"Tahu dari mana kamu kalau aku sakit?" tanya Sheila yang membuat Nathan seketika membeku.
Nathan memutar otak mencari alasan yang tepat untuk Sheila.
"Umm, aku tahu dari Harvey," jawab Nathan sekenanya.
Sheila mengerutkan dahinya. "Aku tidak pernah bilang pada Harvey jika aku sakit."
Skak mat. Nathan mati kutu.
"Ah sudahlah! Tidak penting aku tahu dari mana. Sekarang cepatlah bersiap! Kita harus menemui mama," tegas Nathan mengalihkan pembicaraan.
"Memangnya ada acara apa lagi?" tanya Sheila malas. Bahkan ia enggan mengajak Nathan masuk ke dalam rumah dan hanya bicara di depan pintu.
"Apa kau tidak membaca pesan dariku, huh? Mama meminta kita untuk fitting baju untuk pertunangan nanti."
Sheila memutar bola matanya malas.
"Harus sekarang ya?" tanya Sheila malas.
"Ya iyalah, masa tahun depan!"
"Ya udah, tunggu aja di depan. Aku ganti baju dulu!"
Sheila kembali masuk ke dalam kamarnya. Nathan yang tidak dipersilakan masuk, malah dengan sendirinya masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Enak saja dia menyuruhku menunggu di teras. Aku ini calon suaminya!" gumam Nathan dengan percaya diri.
Tak butuh waktu lama, Sheila keluar dari kamar memakai dress berlengan 3/4 dengan panjang di bawah lutut. Tentu saja ia harus tampil sopan di depan ibu Nathan.
"Ayo buruan!" ucap Sheila.
Sejenak Nathan menatap penampilan Sheila yang selalu sempurna di matanya. Kali ini ia tak keberatan saat Sheila mengikat rambutnya. Gadis itu terlihat feminim dan dewasa. Meski sebenarnya sifatnya masih amat manja dan kekanakan.
"Ayo!" ucap Nathan semangat.
Sepanjang perjalanan menuju Kartika Butik, hanya kesunyian yang menemani mereka berdua. Sheila nampak menatap keluar kaca mobil.
Nathan melirik Sheila yang seakan enggan menatap dirinya.
"Apakah tidak bisa sedikit saja kamu menatap aku, Shei? Aku sebagai Nathan, bukan Tarjo. Apa semua keputusanku ini tepat? Aku sudah berbohong padamu dan membuatmu jatuh cinta dengan diriku yang lain."
Nathan menghela napas kasar. Ia mencengkeram erat kemudi. Sheila yang biasanya ia kenal sebagai gadis yang ceria, kini hanya muram seakan penuh duka.
"Apa kau masih marah padaku?" Nathan akhirnya buka suara.
"Tidak!" jawab Sheila singkat.
"Jadi, kenapa kau tidak masuk kantor?"
"Sakit."
"Kenapa tidak memberitahuku?" Nathan masih berusaha membuat Sheila terus bicara.
"Lupa."
"Aku adalah bosmu. Harusnya kau menghubungiku dan bukannya Harvey."
"Maaf."
Nathan kembali menghela napas. Rasanya percuma saja bicara dengan gadis yang masih dalam mode 'ngambek'.
"Aku akan menebus kesalahanku," tutur Nathan.
"Terserah."
Nathan masih berusaha untuk sabar menghadapi sikap Sheila. Hingga akhirnya mereka tiba di Kartika Butik milik kakak ipar Roy.
Sheila turun dengan segera tanpa menunggu Nathan. Pria itu kembali menggeleng pelan.
"Aku harus sabar! Mengejar cinta itu tidak semudah membalik telapak tangan. Kak Boy saja harus menunggu bertahun-tahun agar bisa bersama dengan Aleya. Aku juga harus sabar untuk bisa mendapatkan hati Sheila," gumam Nathan menyemangati dirinya sendiri.
