"Soal ..." Shanum melirik ke arah lain. "Bulan madu."
"Bulan madu?" ulang Linggar. "Maksud kamu bulan madu yang di tawarkan Om Tama sama Tante Cecil?"
"Iya." Shanum menatap Linggar. "Kenapa kamu nggak cerita soal itu?"
Linggar melangkah melewati Shanum, untuk memasuki kamar. Kemudian ia duduk di ranjang dan menatap istrinya yang masih berdiri. "Kalau aku cerita ... memangnya kamu mau? Aku cuma ngerasa ... hal semacam itu nggak perlu, selama bisa tinggal sama-sama di rumah. Bagi aku setiap harinya itu bulan madu kita."
"Aku juga tahu kalau kamu masih belum mau keluar jauh-jauh, kan?" lanjut Linggar.
Shanum berujar, "Tapi kalau ... ka-kamu mau ... aku bisa usahakan, Linggar."
"Usahakan yang bagaimana, Sayang? Aku bener-bener nggak mau usaha kamu menyulitkan diri kamu sendiri." Linggar menjeda. "Lebih baik aku menolak tawaran---"
"Enggak, jangan!" sanggah Shanum dengan sedikit keras. "Ma-maksudku, jangan gitu, Linggar. Kamu ... kamu sama aja kayak nggak menghargai Om Tama sama Tante Cecilia."
Linggar menatap datar Shanum. "Kalau aku terima. Itu sama aja aku nggak menghargai kamu sebagai istriku, kan? Jadi buat apa, Sayang? Kalau kamu masih belum bisa, aku minta jangan paksa diri kamu. Kalau kamu masih tetep maksa itu bakal berakhir nggak baik."
"Iya. Aku nggak bakal maksa diri aku ... tapi gi-gimana cara kamu bilang ke ... Om Tama? Aku bener-bener nggak mau beliau ngerasa ... nggak di hargai," ujar Shanum pelan.
"Aku tinggal cari alasan yang tepat. Jadi kamu nggak perlu khawatir," akhir Linggar yang mulai menaiki ranjang. "Ayo tidur, Sayang. Kamu pasti capek."
Minggu sore.
Kawasan kafe anak muda yang berada di tengah kota menjadi titik temu Linggar dan Gari. Lelaki dari organisasi ilegal itu nampak membaur menjadi satu dengan anak-anak kota pada umumnya. Paras dan juga pakaian yang di gunakan menampilkan ciri khas orang kota, dan Gari tidak seperti pertemuan pertama yang nampaknya lebih sangar. Sekarang Gari berkali-kali lipat lebih seperti manusia pada umumnya, tidak seperti orang sewaan.
Tetapi Gari lebih cenderung seperti orang sibuk. Karena lelaki itu membawa iPad yang mana Linggar yakini berisi informasi penting. Tidak lupa Gari juga memakai kaca anti radiasi, mungkin.
"Santai aja. Kayak manusia normal," ucap Gari.
Linggar spontan terkekeh. "Dari dulu gue manusia normal, kok. Lo aja yang kadang-kadang kelihatan nggak normal."
"Sekarang enggak, kan? Gue udah nyamar sebisa mungkin, ya walau risih," keluh Gari.
"Lumayan. Kelihatan manusianya," serius Linggar.
Gari berdecak. "Anjir."
iPad yang semula berada di atas meja yang menghadap pada Gari. Kini di ubah, beralih pada Linggar. "Baca," titah Gari.
Sekitar satu menit Linggar membaca dengan serius, matanya seksama dalam melihat setiap kata yang tersusun. Satu lembar berisi kontrak perjanjian dengan organisasi yang menaungi Gari. Lembaran-lembaran lainnya adalah informasi yang penting. Bahkan spontan membuat Linggar terbelalak.
"Hermawan Upasama keluar?" Mata Linggar menatap Gari. "Siapa yang ngejamin dia? Gila ..."
"Suap?" Gari berdeham, dan menggeser cangkir kopinya ke kiri. "Gue bukan ahli hukum tapi katanya kasus pemerkosaan ini dua belas tahun penjara. Kata Google, sih. Sumbernya terpercaya."
"Tapi kan Hermawan nggak terlibat langsung sama pemerkosaan itu, dia lebih ke penggelapan uang. Dan katanya itu pun di pidana paling lama empat tahun sama bayar denda. Sedangkan sekarang ... berapa tahun berlalu?" ucap Gari.
Linggar menatap serius. "Lima tahun?"
"Lo bisa perpikirain sendiri. Dan yang gue denger dari lapas, beberapa orang bilang, Hermawan nggak ikut campur soal kasus pemerkosaan. Bahkan pengacara dia bilang kalau itu murni kemauan Djoko." Gari memajukan duduknya. "Jadi lo bisa simpulin. Kalau dia masuk penjara karena kasus pengelapan aja. Selebihnya tentang kasus pemerkosaan, dia bebas. Dia diputuskan pengadilan kalau dia nggak terlibat sama sekali."
"Bajingan," gumam Linggar kesal.
"Biasa." Gari tersenyum miring. "Elite global."
"Gue denger-denger sekalipun banyak harta Hermawan yang di sita. Di bisnis-bisnis lainnya dia masih ada pemasukan lho. Dan waktu di periksa sama pihak berwajib hebatnya ... tempat-tempat dia bersih dari yang namanya uang haram," lanjut Gari.
Linggar mencengkram erat meja.
"Hebat juga, sih, dia. Berarti yang di buat bangun bisnis hasil jerih payah sendiri. Atau mungkin itu buat peninggalan dia, ya? Kan Hermawan punya anak satu. Cewek, lagi. Itu ... siapa sih? Ca ... siapa Cas ... Cassia, ya?" ujar Gari, lagi.
Linggar masih membisu, hanya menatapi Gari saja.
"Kalau mau balas dendam. Sekalian aja, deh." Gari mengangkat cangkir kopinya dan meminum sedikit. Kemudian meletakkannya lagi, dan menatap Linggar dengan tersenyum miring. "Cassia. Anak Hermawan itu ... lo mau gue apain dia?"
[.]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Laksmi Amik
jngn linggar kasian cassian dia baik lho
2024-01-13
0
Santidew
gakbisa kasihan cassia
2022-09-06
2
Bintang kejora
Tega lah Linggar membalaskan sakit hatinya pd Cassia, putri Hermawan?! Nyata² ini bkn kesalahan Cassia, dia tdk ada sangkut pautnya dg kesalahan atau kejahatan ayahnya.
2022-06-18
2