Nathan yang menyamar menjadi Tarjo kini sedang mondar mandir di depan ruang IGD. Bukan karena khawatir dengan kondisi Sheila yang tak sadarkan diri. Namun karena dirinya telah terbawa keadaan panik yang membuatnya lupa jika dirinya sedang menyamar.
Dengan kondisi Sheila yang diancam dengan pisau, ia tak bisa tinggal diam. Tentu ia tergerak untuk menolong gadis itu.
"Duh, bagaimana ini? Kenapa tadi aku tidak bicara gagap?" Tarjo memegangi kepalanya sambil berpikir keras.
"Semoga saja Sheila tidak menyadarinya." Tarjo mengusap wajahnya. Sejenak ia melepas kacamata yang dipakainya.
"Keluarga Nona Sheila." Seorang perawat memanggil Tarjo.
"I-iya, Suster. Ba-bagaimana ko-kondisinya?"
Kini akting Nathan haruslah total. Ia tak ingin orang-orang curiga padanya. Dan sialnya dia membawa Sheila ke rumah sakit Avicenna milik keluarganya.
"Luka gores dilehernya tidak terlalu dalam jadi jika pasien sudah siuman, ia sudah diperbolehkan pulang," jelas si perawat.
"Oh, be-begitu ya, Su-suster. Te-terima ka-kasih."
Perawat itu memandang Tarjo dengan tatapan aneh. Tidak tahu saja dia jika pria culun didepannya adalah putra pemilik rumah sakit tempatnya bekerja, hihi.
Tarjo segera menuju brankar milik Sheila. Gadis itu sudah membuka mata rupanya.
"Tarjo? Kau disini?" tanya Sheila lirih.
Tarjo mengangguk.
"Terima kasih karena kau sudah menolongku. Kau membawaku kemari mengendarai apa?"
"Heh?" Tarjo terkejut. Tadi ia mengendarai mobil Sheila untuk membawanya ke rumah sakit. Ia sudah panik melihat Sheila pingsan.
"A-aku mem-bawa mo-mobilmu. Ma-maaf."
"Eh? Kau bisa menyetir?" Sheila mengerutkan dahinya.
Tarjo mengangguk. "A-aku be-kerja di be-bengkel. Ja-jadi, a-aku bi-bisa me-menyetir."
Sheila tersenyum. Ia ingin bangun dari posisi tidurnya. Tarjo pun membantunya.
"Terima kasih," ucap Sheila.
"Ka-kau su-sudah bo-boleh pu-pulang ka-kalau su-sudah ba-baikan."
"Kupikir gagapmu sudah sembuh. Bukankah tadi kau berteriak sangat lantang pada pencuri itu. Oh ya, lalu bagaimana dengan pencuri tadi?"
"A-aku me-nelpon po-lisi."
"Wah, kau pintar juga ya." Sheila kembali tersenyum.
"Oh ya, sepertinya ada suatu kondisi yang membuatmu bisa bicara normal seperti biasa."
Tarjo menggaruk tengkuknya.
"Aku pernah membacanya. Mungkin tadi kau panik jadi kau bisa bicara lancar dan lantang seperti itu."
"Ah, i-iya be-begitu."
"Aku sudah baikan. Ayo pulang! Lagipula aku tidak mungkin izin tidak masuk kantor. Bosku itu sangat galak!"
"Heh?!" Tarjo membulatkan mata.
"Biarkan aku yang menyetir!" Sheila menengadahkan tangannya meminta kunci mobil.
"Ti-tidak. Bi-ar a-aku sa-ja ya-yang me-nyetir," tolak Tarjo.
"Hmm, baiklah. Kau menyetirnya dengan hati-hati kan?"
"Te-tentu sa-saja."
Sheila tersenyum lebar. Baru kali ini Nathan melihat Sheila tersenyum seperti itu. Itu adalah sebuah senyum yang tulus.
Selama beberapa waktu berkendara, Sheila kembali terlelap mungkin karena pengaruh obat dari rumah sakit tadi. Beruntung waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Masih terlalu pagi untuk bangun tidur seperti kebiasaan Sheila tiap harinya.
Tiba di rumah kontrakan, Tarjo melihat Sheila masih terlelap. Niatnya ingin membangunkan Sheila ia urungkan karena tak tega melihat kondisi gadis itu.
Tarjo memutuskan untuk mengangkat tubuh Sheila ala bridal masuk ke dalam rumahnya. Dengan hati-hati ia membaringkan tubuh Sheila ke ranjang. Kali ini ia berhasil dan tidak tersandung.
Sheila yang merasakan tubuhnya berpindah tempat segera membuka mata.
"Tarjo?"
Pria berkacamata itu membulatkan matanya sempurna ketika melihat Sheila terbangun.
"Ma-maaf," ucapnya tertunduk.
"Terima kasih ya. Aku masih sangat mengantuk. Aku ingin tidur lagi."
Sheila memeluk guling dan kembali memejamkan mata. Tarjo segera keluar dari kamar Sheila dan menutup pintunya.
Tarjo kembali ke rumahnya. Ia menghela napas berat.
"Huft! Hampir saja. Beruntung aku tidak ketahuan!" gumamnya lalu melepas kacamatanya.
