14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.

Kenapa masih kotor? Aku jijik. Kenapa susah buat bersihnya? batin Shanum yang mengusap-usap lengan kiri dan kanannya, begitu pula dengan paha dalam serta luar beberapa kali.

Pelayan pun membantunya mengusap punggung. Bahkan sesekali pelayan itu memegangi tangan kanan miliknya supaya berhenti melukai diri.

"Nona Muda, jika Nona selalu seperti ini Tuan Muda Linggar akan bertanya pada kami. Dan kami tentu tidak bisa menjawab selain apa yang kami lihat sekarang," ujar pelayan itu.

Seketika Shanum berhenti, ia menunduk menatapi air yang berbusa begitu banyak di bathtub. Surainya basah yang menutupi pipinya, ia sikap ke belakang telinga.

"Kamu sudah menikah?"

Pelayan itu diam.

"Saya mengajukan pertanyaan untuk kamu jawab," lanjut Shanum.

Pelayan itu menjawab, "Saya belum berkeluarga, Nona."

"Tapi kamu berencana menikah?" tanya Shanum.

"Iya Nona."

Shanum terdiam sejenak, menatapi paras pelayan ini. Bagi Shanum dia manis, kulitnya hitam, bulu mata serta alisnya tebal. Bagaimana bisa perempuan seperti ini harus menjadi pelayan? Tetapi, pelayan yang Linggar pilihkan bukan sembarang orang, tentu tidak salah jika ada perempuan cantik ini.

"Semoga kamu bahagia," harap Shanum.

Pelayan itu tersenyum tipis. "Semoga Nona juga bahagia."

Dari arah luar terdengar pintu kamar mandi terketuk beberapa kali di susul suara pelayan lain.

"Ada apa?" tanya Shanum.

"Ada Tuan Muda Sambara, Nona. Beliau ingin bertemu Nona."

Shanum bangkit dari bathtub.

"Tolong siapkan pakaian panjang," ujar Shanum.

"Shanum, kamu baik-baik saja?" tanya Sambara.

Kakaknya nampak begitu khawatir, Shanum heran. Bahkan Bu Arista pun ikut bersama Kakaknya. Jika Shanum lihat-lihat juga, pakaian Kak Sam masih seperti menggunakan pakaian kerja. Apa Kakaknya dari kantor? Dan ... tidak pulang? Langsung ke mari? Shanum menggeleng. Bagaimana mungkin?

"Aku baik-baik aja, Kak," jawab Shanum. "Kenapa Kak Sam tiba-tiba ke mari?"

Sambara tidak menjawab. Ia memilih untuk menggulung lengan gamis yang di pakai sang adik. "A-ada apa, Kak? Kak Sam mau ngapain?"

Arista terlihat berdiri juga, ia menyentuh tangan suaminya. "Sam, kamu mau apa?"

"Aku ingin melihat luka Shanum, Arista," jawab Sambara yang masih sibuk menggulung lengan gamis adiknya. Namun tangan besarnya langsung di tahan oleh Shanum. "Kakak mau lihat, Shanum."

"Aku nggak pa-pa, Kak," jawab Shanum. "Lagi pula lukaku udah sembuh."

Sambara memaksa terus, yang justru membuat Shanum tertarik ke depan dengan mengeluh kesakitan.

"Sambara, berhenti," tegas Arista yang menarik tangan Sambara dan menggenggam kuat-kuat. "Sam, sudah. Kamu jangan begini. Kamu buat Shanum takut."

Sambara tersadar dan menatap Shanum sendu. "Maaf, Shanum. Kakak cuma ... merasa khawatir." Lalu Sambara berbalik. "Kakak, permisi ke toilet."

Shanum hanya diam, dan kembali duduk lagi.

"Shanum ..." Arsita mengambil duduk bersebelahan dengan Shanum. Tangan kanannya perlahan-lahan menurunkan gulungan di lengan adik iparnya. Namun saat ia melihat lebih jelas ternyata ada beberapa luka cakar di tangan Shanum. "Ibu minta maaf atas perlakuan Kakakmu tadi. Tapi, Nak. Kenapa kamu melukai tubuh kamu lagi? Ibu tahu ini bekas luka dari kuku, kan?"

