Pagi ini Sheila merasa khawatir dan was-was. Setelah kemarin ia melakukan kesalahan dengan menuduh Nathan akan berbuat tak senonoh padanya.
Sheila mondar mandir di ruangan Nathan. Ia berpikir keras tentang apa yang harus ia katakan ketika bertemu dengan Nathan nanti.
Nathan mulai memasuki gedung Avicenna Grup. Dengan wajah datar dan tak menampakkan senyum, ia berjalan melewati banyak karyawan yang menyapanya. Namun tak satupun sapaan mereka ia balas.
Hatinya sedang tak baik-baik saja karena kejadian bersama Sheila kemarin. Entah seperti apa ia akan bersikap setelah ini.
Sheila melihat Nathan mulai memasuki ruangannya. Sheila mengatur napasnya agar tidak terlalu gugup. Ia harus tenang dan bersikap biasa saja.
"Selamat pagi, Pak," sapa Sheila dengan sedikit membungkukkan badannya.
Nathan hanya melewatinya dan tak membalas apa pun bahkan melirik pun tidak.
"Bacakan jadwal saya hari ini!" titahnya pada Sheila.
Sheila segera membuka buku catatannya dan membacakan agenda Nathan hari ini.
"Baiklah, kau boleh keluar!"
Sheila mengangguk dan berbalik badan. Di meja Nathan sudah tersedia dua pilihan minum, ada teh dan kopi.
"Tunggu!" suara Nathan terdengar sungguh mengerikan ditelinga Sheila.
"Ada apa, Pak?"
"Siapa yang menyuruhmu membuat teh dan kopi? Kau pikir saya bisa meminum ini sekaligus?"
"Umm, saya membuat keduanya agar bapak bisa memilih mana yang bapak inginkan," ucap Sheila jujur.
"Bawa semua ke belakang! Saya tidak ingin keduanya!" titah Nathan.
"Baiklah, Pak. Saya minta maaf."
Sheila membawa dua cangkir itu kedalam pantry. Ia kembali menemui Nathan.
Sheila menimang-nimang untuk membicarakan soal kemarin.
"Umm, soal kemarin ... saya minta maaf. Saya benar-benar tidak bermaksud menuduh bapak. Saya..."
"Cukup! Ini jam kantor, Sheila. Jadi, jangan membicarakan hal diluar pekerjaan," tegas Nathan.
"Maaf, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu!"
Tanpa membalas Sheila, Nathan langsung berkutat dengan berkas di mejanya. Sheila bernapas lega. Meski ia tidak yakin Nathan akan memaafkannya dengan mudah. Paling tidak, semua masih normal. Gumpalan es, tetaplah gumpalan es.
#
#
#
Sore harinya, Sheila sengaja bertandang ke supermarket dekat kantor untuk berbelanja kebutuhan pribadi dan sehari-harinya. Tak lupa ia membeli camilan kesukaannya.
Karena sudah tak ada lagi tugas dari Nathan, Sheila bisa sedikit bersantai ria. Ia tinggal menunggu perintah untuk pulang dari bosnya itu.
Pukul enam petang Nathan sudah memperbolehkan Sheila untuk pulang. Sebenarnya ia ingin mengerjai Sheila karena sudah menuduhnya kemarin. Tapi permintaan Boy dan juga Sandra membuatnya mengurungkan niat.
Ia takut jika Sheila mengadu pada orang tuanya. Pasti Nathan akan terkena masalah nantinya.
Nathan keluar dari lift dan melihat Sheila sedang berbincang dengan Agus, supir Nathan. Mereka terlihat akrab dengan sesekali melempar candaan.
Sheila berpamitan setelah melihat sosok Nathan mendekat. Sheila segera masuk ke mobilnya dan tancap gas meninggalkan gedung Avicenna.
"Apa yang Sheila bicarakan dengan bapak?" Tanya Nathan.
"Eh, tidak ada, Tuan. Nona Sheila hanya menitipkan ini untuk anak-anak saya di rumah. Dia bilang sebagai ucapan terima kasih karena kemarin sudah mengantarkan mobilnya ke rumah," jelas Agus.
"Oh." Nathan tersenyum getir. "Gadis itu bahkan tidak berterimakasih padaku tapi malah berterimakasih pada pak Agus," batin Nathan sedikit kesal.
...***...***...
