Sheila kembali berkutat dengan pekerjaannya usai mendengar keluh kesah Harvey. Baru saja ia menerima pesan jika Nathan sedang dalam perjalanan ke kantor.
Jika di pikir-pikir, Sheila juga merasa ada yang aneh dengan bosnya itu. Dulu dia adalah orang yang paling disiplin dalam pekerjaannya. Bahkan satu hari ia harus menyelesaikan banyak berkas yang memang harus selesai hari itu juga.
Namun sekarang, banyak meeting yang tertunda karena Nathan sering datang terlambat. Sheila yang sedang membuat kopi di pantry malah melamunkan Nathan.
"Apa benar dia sedang sibuk dengan kekasihnya? Kalau begitu harusnya dia sudah bicara dengan orang tuanya? Atau mereka sedang mencari waktu untuk bicara dengan keluarga Nathan?" batin Sheila terus bertanya-tanya hingga akhirnya Nathan tiba di kantor dan langsung mencari berkas yang ada di mejanya.
"Shei!" panggil Nathan.
Sheila tersadar dari lamunannya dan segera menghampiri Nathan.
"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Sheila.
"Apa kau lihat berkas dari YP Cons? Saya ingat menaruhnya disini tapi kenapa tidak ada?" Nathan mulai frustasi. Ia terus melihat jam tangannya.
"Biar saya bantu, Pak."
Sheila ikut mencari berkas yang di maksud Nathan. Sheila mencari di beberapa tumpukan berkas di belakang meja Nathan.
Hingga tanpa sengaja Sheila menjatuhkan banyak berkas ke lantai. Sheila merutuki dirinya sendiri.
"Maaf, Pak. Saya akan membereskannya." Sheila segera berjongkok.
Tak sengaja matanya menatap sebuah berkas yang memang sedang dicari Nathan.
"Ini, Pak. Berkasnya ketemu!" seru Sheila.
"Mana?"
Sheila mendongak dan tanpa sengaja Nathan juga ikut membungkuk hingga wajah mereka kini berada dalam jarak yang cukup dekat. Mata mereka saling beradu. Debaran jantung itu semakin nyata ketika Nathan menatap bibir merah delima yang merekah milik Sheila.
Nathan kembali mengingat tentang ciuman pertamanya bersama Sheila. Meski saat itu ia adalah Tarjo, tapi tetap saja ia dan Tarjo adalah orang yang sama.
Otak Nathan sudah buntu dan ingin sekali mengecup kembali sesuatu yang kenyal itu untuk kedua kalinya.
"Ini, Pak!" Sheila segera berdiri dan menyerahkan berkas itu pada Nathan. Ia sudah merasa hampir jantungan di tatap Nathan seperti itu.
"Ah iya, terima kasih." Nathan menerima berkas itu dari tangan Sheila.
"Apa ada lagi yang bapak butuhkan?" tanya Sheila.
"Aku butuh kamu, Shei," batin Nathan mulai menggila.
"Tidak ada," jawabnya dingin.
"Kalau begitu saya permisi." Sheila berpamitan namun kembali terhenti karena Nathan memanggilnya.
"Shei, kopi saya?" tanya Nathan.
"Ah iya, saya sudah membuatnya." Sheila segera menuju pantry dan membawa kopi buatannya tadi ke meja Nathan.
Sheila memberi hormat kemudian keluar dari ruangan Nathan.
"Astaga! Apa yang kau pikirkan, Nathan? Kau pasti sudah gila! Kenapa aku begitu menginginkan Sheila?" batinnya frustasi.
Ponsel Nathan bergetar dan tertera nama Harvey disana. Ia segera mengangkatnya.
"Iya, saya akan segera kesana!" ucap Nathan dingin seperti biasa.
#
#
#
Sheila merengut karena kekasih hatinya tidak bisa menjemputnya di kantor. Dengan terpaksa Sheila meminta tolong bantuan Danny, asisten kakaknya. Danny sudah seperti kakak untuk Sheila. Dan pria itu selalu bisa dimintai tolong oleh Sheila.
Sheila menunggu kedatangan Danny di lobi gedung. Hingga akhirnya Danny datang dan menyapa Sheila.
"Hai, Shei. Memangnya ada apa dengan mobilmu, hmm?" sapa Danny kemudian mengacak rambut Sheila.
"Kakak! Kebiasaan deh!" Sheila menekuk wajahnya.
"Jangan marah dong! Ya sudah, kamu mau pulang kan?"
Sheila mengangguk senang.
"Kamu ini! Katanya mau hidup mandiri tapi nyatanya masih saja merepotkan orang lain." Danny menggeleng pelan sambil membukakan pintu untuk Sheila.
Danny memutar dan masuk ke dalam mobil.
"Sebenarnya tadi aku ingin memanggil taksi online. Tapi aku takut, Kak. Kakak tahu kan, banyak sekali kejahatan yang terjadi dengan para penumpang transportasi online. Aku hanya was-was saja. Makanya lebih baik..."
"Alasan saja kamu!" Danny kembali mengacak rambut Sheila.
"Kakak! Itu benar!" Sheila mengerucutkan bibirnya.
"Tidak semua, Shei. Ada juga supir yang benar-benar jujur dan baik."