"Kamu minta Ibu bilang ke Kakakmu kalau kamu sudah membaik, tanpa membutuhkan pengobatan lagi. Tapi, nyatanya apa? Kamu bohongi Ibu?" lanjut Arista.

Shanum menjawab lirih, "Aku nggak bohong, Bu. Seharusnya Ibu paham, sesuatu yang aku alami ini susah buat di lupain."

"Ibu paham, Shanum. Bukannya berarti kamu masih butuh pengobatan, Nak?"

Shanum menggeleng. "Percuma, Bu. Semuanya percuma. Ini sudah lima tahun, kan? Buktinya aku ... begini terus. Aku merasa nggak ada kemajuan di diri aku. Bahkan aku ... merasa aku nggak pantas buat jadi istri Linggar. Dia pasti kecewa, Bu. Dia pikir aku udah sembuh, nyatanya aku nggak pernah sembuh."

Saat Arista hendak menjawab. Sambara telah terlihat mendekat, maka langsung saja ia urungkan. Mata miliknya fokus menatapi Sambara.

"Kamu mau jalan-jalan sama Kakak?" tanya Sambara tiba-tiba.

Shanum menggeleng. "Enggak, Kak. Aku mau di rumah aja."

Sambara terdiam. Kemudian Arista bangkit mendekati suaminya dan berujar, "Kalau begitu minggu depan kita atur double date ya, Shanum? Sekali-kali kamu, Linggar, Ibu, dan Kakakmu pergi sama-sama."

"Iya, Bu. Nanti aku ... izin ke Linggar dulu," jawab Shanum.

Bakda magrib Linggar datang. Tetapi ia heran tiada penyambutan dari istrinya tercintanya, Shanum. Di mana istrinya itu? Bahkan beberapa pelayan sibuk di dapur, dan pelayan lainnya di meja makan.

Langkah kakinya yang semula cepat kini berganti perlahan. Saat melihat sang istri berada di kolam renang dengan duduk menatap lurus.

"Assalamualaikum."

Shanum masih tidak sadar. Dia melamun apa? batin Linggar yang sekali lagi berucap, "Assalamualaikum."

Shanum menengok ke kiri. "Eh? Ling-gar? "Wa-waalaikumussalam. Maaf aku nggak denger."

Kemudian ia perlahan-lahan bangkit. Namun sialnya lantai ternyata sangat licin. Hingga spontan ia mencengkram kemeja Linggar lalu jatuh bersama di dalam kolam renang.

Byur.

Shanum merasa pinggangnya di sentuh oleh kedua tangan Linggar, lalu di tariknya ke permukaan. Hingga ia terbatuk-batuk dengan tangan yang menggantung di leher Linggar. "Maaf. Lantainya licin," lirih Shanum yang menunduk.

Linggar menggeleng dan tersenyum tipis. "Nggak pa-pa, Sayang."

"Ayo ke pinggir. Kamu kedinginan pas---"

"Enggak!" Netra Shanum melebar ia sadar tadi menggunakan gamis putih. Nantinya jika ia naik jelas pakaian dalamnya akan terlihat, belum lagi lekuk tubuhnya. Ia bahkan hanya menggunakan celana pendek dan bra. Sungguh Shanum tidak memikirkan bahwa akan berakhir seperti ini. "Ma-maksud aku. Kamu duluan aja. A-aku mau renang sebentar."

Linggar menatap Shanum sejenak.

"Kalau gitu kita renang sama-sama. Tapi, kamu yakin? Ini agak dingin lho, Sayang," ujar Linggar.

Shanum menatap Linggar dan menggeleng. "Enggak-enggak, jangan Linggar. Kamu kan baru pulang kerja mending kamu ... i-itu mandi atau makan?"

Dia kenapa tiba-tiba begini? batin Linggar menatapi Shanum yang mulai menunduk lagi. Saat pandangan Linggar sedikit rendah ia samar-samar dapat melihat di dalam kolam renang. Ah, jadi gara-gara pakaian dia terawang? batinnya, lagi. Yang entah mengapa fokus matanya berada pada dada Shanum yang terbungkus rapi oleh bra hitam.

Astaghfirullah, batin Linggar dan menggeleng.

"Kalau gitu aku naik dulu, Sayang. Aku ambilin handuknya," ujar Linggar yang berlahan melepas tangannya dari pinggang Shanum. Begitupula istrinya yang melepaskan kedua tangan dari lehernya. "Kamu mandi lagi, ya? Air hangat."