Sheila masuk terlebih dahulu dan menyapa Lian juga Kartika. Ada Sandra juga yang ikut hadir menemani putrinya. Mereka bercipika cipiki. Sheila mengembangkan senyumnya di depan Lian dan Sandra. Ia tak ingin membuat para orang tua curiga dengan hubungannya dan Nathan yang datar-datar saja dan tanpa cinta.
Lian menunjukkan beberapa gaun malam yang sangat indah untuk Sheila kenakan di acara pertunangan nanti. Itu adalah atas pilihan Kartika sang desainer sekaligus pemilik butik.
Sheila hanya menuruti keinginan Lian dan Sandra. Ia mencoba beberapa gaun hingga para Mama setuju dengan pilihan mereka.
Nathan hanya tersenyum melihat Sheila bergonta ganti gaun dan membuat tubuhnya lelah. Nathan membisikkan sesuatu pada Lian agar jangan terlalu memaksa Sheila.
Hingga akhirnya mereka telah sepakat dengan gaun yang akan dikenakan Sheila nanti. Tak lupa Nathan juga mencoba setelan jasnya agar di sesuaikan dengan gaun milik Sheila.
Mereka berdua keluar dari kamar ganti dan mendapat sorakan bahagia dari para mama yang menatap mereka penuh haru.
"Kalian serasi sekali, sayang," puji Lian.
"Iya, kalian memang di takdirkan berjodoh," timpal Sandra.
Nathan dan Sheila saling pandang. Sebuah tatapan hangat Nathan berikan untuk Sheila. Tak ada sikap sedingin es yang biasanya ditampilkan Nathan untuk Sheila. Kali ini sebuah tatapan penuh cinta coba Nathan tunjukkan pada Sheila.
Namun setelah beberapa lama Sheila memalingkan wajahnya dan membuat Nathan kecewa.
"Ada apa dengan tatapannya? Kenapa dia menatapku begitu? Seperti bukan Nathan yang kukenal," batin Sheila bermonolog.
Pukul delapan malam, acara fitting baju telah selesai. Para mama berpamitan dan membiarkan pasangan itu untuk menghabiskan waktu berdua.
Nathan melihat wajah Sheila yang kembali pucat. Ia memegang kening Sheila.
"Kau demam lagi. Sebaiknya kita makan dulu, lalu kau harus minum obat," ucap Nathan layaknya seorang dokter. Ia menggandeng tangan Sheila dan membawanya ke mobil.
Nathan memperlakukan Sheila dengan sangat manis. Sheila hanya diam menerima semua perlakuan hangat Nathan.
Mereka menuju ke sebuah kafe untuk makan malam terlebih dahulu. Nathan memesankan menu sehat untuk Sheila. Ia tak ingin gadis itu makan sembarangan hingga kondisinya benar-benar pulih.
Ketika makanan telah tersaji, Nathan membuat Sheila menghabiskan makanannya. Lalu setelahnya Nathan menyodorkan obat untuk Sheila minum.
"Minumlah! Setelah aku mengantarmu pulang, kau harus tidur dan istirahat. Jika besok kau masih belum pulih, kau boleh tidak masuk sehari lagi. Batasnya adalah tiga hari," ucap Nathan dengan gaya yang lembut tak seperti biasanya.
Sheila tak mengerti apa yang terjadi dengan pria di depannya. Ia hanya menganggukkan kepala dengan semua kalimat Nathan.
#
#
#
Makan malam telah usai. Saatnya Nathan untuk mengantar Sheila kembali ke rumah kontrakannya. Sama seperti saat berangkat, tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka.
"Shei..." panggil Nathan.
Namun gadis itu sama sekali tak menyahut.
"Shei!" Nathan melirik Sheila yang ternyata telah terlelap.
Nathan menarik sudut bibirnya. "Kau ini sangat suka sekali tidur ya! Atau ini pengaruh obat yang tadi kau minum?" gumam Nathan sambil tersenyum simpul.
Rasanya hari ini adalah hari yang cukup membahagiakan untuknya. Semalam sebagai Tarjo, ia telah menghabiskan malam bersama Sheila. Lalu malam ini, ia kembali menghabiskan malam bersama Sheila.