Matanya tertuju pada setumpuk berkas pekerjaan yang rencananya akan ia selesaikan, namun terhenti karena mendengar suara teriakan Sheila. Hanya ada dua rumah di komplek itu, sudah pasti itu adalah suara Sheila.
"Astaga! Aku sampai lupa soal pekerjaanku! Ini semua karena gadis itu. Tapi jika aku tidak menolongnya, bisa saja dia celaka oleh pencuri itu. Sebaiknya aku minta bantuan Harvey saja untuk menyelesaikan pekerjaan ini."
#
#
#
-Gedung Avicenna Grup-
Sheila sedang berkutat di pantry ketika Nathan tiba di ruangannya. Ia mencari keberadaan Sheila. Ia mendengar suara berisik dari arah pantry. Senyum tipis terukir di bibirnya. Ia mendengar Sheila sedang berdendang. Padahal pagi buta tadi ia baru saja tertimpa musibah, tapi kini ia sudah bisa berdendang.
Sheila membawa kopi masih dengan berdendang ria. Ia tak menyadari kehadiran Nathan di ruangan itu.
"Eh? Pak Nathan? Bapak sudah datang?" ucap Sheila kikuk. Ia sangat malu karena Nathan pasti mendengar suaranya yang cempreng itu.
"Hmm, saya sebesar ini dan kau tidak melihatnya?" ketus Nathan seperti biasa.
"Maaf, Pak. Bapak datang tanpa bersuara, mana saya tahu, Pak," bela Sheila.
"Lalu, apakah saya harus berteriak? Begitu?" Nathan menatap Sheila tajam.
"Eh? Tidak, Pak. Maaf!" Sheila menundukkan kepalanya.
"Kenapa lehermu? Kenapa memakai perban?"
Sheila yang terkejut segera memegangi lehernya.
"Ah, ini hanya luka kecil, Pak."
"Ooh, begitu. Atau sebenarnya kau sudah berbuat tak senonoh tapi kau menutupinya dengan alasan luka?" sarkas Nathan. Entah kenapa ia bicara seperti itu.
Sheila mendelik tak terima. "Bapak jangan menuduh sembarangan! Saya bukan gadis seperti itu!" Sheila segera berbalik badan dan keluar dari ruangan Nathan tanpa permisi.
Sedangkan Nathan malah merutuki dirinya yang sudah berkata kasar pada Sheila.
"Bodoh, kau Nathan! Tidak seharusnya kau bicara begitu padanya," batinnya menggeram kesal.
Sheila duduk di kursinya dan masih kesal dengan pernyataan Nathan.
"Apa dia pikir aku ini gadis penggoda yang suka berbuat mesum? Dasar gumpalan es menyebalkan!" umpat Sheila tanpa bisa didengar oleh Nathan.
Sheila melanjutkan pekerjaannya lagi dengan masih menggerutu. Namun tiba-tiba bayangan Tarjo muncul. Pria culun yang sudah menolongnya. Dia bagaikan superhero untuk Sheila.
"Aku harus memberikannya sebuah hadiah," gumam Sheila.
#
#
#
Malam harinya, Sheila menunggu kedatangan Tarjo. Sudah pukul delapan malam dan pria culun itu belum juga muncul.
Sheila duduk di teras rumahnya menanti kedatangan sang superhero. Ia menjetikkan jarinya karena mulai merasa bosan.
Tak lama suara sepeda motor terdengar di telinga Sheila. Ia segera beranjak dari duduknya dan melihat Tarjo telah pulang.
Pria itu memarkirkan motornya dan turun dari motor bebeknya.
"Hai," sapa Sheila membuat Tarjo terkejut.
"She-sheila?" Tarjo melepas helm yang ada dikepalanya.
"Umm, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu karena telah menolongku," ucap Sheila sedikit gugup.
"Bu-bukankah ka-kamu su-sudah ber-te-rima ka-kasih ta-di."
"Iya sih. Tapi aku ingin kasih hadiah buat kamu," ucap Sheila dengan jantung yang mulai berdetak kencang.
"A-apa i-itu?" Tarjo nampak bingung.
Sheila maju selangkah dan berhadapan langsung dengan Tarjo.
CUP
Sebuah kecupan Sheila daratkan di pipi kiri Tarjo. Setelahnya ia segera berlari kembali masuk ke dalam rumahnya.
Sementara Tarjo masih bergeming dan tak percaya dengan apa yang dilakukan Sheila. Tangannya terulur mengusap pipinya yang baru saja dicium Sheila. Tiba-tiba senyum tipis mengembang di bibirnya.
Di sisi Sheila, ia segera masuk kedalam kamarnya dan merebahkan diri di ranjang. Ia menyembunyikan wajahnya kedalam bantal. Sungguh ia malu. Namun ia juga suka saat hatinya berdebar seperti tadi.
#bersambung
*Aduuuh, Bang Tarjo mulai membuat Sheila terpikat nih 😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
gigietha
sampe searching aku brankar itu apa. kirain typo atau kosakata aku yg terbatas. ternyata kosakata authornya yg bagus hihi
2022-08-05
1
Shaffi©•^~^
kok aku jadi ikutan gagap yah..
wkwkwk
2022-06-22
6
DEBU KAKI
lanjut
2022-05-08
3