Hari ini adalah hari minggu. Hari libur yang biasanya digunakan untuk para pencari uang beristirahat barang sejenak untuk melepas penat.
Namun pagi ini akan sangat berbeda untuk Sheila. Ia yang biasanya bersantai ria ketika hari libur, sekarang harus mengikuti jadwal yang dibuat oleh kakak dan ayahnya.
Setelah semalam dua keluarga mengumumkan tentang perjodohan dirinya dengan bosnya sendiri, hari ini mereka berencana bertemu bersama dalam lapangan golf agar lebih akrab sebagai satu keluarga.
"Shei, jangan lupa datang ke lapangan golf. Papa dan kakakmu akan main golf bersama dengan keluarga Avicenna."
Sebuah pesan masuk dari Sandra. Sheila menghela napas. Sheila membuka lemari dan memilih baju yang pantas untuk ia kenakan.
Ia memilih kaus lengan pendek berwarna putih dan rok sebatas lutut warna pink. Terlihat manis ketika Sheila memakainya. Lalu untuk rambutnya, ia akan mengikatnya ala ekor kuda. Tak lupa sebuah topi akan ia pakai, karena pastinya cukup panas saat berada di kapangan golf.
Sheila tiba di sebuah lapangan golf milik keluarga Avicenna dan melihat mobil Nathan telah terparkir disana.
"Cih, si gumpalan es sudah datang rupanya!" gumam Sheila.
Sheila berjalan masuk dan menuju ke para wanita yang sudah menunggu di meja khusus pelanggan VIP.
"Hai, Ma, Kak Cecil. Tante Lian, Kak Aleya," sapa Sheila ramah dan bercipika-cipiki dengan para wanita yang hadir.
Sebelumnya Cecilia sudah memberikan nama-nama anggota keluarga Avicenna agar Sheila tidak salah sebut. Sheila lama hidup di luar negeri jadi dia tidak terlalu kenal dengan rekan bisnis ayah maupun kakaknya.
"Duh, cantik sekali calon menantu Mama ini ya," puji Lian sambil membingkai wajah Sheila.
Lian yang awalnya agak ragu untuk perjodohan ini akhirnya mantap setelah melihat Sheila yang begitu anggun dan cantik juga selalu berkata sopan. (Ehem! Mama mertua belum tahu aja aslinya Sheila gimana, hehe)
Sheila duduk diantara para wanita sosialita yang banyak bercerita tentang kehidupan rumah tangga dan anak-anak mereka. Sheila merasa ia kurang cocok berada disana.
Sheila memilih pindah meja dan duduk sendiri sambil menatap para pria yang sedang bermain golf. Ia memesan jus alpukat kesukaannya.
Dari kejauhan ia melihat Nathan bersama dengan Boy yang tampak akrab saat bermain golf bersama.
"Kakaknya adalah orang yang ramah dan menyenangkan, tapi lihat adiknya. Ck, benar-benar gumpalan es!" gumam Sheila.
"Kamu ngomong apa, Shei?" Cecilia menghampiri Sheila.
"Eh, enggak Kak."
"Shei, kakak minta kamu jangan kecewakan mama dan papa. Mereka sangat senang dengan perjodohan ini. Kamu tahu kan kondisi papa menurun lagi karena kamu. Tapi lihat sekarang, kondisi papa membaik lagi juga karena kamu," ucap Cecil panjang lebar.
Sheila tersenyum kikuk. "Dari mana kak Cecil tahu kalau aku berencana menolak perjodohan ini?" batin Sheila.
"Iya, kak. Kakak tenang saja. Aku akan melakukan yang terbaik," balas Sheila dengan mengulas senyum.
Di lapangan, Nathan melihat jika Sheila telah tiba dan berbincang dengan para wanita.
"Kupikir dia tidak akan datang," batin Nathan.
"Jangan kecewakan papa, Nate," ucap Boy.
"Apa maksud kakak?"
"Aku tahu kau pasti berniat menolak perjodohan ini," terka Boy yang membuat Nathan membulatkan mata.
"Sial! Apa kak Boy bisa membaca pikiranku, hah?!" batin Nathan.
