My Culun CEO
Namaku Sheila Adi Putri. Usiaku baru saja memasuki seperempat abad. Terlahir dari keluarga pemilik AJ Grup yang terkenal itu, membuatku tidak pernah kekurangan akan materi. Bahkan mungkin berlebih. Karena Papa dan Kakakku selalu memanjakanku dengan semua fasilitas mewah yang ada.
Namun tiba-tiba, aku memutuskan untuk keluar dari rumah mewah milik Papaku hanya untuk membuktikan jika diriku bukanlah anak manja seperti yang selalu orang-orang katakan padaku. Di usiaku yang mulai matang, mereka selalu menganggapku tidak bisa melakukan hal apa pun tanpa bantuan keluargaku.
Tapi, hidup mandiri juga tak seindah yang kupikir. Aku seorang lulusan sarjana dari kampus elit di luar negeri. Lalu aku melanjutkan studiku mengambil S2 di tanah air. Aku kembali ke tanah air tentu saja karena aku ingin lebih dekat dengan keluargaku.
Aku menghabiskan waktuku untuk kuliah namun kini setelah gelar didapat, mendapatkan pekerjaan pun terasa sulit di ibu kota. Dulu Papa meminta agar aku bekerja di perusahaan milik kakakku saja. Tapi aku menolaknya.
Tentu saja hanya untuk menghindari kata 'anak manja'. Setelah kupikir-pikir, tanpa adanya koneksi, mencari pekerjaan itu sulit.
"Haaah!" Aku mendesah kasar.
Setiap hari yang aku lakukan adalah mencari lowongan pekerjaan yang ada di media cetak maupun online. Sudah tiga bulan aku keluar dari rumah dan kini aku menyewa rumah kontrakan di daerah pinggiran kota. Aku bertekad tidak akan memakai uang papaku dan hanya memakai uang tabunganku saja.
Suara ketukan di pintu membuat lamunanku buyar. Aku segera membuka pintu dan sosok ibu pemilik kontrakan yang berwajah sangar itu sudah berkacak pinggang disana.
"Sudah satu minggu, Sheila! Janjinya mau bayar kontrakan. Kapan?" teriaknya.
Aku sangat tidak beruntung karena mendapatkan ibu pemilik kontrakan yang sangat galak. Dia hanya baik di awal ketika aku baru datang untuk menyewa rumah miliknya.
Rumah kontrakanku memang tidak bisa dikatakan rumah mewah, tapi setidaknya aku tidak mungkin menyewa rumah yang biasa-biasa saja. Rumah kontrakan ini adalah yang paling bagus diantara rumah kontrakan yang lainnya. Fasilitasnya cukup lengkap dan juga garasi mobil.
Ya, meski aku keluar dari rumah, tentunya aku tidak mau rugi. Aku tetap harus membawa mobilku. Aku tidak bisa berpanas-panasan dengan bus atau angkot.
"Heh! Kok malah bengong! Cepat mana uangnya! Gaya saja sok kaya. Tapi nyatanya gak mampu bayar kontrakan!"
Namanya Ibu Ratna. Hobinya berteriak jika ada yang belum membayar kontrakan dan memberitahu orang satu komplek.
"Maaf, Ibu. Beri saya waktu satu minggu lagi! Ya?" Aku mencoba bernegosiasi.
Aku harus melakukan segala cara agar dia mau memberiku kesempatan.
"Kenapa tidak kau jual saja mobilmu? Untuk apa punya mobil bagus tapi bayar kontrakan saja tidak mampu!" cibir Bu Ratna.
"Minggu depan! Minggu depan pasti saya bayar! Janji!" Entah kenapa bibirku ini berucap begitu.
Gila! Dapat uang dari mana aku? Tapi aku sudah tidak bisa mundur lagi! Aku sudah terlanjur berucap.
"Baiklah. Kutunggu janjimu! Jika tidak! Cepat kau angkat kaki dari rumah ini!"
Akhirnya aku bisa lolos dari amukan Bu Ratna. Tapi, jelas ini tidak akan berlangsung lama. Dia pasti akan menagihku lagi.
