Kenapa masih kotor? Aku jijik. Kenapa susah buat bersihnya? batin Shanum yang mengusap-usap lengan kiri dan kanannya, begitu pula dengan paha dalam serta luar beberapa kali.
Pelayan pun membantunya mengusap punggung. Bahkan sesekali pelayan itu memegangi tangan kanan miliknya supaya berhenti melukai diri.
"Nona Muda, jika Nona selalu seperti ini Tuan Muda Linggar akan bertanya pada kami. Dan kami tentu tidak bisa menjawab selain apa yang kami lihat sekarang," ujar pelayan itu.
Seketika Shanum berhenti, ia menunduk menatapi air yang berbusa begitu banyak di bathtub. Surainya basah yang menutupi pipinya, ia sikap ke belakang telinga.
"Kamu sudah menikah?"
Pelayan itu diam.
"Saya mengajukan pertanyaan untuk kamu jawab," lanjut Shanum.
Pelayan itu menjawab, "Saya belum berkeluarga, Nona."
"Tapi kamu berencana menikah?" tanya Shanum.
"Iya Nona."
Shanum terdiam sejenak, menatapi paras pelayan ini. Bagi Shanum dia manis, kulitnya hitam, bulu mata serta alisnya tebal. Bagaimana bisa perempuan seperti ini harus menjadi pelayan? Tetapi, pelayan yang Linggar pilihkan bukan sembarang orang, tentu tidak salah jika ada perempuan cantik ini.
"Semoga kamu bahagia," harap Shanum.
Pelayan itu tersenyum tipis. "Semoga Nona juga bahagia."
Dari arah luar terdengar pintu kamar mandi terketuk beberapa kali di susul suara pelayan lain.
"Ada apa?" tanya Shanum.
"Ada Tuan Muda Sambara, Nona. Beliau ingin bertemu Nona."
Shanum bangkit dari bathtub.
"Tolong siapkan pakaian panjang," ujar Shanum.
"Shanum, kamu baik-baik saja?" tanya Sambara.
Kakaknya nampak begitu khawatir, Shanum heran. Bahkan Bu Arista pun ikut bersama Kakaknya. Jika Shanum lihat-lihat juga, pakaian Kak Sam masih seperti menggunakan pakaian kerja. Apa Kakaknya dari kantor? Dan ... tidak pulang? Langsung ke mari? Shanum menggeleng. Bagaimana mungkin?
"Aku baik-baik aja, Kak," jawab Shanum. "Kenapa Kak Sam tiba-tiba ke mari?"
Sambara tidak menjawab. Ia memilih untuk menggulung lengan gamis yang di pakai sang adik. "A-ada apa, Kak? Kak Sam mau ngapain?"
Arista terlihat berdiri juga, ia menyentuh tangan suaminya. "Sam, kamu mau apa?"
"Aku ingin melihat luka Shanum, Arista," jawab Sambara yang masih sibuk menggulung lengan gamis adiknya. Namun tangan besarnya langsung di tahan oleh Shanum. "Kakak mau lihat, Shanum."
"Aku nggak pa-pa, Kak," jawab Shanum. "Lagi pula lukaku udah sembuh."
Sambara memaksa terus, yang justru membuat Shanum tertarik ke depan dengan mengeluh kesakitan.
"Sambara, berhenti," tegas Arista yang menarik tangan Sambara dan menggenggam kuat-kuat. "Sam, sudah. Kamu jangan begini. Kamu buat Shanum takut."
Sambara tersadar dan menatap Shanum sendu. "Maaf, Shanum. Kakak cuma ... merasa khawatir." Lalu Sambara berbalik. "Kakak, permisi ke toilet."
Shanum hanya diam, dan kembali duduk lagi.
"Shanum ..." Arsita mengambil duduk bersebelahan dengan Shanum. Tangan kanannya perlahan-lahan menurunkan gulungan di lengan adik iparnya. Namun saat ia melihat lebih jelas ternyata ada beberapa luka cakar di tangan Shanum. "Ibu minta maaf atas perlakuan Kakakmu tadi. Tapi, Nak. Kenapa kamu melukai tubuh kamu lagi? Ibu tahu ini bekas luka dari kuku, kan?"