"Iya," jawab Shanum.

Linggar telah berada di daratan. Ia berjalan pelan sembari menatap ke bawah. Sialan. Bagaimana bisa ia tiba-tiba menegang? Sesuatu menonjol di sana. Akh, gue lama-lama gila. Padahal gue cuma lihat dada aja. Bukan yang lainnya, batin Linggar yang memijat keningnya. Saat ia hendak memasuki kamar mandi bahwa ia melihat salah satu pelayan sedang sibuk di meja makan.

Maka mau tidak mau ia harus teriak saja. Jika tidak, orang lain dapat melihat keadaannya saat ini. "Ambilkan handuk untuk Shanum! Dia ada kolam renang!"

"Baik, Tuan Muda."

"Ah."

Linggar merasa lega. Orang-orang yang tidak tahu pasti akan berpikir bahwa ia bodoh. Namun sudah lah ... ia tidak peduli dengan siapapun. Punggungnya di sandarkan pada kloset duduk, ia menengadah, menatapi langit-langit kamar mandi.

Ia tidak tahu. Apakah ia berdosa juga? Jika memuaskan diri sendiri dengan membayangkan wajah dan seluruh tubuh Shanum. Bahkan ia berharap mendengar de*sahan sang istri.

Sialan.

Ia benar-benar sudah berada di batas kemampuannya. Jika sudah begini lebih baik ia menghindari Shanum beberapa hari. Sebelum ia lepas kendali, dan meminta hal yang sudah ia sanggupi sendiri untuk menunggu dari Shanum.

"Nggak ada gitu obat pereda naf*su? Stress gue lama-lama," gumam Linggar.

Kling!

Mata Linggar beralih pada celana panjangnya yang basah. Seperti bunyi gawai. Linggar kira gawai itu sudah rusak akibat air kolam. Ia perlahan berdiri mengambil celana panjangnya, dan merogoh saku.

08567xxxxxxx

Minggu sore. Cafe biasa.

-Gari.

^^^Oke.^^^

Linggar selalu ingat. Jika Gari sudah mengiriminya pesan dapat di pastikan bahwa ada hal penting yang harus di bicarakan. Saat baru saja ia meletakkan gawai di atas meja, terdengar suara ketukan pintu dari luar.

"Linggar, kamu masih lama?"

Suara Shanum, batinnya. "Iya sebentar, Sayang!"

"Aku tunggu sebelum makanannya dingin!"

Linggar menjawab lagi. "Iya, Sayang. Tapi aku boleh minta tolong?" Linggar mendekat ke arah pintu. "Tolong ambilin pakaianku."

"Bisa. Kamu tunggu sebentar."

Terpopuler

Comments

Santidew

Santidew

sabar Linggar sabar

2022-09-05

1

Yen Lamour

Yen Lamour

Linggar dan shanum sama” kasian 😢 yg sabar ya linggar
Utk shanum, bikin aku ke ingat tmnku. Dia jg hampir aja kena pelecehan. Tp dampaknya jg kyk shanum
Mandi lama karna gosok sabun berkali-kali. Dia blg klw gak berkali-kali rasanya gak bersih
Sehari cuci tgn jg berkali-kali. Katanya rasanya cpt kotor 😔
Apalagi klw kyk shanum? 😭