"Memang terasa aneh karena aku dijodohkan dengan sekretarisku sendiri. Tapi ya ... aku bisa menerimanya," balas Nathan asal.
"Baguslah! Sheila sendiri tidak tahu jika AJ Grup banyak menjalin kerjasama dengan kita. Dia lama tinggal di luar negeri. Kuharap kau bisa menjaganya di kantor. Tante Sandra meminta kakak menyampaikannya padamu." Boy menepuk bahu Nathan.
"Menjaganya? Apa aku ini baby sitternya? Astaga!" sungut Nathan dalam hati sambil melihat kearah Sheila.
"Iya, Kak. Iya!" Lagi-lagi jawaban yang berbeda ia lontarkan didepan kakaknya.
"Good! Ayo sudahi permainanmu! Kita harus menemui para wanita. Aku merindukan Aleyaku..." Boy memukul bola terakhir dan berhasil memasukkannya ke lubang.
"Dasar bucin! Baru sebentar saja sudah rindu!" cibir Nathan.
"Kau akan merasakannya setelah kau jatuh cinta, Nate. Kau akan merindukannya sepanjang hari, sepanjang waktu," seru Boy sambil berlalu.
Nathan memukul bola terakhir dengan kesal hingga pukulannya meleset.
"Ah, sial!" umpatnya kemudian berjalan menyusul Boy.
...***...***...
Usai bermain golf bersama, mereka memutuskan untuk kembali pulang. Sheila merogoh tasnya dan akan mengambil kunci mobilnya. Namun tidak ada.
"Kak, lihat kunci mobilku tidak?" tanya Sheila pada Cecilia.
Cecilia tidak menjawab dan malah Rangga yang menjawab.
"Kamu pulang saja dengan Nathan. Boleh kan, Nathan? Tolong kamu antarkan Sheila," pinta Rangga.
Nathan membulatkan mata. "Ah iya, boleh Kak," jawab Nathan terpaksa.
"Tapi, kak..." Sheila menolak dan mendapat tatapan tajam dari Rangga.
Dengan kesal Sheila pun menuruti keinginan semua orang yang terus mendesaknya.
Tiba di parkiran, Sheila memang tidak melihat mobilnya ada disana.
"Kemana mobilku? Apa mereka sengaja merencanakan ini?" batin Sheila dongkol dengan menatap kakak dan kakak iparnya.
Saat Sheila ke toilet tadi, Cecilia diminta Rangga untuk mengambil kunci mobil Sheila dan meminta supir membawa mobil itu pulang ke rumah. Ini dilakukan agar Sheila bisa mendekatkan diri dengan Nathan dan pulang dalam satu mobil.
"Kakak minta tolong antarkan Sheila ya!" ucap Rangga dengan menepuk bahu Nathan.
"Iya, kak, tenang saja," jawab Nathan dengan mengulas senyumnya.
Sheila memutar bola matanya malas.
"Anggap saja ini pendekatan untukmu dan calon istrimu," bisik Boy menggoda Nathan.
Nathan mendelik dan meminta Boy segera pergi.
"Aleyaku sayang, aku datang..." seru Boy dan langsung memeluk Aleya. Ia sengaja memanas-manasi Nathan agar pria itu juga bersikap hangat pada wanita.
Setelah mobil semua orang pergi, kini tinggal mobil Nathan saja yang masih ada diparkiran. Sheila menatap tajam Nathan.
"Masuklah! Saya akan mengantarmu pulang!" ucap Nathan tanpa ekspresi.
Meski masih kesal dengan kakaknya, Sheila tak punya pilihan selain pulang dengan 'gumpalan es' ini.
Sheila masuk kedalam mobil dan memasang seatbelt. Nathan ikut masuk dan mulai melajukan mobilnya.
Selama perjalanan, tidak ada percakapan yang terjadi. Sebenarnya bukan tidak ada percakapan, tapi Sheila sedang memutar otak untuk memilih kalimat yang tepat untuk Nathan.
"Kita harus bicara!" ucap Sheila tiba-tiba yang membuat Nathan menginjak pedal rem mendadak.