"Kamu minta Ibu bilang ke Kakakmu kalau kamu sudah membaik, tanpa membutuhkan pengobatan lagi. Tapi, nyatanya apa? Kamu bohongi Ibu?" lanjut Arista.
Shanum menjawab lirih, "Aku nggak bohong, Bu. Seharusnya Ibu paham, sesuatu yang aku alami ini susah buat di lupain."
"Ibu paham, Shanum. Bukannya berarti kamu masih butuh pengobatan, Nak?"
Shanum menggeleng. "Percuma, Bu. Semuanya percuma. Ini sudah lima tahun, kan? Buktinya aku ... begini terus. Aku merasa nggak ada kemajuan di diri aku. Bahkan aku ... merasa aku nggak pantas buat jadi istri Linggar. Dia pasti kecewa, Bu. Dia pikir aku udah sembuh, nyatanya aku nggak pernah sembuh."
Saat Arista hendak menjawab. Sambara telah terlihat mendekat, maka langsung saja ia urungkan. Mata miliknya fokus menatapi Sambara.
"Kamu mau jalan-jalan sama Kakak?" tanya Sambara tiba-tiba.
Shanum menggeleng. "Enggak, Kak. Aku mau di rumah aja."
Sambara terdiam. Kemudian Arista bangkit mendekati suaminya dan berujar, "Kalau begitu minggu depan kita atur double date ya, Shanum? Sekali-kali kamu, Linggar, Ibu, dan Kakakmu pergi sama-sama."
"Iya, Bu. Nanti aku ... izin ke Linggar dulu," jawab Shanum.
Bakda magrib Linggar datang. Tetapi ia heran tiada penyambutan dari istrinya tercintanya, Shanum. Di mana istrinya itu? Bahkan beberapa pelayan sibuk di dapur, dan pelayan lainnya di meja makan.
Langkah kakinya yang semula cepat kini berganti perlahan. Saat melihat sang istri berada di kolam renang dengan duduk menatap lurus.
"Assalamualaikum."
Shanum masih tidak sadar. Dia melamun apa? batin Linggar yang sekali lagi berucap, "Assalamualaikum."
Shanum menengok ke kiri. "Eh? Ling-gar? "Wa-waalaikumussalam. Maaf aku nggak denger."
Kemudian ia perlahan-lahan bangkit. Namun sialnya lantai ternyata sangat licin. Hingga spontan ia mencengkram kemeja Linggar lalu jatuh bersama di dalam kolam renang.
Byur.
Shanum merasa pinggangnya di sentuh oleh kedua tangan Linggar, lalu di tariknya ke permukaan. Hingga ia terbatuk-batuk dengan tangan yang menggantung di leher Linggar. "Maaf. Lantainya licin," lirih Shanum yang menunduk.
Linggar menggeleng dan tersenyum tipis. "Nggak pa-pa, Sayang."
"Ayo ke pinggir. Kamu kedinginan pas---"
"Enggak!" Netra Shanum melebar ia sadar tadi menggunakan gamis putih. Nantinya jika ia naik jelas pakaian dalamnya akan terlihat, belum lagi lekuk tubuhnya. Ia bahkan hanya menggunakan celana pendek dan bra. Sungguh Shanum tidak memikirkan bahwa akan berakhir seperti ini. "Ma-maksud aku. Kamu duluan aja. A-aku mau renang sebentar."
Linggar menatap Shanum sejenak.
"Kalau gitu kita renang sama-sama. Tapi, kamu yakin? Ini agak dingin lho, Sayang," ujar Linggar.
Shanum menatap Linggar dan menggeleng. "Enggak-enggak, jangan Linggar. Kamu kan baru pulang kerja mending kamu ... i-itu mandi atau makan?"