Pagi kembali menyapa, Sheila mematut diri didepan cermin sebelum berangkat ke kantor.
"Perfect, Sheila!" gumamnya.
Sheila bersiul riang karena merasa ini adalah hari yang membahagiakan untuknya. Entah apa yang akan terjadi hari ini. Tapi feelingnya mengatakan jika hari ini adalah hari baik.
Sheila memasuki ruangan Nathan dan melihat betapa banyaknya beban yang dipikul pria itu.
"Apa dia beneran nggak punya pacar?"
Sheila yang penasaran kemudian menggeledah meja kerja Nathan. Ia mencari sebuah foto atau apa pun disana.
Hanya ada foto kedua orang tuanya di meja Nathan. Sheila mengerutkan dahi.
"Sepertinya dia memang nggak punya pacar. Yah, mana ada cewek yang mau sama gumpalan es kayak dia!" Sheila terkekeh geli.
Kemudian ia menuju pantry untuk membuat kopi untuk Nathan. Sebelumnya Nathan sudah mengirim pesan jika dirinya ingin minum kopi.
Dengan sigap Sheila mengolah kopi dengan mesin kopi yang ada disana. Bau harumnya membuat Sheila juga ingin mencicipi seperti apa rasanya kopi yang langsung dibuat dari mesinnya.
Sheila menghirup aroma kopi dari cangkirnya.
"Kau disini rupanya!"
Suara itu membuat Sheila terkejut. ia membalikkan badan dan melihat Nathan ada dihadapannya.
"Pak Nathan?"
"Iya, saya. Kenapa?" Nathan melangkah maju hingga membuat Sheila berjalan mundur.
"A-ada perlu apa, Pak? Bapak duduk saja, saya akan membawakan kopi bapak kesana," ucap Sheila gugup karena posisi mereka yang semakin dekat.
"Kemarin kamu berterimakasih pada pak Agus karena sudah mengantarkan mobilmu ke rumah. Tapi kamu sama sekali tidak mengucapkan terima kasih kepada saya. Padahal saya yang sudah menggendongmu hingga masuk ke kamarmu."
"Hah?!" Sheila membulatkan mata.
"Kamu juga harus berterimakasih pada saya."
Sheila memutar bola matanya. "Maksud bapak?"
Nathan semakin mendekat dan membuat Sheila semakin ketakutan.
"Duh, mau ngapain sih ni orang?"
Kini mereka sudah benar-benar berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.
"Pak, bisa tidak jangan terlalu dekat. Saya akan buatkan kopi untuk bapak." Sheila memegangi dada Nathan yang rasanya begitu dekat dengan tubuhnya.
Nathan menggeleng. "Saya tidak ingin kopi hari ini."
"Eh? Teh mungkin?" tawar Sheila.
Nathan kembali menggeleng.
"Lalu, bapak ingin apa?" tanya Sheila mulai gugup dan cemas.
"Berikan balasan yang setimpal untuk apa yang sudah saya lakukan. Saya mengantar kamu ke rumahmu dua kali. Dua kali, Sheila. Tapi sedikitpun kau tidak berterimakasih."
Sheila berpikir keras.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk bapak?" tanyanya.
Nathan semakin mendekat dan membuat jantung Sheila jadi berdetak kencang tak beraturan.
"Ya Tuhan! Apa yang akan dia lakukan? Apa dia akan menciumku?" batin Sheila bertanya-tanya.
Tiba-tiba Sheila menutup matanya merasakan hembusan napas Nathan dan bau parfum maskulin yang mengganggu indera penciumannya.
Nathan mengernyit heran karena melihat Sheila memejamkan mata.
"Apa-apaan dia? Apa dia pikir aku akan menciumnya? Dasar gadis aneh!"
Nathan segera menyentil kening Sheila dengan jarinya.
"Aw!" Sebuah pekikan meluncur dari bibir Sheila. Ia memegangi keningnya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa menutup matamu? Kau pasti berpikiran mesum ya?"
Sheila tak percaya dengan apa yang dikatakan Nathan.
"Saya..."
"Sudah! Cepat bersiap! Hari ini kamu akan jadi supir saya." Nathan segera berlalu.
"Apa?! Supir?" protes Sheila.
"Iya, itu untuk menebus kesalahanmu pada saya. Mengerti?! Ayo cepat! Saya ada janji dengan klien hari ini!" Nathan melempar kunci mobilnya kearah Sheila.
