Aku nggak bohong. Kamu harus percaya, Shanum, batin Linggar yang menatapi sang istri seperti gugup, berkeringat dingin dan tangan kurus itu mencengkeram kuat gamis yang dipakai.
"Shanum ..."
Shanum menunduk dan menggeleng. "Kamu ... bohong. Ka-mu kenapa bentak ... Mama, Linggar?"
"Aku nggak bentak Mama, Sayang. Aku cuma nggak sengaja aja bicara keras ke Mama." Linggar selalu sulit untuk berhadapan dengan Shanum. Spontanitasnya selalu saja menyentuh, dan Shanum tidak akan pernah bisa semudah itu menerima. "Coba kamu lihat aku."
Shanum menggeleng. "A-aku denger semuanya."
Linggar memejamkan mata sejenak. Sialan. Mengapa harus seperti ini? Bukankah ia berjanji untuk membahagiakan Shanum? Tetapi mengapa berakhir menyakiti Shanum seperti ini?
"Sayang." Perlahan-lahan Linggar menyentuh tangan Shanum. "Aku izin sentuh."
Shanum masih tertunduk.
"Jangan dengerin apapun yang di ucapin sama Mama. Karena menurut aku yang salah di sini itu Mama---"
Shanum langsung mendongak dan menyanggah, "Enggak, Linggar. Ke-napa kamu nyalahin Mama? Yang salah itu aku. Yang salah juga pernikahan kita ini. Kenapa ... kenapa kamu mau menikah sama aku? Bahkan dalam ... kurun waktu lima bulan pun aku nggak bisa menyesuaikan diri. Aku nggak bisa jadi me-nantu yang Mama mau. Aku juga nggak bisa jadi istri seperti wanita lain yang sudah menikah. Aku ..."
"Enggak-enggak, Sayang. Enggak. Nggak ada yang salah sama kamu, nggak ada yang salah sama pernikahan kita." Tangan Linggar yang semula berada di jari jemari, kini mengusap lembut pipi sang istri yang menitikkan air mata. "Jangan nangis gini. Aku jadi ikut sakit."
"Mama jadi marah sama kamu ... itu semua karena aku, Linggar." Shanum mengusap-usap ekor matanya. "Toh, yang di bilang Mama bener. Kamu itu pemimpin dalam pernikahan ini, ka-mu yang berhak menentuin semua. Aku ini cuma istri ... yang harus menurut dan melayani suaminya. A-aku ... nggak berhak larang kamu. Bahkan ... kamu ... nggak perlu izin aku buat ... nyentuh tubuh aku di bagian mana pun---"
"Enggak, Sayang. Berhenti. Jangan bicara apa-apa lagi." Ma, kenapa sih? Mama kenapa harus kayak gini ke istri aku? lanjut Linggar dalam hati. "Dengerin aku."
"Pernikahan ini pilihan hidupku. Dan aku tahu Mama itu yang melahirkan aku, tapi kesalahan manusia itu nggak bisa di ukur dari tua mudanya, kan? Sekali pun Mama itu Ibuku, kalau beliau salah apa aku harus bela?" Linggar menatap dalam pada mata Shanum. "Aku sayang sama Mama. Aku marah, aku ngebentak beliau pun karena spontanitas aku yang udah nggak tahan denger Mama gituin kamu, Sayang."
"Aku ini emang anak Mama. Tapi aku ini juga suami kamu. Siapa yang jamin aku nggak berdosa waktu biarin Mama bicara begitu tentang kamu? Tugas aku itu nggak sekedar nafkahi kamu aja, aku juga menjamin kesehatan batin kamu. Apalagi kamu bilang, kamu denger semua ucapan Mama," lanjut Linggar.
Shanum semakin terisak-isak. Tangannya spontan menyusup pada pinggang Linggar, tanpa sadar memeluk suaminya dengan begitu erat. "Ta-tapi kamu nggak harus kayak gitu ke Mama."
Shanum ... kamu peluk aku? batin Linggar yang berdebar-debar merasakan sentuhan yang di mulai dari Shanum untuk pertama kalinya.
"Nanti malam kamu ke rumah. Kamu minta maaf ke Mama," lanjut Shanum.
Linggar hanya mengangguk dengan hati yang benar-benar tidak karuan saat merasakan dekapan hangat ini.
"Linggar?"
"Iya, Sayang. Tapi kamu harus ikut."
Spontan Shanum melepaskan dekapannya. "A-aku di rumah ... saja."
"Kalau aku datang minta maaf ke Mama, pasti di sana bakalan ada Papa. Aku yakin Papa juga pasti tanya. Bahkan nggak segan Papa juga menilai siapa yang benar dan salah."
Shanum menggeleng. "Jangan sampai Papa tahu, Linggar. Aku nggak mau ... Mama makin nggak suka sama aku."
Disclaimer:
Cerita ini itu mengarah ke pernikahan yang dipenuhi dengan rasa trauma —akibat ruda paksa. Mungkin akan merujuk ke hal-hal dewasa.
Disini akan di bahas tentang dunia malam, pandangan masyarakat/orang terdekat tentang korban, kesehatan mental Shanum, bahkan juga pandangan Linggar sebagai suami —maybe ini si yang seperti akan sering terbahas, karena kan Linggar sama Shanum suami istri. (Jika ada yang tanya saya tahu dari mana? Jelas semua saya riset dari kejadian nyata/lingkungan sekitar, buku-buku yang saya baca, dan hal-hal lainnya. Dan ya ... saya tinggal di kota besar hal yang samar, masih bisa terlihat dan ditela'ah.) Saya memahami bahwa pergaulan bebas adalah kerusakan yang nyata dan meninggalkan bekas, jaga diri kalian dengan sebaik-baiknya.
Dimohonkan kebijakannya dalam membaca, dan ambil serta pahami beberapa pesan moral yang akan saya sampaikan. Hal buruk sebaiknya dibuang. Namun apabila berdampak buruk saat membaca, akan lebih baik tidak usah diteruskan. Cerita ini adalah fiksi. Terimakasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Laksmi Amik
ok..aku mengerti thor
2024-01-13
0
Hulapao
pgn suami kek linggar :"
haloo kak aku nyicil bacanya yaa
jangan lupa mampir di karya terbaruku 'save you'
thankyouuu ❤
2022-09-13
1
Santidew
Huwaaaaa Linggar😭
2022-09-02
1