Nathan masih tidak percaya jika orang tuanya akan melakukan sebuah perjodohan untuknya. Mungkin mereka melakukan ini karena khawatir dengan rumor yang beredar tentangnya. Tapi dijodohkan secara tiba-tiba tentu saja membuat Nathan terkejut dan syok. Ditambah lagi, Roy dan Lian masih bungkam tentang siapa yang akan dijodohkan dengan dirinya.
Nathan mengusap wajahnya kasar. Usai makan malam tadi dan pengumuman perjodohannya, Nathan tidak menolak atau bahkan menerima. Ia terdiam karena ini memang mengejutkan untuknya.
Akhirnya Nathan memilih untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya. Sudah cukup semua beban pekerjaan di pundaknya dan kini ditambah dengan rencana perjodohan dirinya.
Keesokan harinya, Nathan turun dari lantai dua rumahnya dan menemui Roy dan Lian yang sudah menunggu di meja makan.
"Pagi, Ma. Pagi, Pa," sapa Nathan.
"Pagi, sayang. Bagaimana tidurmu?" tanya Lian.
"Ya cukup nyenyak, Ma."
"Papa harap kau bisa menerima apa yang papa katakan semalam," ucap Roy.
Nathan kembali terdiam.
"Papa dan Mama akan segera menemui keluarga gadis itu," lanjutnya.
Ingin bertanya tentang siapa gadis yang dijodohkan dengannya, namun ternyata lidahnya kelu dan hanya bisa diam.
Usai sarapan Nathan berpamitan dengan kedua orang tuanya dan segera berangkat ke kantor. Mobil berhenti di depan lobi Avicenna Grup dan Nathan segera keluar dari mobil. Para security menyambut kedatangan Nathan.
Nathan hanya mengangguk pelan menjawab sapaan dari para karyawannya. Di lobi, Nathan disambut Harvey yang akan mengantar Nathan ke ruangannya. Selama perjalanan menuju ke ruangannya, Harvey membicarakan masalah pekerjaan yang akan Nathan lakukan hari ini.
Nathan hanya diam mendengarkan semua penjelasan Harvey. Tiba di ruangannya, Nathan disambut oleh senyum merekah milik Sheila.
"Selamat pagi, Pak. Saya sudah membuatkan kopi untuk bapak," ucap Sheila.
Nathan hanya mengangkat tangannya seraya meminta Sheila untuk keluar dari ruangannya. Sheila menghentakkan kaki lalu keluar dari ruangan bosnya.
"Huft! Belum juga seminggu aku bekerja disini. Tapi harus selalu disuguhi wajah sedingin es yang tidak pernah menganggapku ada. Buruk sekali nasibku ini!" keluh Sheila dalam hati.
...*...
...*...
...*...
Malam ini, Boy sudah membuat janji dengan keluarga Adi Jaya. Ia bersama kedua orang tuanya ingin membicarakan terkait perjodohan Nathan dan putri Adi Jaya.
Adi Jaya dan Sandra menyambut hangat kedatangan keluarga Avicenna yang terkenal itu. Tentu saja mereka sangat senang karena selama ini mereka juga bekerja sama dalam beberapa bidang bisnis.
"Terima kasih Mas Adi dan Mbak Sandra sudah bersedia menemui kami," ucap Roy.
"Ah, jangan sungkan Roy. Kita ini kan sudah seperti keluarga," balas Adi Jaya.
"Jadi, ada kejutan apa yang membuat kalian datang kemari?" lanjut Adi Jaya.
Roy menatap Boy sebelum bicara. "Kami berniat ingin menjodohkan putra kami, Nathan Avicenna dengan putri Mas, Sheila yang kini bekerja sebagai sekretaris putraku," ungkap Roy tanpa berbasa-basi lagi.
Adi Jaya mengangguk paham. Tentu saja ia senang ketika mendengar hal ini, mengingat Sheila juga sudah berusia 25 tahun. Ditambah keluarga yang melamarnya adalah keluarga Avicenna yang terkenal itu. Ia sudah mendengar dari Sandra jika sekarang Sheila bekerja di Avicenna Grup.
"Aku sangat senang mendengarnya, Roy. Tentu saja kami menerima perjodohan ini. Tapi, saat ini Sheila memang sudah tidak tinggal bersama dengan kami. Dia memutuskan untuk hidup mandiri."
"Kalau begitu mari kita atur waktu agar mereka bisa bertemu secara resmi. Sampai hari itu tiba, sebaiknya kita rahasiakan dulu identitas calon pasangan mereka," usul Roy.
"Kau benar, Roy. Biarkan mereka bersikap profesional dulu sebelum kita meresmikan perjodohan mereka."
...*...
...*...
...*...
Satu minggu kemudian,
Sheila mendapat telepon dari Cecilia jika malam ini ia harus datang ke resto Royale Hotel. Cecilia bercerita jika Sheila akan dijodohkan dengan seorang pria yang sudah dipilihkan oleh kedua orang tuanya.
Sheila cukup syok mendengar perjodohan yang tiba-tiba ini. Selama di kantor, Sheila tidak bisa fokus dan terus memikirkan soal malam nanti.
"Shei, laporan yang kusuruh sudah kau selesaikan?" tanya Harvey mendatangi meja Sheila.
Sheila tak merespon dan hanya melamun.
"Shei! Apa kamu mendengarku?" ulang Harvey karena tak mendapat respon dari Sheila.
"Sheila!" Harvey menggebrak meja.
"Hah?! Apa?! Ada apa?" Sheila terbangun dari lamunannya.
"Laporan!" Harvey menengadahkan tangannya.
"Oh, itu. Tunggu sebentar lagi. Aku akan membuatnya. Sepuluh menit!" Sheila meringis dan mengangkat sepuluh jarinya.
