Sheila berjalan tak tentu arah dengan perasaan yang hancur. Hubungannya dengan Tarjo baru saja dimulai namun kini sudah menghadapi ujian.
Sheila menghubungi nomor ponsel Tarjo namun pria itu tidak menjawab. Sheila merasa putus asa karena tak ada lagi yang bisa ia ajak berbagi.
Saat ada taksi yang melintas, Sheila menghentikan dan menaikinya. Dirinya tak peduli entah supir taksi itu baik atau tidak. Padahal sebelumnya ia sangat anti jika harus naik taksi seperti ini.
Di dalam taksi, Sheila terus menangis. Ia mengirim pesan kepada Tarjo namun pesan itu juga tidak dibalas. Sheila memegangi dadanya yang terasa sakit.
Ketika hampir sampai di depan komplek rumah kontrakannya, Sheila meminta supir taksi untuk berhenti. Namun supir taksi melarangnya karena diluar sedang turun hujan.
Sheila tidak mendengarkan nasihat pak supir taksi dan tetap turun setelah membayar ongkos taksi. Ia memang sengaja ingin menangis dibawah guyuran hujan. Itu berarti langit juga tahu bagaimana perasaannya saat ini.
Langkah kakinya kini telah tiba di dua rumah yang memang agak jauh dari rumah-rumah yang lain. Seakan menjadi takdir jika dirinya bertemu dengan Tarjo.
Sheila menatap rumah yang masih terlihat gelap itu. Yang berarti jika si pemilik belum kembali ke rumah.
Sheila berjalan gontai memasuki rumahnya. Ia langsung menuju kamar mandi untuk menumpahkan segala rasa sedihnya. Ia mengguyur kembali tubuhnya yang masih berpakaian lengkap di bawah shower.
Di sisi Nathan, pria itu mengendarai mobilnya dengan perasaan yang juga hancur melihat air mata Sheila. Sedari tadi panggilan masuk dari Sheila di ponsel Tarjo, namun ia tak menggubrisnya. Ia masih belum siap untuk menjadi Tarjo sekarang.
Nathan menatap hujan yang semakin deras. Ia diam di mobil dan tak kunjung turun meski ia sudah tiba di rumah Agus.
"Semoga Sheila pulang dengan selamat," harapnya dalam hati.
Matanya tiba-tiba tertuju pada paper bag yang ada di jok belakang. Itu adalah milik Sheila. Nathan mengambilnya. Ada setelan kerja milik Sheila didalamnya.
Aroma parfum Sheila menyeruak ke indera penciumannya. Ia memeluk blazer milik Sheila dengan perasaan tak tentu. Harusnya ia senang karena sebentar lagi dirinya akan bertunangan dengan gadis yang dicintainya. Tapi kenapa rasanya begitu menyakitkan ketika mendapat penolakan dari Sheila?
Nathan kembali ke rumah kontrakan di waktu tengah malam ketika hujan sudah reda. Ia melihat rumah Sheila yang sudah menyala. Ia sedikit menarik sudut bibirnya. Ia pikir Sheila akan datang menyambutnya. Tapi ternyata tidak.
"Mungkin dia sudah tidur," gumam Tarjo.
#
#
#
Keesokan harinya, Tarjo telah siap dengan setelan kemeja dan celana kainnya. Ia menatap layar ponselnya yang masih menghitam. Tak ada pesan masuk dari Sheila.
Niat hati ingin mengirim pesan terlebih dahulu, tapi akhirnya ia urungkan. Pastinya ia harus mulai bisa sedikit menjauh dari Sheila agar dirinya yang asli bisa diterima oleh Sheila.
Tarjo berangkat ke kantor tanpa bertemu Sheila lebih dulu. Ia tak ingin perasaan Sheila makin dalam kepadanya karena pertunangan yang sesungguhnya sudah didepan mata. Setidaknya yang terpenting adalah, dirinya sebagai Nathan telah menerima Sheila menjadi takdirnya.
Nathan tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Ia menunggu Sheila berangkat ke kantor. Namun hingga pukul sembilan pagi, sosok Sheila tak juga hadir di ruangannya.