"Tuhan! Tolong bantu aku!" Aku beringsut di lantai dan memeluk kedua lututku.
"Shei, kau jangan menyerah! Kau harus cari cara agar bisa mendapatkan uang secepatnya."
Aku menyemangati diriku sendiri. Di saat seperti ini, aku mulai merasa jika aku membutuhkan bantuan keluargaku.
Dan disinilah aku sekarang. Di rumah kakakku satu-satunya yang selalu memanjakanku. Meski kami berbeda ibu, tapi dia selalu menyayangiku dan selalu perhatian padaku.
"Tumben kamu ingat dengan kami."
Oh tidak! Kak Rangga bersikap ketus padaku. Dia pasti membenciku karena aku memutuskan untuk keluar dari rumah.
"Mas, jangan bersikap begitu pada Sheila. Silakan diminum dulu tehnya, Shei."
Dia adalah Kak Cecilia. Dia istri Kak Rangga. Dia adalah wanita yang sangat baik. Meski dulu aku sempat menentang hubungan mereka karena Kak Cecil seorang janda, namun dia tidak pernah membenciku. Dia selalu baik padaku.
Aku meringis melihat Kak Rangga yang mendelik kearahku.
"Katakan ada masalah apa? Kenapa kamu tiba-tiba datang kemari?" tanya Kak Rangga.
Aku berpikir sejenak. Aku tahu aku tidak bisa berbohong padanya.
"Umm, begini Kak. Aku ingin meminta tolong," ucapku dengan menunduk.
"Ada apa, Shei? Apa kamu sedang ada masalah?"
Seperti biasa Kak Cecil adalah yang terbaik dari seluruh kakak ipar yang ada di dunia. Dia pasti bersedia membantuku.
"Kak, aku butuh uang untuk membayar sewa rumahku. Aku..."
"Astaga, Sheila! Jadi kamu datang kesini karena ingin meminjam uang?" Kak Rangga terlihat marah.
"Iya, Kak. Ibu pemilik rumah sudah menagihku. Aku tidak punya uang lagi, karena aku belum dapat kerja juga. Kumohon tolong aku, Kak!"
Aku menampilkan wajah memelasku di depan kedua orang ini. Aku yakin Kak Rangga pasti luluh.
"Tidak bisa! Kamu sendiri yang memutuskan untuk keluar dari rumah. Sekarang kamu harus mengurus dirimu sendiri."
Aku merengut. Kak Rangga memang selalu tegas dalam setiap waktu.
"Mas..." Kak Cecil mengusap lengan Kak Rangga.
"Lagian kamu kan pasti masih punya uang tabungan, kenapa tidak kamu pakai saja?"
"Uang tabunganku juga sudah habis, Kak."
"Apa?! Kakak selalu memberimu uang jajan selama bertahun-tahun dan kamu menghabiskannya dalam waktu 3 bulan. Keterlaluan kamu, Shei!"
"Maafkan aku, Kak. Sekarang aku harus bagaimana? Papa dan Mama juga pasti tidak akan membantuku. Hanya kakak saja harapanku satu-satunya."
Aku harus bisa meyakinkan Kak Rangga agar menolongku.
"Kamu harus bekerja, Shei. Tidak mungkin kamu terus-terusan memakai uang tabunganmu," ucap Kak Rangga mulai melunak.
"Belum ada panggilan kerja lagi, Kak." Aku menunduk pasrah.
"Kamu lihat kan, betapa sulitnya mencari pekerjaan di kota besar ini. Dan kamu memilih untuk hidup tanpa bantuan dari Papa maupun Kakak. Sekarang terima sendiri akibatnya!"
"Kakak!" Aku mengerucutkan bibirku. Rasanya aku tidak tahan lagi. Aku menangis.
"Mas, sudahlah! Sheila tidak salah. Dia hanya ingin hidup mandiri. Siapa tahu setelah ini dia akan dapat pekerjaan. Untuk kali ini kita bantu Sheila dulu ya."
Kak Cecil masih berusaha membujuk Kak Rangga.