2022-06-01

4

Yen Lamour

Yen Lamour

Tambahin umur u lbh tua berpuluh-puluh thn, linggar. Itu caranya 😁

2022-06-01

1

lihat semua
Episodes
1 Satu : Pernikahan Tersembunyi
2 Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3 3 : Anak Dan Suami.
4 4 : Hak Dan Kewajiban
5 5 : Ucapan Sambara.
6 6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7 7 : Setara
8 8 : Ingatan Linggar.
9 9 : Bukan Salah Linggar.
10 10 : Kesengajaan.
11 11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12 12 : Bekas Orang Lain.
13 13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14 14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15 15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16 16 :
17 17: Gistara Dan Gumira
18 18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19 19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20 20 : Cassia Upasama.
21 21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22 21 (2) : Pengakuan Shanum.
23 22 :
24 23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25 24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26 25 : Pujian Linggar.
27 26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28 27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29 28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30 29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31 30 : Linggar Murka Pada Lingga
32 31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33 32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34 33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35 34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36 35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37 36 : Sentuhan.
38 37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39 Garis Keturunan Adiwangsa
40 38 : Bersiap Untuk Berangkat
41 39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42 40 : Ibu Kandung Shanum.
43 41 : Ulah Shanum.
44 42 : Tegang.
45 43 : I Would Love You
46 44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47 45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48 46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49 47 : Bulan Madu (1)
50 48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51 49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52 50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53 51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54 52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55 53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56 54 : Keluarga Citaprasada.
57 55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58 56 : Di Kamar Hotel Saja.
59 57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60 58 : Salahku Bukan Salahmu.
61 59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62 60 : Tiba-tiba Pulang.
63 61 : Tiba Di Surabaya.
64 62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65 63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66 64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67 65 : -
68 66 :
69 67 : Surat Dari (M)
70 68 : Jatuh Berdua Lagi.
71 69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72 70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73 71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74 72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75 73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76 74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77 75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78 76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79 76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80 77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81 78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82 79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83 80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84 81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85 82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86 83 : -
87 Sedikit Pemberitahuan.
88 84 : Ke Klinik.
89 85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90 86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91 87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92 88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93 89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94 90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95 91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96 92 : Pengakuan Mesya.
97 93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98 94 : Ketidakjelasan Shanum.
99 95
100 96
101 97
102 98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103 99
104 100 [Pergi]
105 101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106 102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107 103 [Beban Orang-orang]
108 104
109 105
110 106
111 107 [Mengandung?]