Nathan mengirim pesan pada Sheila. Namun tidak dibalas.
"Kemana dia? Apa dia benar-benar membenciku?" gumam Nathan pelan.
Harvey masuk ke ruangan Nathan dan mengatakan jika dirinya harus menghadiri banyak rapat penting hari ini. Nathan mengangguk paham.
"Oh ya, apa kau tahu kenapa Sheila tidak masuk?" tanya Nathan.
"Apa dia tidak meminta izin pada Tuan? Dia mengirim pesan pada saya jika hari ini ia tidak bisa masuk kerja."
Nathan terdiam. "Ternyata benar dia marah padaku," batin Nathan.
"Baiklah, ayo pergi." Nathan bangkit dari duduknya dan segera merapikan jasnya lalu berjalan mendahului Harvey.
"Semoga saja kali ini Tuan Nathan benar-benar serius menjalani rapat. Tidak seperti kemarin yang terus berbalas pesan entah dengan siapa," ucap Harvey dalam hati.
#
#
#
Malam harinya, Tarjo kembali ke rumah dan melihat rumah Sheila masih sepi bagai tak berpenghuni.
"Sebenarnya dia kemana? Apa dia didalam rumah?"
Tarjo membersihkan diri terlebih dahulu kemudian menyambangi rumah Sheila.
"Shei, kamu didalam? Ini aku, Tarjo."
Tarjo mengetuk pintu rumah Sheila berkali-kali.
"Shei!" panggilnya lagi.
Setelah lama menunggu akhirnya pintu itu terbuka juga. Sosok yang dirindunya itu berwajah pucat dengan penampilan yang berantakan.
"Shei, kamu kenapa?"
Tarjo memegangi kening Sheila.
"Astaga! Kau demam! Ayo masuk!"
Tarjo yang tak tega dengan kondisi Sheila segera memapahnya masuk ke dalam kamar. Ia merebahkan tubuh Sheila dengan hati-hati.
"Kamu demam begini kenapa tidak menghubungiku?" ucap Tarjo cemas.
"Baterai ponselku habis. Dan aku tidak ada tenaga untuk turun dari kasur. Baru tadi ku isi dayanya," jawab Sheila lemah.
"Sejak kapan kamu demam?" Tarjo segera menyiapkan alat kompres. Keluarganya adalah seorang dokter, setidaknya ia tahu bagaimana melakukan pertolongan pertama.
Tarjo mengompres kening Sheila. Ia segera keluar dan membeli makanan juga obat untuk Sheila.
Tarjo kembali dengan membawa bubur beserta obat pereda demam.
"Shei, bangunlah dulu! Makan dulu lalu minum obat."
Tarjo membantu Sheila duduk. Gadis itu tersenyum dengan perhatian Tarjo.
"Andai saja Nathan bersikap hangat dan perhatian sepertimu, Jo." Sheila membatin.
Dengan telaten Tarjo menyuapi Sheila.
"Astaga! Kenapa aku jadi memikirkan dia sih? Dia yang sudah membuatku jadi seperti ini!" batin Sheila lagi sambil menggeleng.
"Ada apa, Shei?" tanya Tarjo.
"Eh?! Tidak. Tidak apa-apa. Terima kasih ya."
"Bukankah ini sudah menjadi tugasku untuk menjagamu?" Tarjo membelai rambut Sheila penuh kasih.
"Ini, minum obatnya dulu. Setelah itu kau kembalilah tidur."
Sheila mengangguk. Ia amat patuh saat ini. Dan Tarjo menyukainya.
"Jo, kamu jangan pergi ya! Temani aku disini..." pinta Sheila.
Tarjo mengangguk. "Aku minta maaf karena tidak menjawab panggilan darimu kemarin."
Sheila menggeleng. "Nggak apa-apa. Aku tahu kamu sibuk."
Tak lama Sheila kembali terlelap dengan memegangi tangan Tarjo. Gadis itu tidur dengan damai.
Kini hati Tarjo merasa bersalah karena sudah membuat Sheila sakit.
"Pasti semua ini karena aku. Kau sakit karena aku," batin Tarjo.
Tarjo mengambil kompres di kening Sheila dan memeriksa suhunya.