Dia kenapa tiba-tiba begini? batin Linggar menatapi Shanum yang mulai menunduk lagi. Saat pandangan Linggar sedikit rendah ia samar-samar dapat melihat di dalam kolam renang. Ah, jadi gara-gara pakaian dia terawang? batinnya, lagi. Yang entah mengapa fokus matanya berada pada dada Shanum yang terbungkus rapi oleh bra hitam.
Astaghfirullah, batin Linggar dan menggeleng.
"Kalau gitu aku naik dulu, Sayang. Aku ambilin handuknya," ujar Linggar yang berlahan melepas tangannya dari pinggang Shanum. Begitupula istrinya yang melepaskan kedua tangan dari lehernya. "Kamu mandi lagi, ya? Air hangat."
"Iya," jawab Shanum.
Linggar telah berada di daratan. Ia berjalan pelan sembari menatap ke bawah. Sialan. Bagaimana bisa ia tiba-tiba menegang? Sesuatu menonjol di sana. Akh, gue lama-lama gila. Padahal gue cuma lihat dada aja. Bukan yang lainnya, batin Linggar yang memijat keningnya. Saat ia hendak memasuki kamar mandi bahwa ia melihat salah satu pelayan sedang sibuk di meja makan.
Maka mau tidak mau ia harus teriak saja. Jika tidak, orang lain dapat melihat keadaannya saat ini. "Ambilkan handuk untuk Shanum! Dia ada kolam renang!"
"Baik, Tuan Muda."
"Ah."
Linggar merasa lega. Orang-orang yang tidak tahu pasti akan berpikir bahwa ia bodoh. Namun sudah lah ... ia tidak peduli dengan siapapun. Punggungnya di sandarkan pada kloset duduk, ia menengadah, menatapi langit-langit kamar mandi.
Ia tidak tahu. Apakah ia berdosa juga? Jika memuaskan diri sendiri dengan membayangkan wajah dan seluruh tubuh Shanum. Bahkan ia berharap mendengar de*sahan sang istri.
Sialan.
Ia benar-benar sudah berada di batas kemampuannya. Jika sudah begini lebih baik ia menghindari Shanum beberapa hari. Sebelum ia lepas kendali, dan meminta hal yang sudah ia sanggupi sendiri untuk menunggu dari Shanum.
"Nggak ada gitu obat pereda naf*su? Stress gue lama-lama," gumam Linggar.
Kling!
Mata Linggar beralih pada celana panjangnya yang basah. Seperti bunyi gawai. Linggar kira gawai itu sudah rusak akibat air kolam. Ia perlahan berdiri mengambil celana panjangnya, dan merogoh saku.
08567xxxxxxx
Minggu sore. Cafe biasa.
-Gari.
^^^Oke.^^^
Linggar selalu ingat. Jika Gari sudah mengiriminya pesan dapat di pastikan bahwa ada hal penting yang harus di bicarakan. Saat baru saja ia meletakkan gawai di atas meja, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Linggar, kamu masih lama?"
Suara Shanum, batinnya. "Iya sebentar, Sayang!"
"Aku tunggu sebelum makanannya dingin!"
Linggar menjawab lagi. "Iya, Sayang. Tapi aku boleh minta tolong?" Linggar mendekat ke arah pintu. "Tolong ambilin pakaianku."
"Bisa. Kamu tunggu sebentar."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Santidew
sabar Linggar sabar
2022-09-05
1
Yen Lamour
Linggar dan shanum sama” kasian 😢 yg sabar ya linggar
Utk shanum, bikin aku ke ingat tmnku. Dia jg hampir aja kena pelecehan. Tp dampaknya jg kyk shanum
Mandi lama karna gosok sabun berkali-kali. Dia blg klw gak berkali-kali rasanya gak bersih
Sehari cuci tgn jg berkali-kali. Katanya rasanya cpt kotor 😔
Apalagi klw kyk shanum? 😭
2022-06-01
4
Yen Lamour
Tambahin umur u lbh tua berpuluh-puluh thn, linggar. Itu caranya 😁
2022-06-01
1