berkaca-kaca. "Jangan, Linggar," lirihnya.
"Mama pulang. Urus istrimu itu, Linggar. Jangan pernah cari Mama lagi. Kamu kayaknya lupa kalau Mama itu Ibu kamu, sampai-sampai kamu berani bentak-bentak Mama."
Mendengar langkah kaki yang mulai menjauh, Shanum memilih turun dan dengan tergesa-gesa ia menghampiri suaminya. "Ling-gar."
"Sayang, kenapa turun?" Linggar menatapnya.
"Mama ke-sini?" Shanum mengatur napasnya. "Kamu ... ke-napa sampai gitu ke Mama?"
Linggar menggeleng. "Aku sama Mama baik-baik aja. Nggak ada apa-apa. Cuma bertengkar biasa, Sayang."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Hulapao
linggar top bgttt
2022-09-13
1
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Stargirl✨
Linggar pengertian banget sama istrinya 😇
2022-06-23
1