Pagi hari ini, aku terbangun karena mendengar keributan dari rumah disamping rumahku. Seingatku rumah sebelah kosong. Belum ada yang menyewanya setelah penyewa sebelumnya pindah sebulan yang lalu.
"Berisik banget sih! Ganggu waktu tidurku aja!" gerutuku kemudian bangun dari tempat tidur.
Masih pukul enam pagi. Aku membasuh wajahku terlebih dahulu lalu keluar untuk melihat keributan apa yang sedang terjadi.
Aku berjalan menuju rumah sebelah. Ada seorang pria yang sedang membelakangiku. Dia sedang membuat sebuah kursi kayu.
"Astaga! Masih sepagi ini dan dia sudah ribut," batinku sewot.
"Permisi!" ucapku.
Pria itu membalikkan badannya. Aku sangat terkejut melihat tetangga baruku itu. Sangat culun.
Aku mencoba untuk tersenyum ramah padanya. Bagaimanapun juga dia adalah tetanggaku.
"Apa kamu penyewa baru rumah ini?" tanyaku.
"I-iya, be-benar."
Aku kembali terkejut. Dia gagap. Aku masih mempertahankan senyumku.
Kulihat dia mengusap tangannya yang kotor ke kaus yang dipakainya.
"Ke-kenalkan. Na-namaku Ta-Tarjo."
Pria culun itu mengulurkan tangannya. Sejenak aku terpaku dan bingung.
"Aku Sheila." Aku menjabat tangannya sekilas kemudian berpamitan.
Aku kembali masuk ke dalam rumah. Pagi ini sangat membingungkan untukku. Aku memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi dan bersiap pergi ke kantor.
Sebelum keluar rumah aku melihat pria culun itu keluar dari rumahnya dengan mengendarai sepeda motor. Sepertinya dia akan berangkat bekerja.
Aku penasaran perusahaan seperti apa yang menerima karyawan culun dan gagap seperti dia.
Ah sudahlah, kenapa aku jadi memikirkan pria culun itu? Sebaiknya aku segera bergegas pergi ke kantor juga.
#
#
#
Tiba di kantor, aku langsung menyapa Harvey. Kami kini berteman baik. Dia pria yang baik dan menyenangkan. Sangat berbeda dengan bosnya yang seperti gumpalan es.
Ponselku berdering. Sebuah pesan masuk dari si gumpalan es. Dia bilang dia akan datang sedikit terlambat hari ini.
Aku memutar bola mataku malas. Ini adalah perusahaan miliknya, jadi aku tidak ingin ikut campur meski dia tidak datang ke kantor sekalipun.
Tapi, aku mulai bertanya-tanya kenapa dia tidak masuk kemarin? Apa terjadi sesuatu dengannya?
Dan entah kenapa aku mulai mengkhawatirkannya. Sepanjang aku bekerja dengannya. Dia belum pernah tidak masuk kantor dengan alasan yang tidak jelas. Ditambah lagi hari ini juga dia datang terlambat.
"Harvey, apa kau tahu kenapa pak Nathan kemarin tidak masuk?" Akhirnya aku bertanya pada Harvey.
"Tidak. Kau kan sekretarisnya. Dia hanya bilang sedang ada urusan. Jadi, dia memintaku untuk menggantikan semua pekerjaannya."
Aku mengangguk paham.
"Apa dia tidak menghubungimu?" tanya Harvey padaku.
Aku menggeleng.
"Mungkin dia lupa. Sudahlah, sebaiknya kau kembali bekerja saja."
Aku mengangguk kemudian kembali ke ruangan Nathan.
Aku menatap kursi kebesarannya yang kosong. Tidak biasanya dia terlambat dan juga tidak masuk kantor.
"Sebenarnya ada apa dengannya? Urusan apa yang begitu mendesak?" gumamku.
Aku menuju pantry. Mungkin sebentar lagi dia akan datang. Aku meracik kopi sesuai dengan kesukannya. Ternyata tidak jauh berbeda dengan kak Rangga. Apa semua CEO memang menyukai takaran seperti itu?
"Sedang apa kau disini?"
Suara itu mengejutkanku. Aku berbalik badan.
"Nathan? Eh maksudku, Pak Nathan. Anda sudah datang?" tanyaku gugup.
"Hmm, saya memanggilmu dari tadi tapi kau tidak menyahut. Apa kau melamun?"
Seperti biasa, dia masih sedingin gumpalan es saat bicara padaku.
"Tidak, Pak. Saya sedang membuatkan kopi untuk bapak."
"Oh, taruh di meja saya!"
Huft! Syukurlah dia kelihatan baik-baik saja. Tidak ada yang aneh. Dia memang seperti itu. Aku mengulas senyumku tipis.
Setelah aku meletakkan kopi, aku ingin sekali bertanya kenapa dia tidak masuk kemarin? Tapi rasanya, itu tidak perlu. Dia pasti tidak akan mengizinkan aku untuk tahu semua urusannya.
Aku berbalik badan dan kembali duduk di mejaku. Pekerjaan yang cukup banyak sudah menungguku.
#
#
#
Malam harinya, aku memanggil abang nasi goreng untuk mampir ke depan rumahku. Rasanya malas makan cita rasa restoran setiap harinya. Sekali-kali aku ingin makan makanan kaki lima.
Sebenarnya aku bukan tipe orang yang pemilih makanan. Aku memakan apapun yang menurut lidahku pas.
Aku melirik ke rumah sebelah. Masih terlihat gelap. Itu berarti pria culun itu belum pulang.
"Apa pekerjaannya? Kenapa jam segini belum pulang?" gumamku.
