Sheila kembali ke rumah kontrakannya dengan menghela napas berat. Ia meletakkan tasnya dan buru-buru ingin cepat membersihkan diri.
Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower. Bayangan percakapannya tadi dengan Nathan kembali memutar di otaknya.
"Jadi, pria itu memiliki kekasih? Tapi siapa?" batin Sheila bertanya-tanya.
Ia segera menyadarkan diri.
"Ngapain juga aku mikirin dia! Sudahlah! Sekarang harus pikirkan cara untuk bisa membatalkan perjodohan ini," batinnya berseru mantap.
Sheila keluar dari kamar mandi lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Ah, lelah sekali! Sudah cukup hari ini dia memintaku untuk jadi supirnya. Jangan sampai besok juga dia melakukan ini lagi." Sheila menggerakkan lehernya ke kiri dan kekanan.
"Sebaiknya aku tidur dan berharap mimpi ketemu sama pangeran!" Sheila terkekeh sendiri.
Sheila mulai memejamkan mata dan menjelajah dunia mimpi.
Di tempat berbeda, Nathan kembali ke rumahnya dengan hati yang cukup lega. Setidaknya ia sudah mengatakan pada Sheila jika dirinya memiliki seorang kekasih. Ya meski masih abu-abu tentang siapa sosok kekasihnya itu.
"Apa aku terlalu berlebihan bicara begitu pada Sheila?" gumam Nathan.
"Tapi, jika perjodohan ini batal ... Itu akan lebih baik. Jadi aku fokus untuk mencari dia saja. Sudah bertahun-tahun tidak bertemu, apa dia masih ada di kota ini?"
Nathan mengusap wajahnya. "Setidaknya aku harus bicara dengan papa dan mama terlebih dahulu. Mungkin mereka akan mengerti."
Nathan keluar dari kamarnya kemudian menemui Roy dan Lian yang sedang bercengkerama di ruang keluarga.
"Lho, kamu belum tidur, Nak?" tanya Lian.
"Belum, Ma. Mama dan papa kenapa belum tidur juga?" tanya Nathan.
"Ini lho mamamu, sedang melihat-lihat konsep dekorasi pesta pernikahan untuk kamu nanti," jawab Roy.
Lian terlihat membolak balik majalah pernikahan.
"Kenapa kalian membicarakan pernikahan? Bahkan aku dan Sheila belum bertunangan."
"Eh? Jadi kamu ingin cepat-cepat bertunangan dengan Sheila?" ucap Lian menatap Nathan dengan antusias.
"Bu-bukan begitu, Ma. Maksudku..."
"Kami sedang mencari tanggal yang baik untuk pertunangan kalian," sahut Roy.
"Hah?!" Nathan membulatkan mata.
"Masalah itu kamu tenang saja. Mama yang akan mengatur semuanya bersama dengan mbak Sandra. Ya?" timpal Lian yang membuat Nathan tak bisa berkutik.
"Bagaimana ini? Mereka sangat bahagia dengan perjodohan ini. Aku tidak akan tega mematahkan kebahagiaan mereka," batin Nathan menjerit pasrah.
#
#
#
-Avicenna Grup-
Sheila berjalan menuju meja Nathan dengan membawa secangkir kopi. Gadis itu seperti biasa selalu bersikap ramah dan sopan di depan Nathan.
Nathan memperhatikan Sheila dengan gelagat yang aneh. Ia menimang nimang apakah harus bicara dengan gadis itu atau tidak.
"Apa ada lagi yang bapak butuhkan?" tanya Sheila.
"Umm, Shei. Apa kau..." Suara Nathan tercekat.
"Apa, Pak?" tanya Sheila penasaran.
"Ah, tidak ada. Kau kembalilah bekerja. Kita akan bicarakan ini saat rapat di luar saja."
Sheila mengangguk kemudian berpamitan. Sementara Nathan mengumpati dirinya sendiri.
"Tidak mungkin juga aku membahas soal ini di jam kantor. Itu sama saja aku menelan omonganku sendiri," batin Nathan.
Saat jam makan siang, Sheila tampak pergi ke kantin. Tak diragukan lagi jika makanan yang tersedia di kantin adalah makanan sehat yang dibuat oleh para chef profesional.