"Hah! Ya sudah! Aku tunggu!" Harvey segera berlalu dan masuk ke ruangan Nathan.
"Tuan, hari ini ada kunjungan untuk memeriksa proyek Tuan bersama Nona Ivanna."
Harvey kembali bingung karena Nathan juga tidak merespon sama halnya dengan Sheila.
"Ada apa dengan kedua orang ini?" batin Harvey bertanya-tanya.
"Tuan! Anda mendengar saya?" Harvey agak meninggikan suaranya.
"Ah, iya. Ada apa?" Nathan akhirnya tersadar.
"Tuan harus meninjau proyek yang dilakukan bersama Nona Ivanna."
"Oh, oke. Ayo kita pergi!" Nathan segera beranjak dari duduknya.
"Tuan akan pergi dengan Sheila seperti biasa," jelas Harvey.
Nathan melirik Sheila dari dalam ruangannya. Gadis itu sedang sibuk dengan laporan yang di minta Harvey.
"Kali ini pergilah denganku, Harv. Pikiranku sedang kacau."
"Hmm?" Harvey bingung. "Baiklah, Tuan. Mari!" putus Harvey kemudian.
...*...
...*...
...*...
Malam harinya, Sheila memilih gaun malam berwarna hitam berlengan pendek. Meski sebenarnya ia tak ingin tampil terlalu wah, tapi keluarganya pasti akan protes jika dirinya hanya berpakaian ala kadarnya.
Sheila menaiki mobilnya menuju Royale Hotel yang biasa dijadikan tempat pertemuan para keluarga sultan. Sheila tiba di lobi hotel dan petugas vallet membungkuk sopan dan mengambil alih mobil Sheila.
Sheila menghubungi Cecilia agar menjemputnya di lobi. Sheila duduk di ruang tunggu yang disediakan di lobi hotel.
Ia bermain ponsel untuk mengusir kebosanan. Seperti biasa ia bertukar pesan dengan Naina, sahabatnya. Saat menunggu pesan masuk dari Naina, matanya tertuju pada pria muda yang baru saja memasuki hotel.
"Itu kan ... Pak Nathan? Ngapain dia disini? Apa dia ada janji juga disini?" gumam Sheila.
"Ah, biarkan saja. Lagian aku tidak ada urusan dengannya," lanjut Sheila bermonolog.
Ponsel Sheila berdering. Sebuah panggilan dari Cecilia yang memintanya untuk masuk ke private room nomor 001. Sheila agak ragu, namun ia juga tak bisa menolak permintaan ayahnya. Apalagi Cecil cerita jika kesehatan ayahnya menurun sejak Sheila keluar dari rumah. Ia memang merasa bersalah, dan sebagai balasan ia harus menerima semua keputusan ayahnya.
Sheila mondar mandir di depan room 001. Hatinya galau karena ia akan bertemu dengan pria yang akan dijodohkan dengannya.
Di sisi Nathan, ia juga ragu untuk memasuki ruang yang sudah di sebutkan oleh Boy tadi.
"Duh, bagaimana ini?" gumam Nathan. Ia pun memutuskan untuk pergi ke toilet sebelum memasuki ruangan.
Didalam toilet, Nathan mengatur napasnya. Sungguh ia gugup menghadapi perjodohan ini. Apalagi ia belum mengetahui siapa gadis yang dijodohkan dengannya.
Nathan keluar dari toilet dan berpapasan dengan Sheila yang juga baru keluar dari toilet wanita.
"Loh? Pak Nathan?" ucap Sheila.
"Kamu?" Nathan juga terkejut.
Sejenak mereka saling mengerutkan dahi.
"Bapak ngapain disini?" tanya Sheila.
"Kamu sendiri? Apa yang kamu lakukan disini? Dan kamu bicara tidak formal dengan saya! Tidak sopan!" balas Nathan dingin.
"Astaga! Dasar gumpalan es! Ini diluar jam kantor. Ngapain juga aku harus sok pakai bahasa formal?" sungut Sheila dalam hati.
"Shei, kamu disini! Ayo cepat! Sudah ditunggu mama dan papa." Cecilia datang menyudahi perdebatan Nathan dan Sheila.
Sheila pergi meninggalkan Nathan yang masih diam di depan toilet.
"Astaga, Nate. Kau masih disini? Papa dan mama sudah menunggu. Ayo cepat!" Boy menyusul Nathan di toilet.
"Iya, Kak. Maaf," ucap Nathan lalu mengekori langkah Boy.
...***...***...
Tiba di room 001, Nathan yang datang bersama Boy ikut bergabung dengan seluruh anggota keluarga yang telah hadir. Mata Nathan membulat ketika melihat Sheila duduk disana dan sedang berbincang dengan Roy dan Lian.
"Apa yang dia lakukan disini?" tanya Nathan membatin.
"Nah, ini dia. Akhirnya datang juga. Ini adalah Nathan, putra kami," ucap Lian memperkenalkan Nathan.
Mata Sheila membola menatap bosnya yang juga ada disini bersama dengan keluarganya. Kini ia mulai mengerti dan paham situasi yang sedang terjadi.
"Jadi, cowok yang dijodohkan denganku adalah bosku sendiri? Ya Tuhan! Takdir macam apa ini? Kok jadi gini sih?" -Sheila-
"Apa-apaan ini? Jadi, aku dijodohkan dengan sekretarisku sendiri yang ternyata adalah putri pemilik AJ Grup! Kehidupan macam apa yang sedang kujalani ini?" -Nathan-
#bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
Putri Minwa
makin menarik ceritanya thor
2023-11-25
0
🎤ImaEdg🎧
terima aja, biar ada hangatnya ga dingin mulu 🤣
2023-10-19
0
L
dunia author memang sempit 😁😁
2022-08-14
2