Di kamar setelah beberapa jam Linggar berangkat. Shanum mencoba lingerie yang di belinya kemarin, tidak lupa juga sebelum itu ia menutup pintu. Sungguh ini untuk pertama kalinya ia menggunakan lingerie. Ia tidak tahu akan kah pantas? Akan kah ia terlihat ... menarik?
Saat ia menatap lurus ke cermin. Pantulan dirinya memang selalu seperti ini; badan proporsional, dada miliknya memang besar, dan ... tangan kanannya terangkat menyentuh wajah. Apakah ia cantik? Lingerie ini nampak menonjolkan bagian dada, sekitar pahanya, dan yang jelas kulit cerah miliknya yang terdapat beberapa bekas luka akibat kejadian dulu.
Seketika saja Shanum menunduk. Linggar ... aku ngerasa sakit banget. Karena keadaanku ini jadi pemisah antara aku dan kamu, batinnya.
Karena orang-orang bilang, saat raga telah menyatu, hati tentu akan semakin lekat merasa. Tetapi nyatanya ia masih belum bisa. Ia masih terus mencoba pulih, walau rasanya percuma.
Segala tangis selalu jadi pendamping. Di saat tidak ada Linggar dan orang lain ia selalu saja menumpahkan segala kesedihannya lagi. Bahkan Kak Sambara menikahi Bu Arista, supaya membuat perempuan itu selalu di dekatnya. Entah mengapa ia merasa telah membuat semua orang kesulitan.
Maaf, batinnya, lagi.
Tangan kanannya meraba terus ke bawah hingga berhenti sekitar paha. Shanum spontan terjatuh dan ingatan masa kelam itu kembali muncul.
"Jijik," gumamnya.
Setelah mengirim pesan singkat pada Linggar, bahwa nanti lebih baik bertemu di apartemen kawasan umum saja. Supaya tidak ada orang-orang yang tahu kalau ia dan Linggar menjalin hubungan. Karena jelas Shanum tidak mau di beri pertanyaan-pertanyaan aneh oleh temannya dan belum lagi amukan para gadis-gadis sekolah yang mengagumi Linggar.
"Eh? Kok sepi?"
Shanum melihat sekeliling ruang seni. Kemudian bergumam, "Cepet banget. Bel pulang langsung keluar semua."
"Tapi barang-barang Bu Arista masih ada," gumamnya lagi.
Clek.
Suara pintu yang tertutup membuat Shanum mengalihkan pandangannya. Di sana telah berdiri pria yang berusia dua puluh sembilan tahun, yang menatap Shanum dengan terkejut.
"Pak Jo?"
"Lho? Bapak kira nggak ada orang," ujar Djoko.
Shanum tersenyum tipis dan sungkan. "Saya masih beres-beres, Pak."
"Mau Bapak bantuin?"
Netra Shanum melebar. "Eh? Enggak usah, Pak."
Shanum telah memasukan semua alat lukisnya begitupula buku gambar kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana. Bahkan ia telah menentang tas. Namun tiba-tiba saja Pak Jo menghentikan, dengan cara memegangi salah satu lengan miliknya.
"Ada apa, Pak?"
"Kamu pacaran ya sama Linggar?" tanya Djoko tiba-tiba.
Jujur saja jantung Shanum berdetak kencang. Bagaimana bisa tiba-tiba Pak Jo berbicara seperti ini? Apa beliau tahu? Shanum menggeleng, masih menyembunyikan semuanya.
"Setiap hari kalian bertemu di apartemen, kan?" tanya Djoko, lagi.
Gimana bisa Pak Jo tahu? batin Shanum yang memaksa lepas tangan Pak Jo dari lengannya. "Lepas, Pak. Tolong. Lagi pula itu urusan pribadi saya, Bapak nggak perlu ikut campur."
"Hm ... begitu, ya?" Djoko menatap datar pada Shanum. "Bagaimana kalau Nyonya Aisyah tahu anak suaminya, perempuan satu-satunya yang membawa nama Citaprasada berlagak seperti pe*lacur?"
Shanum menatap tidak habis pikir.
"Atau kamu memang pe*lacur seperti Ibumu, Shanum?" lanjut Djoko lagi.
"Astaghfirullah, Pak. Saya benar-benar nggak tahu apa masalah Bapak dengan saya. Jadi saya mohon Bapak jaga ucapan, Bapak." Shanum menyentak tangannya kuat. Namun Djoko lebih kuat lagi menahannya, lengan kecil miliknya semakin di cengkeram. "Pak, lepas!"
"Kamu setiap hari melayani Linggar, kan? Uang hasil mela*curmu pasti banyak," ucap Djoko lagi dengan tatapan tajam. "Jadi, nggak salah kan? Kalau saya ingin juga, Shanum? Bapak akan membayar kamu."
"Bapak gila! Saya bakalan teriak kalau Bapak---"
Mulut Shanum di bungkam kuat oleh tangan Djoko. Sesaat kemudian lelaki gila itu mengeluarkan semacam kain lalu menyupal mulut Shanum. Selanjutnya gerakan itu benar-benar tidak bisa Shanum baca, karena kedua tangannya sudah di ikat. Tas yang semula terteteng kini jatuh ke lantai.
Tolong, hikss ... batin Shanum yang mulai menetes air mata.
Sialan.
Tangan Djoko mulai meraba ke mana-mana, dari atas ke bawah bahkan menyikap rok miliknya.