Sheila yang rencananya akan pergi dengan Nathan, namun ternyata bosnya itu memilih untuk rapat di kantornya saja. Saat Sheila sedang duduk untuk makan siang, seseorang datang menghampirinya.
"Astaga, Pak Nathan! Mengagetkan saja!" ucap Sheila memegangi dadanya.
"Apa kau masih bisa makan di saat begini?" tanya Nathan.
Kebersamaan CEO dan sekretarisnya di kantin itu tentunya mengundang tanya para karyawan yang sedang menikmati istirahat siang mereka. Tidak pernah sekalipun Nathan datang ke kantin untuk sekedar makan atau minum. Ia selalu meminta ruang khusus untuknya makan dan bukan di ruang terbuka seperti ini.
"Ada apa sih, Pak? Ini kan waktunya jam makan siang, ya aku harus makan lah!" jawab Sheila.
"Apa kau sudah bicara dengan keluargamu?" tanya Nathan.
Sheila mengerutkan dahi.
"Ooh, jadi maksud kedatangan bapak hanya ingin menanyakan itu? Belum, Pak. Aku akan bicara dengan kak Rangga dulu. Aku takut terjadi sesuatu dengan ayahku. Aku sudah mengatakannya pada bapak kan?"
Nathan mengangguk paham. Sheila tak bicara lagi dan hanya menyantap makanan di depannya.
"Begini saja, bilang pada kekasih bapak agar dia menunggu sebentar lagi. Tenang saja! Aku yakin kita pasti berhasil. Dan bapak akan segera menikahi kekasih bapak itu. Begitu kan?" Sheila bicara sambil mengunyah makanannya membuat Nathan sedikit risih dengan tingkah Sheila.
"Telan dulu makananmu baru bicara!"
"Maaf, Pak." Sheila terlihat cuek dan tidak peduli dengan pandangan orang terhadap dirinya.
"Kau ini putri keluarga kaya tapi kenapa kelakuanmu cukup ekstrem." Nathan menggeleng pelan.
"Tidak semua yang bapak lihat adalah kenyataan. Banyak hal ambigu di dunia ini."
Tanpa dilihat oleh siapapun Nathan menarik sedikit sudut bibirnya karena mendengar jawaban Sheila.
"Dia gadis yang unik," batin Nathan.
#
#
#
Hari ini Sheila menemui Cecilia di kafenya. Ia meminta saran pada kakak iparnya itu sebelum bicara dengan kedua orang tuanya mengenai pembatalan perjodohan dirinya dan Nathan.
Cecilia mendengarkan dengan seksama semua keluh kesah adik iparnya itu. Ia akan bersikap netral dengan tidak memihak siapapun.
"Tapi, Shei... Kau tahu bagaimana kondisi papa, kan? Serangan jantungnya bisa kambuh jika kamu bersikeras membatalkan perjodohan ini," ucap Cecilia.
"Kak, tapi Nathan sudah memiliki kekasih. Aku tidak bisa merusak hubungan mereka," balas Sheila.
"Kamu yakin dia punya pacar? Apa kamu nggak tahu rumor tentang dia?" tanya Cecilia.
"Hah?! Rumor?" Sheila menggeleng.
"Nathan digosipkan menyukai sesama jenis," bisik Cecil.
"APA?!" Sheila menutup mulutnya tak percaya.
"Kakak yakin?" tanya Sheila.
"Tentu saja tidak. Dia pria normal, Shei. Aku tahu jika perjodohan ini memang untuk menutupi rumor itu. Tapi kakak yakin jika Nathan adalah yang terbaik untukmu." Cecilia menggenggam tangan Sheila.
"Tolong jangan kecewakan papa dan mama. Mereka sangat berharap padamu. Lagipula keluarga kita akan sangat malu jika sampai perjodohan ini batal. Mengertilah! Kakak yakin kalian pasti bisa saling mencintai." Cecil memohon dengan wajah sendunya.
Sheila dilema. Sangat-sangat dilema. Dia kembali ke rumah kontrakannya dengan hati yang masih galau.