"Astaga! Kamu ini bisa nyetir nggak sih?" sungut Sheila.
"Kau benar! Kita harus bicara!" balas Nathan menatap Sheila.
Nathan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Ya ampun, kupikir dia membawaku ke kafe untuk bicara. Tapi malah berhenti di pinggir jalan begini! Dasar gumpalan es!" kesal Sheila semakin bertambah namun ia hanya mengucapnya dalam hati saja.
"Kita harus membuat kesepakatan!" ucap Sheila.
"Oke! Saya rasa itu ide yang bagus," balas Nathan.
"Bisa nggak sih jangan pakai bahasa formal begitu?" batin Sheila lagi.
"Aku masih butuh pekerjaan ini, karena aku sudah keluar dari rumah papaku. Maksudku, aku takut jika keluarga kita memintaku untuk berhenti bekerja karena perjodohan ini."
"Lalu?"
"Aku ingin seluruh orang dikantor tidak ada yang tahu tentang perjodohan ini. Apa kamu setuju?" ungkap Sheila.
"Ya, tentu saja semua orang tidak boleh tahu soal ini. Saya akan bicara dengan papa juga mengenai masalah ini. Agar mereka tidak buru-buru mengumumkan perjodohan ini. Begitu?"
"Iya, kamu benar. Lagipula ini masih dalam tahap awal kan, semuanya bisa saja terjadi. Apa kamu tidak punya pacar? Maksudku jika kita sama-sama punya pasangan kita pasti bisa menolak perjodohan ini. Tapi ya ... aku memang tidak punya pacar," jelas Sheila jujur.
Nathan terdiam.
"Pacar? Kekasih?" batin Nathan bertanya.
"Apakah menunggunya sama dengan memiliki seorang kekasih?"
"Halo! Nathan! Pak Nathan!" seru Sheila karena melihat Nathan melamun.
"Ah iya, maaf. Sebaiknya saya mengantarmu pulang."
Sheila membulatkan mata karena pertanyaannya tidak dijawab. Mobil kembali melaju. Hanya kesunyian yang menemani mereka.
Hingga akhirnya mobil berhenti tepat didepan rumah kontrakan Sheila.
"Jadi, kau tinggal disini?" tanya Nathan.
"Iya. Aku tinggal di rumah kontrakan. Kenapa memangnya?"
"Hanya karena tidak ingin dicap sebagai anak manja kau sampai melakukan ini?" cibir Nathan.
"Apa katamu?! Aku bekerja keras untuk mencari uangku sendiri. Jadi jangan mengejekku. Aku berbeda denganmu yang masih menggunakan semua fasilitas dari orang tuamu!"
"Kau!" Nathan mulai marah.
"Apa!" Sheila tak mau kalah.
Sheila membuka seatbelt dan akan bersiap turun. "Jangan lupa kesepakatan kita. Kamu tidak boleh memberitahu soal perjodohan ini termasuk pada Harvey. Mengerti?!"
Sheila menutup pintu mobil dengan cukup keras. Ia masuk kedalam rumah kontrakannya dengan wajah yang masih kesal. Bahkan ia tidak mengucapkan kata 'terima kasih' pada Nathan.
Nathan melihat Sheila masuk dan menggeleng pelan.
"Dasar gadis manja! Begitu saja merengek! Bahkan dia tidak mengucapkan terima kasih karena aku sudah mengantarnya dengan selamat," gumam Nathan kemudian melajukan mobilnya.
#bersambung
*Hayoo, siapa sih yg ditunggu bang Nathan? Apakah itu aku? Eeeaaa eeaaA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
❤️⃟Wᵃf🍁Ꮮιͣҽᷠαͥnᷝαͣ❣️🌻͜͡ᴀs
yah mereka sngt cocokk pasangan aneh🤣🤣
2022-07-29
1
N⃟ʲᵃᵃ࿐DHE-DHE"OFF🎤🎧
awalnya benci nath lama lama kau bucin sama Sheila 😅😅😅
2022-07-29
1
Last Oct
semangat baca, mumpung sempat.....
2022-07-27
3