112 108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113 108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114 109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115 109 (2)
116 110 (1)
117 110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118 111 (1)
119 111 (2)
120 112 (1)
121 112 (2) Hidden Twin.
122 113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123 113 (2) : POV Shanum.
124 114 (1)
125 114 (2)
126 Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128 HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Satu : Pernikahan Tersembunyi
2
Dua : Sesuatu Hal Yang Mulai Dipermasalahkan
3
3 : Anak Dan Suami.
4
4 : Hak Dan Kewajiban
5
5 : Ucapan Sambara.
6
6 : Orang-orang Yang Mulai Ikut Campur
7
7 : Setara
8
8 : Ingatan Linggar.
9
9 : Bukan Salah Linggar.
10
10 : Kesengajaan.
11
11 : Kenormalan Dan Objektifikasi.
12
12 : Bekas Orang Lain.
13
13 : Kejadian Yang Terbisit Dan Kekhawatiran.
14
14 : Kekhawatiran Sambara Dan Pandangan Mata Linggar.
15
15 : Menghindar Berkedok Kesibukan
16
16 :
17
17: Gistara Dan Gumira
18
18 : Kepantasan Dan Ketidakpantasan
19
19 : Usaha Shanum Dan Sesuatu Yang Gari Sampaikan
20
20 : Cassia Upasama.
21
21 (1) : Berat. Namun Harus Di Bahas.
22
21 (2) : Pengakuan Shanum.
23
22 :
24
23 : Cassia Membenci. Sedangkan, Linggar Merasa Marah.
25
24 : Kamu Mau Ninggalin Aku?
26
25 : Pujian Linggar.
27
26 : Pekerjaan Cassia Dan Rahasia Lingga.
28
27 : Pertemuan Linggar Dan Gari.
29
28 : Spontanitas Yang Tak Terduga.
30
29 : Pikiran Shanum Dan Linggar. Juga Kabar Dari Lingga.
31
30 : Linggar Murka Pada Lingga
32
31 : Derita Yang Lebih Menyakitkan Dari Shanum.
33
32 : Pikiran Shanum Tentang Linggar
34
33 : Alasan Linggar Merasa Malu Dan Perubahan Shanum.
35
34 : Dua Kubu Yang Berbeda
36
35 : Kesenangan Linggar Yang Terselip Kekesalan.
37
36 : Sentuhan.
38
37 : Pertemuan Dengan Iris Dan Beres-beres.
39
Garis Keturunan Adiwangsa
40
38 : Bersiap Untuk Berangkat
41
39 : Batasan Yang Mulai Terkikis Dari Linggar.
42
40 : Ibu Kandung Shanum.
43
41 : Ulah Shanum.
44
42 : Tegang.
45
43 : I Would Love You
46
44 : Tembok Besar Yang Runtuh
47
45 : Shanum Dan Linggar. Mesya Dan Tuan Jaiz.
48
46 : Kepada Mesya, Ibu Dari Shanum. Dan Pertanyaan Tiba-tiba Dari Sambara.
49
47 : Bulan Madu (1)
50
48 : Bulan Madu (2) : Kekhawatiran Berlebih.
51
49 : Bulan Madu (3) : Shanum Kesal.
52
50 : Konflik Batin Shanum Dan Mesya.
53
51 : Bulan Madu (4) : Yang Pertama.
54
52 : Perasaan Shanum Dan Gistara.
55
53 : Mendekam Di Kamar Hotel Dan Menerima Telepon.
56
54 : Keluarga Citaprasada.
57
55 : Informasi Yang Membuat Mood Buruk
58
56 : Di Kamar Hotel Saja.
59
57 : Kekecewaan Mendarah Daging.
60
58 : Salahku Bukan Salahmu.
61
59 : Konflik Batin Shanum, Linggar Dan Mesya.
62
60 : Tiba-tiba Pulang.
63
61 : Tiba Di Surabaya.
64
62 : Bukan Sekadar Pajangan.
65
63 : Informasi Terbaru Dari Gari.
66
64 : Oleh-oleh Yang Mendapat Sambutan Berbeda-beda.
67
65 : -
68
66 :
69
67 : Surat Dari (M)
70
68 : Jatuh Berdua Lagi.
71
69 : Sabtu Hari Pernikahan Lingga Dan Cassia.
72
70 : Pikiran Linggar Dan Shanum.
73
71 : Di Kediaman Manggala Adiwangsa.
74
72 : Bertemu Lingga Dan Cassia.
75
73 : Pembicaraan Shanum Dan Cassia.
76
74 : Bermesraan Di Kamar Tamu.
77
75 : Gistara Mendengar Sesuatu.
78
76 (1) : Mama Gistara Akan Bicara.
79
76 (2) : Mama Gistara Yang Sebenarnya.
80
77 : Bertemu Dengan Gari Di Honey Bunch.
81
78 : Kenikmatan Yang Di Angan-angan.
82
79 : Bukan Yang Pertama Bagi Shanum.
83
80 : Permintaan Maaf Yang Di Benci.
84
81 : Janji Linggar Dan Keingintahuan Sambara.
85
82 : Pertemuan Linggar Dan Sambara.
86
83 : -
87
Sedikit Pemberitahuan.
88
84 : Ke Klinik.
89
85 : Perubahan Shanum Dan Ucapan Lingga Tentang Pernikahan.
90
86 : Akrab Kembali Dan Informasi Dari Gari.
91
87 : Pembahasan Mengenai Shanum.
92
88 : Kesalahan Linggar Meninggalkan Laptop.
93
89 : Mencari Seluk Beluk Muci*kari.
94
90 : Masuk Ke Rumah Bordil.
95
91 : Perbincangan Panjang Dengan Muci*kari
96
92 : Pengakuan Mesya.
97
93 : Cctv Yang Mulai Dipertanyakan.
98
94 : Ketidakjelasan Shanum.
99
95
100
96
101
97
102
98 : Flashback Dan Permintaan Maaf.
103
99
104
100 [Pergi]
105
101 [Pemahaman Yang Berbeda]
106
102 [Permasalahan Yang Muncul Karena Kepergian Shanum]
107
103 [Beban Orang-orang]
108
104
109
105
110
106
111
107 [Mengandung?]
112
108 (1) Semua Orang Harus Tahu.
113
108 (2) Kebersamaan Linggar Dan Shanum.
114
109 (1) Bertemu Ibu Kandung.
115
109 (2)
116
110 (1)
117
110 (2) Pertemuan Ibu Dan Anak.
118
111 (1)
119
111 (2)
120
112 (1)
121
112 (2) Hidden Twin.
122
113 (1) Suami Mana Yang Nggak Butuh Istrinya?
123
113 (2) : POV Shanum.
124
114 (1)
125
114 (2)
126
Rilis Cerita Lingga dan Cassia
127
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 1 : Apa Yang Salah Dengan Ballerina?
128
HARSHADA s² — Kaluna Bagian 2 : Apa Kehadiran Kami Adalah Hal Buruk Bagi Ayah?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!