Sheila meraih ponselnya. Ia mengetikkan pesan untuk Nathan.
Sheila: "Maaf, Pak. Saya tidak bisa melakukannya. Kak Cecil bilang hal ini akan sangat melukai hati papa. Dan pastinya penyakit papa bisa kambuh jika mendengar hal ini. Jika terjadi sesuatu dengan papa, maka saya tidak akan memaafkan bapak!"
Nathan yang baru saja keluar dari kamar mandi mengecek ponselnya yang tampak bergetar. Ia terdiam cukup lama membaca pesan dari Sheila.
Nathan mengetik balasan untuk Sheila.
Nathan: "Baiklah. Kita lakukan sesuai rencana awal. Saat pertunangan sudah dekat, kita akan membuat perjanjian."
Sheila yang masih berbaring kembali membuka ponselnya.
"Huft! Dasar gumpalan es! Perjanjian apalagi yang dia maksud. Ah sudahlah! Aku akan pikirkan nanti saja."
Sheila tidak membalas pesan Nathan. Ia malah memejamkan mata dengan masih memakai pakaian kantornya.
Di sisi Nathan, ia menunggu pesan balasan dari Sheila namun tak kunjung ada balasan dari gadis itu.
Ingatannya tertuju pada ucapan Ivanna beberapa waktu lalu.
"Jika kau ingin tahu kepribadian dia lebih dalam, mungkin dengan menyamar kau akan mengetahui seperti apa dia yang sesungguhnya. Terkadang banyak hal yang ditutupi oleh seorang gadis. Senyum manis yang mengembang bisa saja didalamnya tersembunyi sebuah kesedihan."
Nathan menimang-nimang dengan ide Ivanna yang bisa dikatakan cukup gila.
"Aku akan melakukannya setelah aku memastikan tentang sesuatu," gumamnya.
Keesokan harinya, Nathan mendatangi sebuah panti asuhan yang dulu pernah ditempatinya sebelum bertemu keluarga kandungnya.
"Semuanya masih terlihat sama," gumam Nathan.
Ia melangkah masuk dan mencari ibu panti yang pastinya sudah tidak berusia muda lagi.
"Permisi!" ucap Nathan.
"Nathan?! Kau Nathan kan?" Seorang wanita paruh baya menyambut Nathan.
"Iya, Bu. Bu Nur bagaimana kabarnya?" tanya Nathan.
"Saya baik. Ya Tuhan! Kau sudah besar dan semakin tampan," puji Nur dengan membingkai wajah Nathan.
"Bu, ada yang ingin kutanyakan. Ini tentang seseorang..." ucap Nathan mulai serius.
"Hmm? Ada apa, Nak?" tanya Nur yang merasakan ada raut khawatir di wajah Nathan.
#
#
#
Nathan menuju ke sebuah taman yang biasa ia kunjungi bersama Shelo ketika hatinya gundah. Hari ini ia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor. Hatinya sedang tidak baik-baik saja setelah mendapat jawaban dari ibu Nur.
"Saat berusia 15 tahun ada yang mengadopsinya dari panti. Hingga sekarang ibu tidak tahu dimana dia berada. Mungkin saja dia sudah menikah dan hidup bahagia. Bukankah kalian seumuran? Kau harus melanjutkan hidupmu, Nak. Jangan terus memikirkan masa lalu."
Nathan mengusap wajahnya. Rasanya ingin menangis tapi ia enggan.
"Harusnya sejak dulu aku mencari tahu tentangnya. Kenapa baru sekarang? Kau memang bodoh, Nathan!"
Nathan mengumpati dirinya sendiri. Dan tak lama ia malah mengetikkan pesan untuk Ivanna.
Nathan: "Ide yang waktu itu kau usulkan, sepertinya boleh juga. Aku akan melakukannya!"
#bersambung
*Naaah sudah tahu kan siapa yg ditunggu Babang Nathan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
. 🎻
lanjut baca deh,,,, pake akun baru ya Mak... akun lama udah berpulang....
2022-07-27
1
VYRDAWZAmut
ok
2022-06-29
1
🎤🎶 Erick Erlangga 🎶🎧
apakah Shela itu shelo🤔🤔
2022-03-22
6