"Hanya sebentar, Shanum. Kamu harus menurut, Bapak akan menggunakan pengaman, jadi kamu nggak akan hamil." Senyuman menjijikan Djoko benar-benar membuat Shanum muak. "Dan kabar bahagianya nggak ada lagi keturunan pe*lacur. Cukup Ibumu, dan kamu saja. Kecuali Linggar memang mau memiliki anak dari pelacur sepertimu pun Bapak nggak masalah. Asal bukan Bapak, Ayah dari anakmu itu."
Bajingan! batin Shanum menyumpah serapah Djoko.
"Harum, ya, Shanum?" Djoko telah melihat dengan jelas apa yang berada di balik rok itu. "Nggak salah kalau Linggar suka. Bahkan ... kamu basahnya cepat juga, ya?"
Shanum menendang ke segala arah. Namun Djoko menyentuh kuat-kuat kakinya.
"Kamu mau Bapak pakai mulut atau tangan?"
Djoko melancarkan aksinya.
"Bapak nggak bisa mengulur waktu." Djoko telah membuka resleting celana panjang miliknya. "Langsung ke intinya saja."
Shanum mematung saat sesuatu yang keras mulai menyentuhnya.
"Bapak suka yang kasar. Kamu tahan, ya?"
Shanum menangis terisak-isak cengkeraman kuat-kuat pada rambutnya tidak kunjung ia lepas. Bahkan ia mengusap-usap dan mencakar seluruh badannya di bagian: bibir, lengan, paha, semua ... semuanya kotor dan menjijikan.
"Hiks ... aku nggak bisa ... ingatan itu nggak mau hilang." Shanum menjatuhkan semua barang-barang yang berada di meja rias. "Akh ... bajingan! Bajingan! Manusia gila!"
Clek.
"Nona Muda ..." Salah satu pelayan tiba-tiba datang membantunya. "Nona tenang. Nona ... istighfar. Nona ..."
Shanum menatapi pelayan itu. "Jangan hubungi, Linggar," lirihnya.
"Baik, Nona. Kami tidak akan menghubungi Tuan Muda. Tetapi tolong Nona harus tenang. Nona melukai tubuh Nona sendiri," ujar pelayan itu.
Shanum menggeleng-gelengkan kepala dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Siapkan air ... saya ingin mandi. Beri sabun yang banyak."
Pelayan menjawab, "Baik, Nona."
Gimana caranya biar bersih? Bahkan ... aku mandi berkali-kali pun ... kotoran itu nggak mau hilang ... Linggar, batin Shanum yang masih menutupi wajahnya.
Sambara mengerutkan kening saat melihat dari layar monitor para pelayan berlari ke kamar pengantin Shanum dan Linggar. Sungguh ia sudah berniat hati untuk tidak melihat kejadian apapun di kamar itu. Namun rasa kekhawatirannya begitu besar.
Apa terjadi sesuatu pada Shanum? batin Sambara yang langsung mengecek cctv di bagian kamar.
Benar. Adiknya bersimpuh di bawah lantai dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Tetapi mengapa Shanum menggunakan pakaian yang seperti itu? Ia harus ... ke sana. Ia yakin Shanum sedang tidak baik saja.
"Sambara?"
Sambara menatap pada asal suara. Ternyata di lift yang terbuka muncul istrinya yang membawa bekal makan. "Kamu kenapa buru-buru begini? Lihat dahi kamu basah," ujar Arista, lagi.
"Arista ..." Mata Sambara berkaca-kaca menatap istrinya. "Shanum ... aku takut dia kenapa-napa."
"Sam, lihat aku." Tangan Arista berada di pipi Sambara. "Shanum di rumahnya Linggar. Dia baik-baik aja. Kamu bisa telepon ke sana. Bahkan di sana banyak pelayan. Aku yakin Shanum baik-baik aja."
Tangan Arista yang berada di pipi, Sambara sentuh perlahan. Bahkan ia menunduk pasrah. "Dada aku sakit. Aku rasa Shanum juga sakit. Tolong ... jangan suruh aku buat merasa kalau adik aku baik-baik aja, Arista. Tolong kamu mengerti aku. Aku benar-benar mengkhawatirkan Shanum."
Arista menghela napas. Saat melihat air mata menetes di salah satu mata suaminya. Shanum beruntung, punya seorang Kakak seperti kamu, Sambara, batinnya. "Ya sudah. Kita ke sana."
"Terima kasih, Arista. Maaf aku merepotkanmu."
Arista menggeleng.
Note:
Yang menjadi fakta di episode ini:
Ibu Shanum memang seorang pe*lacur.
Nyonya Aisyah yang di sebut Djoko adalah Ibu Sambara dan Bimasena. Shanum adik kandung beda Ibu.
Sambara yang terlihat paling kuat nyatanya juga manusia biasa. Dia cenderung merasa cemas saat melihat Shanum menangis. Karena dia adalah orang yang paling memedulikan adiknya.
Dan yang lainnya belum terungkap. Termasuk motif Djoko yang melakukan ruda paksa, dan juga bagaimana pertemuan Jaiz yang terkenal religius dengan Ibu Shanum yang notabenenya adalah pe*lacur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Donna Armen
sumpah.. ini bagusnya banget ceritanya.. tak ada satu kalimatpun saya lewatkan untuk dibaca.. nyesakny ikut terasa..
2022-09-16
2
Yuyun ImroatulWahdah
berasa banget sakitnya hati ini😭😭😭
2022-07-23
3
Yen Lamour
Trauma memang gak semudah kita membalikkan telapak tangan. Ga segampang kita tutup buku begitu aja ketika kita udh selesai baca 😢
2022-06-01
1