"Shei, berapa uang yang kamu butuhkan?" Kak Cecil bertanya padaku.
"Umm, lima juta, Kak. Itu untuk bayar kontrakan saja. Untuk biaya hidupku, aku masih bisa berhemat dengan sisa uangku." Aku menghapus air mataku yang sempat menetes.
Kak Cecil tersenyum padaku. "Baiklah, Kakak akan bantu kamu."
"Hah?! Beneran, Kak? Serius?!"
"Iya. Tapi, sebaiknya kamu gunakan uang itu dengan bijak."
"Cecil!"
Aduh, Kak Rangga pasti protes.
"Mas, kita berikan Sheila kesempatan. Lagi pula ini pertama kalinya Sheila meminta tolong setelah dia keluar dari rumah Papa. Ya?"
Kak Rangga nampak menghela napas berat. "Iya, baiklah. Tapi, kita tidak akan membantumu lagi jika besok kamu terkena masalah. Belajarlah dewasa, Shei."
Aku tersenyum lalu memeluk mereka berdua.
"Kalian adalah yang terbaik!"
Kak Cecil nampak masuk kedalam kamarnya dan mengambil selembar cek. Wah, apa aku akan diberi uang banyak oleh Kak Rangga?
Mataku berbinar senang.
"Tulis saja 10 juta, Cil. Biarkan dia bekerja keras sendiri untuk menghidupi dirinya," ucap Kak Rangga ketus.
Senyum yang terlalu mengembang akhirnya surut. Tapi, tidak apa. Ini lebih baik daripada aku harus diusir dari rumah kontrakan.
"Kak, apa aku boleh bekerja di kafe milik Kak Cecil?"
"Tidak boleh!" Dengan tegas Kak Rangga yang menjawab.
"Kak Rangga!"
"Kamu bilang tidak ingin menggunakan koneksi untuk mencari pekerjaan. Jadi, kamu harus mencari pekerjaan sesuai dengan kemampuanmu. Kamu harus berusaha sendiri. Sekarang pulanglah! Gunakan waktu liburmu dengan baik dan bermanfaat!"
"Ini ceknya. Gunakanlah dengan bijak ya! Kakak yakin kamu pasti bisa hidup mandiri." Suara Kak Cecil memang selalu lembut dan menenangkan hati.
"Terima kasih banyak, Kak. Jika aku sudah mendapat pekerjaan, aku akan membayar hutangku pada kalian."
Aku meraih tangan mereka dan mencium punggung tangan mereka bergantian. Aku berpamitan pada mereka dengan hati yang cukup lega. Yah, setidaknya masalah kontrakan telah selesai.
...*...
...*...
...*...
Suara dering ponsel memekakkan telingaku di pagi hari ini. Aku yang masih bergelung diatas tempat tidur terasa malas untuk menjawab telepon.
"Haduh, siapa sih pagi-pagi gini udah telepon!"
Dengan tenaga yang berusaha kukumpulkan, aku meraih ponsel diatas nakas.
"Halo..." jawabku malas.
"..........."
Mendengar jawaban dari telepon di seberang, membuat mataku langsung terbuka lebar.
"Baik, Mbak. Saya akan segera kesana!"
Sejenak aku mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Yeay! Aku dapat panggilan kerja!"
Aku bersorak gembira. Hatiku sangat gembira. Aku segera masuk ke kamar mandi dan bersiap untuk menuju ke perusahaan Avicenna Grup.
#bersambung
*Halo genks, ketemu lagi dengan kisah baru Nathan, adik Boy dari Jantung Hati Sang Dokter Tampan. Dan juga Sheila dari 99 Cinta Untukmu.
Kisah ini tidak serumit kisah2 sebelumnya ya. Hanya ada keuwuan dan kebucinan disini, heheheh
Jangan lupa dukungannya ya!
...Terima Kasih ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
Putri Minwa
semangat terus thor
2023-11-20
3
Lina Maulina Bintang Libra
tunjukan jgn menjilat ludahmu sndr
2022-11-28
2
🎙🅰️dy🅿️acin☯️📖📻
coba perdengarkan desahannya mak?
2022-09-13
2