Dengan sigap Sheila menangkapnya. Mau tak mau Sheila harus memenuhi keinginan Nathan. Ia tak ingin punya utang budi pada pria ini.
#
#
#
Seharian ini Sheila menjadi supir untuk Nathan. Hatinya cukup kesal karena Nathan terus mengerjainya dengan pergi ke satu tempat yang ternyata bukan tempat yang dimaksud. Lalu terpaksa mereka harus putar balik dengan jarak yang cukup jauh.
Matahari cukup terik di siang ini, Sheila merasa moodnya sudah mulai buruk. Hari yang ia kira akan jadi indah, berubah menjadi hari buruk.
"Kau suka eskrim?" tanya Nathan.
"Aku tidak begitu suka makanan manis," jawab Sheila.
"Kalau begitu kita akan kesana. Lurus saja lalu belok kiri."
Sheila mengernyit namun mengikuti arahan Nathan. Mereka tiba di sebuah kedai eskrim.
"Ayo turun!" titah Nathan.
"Tapi, aku..."
"Cepat!" Nathan membuka pintu mobil dan menarik lengan Sheila.
"Hei, jangan menarikku!" berontak Sheila.
Nathan meminta Sheila untuk duduk.
"Kau suka rasa apa?" tanyanya.
"Terserah saja," balas Sheila cuek.
Nathan segera memesankan eskrim rasa coklat dan vanilla.
"Ini untukmu!" Nathan menyodorkan eskrim coklat untuk Sheila.
Sheila menatap tajam eskrim di meja.
"Makanlah! Kau pasti akan menyukainya. Orang bilang coklat bisa meredam perasaan yang sedang buruk."
Sheila menyendok eskrim dengan tatapan marah pada Nathan. Sedikit demi sedikit hingga akhirnya eskrim itu tandas.
"Sudah!" ucap Sheila dengan meletakkan sendoknya.
Nathan tersenyum melihat Sheila.
"Kau ini makan seperti anak kecil saja. Dasar anak manja!" Nathan mengambil tisu dan mengelap bibri Sheila yang belepotan dengan eskrim coklat.
Sheila terkejut dengan perlakuan hangat Nathan. Sungguh seharian ini bosnya bersikap aneh.
"Ti-tidak perlu begini!" gugup Sheila lalu mengambil tisu dan mengelap mulutnya sendiri.
"Kita harus pikirkan cara untuk membatalkan perjodohan ini, Sheila."
Kalimat Nathan membuat Sheila tertegun.
"Aku tidak bisa melakukannya," lanjut Nathan.
Sejenak Sheila terdiam. Ia juga tidak menginginkan ini. Tapi ia juga takut jika penyakit ayahnya kambuh lagi.
"Aku juga tidak bisa melakukannya, tapi..."
Nathan menunggu lanjutan kalimat Sheila.
"Tapi aku takut terjadi sesuatu dengan ayahku. Bukankah aku pernah bertanya padamu tentang kekasih. Mungkin jika kau atau aku memiliki kekasih, kita bisa membatalkan perjodohan ini," ucap Sheila.
Nathan berpikir sejenak. Ia juga memikirkan soal kondisi Adi Jaya yang memiliki riwayat sakit jantung. Juga ayahnya yang memiliki riwayat yang sama. Kini ia dilema. Tapi keputusan harus tetap dibuat.
"Aku ... memiliki seseorang yang kusukai," ucap Nathan.
"Eh?" Sheila terkejut.
"Aku sedang menunggunya..."
Sheila mengangguk paham. Setelahnya mereka berdua kembali ke kantor dengan hanya di temani kesunyian di sepanjang perjalanan.
#bersambung
*Aw aw, kira2 siapa sih yang ditunggu babang Nathan?😱😱
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
❤️⃟Wᵃf🍁Ꮮιͣҽᷠαͥnᷝαͣ❣️🌻͜͡ᴀs
siapa dia yg ditunggu nathan
2022-07-30
1
Last Oct
oh Nath,, jangan menunggu ku,, nanti kau akan kecewa ...😢
teruslah melangkah, i'll be ok... 😌
seriusan,,,, karya emak emang mantul. aku jatuh cintos ini sama karyanya.. ku favoritkan ya....
sehat terus emak othor....
2022-07-27
5
VYRDAWZAmut
ka
2022-06-29
1