Saat aroma nasi goreng mulai menyeruak di indra penciumanku, aku mendengar suara sepeda motor yang mendekat. Ternyata dari si pria culun yang baru saja pulang bekerja.
Aku memperhatikannya sejenak. Aku menebak-nebak kira-kira pekerjaan apa yang dilakoni pria seperti dia.
Maaf, aku bukan maksud menghina. Tapi kurasa akan sulit mencari pekerjaan dengan gaya yang seperti itu.
"Ha-halo!"
Astaga! Dia menyapaku.
"Ah, iya, halo. Kamu baru pulang kerja?" tanyaku berbasa-basi.
"I-iya. Ka-kamu se-dang pe-pesan na-nasi go-"
"Iya, aku sedang pesan nasi goreng," cegatku cepat.
Aku merasa tidak tahan mendengarnya bicara lambat begitu. Maaf, aku tidak bermaksud menghina lagi.
"Apa kamu sudah makan?" tanyaku.
"Be-belum."
"Kalau begitu aku akan membelikannya satu untukmu. Bang, pesen satu lagi untuk mas ini ya!"
Nasi gorengku yang telah matang, aku bawa masuk ke dalam rumah dan aku meninggalkan tetangga culunku itu begitu saja. Aku sudah sangat lapar. Aku memakannya sambil menonton televisi.
Saat hampir selesai menghabiskan nasi gorengku, tiba-tiba...
"Pe-permisi!"
Sebuah suara membuatku mengerutkan dahi. Aku segera menuju keluar rumah.
"Ah, iya ada apa, Tarjo?" tanyaku.
"I-ini a-aku ba-bayar!"
Tarjo memberikan selembar uang 20 ribu kearahku.
"Ah, tidak perlu. Anggap saja sebagai sambutan untuk tetangga baru, hehe."
Aku mencoba mengulas senyumku.
"Ah, be-begitu ya. Te-terima ka-kasih."
"Iya, sama-sama."
Tarjo pun berlalu. Aku menghela napas. Entah ini suatu keberuntungan atau bukan. Aku mendapat seorang tetangga baru, tapi dia aneh dan culun juga gagap.
Usai membersihkan piring bekas makanku, lalu aku mencuci muka kemudian menggosok gigi dan merebahkan diri di ranjang.
"Ah, lelahnya!" Aku memejamkan mata lalu menuju alam mimpi.
#
#
#
Tidurku terusik karena mendengar suara-suara aneh dari luar rumahku. Aku ingin memejamkan mata kembali namun merasa terganggu dengan suara itu. Kulirik jam dinding di kamarku. Ini masih pukul tiga pagi.
Aku terbelalak kaget. Aku mengintip dari jendela kamarku. Aku menutup mulutku tak percaya.
"Astaga! Jangan-jangan itu adalah pencuri!"
Aku mulai ketakutan. Aku tinggal sendiri dan sekarang ada pencuri disini.
"Mama! Papa! Kak Rangga!" gumamku dalam hati.
Orang itu berhasil masuk ke rumahku. Aku berpikir keras untuk mencari benda yang bisa kujadikan sebagai senjata.
Sapu! Beruntung di kamarku ada sapu.
Aku keluar kamar dengan mengendap-endap. Aku mengatur napasku. Aku harus bisa menangkap pencuri ini!
Ternyata dia ingin mengambil televisi. Aku memukulnya dari belakang. Orang itu mengetahui keberadaanku dan mengeluarkan sebilah pisau.
"Aaaaa!" Aku berteriak sekencang yang aku bisa.
Orang itu menyerangku namun aku berusaha menghindar. Aku melemparkan benda apapun kearahnya.
Aku benar-benar takut saat ini. Aku ingin berlari kembali ke kamar. Aku ingin mengambil ponselku. Namun, orang itu berhasil menangkapku dan mengancamku dengan pisaunya.
Dia memintaku untuk menyerahkan semua harta benda yang kumiliki.
"Tolong!" Aku kembali berteriak.
Orang itu makin mendekatkan pisau yang dipegangnya ke leherku hingga tergores.
"Aw!" Aku meringis kesakitan.
Ketika aku sedang menuju kamar bersama dengan orang itu, tiba-tiba...
"Lepaskan dia!" teriak seseorang yang baru memasuki rumahku.
"Hah?! Tarjo?" Aku membulatkan mata. Dia datang untuk menolongku.
Aku tersenyum melihatnya.
"Tarjo, tolong aku!" teriakku.
"Diam, kau!" Ancam orang itu. Dengan kembali menggores leherku.
"Aw!" Aku meringis lagi.
Tarjo sepertinya ikut panik melihatku terluka. Dan satu hal yang membuatku tercengang adalah. Ternyata dia jago bela diri.
Entah apa yang terjadi Tarjo bisa mengalahkan pencuri itu dan menelepon polisi. Aku sudah tak ingat apapun. Karena terlalu panik aku mulai kehilangan kesadaranku.
Hanya satu yang aku rasakan. Ada seseorang yang terus memanggil namaku.
"Sheila! Shei, bangun!"
Aku merasa ada seseorang yang menggendong tubuhku. Aku juga merasa tidak asing dengan aroma itu. Aroma tubuh seseorang.
"Nathan!"
Hanya itu yang aku ingat hingga akhirnya aku benar-benar memejamkan mata tak sadarkan diri.
#bersambung
*Ow ow, babang nathan bakal ketauan gak ya? Baru aja nyamar masa langsung ketauan 😆😆😆😆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
🎤ImaEdg🎧
Mak, ganti POV?
2023-10-19
1
🎤🎶 Erick Erlangga 🎶🎧
co sweet banget 🥰🥰
2022-03-22
3
pat_pat
triple like ❤️
2022-03-15
3