Entah kenapa hatinya tak rela jika harus meninggalkan Sheila di rumah kontrakannya sendirian. Ya meski ia masih bisa menjaga Sheila sebagai Tarjo. Tapi ia ingin Sheila menyadari perasaannya bukan sebagai Tarjo, melainkan sebagai Nathan.
Nathan membelokkan mobil menuju apartemen miliknya yang diberikan oleh Boy. Ia memarkirkan mobilnya di parkiran khusus untuk penghuni kelas diamond.
Mobil berhenti. Nathan tak tega jika harus membangunkan Sheila. Ia memutuskan mengangkat tubuh Sheila dan membawanya ke kamar apartemen miliknya.
Dengan hati-hati Nathan merebahkan tubuh Sheila ke ranjang king size miliknya. Nathan mengatur napas setelah berjalan cukup jauh dengan menggendong Sheila.
Nathan menatap wajah damai Sheila ketika tertidur. Tak ada wajah jutek yang selalu Sheila tampilkan di depan Nathan.
Nathan membersihkan diri agar lebih segar. Sudah lama ia tak menyambangi kamar apartemennya ini. Semua masih tetap terawat karena Nathan menyuruh orang untuk selalu membersihkannya.
Nathan keluar dari kamar mandi dan kembali menatap Sheila yang masih terlelap.
"Apa dia tidak sadar jika dia sudah berpindah tempat?" gumam Nathan sambil tersenyum.
Nathan merapikan rambut Sheila yang menutupi wajahnya. Ia membelai wajah mulus itu dengan tangannya.
Dengan berani Nathan mencium pipi mulus Sheila. Nathan tersenyum karena si empunya tidak merasa terganggu.
"Bagaimana jika aku..." pikiran Nathan mulai berkelana.
Nathan kembali mendekatkan wajahnya dan meraih benda kenyal tipis yang menjadi favoritnya sejak saat itu. Ia terbawa suasana hingga tidak sadar dengan apa yang sedang dilakukannya.
Sheila yang merasakan ada sesuatu menyentuh bibirnya segera membuka mata. Samar-samar ia mengenali siapa orang yang sedang memainkan bibirnya dengan lembut. Matanya tak bisa membuka sempurna karena pengaruh obat yang tadi ia minum.
"Siapa ini? Apakah benar ini adalah Nathan? Kenapa dia menciumku? Apa maksud semua ini?" tanya Sheila dalam hati.
Nathan mulai memberi jarak. Ia terkejut melihat Sheila telah membuka mata.
"She-sheila?" ucap Nathan gugup.
"Nathan... Apa yang kau lakukan? Kenapa menciumku?" tanya Sheila lirih tak bertenaga.
Nathan tidak bisa mengelak lagi. Ia harus jujur sekarang.
"Aku menyukaimu, Sheila. Dan aku ingin menikah denganmu. Itulah sebabnya aku tidak menolak perjodohan ini," ucap Nathan yakin.
Sheila yang masih berada diantara batas sadar dan tidak, berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Nathan. Entah apa yang ia pikirkan, namun gadis itu ternyata kembali menutup matanya. Ia kembali terlelap.
Nathan menghela napas lega. "Bagaimana ini? Apa dia mendengar semua yang kukatakan atau tidak?"
Nathan mengacak rambutnya. Ia mondar mandir tak jelas karena gugup dan cemas.
Malam kian larut, Nathan harus mengistirahatkan tubuh lelahnya. Tak ingin mengganggu tidur gadis pujaannya, Nathan memilih kamar tamu sebagai tempatnya tidur malam ini.
#bersambung
*Nah lho! Kira2 Sheila denger gak ya semua pernyataan cinta Nathan?😬😬😬
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
🎤ImaEdg🎧
gemas rasanya, kenapa ga jujur aja sih! greget weh
2023-10-19
1
Cucu Suliani
Jujur Tarjo
2022-03-25
1
🎤🎶 Erick Erlangga 🎶🎧
di kira mimpi 🤭🤭
2022-03-22
1