"Sudah mulai turun. Syukurlah. Maafkan aku, Shei. Aku tidak akan membiarkanmu sakit seperti ini lagi."
Tarjo mengecup kening Sheila dalam dan lama. Ia mengusap wajah Sheila yang masih tetap cantik disaat sakit. Bibirnya yang pucat tetap menjadi magnet tersendiri untuknya.
Tarjo mengecup bibir Sheila pelan. Ia tak ingin siempunya tahu jika dirinya tengah mencuri sebuah ciuman dari gadisnya.
Mata Tarjo mulai merasakan kantuk. Namun tangannya terus digenggam oleh Sheila. Mau tak mau Tarjo ikut naik keatas ranjang dan memeluk Sheila. Ia mendekap tubuh gadisnya yang masih terasa panas.
"Aku tidak bisa melepaskanmu, Shei. Aku tidak bisa. Aku akan melakukan apapun agar kau bahagia," gumam Tarjo dalam hatinya.
Mata lelahnya akhirnya terpejam dan bersama-sama menuju alam mimpi.
Sheila tersenyum tipis merasakan kehangatan tubuh Tarjo yang mendekapnya. Ia makin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Tarjo. Menghirup aroma tubuh pria yang ia cintai.
Pagi kembali datang. Tarjo terbangun dengan posisi masih memeluk Sheila. Satu tangannya terangkat dan mengusap wajah kekasihnya.
"Selamat pagi, sayang..."
Tarjo mengecup kening Sheila. Ia bangun dari ranjang dengan hati-hati agar tidur Sheila tidak terganggu.
Tarjo segera kembali ke rumahnya dan bersiap-siap. Hari ini ada beberapa meeting penting yang harus ia hadiri.
Sebelum pergi, Tarjo menyiapkan sarapan untuk Sheila dan juga obat. Ia menulis pesan di secarik kertas.
"Aku pergi dulu, sayangku. Aku harus mencari uang yang banyak untuk masa depan kita nanti," lirih Tarjo kemudian berlalu.
#
#
#
Sore harinya, Nathan mendapat pesan dari ibunya jika dirinya dan Sheila harus fitting baju untuk acara pertunangan mereka yang akan di gelar beberapa hari lagi.
Nathan mengirim pesan pada Sheila. Namun sepertinya gadis itu tidak membaca pesan darinya.
"Apa dia masih sakit?" gumam Nathan. "Sebaiknya aku langsung kesana saja untuk memastikannya."
Nathan menuju parkiran dan melajukan mobilnya ke rumah kontrakan Sheila. Ia berpikir ingin membeli sesuatu untuk Sheila, namun ia sendiri bingung apa yang harus dibelinya. Hingga akhirnya mobilnya tiba didepan rumah Sheila dan ia segera turun.
Nathan mengetuk pintu beberapa kali. Sheila yang baru keluar dari kamar mandi merasa jengah dengan bunyi ketukan di pintunya.
"Siapa sih? Ini kan masih sore. Aku rasa tidak mungkin Tarjo. Apa dia kurir makanan lagi seperti tadi siang?" gumam Sheila.
Ya, siang tadi Nathan sengaja memesankan makanan dan mengirimnya ke rumah Sheila. Namun ia menyamarkan nama pengirim menjadi Tarjo. Ia tahu jika Sheila pasti menolak jika itu dari dirinya.
Sheila berjalan menuju pintu lalu membukanya. Nampak sosok yang seperti menahan emosi karena Sheila terlalu lama membuka pintu.
"Nathan, ngapain kamu disini?"
Pria itu tidak menjawab. Malah tangannya terulur dan langsung menempelkannya di kening Sheila.
"Kau sudah tidak sakit," ucap Nathan.
"Tahu dari mana kamu kalau aku sakit?" tanya Sheila yang membuat Nathan seketika membeku.
#bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
🎤🎶 Erick Erlangga 🎶🎧
kau yg main api kau juga yg terbakar 😔
2022-03-22
2
Nur Adam
smgt lnjiut
2022-03-20
2
Patrish
lhaaa... salah peran lagiii.. 🤣🤣
2022-03-20
2