"Iya iya, Kak. Ya udah ayo jalan! Aku udah pengen rebahan nih!" ucap Sheila dengan gaya manjanya.
Danny menggeleng kemudian mulai tancap gas meninggalkan gedung Avicenna Grup.
Disisi lain, Nathan sedari tadi ternyata melihat interaksi antara Sheila dan Danny. Ia yang tak mungkin menjadi Tarjo terpaksa membatalkan janji untuk menjemput Sheila. Ia harus menyelesaikan pekerjaan yang banyak tertunda.
Nathan yang harusnya kembali berkutat dengan pekerjaan malah masih mematung setelah melihat kepergian Sheila bersama dengan pria yang tak dikenalnya.
"Siapa pria itu? Dia terlihat sangat dekat dengan Sheila," batin Nathan bertanya-tanya.
#
#
#
Keesokan harinya, Tarjo dan Sheila sarapan bersama di rumah kontrakan Sheila. Sheila mulai menunjukkan keahliannya dalam mengolah makanan di depan Tarjo.
Sebenarnya Sheila sering memasak ketika dulu kuliah di luar negeri. Meski hanya masakan rumah yang simpel dan cepat saji. Beruntung keluarganya juga memiliki usaha frozen food yang mempermudahnya dalam mengolah makanan.
"Semalam kamu pulang dengan siapa?" tanya Tarjo disela aktifitas makannya.
"Hmm, aku naik taksi online," bohong Sheila. Ia terus menunduk tak ingin menatap Tarjo. Tidak mungkin ia jujur mengenai Danny.
"Oh, syukurlah. Maaf ya aku tidak bisa menjemputmu."
Sheila tersenyum. "Tidak apa. Lain kali kan masih bisa."
Tarjo menatap Sheila dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kenapa kau harus berbohong, Shei?" batinnya.
Usai sarapan, Tarjo berpamitan dengan Sheila karena harus bersiap-siap untuk berangkat kerja. Tak ada sepatah katapun yang Tarjo ucapkan pada Sheila.
Sheila merutuki dirinya sendiri karena sudah berbohong pada Tarjo. Hatinya dilema takut jika Tarjo mengetahui soal jati dirinya sebagai putri dari keluarga kaya.
Sementara di sisi Tarjo, ia merasa kecewa karena Sheila tak jujur padanya. Ia menghela napas kasar.
Rasanya semua ini membuatnya makin tak bisa fokus bekerja. Tarjo bersiap-siap dan memakai kemeja pendek dan juga celana kain khasnya.
Ia menatap dirinya di cermin. Ia menelisik wajahnya yang berperan sebagai Tarjo.
"Apa benar Sheila menyukaimu, Jo?" monolog Tarjo.
"Dia cantik. Tidak! Dia sangat cantik dan anggun. Dia gadis yang menyenangkan dan ceria. Mana mungkin dia tertarik dengan pria culun sepertimu! Ini mustahil!" monolog Tarjo lagi masih di depan cermin.
Seketika Tarjo membayangkan senyum Sheila ketika sedang bersamanya. Itu adalah senyum yang tulus. Lalu, bayangan kebersamaan Sheila dengan pria kemarin juga ikut hadir.
"Sial! Kenapa aku jadi mengingatnya? Shei, siapa yang akan kau pilih?" gumam Tarjo.
Setelah bermonolog dengan dirinya, Tarjo keluar dari rumah. Hari sudah semakin siang, dan sudah dipastikan ia akan terlambat lagi menjadi Nathan.
Tarjo mengendarai motornya dan berhenti di depan rumah Sheila. Dia memperhatikan gadis itu yang semakin cantik dimatanya.
Entah dorongan dari mana, Tarjo memarkirkan sepeda motornya dan melangkah maju menghampiri Sheila. Gadis itu baru selesai mengunci pintu rumahnya.
Sheila berbalik badan dan melihat Tarjo sudah ada didepannya.
"Tarjo? Kok kamu kesini?" Sheila terkejut dengan kedatangan Tarjo.
Pria itu tidak menjawab dan malah menarik tengkuk Sheila hingga mendekat padanya. Kemudian ia mendaratkan bibirnya di bibir Sheila.
Sheila melotot karena mendapat serangan mendadak dari Tarjo. Ia mengerjapkan matanya tak percaya jika pria culun ini kembali menciumnya.
Tarjo dengan lincah memainkan bibir Sheila dengan gerakan yang lembut. Hingga membuat Sheila akhirnya ikut memejamkan mata merasakan sentuhan lembut di bibirnya.
Setelah beberapa saat, Tarjo melepas tautannya. Ia menyatukan keningnya dengan kening Sheila.
"Aku mencintaimu, Sheila..." ucapnya.
#bersambung
*Ahoooooiiii, Tarjo mulai bucin daaahhh 😍😍😍
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan😘😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
Shaffi©•^~^
Mungkin aja dong Jo, aku aja tau sheila suka sama kamu. emak yang kasih tau.😁
2022-06-26
1
👑Meylani Putri Putti
ake dtng mau rusuh biar rame 😂😂😂😂
2022-05-28
3
pat_pat
first kiss, second kiss, triple kiss
2022-03-22
3